Rabu, 31 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (1)

Desa Kecil di Dataran Persia

Bab I

Anak-anak di Bawah Langit Persia




 (ilustrasi ini diambil dari www.istockphoto.com dan lainnya dengan hak cipta mereka masing-masing)

Pada masa ketika dunia masih terasa luas dan sunyi, ketika kerajaan besar baru mulai tumbuh di bawah kepemimpinan Cyrus the Great, ada sebuah desa kecil di kaki pegunungan yang menghadap padang luas Persia.

Di sana bumi terasa seperti hamparan karunia Tuhan. Pada pagi hari, cahaya matahari turun perlahan dari balik pegunungan seperti tirai emas yang dibuka oleh tangan yang lembut. Rumput-rumput tinggi memantulkan cahaya itu seperti ribuan jarum kecil yang berkilau. Embun yang menempel pada daun liar tampak seperti butiran kaca bening.

Angin yang turun dari pegunungan Zagros bergerak pelan, membuat padang rumput berombak seperti laut hijau. Pada masa ketika dunia masih terasa sangat luas dan manusia belum terlalu sibuk mengejarnya, ada sebuah desa kecil di kaki pegunungan Persia. Desa itu berdiri di antara padang rumput yang panjang, tempat angin dari pegunungan membawa wangi tanah, bunga liar, dan jerami kuda.

Setiap pagi, ketika matahari baru muncul dari balik punggung pegunungan, cahaya emas turun perlahan menyentuh rumah-rumah dari tanah liat.

Rumah-rumah itu sederhana.

Dindingnya dibuat dari campuran tanah, jerami, dan air yang dikeringkan di bawah matahari. Atapnya dari batang kayu dan jerami kering. Di halaman rumah biasanya berdiri beberapa tempayan tanah liat besar tempat keluarga menyimpan air, gandum, dan buah kering.

Pagi hari di desa itu dimulai dengan suara-suara kecil kehidupan.

Suara ayam.

Suara kuda menghembuskan napas.

Dan suara batu gilingan yang berputar.

Grrr… grrr…

Di halaman rumahnya, Roxana sering duduk bersama ibunya di dekat batu penggiling gandum. Dua batu bundar besar disusun bertumpuk. Pada batu atas ada lubang kecil tempat biji gandum dituangkan.

Ibunya memutar tongkat kayu di tengah batu.

Batu itu berputar perlahan, menggiling gandum menjadi tepung.

Roxana kecil menuangkan biji gandum sedikit demi sedikit.

Tepung halus jatuh seperti debu putih di wadah tanah liat di bawahnya.

“Apa ini akan menjadi roti?” tanya Roxana.

Ibunya tersenyum.

“Ya. Roti selalu dimulai dari kesabaran.”

Roxana sering memperhatikan tepung itu dengan serius, seolah melihat sesuatu yang ajaib: biji kecil berubah menjadi makanan bagi keluarga.

Di pagi hari yang lain, seorang anak laki-laki sering muncul di halaman rumah itu membawa kendi air dari tanah liat.

Namanya Ardashir.

Ia berjalan hati-hati agar air di dalam kendi tidak tumpah.

Kendi itu cukup besar untuk anak seusianya.

Roxana sering berdiri di depan pintu menatapnya sambil tersenyum.

“Kau berjalan seperti prajurit membawa pedang.”

Ardashir menjawab dengan wajah serius.

“Air lebih penting dari pedang.”

Roxana tertawa kecil.

Sejak kecil mereka sudah terbiasa saling membantu tanpa banyak bicara.


Kuda-kuda di Padang Rumput

Ayah Ardashir adalah peternak kuda.

Kandang mereka terletak sedikit di luar desa, di dekat padang rumput luas tempat kuda-kuda merumput bebas.

Kandang itu dibuat dari tiang kayu yang ditancapkan ke tanah, diikat dengan tali serat tanaman, dan ditutup atap jerami.

Di pagi hari, suara pertama yang didengar Ardashir biasanya adalah napas kuda.

Hangat.

Tenang.

Ayahnya mengajarkan banyak hal tentang kuda.

Suatu hari ia memberi Ardashir sikat kayu dengan serat kasar.

“Coba bersihkan bulu kuda ini.”

Ardashir menyikat bulu seekor kuda cokelat muda dengan hati-hati.

Kuda itu berdiri tenang.

Roxana kadang datang membawa segenggam gandum.

Ia memberi makan kuda itu dari tangannya.

Kuda itu mengunyah perlahan.

Roxana tertawa ketika bibir kuda yang hangat menyentuh telapak tangannya.

Di dinding kandang tergantung berbagai alat sederhana:

  • tali kekang dari kulit tebal
  • pelana kulit sederhana
  • alat besi kecil untuk membersihkan kuku kuda

Ardashir sangat bangga ketika ayahnya pertama kali mengizinkannya memegang kekang kuda sendiri.

“Kuda merasakan hatimu,” kata ayahnya.

“Jika kau tenang, kuda juga tenang.”

Roxana memperhatikan Ardashir dengan serius.

“Kau berbicara dengan kuda?”

Ardashir mengangguk.

“Kuda mendengarkan lebih baik dari manusia.”

Roxana duduk di pagar kayu kandang.

“Kalau begitu suatu hari kau akan menjadi penunggang kuda yang hebat.”

Ardashir mengangkat bahu.

“Aku hanya ingin kuda-kuda ini sehat.”

Namun dalam matanya selalu ada sesuatu yang lebih jauh dari padang rumput.


Dunia Kecil yang Indah

Hari-hari masa kecil mereka dipenuhi hal-hal sederhana.

Mereka duduk di tepi sungai kecil yang airnya jernih.

Kadang mereka membuat perahu kecil dari potongan kayu lalu membiarkannya hanyut.

Kadang mereka berjalan melewati ladang gandum yang bergoyang pelan oleh angin.

Roxana memiliki kebiasaan yang aneh.

Ia sering berhenti di tengah padang rumput.

Menutup mata.

Lalu menghirup udara panjang.

“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Ardashir.

Roxana membuka mata dan tersenyum.

“Aku ingin mengingat bau dunia ini.”

“Bau dunia?”

“Tanah. Rumput. Angin. Matahari.”

Ia menunjuk langit yang luas.

“Kalau suatu hari kita pergi jauh, kita masih bisa mengingat bahwa Tuhan pernah memberi kita tempat seindah ini.”

Ardashir memandang padang rumput di sekeliling mereka.

Rumput bergoyang seperti laut hijau.

Burung-burung kecil terbang rendah di udara.

Langit Persia terasa begitu luas hingga seorang anak kecil merasa dirinya sangat kecil di dalamnya.

Saat itu Ardashir belum mengerti.

Namun jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang hangat.

Perasaan bahwa hidup ini adalah karunia.

Dan bahwa dunia yang indah ini terasa lebih indah karena Roxana selalu ada di dalamnya.


Suatu sore ketika matahari hampir tenggelam, mereka berdiri di atas sebuah bukit kecil.

Langit berubah menjadi warna emas dan merah.

Di kejauhan jalan kerajaan terlihat seperti garis panjang di padang.

Debu mulai naik dari jalan itu.

Ardashir menyipitkan mata.

“Ada karavan,” katanya.

Roxana memandang ke arah yang sama.

Namun mereka belum tahu bahwa hari itu bukan hanya karavan biasa yang akan lewat.

Hari itu akan menjadi hari pertama takdir mengetuk kehidupan mereka.

Dan masa kecil yang penuh kedamaian itu perlahan akan mulai berubah.


Lanjut ke Bab 2 yang sangat dramatis, yaitu:

“Hari Ketika Immortals Melewati Desa.”

  • Ardashir kecil pertama kali melihat pasukan elit Persia
  • Roxana memberikan kain biru yang menjadi simbol pulang
  • dan dari rombongan kerajaan… Artazara kecil melihat Ardashir untuk pertama kalinya.

Bab dua ini momen takdir pertama dari kisah cinta yang panjang ini.

Selasa, 30 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (2)

 

Jalan Kerajaan yang Melintasi Desa
Bab II

Hari Ketika Para Abadi Melewati Desa

Pada suatu pagi yang cerah di awal musim panas, desa kecil di kaki pegunungan itu terbangun sedikit lebih cepat dari biasanya.

Angin dari padang membawa sesuatu yang berbeda.

Debu.

Halus dan jauh.

Anjing-anjing desa mulai menggonggong ke arah jalan kerajaan yang membelah padang rumput di kejauhan.

Seorang lelaki tua yang sedang menimba air dari sumur berhenti sejenak dan menyipitkan mata ke arah cakrawala.

“Ada rombongan besar,” katanya pelan.

Kabar itu menyebar dengan cepat seperti angin.

Perempuan-perempuan keluar dari rumah sambil mengusap tangan mereka yang masih bertepung gandum. Anak-anak berlari ke tepi desa. Para peternak meninggalkan kandang kuda untuk melihat apa yang datang dari jalan besar itu.

Ardashir sedang membersihkan bulu seekor kuda muda ketika ia mendengar suara ayahnya memanggil.

“Ardashir! Kemarilah.”

Ardashir meletakkan sikat kayu di pagar kandang dan berlari.

Roxana sudah berdiri di dekat sumur desa.

Matanya memandang jauh ke arah jalan kerajaan.

“Lihat,” katanya pelan.

Di kejauhan terlihat garis panjang yang bergerak perlahan.

Debu naik ke udara seperti kabut tipis.

Suara langkah kaki mulai terdengar.

Pelan.

Teratur.

Seperti detak jantung bumi.


Semakin dekat rombongan itu datang, semakin jelas bentuknya.

Pertama terlihat para penunggang kuda pengawal.

Di belakang mereka, barisan panjang prajurit berjalan dengan langkah yang sama.

Tombak-tombak mereka menjulang seperti hutan tipis yang bergerak.

Matahari pagi menyentuh ujung tombak itu hingga berkilau seperti cahaya kecil.

Seorang pria tua di desa berbisik dengan kagum.

“Itu mereka.”

“Siapa?” tanya Roxana.

Pria tua itu menjawab dengan suara rendah.

“Para Abadi.”

Itulah nama yang sering didengar orang-orang desa ketika berbicara tentang pasukan elit kerajaan: Immortals.

Sepuluh ribu prajurit yang konon tidak pernah berkurang jumlahnya.

Jika satu gugur, yang lain akan menggantikannya.

Seolah-olah pasukan itu tidak pernah mati.


Ardashir berdiri tanpa berkedip.

Para prajurit itu berjalan dengan tenang, mengenakan pakaian perang yang rapi.

Di punggung mereka tergantung busur.

Di tangan mereka tombak panjang.

Langkah mereka begitu seragam hingga terdengar seperti satu suara besar yang bergerak.

Dum… dum… dum…

Ardashir merasa dadanya bergetar.

Ia belum pernah melihat sesuatu yang begitu teratur dan kuat.

Roxana memperhatikan wajahnya.

“Apa yang kau pikirkan?”

Ardashir tidak langsung menjawab.

Matanya masih mengikuti barisan prajurit itu.

“Aku ingin berjalan seperti mereka.”

Roxana memiringkan kepala.

“Berjalan?”

“Ya.”

Ardashir menunjuk ke arah pasukan itu.

“Mereka berjalan seperti orang yang tahu ke mana mereka pergi.”


Barisan pasukan terus bergerak melewati desa.

Beberapa prajurit menoleh sebentar kepada penduduk desa.

Namun sebagian besar tetap menatap lurus ke depan.

Disiplin mereka terasa hampir seperti sesuatu yang suci.

Di tengah barisan itu, Ardashir melihat seorang perwira menunggang kuda.

Kudanya tinggi dan kuat.

Pakaian perwiranya lebih indah daripada yang lain.

Ardashir menatap kuda itu dengan kagum.

Ia memperhatikan bagaimana perwira itu memegang kekang.

Tenang.

Pasti.

Ayah Ardashir berdiri di sampingnya.

“Kuda itu kuda kerajaan,” katanya.

Ardashir mengangguk pelan.

Di dalam hatinya muncul perasaan yang aneh.

Bukan hanya kagum.

Tetapi juga keinginan.

Keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang besar.


Setelah barisan panjang pasukan itu lewat, debu masih menggantung di udara.

Suara langkah kaki perlahan menghilang ke arah barat.

Penduduk desa mulai kembali ke pekerjaan mereka.

Namun Ardashir masih berdiri di bukit kecil di tepi desa.

Roxana mendekatinya.

“Kau masih melihat mereka?”

Ardashir mengangguk.

“Suatu hari aku ingin menjadi salah satu dari mereka.”

Roxana menatap wajahnya lama.

Ia tidak menertawakan mimpi itu.

Ia tidak mengatakan bahwa mimpi itu terlalu besar untuk anak desa.

Sebaliknya, ia membuka simpul kecil pada pinggang pakaiannya.

Dari sana ia mengambil sehelai kain biru kecil.

Ia mengikatkan kain itu pada pergelangan tangan Ardashir.

Angin sore mulai turun dari pegunungan.

Kain biru itu bergerak pelan tertiup angin.

“Apa ini?” tanya Ardashir.

Roxana menjawab lembut.

“Supaya kau ingat jalan pulang.”

Ardashir memandang kain itu.

Lalu memandang Roxana.

Langit Persia mulai berubah menjadi warna emas senja.

Di kejauhan jalan kerajaan terlihat sunyi kembali.

Namun bagi Ardashir, dunia tidak lagi terasa sama.

Hari itu ia telah melihat sesuatu yang besar.

Dan di pergelangan tangannya, sebuah kain biru kecil mengingatkannya bahwa sejauh apa pun seseorang berjalan—

selalu ada seseorang yang menunggu ia pulang.

Senin, 29 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (3)

 

Kedatangan Utusan Kerajaan

Image



Bab III

Utusan Raja

Beberapa minggu setelah pasukan Immortals melewati desa, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Padang rumput kembali sunyi.

Kuda-kuda merumput dengan tenang.

Para perempuan desa menggiling gandum dan menjemur roti pipih di atas batu panas.

Namun di dalam hati Ardashir, sesuatu telah berubah.

Sejak hari itu ia sering berdiri lebih lama di bukit kecil yang menghadap jalan kerajaan.

Seolah-olah dunia yang lebih besar sedang memanggilnya dari kejauhan.


Suatu pagi, ketika matahari belum terlalu tinggi, suara derap kuda kembali terdengar dari arah jalan kerajaan.

Tetapi kali ini hanya satu kuda.

Seekor kuda cokelat gelap berlari cepat menuju desa.

Penunggangnya mengenakan jubah perjalanan berdebu dan membawa tongkat kayu panjang dengan lambang kerajaan di ujungnya.

Seorang lelaki tua desa menyipitkan mata.

“Utusan raja.”

Orang-orang segera berkumpul di dekat sumur desa.

Utusan itu menghentikan kudanya di tengah lapangan kecil.

Debu turun perlahan dari jubahnya.

Ia membuka gulungan kulit yang tergantung di pelana.

Dengan suara keras ia berkata:

“Dengan perintah Raja Besar, penguasa tanah Persia dan pelindung bangsa-bangsa, desa-desa di wilayah ini diminta mengirimkan anak-anak laki-laki yang kuat dan berbakat untuk dilatih menjadi prajurit kerajaan.”

Penduduk desa saling berpandangan.

Bagi sebagian keluarga, ini adalah kehormatan besar.

Bagi yang lain, ini adalah sesuatu yang menakutkan.

Utusan itu melanjutkan:

“Anak-anak yang dipilih akan belajar menunggang kuda, memanah, dan bertempur. Mereka akan melayani kerajaan dan menjaga tanah Persia.”


Ardashir berdiri di belakang kerumunan.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia memandang kuda utusan itu dengan penuh perhatian.

Kuda itu tinggi, berotot, dan berdiri dengan tenang meskipun banyak orang di sekelilingnya.

Ayah Ardashir berdiri di sampingnya.

“Ayah,” bisik Ardashir.

Ayahnya menoleh.

“Aku ingin mencoba.”

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Ia memandang jalan kerajaan yang panjang di kejauhan.

Kemudian ia menatap anaknya.

“Kau masih muda.”

Ardashir menunduk sebentar.

“Tapi aku bisa menunggang kuda.”

Ayahnya tersenyum tipis.

“Itu benar.”


Utusan kerajaan mulai memperhatikan anak-anak desa.

Ia melihat tangan mereka.

Bahu mereka.

Cara mereka berdiri.

Ketika matanya sampai pada Ardashir, ia berhenti sejenak.

“Kau.”

Ardashir melangkah maju.

“Berapa umurmu?”

“Dua belas musim panas.”

Utusan itu mengangguk.

“Apakah kau bisa menunggang kuda?”

Ardashir menunjuk ke arah padang rumput.

“Kuda-kuda itu milik ayahku.”

Utusan itu tersenyum sedikit.

“Bagus.”

Ia mengambil tongkat kayu kecil dari pelana dan melemparkannya ke tanah beberapa langkah dari Ardashir.

“Ambil.”

Ardashir berjalan mengambil tongkat itu.

“Kini kembalikan.”

Ardashir melemparnya kembali dengan gerakan cepat.

Utusan itu menangkapnya dengan mudah.

Ia mengangguk lagi.

“Kau memiliki lengan yang kuat.”


Di tepi kerumunan, Roxana berdiri diam.

Tangannya menggenggam ujung pakaiannya.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Namun matanya mengikuti setiap gerakan Ardashir.

Utusan kerajaan akhirnya berkata kepada ayah Ardashir:

“Anak ini memiliki tubuh yang baik untuk pelatihan prajurit.”

Ayah Ardashir menarik napas panjang.

“Jika itu kehendak raja, kami tidak akan menolak.”

Utusan itu mengangguk.

“Pelatihan pertama akan dimulai di kota garnisun musim gugur nanti.”

Ia memandang Ardashir.

“Berlatihlah. Dunia kerajaan jauh lebih keras daripada padang rumput ini.”


Ketika kerumunan mulai bubar, Ardashir berjalan menuju bukit kecil di tepi desa.

Roxana mengikutinya.

Angin siang bergerak lembut di padang.

Mereka berdiri lama tanpa bicara.

Akhirnya Roxana berkata pelan:

“Jadi kau benar-benar akan pergi suatu hari.”

Ardashir menatap jalan kerajaan.

“Belum sekarang.”

Ia memandang Roxana.

“Tapi suatu hari.”

Roxana menunduk sebentar.

Kemudian ia tersenyum kecil, walau matanya sedikit basah.

“Kalau begitu kau harus menjadi prajurit yang sangat hebat.”

Ardashir tertawa ringan.

“Kenapa?”

“Supaya perjalananmu tidak sia-sia.”

Angin menggoyangkan rumput panjang di sekitar mereka.

Langit Persia terasa sangat luas di atas kepala mereka.

Di dalam keheningan itu, masa kecil mereka perlahan mulai bergerak menuju sesuatu yang lebih besar.

Sesuatu yang akan membawa Ardashir jauh dari desa kecil itu.

Namun di dalam hatinya, selalu ada satu tempat yang tidak akan pernah berubah.

Tempat di mana seorang gadis berdiri di padang rumput—

dan diam-diam berdoa agar ia selalu kembali dengan selamat.

Sabtu, 27 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (4)


Musim Panas Terakhir di Desa

Bab IV



Musim panas datang perlahan ke dataran Persia.

Angin dari pegunungan menjadi lebih hangat, membawa bau gandum yang mulai menguning di ladang. Sungai kecil di dekat desa mengalir lebih tenang, memantulkan langit biru yang luas.

Bagi penduduk desa, musim panas adalah musim kerja.

Namun bagi Ardashir, musim panas tahun itu terasa berbeda.

Ia tahu bahwa setelah musim itu berakhir, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.


Setiap pagi ia bangun sebelum matahari terbit.

Langit masih berwarna biru gelap ketika ia berjalan ke kandang kuda membawa ember air dan sikat kayu.

Kuda-kuda menyambutnya dengan napas hangat.

Ia mulai menyikat bulu mereka dengan gerakan yang semakin terampil.

Di dinding kandang tergantung berbagai alat sederhana yang sudah sangat ia kenal:

  • pelana kulit yang mulai aus

  • tali kekang yang digosok minyak agar tetap kuat

  • alat besi kecil untuk membersihkan kuku kuda

  • busur latihan milik ayahnya

Ayah Ardashir berdiri di pintu kandang suatu pagi.

“Kau harus belajar memanah dengan benar.”

Ia menyerahkan busur itu.

Ardashir menggenggamnya dengan hati-hati.

Busur itu terasa berat, tetapi juga terasa seperti sesuatu yang penting.

Mereka berjalan ke padang rumput.

Ayahnya menancapkan beberapa batang kayu di tanah sebagai sasaran.

“Tarik napas.”

Ardashir menarik tali busur.

“Jangan terburu-buru.”

Anak panah dilepaskan.

Thak.

Panah itu menancap di tanah beberapa langkah dari sasaran.

Ayahnya tertawa pelan.

“Setiap pemanah besar pernah memulai seperti itu.”


Beberapa hari kemudian, ketika Ardashir sedang berlatih lagi, Roxana datang ke kandang.

Ia membawa sekeranjang kecil berisi roti pipih dan kurma.

“Aku membawa makanan,” katanya.

Ardashir menurunkan busurnya.

“Kau selalu membawa makanan.”

“Karena kau selalu lupa makan.”

Mereka duduk di pagar kayu kandang.

Roxana memberi roti pada Ardashir.

Angin musim panas menggerakkan rumput panjang di padang.

Di dekat mereka, seekor kuda abu-abu menggoyangkan ekornya perlahan.

Roxana memandang latihan memanah Ardashir.

“Kau semakin baik.”

Ardashir mengangkat bahu.

“Aku harus belajar sebelum pergi.”

Roxana tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap padang rumput yang luas.

“Padang ini akan terasa sepi tanpa kau.”

Ardashir terdiam.

Ia belum pernah benar-benar memikirkan bagaimana rasanya meninggalkan tempat ini.


Sore hari menjadi waktu favorit mereka.

Matahari turun perlahan di balik bukit kecil di barat desa.

Langit berubah menjadi warna emas lembut.

Pada suatu sore mereka berjalan ke ladang gandum di luar desa.

Gandum yang matang bergerak pelan seperti lautan emas tertiup angin.

Roxana berjalan di antara tanaman gandum itu dengan tangan menyentuh bulir-bulirnya.

“Kadang aku berharap waktu bisa berhenti,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena semuanya terasa sempurna sekarang.”

Ardashir menatap sekelilingnya.

Langit luas.

Padang rumput.

Ladang gandum.

Dan Roxana berdiri di tengah cahaya matahari senja.

Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa dunia kecil mereka benar-benar berharga.

Lebih berharga dari mimpi apa pun.


Ketika matahari hampir tenggelam, mereka kembali ke bukit kecil yang menghadap jalan kerajaan.

Tempat yang sama di mana mereka dulu melihat pasukan Immortals melewati desa.

Angin senja bertiup lembut.

Kain biru yang pernah diberikan Roxana masih terikat di pergelangan tangan Ardashir.

Roxana melihatnya.

“Kau masih menyimpannya.”

“Tentu saja.”

Roxana tersenyum kecil.

“Kalau kau pergi jauh nanti…”

Ia berhenti sejenak.

“Jangan lupa desa ini.”

Ardashir menggeleng.

“Aku tidak mungkin lupa.”

Ia memandang padang luas di bawah mereka.

“Semua yang aku tahu tentang hidup berasal dari tempat ini.”

Roxana menatapnya lama.

Di matanya ada sesuatu yang baru—sesuatu yang tidak sepenuhnya dimengerti oleh dua anak yang sedang tumbuh.

Perasaan yang pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.


Malam turun perlahan di desa kecil itu.

Lampu minyak mulai menyala di rumah-rumah tanah liat.

Di kejauhan terdengar kuda-kuda bergerak di kandang.

Dan di atas desa itu, langit Persia terbentang luas penuh bintang.

Musim panas itu masih panjang.

Namun tanpa mereka sadari, itu adalah musim panas terakhir masa kecil mereka.

Musim panas sebelum dunia yang lebih besar membuka pintunya bagi Ardashir—

dan sebelum hati mereka berdua belajar bahwa cinta sering kali lahir justru ketika perpisahan mulai mendekat. 🌾


Kamis, 25 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (5)

Bab 5

Utusan dari Selatan

Image

Image

Image

Image

Pagi itu datang dengan cara yang berbeda.

Tidak ada yang benar-benar tahu kenapa.

Namun udara terasa lebih berat, seolah angin membawa sesuatu dari kejauhan.

Ardashir sedang berada di kandang, seperti biasa. Tangannya sibuk merapikan tali kekang kuda hitam itu. Jemarinya bergerak pelan, tetapi pikirannya masih tertinggal di bawah pohon delima—pada janji yang mereka ucapkan kemarin.

Ia tersenyum kecil tanpa sadar.

Sampai suara itu datang.

Gemuruh.

Pelan… lalu semakin jelas.

Bukan suara angin.
Bukan suara kerbau.
Bukan pula langkah orang berjalan.

Itu suara kuda.

Banyak kuda.

Ardashir menoleh ke arah jalan utama desa.

Debu mulai terangkat.

Orang-orang keluar dari rumah mereka. Beberapa pria menutup mata dengan tangan, mencoba melihat siapa yang datang.

Roxana muncul dari arah sumur, membawa kendi air. Langkahnya terhenti ketika ia melihat ke arah yang sama.

“Ardashir…” suaranya pelan.

Ia tidak perlu melanjutkan.

Ardashir sudah mengerti.

Sekelompok penunggang kuda memasuki desa.

Mereka bukan pedagang.
Bukan pula musafir.

Pakaian mereka rapi, teratur, dan membawa lambang yang tidak pernah terlihat di desa itu sebelumnya—sebuah panji dengan simbol kerajaan Persia.

Kuda-kuda mereka tinggi dan terlatih. Langkahnya serempak, seperti satu tubuh.

Di barisan depan, seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun turun dari kudanya.

Tatapannya tajam, tetapi tidak kasar.

Ia berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.

“Kami datang atas perintah kerajaan.”

Desa menjadi sunyi.

Hanya suara angin yang tersisa.

Kepala desa maju perlahan.

“Apa yang bisa kami bantu?”

Pria itu mengamati sekeliling, seolah menilai bukan hanya rumah-rumah, tetapi juga orang-orang di dalamnya.

“Kami mencari pemuda,” katanya.
“Yang kuat. Yang terbiasa dengan kuda. Yang bisa dilatih untuk melayani kerajaan.”

Beberapa orang saling berpandangan.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Di belakang, Ardashir berdiri diam.

Entah kenapa, dadanya terasa lebih berat.

Pria itu melanjutkan:

“Kerajaan membutuhkan mereka. Dan mereka yang terpilih akan mendapatkan kehormatan… serta kehidupan yang tidak akan pernah mereka temukan di desa kecil seperti ini.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Sebagian pemuda tampak tertarik.
Sebagian lagi ragu.

Roxana menoleh ke arah Ardashir.

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun matanya bertanya.

Ardashir tidak menjawab.

Ia hanya menatap pria itu.

Lalu… tanpa benar-benar sadar, ia melangkah maju.

Langkahnya pelan.

Namun setiap langkah terasa seperti meninggalkan sesuatu di belakangnya.

Beberapa orang mulai berbisik.

“Anak dari peternak kuda…”
“Dia memang paling mahir…”
“Tidak heran…”

Pria utusan itu memperhatikan Ardashir.

“Namamu?”

“Ardashir.”

“Anak siapa?”

“Bahram. Peternak kuda.”

Ada jeda singkat.

Pria itu mengangguk pelan.

“Bawakan satu kuda.”

Ardashir menoleh sebentar ke arah kandang.

Kuda hitam itu.

Ia tahu kuda itu bukan sekadar hewan bagi ayahnya.
Ia juga tahu… ini bukan permintaan biasa.

Namun ia tetap berjalan.

Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kuda hitam itu.

Kuda itu berdiri tegak, matanya tajam.

Pria utusan itu tersenyum tipis.

“Naik.”

Ardashir melakukannya tanpa ragu.

“Lari.”

Tanpa cambuk. Tanpa teriakan.

Hanya satu sentuhan ringan.

Kuda itu bergerak.

Cepat.

Lebih cepat.

Mengitari desa seperti bayangan hitam yang menyatu dengan angin.

Orang-orang terdiam.

Debu beterbangan.

Dan dalam beberapa detik… Ardashir kembali ke tempat semula.

Sunyi.

Pria itu menatapnya lebih lama sekarang.

“Turun.”

Ardashir turun.

“Besok pagi,” kata pria itu.
“Kau ikut bersama kami.”

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa seperti pintu yang terbuka… sekaligus tertutup.

Ardashir tidak langsung menjawab.

Ia menoleh.

Roxana masih berdiri di tempatnya.

Kendi air di tangannya sedikit miring, hampir tumpah.

Mata mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kecil…

tidak ada kata yang cukup.

Pria itu mengira Ardashir sedang berpikir tentang dirinya.

Padahal sebenarnya, ia sedang berpikir tentang seseorang yang akan ia tinggalkan.

Akhirnya Ardashir berkata pelan:

“Aku akan berbicara dengan ayahku.”

Pria itu mengangguk.

“Lakukan itu. Tapi jangan terlalu lama. Takdir tidak suka menunggu.”

Matahari mulai naik lebih tinggi.

Namun pagi itu terasa seperti senja yang datang terlalu cepat.


Malamnya, desa tidak benar-benar tidur.

Dan di bawah pohon delima…

dua anak yang kemarin membuat janji

harus mulai belajar arti dari kata perpisahan.


di Bab 6 kita akan masuk ke salah satu bagian paling emosional:

👉 Percakapan Ardashir dengan ayahnya (Bahram)
👉 Percakapan diam Ardashir dan Roxana di malam terakhir


Selasa, 23 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (6)

Bab 6 Malam Sebelum Keberangkatan



Malam turun perlahan di desa kecil itu.

Lampu-lampu minyak mulai menyala di balik dinding tanah liat rumah-rumah penduduk. Asap tipis dari tungku makan malam naik ke udara dingin, bercampur aroma roti hangat dan kayu terbakar.

Namun malam itu terasa berbeda.

Terlalu sunyi.

Seolah seluruh desa tahu bahwa sesuatu sedang berubah.

Di kandang belakang rumah, Ardashir sedang menyisir surai kuda hitamnya. Gerak tangannya lambat, seakan ia sengaja memperpanjang waktu.

Kuda itu sesekali mengibaskan ekor, lalu menempelkan kepalanya ke bahu Ardashir.

“Aku juga tidak ingin pergi,” gumam Ardashir pelan.

Suara langkah mendekat dari belakang.

Ayahnya.

Bahram membawa lentera kecil dari tembaga. Cahaya kuningnya membuat wajah pria tua itu tampak lebih lelah dari biasanya.

Beberapa saat mereka diam.

Hanya terdengar suara jangkrik dan napas kuda.

Bahram akhirnya berkata,

“Ketika aku seusiamu… aku juga pernah ingin meninggalkan desa.”

Ardashir menoleh sedikit.

“Tapi Ayah tidak pergi.”

Bahram tersenyum kecil.

“Aku jatuh cinta pada ibumu terlalu cepat.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Ardashir tertawa pelan.

Bahram mendekat ke kuda hitam itu, mengusap lehernya perlahan.

“Kuda ini tidak cocok untuk kandang kecil,” katanya.
“Dia selalu melihat jauh ke padang.”

Lalu ia memandang Ardashir.

“Sama seperti pemiliknya.”

Ardashir menunduk.

“Ayah ingin aku pergi?”

Bahram tidak langsung menjawab.

Ia duduk di bangku kayu kecil dekat kandang.

“Seorang ayah selalu ingin anaknya tetap dekat,” katanya pelan.
“Tapi lebih buruk lagi jika seorang ayah menahan takdir anaknya karena takut merasa kehilangan.”

Angin malam bertiup perlahan.

Api lentera bergoyang kecil.

Bahram melanjutkan,

“Kau lahir bukan untuk hidup kecil, Ardashir. Bahkan sejak kecil caramu memandang dunia sudah berbeda.”

“Tapi aku tidak ingin meninggalkan semuanya.”

“Kau tidak meninggalkan,” jawab Bahram.
“Kau membawa desa ini di dalam dirimu.”

Kalimat itu masuk pelan ke hati Ardashir.

Namun ada satu nama yang terus memenuhi pikirannya.

Roxana.

Bahram rupanya memahami tanpa perlu dijelaskan.

“Apa kau sudah berbicara dengannya?”

Ardashir menggeleng pelan.

Bahram tersenyum tipis.

“Kalau begitu jangan terlalu lama berdiri di sini. Gadis baik tidak seharusnya menunggu terlalu lama.”


Langit malam Persia penuh bintang.

Ardashir berjalan melewati jalan tanah desa yang mulai sepi.

Beberapa anjing tidur di dekat pintu rumah. Dari kejauhan terdengar suara seruling gembala yang samar tertiup angin.

Kakinya membawanya ke tempat yang sudah ia tahu bahkan tanpa berpikir.

Pohon delima itu.

Dan benar saja…

Roxana sudah ada di sana.

Ia duduk di bawah pohon sambil memeluk lututnya. Cahaya bulan jatuh lembut di rambutnya.

Di sampingnya ada sebuah bungkusan kain kecil.

Roxana menoleh ketika mendengar langkah Ardashir.

“Aku tahu kau akan datang,” katanya pelan.

Ardashir duduk di sampingnya.

Tidak terlalu dekat.

Namun juga tidak jauh.

Untuk beberapa saat mereka hanya memandang ladang yang diterangi cahaya bulan.

Malam terasa panjang… tetapi kata-kata terasa pendek.

Akhirnya Roxana membuka bungkusan kecil itu.

“Aku membuatkan ini.”

Di dalamnya ada kain tenun kecil berwarna merah tua, dengan jahitan sederhana berbentuk pohon delima.

Ardashir memandangnya lama.

“Aku tidak punya sesuatu sebagus ini untuk diberikan.”

Roxana tersenyum kecil.

“Aku tidak membuatnya supaya kau membalas.”

Ardashir menerima kain itu dengan sangat hati-hati, seolah benda itu lebih rapuh daripada kaca.

“Aku akan menyimpannya.”

“Aku tahu.”

Jawaban itu sederhana.

Namun justru karena itulah dada Ardashir terasa sesak.

Roxana lalu berkata pelan,

“Ayahku bilang… kota bisa mengubah seseorang.”

Ardashir segera menoleh.

“Aku tidak akan berubah.”

Roxana tersenyum lagi.

Kali ini lebih sedih.

“Semua orang berubah, Ardashir.”

Angin malam membuat beberapa bunga delima jatuh di antara mereka.

Roxana mengambil satu kelopak kecil di tanah.

“Tapi aku berharap,” katanya lirih,
“apa pun yang berubah nanti… kau masih ingat jalan pulang.”

Ardashir memandang wajah Roxana.

Dan saat itu ia menyadari sesuatu yang menakutkan:

ia bisa menghadapi perang, latihan keras, bahkan kematian…

tetapi ia tidak siap menghadapi kemungkinan kehilangan gadis ini.

Perlahan, tanpa banyak berpikir, Ardashir menggenggam tangan Roxana.

Tangan itu dingin karena udara malam.

Namun Roxana tidak melepaskannya.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada ciuman.

Hanya dua tangan yang saling menggenggam di bawah pohon delima, ditemani angin malam Persia.

Namun justru karena kesederhanaan itu…

malam itu terasa lebih intim daripada ribuan kata cinta.

“Aku akan kembali,” bisik Ardashir.

Roxana menatapnya lama.

Lalu menjawab sangat pelan,

“Aku akan menunggu.”

Dan untuk sesaat…

dunia terasa berhenti bergerak.


Keesokan paginya, matahari akan membawa Ardashir pergi menuju dunia yang belum pernah ia lihat.

Namun malam itu—

di bawah pohon delima—

dua hati muda diam-diam telah saling menyerahkan hidupnya.

Minggu, 21 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (7)

 

Bab 7

Jalan Menuju Kota



Fajar datang terlalu cepat.

Kabut tipis masih menggantung di atas ladang ketika suara langkah kuda mulai terdengar di jalan desa. Udara pagi dingin, membawa aroma tanah basah dan sisa embun malam.

Ardashir berdiri di depan rumahnya dengan pakaian perjalanan sederhana.

Jubah wol cokelat.
Sepasang sepatu kulit tua.
Pisau kecil di pinggang.

Dan di balik lipatan pakaiannya, tersimpan kain tenun merah dengan jahitan pohon delima.

Pemberian Roxana.

Bahram sedang memasangkan tali pelana pada kuda hitam itu. Tangannya tenang, tetapi matanya tidak sepenuhnya demikian.

“Jangan terlalu percaya pada orang yang terlalu cepat memuji,” katanya tanpa melihat Ardashir.
“Dan jangan terlalu membenci orang yang mengkritikmu.”

Ardashir mengangguk pelan.

Bahram mengencangkan tali terakhir, lalu menepuk leher kuda.

“Kalau suatu hari kau merasa tersesat,” lanjutnya,
“ingat saja siapa dirimu sebelum orang-orang mulai mengenal namamu.”

Ardashir menelan napas perlahan.

“Ayah…”

Bahram mengangkat tangan kecil, menghentikannya.

“Tidak perlu kata-kata besar pagi ini.”

Namun beberapa detik kemudian pria tua itu justru memeluk anaknya singkat.

Cepat. Kuat. Diam.

Pelukan laki-laki yang tidak pandai menunjukkan perasaan.

Dan justru karena itulah… terasa lebih berat.

---

Di ujung jalan desa, para utusan kerajaan sudah menunggu.

Kuda-kuda mereka mengembuskan napas putih ke udara pagi.

Beberapa pemuda desa lain juga ikut bergabung, wajah mereka campuran antara bangga dan takut.

Ardashir menaiki kudanya perlahan.

Lalu tanpa sadar, matanya mencari satu wajah.

Dan ia menemukannya.

Roxana berdiri tidak jauh dari sumur desa.

Ia mengenakan pakaian biru sederhana dengan selendang putih yang tertiup angin pagi.

Tidak menangis.

Tidak berlari menghampiri.

Hanya berdiri diam sambil memandangnya.

Namun justru itu yang membuat hati Ardashir terasa lebih berat.

Pria utusan kerajaan memberi aba-aba.

“Kita berangkat!”

Barisan mulai bergerak.

Kuda-kuda melangkah perlahan meninggalkan desa.

Suara tapal kuda terdengar ritmis di jalan tanah.

Ardashir menoleh sekali lagi.

Roxana masih berdiri di sana.

Kecil dari kejauhan.

Namun entah kenapa… terasa seperti seluruh hidupnya tertinggal di tempat itu.

---

Perjalanan menuju kota kerajaan memakan waktu berhari-hari.

Mereka melewati:

* padang rumput luas
* bukit berbatu
* sungai kecil
* desa-desa yang jauh lebih besar daripada kampung Ardashir

Di malam hari mereka beristirahat di perkemahan sederhana.

Api unggun menyala di tengah lingkaran para pemuda.

Sebagian berbicara penuh semangat tentang istana dan kemuliaan.

Sebagian lain diam karena takut.

Ardashir lebih sering memandang api tanpa banyak bicara.

Seorang pemuda bernama Vardan duduk di sebelahnya.

“Kau kelihatan seperti orang yang dipaksa pergi,” katanya sambil tertawa kecil.

Ardashir tersenyum samar.

“Mungkin sebagian diriku memang begitu.”

Vardan mengunyah roti kering.

“Aku justru tidak sabar melihat kota. Katanya jalannya dilapisi batu dan ada pasar yang besarnya seperti sepuluh desa.”

Ardashir mencoba membayangkannya.

Sulit.

Dunianya selama ini hanya:

* kandang kuda
* ladang
* pohon delima
* dan seorang gadis yang menunggunya di desa

Malam semakin larut.

Satu per satu pemuda mulai tertidur.

Namun Ardashir belum bisa memejamkan mata.

Ia mengeluarkan kain merah kecil itu dari balik pakaiannya.

Cahaya api membuat jahitan pohon delima tampak hidup.

Tangannya menyentuh jahitan itu perlahan.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa…

ia benar-benar merasa rindu.

---

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di sebuah bukit besar.

Pria utusan kerajaan mengangkat tangan.

“Lihat.”

Para pemuda menoleh ke depan.

Dan saat itu…

Ardashir melihat kota kerajaan Persia untuk pertama kalinya.

Napasnya tertahan.

Tembok besar berdiri megah di bawah cahaya matahari.

Menara-menara tinggi menjulang ke langit.

Panji-panji kerajaan berkibar tertiup angin.

Jalan-jalan besar dipenuhi manusia, kereta, pedagang, dan pasukan berkuda.

Begitu besar.

Begitu hidup.

Begitu jauh dari dunia kecil yang ia kenal.

Vardan bersiul pelan.

“Demi para dewa…”

Namun Ardashir tidak menjawab.

Karena di tengah kekagumannya…

ia tiba-tiba merasa sangat kecil.

Pria utusan itu memandang para pemuda.

“Mulai hari ini,” katanya tegas,
“hidup kalian berubah.”

Ardashir menatap kota itu lama.

Lalu tanpa sadar menggenggam kain merah di balik jubahnya.

Seolah ia takut kehilangan satu-satunya hal yang masih terasa seperti rumah.

---

Dan jauh di desa kecil itu…

di bawah pohon delima yang mulai berbunga lebih lebat…

Roxana masih datang setiap sore.

Sendiri.

Sabtu, 20 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (8)


Bab 8

Kota Para Prajurit

Image


Gerbang kota Persia terbuka perlahan.

Suara kayu besar dan rantai besi bergema di udara pagi.

Ardashir menuntun kudanya melewati gerbang bersama rombongan pemuda desa lainnya. Begitu masuk, dunia seperti berubah dalam sekejap.

Segalanya bergerak.

Pedagang berteriak menawarkan kain dan rempah. Kereta kayu melintas membawa gandum. Tentara berkuda melaju cepat di jalan batu. Aroma roti panggang bercampur dengan bau logam, debu, dan keringat manusia.

Ardashir menoleh ke segala arah.

Matanya mencoba menangkap semuanya sekaligus.

Bangunan-bangunan tinggi dari batu membuatnya merasa seperti anak kecil. Bahkan suara langkah orang pun berbeda di kota ini—lebih cepat, lebih keras, lebih terburu-buru.

Vardan tertawa kagum di sampingnya.

“Kalau ibuku melihat tempat ini, dia pasti pingsan.”

Ardashir tersenyum kecil.

Namun di dalam hatinya ada perasaan aneh.

Kota ini indah.

Tetapi juga terasa dingin.


Mereka dibawa menuju kompleks pelatihan militer di sisi timur kota.

Tempat itu dikelilingi tembok batu tinggi. Di dalamnya terdengar:

  • benturan pedang kayu

  • teriakan latihan

  • derap kaki kuda

  • aba-aba komandan

Puluhan pemuda dari berbagai wilayah Persia sudah berada di sana.

Sebagian anak bangsawan.

Sebagian anak petani.

Namun di tempat itu, semua memakai pakaian latihan yang sama.

Tidak ada yang diperlakukan istimewa.

Seorang pria tinggi bertubuh besar berjalan mendekat.

Wajahnya keras seperti batu.

Bekas luka panjang terlihat di pipinya.

“Aku Rustom,” katanya singkat.
“Mulai hari ini, kalian milik disiplin.”

Tidak ada yang berani bicara.

Rustom berjalan di depan mereka perlahan seperti singa yang sedang memilih mangsa.

“Kalian datang dengan mimpi menjadi pahlawan.”
Ia berhenti.
“Sebagian besar dari kalian akan menangis sebelum bulan pertama selesai.”

Beberapa pemuda tertawa gugup.

Rustom tidak tersenyum.

“Besok pagi sebelum matahari terbit kalian sudah berada di lapangan latihan. Yang terlambat… pulang.”


Hari-hari berikutnya terasa seperti badai.

Mereka bangun sebelum fajar.

Latihan dimulai bahkan saat udara masih sangat dingin.

Mereka belajar:

  • menunggang kuda perang

  • memanah sambil berkuda

  • bertarung dengan tombak

  • disiplin barisan

  • bertahan tanpa tidur panjang

Tubuh Ardashir penuh lebam.

Tangannya melepuh.

Namun ia tidak mengeluh.

Justru ketika berada di atas kuda, sesuatu di dalam dirinya terasa hidup.

Rustom mulai memperhatikannya.

Suatu pagi saat latihan tombak berkuda, seorang peserta kehilangan kendali kudanya dan hampir menabrak barisan lain.

Tanpa berpikir panjang, Ardashir memacu kudanya, memotong arah, lalu menarik tali kekang kuda itu sebelum terjadi tabrakan.

Semua terjadi sangat cepat.

Lapangan menjadi sunyi sesaat.

Rustom memandang Ardashir lama.

“Kau anak peternak?”

“Ya.”

“Hm.”

Hanya itu.

Namun bagi para peserta lain, perhatian dari Rustom seperti itu bukan hal kecil.

Sejak hari itu beberapa orang mulai memperhatikan Ardashir lebih serius.

Sebagian kagum.

Sebagian iri.


Malam hari di barak jauh lebih sunyi.

Para pemuda biasanya terlalu lelah untuk bicara panjang.

Tubuh mereka ambruk begitu menyentuh tikar tidur.

Namun Ardashir sering masih terjaga.

Ia duduk dekat jendela kecil barak, memandang langit malam kota Persia.

Langit itu sama seperti di desa.

Bintang-bintangnya sama.

Namun entah kenapa terasa lebih jauh.

Ia mengeluarkan kain merah kecil dari balik pakaiannya.

Tangannya menyentuh jahitan pohon delima perlahan.

Kadang ia membayangkan Roxana sedang melakukan hal yang sama di desa.

Memandang langit yang sama.

Memikirkan dirinya.

Dan anehnya…

pikiran itu membuat rasa lelahnya sedikit berkurang.


Suatu sore setelah latihan berat, para peserta diberi waktu istirahat di halaman dalam.

Ardashir sedang memberi minum kudanya ketika terdengar suara gaduh kecil dari arah gerbang.

Beberapa pengawal kerajaan masuk.

Di belakang mereka berjalan seorang gadis muda berpakaian biru tua dengan bordir emas halus.

Langkahnya tenang.

Matanya tajam memperhatikan lapangan latihan.

Beberapa peserta langsung menundukkan kepala hormat.

Vardan berbisik pelan,

“Itu putri Jenderal Artaban…”

Ardashir menoleh sekilas.

Gadis itu tampak berbeda dari perempuan-perempuan kota yang pernah ia lihat sejak tiba di Persia.

Tidak banyak perhiasan.

Tidak banyak senyum dibuat-buat.

Tatapannya justru lebih mirip seorang pengamat perang daripada putri bangsawan.

Saat melewati lapangan, matanya berhenti sebentar pada Ardashir.

Hanya sebentar.

Namun cukup lama untuk membuat Ardashir merasa aneh.

Gadis itu kemudian melanjutkan langkahnya bersama para pengawal.

Vardan menyenggol pelan lengan Ardashir.

“Kau lihat itu?”

“Apa?”

“Dia memperhatikanmu.”

Ardashir kembali memberi minum kudanya.

“Mungkin kau terlalu banyak terkena matahari.”

Vardan tertawa kecil.

Namun beberapa langkah di kejauhan…

gadis itu sempat menoleh sekali lagi.

Dan untuk alasan yang bahkan belum ia pahami sendiri—

ia mulai mengingat wajah pemuda desa itu.

Jumat, 19 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (9)

 

Bab 9

Langit yang Sama



Hari-hari di kota berjalan keras dan cepat.

Latihan demi latihan membuat tubuh para pemuda berubah. Bahu mereka mulai lebih tegap. Tangan mereka mulai dipenuhi luka dan kapalan. Bahkan cara berjalan mereka perlahan berubah seperti prajurit sungguhan.

Namun ada satu hal yang tidak berubah dalam diri Ardashir.

Setiap malam, sebelum tidur, pikirannya selalu pulang ke desa kecil itu.

Ke pohon delima.

Ke suara langkah Roxana di jalan tanah.

Ke cara gadis itu tersenyum tanpa banyak bicara.


Malam itu angin kota bertiup lebih dingin dari biasanya.

Sebagian penghuni barak sudah tertidur setelah latihan berat sejak pagi. Suara dengkur samar terdengar di beberapa sudut ruangan panjang itu.

Ardashir duduk dekat jendela kecil.

Di tangannya ada kain merah kecil dengan jahitan pohon delima.

Vardan yang belum tidur meliriknya sambil tersenyum miring.

“Kau melihat benda itu lebih sering daripada melihat makanan.”

Ardashir tersenyum kecil.

“Karena benda ini tidak pernah membuatku kecewa.”

Vardan tertawa pelan.

“Gadis desa?”

Ardashir diam beberapa saat.

Lalu mengangguk kecil.

Vardan merebahkan tubuhnya sambil melipat tangan di belakang kepala.

“Aku iri pada orang-orang seperti kalian.”

“Seperti kami?”

“Yang sudah tahu siapa yang mereka rindukan.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Ia tidak pernah memikirkan cintanya sebagai sesuatu yang istimewa.

Bagi dirinya, Roxana terasa seperti bagian alami dari hidupnya. Seperti langit. Seperti tanah tempat ia tumbuh.

Baru setelah pergi… ia menyadari betapa kosongnya hidup tanpa kehadiran gadis itu.


Di desa yang jauh, malam juga sedang turun perlahan.

Roxana duduk di bawah pohon delima.

Angin malam memainkan ujung selendangnya.

Di pangkuannya ada benang-benang tenun yang belum selesai ia kerjakan.

Namun sejak beberapa menit lalu tangannya tidak bergerak.

Matanya justru memandang langit.

Bintang-bintang bersinar terang.

Sama seperti malam ketika Ardashir pergi.

Ibunya keluar dari rumah membawa selimut tipis.

“Kau akan masuk angin kalau terus di luar.”

Roxana tersenyum kecil ketika selimut itu disampirkan ke bahunya.

“Aku hanya ingin duduk sebentar.”

Ibunya duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka diam.

Lalu ibunya bertanya pelan,

“Kau merindukannya?”

Roxana menunduk kecil.

Namun senyum tipis di wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.

Ibunya mengusap rambut anak gadisnya perlahan.

“Cinta pertama memang sering membuat waktu terasa lambat.”

Roxana tersenyum malu.

“Apakah Ibu dulu juga begitu?”

Ibunya tertawa kecil.

“Ayahmu dulu pergi hanya tiga hari menjual gandum ke kota. Tapi rasanya seperti tiga bulan.”

Roxana akhirnya ikut tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya sejak Ardashir pergi, dadanya terasa sedikit lebih ringan.


Keesokan sorenya di kota, latihan berkuda berlangsung lebih keras dari biasanya.

Rustom tampak sedang dalam suasana buruk.

“Sekali lagi!” teriaknya.

Para peserta kembali memacu kuda sambil mengangkat tombak kayu.

Debu beterbangan memenuhi lapangan.

Ardashir melaju paling depan.

Gerakannya di atas kuda mulai terlihat alami, hampir seperti bagian dari hewan itu sendiri.

Beberapa pengawal kerajaan berdiri di pinggir lapangan memperhatikan latihan.

Dan di antara mereka…

ada gadis berpakaian biru tua itu lagi.

Artazara.

Kali ini ia berdiri lebih lama.

Matanya mengikuti Ardashir saat melintasi lapangan.

Tidak hanya karena kemampuan berkudanya.

Tetapi karena ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu.

Sebagian besar peserta latihan selalu berusaha terlihat hebat ketika diperhatikan bangsawan.

Namun Ardashir tidak.

Ia fokus sepenuhnya pada kudanya, pada latihan, pada gerak tubuhnya sendiri.

Tidak ada kepura-puraan.

Tidak ada usaha mencari perhatian.

Dan justru itu yang membuat Artazara semakin penasaran.

Rustom berjalan mendekat ke arah para pengawal kerajaan.

“Latihan hari ini membosankan?” tanyanya datar.

Artazara tersenyum tipis.

“Tidak.”
Matanya masih ke arah lapangan.
“Justru ada satu yang menarik.”

Rustom mengikuti arah pandangannya.

Ardashir.

Rustom mengangguk kecil.

“Anak desa.”

“Dia menunggang kuda seperti dilahirkan di atas pelana.”

“Karena memang begitu.”

Artazara tidak menjawab lagi.

Namun saat Ardashir melintas sekali lagi di depan lapangan, tanpa sadar matanya mengikuti lebih lama.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

putri seorang jenderal besar Persia mulai ingin mengenal seseorang bukan karena nama keluarganya.

Melainkan karena cara lelaki itu memandang dunia.


Malamnya, Ardashir kembali duduk dekat jendela kecil barak.

Langit Persia membentang luas di atas kota.

Ia menggenggam kain merah itu perlahan.

Dan jauh di desa…

Roxana juga sedang memandang bintang yang sama.

Tanpa mereka sadari—

cinta mulai belajar bertahan melawan jarak.



Rabu, 17 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (10)

 

Bab 10

Gadis dari Istana


Musim mulai berganti.

Udara di kota Persia tidak lagi sedingin ketika Ardashir pertama kali datang. Matahari kini terasa lebih hangat, dan halaman-halaman batu di kompleks pelatihan mulai dipenuhi debu kering.

Namun latihan justru semakin keras.

Rustom tampaknya percaya bahwa tubuh manusia baru benar-benar menunjukkan wataknya ketika lelah.

Hari itu para peserta latihan diminta memindahkan karung pasir besar dari gudang menuju lapangan belakang.

Pekerjaan sederhana.

Tetapi dilakukan setelah latihan tombak dan berkuda sejak pagi.

Sebagian pemuda mengeluh diam-diam.

Sebagian lagi melakukannya sambil mengumpat pelan.

Ardashir hanya mengangkat karungnya dan berjalan.

Keringat membasahi leher dan lengannya. Nafasnya berat, tetapi langkahnya tetap stabil.

Ketika melewati lorong taman bagian dalam kompleks pelatihan, ia mendengar suara seseorang.

“Berhenti sebentar.”

Ardashir menoleh.

Seorang gadis berdiri di dekat kolam kecil dari batu putih.

Pakaian biru tua dengan bordir emas halus. Rambut hitamnya diikat sederhana, tidak semewah perempuan istana lain yang pernah Ardashir lihat di kota.

Artazara.

Ardashir segera menundukkan kepala hormat.

“Putri.”

Artazara sedikit mengernyit.

“Apakah semua prajurit selalu berbicara sekaku itu?”

Ardashir tampak bingung beberapa detik.

“Itu yang diajarkan kepada kami.”

Jawaban jujur itu justru membuat Artazara tersenyum kecil.

“Kalau begitu aku kasihan pada kalian.”

Untuk pertama kalinya Ardashir melihat senyum gadis itu dengan jelas.

Tidak dingin.

Tidak sombong.

Justru ada kehangatan aneh di balik ketenangannya.

Artazara melirik karung besar di bahu Ardashir.

“Rustom memang suka membuat orang menderita.”

“Katanya penderitaan membuat prajurit lebih kuat.”

“Kalau begitu para ibu di dapur kerajaan seharusnya menjadi jenderal.”

Ardashir tidak bisa menahan senyum kecilnya.

Dan entah kenapa, melihat pemuda itu tersenyum membuat Artazara ikut merasa lebih ringan.

Beberapa detik berlalu tanpa terasa canggung.

Artazara lalu bertanya,

“Kau berasal dari mana?”

“Desa kecil di selatan.”

“Dan kau meninggalkan semuanya untuk datang ke sini?”

Ardashir berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Aku tidak yakin meninggalkan adalah kata yang tepat.”

Artazara memperhatikannya.

“Kau masih memikirkan rumah?”

Ardashir mengangguk pelan.

“Setiap hari.”

Jawaban itu keluar begitu alami sampai Ardashir sendiri tidak menyadari betapa jujurnya ia terdengar.

Sebagian besar orang di kota selalu berusaha terlihat kuat.

Tetapi pemuda ini tidak takut mengakui bahwa ia merindukan seseorang.

Dan itu terasa… langka.

Artazara memandang permukaan kolam kecil di samping mereka.

“Aku lahir di kota ini,” katanya perlahan.
“Tapi anehnya kadang aku justru merasa tidak punya tempat untuk pulang.”

Ardashir menatapnya sedikit heran.

Bagaimana mungkin seorang putri jenderal merasa seperti itu?

Namun sebelum ia sempat bertanya, suara Rustom menggema dari kejauhan.

“ARDASHIR!”

Ardashir refleks berdiri tegak.

“Kalau kau masih hidup, lanjutkan pekerjaanmu!”

Artazara menahan tawa kecil.

Ardashir menunduk hormat sekali lagi.

“Aku harus pergi.”

Artazara mengangguk.

Namun sebelum Ardashir melangkah, ia berkata pelan,

“Aku senang akhirnya tahu nama pemuda yang menunggang kuda hitam itu.”

Ardashir berhenti sesaat.

Lalu untuk pertama kalinya sejak datang ke kota, ia benar-benar menatap mata Artazara.

“Aku juga senang mengetahui bahwa putri jenderal ternyata bisa bercanda.”

Artazara tampak sedikit terkejut.

Lalu tertawa kecil.

Dan suara tawanya entah kenapa terus teringat di kepala Ardashir sepanjang sore itu.


Malamnya, saat para peserta makan malam sederhana di barak, Vardan menyenggol bahu Ardashir keras-keras.

“Aku melihatmu.”

“Apa?”

“Jangan pura-pura bodoh. Putri jenderal itu berbicara denganmu.”

Ardashir mengambil roti tanpa banyak ekspresi.

“Dia hanya bertanya.”

“Ya tentu. Dan matahari hanya sekadar hangat.”

Beberapa pemuda lain mulai tertawa kecil.

Ardashir menggeleng.

“Kalian terlalu banyak membayangkan hal aneh.”

Vardan mendekat sambil berbisik dramatis,

“Hati-hati. Kisah seperti ini biasanya berakhir dengan dua kemungkinan.”

“Apa?”

“Menjadi legenda… atau dipenggal.”

Semua tertawa lebih keras.

Bahkan Ardashir akhirnya ikut tertawa kecil.

Namun beberapa saat kemudian, ketika suasana mulai tenang…

tanpa sadar pikirannya justru kembali pada Roxana.

Pada gadis desa yang mungkin saat ini sedang duduk di bawah pohon delima.

Dan tiba-tiba dada Ardashir terasa dipenuhi rasa bersalah yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.

Karena untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa…

ada perempuan lain yang mulai memenuhi pikirannya.



Selasa, 16 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (11)

 

Bab 11

Syair di Bawah Lentera



Hari-hari di kompleks pelatihan mulai terasa seperti putaran roda yang tidak pernah berhenti.

Latihan.
Makan.
Tidur singkat.
Lalu latihan lagi.

Tubuh Ardashir semakin kuat. Gerakannya di atas kuda mulai menarik perhatian banyak pelatih. Bahkan beberapa prajurit senior mulai menyebut namanya ketika berbicara tentang peserta baru yang menjanjikan.

Namun semakin namanya dikenal…

semakin ia merasa ada bagian dirinya yang perlahan menjauh dari sesuatu yang sangat penting.

Dan ia belum tahu bagaimana cara menjelaskan perasaan itu.


Sore itu latihan selesai lebih awal.

Rustom tampaknya sedang dalam suasana hati yang cukup baik untuk ukuran dirinya.

“Kalian libur sampai malam,” katanya singkat.
“Tapi besok pagi jangan bergerak seperti kambing tua.”

Beberapa pemuda langsung bersorak kecil.

Vardan menepuk bahu Ardashir.

“Ayo ke pasar malam.”

“Aku lelah.”

“Itulah alasan kita harus pergi.”

Ardashir akhirnya ikut.


Pasar malam kota Persia ternyata berbeda dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

Lentera minyak tergantung di sepanjang jalan batu. Cahaya kuning keemasan membuat malam terasa hangat dan hidup.

Orang-orang memenuhi jalan:

  • pedagang rempah
  • penjual kain
  • pembuat keramik
  • musisi jalanan
  • penari keliling

Aroma daging panggang bercampur kayu manis memenuhi udara.

Vardan tampak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.

Sementara Ardashir lebih banyak memperhatikan orang-orang.

Kota ini begitu besar.

Begitu penuh kehidupan.

Namun anehnya… semakin ramai tempat itu, semakin ia merasakan kesunyian kecil di dalam dirinya.


Ketika mereka melewati sebuah sudut pasar, suara alat musik petik terdengar pelan.

Seorang lelaki tua duduk di bawah lentera kecil.

Janggutnya panjang memutih. Di tangannya ada alat musik sederhana menyerupai kecapi Persia.

Beberapa orang duduk melingkar mendengarkan.

Penyair keliling.

Vardan hendak berjalan terus.

Namun Ardashir berhenti.

Entah kenapa.

Penyair tua itu mulai melantunkan syair dengan suara rendah dan tenang:

Aku pergi mencari dunia yang lebih luas,
berharap hati menjadi lebih besar.

Tetapi setiap malam,
langkahku justru kembali
kepada satu nama
yang kutinggalkan di belakang.

Suara pasar terasa menjauh.

Ardashir berdiri diam.

Syair itu terasa terlalu dekat dengan isi hatinya sendiri.

Penyair tua melanjutkan:

Ada manusia yang dikirim takdir
untuk menaklukkan kota-kota besar.

Namun ada pula
satu tatapan sederhana
yang diam-diam
lebih sulit ditinggalkan
daripada seluruh dunia.

Ardashir menunduk pelan.

Tanpa sadar jemarinya menyentuh kain merah kecil di balik jubahnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke kota…

ia benar-benar merindukan Roxana sampai terasa sakit.


Di tempat lain dalam kota, Artazara sedang berdiri di balkon rumah ayahnya.

Dari kejauhan ia bisa melihat cahaya pasar malam seperti bintang-bintang kecil di bumi.

Pelayan perempuan di belakangnya berkata pelan,

“Nona tampak sering melamun akhir-akhir ini.”

Artazara tersenyum tipis.

“Apakah semua perempuan menjadi seperti itu ketika terlalu banyak berpikir?”

Pelayan itu tertawa kecil.

“Biasanya bukan karena berpikir.”

Artazara tidak menjawab.

Namun tanpa sadar pikirannya kembali pada seorang pemuda desa yang berbicara jujur tentang rumah dengan cara yang belum pernah ia dengar dari siapa pun.

Kebanyakan lelaki di sekitar istana selalu berbicara tentang:

  • ambisi
  • kekuasaan
  • kemenangan

Tetapi Ardashir berbeda.

Ia berbicara tentang rumah seolah itu sesuatu yang suci.

Dan anehnya…

Artazara mulai ingin mengetahui seperti apa tempat yang begitu dirindukan pemuda itu.


Malam semakin larut ketika Ardashir dan Vardan berjalan pulang menuju barak.

Vardan membawa kantong kacang panggang sambil terus berbicara tentang makanan dan perempuan cantik yang mereka lihat di pasar.

Namun Ardashir lebih banyak diam.

Syair penyair tua itu masih terngiang di kepalanya.

Sesampainya di barak, ia duduk dekat jendela kecil seperti biasa.

Langit malam Persia membentang tenang.

Perlahan ia mengeluarkan kain merah itu.

Lalu untuk pertama kalinya…

Ardashir berbisik sangat pelan kepada malam:

“Aku harap kau masih menungguku, Roxana.”

Dan jauh di desa kecil yang diterangi cahaya bulan…

Roxana memang masih menunggu.