Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 24
Makam di Atas Bukit
Pagi belum sepenuhnya terang ketika Ardashir dan rombongannya menaiki bukit di atas Mehrabad.
Angin membawa aroma gandum muda.
Di kejauhan terlihat petani mulai bekerja.
Dari bawah, desa tampak damai.
Terlalu damai.
Seolah tidak pernah menjadi bagian dari rahasia yang dapat mengguncang kerajaan.
Namun Ardashir tahu kenyataannya berbeda.
Jika petunjuk mereka benar...
maka di sinilah Arshan dilahirkan.
Di sinilah ia tumbuh.
Dan mungkin...
di sinilah ia menyembunyikan sesuatu yang lebih berharga daripada seluruh perpustakaan di lembah rahasia.
Makam yang Sederhana
Makam itu ternyata jauh dari megah.
Tidak ada patung.
Tidak ada bangunan besar.
Tidak ada marmer mahal.
Hanya batu sederhana yang menghadap ke arah ladang.
Di permukaannya tertulis:
Arshan
Putra Mehrabad
Pelayan Air dan Rakyat
Shirin menatap tulisan itu lama.
"Pelayan."
Dastan mengangguk.
"Bukan guru."
"Bukan penemu."
"Bukan penasihat raja."
"Pelayan."
Keheningan turun.
Karena semakin banyak mereka mengetahui Arshan...
semakin jelas bahwa kesombongan yang lahir kemudian bukan berasal darinya.
Seseorang Sudah Datang
Tidak jauh dari makam terdapat bekas galian.
Masih baru.
Tanahnya belum mengeras.
Rumput di sekitarnya masih rusak.
Mithren berjongkok.
"Benar kata penduduk desa."
"Ada yang mencari sesuatu."
Ardashir memperhatikan bekas jejak.
"Berapa orang?"
"Enam."
jawab Mithren.
"Atau tujuh."
Dastan menunjuk bekas roda kecil.
"Mereka membawa peti."
Shirin menelan ludah.
"Jadi mereka menemukan Kunci Matahari?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua memikirkan kemungkinan yang sama.
Rahasia Batu Penanda
Saat mereka memeriksa makam lebih dekat, Dastan menemukan sesuatu yang aneh.
Batu nisan Arshan tidak menghadap ke kota.
Tidak menghadap ke matahari terbit.
Tidak pula menghadap ke rumah keluarganya.
Melainkan ke sebuah ladang tua di kaki bukit.
"Aneh."
gumam Dastan.
"Apa?"
tanya Ardashir.
"Arshan seorang insinyur."
"Lalu?"
"Orang seperti dia jarang melakukan sesuatu tanpa alasan."
Mereka semua memandang ke arah ladang itu.
Tidak ada yang istimewa.
Hanya gandum.
Saluran kecil.
Dan pohon delima tua.
Teknologi yang Tersembunyi
Mereka turun menuju ladang.
Pemiliknya seorang petani tua bernama Bahraman.
Ketika mengetahui mereka datang untuk mempelajari peninggalan Arshan, lelaki tua itu mengajak mereka melihat saluran air tua yang hampir tidak dipakai lagi.
Saluran itu berbeda.
Lebih sempit.
Lebih dalam.
Dan memiliki batu-batu penanda dengan simbol matahari dan gandum.
Simbol yang sama seperti yang ditemukan Roxana.
Simbol yang sama seperti yang ditemukan Artazara.
Mithren langsung memahami.
"Ini jaringan."
"Jaringan apa?"
"Penanda."
Dastan mengangguk.
"Arshan meninggalkan petunjuk."
Di Persepolis
Sementara itu...
Artazara mulai bergerak lebih berani.
Ia tidak lagi hanya mengumpulkan laporan.
Ia mulai memeriksa arsip keluarga bangsawan.
Langkah yang berbahaya.
Karena jika Orontes mengetahui hal itu...
ia akan langsung curiga.
Farrokh membawa kabar baru.
"Orontes mengadakan pertemuan malam ini."
"Dengan siapa?"
"Beberapa pejabat penting."
Artazara menatap peta kerajaan.
Waktu mereka semakin sedikit.
Jika Orontes bergerak lebih dulu...
semua bukti bisa hilang.
Roxana Membaca Tanda
Di desa selatan...
Roxana juga menemukan sesuatu.
Batu tua yang sebelumnya ia lihat ternyata memiliki pola tertentu.
Ketika ia membandingkannya dengan saluran lain...
simbol-simbol itu membentuk arah.
Bukan tulisan.
Bukan angka.
Melainkan petunjuk.
Seolah seseorang telah meninggalkan pesan lintas generasi.
Ibunya memperhatikan.
"Kau tersenyum."
"Aku mulai memahami Arshan."
"Bagaimana?"
"Dia tidak menyembunyikan rahasia."
"Lalu?"
"Dia mengajarkan cara menemukannya."
Pohon Delima
Menjelang senja.
Ardashir dan rombongannya tiba di pohon delima tua yang ditunjuk oleh garis pandang makam.
Pohon itu sangat tua.
Mungkin lebih tua daripada sebagian besar bangunan di desa.
Batangnya besar.
Akarnya menjalar ke segala arah.
Dan di bawah salah satu akar terdapat batu datar.
Dastan langsung berhenti.
"Ini dia."
Ardashir berlutut.
Membantu mengangkat batu tersebut.
Tidak mudah.
Sangat berat.
Namun akhirnya bergeser.
Di bawahnya terdapat rongga kecil.
Shirin memegang lampu minyak.
Cahayanya masuk ke dalam lubang.
Dan mereka melihat sesuatu.
Sebuah tabung perunggu.
Utuh.
Tersegel.
Tidak tersentuh waktu.
Jantung Ardashir berdetak lebih cepat.
Mithren memejamkan mata sejenak.
Dastan tersenyum tipis.
"Arshan..."
gumamnya.
"...kau memang tidak pernah berpikir sederhana."
Isi Tabung
Mereka membukanya dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat dua benda.
Yang pertama adalah gulungan kecil.
Yang kedua...
adalah cakram logam.
Perunggu.
Ukirannya sangat halus.
Di tengahnya terdapat matahari.
Dikelilingi lingkaran-lingkaran yang dapat diputar.
Mirip instrumen astronomi.
Namun jauh lebih rumit.
Tidak ada seorang pun yang mengenalinya.
Shirin memegangnya.
"Apakah ini..."
Mithren menatap benda itu lama.
Kemudian berbisik:
"Kunci Matahari."
Keheningan memenuhi ladang.
Mereka akhirnya menemukannya.
Namun sebelum sempat merasa lega...
suara terompet terdengar dari kejauhan.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Mithren langsung berdiri.
Wajahnya berubah.
"Itu bukan petani."
Ardashir menoleh ke arah perbukitan.
Dan melihat debu.
Banyak debu.
Puluhan penunggang kuda muncul di cakrawala.
Di depan mereka berkibar panji hitam bergambar burung api.
Elang Timur.
Mereka ternyata tidak terlambat.
Mereka mengikuti.
Dan sekarang mereka tahu persis apa yang ditemukan Ardashir.
Akhir Bab 24
"Kadang-kadang menemukan jawaban bukanlah akhir perjalanan.
Kadang-kadang itu adalah awal dari pengejaran yang sesungguhnya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar