Minggu, 12 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (19)


Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 19



Nama di Dekat Takhta

Malam turun perlahan di lembah rahasia Persaudaraan Matahari.

Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan di dalam perpustakaan.

Cahayanya hangat.

Tenang.

Damai.

Namun tidak seorang pun di ruangan itu merasa tenang.

Di atas meja batu terbentang dokumen yang baru ditemukan.

Daftar pengaruh.

Lima puluh tahun catatan.

Puluhan pejabat.

Puluhan bangsawan.

Puluhan pengambil keputusan.

Dan satu nama yang membuat semua orang terdiam.

Nama itu berada sangat dekat dengan takhta Persia.

Terlalu dekat.

Ardashir membaca ulang.

Kemudian membaca lagi.

Ia berharap dirinya salah.

Namun tulisan itu tetap sama.

Tidak berubah.

Mithren menatap meja.

Wajahnya pucat.

"Kalau ini benar..."

Tidak ada yang menyelesaikan kalimat itu.

Karena semua tahu akibatnya.


Kebenaran yang Sulit Diterima

Shirin memecah keheningan.

"Apakah kita yakin dokumen ini asli?"

Pertanyaan yang masuk akal.

Sangat masuk akal.

Karena terkadang kebohongan yang baik tampak lebih meyakinkan daripada kebenaran.

Dastan memeriksa segel.

Memeriksa tinta.

Memeriksa jenis papirus.

Kemudian menghela napas.

"Aku berharap ini palsu."

"Lalu?"

"Tetapi tidak."

Ruangan kembali sunyi.


Teknologi Arsip Persia

Untuk memastikan dokumen itu asli, mereka memeriksa sistem pencatatan.

Salah satu keunggulan para pencatat Persia adalah metode verifikasi berlapis.

Setiap dokumen penting memiliki:

  • salinan utama,
  • salinan wilayah,
  • catatan pengiriman,
  • dan kode penulis.

Mirip sistem audit pada masa modern.

Dan semakin mereka memeriksa...

Semakin jelas bahwa dokumen tersebut memang asli.

Tidak ada pemalsuan.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada manipulasi.

Yang ada hanyalah kenyataan yang tidak ingin mereka lihat.


Sebuah Nama

Akhirnya Ardashir bertanya.

"Apakah kita akan menyebut namanya?"

Mithren menatap lampu minyak.

Lama.

Kemudian mengangguk.

"Kita harus."

Ardashir membuka halaman terakhir.

Dan membaca.


Orontes.


Penasehat Senior Kerajaan.

Sahabat dekat tiga generasi raja.

Orang yang dihormati.

Orang yang terkenal bijaksana.

Orang yang selama ini dianggap penjaga stabilitas kerajaan.

Shirin hampir tidak percaya.

"Mustahil."

Mithren mengangguk.

"Itulah yang membuatnya berbahaya."


Di Persepolis

Pada saat yang sama...

Orontes sedang berjalan di taman istana.

Usianya sudah lanjut.

Rambutnya memutih.

Namun langkahnya masih tenang.

Banyak orang menghormatinya.

Para pejabat menunduk ketika berpapasan.

Para prajurit memberi salam.

Bahkan beberapa pangeran muda sering meminta nasihatnya.

Tidak ada seorang pun yang melihat ancaman pada dirinya.

Dan mungkin itulah kekuatan terbesar yang dimilikinya.


Elang Timur Bergerak

Di pegunungan.

Empat pemburu masih mengawasi lembah.

Pemimpin mereka mengeluarkan peta.

Bukan peta jalan.

Melainkan peta aliran air.

Salah satu keahlian Elang Timur adalah mempelajari sumber kehidupan sebuah tempat.

Karena setiap manusia membutuhkan:

  • air,
  • makanan,
  • dan jalan keluar.

Jika ketiga hal itu diketahui...

Maka manusia dapat ditemukan.

Ia menunjuk salah satu kanal.

"Di sini."

Salah satu anggota mengangguk.

"Mereka akan menggunakan jalur itu."

Pemimpin Elang Timur tersenyum.

"Karena itu kita menunggu."


Roxana

Jauh di desa.

Karavan besar akhirnya tiba.

Puluhan unta.

Puluhan kereta.

Puluhan pekerja.

Dan di tengah rombongan itu terdapat panji besar.

Burung api yang mengelilingi matahari.

Untuk pertama kalinya simbol Persaudaraan Matahari muncul secara terbuka.

Warga desa mulai gelisah.

Sebagian takut.

Sebagian marah.

Sebagian ingin melawan.

Namun Roxana berdiri di depan mereka.

Tenang.

Seperti biasanya.

"Jangan membuat keputusan saat marah."

"Kenapa?"

teriak salah satu pemuda.

"Karena itulah yang mereka inginkan."

Keheningan turun.

Dan sekali lagi...

Roxana menyelamatkan desa dari perpecahan.

Bukan dengan kekuatan.

Tetapi dengan kebijaksanaan.


Surat yang Hilang

Kembali di lembah.

Saat memeriksa arsip lain...

Shirin menemukan sesuatu yang lebih aneh.

Sebuah ruang rahasia kecil.

Tersembunyi di belakang rak.

Di dalamnya hanya terdapat satu kotak.

Ketika dibuka...

isinya bukan dokumen.

Melainkan surat-surat yang tidak pernah dikirim.

Puluhan surat.

Dari berbagai orang.

Dari berbagai daerah.

Semuanya berisi laporan.

Peringatan.

Keluhan.

Dan bukti penyimpangan.

Namun tidak pernah sampai ke tujuan.

Mithren perlahan memahami.

"Jadi bukan hanya air."

"Apa?"

tanya Ardashir.

"Mereka juga mengendalikan informasi."

Shirin membaca salah satu surat.

Tanggalnya dua puluh tahun lalu.

Isi surat itu memperingatkan tentang manipulasi distribusi gandum.

Namun surat itu tidak pernah tiba.

Dastan menghela napas panjang.

"Berapa banyak keputusan buruk terjadi karena kebenaran tidak pernah sampai?"

Tidak ada yang menjawab.

Karena tidak ada yang tahu.


Pesan Arshan

Menjelang tengah malam.

Ardashir menemukan gulungan kecil terselip di antara arsip.

Tulisan tangan Arshan.

Namun berbeda dari surat sebelumnya.

Lebih singkat.

Lebih pribadi.

Ia membacanya perlahan.


Jika engkau membaca ini,

maka kemungkinan aku telah gagal.

Jangan hancurkan lembah ini.

Jangan hancurkan ilmunya.

Hancurkan keserakahan yang menumpang di dalamnya.

Pengetahuan tidak pernah menjadi musuh manusia.

Kesombongan manusialah yang menjadikannya demikian.


Tidak ada yang berbicara.

Karena untuk pertama kalinya mereka benar-benar memahami tragedi Arshan.

Ia membangun sesuatu yang indah.

Lalu menyaksikan sebagian muridnya mengubahnya menjadi alat kekuasaan.


Menjelang Fajar

Di luar perpustakaan.

Angin pegunungan bertiup dingin.

Ardashir berdiri memandang langit.

Di sampingnya Dastan.

"Kau memikirkan sesuatu."

kata Dastan.

"Aku memikirkan Roxana."

Dastan tersenyum.

"Itu pertanda baik."

"Kenapa semua orang selalu mengatakan itu?"

"Karena orang yang masih memikirkan rumah biasanya belum kehilangan dirinya."

Ardashir tertawa kecil.

Namun tawa itu berhenti ketika ia melihat sesuatu.

Jauh di lereng utara.

Sangat jauh.

Namun cukup jelas.

Titik-titik cahaya.

Bukan bintang.

Bukan obor penjaga.

Melainkan sinyal.

Sinyal cahaya.

Teknologi komunikasi yang sama yang pernah mereka lihat sebelumnya.

Dan sinyal itu bergerak dari satu menara ke menara lain.

Menyebar.

Cepat.

Sangat cepat.

Dastan memandangnya.

Lalu wajahnya berubah.

"Itu berita."

"Berita apa?"

Dastan menelan ludah.

"Bahwa lembah ini telah ditemukan."

Keheningan turun.

Karena kini mereka tahu.

Musuh tidak lagi mencari mereka.

Musuh sudah tahu persis di mana mereka berada.


Akhir Bab 19

"Ada saat ketika mencari kebenaran adalah perjalanan.

Dan ada saat ketika kebenaran menemukanmu terlebih dahulu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar