Bab 5
Utusan dari Selatan




Pagi itu datang dengan cara yang berbeda.
Tidak ada yang benar-benar tahu kenapa.
Namun udara terasa lebih berat, seolah angin membawa sesuatu dari kejauhan.
Ardashir sedang berada di kandang, seperti biasa. Tangannya sibuk merapikan tali kekang kuda hitam itu. Jemarinya bergerak pelan, tetapi pikirannya masih tertinggal di bawah pohon delima—pada janji yang mereka ucapkan kemarin.
Ia tersenyum kecil tanpa sadar.
Sampai suara itu datang.
Gemuruh.
Pelan… lalu semakin jelas.
Bukan suara angin.
Bukan suara kerbau.
Bukan pula langkah orang berjalan.
Itu suara kuda.
Banyak kuda.
Ardashir menoleh ke arah jalan utama desa.
Debu mulai terangkat.
Orang-orang keluar dari rumah mereka. Beberapa pria menutup mata dengan tangan, mencoba melihat siapa yang datang.
Roxana muncul dari arah sumur, membawa kendi air. Langkahnya terhenti ketika ia melihat ke arah yang sama.
“Ardashir…” suaranya pelan.
Ia tidak perlu melanjutkan.
Ardashir sudah mengerti.
Sekelompok penunggang kuda memasuki desa.
Mereka bukan pedagang.
Bukan pula musafir.
Pakaian mereka rapi, teratur, dan membawa lambang yang tidak pernah terlihat di desa itu sebelumnya—sebuah panji dengan simbol kerajaan Persia.
Kuda-kuda mereka tinggi dan terlatih. Langkahnya serempak, seperti satu tubuh.
Di barisan depan, seorang pria berumur sekitar empat puluh tahun turun dari kudanya.
Tatapannya tajam, tetapi tidak kasar.
Ia berbicara dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.
“Kami datang atas perintah kerajaan.”
Desa menjadi sunyi.
Hanya suara angin yang tersisa.
Kepala desa maju perlahan.
“Apa yang bisa kami bantu?”
Pria itu mengamati sekeliling, seolah menilai bukan hanya rumah-rumah, tetapi juga orang-orang di dalamnya.
“Kami mencari pemuda,” katanya.
“Yang kuat. Yang terbiasa dengan kuda. Yang bisa dilatih untuk melayani kerajaan.”
Beberapa orang saling berpandangan.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Di belakang, Ardashir berdiri diam.
Entah kenapa, dadanya terasa lebih berat.
Pria itu melanjutkan:
“Kerajaan membutuhkan mereka. Dan mereka yang terpilih akan mendapatkan kehormatan… serta kehidupan yang tidak akan pernah mereka temukan di desa kecil seperti ini.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Sebagian pemuda tampak tertarik.
Sebagian lagi ragu.
Roxana menoleh ke arah Ardashir.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun matanya bertanya.
Ardashir tidak menjawab.
Ia hanya menatap pria itu.
Lalu… tanpa benar-benar sadar, ia melangkah maju.
Langkahnya pelan.
Namun setiap langkah terasa seperti meninggalkan sesuatu di belakangnya.
Beberapa orang mulai berbisik.
“Anak dari peternak kuda…”
“Dia memang paling mahir…”
“Tidak heran…”
Pria utusan itu memperhatikan Ardashir.
“Namamu?”
“Ardashir.”
“Anak siapa?”
“Bahram. Peternak kuda.”
Ada jeda singkat.
Pria itu mengangguk pelan.
“Bawakan satu kuda.”
Ardashir menoleh sebentar ke arah kandang.
Kuda hitam itu.
Ia tahu kuda itu bukan sekadar hewan bagi ayahnya.
Ia juga tahu… ini bukan permintaan biasa.
Namun ia tetap berjalan.
Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kuda hitam itu.
Kuda itu berdiri tegak, matanya tajam.
Pria utusan itu tersenyum tipis.
“Naik.”
Ardashir melakukannya tanpa ragu.
“Lari.”
Tanpa cambuk. Tanpa teriakan.
Hanya satu sentuhan ringan.
Kuda itu bergerak.
Cepat.
Lebih cepat.
Mengitari desa seperti bayangan hitam yang menyatu dengan angin.
Orang-orang terdiam.
Debu beterbangan.
Dan dalam beberapa detik… Ardashir kembali ke tempat semula.
Sunyi.
Pria itu menatapnya lebih lama sekarang.
“Turun.”
Ardashir turun.
“Besok pagi,” kata pria itu.
“Kau ikut bersama kami.”
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa seperti pintu yang terbuka… sekaligus tertutup.
Ardashir tidak langsung menjawab.
Ia menoleh.
Roxana masih berdiri di tempatnya.
Kendi air di tangannya sedikit miring, hampir tumpah.
Mata mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kecil…
tidak ada kata yang cukup.
Pria itu mengira Ardashir sedang berpikir tentang dirinya.
Padahal sebenarnya, ia sedang berpikir tentang seseorang yang akan ia tinggalkan.
Akhirnya Ardashir berkata pelan:
“Aku akan berbicara dengan ayahku.”
Pria itu mengangguk.
“Lakukan itu. Tapi jangan terlalu lama. Takdir tidak suka menunggu.”
Matahari mulai naik lebih tinggi.
Namun pagi itu terasa seperti senja yang datang terlalu cepat.
Malamnya, desa tidak benar-benar tidur.
Dan di bawah pohon delima…
dua anak yang kemarin membuat janji
harus mulai belajar arti dari kata perpisahan.
di Bab 6 kita akan masuk ke salah satu bagian paling emosional:
👉 Percakapan Ardashir dengan ayahnya (Bahram)
👉 Percakapan diam Ardashir dan Roxana di malam terakhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar