Desa Kecil di Dataran Persia
Bab I
Anak-anak di Bawah Langit Persia
(ilustrasi ini diambil dari www.istockphoto.com dan lainnya dengan hak cipta mereka masing-masing)
Pada masa ketika dunia masih terasa luas dan sunyi, ketika kerajaan besar baru mulai tumbuh di bawah kepemimpinan Cyrus the Great, ada sebuah desa kecil di kaki pegunungan yang menghadap padang luas Persia.
Di sana bumi terasa seperti hamparan karunia Tuhan. Pada pagi hari, cahaya matahari turun perlahan dari balik pegunungan seperti tirai emas yang dibuka oleh tangan yang lembut. Rumput-rumput tinggi memantulkan cahaya itu seperti ribuan jarum kecil yang berkilau. Embun yang menempel pada daun liar tampak seperti butiran kaca bening.
Angin yang turun dari pegunungan Zagros bergerak pelan, membuat padang rumput berombak seperti laut hijau. Pada masa ketika dunia masih terasa sangat luas dan manusia belum terlalu sibuk mengejarnya, ada sebuah desa kecil di kaki pegunungan Persia. Desa itu berdiri di antara padang rumput yang panjang, tempat angin dari pegunungan membawa wangi tanah, bunga liar, dan jerami kuda.
Setiap pagi, ketika matahari baru muncul dari balik punggung pegunungan, cahaya emas turun perlahan menyentuh rumah-rumah dari tanah liat.
Rumah-rumah itu sederhana.
Dindingnya dibuat dari campuran tanah, jerami, dan air yang dikeringkan di bawah matahari. Atapnya dari batang kayu dan jerami kering. Di halaman rumah biasanya berdiri beberapa tempayan tanah liat besar tempat keluarga menyimpan air, gandum, dan buah kering.
Pagi hari di desa itu dimulai dengan suara-suara kecil kehidupan.
Suara ayam.
Suara kuda menghembuskan napas.
Dan suara batu gilingan yang berputar.
Grrr… grrr…
Di halaman rumahnya, Roxana sering duduk bersama ibunya di dekat batu penggiling gandum. Dua batu bundar besar disusun bertumpuk. Pada batu atas ada lubang kecil tempat biji gandum dituangkan.
Ibunya memutar tongkat kayu di tengah batu.
Batu itu berputar perlahan, menggiling gandum menjadi tepung.
Roxana kecil menuangkan biji gandum sedikit demi sedikit.
Tepung halus jatuh seperti debu putih di wadah tanah liat di bawahnya.
“Apa ini akan menjadi roti?” tanya Roxana.
Ibunya tersenyum.
“Ya. Roti selalu dimulai dari kesabaran.”
Roxana sering memperhatikan tepung itu dengan serius, seolah melihat sesuatu yang ajaib: biji kecil berubah menjadi makanan bagi keluarga.
Di pagi hari yang lain, seorang anak laki-laki sering muncul di halaman rumah itu membawa kendi air dari tanah liat.
Namanya Ardashir.
Ia berjalan hati-hati agar air di dalam kendi tidak tumpah.
Kendi itu cukup besar untuk anak seusianya.
Roxana sering berdiri di depan pintu menatapnya sambil tersenyum.
“Kau berjalan seperti prajurit membawa pedang.”
Ardashir menjawab dengan wajah serius.
“Air lebih penting dari pedang.”
Roxana tertawa kecil.
Sejak kecil mereka sudah terbiasa saling membantu tanpa banyak bicara.
Kuda-kuda di Padang Rumput
Ayah Ardashir adalah peternak kuda.
Kandang mereka terletak sedikit di luar desa, di dekat padang rumput luas tempat kuda-kuda merumput bebas.
Kandang itu dibuat dari tiang kayu yang ditancapkan ke tanah, diikat dengan tali serat tanaman, dan ditutup atap jerami.
Di pagi hari, suara pertama yang didengar Ardashir biasanya adalah napas kuda.
Hangat.
Tenang.
Ayahnya mengajarkan banyak hal tentang kuda.
Suatu hari ia memberi Ardashir sikat kayu dengan serat kasar.
“Coba bersihkan bulu kuda ini.”
Ardashir menyikat bulu seekor kuda cokelat muda dengan hati-hati.
Kuda itu berdiri tenang.
Roxana kadang datang membawa segenggam gandum.
Ia memberi makan kuda itu dari tangannya.
Kuda itu mengunyah perlahan.
Roxana tertawa ketika bibir kuda yang hangat menyentuh telapak tangannya.
Di dinding kandang tergantung berbagai alat sederhana:
- tali kekang dari kulit tebal
- pelana kulit sederhana
- alat besi kecil untuk membersihkan kuku kuda
Ardashir sangat bangga ketika ayahnya pertama kali mengizinkannya memegang kekang kuda sendiri.
“Kuda merasakan hatimu,” kata ayahnya.
“Jika kau tenang, kuda juga tenang.”
Roxana memperhatikan Ardashir dengan serius.
“Kau berbicara dengan kuda?”
Ardashir mengangguk.
“Kuda mendengarkan lebih baik dari manusia.”
Roxana duduk di pagar kayu kandang.
“Kalau begitu suatu hari kau akan menjadi penunggang kuda yang hebat.”
Ardashir mengangkat bahu.
“Aku hanya ingin kuda-kuda ini sehat.”
Namun dalam matanya selalu ada sesuatu yang lebih jauh dari padang rumput.
Dunia Kecil yang Indah
Hari-hari masa kecil mereka dipenuhi hal-hal sederhana.
Mereka duduk di tepi sungai kecil yang airnya jernih.
Kadang mereka membuat perahu kecil dari potongan kayu lalu membiarkannya hanyut.
Kadang mereka berjalan melewati ladang gandum yang bergoyang pelan oleh angin.
Roxana memiliki kebiasaan yang aneh.
Ia sering berhenti di tengah padang rumput.
Menutup mata.
Lalu menghirup udara panjang.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Ardashir.
Roxana membuka mata dan tersenyum.
“Aku ingin mengingat bau dunia ini.”
“Bau dunia?”
“Tanah. Rumput. Angin. Matahari.”
Ia menunjuk langit yang luas.
“Kalau suatu hari kita pergi jauh, kita masih bisa mengingat bahwa Tuhan pernah memberi kita tempat seindah ini.”
Ardashir memandang padang rumput di sekeliling mereka.
Rumput bergoyang seperti laut hijau.
Burung-burung kecil terbang rendah di udara.
Langit Persia terasa begitu luas hingga seorang anak kecil merasa dirinya sangat kecil di dalamnya.
Saat itu Ardashir belum mengerti.
Namun jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang hangat.
Perasaan bahwa hidup ini adalah karunia.
Dan bahwa dunia yang indah ini terasa lebih indah karena Roxana selalu ada di dalamnya.
Suatu sore ketika matahari hampir tenggelam, mereka berdiri di atas sebuah bukit kecil.
Langit berubah menjadi warna emas dan merah.
Di kejauhan jalan kerajaan terlihat seperti garis panjang di padang.
Debu mulai naik dari jalan itu.
Ardashir menyipitkan mata.
“Ada karavan,” katanya.
Roxana memandang ke arah yang sama.
Namun mereka belum tahu bahwa hari itu bukan hanya karavan biasa yang akan lewat.
Hari itu akan menjadi hari pertama takdir mengetuk kehidupan mereka.
Dan masa kecil yang penuh kedamaian itu perlahan akan mulai berubah.
Lanjut ke Bab 2 yang sangat dramatis, yaitu:
“Hari Ketika Immortals Melewati Desa.”
- Ardashir kecil pertama kali melihat pasukan elit Persia
- Roxana memberikan kain biru yang menjadi simbol pulang
- dan dari rombongan kerajaan… Artazara kecil melihat Ardashir untuk pertama kalinya.
Bab dua ini momen takdir pertama dari kisah cinta yang panjang ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar