Selasa, 30 Desember 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (2)

 

Jalan Kerajaan yang Melintasi Desa
Bab II

Hari Ketika Para Abadi Melewati Desa

Pada suatu pagi yang cerah di awal musim panas, desa kecil di kaki pegunungan itu terbangun sedikit lebih cepat dari biasanya.

Angin dari padang membawa sesuatu yang berbeda.

Debu.

Halus dan jauh.

Anjing-anjing desa mulai menggonggong ke arah jalan kerajaan yang membelah padang rumput di kejauhan.

Seorang lelaki tua yang sedang menimba air dari sumur berhenti sejenak dan menyipitkan mata ke arah cakrawala.

“Ada rombongan besar,” katanya pelan.

Kabar itu menyebar dengan cepat seperti angin.

Perempuan-perempuan keluar dari rumah sambil mengusap tangan mereka yang masih bertepung gandum. Anak-anak berlari ke tepi desa. Para peternak meninggalkan kandang kuda untuk melihat apa yang datang dari jalan besar itu.

Ardashir sedang membersihkan bulu seekor kuda muda ketika ia mendengar suara ayahnya memanggil.

“Ardashir! Kemarilah.”

Ardashir meletakkan sikat kayu di pagar kandang dan berlari.

Roxana sudah berdiri di dekat sumur desa.

Matanya memandang jauh ke arah jalan kerajaan.

“Lihat,” katanya pelan.

Di kejauhan terlihat garis panjang yang bergerak perlahan.

Debu naik ke udara seperti kabut tipis.

Suara langkah kaki mulai terdengar.

Pelan.

Teratur.

Seperti detak jantung bumi.


Semakin dekat rombongan itu datang, semakin jelas bentuknya.

Pertama terlihat para penunggang kuda pengawal.

Di belakang mereka, barisan panjang prajurit berjalan dengan langkah yang sama.

Tombak-tombak mereka menjulang seperti hutan tipis yang bergerak.

Matahari pagi menyentuh ujung tombak itu hingga berkilau seperti cahaya kecil.

Seorang pria tua di desa berbisik dengan kagum.

“Itu mereka.”

“Siapa?” tanya Roxana.

Pria tua itu menjawab dengan suara rendah.

“Para Abadi.”

Itulah nama yang sering didengar orang-orang desa ketika berbicara tentang pasukan elit kerajaan: Immortals.

Sepuluh ribu prajurit yang konon tidak pernah berkurang jumlahnya.

Jika satu gugur, yang lain akan menggantikannya.

Seolah-olah pasukan itu tidak pernah mati.


Ardashir berdiri tanpa berkedip.

Para prajurit itu berjalan dengan tenang, mengenakan pakaian perang yang rapi.

Di punggung mereka tergantung busur.

Di tangan mereka tombak panjang.

Langkah mereka begitu seragam hingga terdengar seperti satu suara besar yang bergerak.

Dum… dum… dum…

Ardashir merasa dadanya bergetar.

Ia belum pernah melihat sesuatu yang begitu teratur dan kuat.

Roxana memperhatikan wajahnya.

“Apa yang kau pikirkan?”

Ardashir tidak langsung menjawab.

Matanya masih mengikuti barisan prajurit itu.

“Aku ingin berjalan seperti mereka.”

Roxana memiringkan kepala.

“Berjalan?”

“Ya.”

Ardashir menunjuk ke arah pasukan itu.

“Mereka berjalan seperti orang yang tahu ke mana mereka pergi.”


Barisan pasukan terus bergerak melewati desa.

Beberapa prajurit menoleh sebentar kepada penduduk desa.

Namun sebagian besar tetap menatap lurus ke depan.

Disiplin mereka terasa hampir seperti sesuatu yang suci.

Di tengah barisan itu, Ardashir melihat seorang perwira menunggang kuda.

Kudanya tinggi dan kuat.

Pakaian perwiranya lebih indah daripada yang lain.

Ardashir menatap kuda itu dengan kagum.

Ia memperhatikan bagaimana perwira itu memegang kekang.

Tenang.

Pasti.

Ayah Ardashir berdiri di sampingnya.

“Kuda itu kuda kerajaan,” katanya.

Ardashir mengangguk pelan.

Di dalam hatinya muncul perasaan yang aneh.

Bukan hanya kagum.

Tetapi juga keinginan.

Keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang besar.


Setelah barisan panjang pasukan itu lewat, debu masih menggantung di udara.

Suara langkah kaki perlahan menghilang ke arah barat.

Penduduk desa mulai kembali ke pekerjaan mereka.

Namun Ardashir masih berdiri di bukit kecil di tepi desa.

Roxana mendekatinya.

“Kau masih melihat mereka?”

Ardashir mengangguk.

“Suatu hari aku ingin menjadi salah satu dari mereka.”

Roxana menatap wajahnya lama.

Ia tidak menertawakan mimpi itu.

Ia tidak mengatakan bahwa mimpi itu terlalu besar untuk anak desa.

Sebaliknya, ia membuka simpul kecil pada pinggang pakaiannya.

Dari sana ia mengambil sehelai kain biru kecil.

Ia mengikatkan kain itu pada pergelangan tangan Ardashir.

Angin sore mulai turun dari pegunungan.

Kain biru itu bergerak pelan tertiup angin.

“Apa ini?” tanya Ardashir.

Roxana menjawab lembut.

“Supaya kau ingat jalan pulang.”

Ardashir memandang kain itu.

Lalu memandang Roxana.

Langit Persia mulai berubah menjadi warna emas senja.

Di kejauhan jalan kerajaan terlihat sunyi kembali.

Namun bagi Ardashir, dunia tidak lagi terasa sama.

Hari itu ia telah melihat sesuatu yang besar.

Dan di pergelangan tangannya, sebuah kain biru kecil mengingatkannya bahwa sejauh apa pun seseorang berjalan—

selalu ada seseorang yang menunggu ia pulang.



Bab berikutnya bisa sangat menarik, yaitu:

Bab III – “Utusan Raja yang Berhenti di Desa.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar