Minggu, 26 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (5)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 5



Rahasia Lima Puluh Alat

Pagi itu desa terbangun lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena panen.

Bukan karena pembagian air.

Bukan pula karena datangnya musim baru.

Melainkan karena berita yang menyebar dari rumah ke rumah lebih cepat daripada suara ayam jantan.

Guru Dastan datang ke desa.

Bagi generasi muda, nama itu mungkin hanya terdengar seperti seorang insinyur tua.

Namun bagi orang-orang yang lebih tua, Dastan adalah legenda hidup.

Ia termasuk orang yang ikut merancang qanat besar yang menghidupi banyak wilayah Persia.

Ia pernah memimpin pembangunan bendungan batu di daerah pegunungan.

Ia pernah mengajar para pengawas air kerajaan.

Dan yang paling penting...

ia dikenal sebagai orang yang tidak pernah menjual ilmunya demi kekuasaan.

Karena itulah ketika Dastan terlihat duduk di bawah pohon delima milik Ardashir, banyak warga diam-diam memperhatikannya.


Dastan sendiri tampak jauh lebih tua daripada yang diingat Ardashir.

Rambutnya hampir seluruhnya putih.

Tangannya mulai bergetar ketika memegang cangkir.

Namun matanya...

masih sama.

Mata seorang lelaki yang sepanjang hidupnya terbiasa memperhatikan hal-hal yang tidak diperhatikan orang lain.

Ia sedang memeriksa alat ukur air yang ditemukan Ardashir.

Lama sekali.

Seolah sedang berbicara dengan benda itu.

Akhirnya ia mengangkat kepala.

"Berapa banyak orang yang tahu tentang alat ini?"

"Selain kami?" tanya Roxana.

Dastan mengangguk.

"Belum ada."

"Bagus."

Ardashir memperhatikan wajah gurunya.

"Apa sebenarnya alat ini?"

Dastan menarik napas panjang.

Lalu berkata,

"Ini adalah salah satu dari lima puluh alat yang seharusnya tidak pernah keluar dari proyek kerajaan."


Roxana menuangkan teh.

Bahram ikut duduk.

Bahkan tetua desa datang setelah mendengar percakapan mereka.

Semua ingin tahu.

Dastan memandang alat itu lagi.

"Beberapa tahun lalu..."

katanya pelan,

"...kerajaan mulai menghadapi masalah yang tidak terlihat."

"Masalah apa?"

"Kehilangan air."


Semua orang mengerutkan dahi.

Dastan melanjutkan.

"Air tidak hilang sekaligus."

"Melainkan?"

"Sedikit demi sedikit."

Ia mengambil ranting kecil.

Lalu menggambar garis di tanah.

"Jika sebuah desa kehilangan satu kendi air sehari, tidak ada yang peduli."

Ia menambahkan garis kedua.

"Jika seratus desa kehilangan satu kendi sehari..."

Ia berhenti.

"...kerajaan kehilangan sungai."

Keheningan turun.

Karena semua orang memahami logikanya.


Dastan menjelaskan bahwa proyek rahasia itu dibuat untuk mengukur kehilangan air secara presisi.

Teknologi Persia saat itu sudah jauh lebih maju daripada yang dibayangkan banyak orang.

Para insinyur mampu menghitung kemiringan tanah.

Mengukur debit air.

Menghitung kehilangan aliran.

Bahkan memperkirakan jumlah air yang hilang dalam perjalanan panjang qanat.

Untuk itulah lima puluh alat khusus dibuat.

Dan hanya digunakan oleh pengawas tingkat tinggi.


"Siapa yang memiliki akses?"

tanya Roxana.

Dastan menjawab tanpa ragu.

"Pengawas kerajaan."

"Insinyur utama."

"Beberapa administrator wilayah."

Ia berhenti.

Lalu menambahkan.

"Dan orang-orang yang berhasil mencurinya."


Tetua desa mengelus jenggotnya.

"Itu berarti..."

"Ya."

kata Dastan.

"Orang yang bermain dengan air ini bukan orang sembarangan."


Malam itu, setelah para warga pulang, Dastan tinggal bersama keluarga Ardashir.

Mereka makan malam sederhana.

Sup gandum.

Roti hangat.

Kurma.

Keju kambing.

Dan tentu saja...

kambing yang pernah mencuri sulaman Roxana masih berkeliaran di sekitar halaman.

Vardan pasti akan menyukainya.

Untung ia tidak ada di sana.


Setelah makan malam, Dastan membuka sebuah kantong kulit tua.

Dari dalamnya ia mengeluarkan beberapa gulungan peta.

Peta yang sudah menguning karena usia.

Ardashir langsung mengenalinya.

Peta saluran air kerajaan.


"Ini yang membuatku datang ke sini."

kata Dastan.

Ia membentangkan peta.

Lalu menunjuk beberapa titik.

"Perhatikan."

Ardashir mendekat.

Roxana juga.

Bahram ikut melihat.

Semakin lama mereka memperhatikan...

semakin jelas sesuatu yang aneh.

Semua wilayah yang bermasalah berada pada jalur yang sama.

Seolah seseorang sedang mengikuti rute tertentu.


"Tidak mungkin."

gumam Ardashir.

Dastan mengangguk.

"Itulah yang kukatakan ketika pertama kali melihatnya."

"Ini bukan acak."

"Tidak."

"Ini direncanakan."

"Ya."


Lalu Dastan menunjukkan sesuatu yang membuat mereka semakin terkejut.

Semua wilayah bermasalah berada di dekat proyek pembangunan baru.

Gudang.

Pos dagang.

Pasar.

Lumbung besar.

Tempat penyimpanan barang.

Jalur karavan.


Bahram menyipitkan mata.

"Artinya..."

Dastan menjawab.

"Seseorang menggunakan infrastruktur perdagangan."


Roxana tiba-tiba berkata,

"Seperti yang ditemukan Artazara."

Semua menoleh.

Roxana mengambil surat terakhir dari Artazara.

Kemudian membandingkan catatannya dengan peta Dastan.

Hasilnya sama.

Persis sama.


Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Karena mereka menyadari sesuatu.

Sangat jelas.

Dan sangat mengkhawatirkan.


Mereka tidak sedang menghadapi pencuri air.

Mereka tidak sedang menghadapi pedagang curang.

Mereka sedang menghadapi jaringan.


Di kota Persia...

malam yang sama...

Artazara sedang bekerja ketika seorang penjaga memasuki ruang arsip.

"Wanita Artazara."

"Ada apa?"

"Seorang utusan datang."

"Dari mana?"

"Persepolis."

Farrokh yang sedang membaca langsung mengangkat kepala.

"Itu cepat."

Artazara mengangguk.

Terlalu cepat.

Seolah seseorang mengetahui mereka sedang menyelidiki sesuatu.


Utusan itu masuk.

Pakaiannya rapi.

Mahal.

Sikapnya sopan.

Terlalu sopan.

Ia membawa kotak kecil dari kayu cedar.

Di dalamnya terdapat hadiah.

Kain terbaik.

Kurma pilihan.

Dan surat resmi.


Artazara membuka surat itu.

Membacanya perlahan.

Semakin lama wajahnya semakin dingin.

Farrokh memperhatikan.

"Apa isinya?"

Artazara menyerahkan surat itu.

Farrokh membaca.

Lalu tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena marah.


Surat itu berasal dari...

Nabarz.


Isinya ramah.

Sangat ramah.

Terlalu ramah.

Ia menawarkan bantuan.

Data perdagangan.

Akses gudang.

Dukungan transportasi.

Dan segala sesuatu yang mungkin diperlukan.


Farrokh meletakkan surat itu.

"Ini bukan bantuan."

"Tidak."

kata Artazara.

"Ini pesan."


"Apa pesannya?"

tanya Vardan yang baru masuk.

Farrokh menjawab pelan.

"Dia ingin kita tahu bahwa dia tahu."


Keheningan memenuhi ruangan.

Karena semua orang memahami artinya.


Orang yang mereka curigai...

sudah mulai memperhatikan mereka.


Jauh di selatan...

Ardashir belum mengetahui surat itu.

Namun malam itu ia terbangun karena suara langkah kuda.

Pelan.

Sangat pelan.

Di luar rumah.

Tengah malam.


Ardashir segera bangun.

Tangannya meraih pisau pendek.

Ia membuka pintu perlahan.

Malam sunyi.

Bulan menggantung tinggi.

Angin bergerak lembut.

Namun seseorang memang ada di sana.


Di dekat pohon delima.


Sosok itu mengenakan jubah gelap.

Wajahnya tertutup.

Dan sebelum Ardashir sempat bergerak...

orang itu melemparkan sebuah benda kecil ke tanah.

Lalu berlari menuju kegelapan.


Ardashir mengejar.

Tetapi seperti kejadian sebelumnya...

orang itu menghilang.

Seolah menelan malam.


Ketika kembali ke pohon delima...

ia menemukan benda yang dilemparkan.

Sebuah segel tanah liat.

Kecil.

Pecah sebagian.

Namun masih menyisakan lambang yang bisa dikenali.


Seekor unta.

Dan matahari.


Lambang Karavan Nabarz.


Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mengganggu.

Di bagian belakang segel itu terdapat satu kalimat yang tergores tipis.

Bukan ancaman.

Bukan peringatan.

Hanya tiga kata.

Namun membuat darah Ardashir terasa dingin.


"Berhentilah sebelum terlambat."


Ardashir berdiri di bawah cahaya bulan.

Menggenggam segel itu.

Dan untuk pertama kalinya...

mereka bukan lagi pemburu rahasia.

Rahasia itu kini mulai memburu mereka.


Akhir Bab 5

"Ketika musuh mulai mengirim pesan, itu berarti ia tidak lagi menganggapmu kebetulan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar