Senin, 29 September 2025

Satu Cinta Seribu Tombak Buku III

 


Di bawah delima, rumah belajar setia,
Di bawah bintang, hati belajar jeda.
Ardashir menjaga cinta yang telah pulang,
Roxana menyalakan lampu di tiap petang.

Namun langit tidak hanya memeluk satu cahaya,
Artazara masih menyimpan mimpi masa muda.
Bukan untuk merebut, bukan untuk melukai,
melainkan belajar merelakan sambil tetap menghargai.

Ketika ilmu dibuka, Persia pun diuji,
air, arsip, dan kuasa menuntut nurani.
Sebab pengetahuan tanpa akhlak mudah menjadi bara,
dan cinta tanpa hormat dapat kehilangan arah.

Maka tiga hati berjalan di jalan yang panjang:
satu menjaga rumah, satu menjaga bintang,
dan satu menjaga jembatan antara keduanya,
agar masa depan menemukan wajah mulianya.

Jika delima adalah kasih, dan bintang adalah cita,
maka jalan pulang adalah kehormatan yang setia.



Satu Cinta Seribu Tombak III (1)


Delima, Bintang, dan Jalan Pulang

Bab 1

Setelah Cahaya Dibuka

Beberapa kemenangan tidak membuat hidup menjadi lebih ringan.

Sebagian kemenangan justru membuka pintu menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Setelah Kota Matahari ditemukan dan warisan Arshan dibuka sebagai amanah, banyak orang di Persia mengira masa gelap telah selesai.

Mereka keliru.

Kegelapan memang mundur.

Tetapi bayangannya masih tertinggal di banyak tempat.

Di ruang arsip.

Di gudang pangan.

Di saluran air.

Di meja para pejabat.

Dan kadang…

di dalam hati manusia yang belum sepenuhnya selesai dengan masa lalunya.


Musim gugur datang perlahan ke Persepolis.

Angin dari pegunungan membawa dingin yang lembut. Daun-daun di taman istana mulai berubah warna. Air mengalir melalui kanal-kanal batu yang membelah taman, memantulkan cahaya matahari sore seperti pita-pita emas.

Di bawah pohon delima tua di salah satu halaman istana, Ardashir duduk bersama Roxana.

Bukan sebagai pahlawan.

Bukan sebagai pembawa Kunci Matahari.

Bukan sebagai lelaki yang namanya mulai disebut-sebut dalam rapat kerajaan.

Melainkan sebagai suami yang sedang berusaha memahami wajah istrinya.

Roxana sedang membaca gulungan kecil.

Gulungan itu berisi rancangan pembentukan Majelis Air dan Ilmu di beberapa wilayah pertama.

Bahasanya kaku.

Penuh istilah.

Penuh pasal.

Penuh catatan.

Roxana membaca cukup lama.

Lalu menghela napas.

“Ini ditulis oleh Farrokh?”

Ardashir tersenyum.

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena setiap kalimatnya seperti memegang tongkat dan menyuruh pembaca duduk tegak.”

Ardashir tertawa pelan.

“Farrokh akan tersinggung kalau mendengarnya.”

“Tidak. Ia akan mencatatnya, lalu menggunakannya sebagai alasan memperbaiki kalimat orang lain.”

Ardashir tertawa lebih jelas.

Tawa itu membuat bahu Roxana sedikit turun.

Sejak tiba di Persepolis, ia jarang benar-benar santai.

Semua orang memandang mereka dengan cara yang berbeda.

Sebagian kagum.

Sebagian penasaran.

Sebagian berharap.

Sebagian curiga.

Roxana yang dulu hanya dikenal sebagai perempuan desa kini diminta berbicara tentang catatan air, pembagian irigasi, dan hak warga memahami aliran yang menghidupi ladang mereka.

Itu kehormatan.

Tetapi kehormatan kadang datang bersama kelelahan yang tidak terlihat.


Ardashir mengambil gulungan dari tangan Roxana.

“Kalau terlalu berat, kita bisa pulang lebih cepat.”

Roxana menatapnya.

“Ke rumah?”

“Ke pohon delima kita. Ke kambing yang mengira dirinya bangsawan. Ke saluran kecil yang tidak pernah meminta rapat.”

Roxana tersenyum.

“Kau merindukan kambing itu?”

“Aku merindukan hidup yang musuh terbesarnya hanya kambing pencuri roti.”

Roxana tertawa kecil.

Namun tawanya cepat mereda.

“Kita tidak bisa pulang sekarang.”

“Aku tahu.”

“Majelis ini baru mulai.”

“Aku tahu.”

“Dan orang-orang yang dulu menguasai catatan air tidak akan menyerah hanya karena kita menulis aturan baru.”

Ardashir mengangguk.

Itulah yang membuatnya mencintai Roxana lebih dalam.

Ia tidak mabuk oleh kemenangan.

Tidak silau oleh pujian.

Ia selalu melihat pekerjaan yang masih tersisa.


Di halaman seberang, seorang pelayan lewat membawa kendi air. Di belakangnya, dua anak penulis muda berjalan sambil membawa papan tanah liat. Mereka sedang belajar mencatat debit saluran taman menggunakan tanda-tanda sederhana.

Sebelum Kota Matahari dibuka, catatan seperti itu hanya dikerjakan oleh pegawai tertentu.

Kini anak-anak mulai diajari mengukurnya.

Bukan untuk menjadikan semua orang ahli.

Tetapi agar tidak ada orang yang terlalu mudah dibohongi.

Roxana memandang mereka lama.

“Dulu aku mengira ilmu itu seperti menara.”

“Menara?”

“Jauh. Tinggi. Hanya bisa dinaiki orang tertentu.”

“Lalu sekarang?”

Roxana menunjuk anak-anak itu.

“Sekarang aku mulai percaya ilmu seharusnya seperti saluran air. Ia boleh datang dari tempat tinggi, tetapi harus mengalir sampai ke rumah-rumah kecil.”

Ardashir terdiam.

Lalu berkata pelan, “Itu harus masuk dalam pidatomu besok.”

“Aku tidak mau berpidato.”

“Sayang sekali. Persia membutuhkanmu.”

Roxana menoleh tajam.

“Jangan memulai.”

“Apa?”

“Jangan memakai kata Persia untuk membuatku melakukan sesuatu.”

Ardashir mengangkat kedua tangan.

“Aku menyerah.”

“Kau terlalu cepat menyerah.”

“Karena aku menikahi perempuan yang bisa mengalahkan utusan Persaudaraan Matahari tanpa mengangkat pedang.”

Roxana menahan senyum.

“Pujian tidak membebaskanmu dari tugas membersihkan catatan Farrokh.”

Ardashir memandang gulungan di tangannya.

“Kalau begitu aku memilih perang.”


Dari kejauhan, Artazara melihat mereka.

Ia berdiri di tangga batu yang menghadap taman, membawa beberapa gulungan rapat yang baru selesai dibaca.

Angin sore menggerakkan ujung kerudungnya.

Ia tidak bermaksud mengintip.

Ia hanya berhenti.

Sebentar.

Namun kadang “sebentar” cukup untuk membuka pintu lama di dalam hati.

Ia melihat cara Roxana menundukkan kepala ketika tersenyum.

Ia melihat cara Ardashir memandang istrinya tanpa perlu mengatakan apa pun.

Ia melihat tangan mereka yang saling berdekatan di atas batu taman.

Tidak ada yang berlebihan.

Tidak ada kemesraan yang dipamerkan.

Justru karena itulah terasa nyata.

Artazara menarik napas perlahan.

Ada bagian dari dirinya yang ikut bahagia melihat mereka.

Sungguh bahagia.

Roxana adalah perempuan yang baik.

Ardashir adalah lelaki yang menjaga kehormatannya.

Tidak ada alasan untuk luka.

Tetapi hati manusia tidak selalu tunduk kepada alasan.

Di dalam dirinya, ada suara kecil yang berbisik:

Seandainya dulu…

Artazara segera memejamkan mata.

Tidak.

Ia tidak boleh berjalan terlalu jauh ke dalam kalimat itu.

Kalimat “seandainya” adalah lorong yang tidak memiliki ujung.

Ia sudah memilih jalan terhormat.

Ardashir sudah memilih rumahnya.

Roxana tidak pernah menyakitinya.

Maka tidak adil jika ia menjadikan kebaikan mereka sebagai sumber kesedihannya.

Namun menahan diri tidak selalu berarti sembuh.

Kadang itu hanya berarti seseorang cukup kuat untuk tidak merusak apa yang ia cintai.


“Putri Artazara?”

Suara itu membuatnya menoleh.

Seorang lelaki muda berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Usianya mungkin sedikit di atas tiga puluh tahun. Pakaiannya sederhana untuk ukuran istana, tetapi rapi. Di tangannya terdapat alat kecil berbentuk busur setengah lingkaran dari perunggu, dengan benang halus dan pemberat kecil.

Artazara mengenalnya samar.

Salah satu orang dari Kota Matahari.

Seorang ahli pengamatan langit dan musim yang dibawa Dastan untuk membantu menyusun kalender air.

“Navid,” kata Artazara.

Lelaki itu membungkuk.

“Aku tidak menyangka Putri mengingat namaku.”

“Aku membaca daftar penugasan.”

Navid tersenyum.

“Ah. Jadi bukan karena aku mengesankan.”

“Daftar penugasan lebih jujur daripada kesan pertama.”

Navid tertawa pelan.

“Kalimat yang sebaiknya tidak kusampaikan kepada ibuku. Ia masih percaya kesan pertama menentukan jodoh.”

Artazara menatapnya.

Humor itu tidak kasar.

Tidak dibuat-buat.

Tenang saja.

Seperti seseorang yang tidak sedang berusaha memenangkan perhatian siapa pun.

“Ada keperluan?” tanya Artazara.

Navid mengangkat alat kecil di tangannya.

“Aku diminta Dastan memeriksa bayangan sore di taman barat. Katanya saluran air istana tidak lagi sejajar dengan catatan musim yang lama.”

“Dastan mengatakan itu?”

“Dengan kata-kata yang lebih panjang dan lebih menghina para pembangun taman.”

Artazara hampir tersenyum.

“Berarti benar dari Dastan.”

Navid melihat ke arah taman.

Ia juga melihat Ardashir dan Roxana di bawah pohon delima.

Namun ia tidak menatap lama.

Ia segera menunduk sedikit, seolah memahami bahwa ada pemandangan yang tidak boleh dijadikan bahan rasa ingin tahu.

Artazara menyadari itu.

Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, ia merasa sedikit lega.

Navid berkata, “Putri sedang menuju ruang rapat?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku tidak mengganggu.”

Ia melangkah pergi.

Namun setelah beberapa langkah, ia berhenti.

“Putri.”

Artazara menoleh.

Navid tampak ragu sejenak.

Lalu berkata, “Tidak semua bintang yang terlihat dekat di langit benar-benar berdekatan.”

Artazara diam.

Navid melanjutkan, “Sebagian hanya tampak sejajar dari tempat kita berdiri.”

Kalimat itu jatuh terlalu tepat ke tempat yang tidak ingin disentuh Artazara.

Ia menatap Navid lebih tajam.

“Maksudmu?”

Navid mengangkat alat perunggunya.

“Itu catatan astronomi. Maaf jika terdengar seperti nasihat.”

Artazara tidak menjawab.

Navid membungkuk lagi.

Lalu pergi menuruni tangga.

Artazara memandang punggungnya sampai ia hilang di balik kolom istana.

Ia tidak tahu apakah lelaki itu sekadar bicara tentang bintang.

Atau tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang lebih dalam.


Sore itu, rapat Majelis Air dan Ilmu berlangsung di ruang arsip barat.

Ruangan itu besar, namun tidak semegah balairung utama.

Di dindingnya tergantung peta-peta wilayah.

Di meja panjang terdapat tablet tanah liat, gulungan papirus, segel wilayah, dan papan hitung.

Dastan duduk dengan wajah tidak sabar.

Farrokh duduk dengan wajah yang selalu membuat orang merasa telah melakukan kesalahan sebelum berbicara.

Mithren hadir sebagai saksi dan penasihat, meskipun statusnya masih dalam pengawasan kerajaan.

Shirin membawa catatan penyalinan arsip Kota Matahari.

Artazara memimpin rapat.

Ardashir duduk di sisi kanan.

Roxana di sisi kiri, sedikit lebih belakang, meski beberapa orang kini mulai meminta pendapatnya secara langsung.

Di depan mereka berdiri beberapa pejabat wilayah.

Salah satunya bernama Vahumana.

Ia memakai jubah mahal dan cincin besar di jari telunjuknya.

Sejak awal rapat, ia tampak tidak senang.

“Prinsip keterbukaan catatan ini baik,” katanya akhirnya, “tetapi penerapannya tidak sederhana.”

Farrokh menatapnya.

“Hal yang benar jarang menjadi sederhana bagi orang yang terbiasa diuntungkan oleh kerumitan.”

Ruangan langsung hening.

Vahumana tersenyum kaku.

“Aku tidak menolak, Tuan Farrokh. Aku hanya berhati-hati.”

“Berhati-hati terhadap apa?”

“Terhadap salah tafsir rakyat.”

Roxana menatapnya.

Kalimat itu terdengar akrab.

Terlalu akrab.

Orontes pernah mengatakan hal serupa.

Rakyat belum siap.

Rakyat bisa salah paham.

Rakyat harus dilindungi dari kebenaran.

Artazara tampak menyadari hal yang sama.

Ia berkata tenang, “Maka tugas pejabat adalah menjelaskan, bukan menyembunyikan.”

Vahumana membungkuk sedikit.

“Tentu. Tetapi pengelolaan air membutuhkan keahlian. Tidak semua petani memahami debit, kemiringan saluran, atau pembagian musim.”

Dastan mendengus.

“Tidak semua pejabat juga memahami itu.”

Beberapa orang menahan senyum.

Vahumana menegang.

Dastan melanjutkan, “Petani mungkin tidak memakai istilahmu. Tetapi mereka tahu kapan air berkurang. Mereka tahu kapan ladang haus. Mereka tahu kapan saluran sengaja ditahan. Jangan meremehkan orang yang hidupnya bergantung pada hal yang kau catat dari meja.”

Roxana menunduk sedikit.

Kalimat itu perlu diingat.


Vahumana mengubah arah.

“Baik. Katakanlah catatan dibuka. Siapa yang menjamin catatan desa tidak dipalsukan?”

Shirin menjawab, “Sistem tiga salinan.”

“Salinan kerajaan, wilayah, dan desa?”

“Ya.”

“Bagaimana jika ketiganya berbeda?”

Farrokh menjawab, “Maka kita akhirnya menemukan kebohongan. Bukankah itu tujuan audit?”

Vardan yang duduk di ujung ruangan berbisik kepada penjaga di sebelahnya, “Aku tidak tahu apa itu audit, tapi terdengar seperti cara Farrokh membuat orang sulit tidur.”

Farrokh menoleh tanpa mengangkat kepala.

“Aku mendengarnya.”

Vardan langsung duduk tegak.

“Aku sedang memuji.”

“Jangan.”

Rapat yang tegang itu sedikit mencair.

Namun hanya sebentar.

Karena Vahumana belum selesai.

Ia mengeluarkan gulungan kecil.

“Ada juga persoalan keamanan. Kota Matahari menyimpan teknologi yang sangat berharga. Jika semua pengetahuan dibuka terlalu luas, musuh luar bisa memanfaatkannya.”

Argumen itu tidak bodoh.

Dan karena tidak bodoh, ia berbahaya.

Artazara tidak langsung menjawab.

Dastan juga diam.

Bahkan Farrokh tidak menyela.

Mereka semua tahu: ilmu memang bisa disalahgunakan.

Kota Matahari memang bukan mainan.

Teknologi reservoir, kalender air, sinyal cahaya, dan distribusi pangan dapat menyelamatkan kerajaan.

Tetapi di tangan orang serakah, semuanya juga bisa menjadi alat kendali.

Roxana akhirnya berbicara.

Suaranya tidak keras.

Namun cukup membuat semua orang menoleh.

“Apakah Tuan Vahumana pernah melihat papan giliran air di desa?”

Vahumana tampak sedikit terkejut.

“Pernah.”

“Apakah semua warga perlu mengetahui cara menggali qanat?”

“Tentu tidak.”

“Apakah mereka perlu mengetahui kapan air datang ke ladang mereka?”

“Itu wajar.”

“Apakah mereka perlu tahu siapa yang mengubah giliran air?”

Vahumana terdiam.

Roxana melanjutkan, “Maka bedakan antara ilmu yang berbahaya jika dibuka tanpa pendidikan, dan informasi yang sengaja disembunyikan agar orang kecil tidak dapat bertanya.”

Ruang rapat sunyi.

Ardashir menatap Roxana dengan bangga.

Artazara juga.

Namun di dada Artazara, rasa bangga itu bercampur dengan sesuatu yang lebih halus.

Ia mencintai kejernihan Roxana.

Dan mungkin justru karena itulah ia merasa semakin tidak berhak menyimpan rasa yang bisa mengganggu rumah perempuan itu.


Rapat berakhir menjelang malam.

Tidak semua sepakat.

Tetapi keputusan awal diambil:

Majelis Air dan Ilmu akan diuji di tujuh wilayah.

Setiap wilayah harus membuka catatan pembagian air secara bertahap.

Setiap desa akan memiliki satu pencatat lokal.

Setiap perubahan saluran harus disertai tanda, tanggal, dan saksi.

Dan Kota Matahari tidak akan diserahkan kepada satu lembaga tertutup.

Ia akan dijaga oleh dewan campuran.

Kerajaan.

Insinyur.

Pencatat.

Dan wakil masyarakat.

Vahumana menerima keputusan itu dengan wajah datar.

Terlalu datar.

Farrokh memperhatikannya.

Lalu menulis sesuatu di sudut catatan.

Vardan mengintip.

“Apa yang kau tulis?”

“Nama orang yang terlalu cepat tersenyum setelah kalah.”

Vardan mengangguk pelan.

“Itu daftar yang berguna.”


Malam turun di Persepolis.

Di menara-menara istana, lampu dinyalakan.

Air taman tetap mengalir.

Namun udara terasa berubah.

Seperti sebelum hujan.

Artazara berjalan sendiri menuju balkon timur.

Di sana, langit terbuka luas.

Bintang-bintang mulai muncul.

Ia memegang gulungan keputusan rapat.

Tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.

Ia memikirkan Roxana.

Ia memikirkan Ardashir.

Ia memikirkan kalimat Navid.

Tidak semua bintang yang terlihat dekat di langit benar-benar berdekatan.

Sebagian hanya tampak sejajar dari tempat kita berdiri.

Artazara menatap langit lama sekali.

Lalu berbisik kepada dirinya sendiri.

“Kalau begitu, di mana rumah bagi bintang yang selama ini hanya tampak dekat?”

Tidak ada jawaban.

Hanya angin.

Hanya malam.

Hanya cahaya jauh yang belum memberi arah.


Di taman bawah, Ardashir dan Roxana berjalan pulang ke paviliun kecil tempat mereka menginap.

Roxana tampak lelah.

Ardashir memperlambat langkahnya.

“Kau hebat hari ini.”

Roxana tersenyum samar.

“Kau mengatakan itu karena kau suamiku.”

“Aku mengatakan itu karena aku masih punya telinga.”

“Dan hati?”

“Lebih dari cukup untuk membenarkan telinga.”

Roxana tertawa pelan.

Namun beberapa langkah kemudian, ia berhenti.

“Aku melihat Artazara tadi sore.”

Ardashir ikut berhenti.

“Di mana?”

“Di tangga taman.”

Ardashir diam.

Roxana menatapnya.

Tidak ada tuduhan di matanya.

Hanya kejujuran.

“Dia masih menyimpan sesuatu, bukan?”

Ardashir menunduk pelan.

“Entahlah.”

“Jangan menjawab seperti laki-laki yang pura-pura tidak tahu.”

Ardashir menghela napas.

“Aku tidak ingin menyakitimu.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak ingin menyakitinya.”

“Aku tahu.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

Roxana memandang air yang mengalir di kanal kecil di samping mereka.

“Jangan memberinya harapan yang tidak akan kau penuhi.”

Ardashir terdiam.

Roxana melanjutkan, “Dan jangan membuatnya merasa berdosa karena pernah mencintaimu.”

Kalimat itu lebih lembut daripada teguran.

Tetapi lebih tajam daripada pedang.

Ardashir menatap istrinya.

“Bagaimana kau bisa sekuat itu?”

Roxana tersenyum sedih.

“Aku tidak selalu kuat. Aku hanya tidak ingin cinta kita berdiri di atas luka orang lain.”

Ardashir menggenggam tangannya.

“Cintaku pulang kepadamu.”

“Aku tahu.”

“Selalu.”

Roxana menatapnya.

“Kata selalu harus dijaga setiap hari.”

Ardashir mengangguk.

“Kalau begitu izinkan aku menjaganya.”

Roxana menggenggam balik tangannya.

Mereka berjalan lagi.

Pelan.

Di bawah langit Persia yang luas.


Sementara itu, jauh di ruang arsip barat, seseorang membuka kembali gulungan rapat yang baru disimpan.

Tangan itu bukan tangan Artazara.

Bukan tangan Farrokh.

Bukan tangan Shirin.

Sebuah pisau kecil membuka segel sementara.

Sebuah catatan disalin.

Cepat.

Rapi.

Terlatih.

Di bagian akhir catatan tertulis satu kalimat:

Pembukaan catatan air dimulai dari tujuh wilayah.
Jika dibiarkan, jaringan lama akan mati.
Tindakan harus dimulai sebelum bulan baru.

Orang itu meniup tinta hingga kering.

Lalu menggulung catatan kecil itu dan menyembunyikannya di dalam tabung bambu tipis.

Beberapa saat kemudian, tabung itu dibawa keluar melalui lorong pelayan.

Malam Persepolis tetap tenang.

Terlalu tenang.

Karena bahaya yang paling halus memang tidak selalu datang dengan terompet.

Kadang ia datang dalam bentuk salinan kecil yang keluar dari ruang arsip tanpa izin.


Di balkon timur, Artazara masih menatap bintang.

Ia belum tahu bahwa rapat hari itu telah bocor.

Ia belum tahu bahwa jaringan lama belum mati.

Ia belum tahu bahwa jalan baru yang akan ia tempuh bukan hanya akan menguji kecerdasannya.

Tetapi juga hatinya.

Di taman bawah, Ardashir dan Roxana berjalan bergandengan menuju rumah sementara mereka.

Di ruang lain, Navid mencatat bayangan bintang dan aliran air, tanpa tahu bahwa namanya kelak akan memasuki kisah Artazara dengan cara yang sangat perlahan.

Dan di balik dinding istana, seseorang mengirim pesan kepada sisa-sisa Persaudaraan Matahari.

Maka Buku Ketiga dimulai bukan dengan perang.

Bukan dengan teriakan.

Bukan dengan darah.

Melainkan dengan tiga hal yang jauh lebih sulit dijaga:

rumah,

ilmu,

dan hati manusia.


Akhir Bab 1

“Membuka pintu ilmu adalah satu keberanian.
Tetapi menjaga hati manusia agar tidak tersesat di dekat cahaya,
adalah keberanian yang lain.”

➡️ Bab 2: Rapat yang Bocor
Keputusan Majelis Air dan Ilmu mulai menyebar, tetapi tidak semuanya sampai kepada orang yang benar. Artazara menyelidiki kebocoran arsip bersama Farrokh, sementara Ardashir dan Roxana berusaha menjaga keseimbangan antara tugas negara dan rumah tangga. Di sisi lain, Navid mulai menemukan kejanggalan dalam bayangan menara istana—tanda bahwa seseorang menggunakan teknologi sinyal lama untuk mengirim pesan rahasia.


 

Satu Cinta Seribu Tombak III (2)

 

Delima, Bintang, dan Jalan Pulang

Bab 2

Rapat yang Bocor

Pagi di Persepolis selalu datang dengan cara yang megah.

Matahari naik perlahan dari balik pegunungan, menyentuh puncak-puncak istana, lalu turun ke halaman batu, kolom-kolom tinggi, taman, dan saluran air yang mengalir jernih di antara pepohonan delima.

Namun pagi itu, kemegahan Persepolis terasa seperti kain indah yang menutupi luka.

Karena sebelum lonceng pertama istana berbunyi, Farrokh sudah mengetuk pintu ruang kerja Artazara.

Tidak pelan.

Tidak sopan.

Dan tentu saja tidak sabar.

Artazara yang baru saja membuka gulungan catatan menatap pintu.

“Masuk.”

Farrokh masuk dengan wajah lebih gelap dari biasanya.

Itu bukan pertanda baik.

Karena wajah Farrokh pada hari biasa pun sudah cukup membuat penulis muda merasa ingin meminta maaf atas kesalahan yang belum mereka lakukan.

“Ada apa?” tanya Artazara.

Farrokh meletakkan selembar papirus kecil di atas meja.

“Rapat kemarin bocor.”

Artazara diam.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup lama untuk membuat udara pagi terasa lebih dingin.

“Dari mana kau tahu?”

Farrokh menunjuk papirus itu.

“Seorang penjaga menemukan potongan pembungkus tabung pesan di gerbang pelayan timur.”

Artazara mengambilnya.

Papirus itu kecil.

Hampir tidak berarti.

Namun di salah satu sisinya terdapat bekas tinta yang belum sepenuhnya kering.

Hanya beberapa kata yang tersisa:

tujuh wilayah…
catatan air…
sebelum bulan baru…

Artazara membaca perlahan.

Lalu menutup mata.

“Jadi seseorang menyalin keputusan rapat.”

“Ya.”

“Dan mengirimkannya keluar.”

“Ya.”

“Kapan?”

“Tidak lebih dari satu jam setelah rapat berakhir.”

Artazara membuka mata.

“Itu berarti pelakunya berada di dalam ruang arsip.”

Farrokh mengangguk.

“Bukan hanya di dalam istana.”

Ia menatap pintu.

“Di dalam lingkaran kita.”


Kabar itu sampai kepada Ardashir ketika ia sedang membantu Dastan memeriksa papan ukur di taman barat.

Dastan berdiri di dekat saluran air, memegang tongkat kecil untuk mengukur kedalaman aliran.

Di sampingnya, Navid sedang mencatat bayangan matahari pada batu penanda.

Ardashir memperhatikan mereka bekerja dengan rasa kagum yang masih belum hilang.

Baginya, peperangan dahulu tampak lebih mudah dimengerti.

Ada lawan.

Ada arah serangan.

Ada senjata.

Ada keputusan cepat.

Tetapi pekerjaan para insinyur dan pengamat langit berbeda.

Mereka berperang melawan kesalahan kecil.

Kemiringan yang kurang tepat.

Bayangan yang bergeser.

Catatan yang tidak cocok.

Air yang mengalir sedikit lebih lambat dari seharusnya.

Dan sering kali, dari kesalahan kecil itulah bencana besar bermula.

“Ini aneh,” kata Navid.

Dastan menoleh.

“Aneh yang baik atau aneh yang membuatku harus memarahi seseorang?”

Navid menunjuk bayangan pada batu.

“Bayangan menara sinyal tidak jatuh sesuai catatan lama.”

Dastan mendekat.

Ia memicingkan mata.

Lalu menggerutu.

“Catatan lama salah.”

Navid menggeleng.

“Bukan.”

Dastan menatapnya.

Navid menunjuk puncak menara kecil di sisi taman.

“Cerminnya yang digeser.”

Ardashir langsung menoleh ke arah menara.

“Digeser?”

Navid mengangguk.

“Sedikit saja. Mungkin tidak terlihat oleh penjaga biasa. Tetapi cukup untuk mengirim pantulan cahaya ke arah yang berbeda saat matahari sore.”

Dastan terdiam.

Lalu wajahnya berubah.

Tidak marah.

Lebih buruk.

Tertarik.

“Sejak kapan?”

Navid melihat catatan.

“Kalau catatan perawatan benar, perubahan terjadi setelah bulan lalu.”

Ardashir bertanya, “Apa gunanya menggeser cermin kecil seperti itu?”

Navid menatapnya.

“Untuk mengirim sinyal tanpa diketahui orang yang tidak mengamati bayangan.”

Dastan menancapkan tongkat kecilnya ke tanah.

“Kita punya dua masalah sekarang.”

“Dua?” tanya Ardashir.

Dari arah taman, Farrokh datang tergesa bersama Artazara.

Farrokh menjawab sebelum Dastan sempat bicara.

“Rapat bocor.”

Dastan memandang menara.

“Dan menara istana bicara kepada seseorang.”


Mereka berkumpul di ruang arsip kecil dekat taman barat.

Tidak di ruang rapat utama.

Terlalu banyak telinga di sana.

Artazara, Farrokh, Ardashir, Dastan, Navid, dan Shirin duduk mengelilingi meja rendah.

Roxana datang beberapa saat kemudian, membawa papan catatan air yang diminta Artazara.

Vardan juga ikut masuk.

Tidak ada yang mengundangnya.

Namun entah bagaimana ia selalu muncul ketika ada rahasia.

Farrokh menatapnya.

“Kenapa kau di sini?”

Vardan menjawab serius, “Karena wajah kalian semua tampak seperti orang yang belum sarapan.”

“Keluar.”

“Aku membawa roti.”

Farrokh diam.

Roxana hampir tersenyum.

Dastan mengangkat tangan.

“Untuk kepentingan kestabilan kerajaan, biarkan roti itu tinggal.”

Maka Vardan tinggal.

Bersama rotinya.


Artazara membuka percakapan.

“Kita menghadapi dua kejadian yang mungkin terhubung. Pertama, keputusan rapat Majelis Air dan Ilmu sudah disalin dan dikirim keluar. Kedua, Navid menemukan cermin menara sinyal taman barat telah digeser.”

Navid meletakkan gambar sederhana di atas meja.

“Menara ini awalnya mengarah ke utara, sesuai fungsi lama untuk komunikasi antarmenara istana.”

Ia menarik garis.

“Namun sekarang, pada waktu matahari sore, pantulannya mengarah ke gerbang pelayan timur.”

Farrokh menunjuk potongan papirus.

“Tempat pembungkus pesan ditemukan.”

Keheningan turun.

Ardashir memahami perlahan.

“Jadi pelaku tidak hanya membawa pesan keluar. Ia mungkin juga memberi tanda kepada orang di luar bahwa pesan sudah siap.”

Navid mengangguk.

“Satu pantulan cahaya pendek bisa berarti banyak hal jika penerimanya sudah tahu kodenya.”

Shirin menatap gambar itu.

“Teknologi sinyal lama.”

Dastan mendengus.

“Dulu dibuat agar kerajaan bisa mengirim peringatan banjir, kebakaran, atau serangan.”

Farrokh menambahkan datar, “Dan sekarang dipakai untuk mencuri rapat.”

Vardan menggigit roti.

“Itulah nasib banyak alat baik. Bergantung pada tangan yang memegangnya.”

Semua menoleh kepadanya.

Vardan berhenti mengunyah.

“Apa? Kali ini aku tidak salah.”

Farrokh berkata pelan, “Itu yang membuatku khawatir.”


Roxana memperhatikan gambar menara cukup lama.

Lalu bertanya, “Siapa yang punya akses ke menara itu?”

Farrokh menjawab, “Penjaga taman, petugas perawatan, pencatat sinyal, dan beberapa pelayan istana.”

“Berapa orang?”

“Sekitar tiga puluh.”

Roxana menggeleng.

“Terlalu banyak.”

Artazara memandangnya.

“Apa maksudmu?”

“Kalau kita memeriksa tiga puluh orang sekaligus, pelaku akan tahu bahwa kita tahu.”

Farrokh mengangguk pelan.

“Benar.”

Roxana melanjutkan, “Maka jangan periksa orangnya dulu. Periksa kebiasaannya.”

Navid menatap Roxana dengan hormat baru.

“Kebiasaan?”

“Siapa yang berada di dekat menara saat matahari sore. Siapa yang sering melewati gerbang pelayan timur. Siapa yang cukup pintar untuk memakai cahaya, tetapi cukup percaya diri untuk mengira orang lain tidak akan memperhatikan.”

Dastan tersenyum.

“Kau akan membuat Farrokh kehilangan pekerjaan.”

Farrokh menjawab tanpa ekspresi, “Tidak. Aku akan merekrutnya.”

Roxana tampak seperti ingin menolak, tetapi Ardashir mendahului.

“Jangan.”

Farrokh menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena aku masih ingin punya istri yang bisa pulang sebelum malam.”

Roxana menoleh.

“Aku bisa menjawab sendiri.”

“Maaf.”

Farrokh mencatat sesuatu.

Ardashir curiga itu bukan catatan resmi.


Artazara memperhatikan percakapan kecil itu.

Ada kelembutan di antara Ardashir dan Roxana.

Bukan kelembutan yang dibuat untuk dilihat orang.

Melainkan kelembutan yang tumbuh dari kebiasaan saling mengenal.

Cara Ardashir khawatir.

Cara Roxana menolak dilindungi terlalu berlebihan.

Cara mereka saling mengoreksi tanpa melukai.

Artazara menunduk sejenak.

Di dalam dadanya, rasa lama itu bergerak lagi.

Halus.

Tidak liar.

Tetapi cukup membuatnya sadar bahwa ia belum sepenuhnya bebas.

Lalu suara Navid terdengar.

“Putri Artazara?”

Ia mengangkat kepala.

Navid menunjuk gambar menara.

“Maaf. Aku bertanya apakah Putri ingin melihat arah pantulan itu langsung sore nanti.”

Artazara mengangguk.

“Tentu.”

Navid tidak bertanya mengapa ia sempat melamun.

Tidak menunjukkan bahwa ia memperhatikan.

Tidak membuatnya malu.

Dan untuk alasan kecil yang tak dapat dijelaskan, Artazara menghargai itu.


Sore itu mereka menyusun rencana.

Bukan menangkap pelaku.

Belum.

Mereka ingin memastikan jalur pesan.

Navid akan mengamati pantulan cermin dari taman barat.

Dastan akan memeriksa mekanisme menara.

Farrokh akan menempatkan dua pencatat muda di dekat gerbang pelayan timur dengan alasan menghitung keluar-masuk barang dapur.

Shirin akan memeriksa daftar tabung pesan dan segel lilin.

Artazara akan berada di balkon timur untuk mengamati pergerakan istana.

Ardashir akan berjaga di jalur antara taman dan gerbang.

Roxana meminta ikut.

Ardashir menatapnya.

Roxana menatap balik.

“Jangan mulai,” katanya.

“Aku belum bicara.”

“Wajahmu sudah bicara.”

Farrokh menulis lagi.

Ardashir memandangnya.

“Apa yang kau catat?”

“Bukti bahwa wajah kadang lebih cepat dari lidah.”

Vardan berbisik, “Itu akan menjadi judul buku yang buruk tapi berguna.”

Dastan menghela napas.

“Kita sedang menyelidiki pengkhianatan, bukan menyusun kumpulan peribahasa.”


Menjelang matahari turun, Persepolis tampak tenang.

Terlalu tenang.

Para pelayan membawa kendi air.

Penjaga berdiri di posnya.

Burung-burung pulang ke pepohonan.

Dari kejauhan, relief-relief istana berubah keemasan diterpa cahaya senja.

Navid berdiri di taman barat dengan alat pengukur bayangan.

Artazara berada di balkon atas, melihat ke arah taman dan gerbang pelayan.

Roxana berdiri di dekat kolam kecil bersama dua perempuan pelayan, berpura-pura membahas catatan air taman.

Ardashir berada di jalur batu di antara pohon-pohon cemara.

Farrokh, entah bagaimana, tampak berada di mana-mana meskipun tubuhnya hanya satu.

Matahari perlahan turun.

Cahaya menyentuh puncak menara.

Navid mengangkat tangan.

Dastan yang berada di bawah menara melihat ke atas.

Cermin kecil itu menangkap sinar.

Satu kilatan.

Pendek.

Hampir tidak terlihat.

Lalu jeda.

Kilatan kedua.

Lebih pendek.

Navid mencatat.

Di balkon, Artazara melihat sesuatu bergerak di dekat gerbang pelayan timur.

Seorang anak pembawa air berhenti.

Terlalu lama.

Ia tidak menatap menara.

Tetapi tangannya menyentuh ikat pinggangnya, seolah memastikan sesuatu.

Lalu ia berjalan menuju lorong luar.

Artazara memberi isyarat kecil kepada Ardashir.

Ardashir mulai bergerak.

Pelan.

Tidak berlari.

Di sisi lain, Roxana juga melihat anak itu.

Namun ia melihat hal yang tidak dilihat Ardashir.

Anak itu takut.

Bukan seperti pelaku.

Melainkan seperti seseorang yang dipaksa.

Roxana segera meninggalkan kolam dan mengikuti dari jalur samping.


Anak pembawa air itu hampir mencapai gerbang ketika Ardashir muncul di depannya.

Ia membeku.

Bejana air di tangannya bergetar.

“Aku tidak mencuri,” katanya cepat.

Ardashir menatapnya.

“Aku belum bertanya.”

Anak itu makin pucat.

Dari belakang, Roxana mendekat.

Suaranya lembut.

“Siapa namamu?”

Anak itu menoleh.

“Samak.”

“Samak, apa yang kau bawa?”

“Air.”

“Selain air?”

Anak itu menunduk.

Tangannya gemetar.

Ardashir melihat tabung kecil di balik ikat pinggangnya.

Ia hendak mengambilnya, tetapi Roxana mengangkat tangan pelan.

“Samak,” katanya lagi, “apakah seseorang menyuruhmu?”

Mata anak itu berkaca-kaca.

“Aku tidak tahu isinya.”

“Aku percaya.”

“Aku hanya diminta membawanya ke gerbang.”

“Oleh siapa?”

Samak menggeleng kuat.

“Aku tidak tahu namanya.”

Ardashir berkata, “Wajahnya?”

“Aku tidak melihat jelas.”

Roxana berlutut agar sejajar dengan anak itu.

“Kenapa kau mau?”

Samak menelan ludah.

“Ibuku bekerja di dapur wilayah. Mereka bilang kalau aku tidak membawa tabung itu, ibuku akan dituduh mencuri tepung.”

Roxana memejamkan mata sebentar.

Jaringan lama masih memakai cara lama.

Bukan hanya membeli orang.

Tetapi menekan orang kecil yang tidak punya perlindungan.

Ardashir mengambil tabung itu dengan hati-hati.

“Tidak ada yang akan menyakiti ibumu.”

Samak menatapnya, ingin percaya tetapi takut.

Roxana berkata, “Aku yang akan bicara dengan kepala dapur.”

Anak itu mulai menangis tanpa suara.


Tabung itu dibawa ke ruang arsip kecil.

Shirin membuka segelnya.

Di dalamnya terdapat pesan pendek.

Keputusan tujuh wilayah telah disahkan.
Pengamatan terhadap perempuan desa harus dilanjutkan.
Pencatat bintang mencurigai menara.
Pindahkan jalur sebelum bulan baru.

Ruang itu menjadi sunyi.

Ardashir menatap kalimat kedua.

Pengamatan terhadap perempuan desa.

Roxana.

Roxana membaca kalimat itu tanpa mengubah wajah.

Tetapi Ardashir merasakan darahnya menghangat.

“Mereka mengawasi Roxana.”

Farrokh berkata dingin, “Mereka mengawasi semua orang yang mereka anggap berbahaya.”

Roxana menatap pesan itu.

“Aku berbahaya karena aku bertanya?”

Dastan menjawab, “Pertanyaan jujur sering lebih berbahaya daripada pedang palsu.”

Navid menunjuk kalimat ketiga.

“Pencatat bintang.”

Artazara menatapnya.

“Maksudnya kau.”

Navid mengangguk pelan.

“Jadi mereka tahu aku memeriksa menara.”

Shirin menutup tabung.

“Kita bukan hanya menemukan jalur pesan.”

Farrokh melanjutkan, “Kita ditemukan balik.”


Malam itu, keamanan istana diperketat diam-diam.

Namun Artazara melarang penangkapan besar-besaran.

“Jika kita bergerak kasar, mereka akan menghilang.”

Farrokh setuju.

“Kita butuh akar, bukan hanya ranting.”

Samak dan ibunya diamankan tanpa membuat kegaduhan.

Anak itu diberi tempat tidur di dekat dapur dalam, dijaga oleh orang yang dipercaya Roxana.

Untuk pertama kalinya sejak sore, Roxana tampak benar-benar lelah.

Ardashir mendekatinya di lorong taman.

“Aku tidak suka ini.”

“Aku juga.”

“Mereka mengawasimu.”

“Ya.”

“Aku ingin mengirimmu pulang.”

Roxana menatapnya.

“Ke mana? Ke desa yang juga mereka incar? Ke rumah yang mungkin sudah mereka ketahui? Atau ke tempat yang membuatmu merasa lebih tenang tetapi tidak benar-benar membuatku aman?”

Ardashir terdiam.

Roxana melembutkan suara.

“Aku tahu kau khawatir.”

“Sangat.”

“Aku juga takut.”

Kalimat itu membuat Ardashir menatapnya lebih dalam.

Roxana jarang mengatakannya.

“Aku takut,” ulangnya. “Tetapi aku tidak ingin rasa takut membuatku mundur dari sesuatu yang benar.”

Ardashir menggenggam tangannya.

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.”

Roxana tersenyum sedih.

“Kalau begitu jangan jadikan aku seseorang yang kehilangan dirinya agar kau merasa aman.”

Kalimat itu menusuk.

Bukan karena kasar.

Tetapi karena benar.

Ardashir menunduk.

“Maaf.”

Roxana meremas tangannya.

“Kita belajar, bukan?”

“Setiap hari.”

“Bagus. Karena pernikahan tampaknya lebih sulit daripada membuka Kota Matahari.”

Ardashir tertawa pelan.

“Jauh lebih sulit.”


Di balkon atas, Artazara melihat mereka dari kejauhan.

Lagi.

Namun kali ini ia tidak berhenti karena luka.

Ia berhenti karena belajar.

Roxana bukan hanya istri Ardashir.

Ia adalah perempuan yang berdiri di sampingnya tanpa menghilangkan dirinya sendiri.

Artazara tiba-tiba memahami sesuatu yang menyakitkan sekaligus membebaskan.

Mungkin selama ini ia tidak hanya mencintai Ardashir.

Mungkin ia juga mencintai bayangan hidup yang pernah ia kira akan dimiliki bersama Ardashir.

Rumah.

Percakapan.

Kepercayaan.

Seseorang yang melihatnya bukan sebagai putri jenderal atau pemimpin arsip, tetapi sebagai manusia.

Di belakangnya terdengar langkah.

Navid.

Ia berhenti cukup jauh, tidak mendekat tanpa izin.

“Putri?”

Artazara tidak menoleh.

“Apakah semua bintang selalu tahu tempatnya?”

Navid diam sejenak.

“Tidak.”

Artazara menoleh.

“Aku kira seorang astronom akan menjawab lebih pasti.”

Navid tersenyum.

“Bintang tidak bergerak untuk membuat kita mudah menggambar peta. Kita yang belajar membaca perubahan mereka.”

Artazara memandang langit.

“Dan jika seseorang salah membaca bintang terlalu lama?”

“Langit tidak menghukum. Ia tetap memberi kesempatan untuk membaca lagi malam berikutnya.”

Artazara tidak menjawab.

Namun untuk pertama kalinya, kalimat Navid tidak terasa seperti nasihat.

Lebih seperti ruang.

Ruang untuk tidak buru-buru sembuh.

Ruang untuk membaca ulang dirinya sendiri.


Di ujung lain istana, seorang lelaki berjubah petugas dapur berjalan cepat melewati lorong gelap.

Ia tidak tahu bahwa jalur pesannya telah gagal.

Ia tidak tahu bahwa Samak telah diamankan.

Ia tidak tahu bahwa Navid kini memperhatikan menara.

Namun ia tahu satu hal: pesan berikutnya harus dikirim sebelum bulan baru.

Di sebuah ruang kecil yang tersembunyi di balik gudang rempah, ia membuka kotak kayu.

Di dalamnya terdapat beberapa tabung pesan.

Satu segel lama.

Dan simbol kecil burung api yang hampir terhapus.

Sisa Persaudaraan Matahari belum mati.

Mereka hanya kehilangan pusatnya.

Dan kini, seperti ular yang terluka, mereka menjadi lebih sulit ditebak.

Lelaki itu mengambil satu tabung kosong.

Lalu menulis:

Jalur taman barat terbongkar.
Perempuan desa dilindungi.
Pencatat bintang harus disingkirkan.
Putri Artazara mulai terlalu dekat pada arah sebenarnya.

Ia meniup tinta.

Menggulung pesan.

Lalu mematikan lampu.

Malam kembali gelap.


Akhir Bab 2

“Rahasia tidak selalu bocor karena pintu dibuka.
Kadang ia keluar melalui celah kecil
yang selama ini dianggap terlalu remeh untuk dijaga.”

➡️ Bab 3: Bayangan di Menara Barat
Navid menemukan bahwa menara sinyal istana telah digunakan lebih dari sekali untuk mengirim pesan rahasia. Artazara mulai menyelidiki jaringan pelayan, pencatat, dan penjaga yang mungkin terlibat. Sementara itu, Roxana menyadari bahwa ancaman terhadap dirinya bukan hanya karena ia istri Ardashir, melainkan karena gagasannya tentang catatan air mulai ditakuti banyak pihak.

Minggu, 28 September 2025

Satu Cinta Seribu Tombak III (3)

 

Delima, Bintang, dan Jalan Pulang

Bab 3

Bayangan di Menara Barat

Pagi setelah pesan rahasia itu ditemukan, Persepolis tampak tetap indah.

Terlalu indah.

Matahari naik di balik bukit-bukit batu. Cahayanya jatuh pada pilar-pilar istana, relief para pembawa upeti, taman yang disiram air jernih, dan kolam-kolam kecil yang tampak tenang.

Namun bagi orang yang sedang menyelidiki pengkhianatan, keindahan sering terasa mencurigakan.

Karena pengkhianatan paling berbahaya biasanya tidak datang dari tempat yang gelap.

Ia datang dari tempat yang sudah terlalu lama dianggap aman.


Navid berdiri di bawah Menara Barat sejak pagi.

Ia membawa alat perunggu kecil berbentuk setengah lingkaran, tali halus, pemberat, papan catatan, dan sepotong batu putih untuk menandai bayangan.

Dastan berdiri di dekatnya dengan wajah tidak sabar.

Bagi Dastan, orang muda yang teliti adalah harapan.

Tetapi orang muda yang terlalu teliti juga sering membuatnya merasa tua.

“Berapa lama lagi kau akan memandangi bayangan itu?” tanya Dastan.

Navid tidak mengangkat kepala.

“Sampai bayangan itu berkata jujur.”

“Bayangan tidak bicara.”

“Karena itu ia lebih dapat dipercaya daripada banyak pejabat.”

Dastan terdiam.

Lalu perlahan tersenyum.

“Aku mulai menyukaimu.”

Navid menandai garis bayangan pada batu.

“Terima kasih. Aku akan mencatatnya sebagai kejadian langka.”


Ardashir datang tidak lama kemudian.

Wajahnya kurang tidur.

Sejak Roxana diketahui diawasi oleh sisa jaringan Persaudaraan Matahari, ia tidur lebih sedikit dari biasanya.

Dan ketika Ardashir kurang tidur, ia lebih banyak diam.

Itu membuatnya tampak bijaksana.

Padahal, menurut Roxana, ia hanya sedang menahan marah.

“Apa yang ditemukan?” tanya Ardashir.

Navid menunjuk puncak menara.

“Cermin utama memang digeser.”

“Itu sudah kita tahu.”

“Benar. Tetapi bukan hanya itu.”

Dastan langsung menoleh.

“Apa lagi?”

Navid membuka catatan.

“Di menara ada tiga cermin kecil. Cermin utama untuk sinyal resmi. Dua cermin kecil awalnya dipakai sebagai penyeimbang cahaya agar penjaga bisa memeriksa arah.”

“Dan sekarang?”

“Dua cermin kecil itu diubah menjadi jalur pesan bayangan.”

Ardashir mengerutkan dahi.

“Pesan bayangan?”

Navid mengambil sepotong papan, lalu menggambar sederhana.

“Cahaya yang dipantulkan cermin utama terlihat jelas. Siapa pun bisa memperhatikannya. Tetapi dua cermin kecil memantulkan cahaya ke dinding dalam menara. Dari luar tidak terlihat.”

“Lalu gunanya?”

“Bayangannya jatuh pada lubang-lubang kecil di dinding. Jika seseorang berada di tempat yang tepat, ia bisa membaca kilatan cahaya itu sebagai kode.”

Dastan memejamkan mata.

“Indah.”

Ardashir menatapnya.

“Guru, ini buruk.”

“Secara moral buruk. Secara teknik indah.”

Navid mengangguk pelan.

“Dan cukup cerdas.”

Ardashir memandang Menara Barat.

“Jadi istana bisa mengirim pesan tanpa terlihat mengirim pesan.”

“Ya.”

Dastan menatap puncak menara.

“Teknologi lama selalu punya dua wajah. Ia bisa menyelamatkan kota dari banjir, atau menyelamatkan pengkhianat dari tertangkap.”


Di ruang arsip, Artazara memeriksa daftar petugas Menara Barat.

Farrokh berdiri di sampingnya, memegang tiga gulungan sekaligus.

Ia belum sarapan.

Itu membuatnya lebih tajam, tetapi juga lebih menakutkan.

“Jumlah orang yang bisa mengakses puncak menara ada dua belas,” kata Farrokh.

“Nama?”

Farrokh membacakan satu per satu.

Sebagian penjaga.

Sebagian petugas taman.

Dua pencatat sinyal.

Satu petugas perawatan logam.

Dan satu nama yang membuat Artazara berhenti.

“Samak?”

Farrokh mengangguk.

“Anak pembawa air yang kita temukan kemarin. Ia tidak punya akses resmi, tetapi sering mengantar air untuk penjaga menara.”

Artazara menggeleng.

“Dia hanya dipakai.”

“Aku setuju.”

“Siapa yang menugaskannya?”

Farrokh membuka catatan dapur.

“Di sini mulai menarik.”

“Menarik menurutmu biasanya berarti buruk.”

“Benar.”

Ia menunjuk satu nama.

“Petugas dapur bernama Zarin. Ia yang mengatur pengiriman air ke taman barat selama dua minggu terakhir.”

Artazara membaca nama itu.

“Perempuan?”

“Ya.”

“Sudah diperiksa?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Farrokh menatapnya.

“Karena tadi pagi ia tidak hadir.”

Artazara mengangkat kepala.

“Hilang?”

“Tidak. Menurut catatan, ia dipindahkan ke gudang rempah sebelum fajar.”

“Siapa yang memindahkan?”

Farrokh meletakkan gulungan kedua di meja.

“Perintah tertulis dari kantor Vahumana.”

Nama itu membuat suasana berubah.

Vahumana.

Pejabat wilayah yang kemarin paling keras menolak keterbukaan catatan air.

Artazara menatap Farrokh.

“Apakah ini terlalu jelas?”

Farrokh mengangguk.

“Terlalu jelas untuk menjadi kebetulan. Tetapi mungkin juga terlalu jelas untuk menjadi kebenaran.”

Artazara memahami maksudnya.

Bisa jadi Vahumana memang terlibat.

Bisa juga seseorang sedang menyiapkan namanya sebagai kambing hitam.

Sejarah baru saja mengajari mereka bahwa orang paling bersalah sering berdiri di belakang orang yang tampak bersalah.


Roxana menemukan Samak di halaman belakang dapur dalam.

Anak itu duduk di dekat tempayan air, memeluk lututnya.

Ibunya, seorang perempuan kurus bernama Daria, duduk tidak jauh darinya. Wajahnya lelah, tetapi matanya terus mengawasi anaknya seperti seseorang yang baru saja hampir kehilangan dunia.

Roxana duduk di depan Samak.

“Sudah makan?”

Samak mengangguk kecil.

“Roti?”

“Ya.”

“Sup?”

“Sedikit.”

“Sedikit karena tidak lapar atau karena takut?”

Samak menunduk.

“Takut.”

Roxana tidak memaksanya menjawab cepat.

Ia mengambil kendi kecil dan menuang air ke cangkir.

“Ketika aku takut, ibuku dulu menyuruhku minum sedikit. Katanya, hati yang kering lebih mudah gemetar.”

Samak menerima cangkir itu.

Tangannya masih gemetar.

Roxana menunggu sampai ia minum.

Lalu berkata pelan, “Aku perlu bertanya sesuatu. Tetapi kau boleh berhenti kapan saja.”

Samak mengangguk.

“Orang yang menyuruhmu membawa tabung, apakah dia perempuan?”

Samak ragu.

Roxana tidak mendesak.

Akhirnya anak itu mengangguk.

“Apakah namanya Zarin?”

Samak langsung memucat.

Itu cukup sebagai jawaban.

Daria menutup mulutnya dengan tangan.

Roxana menoleh kepadanya.

“Apakah kau mengenalnya?”

Daria mengangguk pelan.

“Dia petugas dapur. Kadang memberi kami sisa tepung. Aku kira ia baik.”

“Orang yang baik tidak memakai anak kecil untuk membawa pesan rahasia,” kata Roxana lembut.

Daria menunduk.

“Apakah kami akan dihukum?”

“Tidak.”

“Tapi kalau orang-orang itu tahu Samak bicara…”

Roxana menggenggam tangan perempuan itu.

“Karena itu kita tidak akan membuatnya tampak seperti Samak bicara.”

Daria menatapnya.

“Apa maksudnya?”

Roxana tersenyum tipis.

“Kita biarkan mereka mengira Samak masih terlalu takut untuk mengatakan apa pun.”

Samak berbisik, “Aku memang takut.”

Roxana mengusap kepalanya.

“Bagus. Kali ini rasa takutmu akan membantu kita.”

Samak tampak bingung.

Roxana menambahkan, “Orang sombong sering mengira anak yang takut tidak memperhatikan apa-apa. Mereka salah.”


Menjelang siang, Navid naik ke Menara Barat bersama Dastan dan Ardashir.

Tangga di dalam menara sempit.

Dindingnya dingin.

Cahaya masuk melalui lubang-lubang kecil yang dibuat dengan jarak terukur.

Navid berhenti di salah satu lubang.

“Ini.”

Ardashir mendekat.

“Apa?”

“Lubang ini bukan bagian rancangan awal.”

Dastan meraba pinggir batu.

“Benar. Potongannya baru.”

“Berapa baru?” tanya Ardashir.

“Beberapa bulan,” jawab Navid.

Dastan menambahkan, “Dikerjakan oleh orang yang tahu batu, tetapi tidak sabar.”

Navid menunjuk garis di lantai.

“Jika cahaya cermin kecil masuk dari sana, bayangannya jatuh ke sini.”

Ia meletakkan papan kecil pada lantai.

Cahaya tipis muncul.

Terputus-putus.

Dastan menahan napas.

“Kode.”

Navid mengangguk.

“Aku belum tahu sistemnya. Tetapi pola kilatan kemarin bukan acak.”

Ardashir memandang lubang kecil itu.

“Ke mana arahnya?”

Navid menatap melalui celah.

“Gerbang pelayan timur untuk cahaya utama.”

Lalu ia bergeser ke lubang lain.

“Yang ini ke arah luar kota.”

Dastan langsung mendekat.

“Ke mana?”

Navid memicingkan mata.

“Bukit kecil di luar tembok. Ada bangunan tua di sana.”

Ardashir mengingat peta Persepolis.

“Gudang pajak lama?”

“Ya.”

Dastan bergumam, “Tempat yang sudah tidak dipakai?”

Navid menatapnya.

“Menurut catatan.”

Dastan tertawa pendek.

“Aku mulai tidak percaya kepada kalimat ‘menurut catatan’.”


Ketika mereka turun dari menara, seorang penjaga muda mendekati Ardashir.

“Tuan.”

“Ada apa?”

“Seorang petugas logam meminta izin memperbaiki cermin menara besok pagi.”

Navid langsung menoleh.

“Siapa?”

“Namanya Rashn.”

Dastan mengerutkan dahi.

“Rashn ada dalam daftar petugas perawatan?”

Ardashir bertanya, “Ia sudah datang?”

“Belum, Tuan. Tapi perintahnya sudah masuk.”

Navid memandang Dastan.

“Kalau ia memperbaiki cermin, semua bukti arah pantulan bisa hilang.”

Dastan tersenyum dingin.

“Kalau begitu kita tidak menunggu besok.”

Ardashir menatapnya.

“Apa rencanamu?”

“Rencana sederhana.”

“Biasanya rencana sederhana Guru membuat orang lain sakit kepala.”

“Bagus. Kali ini biarkan pengkhianat yang sakit kepala.”


Sore itu, mereka memasang perangkap tanpa menyebutnya perangkap.

Farrokh mengeluarkan perintah palsu yang sangat resmi:

Menara Barat akan ditutup selama dua hari untuk pemeriksaan retakan batu.

Perintah itu sengaja ditulis dalam gaya kaku Farrokh.

Terlalu kaku untuk dicurigai.

Atau justru sangat Farrokh sehingga tidak ada yang ingin membacanya dua kali.

Vardan membacanya sekali, lalu berkata, “Aku hampir retak sebelum selesai.”

Farrokh menjawab, “Berarti bahasanya efektif.”

Dengan perintah itu, siapa pun yang merasa perlu menghapus jejak akan bergerak lebih cepat.

Mereka hanya perlu menunggu.


Malam itu, Persepolis dibungkus angin dingin.

Di taman barat, lampu-lampu kecil dibiarkan menyala.

Menara tampak sepi.

Namun di balik semak delima, Ardashir berjaga bersama dua pengawal.

Dastan berada di ruang bawah menara.

Navid berada di balkon kecil dengan alat pengukur bayangan, meski malam membuat bayangan sulit dibaca.

Roxana berada di dapur dalam bersama Daria dan Samak.

Artazara dan Farrokh mengawasi dari ruang arsip kecil.

Shirin memeriksa segel pesan yang ditemukan.

Semua orang menunggu.

Menunggu sering lebih melelahkan daripada bertarung.

Karena dalam pertarungan, tubuh bergerak.

Dalam penantian, pikiranlah yang berlari.


Menjelang tengah malam, seseorang masuk ke taman.

Berjubah gelap.

Langkahnya cepat, tetapi hati-hati.

Ia tidak menuju pintu utama menara.

Melainkan ke sisi belakang.

Tempat tangga perawatan berada.

Ardashir memberi isyarat kepada pengawal untuk tetap diam.

Orang itu membuka kait kecil yang tersembunyi di balik batu.

Dastan benar.

Ada akses yang tidak tercatat.

Sosok itu naik perlahan.

Navid melihat bayangan geraknya dari balkon.

Ia memberi tanda kecil dengan lampu tertutup.

Satu kilatan rendah.

Ardashir bergerak.


Di puncak menara, sosok itu mulai membuka dudukan cermin kecil.

Tangannya terlatih.

Ia membawa kantong alat logam.

Bukan pencuri biasa.

Bukan pelayan ketakutan.

Seorang yang tahu persis apa yang harus dihapus.

Saat ia hampir melepas cermin pertama, suara Navid terdengar dari belakang.

“Kalau kau menariknya dengan sudut itu, baut bawah akan patah.”

Sosok itu membeku.

Navid berdiri beberapa langkah darinya, memegang lampu kecil.

“Kau lebih baik memutar cincin dudukannya dulu.”

Orang itu berbalik cepat.

Wajahnya tertutup kain.

Namun dari matanya terlihat ia marah.

Ia mencabut pisau pendek.

Navid tidak mundur.

Itu keberanian yang agak bodoh.

Tetapi tetap keberanian.

Sebelum orang itu menyerang, Ardashir muncul dari tangga.

“Letakkan pisaunya.”

Sosok itu menoleh.

Terlambat.

Dua pengawal muncul dari sisi lain.

Namun orang itu tidak menyerah.

Ia melempar pisau ke arah lampu Navid.

Lampu jatuh.

Gelap.

Dalam kegelapan, sosok itu melompat ke sisi luar menara.

Ardashir mengejar.

“Jangan!”

teriak Navid.

Terlambat.

Sosok itu meluncur melalui tali tipis yang sudah disiapkan dari puncak menara ke atap bangunan sebelah.

Ia telah merencanakan jalan keluar.

Ardashir berhenti di tepi menara.

Tali itu bergoyang.

Sosok gelap mendarat di atap, lalu berlari.

Namun ia tidak sepenuhnya lolos.

Karena di ujung atap, Dastan sudah menunggu.

Bukan dengan pedang.

Dengan tongkat kayu.

“Anak muda zaman sekarang terlalu suka naik turun bangunan.”

Sosok itu menyerang.

Dastan menghindar tipis.

Lalu memukul lututnya.

Keras.

Orang itu jatuh.

Ardashir dan pengawal segera menyusul.

Kain penutup wajah dibuka.

Navid yang baru turun dari menara langsung terdiam.

Ardashir mengenali wajah itu dari daftar.

Rashn.

Petugas perawatan logam.

Namun sebelum mereka sempat bertanya, Rashn menggigit sesuatu di dalam mulutnya.

Shirin yang baru tiba berteriak, “Jangan!”

Terlambat.

Rashn terbatuk.

Tubuhnya mengejang.

Ardashir menahan kepalanya.

“Apa yang kau telan?”

Rashn tidak menjawab.

Matanya memerah.

Dastan mengumpat pelan.

“Racun.”

Rashn menatap Ardashir.

Dengan sisa suara yang hampir hilang, ia berbisik:

“Bulan baru…”

Ardashir mendekat.

“Apa?”

Rashn memaksa kata terakhir keluar.

“…air akan berhenti.”

Lalu tubuhnya lemas.

Malam kembali sunyi.

Namun tidak ada lagi yang merasa sunyi itu damai.


Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul di ruang arsip.

Farrokh memandang catatan Rashn.

“Petugas logam. Tujuh tahun bekerja. Tidak pernah bermasalah.”

Artazara berkata, “Orang yang tidak pernah bermasalah sering hanya berarti belum pernah diperiksa.”

Shirin meletakkan kantong alat Rashn di meja.

Di dalamnya terdapat pahat kecil, kunci baut, benang hitam, segel lilin, dan satu lempengan tipis dengan simbol burung api yang hampir terhapus.

Dastan memegang lempengan itu.

“Sisa Persaudaraan Matahari.”

Navid tampak pucat.

Bukan karena takut pada kematian.

Tetapi karena kalimat terakhir Rashn.

“Air akan berhenti.”

Roxana yang baru tiba bersama Ardashir menatap semua orang.

“Air mana?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu besar.

Air taman?

Air tujuh wilayah?

Air desa?

Atau air yang mengalir melalui sistem baru Majelis?

Farrokh membuka peta.

“Bulan baru tinggal sembilan hari.”

Artazara berdiri.

“Kita harus tahu maksudnya sebelum itu.”

Navid menatap Menara Barat dari jendela.

“Kalau mereka memakai sinyal lama untuk mengirim pesan, mungkin mereka juga memakai jaringan air lama untuk menghentikan aliran.”

Dastan mengangguk berat.

“Dan jika mereka tahu titik mana yang harus ditutup…”

Mithren yang baru masuk dengan langkah pelan menyelesaikan kalimat itu:

“…mereka tidak perlu menyerang kerajaan.”

Semua menoleh.

Mithren tampak lelah, tetapi matanya tajam.

“Mereka cukup membuat rakyat percaya bahwa reformasi air membawa bencana.”

Keheningan jatuh.

Kini semua mengerti.

Jika air berhenti setelah Majelis Air dan Ilmu mulai bekerja, rakyat akan menyalahkan reformasi.

Mereka akan berkata:

Saat catatan dibuka, air justru hilang.

Saat ilmu dibagikan, ladang justru kering.

Saat orang kecil diberi hak bertanya, kerajaan justru kacau.

Dan sisa jaringan lama akan muncul sebagai penyelamat palsu.

Roxana memejamkan mata.

“Mereka ingin membuat rakyat takut pada keterbukaan.”

Farrokh mengangguk.

“Dan rindu pada kendali lama.”

Artazara menatap peta.

“Kalau begitu Babak berikutnya bukan tentang pesan.”

Ardashir berkata, “Tetapi tentang air.”

Navid menambahkan pelan, “Dan waktu kita tinggal sembilan hari.”


Malam semakin larut.

Namun tidak ada yang tidur.

Di luar, Menara Barat berdiri gelap setelah cermin-cerminnya dilepas untuk diperiksa.

Di bawahnya, tubuh Rashn telah dibawa pergi.

Di dapur dalam, Samak tidur gelisah di dekat ibunya.

Di taman, Ardashir dan Roxana berdiri memandang aliran air yang masih bergerak tenang.

Roxana menyentuh air itu dengan ujung jarinya.

“Air ini belum tahu bahwa ia akan dijadikan alasan untuk menakuti manusia.”

Ardashir memandangnya.

“Air hanya mengalir.”

“Manusialah yang memberi niat pada alirannya.”

Ardashir menggenggam tangannya.

“Kita akan menghentikan mereka.”

Roxana menatap saluran.

“Bukan hanya menghentikan.”

“Lalu?”

“Kita harus memastikan orang-orang mengerti apa yang terjadi. Kalau tidak, kebohongan mereka akan lebih cepat mengalir daripada air.”

Di balkon atas, Artazara berdiri bersama Navid, melihat ke arah menara yang sama.

Artazara berkata, “Kau hampir terbunuh malam ini.”

Navid tersenyum lelah.

“Aku mencatat itu sebagai pengalaman baru.”

“Jangan bercanda.”

Navid menunduk.

“Maaf.”

Artazara melunak.

“Kenapa kau tidak mundur saat ia mengeluarkan pisau?”

Navid menatap langit.

“Karena kalau aku mundur, ia bisa merusak cermin. Dan kalau cermin rusak, kita kehilangan bukti.”

“Kau mempertaruhkan nyawa untuk bukti?”

“Pencatat mempertaruhkan mata untuk tulisan. Astronom mempertaruhkan leher untuk langit. Kurasa setiap pekerjaan punya kebodohan masing-masing.”

Artazara memandangnya lama.

Lalu tanpa sadar tersenyum.

“Sebaiknya kau hidup cukup lama untuk memperbaiki kebodohan itu.”

Navid menatapnya.

“Aku akan mencoba, Putri.”

Untuk pertama kalinya, Artazara berharap ia sungguh-sungguh.


Di ruang gelap jauh di luar istana, pesan terakhir Rashn ternyata sudah sampai melalui jalur lain.

Seorang perempuan berjubah abu-abu membacanya di bawah cahaya lampu kecil.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Di hadapannya terbentang peta saluran air tujuh wilayah.

Ia menyentuh satu titik dengan jarinya.

Lalu berkata pelan kepada orang-orang di sekitarnya:

“Rashn gagal. Tapi ia memberi kita cukup waktu.”

Seseorang bertanya, “Apakah rencana bulan baru dilanjutkan?”

Perempuan itu menatap peta.

“Tentu.”

“Dan jika Artazara menemukan jalurnya?”

Perempuan itu tersenyum dingin.

“Biarkan ia menemukan sebagian. Orang cerdas paling mudah dijebak ketika ia percaya hampir memahami semuanya.”

Ia mengambil arang kecil.

Lalu memberi tanda hitam pada satu saluran utama.

“Pada malam bulan baru, air akan berhenti.”

Lampu kecil bergoyang.

Bayangan burung api tampak samar di dinding.

Tidak terang.

Tidak besar.

Tetapi masih hidup.


Akhir Bab 3

“Teknologi dapat mengirim cahaya menembus jarak.
Tetapi di tangan yang gelap, cahaya pun dapat menjadi bahasa pengkhianatan.”

➡️ Bab 4: Sembilan Hari Sebelum Air Berhenti
Kalimat terakhir Rashn membuka ancaman baru: seseorang berencana menghentikan aliran air pada malam bulan baru untuk menggagalkan Majelis Air dan Ilmu. Artazara, Navid, Farrokh, dan Dastan harus membaca ulang peta saluran lama, sementara Roxana menyadari bahwa rakyat harus diberi pemahaman sebelum ketakutan mendahului kebenaran.