Jumat, 31 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (buku 2)



Setelah cinta menemukan rumahnya di bawah pohon delima,
Dia mengira perjalanan terberat telah selesai.

Dia keliru.

Sebab setelah dua hati bersatu,
kehidupan mulai menguji bukan lagi seberapa dalam mereka saling mencintai,
tetapi seberapa kuat mereka menjaga cinta itu
ketika dunia mengetuk pintu rumah mereka.

Kamis, 30 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (1)

 

Satu Cinta Seribu Tombak II

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 1

Rumah Baru di Dekat Saluran Air



Musim semi datang lebih awal tahun itu.

Air dari pegunungan mengalir lebih deras melalui saluran-saluran batu yang membelah ladang-ladang Persia. Pohon delima mulai dipenuhi tunas muda. Gandum yang baru tumbuh bergoyang lembut diterpa angin pagi.

Di sebuah desa kecil di selatan kerajaan, asap tipis naik dari atap rumah baru yang berdiri tidak jauh dari saluran air utama.

Rumah itu tidak besar.

Dindingnya terbuat dari batu dan tanah liat yang dipadatkan. Halamannya sederhana. Ada pohon delima muda yang baru ditanam di samping rumah, hadiah dari Bahram beberapa minggu setelah pernikahan.

"Rumah yang baik harus punya pohon yang tumbuh bersamanya," kata Bahram waktu itu.

Kini pohon kecil itu berdiri tegak di bawah sinar matahari pagi.

Dan di depan rumah itulah Ardashir sedang berjuang melawan musuh yang jauh lebih berbahaya daripada pasukan penyerbu.

Seekor kambing.

"Kembalikan itu!"

Ardashir berlari.

Kambing itu berlari lebih cepat.

Di mulutnya tergantung sepotong kain sulaman yang sedang dikerjakan Roxana sejak semalam.

"Kambing itu lagi?" seru Roxana dari pintu rumah.

"Itu bukan kambing."

"Apa bedanya?"

"Itu iblis yang menyamar."

Kambing itu meloncat melewati saluran kecil, lalu berhenti beberapa langkah, memandang Ardashir, dan mengunyah perlahan.

Seolah mengejek.

Roxana menutup mulutnya agar tidak tertawa terlalu keras.

Suaminya yang pernah menjaga pos air dan menghadapi penyerbu kini kalah oleh seekor kambing desa.

Akhirnya Ardashir berhasil merebut kembali kain sulaman itu.

Meski salah satu sudutnya sudah berubah bentuk.

Ia kembali ke rumah dengan wajah penuh kemenangan yang tidak terlalu meyakinkan.

Roxana menerima kain itu.

"Kemenangan besar hari ini?"

"Aku menyelamatkan kehormatan keluarga."

"Ya?"

"Kalau tidak, kita akan punya kambing yang memakai sulaman lebih bagus daripada pemiliknya."

Kali ini Roxana benar-benar tertawa.

Suara tawanya memenuhi halaman kecil mereka.

Dan Ardashir menyadari sesuatu.

Selama ini ia mengira kebahagiaan selalu datang dalam bentuk besar.

Kemenangan perang.

Penghargaan.

Kemuliaan.

Pengakuan.

Ternyata kebahagiaan juga bisa datang dalam bentuk yang sangat sederhana.

Tawa seorang istri di pagi hari.


Setelah sarapan, mereka berjalan menuju saluran air desa.

Hari itu adalah hari pembagian giliran air.

Di Persia, air adalah kehidupan.

Semua orang mengetahuinya.

Karena itulah sejak zaman para leluhur, orang-orang membangun qanat—saluran bawah tanah yang mengalirkan air dari pegunungan ke desa dan kota tanpa kehilangan terlalu banyak air akibat panas gurun.

Teknologi itu dianggap keajaiban.

Namun bagi petani desa, qanat bukan keajaiban.

Ia adalah roti.

Ia adalah gandum.

Ia adalah kehidupan sehari-hari.

Tetua desa sudah berdiri di dekat bak pembagi air.

Di tangannya terdapat jam air sederhana berupa mangkuk tanah liat berlubang kecil.

Mangkuk itu diletakkan di atas air.

Perlahan-lahan air masuk ke dalamnya.

Ketika penuh, mangkuk tenggelam.

Setiap tenggelam menandai satu satuan waktu pembagian air.

Tidak perlu lonceng.

Tidak perlu menara.

Tidak perlu prajurit.

Hanya tanah liat, air, dan kecerdasan manusia.

"Ardashir!" panggil tetua.

"Ya, Tetua?"

"Kau datang tepat waktu."

"Itu pujian atau tuduhan?"

Tetua menghela napas.

"Setelah menikah kau semakin mirip Vardan."

"Itu penghinaan yang cukup berat."

Tetua mengangguk setuju.

Memang berat.


Di dekat saluran utama, beberapa petani mulai berkumpul.

Di antara mereka ada Mehrdad.

Sudah hampir satu tahun sejak peristiwa lamaran dan pernikahan.

Waktu telah menyembuhkan sebagian luka.

Tidak seluruhnya.

Tetapi cukup.

Kini Mehrdad mengelola lumbung keluarga dan membantu pembagian gandum desa.

Ketika melihat Ardashir, ia mengangkat tangan.

"Bagaimana rumah baru?"

"Masih berdiri."

"Itu pencapaian yang baik."

"Mengingat aku yang membangunnya, memang iya."

Mehrdad tertawa kecil.

Hubungan mereka kini lebih tenang.

Tidak lagi dibayangi persaingan.

Karena keduanya akhirnya menerima tempat masing-masing dalam kehidupan.

Tetua membuka catatan.

"Kita mulai."

Namun sebelum pembagian air berjalan, seorang petani tua berdiri.

Wajahnya cemas.

"Tetua."

"Ada apa?"

"Air ke ladang utara berkurang."

Beberapa orang langsung saling memandang.

"Itu sudah tiga hari," kata petani lain.

"Salurannya tersumbat?"

"Tidak tahu."

"Atau ada yang mencuri air?"

Kalimat terakhir membuat suasana berubah.

Di Persia, mencuri air sama buruknya dengan mencuri gandum.

Karena akibatnya bisa merusak kehidupan banyak keluarga.

Tetua mengerutkan dahi.

"Siapa yang melihat?"

Beberapa tangan terangkat.

Ardashir memperhatikan.

Ia pernah melihat wajah-wajah seperti itu.

Bukan saat perang.

Melainkan saat masalah mulai tumbuh.

Masalah kecil.

Tetapi jika dibiarkan, bisa berubah menjadi konflik besar.


Sore harinya Ardashir berjalan bersama Roxana menuju bagian utara saluran.

Mereka ingin melihat sendiri apa yang terjadi.

Matahari mulai turun.

Ladang-ladang tampak keemasan.

Air mengalir pelan di parit batu.

Roxana membawa papan catatan kecil.

Kebiasaan yang ia pelajari dari Artazara melalui surat-surat mereka.

Ya.

Artazara dan Roxana ternyata tetap saling berkirim surat.

Bukan sebagai saingan.

Melainkan sebagai dua perempuan yang saling menghormati.

Kadang membahas pembagian air.

Kadang pendidikan anak-anak.

Kadang hanya berbagi cerita tentang kehidupan.

"Menurutmu apa yang terjadi?" tanya Roxana.

Ardashir memandang aliran air.

"Aku belum tahu."

"Kau terdengar seperti Farrokh."

"Itu pujian."

"Mungkin."

Mereka berjalan lebih jauh.

Lalu berhenti.

Karena di depan mereka terdapat sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Saluran batu yang mengarah ke ladang utara tampak sengaja diubah.

Seseorang telah membuat cabang baru.

Kecil.

Tersembunyi.

Tetapi cukup untuk mengalihkan sebagian aliran air.

Ardashir berjongkok.

Memeriksa bekasnya.

Tidak lama.

Tidak tua.

Baru beberapa hari.

Roxana ikut melihat.

"Sengaja?"

"Sangat sengaja."

"Kau yakin?"

Ardashir mengangguk.

Ia menunjuk bekas pahatan baru pada batu.

"Ini dibuat oleh tangan manusia."

Angin sore berhembus pelan.

Air tetap mengalir.

Namun kini suara aliran itu terdengar berbeda.

Seperti membawa pertanda.

Roxana memandang wajah suaminya.

"Apa yang kau pikirkan?"

Ardashir berdiri perlahan.

Tatapannya mengarah ke ladang-ladang yang membentang jauh.

"Aku pikir..."

"Apa?"

"Aku baru menikah."

"Itu benar."

"Aku berharap tahun pertama pernikahan hanya berisi pohon delima, roti hangat, dan wajah cantik."

Roxana tersenyum.

"Lalu?"

Ardashir menunjuk saluran yang diubah itu.

"Lalu seseorang mencuri air."

Mereka saling berpandangan.

Dan tanpa mereka sadari, inilah awal dari persoalan yang akan membawa mereka jauh melampaui desa kecil itu.

Karena kadang...

perang besar tidak dimulai oleh tombak.

Ia dimulai oleh setetes air yang hilang.

"Di Persia, siapa menguasai air, sering kali sedang menentukan nasib banyak manusia."

Rabu, 29 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (2)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 2



Surat dari Istana

Tiga hari setelah Ardashir menemukan saluran air yang sengaja diubah, sebuah penunggang kuda memasuki desa saat matahari baru naik setinggi tombak.

Kuda itu bukan milik desa.

Tubuhnya tinggi, ramping, dan terawat baik.

Di pelananya tergantung lambang kerajaan Persia.

Orang-orang yang sedang bekerja di ladang segera menoleh.

Beberapa anak berlari mengikuti dari kejauhan.

Tetua desa yang sedang memeriksa pembagian air menghela napas panjang.

"Kalau kurir kerajaan datang pagi-pagi, biasanya tidak membawa kabar yang membuat orang santai."

"Atau membawa pajak," kata Mehrdad.

"Itu lebih buruk."

Mehrdad mengangguk setuju.


Saat itu Ardashir sedang memperbaiki pagar kecil di belakang rumah.

Roxana sedang menulis catatan pembagian air yang diperoleh dari hasil pengamatan beberapa hari terakhir.

Mereka mulai mencoba membuat sistem pencatatan sederhana agar giliran air tidak hanya bergantung pada ingatan para tetua.

Ide yang awalnya datang dari surat Artazara.

Menurut Artazara:

"Ingatan manusia adalah harta yang berharga.

Tetapi catatan yang baik membuat keadilan tidak bergantung pada usia seseorang."

Kalimat itu disukai Roxana.

Karena itu ia mulai membuat daftar kecil.

Siapa mendapat air.

Kapan mendapat air.

Berapa lama.

Dan apakah ada keluhan.

Bagi sebagian orang itu tampak sepele.

Namun Roxana percaya:

persoalan besar sering lahir dari hal kecil yang tidak dicatat.


Suara derap kuda terdengar dari jalan utama.

Ardashir mengangkat kepala.

"Kurir."

Roxana ikut menoleh.

"Lagi?"

"Semoga bukan perang."

"Semoga bukan pajak."

Ardashir tertawa.

"Ternyata hidup berumah tangga membuat kita takut pada hal yang berbeda."


Tidak lama kemudian kurir itu tiba di depan rumah mereka.

Ia turun dari kuda dan memberi hormat.

"Ardashir bin Bahram?"

"Ya."

Kurir menyerahkan tabung kulit bersegel.

Segel biru.

Segel resmi kantor arsip dan administrasi wilayah kerajaan.

Bukan militer.

Bukan pajak.

Bukan pengadilan.

Ardashir sedikit heran.

Ia menerima tabung itu.

Di bagian bawah terdapat simbol kecil yang sangat dikenalnya.

Seekor burung yang membawa gulungan catatan.

Lambang pribadi Artazara.

Roxana melihatnya juga.

Mereka saling berpandangan.

"Surat dari kota?" tanya Roxana.

"Mungkin."

"Atau masalah."

"Itu juga mungkin."


Mereka membuka surat itu di bawah pohon delima.

Tulisan tangan Artazara tetap sama.

Rapi.

Tegas.

Sulit dipercaya ditulis oleh seseorang seusia mereka.

Ardashir mulai membaca.

Semakin jauh ia membaca, semakin serius wajahnya.

Roxana ikut memperhatikan.

"Apa isinya?"

Ardashir menyerahkan surat itu.

Roxana membacanya sendiri.


Untuk Ardashir dan Roxana,

Semoga surat ini menemukan kalian dalam keadaan sehat.

Pertama-tama, aku bersyukur mendengar bahwa kehidupan rumah tangga kalian berjalan baik dan pohon delima di rumah kalian tumbuh dengan sehat.

Farrokh berkata bahwa pohon sering kali lebih patuh daripada manusia. Aku tidak yakin itu pujian.

Kini mengenai alasan surat ini.

Dalam tiga bulan terakhir kami menemukan ketidaksesuaian pada catatan distribusi air dan gandum di beberapa wilayah selatan kerajaan.

Awalnya kami mengira ini hanya kesalahan pencatatan.

Namun jumlahnya terus bertambah.

Beberapa desa melaporkan air berkurang.

Beberapa lumbung melaporkan hasil panen yang tidak sesuai.

Dan yang lebih aneh, laporan resmi yang sampai ke kota menunjukkan semuanya normal.

Seseorang mungkin mengubah aliran air.

Seseorang mungkin mengubah catatan.

Atau keduanya.

Karena desa kalian termasuk wilayah yang mulai menunjukkan gejala tersebut, aku meminta bantuan kalian untuk mengamati keadaan dengan cermat.

Jangan bertindak tergesa-gesa.

Jangan menuduh siapa pun tanpa bukti.

Tetapi catat semua yang terlihat tidak biasa.

Farrokh menitipkan pesan:

"Masalah terbesar selalu dimulai dari orang yang mengira tidak ada yang memperhatikan."

Salam hormat,

Artazara


Roxana menurunkan surat itu perlahan.

Angin pagi berhembus ringan.

Namun suasana berubah.

Masalah kecil tentang saluran air ternyata bukan hanya terjadi di desa mereka.

Ia terjadi di berbagai tempat.

Dan kerajaan mulai menyadarinya.

"Ini tidak baik," kata Roxana.

"Tidak."

"Kalau hanya satu desa, mungkin kebetulan."

"Kalau banyak desa..."

"Berarti seseorang sedang bekerja."

Ardashir mengangguk.

Persis itu yang ia pikirkan.


Menjelang siang mereka menemui Bahram.

Ayahnya sedang membersihkan pelana tua.

Setelah mendengar isi surat, Bahram diam cukup lama.

Lalu berkata,

"Air."

"Hm?"

"Orang sering mengira emas membuat negara kuat."

"Padahal?"

"Air."

Bahram menunjuk ladang di kejauhan.

"Kalau air berhenti, gandum mati."

Ia menunjuk lumbung.

"Kalau gandum mati, lumbung kosong."

Ia menunjuk jalan kerajaan.

"Kalau lumbung kosong, jalan sepi."

Ia menunjuk rumah-rumah desa.

"Kalau jalan sepi, rumah-rumah mulai bertengkar."

Ardashir mengangguk pelan.

Bahram melanjutkan,

"Orang yang menguasai air sedang memegang leher banyak keluarga sekaligus."

Kalimat itu membuat mereka semua diam.


Sore harinya, Ardashir dan Roxana mulai melakukan sesuatu yang sederhana.

Mereka mencatat.

Setiap saluran.

Setiap pembagian.

Setiap perubahan.

Setiap keluhan.

Mereka bahkan membuat peta kecil desa.

Peta yang mengingatkan Ardashir kepada Artazara.

Ia tersenyum sendiri.

Roxana memperhatikannya.

"Apa?"

"Aku baru sadar."

"Apa?"

"Artazara berhasil membuat kita berdua menjadi pencatat."

Roxana tertawa.

"Dan Farrokh akan bangga."

"Farrokh tidak pernah terlihat bangga."

"Itu benar."


Malam turun perlahan.

Bintang-bintang mulai muncul.

Di rumah kecil mereka, lampu minyak menyala lembut.

Roxana duduk di meja kecil.

Di depannya terdapat catatan air.

Ardashir duduk di sampingnya.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, mereka bekerja bersama bukan untuk rumah.

Tetapi untuk sesuatu yang lebih besar.

Untuk desa.

Mungkin untuk kerajaan.

Roxana menatap daftar yang mereka buat.

"Aneh."

"Apa?"

"Cabang saluran yang dicuri itu."

"Ya?"

"Air yang hilang tidak banyak."

"Itu yang membuatku heran juga."

"Kalau seseorang ingin mencuri air untuk ladangnya sendiri, seharusnya lebih besar."

Ardashir mengangkat kepala.

Ia belum memikirkan itu.

Roxana melanjutkan,

"Ini terlalu kecil untuk memperkaya seseorang."

"Tapi cukup untuk mengubah catatan."

Mereka saling berpandangan.

Lalu perlahan menyadari sesuatu.

Masalahnya mungkin bukan air.

Air hanya alat.

Tujuannya mungkin sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lebih besar.


Jauh di kota Persia, pada malam yang sama, Artazara berdiri di ruang arsip kerajaan.

Di depannya terbentang peta besar wilayah selatan.

Puluhan catatan diletakkan di atas meja.

Farrokh sedang membaca laporan lain.

Sementara Vardan duduk di sudut ruangan sambil memakan kurma.

Tugas resminya adalah membantu.

Yang lebih sering terjadi adalah ia menghilangkan persediaan makanan.

"Tuan Farrokh."

"Hm?"

"Aku menemukan sesuatu."

Farrokh mengangkat kepala.

"Benarkah?"

"Ya."

"Untuk pertama kalinya dalam hidupmu?"

Vardan mengabaikannya.

Ia menunjuk peta.

"Semua desa yang melaporkan kehilangan air berada di dekat jalur perdagangan baru."

Ruangan mendadak hening.

Artazara menoleh cepat.

Farrokh berhenti membaca.

"Ulangi," katanya.

Vardan menunjuk lagi.

Satu titik.

Dua titik.

Lima titik.

Tujuh titik.

Semuanya berada dekat jalur dagang yang baru berkembang dalam dua tahun terakhir.

Artazara mendekat.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Farrokh memandang peta cukup lama.

Lalu berkata pelan,

"Kalau ini benar..."

"Apa?" tanya Vardan.

Farrokh menatap mereka.

"Masalahnya bukan sekadar air."

Api lampu minyak bergoyang.

Bayangan peta bergerak di dinding.

Dan untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat bentuk dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada pencurian air di sebuah desa.

Sesuatu yang mungkin melibatkan perdagangan.

Lumbung.

Catatan.

Dan orang-orang yang memiliki cukup kekuasaan untuk mengubah semuanya tanpa menarik perhatian.


Di bawah cahaya bulan yang sama, Ardashir dan Roxana belum mengetahui hal itu.

Mereka hanya duduk berdampingan di rumah kecil mereka.

Mendengar suara air mengalir di luar.

Air yang selama ini dianggap biasa.

Namun kini mulai memperlihatkan rahasianya.

Dan rahasia itu perlahan membuka pintu menuju petualangan baru.

Petualangan yang akan membawa mereka jauh melampaui desa.

Jauh melampaui saluran air.

Dan mungkin...

hingga ke jantung kerajaan Persia sendiri.


Akhir Bab 2

"Kadang sebuah kerajaan tidak runtuh karena serangan musuh. Kadang ia mulai retak karena catatan kecil yang sengaja diubah."

Selasa, 28 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (3)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga



Bab 3

Artazara dan Peta Baru Persia

Malam telah larut.

Namun lampu minyak di ruang arsip kerajaan masih menyala.

Di luar, kota Persia mulai tenang. Para pedagang telah menutup kios mereka. Penjaga malam mulai berpatroli di sepanjang jalan batu. Air qanat tetap mengalir di bawah tanah, membawa kehidupan kepada kota yang tertidur.

Tetapi di ruang arsip, seseorang masih bekerja.

Artazara.

Di hadapannya terbentang sebuah peta besar wilayah Persia bagian selatan.

Bukan peta perang.

Bukan peta benteng.

Melainkan peta kehidupan.

Peta yang menunjukkan desa-desa, lumbung, jalur perdagangan, sumber air, pos kurir, dan saluran qanat.

Peta yang bagi sebagian orang tampak membosankan.

Namun bagi Artazara, peta adalah cerita.

Dan malam itu cerita yang ia baca terasa tidak wajar.


"Masih belum pulang?"

Suara Farrokh terdengar dari belakang.

Artazara mengangkat kepala.

Farrokh membawa dua cangkir kecil teh hangat.

Itu peristiwa langka.

Sangat langka.

Bahkan mungkin lebih langka daripada hujan di gurun.

"Kau membuat teh?" tanya Artazara.

Farrokh menyerahkan salah satu cangkir.

"Jangan sebarkan berita ini."

"Aku akan mencatatnya di arsip."

"Itu ancaman."

Artazara tersenyum.

Mereka duduk di depan peta.

Lalu Farrokh menunjuk beberapa titik merah.

"Masih yang itu?"

Artazara mengangguk.

"Semakin banyak."

"Berapa sekarang?"

"Tiga belas desa."

Farrokh menghela napas.

"Itu bukan kebetulan lagi."

Memang bukan.

Semua desa yang mengalami ketidaksesuaian air dan gandum membentuk pola tertentu.

Pola yang tidak terlihat jika hanya melihat satu laporan.

Tetapi terlihat jelas jika semuanya digambar di atas peta.


"Perhatikan ini."

Artazara memindahkan batu penanda kecil.

"Sumber air."

Farrokh mengangguk.

"Lumbung."

Farrokh mengangguk lagi.

"Dan jalur perdagangan baru."

Kini Farrokh mulai menyipitkan mata.

Karena ia melihat sesuatu.

Semua titik masalah berada dekat jalur perdagangan yang berkembang pesat dalam dua tahun terakhir.

Sebuah jalur yang menghubungkan wilayah selatan dengan kota-kota besar Persia.

Jalur yang membawa:

gandum.

anggur.

wol.

kurma.

dan logam.

Salah satu jalur dagang paling menguntungkan di kerajaan.

Artazara berkata pelan,

"Kalau seseorang ingin mengendalikan perdagangan..."

Farrokh melanjutkan,

"...ia harus mengendalikan pasokan."

"Dan untuk mengendalikan pasokan..."

"...ia harus mengendalikan air."

Keduanya terdiam.

Untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat bentuk sebenarnya dari persoalan ini.


Di Persia, air bukan sekadar kebutuhan.

Air adalah teknologi.

Air adalah ekonomi.

Air adalah kekuasaan.

Qanat yang membentang ratusan kilometer di bawah tanah memungkinkan desa-desa hidup di wilayah yang seharusnya kering.

Sistem pembagian air yang adil memungkinkan ribuan keluarga bercocok tanam.

Tanpa air...

tidak ada panen.

Tanpa panen...

tidak ada perdagangan.

Tanpa perdagangan...

tidak ada kemakmuran.

Artinya...

orang yang mengendalikan air sedang memegang sebagian jantung kerajaan.


Pintu ruang arsip tiba-tiba terbuka.

Vardan masuk.

Membawa sekeranjang kurma.

Dan seperti biasa...

tanpa diundang.

"Aku menemukan sesuatu."

Farrokh memejamkan mata.

"Aku mulai takut setiap kali kau mengucapkan kalimat itu."

Vardan duduk.

"Ini serius."

"Itu lebih menakutkan."

Vardan mengabaikannya.

Lalu mengeluarkan gulungan kecil.

"Aku berbicara dengan beberapa kurir."

Artazara langsung tertarik.

Kurir sering mengetahui sesuatu yang tidak tercatat.

Mereka mendengar percakapan.

Mereka melihat perjalanan.

Mereka memperhatikan hal-hal kecil.

Vardan membuka catatan.

"Beberapa pedagang besar mulai membeli gandum jauh di bawah harga pasar."

Artazara mengangkat kepala.

"Kapan?"

"Dua tahun terakhir."

Farrokh diam.

Vardan melanjutkan.

"Dan anehnya..."

"Apa?"

"Mereka selalu membeli di wilayah yang kemudian mengalami masalah air."

Ruangan menjadi sunyi.

Sangat sunyi.


Artazara berdiri.

Lalu berjalan ke peta.

Tangannya bergerak cepat.

Menambahkan tanda baru.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Ketika selesai, wajahnya berubah.

Farrokh ikut berdiri.

Dan bahkan Vardan berhenti makan.

Di depan mereka kini muncul pola yang sangat jelas.

Terlalu jelas.

Seolah seseorang sedang menggambar jalan secara perlahan.

"Ini bukan pencurian air," bisik Artazara.

Farrokh mengangguk.

"Bukan."

"Ini bukan kesalahan pencatatan."

"Bukan."

Artazara menatap kedua sahabatnya.

Lalu berkata perlahan,

"Ini operasi yang direncanakan."


Jauh di selatan...

Ardashir belum mengetahui semua itu.

Ia hanya tahu satu hal.

Seseorang telah mengubah saluran air.

Dan malam itu ia memutuskan untuk kembali ke lokasi.

Sendirian.

Roxana sebenarnya tidak setuju.

"Sebaiknya besok saja."

"Aku hanya ingin melihat."

"Dalam gelap?"

"Aku lebih mudah melihat orang yang tidak ingin dilihat."

Roxana menghela napas.

"Kalimat itu terdengar pintar."

"Memang."

"Itu sebabnya aku curiga."

Ardashir tertawa kecil.

Lalu mencium kening istrinya sebelum berangkat.

Sebuah kebiasaan baru yang masih membuat Roxana tersipu.

Meski mereka sudah menikah.


Bulan hampir penuh.

Cahaya keperakannya menerangi ladang.

Angin malam bergerak pelan.

Ardashir berjalan mengikuti saluran air menuju lokasi yang mereka temukan beberapa hari sebelumnya.

Ia tidak membawa banyak perlengkapan.

Hanya:

pisau pendek.

tongkat.

dan lampu kecil yang tertutup kain.

Ia bergerak hati-hati.

Seperti saat patroli.

Seperti saat menjaga pos air.

Hanya saja kali ini musuhnya tidak jelas.


Ia tiba di lokasi.

Semuanya tampak normal.

Air mengalir.

Rumput bergerak.

Jangkrik bernyanyi.

Namun sesuatu membuatnya berhenti.

Bekas kaki.

Baru.

Sangat baru.

Ardashir berjongkok.

Menyentuh tanah.

Belum lama.

Mungkin beberapa jam.

Ia mengikuti jejak itu.

Perlahan.

Sampai akhirnya jejak mengarah ke balik semak-semak.

Di sana...

ia menemukan sesuatu.

Bukan emas.

Bukan senjata.

Melainkan alat ukur.

Sebuah alat ukur air.

Terbuat dari kayu dan logam.

Presisi.

Mahal.

Dan bukan milik petani biasa.

Ardashir memandang benda itu lama.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Karena ia mengenali kualitas pembuatannya.

Alat seperti itu biasanya digunakan oleh:

insinyur kerajaan.

pengawas irigasi.

atau pedagang besar.

Bukan pencuri desa.


Tiba-tiba...

terdengar suara ranting patah.

Krek.

Ardashir berbalik.

Cepat.

Seseorang ada di sana.

Di balik bayangan pohon.

Tidak jauh.

Sangat dekat.

Bayangan itu menyadari dirinya terlihat.

Lalu berlari.

Cepat.

Ardashir langsung mengejar.

Melewati semak.

Melompati parit.

Menyusuri ladang.

Sosok itu mengenal medan.

Ia bergerak cepat.

Terlalu cepat untuk orang biasa.

Ardashir hampir berhasil mendekat.

Namun tepat sebelum menangkapnya...

sosok itu melempar sesuatu.

Segenggam pasir.

Ardashir menutup mata.

Sesaat saja.

Dan ketika matanya terbuka kembali...

orang itu sudah hilang.

Lenyap dalam kegelapan malam.


Ardashir berdiri terengah-engah.

Kesal.

Tetapi juga semakin yakin.

Ini bukan pekerjaan petani.

Bukan pekerjaan pencuri biasa.

Seseorang sedang menjalankan sesuatu yang besar.

Dan orang itu memiliki pengetahuan.

Peralatan.

Dan bantuan.


Ketika kembali ke rumah menjelang tengah malam, Roxana masih terjaga.

Menunggu.

Seperti dulu.

Namun kali ini bukan sebagai gadis yang menunggu kekasih.

Melainkan sebagai istri yang menunggu suaminya pulang.

"Aku tahu kau akan kembali malam."

kata Roxana.

"Aku juga."

"Dan?"

Ardashir meletakkan alat ukur air di atas meja.

Roxana membelalakkan mata.

"Apa itu?"

"Masalah."

"Itu bukan nama benda."

"Tapi mungkin nama yang tepat."

Roxana duduk.

Mereka menatap alat itu bersama.

Lalu Ardashir menceritakan semuanya.

Jejak kaki.

Alat ukur.

Sosok misterius.

Pengejaran.

Pelarian.

Ketika cerita selesai...

Roxana diam cukup lama.

Lalu berkata pelan,

"Kalau orang itu menggunakan alat seperti ini..."

"Ya."

"Berarti ia memahami sistem air."

"Ya."

"Dan kalau ia memahami sistem air..."

Roxana memandang suaminya.

"Berarti ia mungkin bagian dari orang-orang yang seharusnya menjaga sistem itu."

Ardashir terdiam.

Karena itulah kesimpulan yang juga mulai muncul dalam pikirannya.

Dan kesimpulan itu jauh lebih mengkhawatirkan daripada pencuri biasa.


Di kota Persia...

pada malam yang sama...

Artazara baru saja selesai menggambar garis terakhir pada peta.

Sebuah garis yang menghubungkan semua desa bermasalah.

Ia menatap hasilnya lama.

Farrokh ikut melihat.

Vardan ikut melihat.

Lalu perlahan wajah mereka berubah.

Karena garis-garis itu membentuk arah yang sama.

Menuju satu wilayah.

Satu pusat perdagangan.

Satu nama.

Yang sangat berpengaruh di kerajaan.

Artazara membaca nama itu perlahan.

Dan untuk pertama kalinya...

ia merasa bahwa penyelidikan ini mungkin akan menyentuh orang-orang yang jauh lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan.


Akhir Bab 3

"Ada musuh yang datang dengan pedang di tangan. Ada pula musuh yang datang membawa catatan, ukuran, dan angka. Yang kedua sering kali lebih sulit dikenali."

Senin, 27 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (4)


Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 4





Pedagang Gandum dari Persepolis

Fajar baru saja menyentuh puncak pegunungan ketika Artazara menatap nama itu untuk ketiga kalinya.

Nama yang muncul di atas peta.

Nama yang muncul di laporan perdagangan.

Nama yang muncul di catatan lumbung.

Nama yang muncul di jalur distribusi gandum.

Nama yang muncul terlalu sering.

Terlalu rapi.

Terlalu sempurna.

Dan karena itulah...

terlalu mencurigakan.


"Apakah kau yakin?"

Farrokh berdiri di samping meja.

Artazara mengangguk perlahan.

"Aku berharap tidak."

"Tapi?"

"Tapi semua jalur mengarah kepadanya."

Farrokh melihat lagi.

Nama itu tertulis jelas:

Nabarz dari Persepolis.


Nabarz bukan pejabat.

Bukan jenderal.

Bukan bangsawan.

Ia seorang pedagang.

Namun bukan pedagang biasa.

Di seluruh Persia, hampir semua orang mengenalnya.

Karavan-karavannya membawa gandum ke kota besar.

Membawa kurma dari selatan.

Membawa wol dari pegunungan.

Membawa logam dari timur.

Bahkan beberapa proyek kerajaan menggunakan perusahaannya.

Ia kaya.

Sangat kaya.

Tetapi juga terkenal dermawan.

Ia membangun sumur.

Menyumbang kuil.

Membantu korban kekeringan.

Membiayai sekolah penulis muda.

Orang-orang menyukainya.

Itulah yang membuat Artazara tidak nyaman.


Farrokh menghela napas.

"Kalau ini benar..."

"Kita tidak punya bukti."

"Belum."

"Dan tanpa bukti kita tidak boleh menuduh."

Farrokh mengangguk.

"Itu sebabnya kita masih hidup."

Vardan yang sedang makan kurma mengangkat tangan.

"Aku punya pertanyaan."

Farrokh memejamkan mata.

"Tentu saja kau punya."

"Kalau dia sudah kaya..."

"Ya?"

"Kenapa masih ingin lebih kaya?"

Ruangan hening.

Artazara dan Farrokh saling berpandangan.

Lalu Farrokh menjawab pelan.

"Karena ada orang yang menggunakan kekayaan untuk hidup."

Ia berhenti.

"Dan ada orang yang hidup untuk menumpuk kekayaan."


Jauh di selatan...

Ardashir juga sedang memikirkan sesuatu yang mirip.

Alat ukur air yang ditemukan malam sebelumnya kini berada di atas meja rumahnya.

Matahari pagi masuk melalui jendela kecil.

Roxana sedang memeriksanya.

"Ini bukan buatan desa."

"Tidak."

"Juga bukan buatan tukang biasa."

"Tidak."

Roxana menunjuk sebuah tanda kecil.

Sangat kecil.

Hampir tidak terlihat.

Di bagian bawah logam.

Ardashir mendekat.

Lalu matanya membesar.

Karena simbol itu bukan simbol pengairan.

Bukan simbol kerajaan.

Melainkan simbol perdagangan.

Seekor unta kecil dengan matahari di belakangnya.

Lambang yang dikenal hampir seluruh Persia.

Lambang Karavan Nabarz.


Untuk beberapa saat...

tidak ada yang berbicara.

Angin pagi masuk melalui jendela.

Burung-burung bernyanyi.

Namun suasana rumah berubah.

Karena kini mereka memiliki nama.

Dan nama itu sama dengan yang sedang dilihat Artazara di kota.

Meski mereka belum mengetahuinya.


"Aneh."

kata Roxana.

"Sangat."

"Kenapa alat ukur milik perusahaan dagang berada di saluran air desa?"

Ardashir tidak menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu besar.


Siang harinya ia menemui Mehrdad.

Mereka berjalan ke lumbung desa.

Bangunan besar dari batu yang menyimpan hasil panen warga.

Udara di dalamnya sejuk.

Teknologi penyimpanan Persia memang luar biasa.

Dinding dibuat tebal.

Lubang ventilasi ditempatkan khusus.

Suhu bisa dijaga lebih stabil.

Sehingga gandum bertahan lama.

Mehrdad sedang memeriksa karung-karung panen.

Ketika melihat Ardashir datang, ia langsung tahu ada sesuatu.

"Ada masalah?"

"Selalu."

"Itu jawaban yang buruk."

"Tapi jujur."


Ardashir menunjukkan simbol pada alat ukur.

Mehrdad langsung mengenalinya.

"Tentu aku tahu ini."

"Kenapa?"

"Karena sebagian besar gandum desa kita dijual melalui agen Nabarz."

Ardashir membeku.

"Apa?"

Mehrdad mengangguk.

"Bukan hanya desa kita."

Ia menunjuk catatan.

"Empat desa sekitar juga."

Ardashir merasakan sesuatu mulai menyatu.

Potongan-potongan kecil.

Yang perlahan membentuk gambar besar.


Sore itu...

kejutan lain datang.

Lebih besar.

Lebih mengkhawatirkan.

Dan kali ini datang dari seseorang yang tidak mereka duga.


Seorang pria tua tiba di desa.

Sendirian.

Mengendarai keledai kecil.

Pakaiannya sederhana.

Jubah abu-abu.

Tongkat kayu.

Debu perjalanan menempel di sandalnya.

Tidak ada yang memperhatikannya.

Awalnya.

Sampai Bahram melihat wajahnya.

Lalu hampir menjatuhkan ember yang dibawanya.

"Mustahil."

Pria tua itu tersenyum.

"Sudah lama, Bahram."

Bahram mendekat.

Benar-benar tidak percaya.

"Guru Dastan?"


Ardashir yang mendengar namanya langsung keluar dari rumah.

Dan benar.

Itu Dastan.

Insinyur tua kerajaan.

Orang yang dulu mengajarinya tentang air.

Tentang qanat.

Tentang kehidupan.

Tentang cara melihat dunia melalui aliran sungai.

Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.


Dastan duduk di bawah pohon delima.

Minum air.

Beristirahat.

Lalu memandang alat ukur yang ditemukan Ardashir.

Wajahnya berubah.

Seketika.

Untuk pertama kalinya.

Ardashir melihat ketakutan di mata gurunya.


"Di mana kau menemukan ini?"

suara Dastan terdengar serius.

"Sekitar saluran utara."

Dastan memegang alat itu lama.

Sangat lama.

Lalu berkata pelan.

"Tidak mungkin."

"Apa?"

"Alat ini tidak boleh berada di luar kantor pengairan kerajaan."

Roxana dan Ardashir saling berpandangan.

"Apa maksudnya?"

Dastan mengangkat kepala.

"Karena alat ini..."

Ia berhenti.

Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"...dirancang untuk proyek rahasia kerajaan."

Keheningan jatuh.

Bahkan burung-burung seolah berhenti bernyanyi.


"Rahasia kerajaan?"

ulang Ardashir.

Dastan mengangguk.

"Beberapa tahun lalu kami mengembangkan sistem pengukuran baru."

"Untuk apa?"

"Untuk menghitung kehilangan air secara presisi."

Roxana menyipitkan mata.

"Lalu?"

Dastan menatap alat itu.

"Jumlahnya sangat sedikit."

"Berapa?"

"Kurang dari lima puluh."

"Di seluruh Persia?"

"Ya."

Kini suasana benar-benar berubah.

Karena itu berarti...

seseorang yang memiliki akses terhadap proyek kerajaan...

terlibat.


Malam itu...

Dastan tidak bisa tidur.

Artazara tidak bisa tidur.

Farrokh tidak bisa tidur.

Bahkan Vardan tidak banyak bicara.

Yang merupakan tanda keadaan sangat serius.


Karena untuk pertama kalinya...

mereka mulai melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada pencurian air.

Bukan tentang desa.

Bukan tentang gandum.

Bukan tentang perdagangan.

Melainkan kemungkinan bahwa seseorang di dalam sistem kerajaan sendiri...

sedang membantu semuanya terjadi.


Dan jauh di Persepolis...

di sebuah rumah besar yang menghadap taman penuh mawar dan saluran air indah...

seorang pria paruh baya menerima laporan dari seorang pelayan.

"Alat pengukur itu hilang."

Pria itu diam.

Lalu meletakkan cangkir anggurnya.

"Di mana?"

"Wilayah selatan."

Pria itu memandang kolam air di depannya.

Permukaan air tenang.

Sangat tenang.

Sama seperti wajahnya.

Namun justru itulah yang membuatnya menakutkan.

"Aku mengerti."

katanya pelan.

Kemudian ia berdiri.

Berjalan menuju jendela.

Dan memandang ke arah selatan.

Ke arah desa tempat Ardashir tinggal.


Untuk pertama kalinya...

musuh mereka mulai mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang mengikuti jejaknya.


Akhir Bab 4

"Ada rahasia yang tersembunyi di bawah tanah seperti qanat.

Semakin dekat seseorang kepada sumbernya,

semakin besar bahaya yang menunggunya."

Minggu, 26 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (5)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 5



Rahasia Lima Puluh Alat

Pagi itu desa terbangun lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena panen.

Bukan karena pembagian air.

Bukan pula karena datangnya musim baru.

Melainkan karena berita yang menyebar dari rumah ke rumah lebih cepat daripada suara ayam jantan.

Guru Dastan datang ke desa.

Bagi generasi muda, nama itu mungkin hanya terdengar seperti seorang insinyur tua.

Namun bagi orang-orang yang lebih tua, Dastan adalah legenda hidup.

Ia termasuk orang yang ikut merancang qanat besar yang menghidupi banyak wilayah Persia.

Ia pernah memimpin pembangunan bendungan batu di daerah pegunungan.

Ia pernah mengajar para pengawas air kerajaan.

Dan yang paling penting...

ia dikenal sebagai orang yang tidak pernah menjual ilmunya demi kekuasaan.

Karena itulah ketika Dastan terlihat duduk di bawah pohon delima milik Ardashir, banyak warga diam-diam memperhatikannya.


Dastan sendiri tampak jauh lebih tua daripada yang diingat Ardashir.

Rambutnya hampir seluruhnya putih.

Tangannya mulai bergetar ketika memegang cangkir.

Namun matanya...

masih sama.

Mata seorang lelaki yang sepanjang hidupnya terbiasa memperhatikan hal-hal yang tidak diperhatikan orang lain.

Ia sedang memeriksa alat ukur air yang ditemukan Ardashir.

Lama sekali.

Seolah sedang berbicara dengan benda itu.

Akhirnya ia mengangkat kepala.

"Berapa banyak orang yang tahu tentang alat ini?"

"Selain kami?" tanya Roxana.

Dastan mengangguk.

"Belum ada."

"Bagus."

Ardashir memperhatikan wajah gurunya.

"Apa sebenarnya alat ini?"

Dastan menarik napas panjang.

Lalu berkata,

"Ini adalah salah satu dari lima puluh alat yang seharusnya tidak pernah keluar dari proyek kerajaan."


Roxana menuangkan teh.

Bahram ikut duduk.

Bahkan tetua desa datang setelah mendengar percakapan mereka.

Semua ingin tahu.

Dastan memandang alat itu lagi.

"Beberapa tahun lalu..."

katanya pelan,

"...kerajaan mulai menghadapi masalah yang tidak terlihat."

"Masalah apa?"

"Kehilangan air."


Semua orang mengerutkan dahi.

Dastan melanjutkan.

"Air tidak hilang sekaligus."

"Melainkan?"

"Sedikit demi sedikit."

Ia mengambil ranting kecil.

Lalu menggambar garis di tanah.

"Jika sebuah desa kehilangan satu kendi air sehari, tidak ada yang peduli."

Ia menambahkan garis kedua.

"Jika seratus desa kehilangan satu kendi sehari..."

Ia berhenti.

"...kerajaan kehilangan sungai."

Keheningan turun.

Karena semua orang memahami logikanya.


Dastan menjelaskan bahwa proyek rahasia itu dibuat untuk mengukur kehilangan air secara presisi.

Teknologi Persia saat itu sudah jauh lebih maju daripada yang dibayangkan banyak orang.

Para insinyur mampu menghitung kemiringan tanah.

Mengukur debit air.

Menghitung kehilangan aliran.

Bahkan memperkirakan jumlah air yang hilang dalam perjalanan panjang qanat.

Untuk itulah lima puluh alat khusus dibuat.

Dan hanya digunakan oleh pengawas tingkat tinggi.


"Siapa yang memiliki akses?"

tanya Roxana.

Dastan menjawab tanpa ragu.

"Pengawas kerajaan."

"Insinyur utama."

"Beberapa administrator wilayah."

Ia berhenti.

Lalu menambahkan.

"Dan orang-orang yang berhasil mencurinya."


Tetua desa mengelus jenggotnya.

"Itu berarti..."

"Ya."

kata Dastan.

"Orang yang bermain dengan air ini bukan orang sembarangan."


Malam itu, setelah para warga pulang, Dastan tinggal bersama keluarga Ardashir.

Mereka makan malam sederhana.

Sup gandum.

Roti hangat.

Kurma.

Keju kambing.

Dan tentu saja...

kambing yang pernah mencuri sulaman Roxana masih berkeliaran di sekitar halaman.

Vardan pasti akan menyukainya.

Untung ia tidak ada di sana.


Setelah makan malam, Dastan membuka sebuah kantong kulit tua.

Dari dalamnya ia mengeluarkan beberapa gulungan peta.

Peta yang sudah menguning karena usia.

Ardashir langsung mengenalinya.

Peta saluran air kerajaan.


"Ini yang membuatku datang ke sini."

kata Dastan.

Ia membentangkan peta.

Lalu menunjuk beberapa titik.

"Perhatikan."

Ardashir mendekat.

Roxana juga.

Bahram ikut melihat.

Semakin lama mereka memperhatikan...

semakin jelas sesuatu yang aneh.

Semua wilayah yang bermasalah berada pada jalur yang sama.

Seolah seseorang sedang mengikuti rute tertentu.


"Tidak mungkin."

gumam Ardashir.

Dastan mengangguk.

"Itulah yang kukatakan ketika pertama kali melihatnya."

"Ini bukan acak."

"Tidak."

"Ini direncanakan."

"Ya."


Lalu Dastan menunjukkan sesuatu yang membuat mereka semakin terkejut.

Semua wilayah bermasalah berada di dekat proyek pembangunan baru.

Gudang.

Pos dagang.

Pasar.

Lumbung besar.

Tempat penyimpanan barang.

Jalur karavan.


Bahram menyipitkan mata.

"Artinya..."

Dastan menjawab.

"Seseorang menggunakan infrastruktur perdagangan."


Roxana tiba-tiba berkata,

"Seperti yang ditemukan Artazara."

Semua menoleh.

Roxana mengambil surat terakhir dari Artazara.

Kemudian membandingkan catatannya dengan peta Dastan.

Hasilnya sama.

Persis sama.


Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Karena mereka menyadari sesuatu.

Sangat jelas.

Dan sangat mengkhawatirkan.


Mereka tidak sedang menghadapi pencuri air.

Mereka tidak sedang menghadapi pedagang curang.

Mereka sedang menghadapi jaringan.


Di kota Persia...

malam yang sama...

Artazara sedang bekerja ketika seorang penjaga memasuki ruang arsip.

"Wanita Artazara."

"Ada apa?"

"Seorang utusan datang."

"Dari mana?"

"Persepolis."

Farrokh yang sedang membaca langsung mengangkat kepala.

"Itu cepat."

Artazara mengangguk.

Terlalu cepat.

Seolah seseorang mengetahui mereka sedang menyelidiki sesuatu.


Utusan itu masuk.

Pakaiannya rapi.

Mahal.

Sikapnya sopan.

Terlalu sopan.

Ia membawa kotak kecil dari kayu cedar.

Di dalamnya terdapat hadiah.

Kain terbaik.

Kurma pilihan.

Dan surat resmi.


Artazara membuka surat itu.

Membacanya perlahan.

Semakin lama wajahnya semakin dingin.

Farrokh memperhatikan.

"Apa isinya?"

Artazara menyerahkan surat itu.

Farrokh membaca.

Lalu tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena marah.


Surat itu berasal dari...

Nabarz.


Isinya ramah.

Sangat ramah.

Terlalu ramah.

Ia menawarkan bantuan.

Data perdagangan.

Akses gudang.

Dukungan transportasi.

Dan segala sesuatu yang mungkin diperlukan.


Farrokh meletakkan surat itu.

"Ini bukan bantuan."

"Tidak."

kata Artazara.

"Ini pesan."


"Apa pesannya?"

tanya Vardan yang baru masuk.

Farrokh menjawab pelan.

"Dia ingin kita tahu bahwa dia tahu."


Keheningan memenuhi ruangan.

Karena semua orang memahami artinya.


Orang yang mereka curigai...

sudah mulai memperhatikan mereka.


Jauh di selatan...

Ardashir belum mengetahui surat itu.

Namun malam itu ia terbangun karena suara langkah kuda.

Pelan.

Sangat pelan.

Di luar rumah.

Tengah malam.


Ardashir segera bangun.

Tangannya meraih pisau pendek.

Ia membuka pintu perlahan.

Malam sunyi.

Bulan menggantung tinggi.

Angin bergerak lembut.

Namun seseorang memang ada di sana.


Di dekat pohon delima.


Sosok itu mengenakan jubah gelap.

Wajahnya tertutup.

Dan sebelum Ardashir sempat bergerak...

orang itu melemparkan sebuah benda kecil ke tanah.

Lalu berlari menuju kegelapan.


Ardashir mengejar.

Tetapi seperti kejadian sebelumnya...

orang itu menghilang.

Seolah menelan malam.


Ketika kembali ke pohon delima...

ia menemukan benda yang dilemparkan.

Sebuah segel tanah liat.

Kecil.

Pecah sebagian.

Namun masih menyisakan lambang yang bisa dikenali.


Seekor unta.

Dan matahari.


Lambang Karavan Nabarz.


Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu.

Di bagian belakang segel itu terdapat satu kalimat yang tergores tipis.

Bukan ancaman.

Bukan peringatan.

Hanya tiga kata.

Namun membuat darah Ardashir terasa dingin.


"Berhentilah sebelum terlambat."


Ardashir berdiri di bawah cahaya bulan.

Menggenggam segel itu.

Dan untuk pertama kalinya...

mereka bukan lagi pemburu rahasia.

Rahasia itu kini mulai memburu mereka.


Akhir Bab 5

"Ketika musuh mulai mengirim pesan, itu berarti ia tidak lagi menganggapmu kebetulan."

Sabtu, 25 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (6)

 


Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 6



Utusan yang Terlalu Ramah

Keesokan pagi setelah ditemukannya segel bertuliskan:

"Berhentilah sebelum terlambat."

desa tampak sama seperti biasanya.

Matahari terbit.

Air mengalir.

Anak-anak berlari di dekat saluran.

Perempuan-perempuan menjemur gandum.

Petani memeriksa ladang.

Namun bagi Ardashir, Roxana, dan Dastan...

tidak ada lagi yang terasa biasa.

Karena kini mereka tahu satu hal.

Seseorang sedang memperhatikan mereka.


"Aku tidak suka ancaman."

kata Roxana sambil menuangkan teh.

Ardashir tersenyum.

"Aku juga."

"Apalagi ancaman yang ditulis dengan sopan."

"Itu lebih buruk."

Dastan mengangguk.

"Seseorang yang mengancam dengan sopan biasanya terbiasa memberi perintah."

Mereka terdiam.

Karena kalimat itu terasa benar.


Menjelang siang, suara lonceng kecil terdengar dari jalan utama.

Tetua desa keluar dari balai.

Mehrdad menghentikan pekerjaannya.

Beberapa petani berdiri.

Karena dari arah selatan datang rombongan kecil.

Empat penunggang kuda.

Dua kereta.

Dan beberapa pelayan.

Bukan pasukan.

Bukan kurir kerajaan.

Tetapi jelas orang kaya.

Sangat kaya.


Vardan pasti akan langsung menyukai salah satu kereta itu.

Karena ukurannya cukup besar untuk membawa makanan bagi satu desa.


Di bagian depan rombongan berdiri seorang pria berpakaian sangat rapi.

Jubah biru tua.

Ikat pinggang kulit terbaik.

Sandal mahal.

Janggut yang dipangkas sempurna.

Dan senyum yang terlalu sempurna.


"Namaku Armin."

katanya sambil membungkuk sopan.

"Aku datang mewakili Karavan Nabarz."

Keheningan turun.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup untuk membuat Ardashir dan Dastan saling berpandangan.


Musuh ternyata bergerak lebih cepat daripada dugaan mereka.


Armin tersenyum hangat.

"Jangan khawatir."

Ia membuka kedua tangan.

"Kami datang sebagai sahabat."

Tetua desa menjawab datar.

"Biasanya orang yang mengatakan itu sedang menjual sesuatu."

Beberapa warga menahan senyum.


Namun Armin tidak tersinggung.

Justru tertawa.

"Itu sebabnya aku menyukai desa. Orang-orangnya jujur."


Ardashir mulai tidak menyukai pria ini.

Bukan karena kasar.

Justru sebaliknya.

Terlalu halus.

Terlalu tenang.

Terlalu pandai berbicara.


Rombongan kemudian membuka gulungan besar.

Peta.

Rancangan.

Perhitungan.

Gambar teknik.


Kini perhatian seluruh warga tertarik.

Karena apa yang mereka lihat memang mengesankan.


"Kami ingin membantu desa ini."

kata Armin.

"Dengan apa?"

tanya Mehrdad.

"Dengan kemakmuran."

Jawaban itu membuat Vardan pasti akan bertepuk tangan.

Sayangnya Vardan tidak ada di sana.


Armin menunjuk gambar.

"Kami ingin membangun saluran air baru."

Warga mulai berbisik.

Ia menunjuk gambar lain.

"Lumbung baru."

Bisik-bisik makin ramai.

"Ladang perluasan."

Lebih ramai lagi.

"Pasar mingguan."

Kini hampir semua orang tertarik.


Karena tawaran itu memang luar biasa.

Sangat luar biasa.


Armin melanjutkan.

"Karavan Nabarz bersedia membiayai semuanya."


Tetua menyipitkan mata.

"Gratis?"

Armin tersenyum.

"Tidak ada yang benar-benar gratis."

Akhirnya ada jawaban yang jujur.


"Kami hanya meminta hak distribusi hasil panen selama lima tahun."

katanya.

Warga mulai menghitung-hitung dalam pikiran mereka.

Sebagian tampak tergoda.


Dan memang masuk akal.

Saluran baru berarti lebih banyak air.

Lebih banyak air berarti lebih banyak panen.

Lebih banyak panen berarti lebih banyak uang.


Secara teori.


Sore itu balai desa penuh.

Semua orang membicarakan tawaran tersebut.

Ada yang setuju.

Ada yang ragu.

Ada yang sangat antusias.


Mehrdad termasuk yang berhati-hati.

"Tawaran ini terlalu besar."

katanya.

Salah seorang petani menjawab.

"Justru karena besar kita harus menerimanya."

"Tidak selalu."


Petani lain menyela.

"Kita membutuhkan saluran baru."

"Itu benar."

"Lalu apa masalahnya?"

Mehrdad diam sesaat.

Karena masalahnya memang sulit dijelaskan.

Kadang intuisi melihat sesuatu lebih cepat daripada logika.


Di bawah pohon delima, Ardashir, Roxana, Dastan, dan Bahram berkumpul.

Mereka mengamati dari jauh.


"Apa pendapatmu?"

tanya Roxana kepada Dastan.

Insinyur tua itu memandang gambar rancangan yang dibawa Armin.

Lama sekali.

Terlalu lama.


Kemudian ia berkata pelan.

"Rancangannya bagus."

Semua terkejut.


"Bukankah itu buruk?"

tanya Ardashir.

"Justru itu yang membuatku khawatir."

jawab Dastan.


"Maksudmu?"


Dastan menunjuk saluran baru pada gambar.

"Siapa pun yang membuat ini sangat ahli."

Ia menunjuk lagi.

"Kemiringannya tepat."

"Perhitungannya bagus."

"Pembagian airnya masuk akal."


Lalu ia menatap Ardashir.

"Itulah masalahnya."


Semua diam.


Dastan melanjutkan.

"Kalau rancangannya buruk, kita tahu mereka bodoh."

"Kalau rancangannya bagus?"

"Berarti mereka benar-benar memahami sistem air."


Dan sekali lagi mereka kembali pada kesimpulan yang sama.

Orang-orang ini bukan penipu biasa.

Mereka memahami sesuatu yang seharusnya hanya dipahami oleh para ahli.


Malam harinya...

Armin menginap di rumah tamu desa.

Sebelum tidur ia menerima kunjungan salah satu pengawalnya.

"Bagaimana?"

tanya pengawal itu.

Armin menuangkan anggur.

"Mereka mulai terbelah."

"Sesuai rencana?"

"Ya."


Pengawal itu tersenyum.

"Kita akan berhasil?"

Armin memandang api lampu minyak.

"Semua orang memiliki harga."

katanya pelan.

"Beberapa dibeli dengan uang."

"Beberapa dengan ketakutan."

"Beberapa dengan harapan."


Ia menyesap minumannya.

"Tugas kita hanya menemukan yang mana."


Namun di luar rumah tamu...

seseorang mendengar sebagian percakapan itu.


Seseorang yang tidak seharusnya berada di sana.


Seekor kambing.


Kambing yang sama.


Kambing itu berdiri di dekat jendela.

Mengunyah daun.

Sama sekali tidak memahami konspirasi tingkat kerajaan.


Lalu seseorang lain muncul.

Ardashir.


Ia sebenarnya sedang mencari kambing itu.

Karena kambing tersebut kembali mencuri sesuatu dari halaman rumahnya.

Kali ini sepotong roti.


Namun ketika mendekati rumah tamu...

ia mendengar suara-suara.


Tidak jelas.

Tidak lengkap.

Tetapi cukup untuk menangkap satu kalimat.


"Mereka mulai terbelah."


Ardashir berhenti.

Jantungnya berdetak lebih cepat.


Karena ia tahu.

Kalimat itu tidak diucapkan oleh orang yang ingin membantu desa.


Dan saat ia mundur perlahan ke balik bayangan...

ia melihat sesuatu yang membuatnya semakin curiga.


Di atas meja rumah tamu.

Terlihat gulungan peta lain.

Bukan peta desa.


Peta wilayah selatan Persia.


Dengan beberapa desa yang telah diberi tanda merah.


Dan desa mereka...

adalah salah satunya.


Malam itu Ardashir kembali ke rumah.

Roxana masih terjaga.

Seperti biasa.


"Ada sesuatu?"

tanya Roxana.


Ardashir duduk.

Lalu berkata pelan.


"Aku mulai mengerti permainan mereka."


"Apa?"


"Mereka tidak ingin mencuri air."


"Lalu?"


"Mereka ingin membuat desa-desa bergantung pada mereka."


Keheningan turun.

Karena itu jauh lebih berbahaya.


Air bisa dicuri sekali.

Tetapi ketergantungan...

bisa mengikat sebuah desa selama puluhan tahun.


Dan jauh di kota Persia...

Artazara baru saja menerima laporan baru dari wilayah lain.


Ia membaca laporan itu.

Lalu perlahan wajahnya berubah pucat.


Karena nama yang muncul kali ini bukan pedagang.

Bukan pengawas air.

Bukan pemilik karavan.


Melainkan seorang pejabat kerajaan.


Seseorang yang selama ini dipercaya menjaga distribusi air wilayah selatan.


Artazara memandang Farrokh.


"Kita punya masalah yang jauh lebih besar."


Farrokh membaca nama itu.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...

wajahnya benar-benar berubah.


Akhir Bab 6

"Korupsi yang paling berbahaya bukan ketika seseorang mencuri kekayaan negara.

Tetapi ketika ia membuat rakyat perlahan-lahan bergantung kepadanya."