Musim Panas Terakhir di Desa
Bab IV
Musim panas datang perlahan ke dataran Persia.
Angin dari pegunungan menjadi lebih hangat, membawa bau gandum yang mulai menguning di ladang. Sungai kecil di dekat desa mengalir lebih tenang, memantulkan langit biru yang luas.
Bagi penduduk desa, musim panas adalah musim kerja.
Namun bagi Ardashir, musim panas tahun itu terasa berbeda.
Ia tahu bahwa setelah musim itu berakhir, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Setiap pagi ia bangun sebelum matahari terbit.
Langit masih berwarna biru gelap ketika ia berjalan ke kandang kuda membawa ember air dan sikat kayu.
Kuda-kuda menyambutnya dengan napas hangat.
Ia mulai menyikat bulu mereka dengan gerakan yang semakin terampil.
Di dinding kandang tergantung berbagai alat sederhana yang sudah sangat ia kenal:
-
pelana kulit yang mulai aus
-
tali kekang yang digosok minyak agar tetap kuat
-
alat besi kecil untuk membersihkan kuku kuda
-
busur latihan milik ayahnya
Ayah Ardashir berdiri di pintu kandang suatu pagi.
“Kau harus belajar memanah dengan benar.”
Ia menyerahkan busur itu.
Ardashir menggenggamnya dengan hati-hati.
Busur itu terasa berat, tetapi juga terasa seperti sesuatu yang penting.
Mereka berjalan ke padang rumput.
Ayahnya menancapkan beberapa batang kayu di tanah sebagai sasaran.
“Tarik napas.”
Ardashir menarik tali busur.
“Jangan terburu-buru.”
Anak panah dilepaskan.
Thak.
Panah itu menancap di tanah beberapa langkah dari sasaran.
Ayahnya tertawa pelan.
“Setiap pemanah besar pernah memulai seperti itu.”
Beberapa hari kemudian, ketika Ardashir sedang berlatih lagi, Roxana datang ke kandang.
Ia membawa sekeranjang kecil berisi roti pipih dan kurma.
“Aku membawa makanan,” katanya.
Ardashir menurunkan busurnya.
“Kau selalu membawa makanan.”
“Karena kau selalu lupa makan.”
Mereka duduk di pagar kayu kandang.
Roxana memberi roti pada Ardashir.
Angin musim panas menggerakkan rumput panjang di padang.
Di dekat mereka, seekor kuda abu-abu menggoyangkan ekornya perlahan.
Roxana memandang latihan memanah Ardashir.
“Kau semakin baik.”
Ardashir mengangkat bahu.
“Aku harus belajar sebelum pergi.”
Roxana tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap padang rumput yang luas.
“Padang ini akan terasa sepi tanpa kau.”
Ardashir terdiam.
Ia belum pernah benar-benar memikirkan bagaimana rasanya meninggalkan tempat ini.
Sore hari menjadi waktu favorit mereka.
Matahari turun perlahan di balik bukit kecil di barat desa.
Langit berubah menjadi warna emas lembut.
Pada suatu sore mereka berjalan ke ladang gandum di luar desa.
Gandum yang matang bergerak pelan seperti lautan emas tertiup angin.
Roxana berjalan di antara tanaman gandum itu dengan tangan menyentuh bulir-bulirnya.
“Kadang aku berharap waktu bisa berhenti,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena semuanya terasa sempurna sekarang.”
Ardashir menatap sekelilingnya.
Langit luas.
Padang rumput.
Ladang gandum.
Dan Roxana berdiri di tengah cahaya matahari senja.
Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa dunia kecil mereka benar-benar berharga.
Lebih berharga dari mimpi apa pun.
Ketika matahari hampir tenggelam, mereka kembali ke bukit kecil yang menghadap jalan kerajaan.
Tempat yang sama di mana mereka dulu melihat pasukan Immortals melewati desa.
Angin senja bertiup lembut.
Kain biru yang pernah diberikan Roxana masih terikat di pergelangan tangan Ardashir.
Roxana melihatnya.
“Kau masih menyimpannya.”
“Tentu saja.”
Roxana tersenyum kecil.
“Kalau kau pergi jauh nanti…”
Ia berhenti sejenak.
“Jangan lupa desa ini.”
Ardashir menggeleng.
“Aku tidak mungkin lupa.”
Ia memandang padang luas di bawah mereka.
“Semua yang aku tahu tentang hidup berasal dari tempat ini.”
Roxana menatapnya lama.
Di matanya ada sesuatu yang baru—sesuatu yang tidak sepenuhnya dimengerti oleh dua anak yang sedang tumbuh.
Perasaan yang pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Malam turun perlahan di desa kecil itu.
Lampu minyak mulai menyala di rumah-rumah tanah liat.
Di kejauhan terdengar kuda-kuda bergerak di kandang.
Dan di atas desa itu, langit Persia terbentang luas penuh bintang.
Musim panas itu masih panjang.
Namun tanpa mereka sadari, itu adalah musim panas terakhir masa kecil mereka.
Musim panas sebelum dunia yang lebih besar membuka pintunya bagi Ardashir—
dan sebelum hati mereka berdua belajar bahwa cinta sering kali lahir justru ketika perpisahan mulai mendekat. 🌾

Tidak ada komentar:
Posting Komentar