Kamis, 30 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (1)

 

Satu Cinta Seribu Tombak II

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 1

Rumah Baru di Dekat Saluran Air



Musim semi datang lebih awal tahun itu.

Air dari pegunungan mengalir lebih deras melalui saluran-saluran batu yang membelah ladang-ladang Persia. Pohon delima mulai dipenuhi tunas muda. Gandum yang baru tumbuh bergoyang lembut diterpa angin pagi.

Di sebuah desa kecil di selatan kerajaan, asap tipis naik dari atap rumah baru yang berdiri tidak jauh dari saluran air utama.

Rumah itu tidak besar.

Dindingnya terbuat dari batu dan tanah liat yang dipadatkan. Halamannya sederhana. Ada pohon delima muda yang baru ditanam di samping rumah, hadiah dari Bahram beberapa minggu setelah pernikahan.

"Rumah yang baik harus punya pohon yang tumbuh bersamanya," kata Bahram waktu itu.

Kini pohon kecil itu berdiri tegak di bawah sinar matahari pagi.

Dan di depan rumah itulah Ardashir sedang berjuang melawan musuh yang jauh lebih berbahaya daripada pasukan penyerbu.

Seekor kambing.

"Kembalikan itu!"

Ardashir berlari.

Kambing itu berlari lebih cepat.

Di mulutnya tergantung sepotong kain sulaman yang sedang dikerjakan Roxana sejak semalam.

"Kambing itu lagi?" seru Roxana dari pintu rumah.

"Itu bukan kambing."

"Apa bedanya?"

"Itu iblis yang menyamar."

Kambing itu meloncat melewati saluran kecil, lalu berhenti beberapa langkah, memandang Ardashir, dan mengunyah perlahan.

Seolah mengejek.

Roxana menutup mulutnya agar tidak tertawa terlalu keras.

Suaminya yang pernah menjaga pos air dan menghadapi penyerbu kini kalah oleh seekor kambing desa.

Akhirnya Ardashir berhasil merebut kembali kain sulaman itu.

Meski salah satu sudutnya sudah berubah bentuk.

Ia kembali ke rumah dengan wajah penuh kemenangan yang tidak terlalu meyakinkan.

Roxana menerima kain itu.

"Kemenangan besar hari ini?"

"Aku menyelamatkan kehormatan keluarga."

"Ya?"

"Kalau tidak, kita akan punya kambing yang memakai sulaman lebih bagus daripada pemiliknya."

Kali ini Roxana benar-benar tertawa.

Suara tawanya memenuhi halaman kecil mereka.

Dan Ardashir menyadari sesuatu.

Selama ini ia mengira kebahagiaan selalu datang dalam bentuk besar.

Kemenangan perang.

Penghargaan.

Kemuliaan.

Pengakuan.

Ternyata kebahagiaan juga bisa datang dalam bentuk yang sangat sederhana.

Tawa seorang istri di pagi hari.


Setelah sarapan, mereka berjalan menuju saluran air desa.

Hari itu adalah hari pembagian giliran air.

Di Persia, air adalah kehidupan.

Semua orang mengetahuinya.

Karena itulah sejak zaman para leluhur, orang-orang membangun qanat—saluran bawah tanah yang mengalirkan air dari pegunungan ke desa dan kota tanpa kehilangan terlalu banyak air akibat panas gurun.

Teknologi itu dianggap keajaiban.

Namun bagi petani desa, qanat bukan keajaiban.

Ia adalah roti.

Ia adalah gandum.

Ia adalah kehidupan sehari-hari.

Tetua desa sudah berdiri di dekat bak pembagi air.

Di tangannya terdapat jam air sederhana berupa mangkuk tanah liat berlubang kecil.

Mangkuk itu diletakkan di atas air.

Perlahan-lahan air masuk ke dalamnya.

Ketika penuh, mangkuk tenggelam.

Setiap tenggelam menandai satu satuan waktu pembagian air.

Tidak perlu lonceng.

Tidak perlu menara.

Tidak perlu prajurit.

Hanya tanah liat, air, dan kecerdasan manusia.

"Ardashir!" panggil tetua.

"Ya, Tetua?"

"Kau datang tepat waktu."

"Itu pujian atau tuduhan?"

Tetua menghela napas.

"Setelah menikah kau semakin mirip Vardan."

"Itu penghinaan yang cukup berat."

Tetua mengangguk setuju.

Memang berat.


Di dekat saluran utama, beberapa petani mulai berkumpul.

Di antara mereka ada Mehrdad.

Sudah hampir satu tahun sejak peristiwa lamaran dan pernikahan.

Waktu telah menyembuhkan sebagian luka.

Tidak seluruhnya.

Tetapi cukup.

Kini Mehrdad mengelola lumbung keluarga dan membantu pembagian gandum desa.

Ketika melihat Ardashir, ia mengangkat tangan.

"Bagaimana rumah baru?"

"Masih berdiri."

"Itu pencapaian yang baik."

"Mengingat aku yang membangunnya, memang iya."

Mehrdad tertawa kecil.

Hubungan mereka kini lebih tenang.

Tidak lagi dibayangi persaingan.

Karena keduanya akhirnya menerima tempat masing-masing dalam kehidupan.

Tetua membuka catatan.

"Kita mulai."

Namun sebelum pembagian air berjalan, seorang petani tua berdiri.

Wajahnya cemas.

"Tetua."

"Ada apa?"

"Air ke ladang utara berkurang."

Beberapa orang langsung saling memandang.

"Itu sudah tiga hari," kata petani lain.

"Salurannya tersumbat?"

"Tidak tahu."

"Atau ada yang mencuri air?"

Kalimat terakhir membuat suasana berubah.

Di Persia, mencuri air sama buruknya dengan mencuri gandum.

Karena akibatnya bisa merusak kehidupan banyak keluarga.

Tetua mengerutkan dahi.

"Siapa yang melihat?"

Beberapa tangan terangkat.

Ardashir memperhatikan.

Ia pernah melihat wajah-wajah seperti itu.

Bukan saat perang.

Melainkan saat masalah mulai tumbuh.

Masalah kecil.

Tetapi jika dibiarkan, bisa berubah menjadi konflik besar.


Sore harinya Ardashir berjalan bersama Roxana menuju bagian utara saluran.

Mereka ingin melihat sendiri apa yang terjadi.

Matahari mulai turun.

Ladang-ladang tampak keemasan.

Air mengalir pelan di parit batu.

Roxana membawa papan catatan kecil.

Kebiasaan yang ia pelajari dari Artazara melalui surat-surat mereka.

Ya.

Artazara dan Roxana ternyata tetap saling berkirim surat.

Bukan sebagai saingan.

Melainkan sebagai dua perempuan yang saling menghormati.

Kadang membahas pembagian air.

Kadang pendidikan anak-anak.

Kadang hanya berbagi cerita tentang kehidupan.

"Menurutmu apa yang terjadi?" tanya Roxana.

Ardashir memandang aliran air.

"Aku belum tahu."

"Kau terdengar seperti Farrokh."

"Itu pujian."

"Mungkin."

Mereka berjalan lebih jauh.

Lalu berhenti.

Karena di depan mereka terdapat sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Saluran batu yang mengarah ke ladang utara tampak sengaja diubah.

Seseorang telah membuat cabang baru.

Kecil.

Tersembunyi.

Tetapi cukup untuk mengalihkan sebagian aliran air.

Ardashir berjongkok.

Memeriksa bekasnya.

Tidak lama.

Tidak tua.

Baru beberapa hari.

Roxana ikut melihat.

"Sengaja?"

"Sangat sengaja."

"Kau yakin?"

Ardashir mengangguk.

Ia menunjuk bekas pahatan baru pada batu.

"Ini dibuat oleh tangan manusia."

Angin sore berhembus pelan.

Air tetap mengalir.

Namun kini suara aliran itu terdengar berbeda.

Seperti membawa pertanda.

Roxana memandang wajah suaminya.

"Apa yang kau pikirkan?"

Ardashir berdiri perlahan.

Tatapannya mengarah ke ladang-ladang yang membentang jauh.

"Aku pikir..."

"Apa?"

"Aku baru menikah."

"Itu benar."

"Aku berharap tahun pertama pernikahan hanya berisi pohon delima, roti hangat, dan wajah cantik."

Roxana tersenyum.

"Lalu?"

Ardashir menunjuk saluran yang diubah itu.

"Lalu seseorang mencuri air."

Mereka saling berpandangan.

Dan tanpa mereka sadari, inilah awal dari persoalan yang akan membawa mereka jauh melampaui desa kecil itu.

Karena kadang...

perang besar tidak dimulai oleh tombak.

Ia dimulai oleh setetes air yang hilang.

"Di Persia, siapa menguasai air, sering kali sedang menentukan nasib banyak manusia."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar