Selasa, 07 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (23)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 23



Desa Kelahiran Arshan

Mereka meninggalkan lembah rahasia sebelum fajar.

Langit masih gelap.

Bintang-bintang masih bertahan di atas pegunungan.

Dan api-api sinyal Persaudaraan Matahari masih terlihat di kejauhan.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Saat memasuki lembah, mereka adalah pencari jawaban.

Saat meninggalkannya, mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Harapan.

Dan musuh selalu lebih takut pada harapan daripada pada pedang.


Perpisahan yang Sulit

Di halaman perpustakaan, mereka berdiri mengelilingi peti-peti arsip.

Tidak semua bisa dibawa.

Itulah kenyataan yang menyakitkan.

Shirin memandang ribuan gulungan yang tersisa.

Matanya berkaca-kaca.

"Aku merasa sedang meninggalkan sahabat."

Dastan tersenyum lembut.

"Pengetahuan tidak tinggal di rak."

"Lalu?"

"Ia tinggal di orang yang mempelajarinya."

Shirin menatap rak-rak itu sekali lagi.

Kemudian mengangguk.


Strategi Air

Mithren mulai menjelaskan rencana pelarian.

Bukan melalui jalan utama.

Bukan melalui jalur perdagangan.

Bukan pula melalui celah gunung yang telah diawasi Elang Timur.

Mereka akan menggunakan teknologi yang sama yang selama puluhan tahun digunakan para insinyur Persia.

Jaringan qanat.

Namun bukan untuk membawa air.

Untuk membawa manusia.

Dastan membentangkan peta.

Di bawah pegunungan terdapat puluhan kilometer lorong inspeksi.

Sebagian runtuh.

Sebagian masih utuh.

Jika mereka berhasil melewatinya...

mereka bisa keluar jauh di luar kepungan.

Ardashir tersenyum.

"Aku mulai merasa hidupku lebih banyak dihabiskan di bawah tanah."

Dastan tertawa.

"Itu pertanda kau mulai berpikir seperti insinyur."


Elang Timur

Sementara itu...

di lereng utara.

Pemimpin Elang Timur sedang memeriksa peta.

Ia bukan orang yang mudah marah.

Justru sebaliknya.

Ia sangat tenang.

Itulah yang membuatnya berbahaya.

Seorang pengintai datang.

"Tidak ada pergerakan."

Pemimpin itu tersenyum tipis.

"Itu berarti mereka bergerak."

Pengintai bingung.

"Bagaimana bisa?"

"Karena orang pintar tidak lari melalui jalan yang dijaga."

Ia menunjuk peta qanat.

Dan untuk pertama kalinya...

Ardashir memiliki lawan yang berpikir seperti Dastan.


Di Desa

Jauh di selatan...

Roxana juga tidak tidur.

Perjanjian dari Persaudaraan Matahari masih berada di atas meja.

Ia telah membacanya berkali-kali.

Bukan untuk menerima.

Melainkan untuk memahami.

Dan semakin ia membaca...

semakin ia menemukan sesuatu.

"Ini bukan perjanjian perdagangan."

Ibunya mengangkat kepala.

"Lalu?"

"Ini penyerahan kedaulatan."

Keheningan turun.

Karena itulah inti sebenarnya.

Air.

Bukan gandum.

Bukan uang.

Air.

Siapa yang mengendalikan air...

akan mengendalikan masa depan desa.


Temuan Farrokh

Di Persepolis...

Farrokh hampir tidak tidur selama dua hari.

Meja kerjanya dipenuhi peta.

Catatan pajak.

Dan laporan distribusi pangan.

Tiba-tiba ia berdiri.

Begitu cepat hingga kursinya jatuh.

Artazara yang sedang membaca langsung terkejut.

"Apa?"

Farrokh menunjuk peta.

"Ditemukan."

"Apa yang ditemukan?"

"Pola mereka."

Artazara mendekat.

Farrokh menghubungkan:

  • jalur air,
  • gudang pangan,
  • pos kurir,
  • dan observatorium.

Kemudian menarik garis.

Garis itu membentuk lingkaran besar.

Dan tepat di tengah lingkaran...

terdapat satu nama.


Mehrabad.


Artazara membeku.

Nama yang sama.

Tempat yang sama.

Tanpa saling mengetahui...

ia dan Ardashir kembali tiba pada kesimpulan yang sama.


Lorong Terakhir

Menjelang malam kedua.

Ardashir dan rombongan tiba di ujung jaringan qanat.

Mereka keluar dari sebuah sumur inspeksi tua.

Udara segar langsung menyambut mereka.

Namun tidak ada yang sempat menikmati kebebasan.

Karena Dastan langsung berjongkok.

Memeriksa tanah.

Wajahnya berubah.

"Ada masalah."

"Apa?"

tanya Shirin.

Dastan menunjuk jejak kuda.

Masih baru.

Sangat baru.

Mithren ikut melihat.

Kemudian wajahnya menegang.

"Elang Timur."

Ardashir menghela napas.

"Mereka menemukan jalan keluar."

"Atau menebaknya."

jawab Mithren.

Dan keduanya sama buruknya.


Desa yang Terlupakan

Tiga hari kemudian...

mereka akhirnya melihat Mehrabad.

Tidak besar.

Tidak megah.

Tidak kaya.

Hanya desa sederhana.

Rumah-rumah batu.

Ladang gandum.

Kebun delima.

Saluran air kecil.

Ardashir terdiam.

"Ini?"

Dastan mengangguk.

"Tempat kelahiran Arshan."

Shirin tampak bingung.

"Kenapa seseorang menyembunyikan rahasia terbesar kerajaan di tempat seperti ini?"

Dastan tersenyum.

"Karena tidak ada yang mencarinya di sini."


Sambutan yang Aneh

Mereka memasuki desa dengan hati-hati.

Namun sesuatu terasa aneh.

Terlalu tenang.

Terlalu sunyi.

Anak-anak tidak bermain.

Petani tidak bekerja.

Bahkan pasar kecil tampak kosong.

Ardashir langsung merasakan sesuatu.

Desa ini ketakutan.

Dan ketakutan itu masih baru.

Seorang lelaki tua akhirnya muncul dari salah satu rumah.

Matanya memandang mereka dengan curiga.

"Kalian terlambat."

Ardashir membeku.

"Terlambat untuk apa?"

Lelaki itu menatap mereka satu per satu.

Kemudian berkata:

"Dua hari lalu seseorang datang."

Keheningan turun.

"Siapa?"

Lelaki tua itu menunjuk ke arah bukit.

Ke arah makam tua yang menghadap ladang.

"Mereka mencari warisan Arshan."

Jantung Ardashir berdetak lebih cepat.

Karena itu berarti mereka bukan satu-satunya yang menemukan petunjuk.

Elang Timur.

Atau mungkin Persaudaraan Matahari sendiri.

Sudah lebih dulu tiba.


Akhir Bab 23

"Dalam perlombaan menuju kebenaran, yang paling berbahaya bukan ketika musuh mengejarmu.

Melainkan ketika musuh telah tiba lebih dulu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar