Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 2
Surat dari Istana
Tiga hari setelah Ardashir menemukan saluran air yang sengaja diubah, sebuah penunggang kuda memasuki desa saat matahari baru naik setinggi tombak.
Kuda itu bukan milik desa.
Tubuhnya tinggi, ramping, dan terawat baik.
Di pelananya tergantung lambang kerajaan Persia.
Orang-orang yang sedang bekerja di ladang segera menoleh.
Beberapa anak berlari mengikuti dari kejauhan.
Tetua desa yang sedang memeriksa pembagian air menghela napas panjang.
"Kalau kurir kerajaan datang pagi-pagi, biasanya tidak membawa kabar yang membuat orang santai."
"Atau membawa pajak," kata Mehrdad.
"Itu lebih buruk."
Mehrdad mengangguk setuju.
Saat itu Ardashir sedang memperbaiki pagar kecil di belakang rumah.
Roxana sedang menulis catatan pembagian air yang diperoleh dari hasil pengamatan beberapa hari terakhir.
Mereka mulai mencoba membuat sistem pencatatan sederhana agar giliran air tidak hanya bergantung pada ingatan para tetua.
Ide yang awalnya datang dari surat Artazara.
Menurut Artazara:
"Ingatan manusia adalah harta yang berharga.
Tetapi catatan yang baik membuat keadilan tidak bergantung pada usia seseorang."
Kalimat itu disukai Roxana.
Karena itu ia mulai membuat daftar kecil.
Siapa mendapat air.
Kapan mendapat air.
Berapa lama.
Dan apakah ada keluhan.
Bagi sebagian orang itu tampak sepele.
Namun Roxana percaya:
persoalan besar sering lahir dari hal kecil yang tidak dicatat.
Suara derap kuda terdengar dari jalan utama.
Ardashir mengangkat kepala.
"Kurir."
Roxana ikut menoleh.
"Lagi?"
"Semoga bukan perang."
"Semoga bukan pajak."
Ardashir tertawa.
"Ternyata hidup berumah tangga membuat kita takut pada hal yang berbeda."
Tidak lama kemudian kurir itu tiba di depan rumah mereka.
Ia turun dari kuda dan memberi hormat.
"Ardashir bin Bahram?"
"Ya."
Kurir menyerahkan tabung kulit bersegel.
Segel biru.
Segel resmi kantor arsip dan administrasi wilayah kerajaan.
Bukan militer.
Bukan pajak.
Bukan pengadilan.
Ardashir sedikit heran.
Ia menerima tabung itu.
Di bagian bawah terdapat simbol kecil yang sangat dikenalnya.
Seekor burung yang membawa gulungan catatan.
Lambang pribadi Artazara.
Roxana melihatnya juga.
Mereka saling berpandangan.
"Surat dari kota?" tanya Roxana.
"Mungkin."
"Atau masalah."
"Itu juga mungkin."
Mereka membuka surat itu di bawah pohon delima.
Tulisan tangan Artazara tetap sama.
Rapi.
Tegas.
Sulit dipercaya ditulis oleh seseorang seusia mereka.
Ardashir mulai membaca.
Semakin jauh ia membaca, semakin serius wajahnya.
Roxana ikut memperhatikan.
"Apa isinya?"
Ardashir menyerahkan surat itu.
Roxana membacanya sendiri.
Untuk Ardashir dan Roxana,
Semoga surat ini menemukan kalian dalam keadaan sehat.
Pertama-tama, aku bersyukur mendengar bahwa kehidupan rumah tangga kalian berjalan baik dan pohon delima di rumah kalian tumbuh dengan sehat.
Farrokh berkata bahwa pohon sering kali lebih patuh daripada manusia. Aku tidak yakin itu pujian.
Kini mengenai alasan surat ini.
Dalam tiga bulan terakhir kami menemukan ketidaksesuaian pada catatan distribusi air dan gandum di beberapa wilayah selatan kerajaan.
Awalnya kami mengira ini hanya kesalahan pencatatan.
Namun jumlahnya terus bertambah.
Beberapa desa melaporkan air berkurang.
Beberapa lumbung melaporkan hasil panen yang tidak sesuai.
Dan yang lebih aneh, laporan resmi yang sampai ke kota menunjukkan semuanya normal.
Seseorang mungkin mengubah aliran air.
Seseorang mungkin mengubah catatan.
Atau keduanya.
Karena desa kalian termasuk wilayah yang mulai menunjukkan gejala tersebut, aku meminta bantuan kalian untuk mengamati keadaan dengan cermat.
Jangan bertindak tergesa-gesa.
Jangan menuduh siapa pun tanpa bukti.
Tetapi catat semua yang terlihat tidak biasa.
Farrokh menitipkan pesan:
"Masalah terbesar selalu dimulai dari orang yang mengira tidak ada yang memperhatikan."
Salam hormat,
Artazara
Roxana menurunkan surat itu perlahan.
Angin pagi berhembus ringan.
Namun suasana berubah.
Masalah kecil tentang saluran air ternyata bukan hanya terjadi di desa mereka.
Ia terjadi di berbagai tempat.
Dan kerajaan mulai menyadarinya.
"Ini tidak baik," kata Roxana.
"Tidak."
"Kalau hanya satu desa, mungkin kebetulan."
"Kalau banyak desa..."
"Berarti seseorang sedang bekerja."
Ardashir mengangguk.
Persis itu yang ia pikirkan.
Menjelang siang mereka menemui Bahram.
Ayahnya sedang membersihkan pelana tua.
Setelah mendengar isi surat, Bahram diam cukup lama.
Lalu berkata,
"Air."
"Hm?"
"Orang sering mengira emas membuat negara kuat."
"Padahal?"
"Air."
Bahram menunjuk ladang di kejauhan.
"Kalau air berhenti, gandum mati."
Ia menunjuk lumbung.
"Kalau gandum mati, lumbung kosong."
Ia menunjuk jalan kerajaan.
"Kalau lumbung kosong, jalan sepi."
Ia menunjuk rumah-rumah desa.
"Kalau jalan sepi, rumah-rumah mulai bertengkar."
Ardashir mengangguk pelan.
Bahram melanjutkan,
"Orang yang menguasai air sedang memegang leher banyak keluarga sekaligus."
Kalimat itu membuat mereka semua diam.
Sore harinya, Ardashir dan Roxana mulai melakukan sesuatu yang sederhana.
Mereka mencatat.
Setiap saluran.
Setiap pembagian.
Setiap perubahan.
Setiap keluhan.
Mereka bahkan membuat peta kecil desa.
Peta yang mengingatkan Ardashir kepada Artazara.
Ia tersenyum sendiri.
Roxana memperhatikannya.
"Apa?"
"Aku baru sadar."
"Apa?"
"Artazara berhasil membuat kita berdua menjadi pencatat."
Roxana tertawa.
"Dan Farrokh akan bangga."
"Farrokh tidak pernah terlihat bangga."
"Itu benar."
Malam turun perlahan.
Bintang-bintang mulai muncul.
Di rumah kecil mereka, lampu minyak menyala lembut.
Roxana duduk di meja kecil.
Di depannya terdapat catatan air.
Ardashir duduk di sampingnya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, mereka bekerja bersama bukan untuk rumah.
Tetapi untuk sesuatu yang lebih besar.
Untuk desa.
Mungkin untuk kerajaan.
Roxana menatap daftar yang mereka buat.
"Aneh."
"Apa?"
"Cabang saluran yang dicuri itu."
"Ya?"
"Air yang hilang tidak banyak."
"Itu yang membuatku heran juga."
"Kalau seseorang ingin mencuri air untuk ladangnya sendiri, seharusnya lebih besar."
Ardashir mengangkat kepala.
Ia belum memikirkan itu.
Roxana melanjutkan,
"Ini terlalu kecil untuk memperkaya seseorang."
"Tapi cukup untuk mengubah catatan."
Mereka saling berpandangan.
Lalu perlahan menyadari sesuatu.
Masalahnya mungkin bukan air.
Air hanya alat.
Tujuannya mungkin sesuatu yang lain.
Sesuatu yang lebih besar.
Jauh di kota Persia, pada malam yang sama, Artazara berdiri di ruang arsip kerajaan.
Di depannya terbentang peta besar wilayah selatan.
Puluhan catatan diletakkan di atas meja.
Farrokh sedang membaca laporan lain.
Sementara Vardan duduk di sudut ruangan sambil memakan kurma.
Tugas resminya adalah membantu.
Yang lebih sering terjadi adalah ia menghilangkan persediaan makanan.
"Tuan Farrokh."
"Hm?"
"Aku menemukan sesuatu."
Farrokh mengangkat kepala.
"Benarkah?"
"Ya."
"Untuk pertama kalinya dalam hidupmu?"
Vardan mengabaikannya.
Ia menunjuk peta.
"Semua desa yang melaporkan kehilangan air berada di dekat jalur perdagangan baru."
Ruangan mendadak hening.
Artazara menoleh cepat.
Farrokh berhenti membaca.
"Ulangi," katanya.
Vardan menunjuk lagi.
Satu titik.
Dua titik.
Lima titik.
Tujuh titik.
Semuanya berada dekat jalur dagang yang baru berkembang dalam dua tahun terakhir.
Artazara mendekat.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Farrokh memandang peta cukup lama.
Lalu berkata pelan,
"Kalau ini benar..."
"Apa?" tanya Vardan.
Farrokh menatap mereka.
"Masalahnya bukan sekadar air."
Api lampu minyak bergoyang.
Bayangan peta bergerak di dinding.
Dan untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat bentuk dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada pencurian air di sebuah desa.
Sesuatu yang mungkin melibatkan perdagangan.
Lumbung.
Catatan.
Dan orang-orang yang memiliki cukup kekuasaan untuk mengubah semuanya tanpa menarik perhatian.
Di bawah cahaya bulan yang sama, Ardashir dan Roxana belum mengetahui hal itu.
Mereka hanya duduk berdampingan di rumah kecil mereka.
Mendengar suara air mengalir di luar.
Air yang selama ini dianggap biasa.
Namun kini mulai memperlihatkan rahasianya.
Dan rahasia itu perlahan membuka pintu menuju petualangan baru.
Petualangan yang akan membawa mereka jauh melampaui desa.
Jauh melampaui saluran air.
Dan mungkin...
hingga ke jantung kerajaan Persia sendiri.
Akhir Bab 2
"Kadang sebuah kerajaan tidak runtuh karena serangan musuh. Kadang ia mulai retak karena catatan kecil yang sengaja diubah."