Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 4
Pedagang Gandum dari Persepolis
Fajar baru saja menyentuh puncak pegunungan ketika Artazara menatap nama itu untuk ketiga kalinya.
Nama yang muncul di atas peta.
Nama yang muncul di laporan perdagangan.
Nama yang muncul di catatan lumbung.
Nama yang muncul di jalur distribusi gandum.
Nama yang muncul terlalu sering.
Terlalu rapi.
Terlalu sempurna.
Dan karena itulah...
terlalu mencurigakan.
"Apakah kau yakin?"
Farrokh berdiri di samping meja.
Artazara mengangguk perlahan.
"Aku berharap tidak."
"Tapi?"
"Tapi semua jalur mengarah kepadanya."
Farrokh melihat lagi.
Nama itu tertulis jelas:
Nabarz dari Persepolis.
Nabarz bukan pejabat.
Bukan jenderal.
Bukan bangsawan.
Ia seorang pedagang.
Namun bukan pedagang biasa.
Di seluruh Persia, hampir semua orang mengenalnya.
Karavan-karavannya membawa gandum ke kota besar.
Membawa kurma dari selatan.
Membawa wol dari pegunungan.
Membawa logam dari timur.
Bahkan beberapa proyek kerajaan menggunakan perusahaannya.
Ia kaya.
Sangat kaya.
Tetapi juga terkenal dermawan.
Ia membangun sumur.
Menyumbang kuil.
Membantu korban kekeringan.
Membiayai sekolah penulis muda.
Orang-orang menyukainya.
Itulah yang membuat Artazara tidak nyaman.
Farrokh menghela napas.
"Kalau ini benar..."
"Kita tidak punya bukti."
"Belum."
"Dan tanpa bukti kita tidak boleh menuduh."
Farrokh mengangguk.
"Itu sebabnya kita masih hidup."
Vardan yang sedang makan kurma mengangkat tangan.
"Aku punya pertanyaan."
Farrokh memejamkan mata.
"Tentu saja kau punya."
"Kalau dia sudah kaya..."
"Ya?"
"Kenapa masih ingin lebih kaya?"
Ruangan hening.
Artazara dan Farrokh saling berpandangan.
Lalu Farrokh menjawab pelan.
"Karena ada orang yang menggunakan kekayaan untuk hidup."
Ia berhenti.
"Dan ada orang yang hidup untuk menumpuk kekayaan."
Jauh di selatan...
Ardashir juga sedang memikirkan sesuatu yang mirip.
Alat ukur air yang ditemukan malam sebelumnya kini berada di atas meja rumahnya.
Matahari pagi masuk melalui jendela kecil.
Roxana sedang memeriksanya.
"Ini bukan buatan desa."
"Tidak."
"Juga bukan buatan tukang biasa."
"Tidak."
Roxana menunjuk sebuah tanda kecil.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Di bagian bawah logam.
Ardashir mendekat.
Lalu matanya membesar.
Karena simbol itu bukan simbol pengairan.
Bukan simbol kerajaan.
Melainkan simbol perdagangan.
Seekor unta kecil dengan matahari di belakangnya.
Lambang yang dikenal hampir seluruh Persia.
Lambang Karavan Nabarz.
Untuk beberapa saat...
tidak ada yang berbicara.
Angin pagi masuk melalui jendela.
Burung-burung bernyanyi.
Namun suasana rumah berubah.
Karena kini mereka memiliki nama.
Dan nama itu sama dengan yang sedang dilihat Artazara di kota.
Meski mereka belum mengetahuinya.
"Aneh."
kata Roxana.
"Sangat."
"Kenapa alat ukur milik perusahaan dagang berada di saluran air desa?"
Ardashir tidak menjawab.
Karena pertanyaan itu terlalu besar.
Siang harinya ia menemui Mehrdad.
Mereka berjalan ke lumbung desa.
Bangunan besar dari batu yang menyimpan hasil panen warga.
Udara di dalamnya sejuk.
Teknologi penyimpanan Persia memang luar biasa.
Dinding dibuat tebal.
Lubang ventilasi ditempatkan khusus.
Suhu bisa dijaga lebih stabil.
Sehingga gandum bertahan lama.
Mehrdad sedang memeriksa karung-karung panen.
Ketika melihat Ardashir datang, ia langsung tahu ada sesuatu.
"Ada masalah?"
"Selalu."
"Itu jawaban yang buruk."
"Tapi jujur."
Ardashir menunjukkan simbol pada alat ukur.
Mehrdad langsung mengenalinya.
"Tentu aku tahu ini."
"Kenapa?"
"Karena sebagian besar gandum desa kita dijual melalui agen Nabarz."
Ardashir membeku.
"Apa?"
Mehrdad mengangguk.
"Bukan hanya desa kita."
Ia menunjuk catatan.
"Empat desa sekitar juga."
Ardashir merasakan sesuatu mulai menyatu.
Potongan-potongan kecil.
Yang perlahan membentuk gambar besar.
Sore itu...
kejutan lain datang.
Lebih besar.
Lebih mengkhawatirkan.
Dan kali ini datang dari seseorang yang tidak mereka duga.
Seorang pria tua tiba di desa.
Sendirian.
Mengendarai keledai kecil.
Pakaiannya sederhana.
Jubah abu-abu.
Tongkat kayu.
Debu perjalanan menempel di sandalnya.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Awalnya.
Sampai Bahram melihat wajahnya.
Lalu hampir menjatuhkan ember yang dibawanya.
"Mustahil."
Pria tua itu tersenyum.
"Sudah lama, Bahram."
Bahram mendekat.
Benar-benar tidak percaya.
"Guru Dastan?"
Ardashir yang mendengar namanya langsung keluar dari rumah.
Dan benar.
Itu Dastan.
Insinyur tua kerajaan.
Orang yang dulu mengajarinya tentang air.
Tentang qanat.
Tentang kehidupan.
Tentang cara melihat dunia melalui aliran sungai.
Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.
Dastan duduk di bawah pohon delima.
Minum air.
Beristirahat.
Lalu memandang alat ukur yang ditemukan Ardashir.
Wajahnya berubah.
Seketika.
Untuk pertama kalinya.
Ardashir melihat ketakutan di mata gurunya.
"Di mana kau menemukan ini?"
suara Dastan terdengar serius.
"Sekitar saluran utara."
Dastan memegang alat itu lama.
Sangat lama.
Lalu berkata pelan.
"Tidak mungkin."
"Apa?"
"Alat ini tidak boleh berada di luar kantor pengairan kerajaan."
Roxana dan Ardashir saling berpandangan.
"Apa maksudnya?"
Dastan mengangkat kepala.
"Karena alat ini..."
Ia berhenti.
Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
"...dirancang untuk proyek rahasia kerajaan."
Keheningan jatuh.
Bahkan burung-burung seolah berhenti bernyanyi.
"Rahasia kerajaan?"
ulang Ardashir.
Dastan mengangguk.
"Beberapa tahun lalu kami mengembangkan sistem pengukuran baru."
"Untuk apa?"
"Untuk menghitung kehilangan air secara presisi."
Roxana menyipitkan mata.
"Lalu?"
Dastan menatap alat itu.
"Jumlahnya sangat sedikit."
"Berapa?"
"Kurang dari lima puluh."
"Di seluruh Persia?"
"Ya."
Kini suasana benar-benar berubah.
Karena itu berarti...
seseorang yang memiliki akses terhadap proyek kerajaan...
terlibat.
Malam itu...
Dastan tidak bisa tidur.
Artazara tidak bisa tidur.
Farrokh tidak bisa tidur.
Bahkan Vardan tidak banyak bicara.
Yang merupakan tanda keadaan sangat serius.
Karena untuk pertama kalinya...
mereka mulai melihat sesuatu yang lebih mengerikan daripada pencurian air.
Bukan tentang desa.
Bukan tentang gandum.
Bukan tentang perdagangan.
Melainkan kemungkinan bahwa seseorang di dalam sistem kerajaan sendiri...
sedang membantu semuanya terjadi.
Dan jauh di Persepolis...
di sebuah rumah besar yang menghadap taman penuh mawar dan saluran air indah...
seorang pria paruh baya menerima laporan dari seorang pelayan.
"Alat pengukur itu hilang."
Pria itu diam.
Lalu meletakkan cangkir anggurnya.
"Di mana?"
"Wilayah selatan."
Pria itu memandang kolam air di depannya.
Permukaan air tenang.
Sangat tenang.
Sama seperti wajahnya.
Namun justru itulah yang membuatnya menakutkan.
"Aku mengerti."
katanya pelan.
Kemudian ia berdiri.
Berjalan menuju jendela.
Dan memandang ke arah selatan.
Ke arah desa tempat Ardashir tinggal.
Untuk pertama kalinya...
musuh mereka mulai mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang mengikuti jejaknya.
Akhir Bab 4
"Ada rahasia yang tersembunyi di bawah tanah seperti qanat.
Semakin dekat seseorang kepada sumbernya,
semakin besar bahaya yang menunggunya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar