Minggu, 28 September 2025

Satu Cinta Seribu Tombak III (3)

 

Delima, Bintang, dan Jalan Pulang

Bab 3

Bayangan di Menara Barat

Pagi setelah pesan rahasia itu ditemukan, Persepolis tampak tetap indah.

Terlalu indah.

Matahari naik di balik bukit-bukit batu. Cahayanya jatuh pada pilar-pilar istana, relief para pembawa upeti, taman yang disiram air jernih, dan kolam-kolam kecil yang tampak tenang.

Namun bagi orang yang sedang menyelidiki pengkhianatan, keindahan sering terasa mencurigakan.

Karena pengkhianatan paling berbahaya biasanya tidak datang dari tempat yang gelap.

Ia datang dari tempat yang sudah terlalu lama dianggap aman.


Navid berdiri di bawah Menara Barat sejak pagi.

Ia membawa alat perunggu kecil berbentuk setengah lingkaran, tali halus, pemberat, papan catatan, dan sepotong batu putih untuk menandai bayangan.

Dastan berdiri di dekatnya dengan wajah tidak sabar.

Bagi Dastan, orang muda yang teliti adalah harapan.

Tetapi orang muda yang terlalu teliti juga sering membuatnya merasa tua.

“Berapa lama lagi kau akan memandangi bayangan itu?” tanya Dastan.

Navid tidak mengangkat kepala.

“Sampai bayangan itu berkata jujur.”

“Bayangan tidak bicara.”

“Karena itu ia lebih dapat dipercaya daripada banyak pejabat.”

Dastan terdiam.

Lalu perlahan tersenyum.

“Aku mulai menyukaimu.”

Navid menandai garis bayangan pada batu.

“Terima kasih. Aku akan mencatatnya sebagai kejadian langka.”


Ardashir datang tidak lama kemudian.

Wajahnya kurang tidur.

Sejak Roxana diketahui diawasi oleh sisa jaringan Persaudaraan Matahari, ia tidur lebih sedikit dari biasanya.

Dan ketika Ardashir kurang tidur, ia lebih banyak diam.

Itu membuatnya tampak bijaksana.

Padahal, menurut Roxana, ia hanya sedang menahan marah.

“Apa yang ditemukan?” tanya Ardashir.

Navid menunjuk puncak menara.

“Cermin utama memang digeser.”

“Itu sudah kita tahu.”

“Benar. Tetapi bukan hanya itu.”

Dastan langsung menoleh.

“Apa lagi?”

Navid membuka catatan.

“Di menara ada tiga cermin kecil. Cermin utama untuk sinyal resmi. Dua cermin kecil awalnya dipakai sebagai penyeimbang cahaya agar penjaga bisa memeriksa arah.”

“Dan sekarang?”

“Dua cermin kecil itu diubah menjadi jalur pesan bayangan.”

Ardashir mengerutkan dahi.

“Pesan bayangan?”

Navid mengambil sepotong papan, lalu menggambar sederhana.

“Cahaya yang dipantulkan cermin utama terlihat jelas. Siapa pun bisa memperhatikannya. Tetapi dua cermin kecil memantulkan cahaya ke dinding dalam menara. Dari luar tidak terlihat.”

“Lalu gunanya?”

“Bayangannya jatuh pada lubang-lubang kecil di dinding. Jika seseorang berada di tempat yang tepat, ia bisa membaca kilatan cahaya itu sebagai kode.”

Dastan memejamkan mata.

“Indah.”

Ardashir menatapnya.

“Guru, ini buruk.”

“Secara moral buruk. Secara teknik indah.”

Navid mengangguk pelan.

“Dan cukup cerdas.”

Ardashir memandang Menara Barat.

“Jadi istana bisa mengirim pesan tanpa terlihat mengirim pesan.”

“Ya.”

Dastan menatap puncak menara.

“Teknologi lama selalu punya dua wajah. Ia bisa menyelamatkan kota dari banjir, atau menyelamatkan pengkhianat dari tertangkap.”


Di ruang arsip, Artazara memeriksa daftar petugas Menara Barat.

Farrokh berdiri di sampingnya, memegang tiga gulungan sekaligus.

Ia belum sarapan.

Itu membuatnya lebih tajam, tetapi juga lebih menakutkan.

“Jumlah orang yang bisa mengakses puncak menara ada dua belas,” kata Farrokh.

“Nama?”

Farrokh membacakan satu per satu.

Sebagian penjaga.

Sebagian petugas taman.

Dua pencatat sinyal.

Satu petugas perawatan logam.

Dan satu nama yang membuat Artazara berhenti.

“Samak?”

Farrokh mengangguk.

“Anak pembawa air yang kita temukan kemarin. Ia tidak punya akses resmi, tetapi sering mengantar air untuk penjaga menara.”

Artazara menggeleng.

“Dia hanya dipakai.”

“Aku setuju.”

“Siapa yang menugaskannya?”

Farrokh membuka catatan dapur.

“Di sini mulai menarik.”

“Menarik menurutmu biasanya berarti buruk.”

“Benar.”

Ia menunjuk satu nama.

“Petugas dapur bernama Zarin. Ia yang mengatur pengiriman air ke taman barat selama dua minggu terakhir.”

Artazara membaca nama itu.

“Perempuan?”

“Ya.”

“Sudah diperiksa?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Farrokh menatapnya.

“Karena tadi pagi ia tidak hadir.”

Artazara mengangkat kepala.

“Hilang?”

“Tidak. Menurut catatan, ia dipindahkan ke gudang rempah sebelum fajar.”

“Siapa yang memindahkan?”

Farrokh meletakkan gulungan kedua di meja.

“Perintah tertulis dari kantor Vahumana.”

Nama itu membuat suasana berubah.

Vahumana.

Pejabat wilayah yang kemarin paling keras menolak keterbukaan catatan air.

Artazara menatap Farrokh.

“Apakah ini terlalu jelas?”

Farrokh mengangguk.

“Terlalu jelas untuk menjadi kebetulan. Tetapi mungkin juga terlalu jelas untuk menjadi kebenaran.”

Artazara memahami maksudnya.

Bisa jadi Vahumana memang terlibat.

Bisa juga seseorang sedang menyiapkan namanya sebagai kambing hitam.

Sejarah baru saja mengajari mereka bahwa orang paling bersalah sering berdiri di belakang orang yang tampak bersalah.


Roxana menemukan Samak di halaman belakang dapur dalam.

Anak itu duduk di dekat tempayan air, memeluk lututnya.

Ibunya, seorang perempuan kurus bernama Daria, duduk tidak jauh darinya. Wajahnya lelah, tetapi matanya terus mengawasi anaknya seperti seseorang yang baru saja hampir kehilangan dunia.

Roxana duduk di depan Samak.

“Sudah makan?”

Samak mengangguk kecil.

“Roti?”

“Ya.”

“Sup?”

“Sedikit.”

“Sedikit karena tidak lapar atau karena takut?”

Samak menunduk.

“Takut.”

Roxana tidak memaksanya menjawab cepat.

Ia mengambil kendi kecil dan menuang air ke cangkir.

“Ketika aku takut, ibuku dulu menyuruhku minum sedikit. Katanya, hati yang kering lebih mudah gemetar.”

Samak menerima cangkir itu.

Tangannya masih gemetar.

Roxana menunggu sampai ia minum.

Lalu berkata pelan, “Aku perlu bertanya sesuatu. Tetapi kau boleh berhenti kapan saja.”

Samak mengangguk.

“Orang yang menyuruhmu membawa tabung, apakah dia perempuan?”

Samak ragu.

Roxana tidak mendesak.

Akhirnya anak itu mengangguk.

“Apakah namanya Zarin?”

Samak langsung memucat.

Itu cukup sebagai jawaban.

Daria menutup mulutnya dengan tangan.

Roxana menoleh kepadanya.

“Apakah kau mengenalnya?”

Daria mengangguk pelan.

“Dia petugas dapur. Kadang memberi kami sisa tepung. Aku kira ia baik.”

“Orang yang baik tidak memakai anak kecil untuk membawa pesan rahasia,” kata Roxana lembut.

Daria menunduk.

“Apakah kami akan dihukum?”

“Tidak.”

“Tapi kalau orang-orang itu tahu Samak bicara…”

Roxana menggenggam tangan perempuan itu.

“Karena itu kita tidak akan membuatnya tampak seperti Samak bicara.”

Daria menatapnya.

“Apa maksudnya?”

Roxana tersenyum tipis.

“Kita biarkan mereka mengira Samak masih terlalu takut untuk mengatakan apa pun.”

Samak berbisik, “Aku memang takut.”

Roxana mengusap kepalanya.

“Bagus. Kali ini rasa takutmu akan membantu kita.”

Samak tampak bingung.

Roxana menambahkan, “Orang sombong sering mengira anak yang takut tidak memperhatikan apa-apa. Mereka salah.”


Menjelang siang, Navid naik ke Menara Barat bersama Dastan dan Ardashir.

Tangga di dalam menara sempit.

Dindingnya dingin.

Cahaya masuk melalui lubang-lubang kecil yang dibuat dengan jarak terukur.

Navid berhenti di salah satu lubang.

“Ini.”

Ardashir mendekat.

“Apa?”

“Lubang ini bukan bagian rancangan awal.”

Dastan meraba pinggir batu.

“Benar. Potongannya baru.”

“Berapa baru?” tanya Ardashir.

“Beberapa bulan,” jawab Navid.

Dastan menambahkan, “Dikerjakan oleh orang yang tahu batu, tetapi tidak sabar.”

Navid menunjuk garis di lantai.

“Jika cahaya cermin kecil masuk dari sana, bayangannya jatuh ke sini.”

Ia meletakkan papan kecil pada lantai.

Cahaya tipis muncul.

Terputus-putus.

Dastan menahan napas.

“Kode.”

Navid mengangguk.

“Aku belum tahu sistemnya. Tetapi pola kilatan kemarin bukan acak.”

Ardashir memandang lubang kecil itu.

“Ke mana arahnya?”

Navid menatap melalui celah.

“Gerbang pelayan timur untuk cahaya utama.”

Lalu ia bergeser ke lubang lain.

“Yang ini ke arah luar kota.”

Dastan langsung mendekat.

“Ke mana?”

Navid memicingkan mata.

“Bukit kecil di luar tembok. Ada bangunan tua di sana.”

Ardashir mengingat peta Persepolis.

“Gudang pajak lama?”

“Ya.”

Dastan bergumam, “Tempat yang sudah tidak dipakai?”

Navid menatapnya.

“Menurut catatan.”

Dastan tertawa pendek.

“Aku mulai tidak percaya kepada kalimat ‘menurut catatan’.”


Ketika mereka turun dari menara, seorang penjaga muda mendekati Ardashir.

“Tuan.”

“Ada apa?”

“Seorang petugas logam meminta izin memperbaiki cermin menara besok pagi.”

Navid langsung menoleh.

“Siapa?”

“Namanya Rashn.”

Dastan mengerutkan dahi.

“Rashn ada dalam daftar petugas perawatan?”

Ardashir bertanya, “Ia sudah datang?”

“Belum, Tuan. Tapi perintahnya sudah masuk.”

Navid memandang Dastan.

“Kalau ia memperbaiki cermin, semua bukti arah pantulan bisa hilang.”

Dastan tersenyum dingin.

“Kalau begitu kita tidak menunggu besok.”

Ardashir menatapnya.

“Apa rencanamu?”

“Rencana sederhana.”

“Biasanya rencana sederhana Guru membuat orang lain sakit kepala.”

“Bagus. Kali ini biarkan pengkhianat yang sakit kepala.”


Sore itu, mereka memasang perangkap tanpa menyebutnya perangkap.

Farrokh mengeluarkan perintah palsu yang sangat resmi:

Menara Barat akan ditutup selama dua hari untuk pemeriksaan retakan batu.

Perintah itu sengaja ditulis dalam gaya kaku Farrokh.

Terlalu kaku untuk dicurigai.

Atau justru sangat Farrokh sehingga tidak ada yang ingin membacanya dua kali.

Vardan membacanya sekali, lalu berkata, “Aku hampir retak sebelum selesai.”

Farrokh menjawab, “Berarti bahasanya efektif.”

Dengan perintah itu, siapa pun yang merasa perlu menghapus jejak akan bergerak lebih cepat.

Mereka hanya perlu menunggu.


Malam itu, Persepolis dibungkus angin dingin.

Di taman barat, lampu-lampu kecil dibiarkan menyala.

Menara tampak sepi.

Namun di balik semak delima, Ardashir berjaga bersama dua pengawal.

Dastan berada di ruang bawah menara.

Navid berada di balkon kecil dengan alat pengukur bayangan, meski malam membuat bayangan sulit dibaca.

Roxana berada di dapur dalam bersama Daria dan Samak.

Artazara dan Farrokh mengawasi dari ruang arsip kecil.

Shirin memeriksa segel pesan yang ditemukan.

Semua orang menunggu.

Menunggu sering lebih melelahkan daripada bertarung.

Karena dalam pertarungan, tubuh bergerak.

Dalam penantian, pikiranlah yang berlari.


Menjelang tengah malam, seseorang masuk ke taman.

Berjubah gelap.

Langkahnya cepat, tetapi hati-hati.

Ia tidak menuju pintu utama menara.

Melainkan ke sisi belakang.

Tempat tangga perawatan berada.

Ardashir memberi isyarat kepada pengawal untuk tetap diam.

Orang itu membuka kait kecil yang tersembunyi di balik batu.

Dastan benar.

Ada akses yang tidak tercatat.

Sosok itu naik perlahan.

Navid melihat bayangan geraknya dari balkon.

Ia memberi tanda kecil dengan lampu tertutup.

Satu kilatan rendah.

Ardashir bergerak.


Di puncak menara, sosok itu mulai membuka dudukan cermin kecil.

Tangannya terlatih.

Ia membawa kantong alat logam.

Bukan pencuri biasa.

Bukan pelayan ketakutan.

Seorang yang tahu persis apa yang harus dihapus.

Saat ia hampir melepas cermin pertama, suara Navid terdengar dari belakang.

“Kalau kau menariknya dengan sudut itu, baut bawah akan patah.”

Sosok itu membeku.

Navid berdiri beberapa langkah darinya, memegang lampu kecil.

“Kau lebih baik memutar cincin dudukannya dulu.”

Orang itu berbalik cepat.

Wajahnya tertutup kain.

Namun dari matanya terlihat ia marah.

Ia mencabut pisau pendek.

Navid tidak mundur.

Itu keberanian yang agak bodoh.

Tetapi tetap keberanian.

Sebelum orang itu menyerang, Ardashir muncul dari tangga.

“Letakkan pisaunya.”

Sosok itu menoleh.

Terlambat.

Dua pengawal muncul dari sisi lain.

Namun orang itu tidak menyerah.

Ia melempar pisau ke arah lampu Navid.

Lampu jatuh.

Gelap.

Dalam kegelapan, sosok itu melompat ke sisi luar menara.

Ardashir mengejar.

“Jangan!”

teriak Navid.

Terlambat.

Sosok itu meluncur melalui tali tipis yang sudah disiapkan dari puncak menara ke atap bangunan sebelah.

Ia telah merencanakan jalan keluar.

Ardashir berhenti di tepi menara.

Tali itu bergoyang.

Sosok gelap mendarat di atap, lalu berlari.

Namun ia tidak sepenuhnya lolos.

Karena di ujung atap, Dastan sudah menunggu.

Bukan dengan pedang.

Dengan tongkat kayu.

“Anak muda zaman sekarang terlalu suka naik turun bangunan.”

Sosok itu menyerang.

Dastan menghindar tipis.

Lalu memukul lututnya.

Keras.

Orang itu jatuh.

Ardashir dan pengawal segera menyusul.

Kain penutup wajah dibuka.

Navid yang baru turun dari menara langsung terdiam.

Ardashir mengenali wajah itu dari daftar.

Rashn.

Petugas perawatan logam.

Namun sebelum mereka sempat bertanya, Rashn menggigit sesuatu di dalam mulutnya.

Shirin yang baru tiba berteriak, “Jangan!”

Terlambat.

Rashn terbatuk.

Tubuhnya mengejang.

Ardashir menahan kepalanya.

“Apa yang kau telan?”

Rashn tidak menjawab.

Matanya memerah.

Dastan mengumpat pelan.

“Racun.”

Rashn menatap Ardashir.

Dengan sisa suara yang hampir hilang, ia berbisik:

“Bulan baru…”

Ardashir mendekat.

“Apa?”

Rashn memaksa kata terakhir keluar.

“…air akan berhenti.”

Lalu tubuhnya lemas.

Malam kembali sunyi.

Namun tidak ada lagi yang merasa sunyi itu damai.


Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul di ruang arsip.

Farrokh memandang catatan Rashn.

“Petugas logam. Tujuh tahun bekerja. Tidak pernah bermasalah.”

Artazara berkata, “Orang yang tidak pernah bermasalah sering hanya berarti belum pernah diperiksa.”

Shirin meletakkan kantong alat Rashn di meja.

Di dalamnya terdapat pahat kecil, kunci baut, benang hitam, segel lilin, dan satu lempengan tipis dengan simbol burung api yang hampir terhapus.

Dastan memegang lempengan itu.

“Sisa Persaudaraan Matahari.”

Navid tampak pucat.

Bukan karena takut pada kematian.

Tetapi karena kalimat terakhir Rashn.

“Air akan berhenti.”

Roxana yang baru tiba bersama Ardashir menatap semua orang.

“Air mana?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu besar.

Air taman?

Air tujuh wilayah?

Air desa?

Atau air yang mengalir melalui sistem baru Majelis?

Farrokh membuka peta.

“Bulan baru tinggal sembilan hari.”

Artazara berdiri.

“Kita harus tahu maksudnya sebelum itu.”

Navid menatap Menara Barat dari jendela.

“Kalau mereka memakai sinyal lama untuk mengirim pesan, mungkin mereka juga memakai jaringan air lama untuk menghentikan aliran.”

Dastan mengangguk berat.

“Dan jika mereka tahu titik mana yang harus ditutup…”

Mithren yang baru masuk dengan langkah pelan menyelesaikan kalimat itu:

“…mereka tidak perlu menyerang kerajaan.”

Semua menoleh.

Mithren tampak lelah, tetapi matanya tajam.

“Mereka cukup membuat rakyat percaya bahwa reformasi air membawa bencana.”

Keheningan jatuh.

Kini semua mengerti.

Jika air berhenti setelah Majelis Air dan Ilmu mulai bekerja, rakyat akan menyalahkan reformasi.

Mereka akan berkata:

Saat catatan dibuka, air justru hilang.

Saat ilmu dibagikan, ladang justru kering.

Saat orang kecil diberi hak bertanya, kerajaan justru kacau.

Dan sisa jaringan lama akan muncul sebagai penyelamat palsu.

Roxana memejamkan mata.

“Mereka ingin membuat rakyat takut pada keterbukaan.”

Farrokh mengangguk.

“Dan rindu pada kendali lama.”

Artazara menatap peta.

“Kalau begitu Babak berikutnya bukan tentang pesan.”

Ardashir berkata, “Tetapi tentang air.”

Navid menambahkan pelan, “Dan waktu kita tinggal sembilan hari.”


Malam semakin larut.

Namun tidak ada yang tidur.

Di luar, Menara Barat berdiri gelap setelah cermin-cerminnya dilepas untuk diperiksa.

Di bawahnya, tubuh Rashn telah dibawa pergi.

Di dapur dalam, Samak tidur gelisah di dekat ibunya.

Di taman, Ardashir dan Roxana berdiri memandang aliran air yang masih bergerak tenang.

Roxana menyentuh air itu dengan ujung jarinya.

“Air ini belum tahu bahwa ia akan dijadikan alasan untuk menakuti manusia.”

Ardashir memandangnya.

“Air hanya mengalir.”

“Manusialah yang memberi niat pada alirannya.”

Ardashir menggenggam tangannya.

“Kita akan menghentikan mereka.”

Roxana menatap saluran.

“Bukan hanya menghentikan.”

“Lalu?”

“Kita harus memastikan orang-orang mengerti apa yang terjadi. Kalau tidak, kebohongan mereka akan lebih cepat mengalir daripada air.”

Di balkon atas, Artazara berdiri bersama Navid, melihat ke arah menara yang sama.

Artazara berkata, “Kau hampir terbunuh malam ini.”

Navid tersenyum lelah.

“Aku mencatat itu sebagai pengalaman baru.”

“Jangan bercanda.”

Navid menunduk.

“Maaf.”

Artazara melunak.

“Kenapa kau tidak mundur saat ia mengeluarkan pisau?”

Navid menatap langit.

“Karena kalau aku mundur, ia bisa merusak cermin. Dan kalau cermin rusak, kita kehilangan bukti.”

“Kau mempertaruhkan nyawa untuk bukti?”

“Pencatat mempertaruhkan mata untuk tulisan. Astronom mempertaruhkan leher untuk langit. Kurasa setiap pekerjaan punya kebodohan masing-masing.”

Artazara memandangnya lama.

Lalu tanpa sadar tersenyum.

“Sebaiknya kau hidup cukup lama untuk memperbaiki kebodohan itu.”

Navid menatapnya.

“Aku akan mencoba, Putri.”

Untuk pertama kalinya, Artazara berharap ia sungguh-sungguh.


Di ruang gelap jauh di luar istana, pesan terakhir Rashn ternyata sudah sampai melalui jalur lain.

Seorang perempuan berjubah abu-abu membacanya di bawah cahaya lampu kecil.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Di hadapannya terbentang peta saluran air tujuh wilayah.

Ia menyentuh satu titik dengan jarinya.

Lalu berkata pelan kepada orang-orang di sekitarnya:

“Rashn gagal. Tapi ia memberi kita cukup waktu.”

Seseorang bertanya, “Apakah rencana bulan baru dilanjutkan?”

Perempuan itu menatap peta.

“Tentu.”

“Dan jika Artazara menemukan jalurnya?”

Perempuan itu tersenyum dingin.

“Biarkan ia menemukan sebagian. Orang cerdas paling mudah dijebak ketika ia percaya hampir memahami semuanya.”

Ia mengambil arang kecil.

Lalu memberi tanda hitam pada satu saluran utama.

“Pada malam bulan baru, air akan berhenti.”

Lampu kecil bergoyang.

Bayangan burung api tampak samar di dinding.

Tidak terang.

Tidak besar.

Tetapi masih hidup.


Akhir Bab 3

“Teknologi dapat mengirim cahaya menembus jarak.
Tetapi di tangan yang gelap, cahaya pun dapat menjadi bahasa pengkhianatan.”

➡️ Bab 4: Sembilan Hari Sebelum Air Berhenti
Kalimat terakhir Rashn membuka ancaman baru: seseorang berencana menghentikan aliran air pada malam bulan baru untuk menggagalkan Majelis Air dan Ilmu. Artazara, Navid, Farrokh, dan Dastan harus membaca ulang peta saluran lama, sementara Roxana menyadari bahwa rakyat harus diberi pemahaman sebelum ketakutan mendahului kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar