Rabu, 31 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (1)

Desa Kecil di Dataran Persia

Bab I

Anak-anak di Bawah Langit Persia




 (ilustrasi ini diambil dari www.istockphoto.com dan lainnya dengan hak cipta mereka masing-masing)

Pada masa ketika dunia masih terasa luas dan sunyi, ketika kerajaan besar baru mulai tumbuh di bawah kepemimpinan Cyrus the Great, ada sebuah desa kecil di kaki pegunungan yang menghadap padang luas Persia.

Di sana bumi terasa seperti hamparan karunia Tuhan. Pada pagi hari, cahaya matahari turun perlahan dari balik pegunungan seperti tirai emas yang dibuka oleh tangan yang lembut. Rumput-rumput tinggi memantulkan cahaya itu seperti ribuan jarum kecil yang berkilau. Embun yang menempel pada daun liar tampak seperti butiran kaca bening.

Angin yang turun dari pegunungan Zagros bergerak pelan, membuat padang rumput berombak seperti laut hijau. Pada masa ketika dunia masih terasa sangat luas dan manusia belum terlalu sibuk mengejarnya, ada sebuah desa kecil di kaki pegunungan Persia. Desa itu berdiri di antara padang rumput yang panjang, tempat angin dari pegunungan membawa wangi tanah, bunga liar, dan jerami kuda.

Setiap pagi, ketika matahari baru muncul dari balik punggung pegunungan, cahaya emas turun perlahan menyentuh rumah-rumah dari tanah liat.

Rumah-rumah itu sederhana.

Dindingnya dibuat dari campuran tanah, jerami, dan air yang dikeringkan di bawah matahari. Atapnya dari batang kayu dan jerami kering. Di halaman rumah biasanya berdiri beberapa tempayan tanah liat besar tempat keluarga menyimpan air, gandum, dan buah kering.

Pagi hari di desa itu dimulai dengan suara-suara kecil kehidupan.

Suara ayam.

Suara kuda menghembuskan napas.

Dan suara batu gilingan yang berputar.

Grrr… grrr…

Di halaman rumahnya, Roxana sering duduk bersama ibunya di dekat batu penggiling gandum. Dua batu bundar besar disusun bertumpuk. Pada batu atas ada lubang kecil tempat biji gandum dituangkan.

Ibunya memutar tongkat kayu di tengah batu.

Batu itu berputar perlahan, menggiling gandum menjadi tepung.

Roxana kecil menuangkan biji gandum sedikit demi sedikit.

Tepung halus jatuh seperti debu putih di wadah tanah liat di bawahnya.

“Apa ini akan menjadi roti?” tanya Roxana.

Ibunya tersenyum.

“Ya. Roti selalu dimulai dari kesabaran.”

Roxana sering memperhatikan tepung itu dengan serius, seolah melihat sesuatu yang ajaib: biji kecil berubah menjadi makanan bagi keluarga.

Di pagi hari yang lain, seorang anak laki-laki sering muncul di halaman rumah itu membawa kendi air dari tanah liat.

Namanya Ardashir.

Ia berjalan hati-hati agar air di dalam kendi tidak tumpah.

Kendi itu cukup besar untuk anak seusianya.

Roxana sering berdiri di depan pintu menatapnya sambil tersenyum.

“Kau berjalan seperti prajurit membawa pedang.”

Ardashir menjawab dengan wajah serius.

“Air lebih penting dari pedang.”

Roxana tertawa kecil.

Sejak kecil mereka sudah terbiasa saling membantu tanpa banyak bicara.


Kuda-kuda di Padang Rumput

Ayah Ardashir adalah peternak kuda.

Kandang mereka terletak sedikit di luar desa, di dekat padang rumput luas tempat kuda-kuda merumput bebas.

Kandang itu dibuat dari tiang kayu yang ditancapkan ke tanah, diikat dengan tali serat tanaman, dan ditutup atap jerami.

Di pagi hari, suara pertama yang didengar Ardashir biasanya adalah napas kuda.

Hangat.

Tenang.

Ayahnya mengajarkan banyak hal tentang kuda.

Suatu hari ia memberi Ardashir sikat kayu dengan serat kasar.

“Coba bersihkan bulu kuda ini.”

Ardashir menyikat bulu seekor kuda cokelat muda dengan hati-hati.

Kuda itu berdiri tenang.

Roxana kadang datang membawa segenggam gandum.

Ia memberi makan kuda itu dari tangannya.

Kuda itu mengunyah perlahan.

Roxana tertawa ketika bibir kuda yang hangat menyentuh telapak tangannya.

Di dinding kandang tergantung berbagai alat sederhana:

  • tali kekang dari kulit tebal
  • pelana kulit sederhana
  • alat besi kecil untuk membersihkan kuku kuda

Ardashir sangat bangga ketika ayahnya pertama kali mengizinkannya memegang kekang kuda sendiri.

“Kuda merasakan hatimu,” kata ayahnya.

“Jika kau tenang, kuda juga tenang.”

Roxana memperhatikan Ardashir dengan serius.

“Kau berbicara dengan kuda?”

Ardashir mengangguk.

“Kuda mendengarkan lebih baik dari manusia.”

Roxana duduk di pagar kayu kandang.

“Kalau begitu suatu hari kau akan menjadi penunggang kuda yang hebat.”

Ardashir mengangkat bahu.

“Aku hanya ingin kuda-kuda ini sehat.”

Namun dalam matanya selalu ada sesuatu yang lebih jauh dari padang rumput.


Dunia Kecil yang Indah

Hari-hari masa kecil mereka dipenuhi hal-hal sederhana.

Mereka duduk di tepi sungai kecil yang airnya jernih.

Kadang mereka membuat perahu kecil dari potongan kayu lalu membiarkannya hanyut.

Kadang mereka berjalan melewati ladang gandum yang bergoyang pelan oleh angin.

Roxana memiliki kebiasaan yang aneh.

Ia sering berhenti di tengah padang rumput.

Menutup mata.

Lalu menghirup udara panjang.

“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Ardashir.

Roxana membuka mata dan tersenyum.

“Aku ingin mengingat bau dunia ini.”

“Bau dunia?”

“Tanah. Rumput. Angin. Matahari.”

Ia menunjuk langit yang luas.

“Kalau suatu hari kita pergi jauh, kita masih bisa mengingat bahwa Tuhan pernah memberi kita tempat seindah ini.”

Ardashir memandang padang rumput di sekeliling mereka.

Rumput bergoyang seperti laut hijau.

Burung-burung kecil terbang rendah di udara.

Langit Persia terasa begitu luas hingga seorang anak kecil merasa dirinya sangat kecil di dalamnya.

Saat itu Ardashir belum mengerti.

Namun jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang hangat.

Perasaan bahwa hidup ini adalah karunia.

Dan bahwa dunia yang indah ini terasa lebih indah karena Roxana selalu ada di dalamnya.


Suatu sore ketika matahari hampir tenggelam, mereka berdiri di atas sebuah bukit kecil.

Langit berubah menjadi warna emas dan merah.

Di kejauhan jalan kerajaan terlihat seperti garis panjang di padang.

Debu mulai naik dari jalan itu.

Ardashir menyipitkan mata.

“Ada karavan,” katanya.

Roxana memandang ke arah yang sama.

Namun mereka belum tahu bahwa hari itu bukan hanya karavan biasa yang akan lewat.

Hari itu akan menjadi hari pertama takdir mengetuk kehidupan mereka.

Dan masa kecil yang penuh kedamaian itu perlahan akan mulai berubah.


Lanjut ke Bab 2 yang sangat dramatis, yaitu:

“Hari Ketika Immortals Melewati Desa.”

  • Ardashir kecil pertama kali melihat pasukan elit Persia
  • Roxana memberikan kain biru yang menjadi simbol pulang
  • dan dari rombongan kerajaan… Artazara kecil melihat Ardashir untuk pertama kalinya.

Bab dua ini momen takdir pertama dari kisah cinta yang panjang ini.

Selasa, 30 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (2)

 

Jalan Kerajaan yang Melintasi Desa
Bab II

Hari Ketika Para Abadi Melewati Desa

Pada suatu pagi yang cerah di awal musim panas, desa kecil di kaki pegunungan itu terbangun sedikit lebih cepat dari biasanya.

Angin dari padang membawa sesuatu yang berbeda.

Debu.

Halus dan jauh.

Anjing-anjing desa mulai menggonggong ke arah jalan kerajaan yang membelah padang rumput di kejauhan.

Seorang lelaki tua yang sedang menimba air dari sumur berhenti sejenak dan menyipitkan mata ke arah cakrawala.

“Ada rombongan besar,” katanya pelan.

Kabar itu menyebar dengan cepat seperti angin.

Perempuan-perempuan keluar dari rumah sambil mengusap tangan mereka yang masih bertepung gandum. Anak-anak berlari ke tepi desa. Para peternak meninggalkan kandang kuda untuk melihat apa yang datang dari jalan besar itu.

Ardashir sedang membersihkan bulu seekor kuda muda ketika ia mendengar suara ayahnya memanggil.

“Ardashir! Kemarilah.”

Ardashir meletakkan sikat kayu di pagar kandang dan berlari.

Roxana sudah berdiri di dekat sumur desa.

Matanya memandang jauh ke arah jalan kerajaan.

“Lihat,” katanya pelan.

Di kejauhan terlihat garis panjang yang bergerak perlahan.

Debu naik ke udara seperti kabut tipis.

Suara langkah kaki mulai terdengar.

Pelan.

Teratur.

Seperti detak jantung bumi.


Semakin dekat rombongan itu datang, semakin jelas bentuknya.

Pertama terlihat para penunggang kuda pengawal.

Di belakang mereka, barisan panjang prajurit berjalan dengan langkah yang sama.

Tombak-tombak mereka menjulang seperti hutan tipis yang bergerak.

Matahari pagi menyentuh ujung tombak itu hingga berkilau seperti cahaya kecil.

Seorang pria tua di desa berbisik dengan kagum.

“Itu mereka.”

“Siapa?” tanya Roxana.

Pria tua itu menjawab dengan suara rendah.

“Para Abadi.”

Itulah nama yang sering didengar orang-orang desa ketika berbicara tentang pasukan elit kerajaan: Immortals.

Sepuluh ribu prajurit yang konon tidak pernah berkurang jumlahnya.

Jika satu gugur, yang lain akan menggantikannya.

Seolah-olah pasukan itu tidak pernah mati.


Ardashir berdiri tanpa berkedip.

Para prajurit itu berjalan dengan tenang, mengenakan pakaian perang yang rapi.

Di punggung mereka tergantung busur.

Di tangan mereka tombak panjang.

Langkah mereka begitu seragam hingga terdengar seperti satu suara besar yang bergerak.

Dum… dum… dum…

Ardashir merasa dadanya bergetar.

Ia belum pernah melihat sesuatu yang begitu teratur dan kuat.

Roxana memperhatikan wajahnya.

“Apa yang kau pikirkan?”

Ardashir tidak langsung menjawab.

Matanya masih mengikuti barisan prajurit itu.

“Aku ingin berjalan seperti mereka.”

Roxana memiringkan kepala.

“Berjalan?”

“Ya.”

Ardashir menunjuk ke arah pasukan itu.

“Mereka berjalan seperti orang yang tahu ke mana mereka pergi.”


Barisan pasukan terus bergerak melewati desa.

Beberapa prajurit menoleh sebentar kepada penduduk desa.

Namun sebagian besar tetap menatap lurus ke depan.

Disiplin mereka terasa hampir seperti sesuatu yang suci.

Di tengah barisan itu, Ardashir melihat seorang perwira menunggang kuda.

Kudanya tinggi dan kuat.

Pakaian perwiranya lebih indah daripada yang lain.

Ardashir menatap kuda itu dengan kagum.

Ia memperhatikan bagaimana perwira itu memegang kekang.

Tenang.

Pasti.

Ayah Ardashir berdiri di sampingnya.

“Kuda itu kuda kerajaan,” katanya.

Ardashir mengangguk pelan.

Di dalam hatinya muncul perasaan yang aneh.

Bukan hanya kagum.

Tetapi juga keinginan.

Keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang besar.


Setelah barisan panjang pasukan itu lewat, debu masih menggantung di udara.

Suara langkah kaki perlahan menghilang ke arah barat.

Penduduk desa mulai kembali ke pekerjaan mereka.

Namun Ardashir masih berdiri di bukit kecil di tepi desa.

Roxana mendekatinya.

“Kau masih melihat mereka?”

Ardashir mengangguk.

“Suatu hari aku ingin menjadi salah satu dari mereka.”

Roxana menatap wajahnya lama.

Ia tidak menertawakan mimpi itu.

Ia tidak mengatakan bahwa mimpi itu terlalu besar untuk anak desa.

Sebaliknya, ia membuka simpul kecil pada pinggang pakaiannya.

Dari sana ia mengambil sehelai kain biru kecil.

Ia mengikatkan kain itu pada pergelangan tangan Ardashir.

Angin sore mulai turun dari pegunungan.

Kain biru itu bergerak pelan tertiup angin.

“Apa ini?” tanya Ardashir.

Roxana menjawab lembut.

“Supaya kau ingat jalan pulang.”

Ardashir memandang kain itu.

Lalu memandang Roxana.

Langit Persia mulai berubah menjadi warna emas senja.

Di kejauhan jalan kerajaan terlihat sunyi kembali.

Namun bagi Ardashir, dunia tidak lagi terasa sama.

Hari itu ia telah melihat sesuatu yang besar.

Dan di pergelangan tangannya, sebuah kain biru kecil mengingatkannya bahwa sejauh apa pun seseorang berjalan—

selalu ada seseorang yang menunggu ia pulang.

Senin, 29 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (3)

 

Kedatangan Utusan Kerajaan

Image



Bab III

Utusan Raja

Beberapa minggu setelah pasukan Immortals melewati desa, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Padang rumput kembali sunyi.

Kuda-kuda merumput dengan tenang.

Para perempuan desa menggiling gandum dan menjemur roti pipih di atas batu panas.

Namun di dalam hati Ardashir, sesuatu telah berubah.

Sejak hari itu ia sering berdiri lebih lama di bukit kecil yang menghadap jalan kerajaan.

Seolah-olah dunia yang lebih besar sedang memanggilnya dari kejauhan.


Suatu pagi, ketika matahari belum terlalu tinggi, suara derap kuda kembali terdengar dari arah jalan kerajaan.

Tetapi kali ini hanya satu kuda.

Seekor kuda cokelat gelap berlari cepat menuju desa.

Penunggangnya mengenakan jubah perjalanan berdebu dan membawa tongkat kayu panjang dengan lambang kerajaan di ujungnya.

Seorang lelaki tua desa menyipitkan mata.

“Utusan raja.”

Orang-orang segera berkumpul di dekat sumur desa.

Utusan itu menghentikan kudanya di tengah lapangan kecil.

Debu turun perlahan dari jubahnya.

Ia membuka gulungan kulit yang tergantung di pelana.

Dengan suara keras ia berkata:

“Dengan perintah Raja Besar, penguasa tanah Persia dan pelindung bangsa-bangsa, desa-desa di wilayah ini diminta mengirimkan anak-anak laki-laki yang kuat dan berbakat untuk dilatih menjadi prajurit kerajaan.”

Penduduk desa saling berpandangan.

Bagi sebagian keluarga, ini adalah kehormatan besar.

Bagi yang lain, ini adalah sesuatu yang menakutkan.

Utusan itu melanjutkan:

“Anak-anak yang dipilih akan belajar menunggang kuda, memanah, dan bertempur. Mereka akan melayani kerajaan dan menjaga tanah Persia.”


Ardashir berdiri di belakang kerumunan.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia memandang kuda utusan itu dengan penuh perhatian.

Kuda itu tinggi, berotot, dan berdiri dengan tenang meskipun banyak orang di sekelilingnya.

Ayah Ardashir berdiri di sampingnya.

“Ayah,” bisik Ardashir.

Ayahnya menoleh.

“Aku ingin mencoba.”

Ayahnya tidak langsung menjawab.

Ia memandang jalan kerajaan yang panjang di kejauhan.

Kemudian ia menatap anaknya.

“Kau masih muda.”

Ardashir menunduk sebentar.

“Tapi aku bisa menunggang kuda.”

Ayahnya tersenyum tipis.

“Itu benar.”


Utusan kerajaan mulai memperhatikan anak-anak desa.

Ia melihat tangan mereka.

Bahu mereka.

Cara mereka berdiri.

Ketika matanya sampai pada Ardashir, ia berhenti sejenak.

“Kau.”

Ardashir melangkah maju.

“Berapa umurmu?”

“Dua belas musim panas.”

Utusan itu mengangguk.

“Apakah kau bisa menunggang kuda?”

Ardashir menunjuk ke arah padang rumput.

“Kuda-kuda itu milik ayahku.”

Utusan itu tersenyum sedikit.

“Bagus.”

Ia mengambil tongkat kayu kecil dari pelana dan melemparkannya ke tanah beberapa langkah dari Ardashir.

“Ambil.”

Ardashir berjalan mengambil tongkat itu.

“Kini kembalikan.”

Ardashir melemparnya kembali dengan gerakan cepat.

Utusan itu menangkapnya dengan mudah.

Ia mengangguk lagi.

“Kau memiliki lengan yang kuat.”


Di tepi kerumunan, Roxana berdiri diam.

Tangannya menggenggam ujung pakaiannya.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Namun matanya mengikuti setiap gerakan Ardashir.

Utusan kerajaan akhirnya berkata kepada ayah Ardashir:

“Anak ini memiliki tubuh yang baik untuk pelatihan prajurit.”

Ayah Ardashir menarik napas panjang.

“Jika itu kehendak raja, kami tidak akan menolak.”

Utusan itu mengangguk.

“Pelatihan pertama akan dimulai di kota garnisun musim gugur nanti.”

Ia memandang Ardashir.

“Berlatihlah. Dunia kerajaan jauh lebih keras daripada padang rumput ini.”


Ketika kerumunan mulai bubar, Ardashir berjalan menuju bukit kecil di tepi desa.

Roxana mengikutinya.

Angin siang bergerak lembut di padang.

Mereka berdiri lama tanpa bicara.

Akhirnya Roxana berkata pelan:

“Jadi kau benar-benar akan pergi suatu hari.”

Ardashir menatap jalan kerajaan.

“Belum sekarang.”

Ia memandang Roxana.

“Tapi suatu hari.”

Roxana menunduk sebentar.

Kemudian ia tersenyum kecil, walau matanya sedikit basah.

“Kalau begitu kau harus menjadi prajurit yang sangat hebat.”

Ardashir tertawa ringan.

“Kenapa?”

“Supaya perjalananmu tidak sia-sia.”

Angin menggoyangkan rumput panjang di sekitar mereka.

Langit Persia terasa sangat luas di atas kepala mereka.

Di dalam keheningan itu, masa kecil mereka perlahan mulai bergerak menuju sesuatu yang lebih besar.

Sesuatu yang akan membawa Ardashir jauh dari desa kecil itu.

Namun di dalam hatinya, selalu ada satu tempat yang tidak akan pernah berubah.

Tempat di mana seorang gadis berdiri di padang rumput—

dan diam-diam berdoa agar ia selalu kembali dengan selamat.

Sabtu, 27 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (4)


Musim Panas Terakhir di Desa

Bab IV



Musim panas datang perlahan ke dataran Persia.

Angin dari pegunungan menjadi lebih hangat, membawa bau gandum yang mulai menguning di ladang. Sungai kecil di dekat desa mengalir lebih tenang, memantulkan langit biru yang luas.

Bagi penduduk desa, musim panas adalah musim kerja.

Namun bagi Ardashir, musim panas tahun itu terasa berbeda.

Ia tahu bahwa setelah musim itu berakhir, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.


Setiap pagi ia bangun sebelum matahari terbit.

Langit masih berwarna biru gelap ketika ia berjalan ke kandang kuda membawa ember air dan sikat kayu.

Kuda-kuda menyambutnya dengan napas hangat.

Ia mulai menyikat bulu mereka dengan gerakan yang semakin terampil.

Di dinding kandang tergantung berbagai alat sederhana yang sudah sangat ia kenal:

  • pelana kulit yang mulai aus

  • tali kekang yang digosok minyak agar tetap kuat

  • alat besi kecil untuk membersihkan kuku kuda

  • busur latihan milik ayahnya

Ayah Ardashir berdiri di pintu kandang suatu pagi.

“Kau harus belajar memanah dengan benar.”

Ia menyerahkan busur itu.

Ardashir menggenggamnya dengan hati-hati.

Busur itu terasa berat, tetapi juga terasa seperti sesuatu yang penting.

Mereka berjalan ke padang rumput.

Ayahnya menancapkan beberapa batang kayu di tanah sebagai sasaran.

“Tarik napas.”

Ardashir menarik tali busur.

“Jangan terburu-buru.”

Anak panah dilepaskan.

Thak.

Panah itu menancap di tanah beberapa langkah dari sasaran.

Ayahnya tertawa pelan.

“Setiap pemanah besar pernah memulai seperti itu.”


Beberapa hari kemudian, ketika Ardashir sedang berlatih lagi, Roxana datang ke kandang.

Ia membawa sekeranjang kecil berisi roti pipih dan kurma.

“Aku membawa makanan,” katanya.

Ardashir menurunkan busurnya.

“Kau selalu membawa makanan.”

“Karena kau selalu lupa makan.”

Mereka duduk di pagar kayu kandang.

Roxana memberi roti pada Ardashir.

Angin musim panas menggerakkan rumput panjang di padang.

Di dekat mereka, seekor kuda abu-abu menggoyangkan ekornya perlahan.

Roxana memandang latihan memanah Ardashir.

“Kau semakin baik.”

Ardashir mengangkat bahu.

“Aku harus belajar sebelum pergi.”

Roxana tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap padang rumput yang luas.

“Padang ini akan terasa sepi tanpa kau.”

Ardashir terdiam.

Ia belum pernah benar-benar memikirkan bagaimana rasanya meninggalkan tempat ini.


Sore hari menjadi waktu favorit mereka.

Matahari turun perlahan di balik bukit kecil di barat desa.

Langit berubah menjadi warna emas lembut.

Pada suatu sore mereka berjalan ke ladang gandum di luar desa.

Gandum yang matang bergerak pelan seperti lautan emas tertiup angin.

Roxana berjalan di antara tanaman gandum itu dengan tangan menyentuh bulir-bulirnya.

“Kadang aku berharap waktu bisa berhenti,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena semuanya terasa sempurna sekarang.”

Ardashir menatap sekelilingnya.

Langit luas.

Padang rumput.

Ladang gandum.

Dan Roxana berdiri di tengah cahaya matahari senja.

Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa dunia kecil mereka benar-benar berharga.

Lebih berharga dari mimpi apa pun.


Ketika matahari hampir tenggelam, mereka kembali ke bukit kecil yang menghadap jalan kerajaan.

Tempat yang sama di mana mereka dulu melihat pasukan Immortals melewati desa.

Angin senja bertiup lembut.

Kain biru yang pernah diberikan Roxana masih terikat di pergelangan tangan Ardashir.

Roxana melihatnya.

“Kau masih menyimpannya.”

“Tentu saja.”

Roxana tersenyum kecil.

“Kalau kau pergi jauh nanti…”

Ia berhenti sejenak.

“Jangan lupa desa ini.”

Ardashir menggeleng.

“Aku tidak mungkin lupa.”

Ia memandang padang luas di bawah mereka.

“Semua yang aku tahu tentang hidup berasal dari tempat ini.”

Roxana menatapnya lama.

Di matanya ada sesuatu yang baru—sesuatu yang tidak sepenuhnya dimengerti oleh dua anak yang sedang tumbuh.

Perasaan yang pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.


Malam turun perlahan di desa kecil itu.

Lampu minyak mulai menyala di rumah-rumah tanah liat.

Di kejauhan terdengar kuda-kuda bergerak di kandang.

Dan di atas desa itu, langit Persia terbentang luas penuh bintang.

Musim panas itu masih panjang.

Namun tanpa mereka sadari, itu adalah musim panas terakhir masa kecil mereka.

Musim panas sebelum dunia yang lebih besar membuka pintunya bagi Ardashir—

dan sebelum hati mereka berdua belajar bahwa cinta sering kali lahir justru ketika perpisahan mulai mendekat. 🌾


Kamis, 25 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (5)

Bab 5

Utusan dari Selatan

Image

Image

Image

Image

Pagi itu datang dengan cara yang berbeda.

Tidak ada yang benar-benar tahu kenapa.

Namun udara terasa lebih berat, seolah angin membawa sesuatu dari kejauhan.

Ardashir sedang berada di kandang, seperti biasa. Tangannya sibuk merapikan tali kekang kuda hitam itu. Jemarinya bergerak pelan, tetapi pikirannya masih tertinggal di bawah pohon delima—pada janji yang mereka ucapkan kemarin.

Ia tersenyum kecil tanpa sadar.

Sampai suara itu datang.

Gemuruh.

Pelan… lalu semakin jelas.

Bukan suara angin.
Bukan suara kerbau.
Bukan pula langkah orang berjalan.

Itu suara kuda.

Banyak kuda.

Ardashir menoleh ke arah jalan utama desa.

Debu mulai terangkat.

Orang-orang keluar dari rumah mereka. Beberapa pria menutup mata dengan tangan, mencoba melihat siapa yang datang.

Roxana muncul dari arah sumur, membawa kendi air. Langkahnya terhenti ketika ia melihat ke arah yang sama.

“Ardashir…” suaranya pelan.

Ia tidak perlu melanjutkan.

Ardashir sudah mengerti.

Sekelompok penunggang kuda memasuki desa.

Mereka bukan pedagang.
Bukan pula musafir.

Pakaian mereka rapi, teratur, dan membawa lambang yang tidak pernah terlihat di desa itu sebelumnya—sebuah panji dengan simbol kerajaan Persia.

Kuda-kuda mereka tinggi dan terlatih. Langkahnya serempak, seperti satu tubuh.

Di barisan depan, seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun turun dari kudanya.

Tatapannya tajam, tetapi tidak kasar.

Ia berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.

“Kami datang atas perintah kerajaan.”

Desa menjadi sunyi.

Hanya suara angin yang tersisa.

Kepala desa maju perlahan.

“Apa yang bisa kami bantu?”

Pria itu mengamati sekeliling, seolah menilai bukan hanya rumah-rumah, tetapi juga orang-orang di dalamnya.

“Kami mencari pemuda,” katanya.
“Yang kuat. Yang terbiasa dengan kuda. Yang bisa dilatih untuk melayani kerajaan.”

Beberapa orang saling berpandangan.

Tidak ada yang langsung berbicara.

Di belakang, Ardashir berdiri diam.

Entah kenapa, dadanya terasa lebih berat.

Pria itu melanjutkan:

“Kerajaan membutuhkan mereka. Dan mereka yang terpilih akan mendapatkan kehormatan… serta kehidupan yang tidak akan pernah mereka temukan di desa kecil seperti ini.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Sebagian pemuda tampak tertarik.
Sebagian lagi ragu.

Roxana menoleh ke arah Ardashir.

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun matanya bertanya.

Ardashir tidak menjawab.

Ia hanya menatap pria itu.

Lalu… tanpa benar-benar sadar, ia melangkah maju.

Langkahnya pelan.

Namun setiap langkah terasa seperti meninggalkan sesuatu di belakangnya.

Beberapa orang mulai berbisik.

“Anak dari peternak kuda…”
“Dia memang paling mahir…”
“Tidak heran…”

Pria utusan itu memperhatikan Ardashir.

“Namamu?”

“Ardashir.”

“Anak siapa?”

“Bahram. Peternak kuda.”

Ada jeda singkat.

Pria itu mengangguk pelan.

“Bawakan satu kuda.”

Ardashir menoleh sebentar ke arah kandang.

Kuda hitam itu.

Ia tahu kuda itu bukan sekadar hewan bagi ayahnya.
Ia juga tahu… ini bukan permintaan biasa.

Namun ia tetap berjalan.

Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kuda hitam itu.

Kuda itu berdiri tegak, matanya tajam.

Pria utusan itu tersenyum tipis.

“Naik.”

Ardashir melakukannya tanpa ragu.

“Lari.”

Tanpa cambuk. Tanpa teriakan.

Hanya satu sentuhan ringan.

Kuda itu bergerak.

Cepat.

Lebih cepat.

Mengitari desa seperti bayangan hitam yang menyatu dengan angin.

Orang-orang terdiam.

Debu beterbangan.

Dan dalam beberapa detik… Ardashir kembali ke tempat semula.

Sunyi.

Pria itu menatapnya lebih lama sekarang.

“Turun.”

Ardashir turun.

“Besok pagi,” kata pria itu.
“Kau ikut bersama kami.”

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa seperti pintu yang terbuka… sekaligus tertutup.

Ardashir tidak langsung menjawab.

Ia menoleh.

Roxana masih berdiri di tempatnya.

Kendi air di tangannya sedikit miring, hampir tumpah.

Mata mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kecil…

tidak ada kata yang cukup.

Pria itu mengira Ardashir sedang berpikir tentang dirinya.

Padahal sebenarnya, ia sedang berpikir tentang seseorang yang akan ia tinggalkan.

Akhirnya Ardashir berkata pelan:

“Aku akan berbicara dengan ayahku.”

Pria itu mengangguk.

“Lakukan itu. Tapi jangan terlalu lama. Takdir tidak suka menunggu.”

Matahari mulai naik lebih tinggi.

Namun pagi itu terasa seperti senja yang datang terlalu cepat.


Malamnya, desa tidak benar-benar tidur.

Dan di bawah pohon delima…

dua anak yang kemarin membuat janji

harus mulai belajar arti dari kata perpisahan.


di Bab 6 kita akan masuk ke salah satu bagian paling emosional:

👉 Percakapan Ardashir dengan ayahnya (Bahram)
👉 Percakapan diam Ardashir dan Roxana di malam terakhir