Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 14
Bayangan Arshan Sang Pembangun
Tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa saat.
Lampu minyak bergetar pelan.
Bayangan mereka bergerak di dinding batu ruang rahasia bawah tanah.
Di atas meja tergeletak gulungan tua yang telah mengubah cara mereka memandang sejarah.
Dan di bagian paling bawah gulungan itu tertulis nama:
Arshan Sang Pembangun.
Nama itu bukan nama biasa.
Di Persia, hampir setiap pelajar mengenalnya.
Para insinyur mempelajari rancangan-rancangannya.
Para petani menghormati jasanya.
Para pejabat menyebutnya sebagai pelopor sistem pengairan kerajaan.
Bahkan beberapa kota memiliki patung dirinya.
Ardashir masih menatap nama itu.
Sulit mempercayainya.
"Ini pasti keliru."
katanya akhirnya.
Parnak menghela napas panjang.
"Dulu aku juga berharap begitu."
"Apakah Guru yakin?"
tanya Dastan.
Parnak mengangguk perlahan.
"Sangat yakin."
Lalu ia membuka gulungan lain.
Lebih tua.
Lebih rapuh.
Lebih berbahaya.
Catatan yang Tidak Pernah Masuk Arsip
Tulisan tangan pada gulungan itu berbeda.
Lebih tua.
Lebih tegas.
Parnak menunjuk bagian atas.
"Itu tulisan Arshan sendiri."
Dastan mendekat.
Matanya membesar.
"Ini asli."
"Tentu asli."
Parnak tersenyum tipis.
"Karena aku mencurinya."
Shirin hampir tersedak.
"Kau mencuri catatan kerajaan?"
"Bukan."
Parnak menggeleng.
"Aku menyelamatkan sejarah."
Untuk pertama kalinya Mithren tertawa.
Meski bahunya masih terluka.
Sebuah Gagasan yang Mulia
Mereka mulai membaca.
Pada awalnya tulisan Arshan sangat indah.
Ia bermimpi membangun Persia yang tidak lagi bergantung pada musim.
Ia ingin air mencapai wilayah kering.
Ia ingin panen stabil.
Ia ingin rakyat hidup lebih baik.
Ardashir mengangguk.
"Itu terdengar baik."
"Memang baik."
jawab Parnak.
"Masalahnya bukan pada awalnya."
"Melainkan?"
"Pada apa yang terjadi setelah ia menyadari kekuatan yang dimilikinya."
Keheningan turun.
Saat Ilmu Bertemu Kekuasaan
Parnak mengambil model miniatur Persia Selatan.
Kemudian memutar salah satu roda kecil.
Air miniatur mulai berpindah.
Satu desa menerima lebih banyak air.
Desa lain menerima lebih sedikit.
Sangat sederhana.
Namun dampaknya besar.
"Bayangkan."
kata Parnak.
"Kau bisa membuat satu desa panen melimpah."
Ia memindahkan katup.
"Dan membuat desa lain gagal panen."
Ia memindahkan katup lagi.
"Tanpa seorang pun menyadari bahwa itu disengaja."
Ardashir merasakan sesuatu yang dingin menjalar dalam pikirannya.
Karena kini ia mulai memahami.
Air.
Bukan hanya kehidupan.
Air adalah kekuasaan.
Warisan yang Berubah
Parnak berjalan menuju rak tua.
Di sana terdapat puluhan buku.
Catatan generasi demi generasi.
"Awalnya Arshan ingin mengendalikan sistem."
"Lalu?"
"Pengikutnya ingin mengendalikan perdagangan."
"Lalu?"
"Generasi berikutnya ingin mengendalikan pejabat."
"Lalu?"
Parnak tersenyum pahit.
"Seperti semua hal dalam sejarah."
"Kebaikan perlahan berubah menjadi keserakahan."
Mithren menatap catatan itu.
"Dan Arvash?"
Parnak menghela napas.
"Arvash lahir jauh setelah Arshan mati."
"Jadi?"
"Dia hanya pewaris."
Kata-kata itu terasa mengganggu.
Karena selama ini mereka mengira sedang memburu dalang.
Ternyata mereka baru menemukan salah satu mata rantai.
Di Desa
Pada saat yang sama...
Roxana sedang menghadapi ancaman yang berbeda.
Armin mulai kehilangan dukungan.
Semakin banyak warga melihat bukti.
Semakin banyak warga mulai curiga.
Namun Armin bukan orang bodoh.
Ia mengubah strategi.
Tidak lagi menawarkan bantuan.
Kini ia menawarkan ketakutan.
"Jika Karavan Nabarz pergi..."
katanya kepada warga.
"Siapa yang akan membeli hasil panen kalian?"
Beberapa orang mulai ragu.
"Jika jalur perdagangan ditutup..."
"Siapa yang akan mengangkut gandum kalian?"
Keraguan mulai tumbuh.
Roxana memperhatikan semuanya.
Lalu perlahan menyadari sesuatu.
Mereka tidak hanya sedang menghadapi infiltrasi.
Mereka sedang menghadapi ketergantungan.
Istana
Di kota Persia...
Artazara juga menemukan hal yang sama.
Farrokh membawa laporan perdagangan.
Puluhan halaman.
Dan satu fakta yang mengganggu.
"Hampir semua jalur besar."
katanya.
"Dikendalikan oleh jaringan yang sama."
Artazara membaca.
Kurma.
Gandum.
Anggur.
Wol.
Logam.
Semuanya.
"Kalau mereka mengendalikan air..."
gumamnya.
"Dan juga perdagangan..."
Farrokh mengangguk.
"Mereka tidak membutuhkan tentara."
Keheningan turun.
Karena mereka mulai memahami ancaman sebenarnya.
Sebuah Peta yang Tidak Lengkap
Kembali ke ruang bawah tanah.
Parnak membuka peti terakhir.
Peti yang selama ini tidak pernah disentuh.
Kuncinya sudah berkarat.
Dastan membantu membukanya.
Krek.
Tutup kayu perlahan terangkat.
Di dalamnya terdapat satu gulungan besar.
Sangat besar.
Jauh lebih besar daripada peta-peta sebelumnya.
Parnak menatapnya lama.
Seolah sedang memandang masa lalu.
Kemudian membentangkannya.
Ardashir langsung berdiri.
Shirin membelalakkan mata.
Bahkan Mithren kehilangan kata-kata.
Karena itu bukan peta Persia Selatan.
Bukan peta perdagangan.
Bukan peta air.
Melainkan...
peta seluruh jaringan rahasia.
Setengah abad.
Puluhan kota.
Ratusan titik.
Jalur air.
Jalur perdagangan.
Lumbung.
Pos kurir.
Dan di bagian tengah...
terdapat satu simbol besar.
Bukan lambang Arvash.
Bukan lambang Nabarz.
Bukan lambang kerajaan.
Melainkan simbol yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Seekor burung api.
Sayap terbuka.
Melingkari matahari.
Ardashir menatap simbol itu.
"Apa ini?"
Parnak menjawab perlahan.
"Nama yang tidak pernah muncul dalam catatan resmi."
"Disebut apa?"
Parnak menatap mereka satu per satu.
Kemudian berkata:
"Persaudaraan Matahari."
Lampu minyak bergoyang pelan.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai...
mereka menyadari bahwa yang mereka hadapi bukan sekadar jaringan korupsi.
Bukan sekadar bangsawan.
Bukan sekadar pedagang.
Melainkan organisasi rahasia yang telah hidup selama beberapa generasi.
Dan Lord Arvash...
mungkin hanya salah satu anggotanya.
Akhir Bab 14
"Musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang bersembunyi.
Melainkan mereka yang berhasil hidup begitu lama hingga dianggap bagian dari dunia yang normal."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar