Kedatangan Utusan Kerajaan
Bab III
Utusan Raja
Beberapa minggu setelah pasukan Immortals melewati desa, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.
Padang rumput kembali sunyi.
Kuda-kuda merumput dengan tenang.
Para perempuan desa menggiling gandum dan menjemur roti pipih di atas batu panas.
Namun di dalam hati Ardashir, sesuatu telah berubah.
Sejak hari itu ia sering berdiri lebih lama di bukit kecil yang menghadap jalan kerajaan.
Seolah-olah dunia yang lebih besar sedang memanggilnya dari kejauhan.
Suatu pagi, ketika matahari belum terlalu tinggi, suara derap kuda kembali terdengar dari arah jalan kerajaan.
Tetapi kali ini hanya satu kuda.
Seekor kuda cokelat gelap berlari cepat menuju desa.
Penunggangnya mengenakan jubah perjalanan berdebu dan membawa tongkat kayu panjang dengan lambang kerajaan di ujungnya.
Seorang lelaki tua desa menyipitkan mata.
“Utusan raja.”
Orang-orang segera berkumpul di dekat sumur desa.
Utusan itu menghentikan kudanya di tengah lapangan kecil.
Debu turun perlahan dari jubahnya.
Ia membuka gulungan kulit yang tergantung di pelana.
Dengan suara keras ia berkata:
“Dengan perintah Raja Besar, penguasa tanah Persia dan pelindung bangsa-bangsa, desa-desa di wilayah ini diminta mengirimkan anak-anak laki-laki yang kuat dan berbakat untuk dilatih menjadi prajurit kerajaan.”
Penduduk desa saling berpandangan.
Bagi sebagian keluarga, ini adalah kehormatan besar.
Bagi yang lain, ini adalah sesuatu yang menakutkan.
Utusan itu melanjutkan:
“Anak-anak yang dipilih akan belajar menunggang kuda, memanah, dan bertempur. Mereka akan melayani kerajaan dan menjaga tanah Persia.”
Ardashir berdiri di belakang kerumunan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia memandang kuda utusan itu dengan penuh perhatian.
Kuda itu tinggi, berotot, dan berdiri dengan tenang meskipun banyak orang di sekelilingnya.
Ayah Ardashir berdiri di sampingnya.
“Ayah,” bisik Ardashir.
Ayahnya menoleh.
“Aku ingin mencoba.”
Ayahnya tidak langsung menjawab.
Ia memandang jalan kerajaan yang panjang di kejauhan.
Kemudian ia menatap anaknya.
“Kau masih muda.”
Ardashir menunduk sebentar.
“Tapi aku bisa menunggang kuda.”
Ayahnya tersenyum tipis.
“Itu benar.”
Utusan kerajaan mulai memperhatikan anak-anak desa.
Ia melihat tangan mereka.
Bahu mereka.
Cara mereka berdiri.
Ketika matanya sampai pada Ardashir, ia berhenti sejenak.
“Kau.”
Ardashir melangkah maju.
“Berapa umurmu?”
“Dua belas musim panas.”
Utusan itu mengangguk.
“Apakah kau bisa menunggang kuda?”
Ardashir menunjuk ke arah padang rumput.
“Kuda-kuda itu milik ayahku.”
Utusan itu tersenyum sedikit.
“Bagus.”
Ia mengambil tongkat kayu kecil dari pelana dan melemparkannya ke tanah beberapa langkah dari Ardashir.
“Ambil.”
Ardashir berjalan mengambil tongkat itu.
“Kini kembalikan.”
Ardashir melemparnya kembali dengan gerakan cepat.
Utusan itu menangkapnya dengan mudah.
Ia mengangguk lagi.
“Kau memiliki lengan yang kuat.”
Di tepi kerumunan, Roxana berdiri diam.
Tangannya menggenggam ujung pakaiannya.
Ia tidak mengatakan apa pun.
Namun matanya mengikuti setiap gerakan Ardashir.
Utusan kerajaan akhirnya berkata kepada ayah Ardashir:
“Anak ini memiliki tubuh yang baik untuk pelatihan prajurit.”
Ayah Ardashir menarik napas panjang.
“Jika itu kehendak raja, kami tidak akan menolak.”
Utusan itu mengangguk.
“Pelatihan pertama akan dimulai di kota garnisun musim gugur nanti.”
Ia memandang Ardashir.
“Berlatihlah. Dunia kerajaan jauh lebih keras daripada padang rumput ini.”
Ketika kerumunan mulai bubar, Ardashir berjalan menuju bukit kecil di tepi desa.
Roxana mengikutinya.
Angin siang bergerak lembut di padang.
Mereka berdiri lama tanpa bicara.
Akhirnya Roxana berkata pelan:
“Jadi kau benar-benar akan pergi suatu hari.”
Ardashir menatap jalan kerajaan.
“Belum sekarang.”
Ia memandang Roxana.
“Tapi suatu hari.”
Roxana menunduk sebentar.
Kemudian ia tersenyum kecil, walau matanya sedikit basah.
“Kalau begitu kau harus menjadi prajurit yang sangat hebat.”
Ardashir tertawa ringan.
“Kenapa?”
“Supaya perjalananmu tidak sia-sia.”
Angin menggoyangkan rumput panjang di sekitar mereka.
Langit Persia terasa sangat luas di atas kepala mereka.
Di dalam keheningan itu, masa kecil mereka perlahan mulai bergerak menuju sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang akan membawa Ardashir jauh dari desa kecil itu.
Namun di dalam hatinya, selalu ada satu tempat yang tidak akan pernah berubah.
Tempat di mana seorang gadis berdiri di padang rumput—
dan diam-diam berdoa agar ia selalu kembali dengan selamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar