Minggu, 12 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (18)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 18



Perpustakaan di Tengah Pegunungan

Tidak ada seorang pun yang berbicara ketika mereka menuruni jalan menuju lembah.

Bahkan Dastan.

Bahkan Mithren.

Mereka semua sedang mencoba memahami apa yang berada di depan mata mereka.

Lembah itu terlalu sempurna untuk menjadi kebetulan.

Air mengalir melalui kanal-kanal batu yang tertata rapi.

Teras-teras pertanian menghijau di sepanjang lereng.

Kolam penampung memantulkan cahaya matahari pagi.

Dan di tengah semuanya berdiri bangunan terbesar yang pernah mereka lihat sejak meninggalkan Persepolis.

Sebuah perpustakaan.

Bukan sekadar tempat menyimpan buku.

Melainkan kompleks ilmu pengetahuan.

Tempat para insinyur.

Para astronom.

Para ahli pertanian.

Para pencatat.

Dan para pemikir Persia pernah bekerja bersama.

Shirin berbisik pelan.

"Ini lebih besar daripada yang kubayangkan."

Dastan tersenyum tipis.

"Begitulah ilmu pengetahuan."

"Apa maksudnya?"

"Orang selalu membayangkannya lebih kecil daripada kenyataannya."


Kota Para Penjaga Pengetahuan

Mereka memasuki lembah dengan hati-hati.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada suara manusia.

Hanya suara air.

Dan burung-burung pegunungan.

Ardashir mulai merasa aneh.

Tempat sebesar ini seharusnya tidak kosong.

Mithren tampaknya memiliki pikiran yang sama.

"Sudah berapa lama ditinggalkan?"

Dastan memperhatikan lumut pada saluran air.

"Belum lama."

"Bagaimana kau tahu?"

"Air masih dirawat."

Semua terdiam.

Karena itu berarti seseorang masih berada di sini.

Atau setidaknya...

baru saja pergi.


Teknologi yang Menakjubkan

Mereka tiba di pusat lembah.

Di sana berdiri sebuah bangunan bundar.

Atapnya terbuka.

Dan di tengahnya terdapat instrumen raksasa dari perunggu.

Roda.

Lingkaran.

Jarum penunjuk.

Garis-garis bintang.

Shirin membelalakkan mata.

"Ini observatorium?"

Dastan menggeleng.

"Lebih dari itu."

Ia berjalan mengelilingi instrumen tersebut.

"Ini kalender hidrologi."

"Kalender?"

Dastan mengangguk.

Para insinyur Persia ternyata menggabungkan:

  • astronomi,
  • musim,
  • curah hujan,
  • debit mata air,
  • dan pola pertanian.

Dengan alat itu mereka dapat memperkirakan:

  • musim tanam,
  • musim panen,
  • risiko kekeringan,
  • dan distribusi air.

Mithren mengusap dagunya.

"Jika alat ini digunakan dengan benar..."

"Lalu?"

"Persia bisa menghindari banyak bencana pangan."

Keheningan turun.

Karena kini mereka mulai memahami nilai sesungguhnya lembah itu.

Ini bukan sekadar arsip.

Ini adalah pusat ilmu pengetahuan nasional.


Arsip Utama

Bangunan terbesar berada di sisi utara lembah.

Pintunya terbuat dari kayu cedar tua.

Masih kuat.

Masih terawat.

Di atasnya terdapat tulisan:

Pengetahuan adalah amanah.

Bukan alat kekuasaan.

Ardashir membaca kalimat itu dua kali.

Semakin jauh mereka melangkah...

semakin jelas bahwa para pendiri tempat ini memiliki cita-cita yang mulia.

Namun sesuatu telah mengubah semuanya.


Ribuan Catatan

Ketika pintu dibuka...

mereka semua berhenti.

Rak-rak tinggi memenuhi ruangan.

Ribuan gulungan.

Ribuan catatan.

Ribuan laporan.

Puluhan tahun sejarah Persia tersimpan di sana.

Shirin hampir menangis.

Sebagai pencatat...

ia tahu nilai tempat itu.

"Ini..."

Ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

Dastan menyelesaikannya.

"...lebih berharga daripada emas."


Temuan Pertama

Mereka mulai memeriksa arsip.

Jam demi jam berlalu.

Sampai akhirnya Mithren menemukan sesuatu.

Sebuah kotak kayu kecil.

Tersembunyi.

Tidak diberi label.

Tidak tercatat dalam daftar arsip.

Itu saja sudah mencurigakan.

Ketika dibuka...

di dalamnya terdapat surat-surat pribadi.

Bukan laporan resmi.

Bukan dokumen teknis.

Melainkan korespondensi rahasia.

Dan salah satu surat membuat seluruh ruangan membeku.

Karena ditulis oleh Arshan sendiri.


Surat Terakhir Arshan

Tulisan tangan itu mulai memudar.

Namun masih dapat dibaca.

Ardashir membaca keras-keras.


Hari ini aku menyadari kesalahan terbesar kami.

Kami membangun sistem untuk membantu rakyat.

Namun sebagian muridku mulai percaya bahwa mereka lebih bijaksana daripada rakyat itu sendiri.

Mereka tidak lagi ingin melayani.

Mereka ingin mengatur.

Jika suatu hari surat ini ditemukan,

hentikan mereka.


Keheningan memenuhi ruangan.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Karena kalimat itu mengubah segalanya.

Arshan bukan pendiri kejahatan.

Ia justru orang pertama yang memperingatkan bahaya tersebut.


Di Desa

Sementara itu...

Roxana mulai melihat hasil usahanya.

Warga desa kembali bekerja bersama.

Ketegangan mulai menurun.

Namun kemenangan kecil itu tidak bertahan lama.

Karena malam itu...

Seorang penunggang kuda datang dari utara.

Kudanya kelelahan.

Tubuhnya penuh debu.

Dan ia membawa berita buruk.

Sangat buruk.

"Karavan besar bergerak ke arah sini."

"Karavan siapa?"

"Lambang matahari."

Roxana membeku.

Untuk pertama kalinya simbol Persaudaraan Matahari muncul secara terbuka.


Elang Timur

Jauh di pegunungan...

empat penunggang kuda masih mengamati lembah.

Mereka tidak tergesa-gesa.

Tidak menyerang.

Tidak membuat suara.

Karena mereka memahami sesuatu.

Mangsa yang panik mudah melarikan diri.

Mangsa yang merasa aman lebih mudah ditangkap.

Pemimpin mereka memandang lembah melalui teropong perunggu.

Salah satu teknologi militer terbaik Persia saat itu.

Dibuat dari lensa batu kristal yang dipoles dengan sangat halus.

Ia melihat Ardashir.

Dastan.

Shirin.

Dan Mithren.

Kemudian menutup teropongnya.

"Sudah pasti."

"Apa perintahnya?"

tanya salah satu anggota.

Pemimpin itu tersenyum tipis.

"Kita tunggu."

"Tunggu?"

"Mereka akan menemukan sesuatu."

Ia memandang perpustakaan di bawah sana.

"Dan saat mereka menemukannya..."

"Kita ambil semuanya."


Dokumen yang Mengguncang Takhta

Menjelang malam.

Shirin menemukan arsip lain.

Lebih tua.

Lebih tersembunyi.

Lebih berbahaya.

Ketika dibuka...

terdapat daftar pembayaran.

Daftar bantuan.

Daftar hadiah.

Dan daftar nama.

Nama-nama pejabat.

Nama-nama bangsawan.

Nama-nama penasihat kerajaan.

Selama hampir lima puluh tahun.

Mithren membaca perlahan.

Kemudian wajahnya memucat.

"Ini..."

"Apa?"

Mithren menelan ludah.

"Bukan daftar korupsi."

"Lalu?"

"Ini daftar pengaruh."

Ardashir mengerutkan dahi.

"Bedanya?"

Mithren menjawab pelan.

"Korupsi membeli keputusan."

"Dan pengaruh?"

"Pengaruh memilih siapa yang akan membuat keputusan."

Keheningan turun.

Karena mereka akhirnya memahami ancaman yang sebenarnya.

Persaudaraan Matahari tidak menguasai Persia dengan pedang.

Tidak dengan perang.

Tidak dengan pemberontakan.

Melainkan dengan mempengaruhi orang-orang yang memegang kekuasaan.

Generasi demi generasi.

Puluhan tahun.

Diam-diam.

Dan pada halaman terakhir daftar itu...

terdapat satu nama yang membuat Ardashir berdiri.

Karena nama itu sangat dekat dengan takhta.

Sangat dekat.

Terlalu dekat.


Akhir Bab 18

"Musuh yang paling sulit dikalahkan bukan yang berdiri di luar gerbang.

Melainkan yang telah lama duduk di dalam ruang pertemuan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar