Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 11
Pengepungan Dar-e-Sefid
Pintu utama Dar-e-Sefid bergetar.
Dum.
Dum.
Dum.
Suara besi menghantam kayu tua menggema di seluruh ruang bawah tanah. Debu halus jatuh dari sela-sela batu. Lampu minyak di meja bergetar, membuat bayangan peta Persia Selatan bergerak seperti makhluk hidup di dinding.
Ardashir menggenggam pisau pendeknya.
Dastan berdiri di sampingnya, wajahnya pucat tetapi matanya tajam.
Di seberang meja, Mithren menatap pintu dengan tenang yang terlalu pahit untuk disebut keberanian.
Sosok berjubah gelap itu masih berdiri di dekat peti catatan, memegang beberapa gulungan peta.
Ardashir menatapnya cepat.
“Siapa dia?”
Mithren tidak langsung menjawab.
Pintu kembali dihantam.
Dum.
“Tidak ada waktu,” kata Mithren.
“Aku tidak akan lari bersama orang yang wajahnya tidak kukenal,” jawab Ardashir.
Sosok berjubah itu diam sebentar.
Lalu membuka penutup wajahnya.
Ternyata ia seorang perempuan.
Usianya mungkin tidak jauh lebih tua dari Ardashir. Wajahnya tegas, matanya gelap dan lelah, seperti orang yang terlalu lama hidup di antara rahasia.
“Namaku Shirin,” katanya singkat. “Aku pencatat teknik di kantor Mithren.”
Dastan menatapnya lebih saksama.
“Keluarga penyalin dari Persepolis?”
Shirin mengangguk.
“Ayahku dulu bekerja di arsip pengairan.”
“Dan sekarang?”
Mata Shirin meredup.
“Mati. Karena tahu terlalu banyak.”
Keheningan jatuh sejenak.
Pintu dihantam lagi.
Kali ini terdengar retakan.
Mithren berkata cepat, “Jika kalian ingin hidup dan ingin Persia tahu kebenaran, berhenti bertanya. Bawa catatan ini keluar.”
Ia menunjuk peti kecil berlapis kulit.
“Di dalamnya ada daftar alat, jalur uang, nama pejabat, dan salinan perintah rahasia Lord Arvash.”
Ardashir menatap Mithren.
“Kalau begitu kau ikut.”
Mithren tersenyum lelah.
“Aku sudah terlalu lama menjadi penjaga pintu.”
“Justru karena itu kau harus keluar dan bersaksi.”
Dastan ikut berkata, “Ardashir benar. Catatan bisa dipalsukan. Kesaksian orang yang berada di dalam sistem lebih sulit dibungkam jika sampai ke istana.”
Mithren menatap Dastan.
“Guru tua, kau masih keras kepala.”
“Aku sudah tua. Itu satu-satunya kemewahan yang tersisa.”
Di tengah ketegangan itu, Ardashir hampir tersenyum.
Namun suara dari luar membuat semua wajah kembali tegang.
“Buka atas nama Lord Arvash!”
Salah satu prajurit berteriak dari luar.
Mithren memandang mereka.
“Tidak ada jalan keluar lewat atas.”
Dastan menoleh ke arah dinding batu di sisi timur.
“Ada lewat bawah.”
Mithren terdiam.
Matanya berubah.
“Kau tahu?”
Dastan tersenyum tipis.
“Aku tua, bukan bodoh. Dar-e-Sefid dibangun di atas qanat tua. Bangunan seperti ini tidak pernah hanya punya satu jalan.”
Dastan berjalan cepat menuju sudut ruangan.
Di sana ada lempengan batu besar yang tampak seperti bagian lantai biasa. Debu menutup hampir seluruh pinggirannya. Ia berlutut, meraba permukaan batu, lalu mencari celah kecil yang hampir tak terlihat.
“Bantu aku,” katanya.
Ardashir dan Shirin segera mendekat.
Mithren masih berdiri di dekat meja, memasukkan beberapa gulungan penting ke dalam tabung kulit berlapis lilin.
“Cepat,” kata Ardashir.
Dastan mengeluarkan kait besi kecil dari kantongnya.
“Bangunan tua punya kebiasaan baik.”
“Apa?”
“Mereka menyembunyikan jalan keluar dari orang sombong yang hanya melihat pintu.”
Ia memasukkan kait ke celah kecil, menarik, lalu memutar batu kecil di sebelahnya.
Terdengar suara berat.
Krrrk.
Lempengan lantai bergerak sedikit.
Di bawahnya muncul tangga sempit menuju gelap.
Angin dingin naik dari bawah.
Bau air tua, batu basah, dan tanah dalam memenuhi ruangan.
“Qanat,” bisik Ardashir.
Dastan mengangguk.
“Bukan sekadar qanat. Ini jalur inspeksi bawah tanah. Dahulu para insinyur menggunakannya untuk memeriksa aliran tanpa harus membuka seluruh permukaan.”
Pintu utama retak lebih besar.
Shirin turun pertama membawa lampu kecil.
Dastan menyusul.
Ardashir mengambil peti catatan dari Mithren.
“Ayo.”
Mithren memandang meja besar dengan peta raksasa itu.
“Peta ini tidak boleh jatuh utuh ke tangan mereka.”
Dastan menoleh dari tangga.
“Bakar?”
“Tidak,” jawab Mithren. “Asapnya akan memberi tahu mereka jalur kita.”
Ia berjalan ke mekanisme perunggu di sisi meja.
Sebuah alat tua dengan roda kecil, tali, dan pemberat batu.
Dastan langsung mengenalinya.
“Pengatur pintu air?”
Mithren mengangguk.
“Rancangan lama. Masih bekerja.”
Ardashir melihat alat itu.
Ada pelampung kecil di wadah air. Ketika air naik, pelampung mengangkat tuas. Tuas itu melepaskan kait. Kait menarik tali. Tali menggerakkan roda gigi. Roda gigi membuka atau menutup saluran tertentu.
Sederhana.
Namun cerdas.
Teknologi yang memakai air untuk mengatur air.
Mithren menuangkan air dari kendi ke wadah kecil.
Pelampung perlahan naik.
“Kita punya waktu sampai wadah penuh,” katanya.
“Apa yang akan terjadi?”
Mithren tersenyum tipis.
“Ruangan ini akan memberi mereka sambutan.”
Ardashir tidak yakin ingin tahu.
Mithren lalu turun ke tangga.
Ardashir menutup lempengan batu dari bawah semampunya.
Beberapa saat kemudian, pintu utama di atas akhirnya jebol.
Suara prajurit masuk menggema.
“Cari mereka!”
Lalu terdengar suara lain.
Klik.
Mekanisme bekerja.
Dari celah-celah dinding ruang utama, air menyembur deras.
Bukan banjir besar.
Tetapi cukup untuk memadamkan lampu, membasahi lantai, membuat peta rusak, dan mengubah ruangan menjadi licin.
Teriakan prajurit terdengar.
“Awas!”
“Lampu!”
“Peta!”
Dastan berbisik di lorong bawah tanah, “Indah.”
Ardashir menatapnya.
“Guru menikmati ini?”
“Aku sudah lama ingin melihat orang sombong dikalahkan oleh selokan.”
Lorong qanat itu sempit.
Mereka harus berjalan membungkuk. Air mengalir setinggi mata kaki. Dindingnya tersusun dari batu tua, sebagian masih kuat, sebagian mulai retak. Di atas mereka, sesekali terlihat lubang vertikal menuju permukaan—sumur inspeksi yang dahulu digunakan untuk menggali dan merawat qanat.
Shirin berjalan di depan dengan lampu kecil.
Dastan di belakangnya, membaca aliran air seperti orang membaca tulisan.
Mithren berjalan tertatih, tetapi tetap memegang tabung catatan.
Ardashir paling belakang, menjaga suara dari arah mereka masuk.
Di kejauhan, terdengar teriakan samar.
“Mereka turun ke bawah!”
Mereka ketahuan.
Ardashir mempercepat langkah.
“Berapa jauh lorong ini?”
Dastan menjawab, “Tergantung lorong mana yang masih hidup.”
“Jawaban yang tidak menyenangkan.”
“Qanat tua tidak dibuat untuk menyenangkan prajurit muda.”
Shirin menoleh.
“Di depan ada percabangan.”
Mereka tiba di tempat lorong terbagi tiga.
Air mengalir dari kanan ke kiri. Lorong tengah kering. Lorong kiri lebih gelap dan sempit.
Mithren berkata, “Lorong tengah menuju sumur lama di luar lembah.”
Dastan menggeleng.
“Terlalu jelas. Jika mereka punya peta lama, mereka akan menebak itu.”
Shirin menunjuk kiri.
“Lorong ini?”
“Jalur pembuangan,” kata Mithren. “Buntu.”
Dastan berlutut, menyentuh air di lorong kanan.
“Tidak.”
Mithren menatapnya.
“Apa?”
“Dulu buntu. Sekarang tidak.”
Dastan mengambil sedikit lumpur, mencium baunya, lalu tersenyum kecil.
“Udara dari sini bergerak. Ada bukaan baru atau retakan besar.”
Ardashir menatapnya dengan kagum.
“Guru bisa tahu dari lumpur?”
“Lumpur lebih jujur daripada pejabat.”
Mithren tidak membantah.
Mereka masuk ke lorong kanan.
Di belakang, suara prajurit makin dekat.
Mereka membawa obor.
Cahaya merah mulai terlihat di dinding basah.
Shirin mematikan lampunya.
“Kenapa?” bisik Ardashir.
“Cahaya kita memantul di air.”
Ia benar.
Di lorong seperti itu, cahaya kecil bisa terlihat jauh jika memantul di permukaan air.
Mereka bergerak dalam gelap, hanya mengandalkan sentuhan dinding dan suara aliran.
Inilah strategi bawah tanah Persia yang jarang diketahui orang luar: qanat bukan hanya saluran air, tetapi juga jaringan pengetahuan. Orang yang memahami arah aliran, kemiringan tanah, lubang udara, dan suara gema bisa bergerak di bawah tanah lebih aman daripada pasukan bersenjata yang hanya tahu mengejar.
Dastan berhenti mendadak.
“Diam.”
Semua berhenti.
Ia menempelkan telinga pada dinding batu.
Ardashir mendengar sesuatu.
Bukan dari belakang.
Dari depan.
Suara air jatuh.
Deras.
“Di depan ada penurunan,” kata Dastan. “Hati-hati. Kalau jatuh, kalian akan keluar dari cerita ini dengan cara yang sangat basah.”
Ardashir berbisik, “Guru masih sempat bercanda.”
“Aku tidak bercanda. Aku memperingatkan dengan gaya.”
Mereka bergerak perlahan.
Ternyata lorong itu berakhir pada ruang bulat bawah tanah.
Di tengahnya terdapat roda air tua.
Besar.
Sebagian kayunya lapuk, tetapi inti perunggunya masih kuat. Air dari saluran atas jatuh ke bilah roda, membuatnya berputar lambat. Roda itu menggerakkan poros horizontal, yang kemudian tersambung ke beberapa roda gigi kecil di dinding.
Dastan tertegun.
“Aku tidak pernah melihat ini langsung.”
Shirin berkata pelan, “Sistem distribusi mekanis?”
Dastan mengangguk.
“Lebih dari itu. Ini pusat pengalih aliran. Dengan mengatur roda dan katup, air bisa dipindahkan ke beberapa saluran berbeda tanpa pekerja di permukaan.”
Ardashir memandang alat itu.
“Jadi seseorang bisa mengubah aliran desa-desa dari sini?”
“Tidak semua,” jawab Dastan. “Tetapi cukup untuk menguji, melemahkan, atau mengatur pasokan ke beberapa titik.”
Mithren berkata pahit, “Itulah yang mereka lakukan. Sedikit demi sedikit. Desa yang menolak kontrak dibuat kekurangan air. Desa yang menerima bantuan diberi aliran lebih stabil. Semua tampak seperti alam. Padahal tangan manusia.”
Ardashir menggenggam pisau lebih erat.
“Dan Arvash tahu?”
Mithren menatapnya.
“Arvash bukan hanya tahu. Ia yang memahami nilainya.”
Suara prajurit terdengar lagi dari lorong belakang.
“Di sana!”
Cahaya obor mendekat.
Dastan melihat roda air, katup, dan rantai pemberat.
Matanya bergerak cepat.
“Ardashir, angkat pemberat itu.”
“Yang mana?”
“Yang terlihat seperti ingin membunuh kakimu jika jatuh.”
Ardashir mengangkat batu pemberat yang tergantung pada tali.
Berat.
Sangat berat.
Shirin membantu menahan tuas.
Dastan memutar roda kecil.
“Kalau kita salah, lorong ini akan penuh air.”
Ardashir menatapnya.
“Kalau benar?”
“Lorong belakang yang penuh air.”
Ardashir menarik napas.
“Baik. Aku menyukai pilihan itu.”
Mithren berkata, “Jangan terlalu banyak. Jika tekanan berlebih, dinding tua bisa pecah.”
“Karena itu aku melakukannya perlahan,” jawab Dastan. “Aku tua, bukan gegabah.”
Prajurit pertama muncul di mulut lorong.
Ia melihat mereka.
“Berhenti!”
Dastan memberi aba-aba.
“Sekarang.”
Ardashir melepaskan pemberat.
Tali bergerak cepat.
Roda gigi berputar.
Katup perunggu terbuka dengan suara berat.
Dari saluran samping, air masuk deras ke lorong belakang.
Prajurit yang berada di sana berteriak ketika air menghantam kaki mereka. Obor padam. Lorong yang sempit berubah menjadi aliran berlumpur.
Bukan cukup untuk membunuh.
Tetapi cukup untuk menghentikan mereka.
Shirin menatap Dastan.
“Kau menenggelamkan pengejar tanpa membunuh.”
Dastan menarik napas lega.
“Air seharusnya menahan kebodohan, bukan selalu mengambil nyawa.”
Ardashir memandang gurunya dengan hormat.
Strategi terbaik di masa itu bukan selalu membunuh musuh sebanyak mungkin.
Kadang strategi terbaik adalah memperlambat musuh, memutus pandangan, memadamkan obor, dan memenangkan waktu.
Waktu, malam itu, lebih berharga daripada emas.
Mereka melanjutkan perjalanan melalui saluran samping.
Ruang mekanis itu membawa mereka ke lorong yang lebih tua lagi. Di dindingnya ada tulisan pahat yang hampir hilang. Dastan membacanya perlahan.
“Untuk para penjaga air: jangan biarkan kekuasaan berdiri di atas kelaparan orang kecil.”
Shirin menunduk.
“Siapa yang menulis itu?”
Dastan mengusap batu tua itu.
“Insinyur yang lebih bijak daripada para bangsawan yang membayar mereka.”
Mithren berkata pelan, “Dan lihatlah apa yang terjadi sekarang.”
Ardashir menyentuh tulisan itu sebentar.
Ia teringat Roxana di desa, mencatat giliran air agar orang tidak bertengkar.
Ia teringat Artazara di ruang arsip, menjaga nama-nama agar tidak hilang.
Ia teringat Farrokh, yang sering kasar tetapi tidak pernah membiarkan catatan berubah menjadi kebohongan.
Peradaban besar tidak hanya dibangun oleh istana.
Ia dibangun oleh orang-orang yang percaya bahwa air harus dibagi dengan adil.
Beberapa lama kemudian mereka tiba di ruang kecil dengan langit-langit tinggi.
Di atasnya ada lubang vertikal menuju permukaan.
Cahaya bulan masuk tipis.
Dastan melihat ke atas.
“Sumur inspeksi.”
Ardashir memandang dindingnya.
Ada pijakan batu kecil naik melingkar.
“Kita bisa keluar?”
“Bisa,” kata Dastan. “Tapi perlahan.”
Mithren menolak naik dulu.
“Catatan lebih dulu.”
Ia menyerahkan tabung kulit kepada Shirin.
“Naik.”
Shirin menggeleng.
“Tuan dulu.”
Mithren menatapnya tajam.
“Kau pencatat. Kalau aku mati, kau harus membawa kebenaran. Jangan romantiskan pengorbanan bodoh.”
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang akan dikatakan Rustom.
Shirin akhirnya naik.
Ardashir menyusul di belakangnya dengan peti kecil. Lalu Dastan. Mithren terakhir.
Setengah jalan naik, terdengar suara dari bawah.
Prajurit menemukan ruang mekanis.
“Mereka ke sumur!”
Ardashir mempercepat naik.
Shirin sudah mencapai permukaan.
Ia menarik peti dari tangan Ardashir.
Lalu Ardashir keluar.
Udara malam menghantam wajahnya.
Mereka muncul di lereng batu tidak jauh dari Dar-e-Sefid. Dari sana terlihat bangunan tua itu dikepung pasukan Lord Arvash. Obor-obor menyala. Kuda-kuda bergerak. Beberapa prajurit masih masuk keluar dari pintu utama.
Mereka belum sadar bahwa buruan mereka sudah keluar melalui sumur inspeksi tua.
Dastan muncul berikutnya, terengah.
“Aku terlalu tua untuk lahir kembali dari lubang batu.”
Ardashir membantu menariknya.
Namun ketika Mithren hampir mencapai permukaan, sebuah suara terdengar dari bawah.
Twang.
Anak panah.
Mithren tersentak.
Ardashir segera meraih tangannya.
“Mithren!”
Panah mengenai bahunya.
Tidak fatal, tetapi cukup membuatnya kehilangan pegangan.
Dastan dan Ardashir menariknya bersama-sama.
Mithren jatuh di permukaan, napasnya berat.
Shirin langsung menekan lukanya.
“Kita harus pergi.”
Ardashir melihat ke bawah sumur.
Cahaya obor mendekat.
“Sekarang.”
Mereka bergerak cepat menuruni lereng batu.
Tetapi Mithren tidak sanggup berjalan jauh.
Ardashir hendak memapahnya, namun Dastan menunjuk ke arah timur.
“Di sana. Jalur kering.”
“Ke mana?”
“Pos tua penjaga qanat. Kalau masih ada, kita bisa bersembunyi sampai fajar.”
“Kalau sudah runtuh?”
Dastan menatapnya.
“Maka kita akan sangat kecewa.”
Mereka mencapai pos tua itu sebelum tengah malam.
Bangunannya kecil, setengah tertimbun pasir. Namun dindingnya masih berdiri. Di dalamnya terdapat ruang sempit, tempat para penjaga qanat dulu menyimpan alat: tali, kait, pahat, pelita, dan kendi air.
Shirin menyalakan lampu kecil.
Mithren duduk bersandar pada dinding.
Lukanya dibalut seadanya.
Ardashir meletakkan peti catatan di tengah ruangan.
“Kita punya bukti?”
Shirin membuka peti.
Di dalamnya ada beberapa gulungan, segel, dan tablet kecil.
Mithren menunjuk satu tabung.
“Itu salinan perintah pembayaran.”
Ia menunjuk tablet lain.
“Itu daftar desa yang sengaja ditekan alirannya.”
Lalu ia menunjuk sebuah lempengan perunggu kecil.
“Dan itu yang paling penting.”
Dastan mengambilnya.
Di atas lempengan itu terukir rancangan sistem pengendalian air Dar-e-Sefid, lengkap dengan tanda penggunaan dan jaringan saluran.
Di bagian bawah ada segel.
Bukan segel Nabarz.
Bukan segel Mithren.
Melainkan elang emas.
Lord Arvash.
Ardashir menatapnya lama.
“Ini cukup untuk menjatuhkannya?”
Mithren tersenyum pahit.
“Untuk menjatuhkan orang kecil, cukup satu catatan. Untuk menjatuhkan orang besar, butuh catatan, saksi, keberanian, dan raja yang mau mendengar.”
Dastan menutup peti.
“Maka kita harus memastikan semuanya sampai ke kota.”
Shirin berkata, “Jalur utama tidak aman.”
“Benar,” kata Ardashir.
Ia melihat ke arah langit melalui celah dinding.
Menara api tidak terlihat dari tempat itu.
Tetapi ia ingat jaringan lama pos kurir.
“Dar-e-Sefid dulu punya hubungan ke pos mana?”
Dastan berpikir.
“Pos batu merah. Timur laut.”
“Masih aktif?”
“Sebagai pos kecil, mungkin.”
Mithren berkata, “Arvash pasti mengawasi jalan utama ke sana.”
Ardashir menatap peti bukti.
“Kalau begitu kita tidak lewat jalan.”
Shirin menatapnya.
“Lewat mana?”
Ardashir menunjuk tanah.
“Lewat air.”
Dastan terdiam.
Lalu pelan-pelan tersenyum.
“Kau mulai berpikir seperti insinyur.”
“Tidak. Aku hanya terlalu sering hampir mati di dekat air.”
Dastan mengangguk.
“Itu juga guru yang baik.”
Sementara itu, di kota Persia, Artazara menerima kabar buruk.
Tidak ada laporan dari Dar-e-Sefid.
Tidak ada kabar dari Ardashir.
Tidak ada kabar dari Dastan.
Dan seorang pengintai kerajaan melaporkan bahwa pasukan pribadi Lord Arvash bergerak ke wilayah itu tanpa perintah resmi.
Farrokh membaca laporan itu tiga kali.
Vardan berdiri di sampingnya, kali ini tanpa makanan.
Artazara menatap peta.
“Kalau Arvash bergerak terbuka, berarti dia tahu ada sesuatu yang bisa membahayakannya.”
Farrokh mengangguk.
“Dan kalau Ardashir ada di sana…”
Vardan menyelesaikan kalimat itu dengan suara pelan.
“Maka dia berada di tengah sarang ular.”
Artazara menatapnya.
Untuk pertama kalinya, Vardan tidak berusaha membuat kalimat lucu setelah mengatakan sesuatu yang berat.
Itu membuat keadaan terasa lebih menakutkan.
Artazara mengambil sebuah segel.
“Aku akan mengirim pesan kepada ayahku.”
“Jenderal Artaban?” tanya Vardan.
“Ya.”
Farrokh menatapnya.
“Kau siap menuduh Lord Arvash?”
Artazara menatap peta.
“Aku belum akan menuduh.”
“Lalu?”
“Aku akan meminta ayahku bergerak sebelum bukti dibunuh.”
Farrokh mengangguk pelan.
“Itu kalimat yang bagus.”
Vardan menatap Farrokh.
“Apakah kita semua mulai berbicara seperti orang yang tidak punya waktu untuk bercanda?”
Farrokh menjawab datar, “Akhirnya kau menyadarinya.”
Vardan menarik napas.
“Aku tidak menyukainya.”
“Tidak ada yang menyukai keadaan genting.”
Artazara menulis pesan cepat:
Ayah,
Lord Arvash menggerakkan pasukan pribadi ke Dar-e-Sefid tanpa perintah resmi.
Ardashir dan Dastan mungkin berada di sana.
Mithren belum pasti mati.
Jika bukti ada, ia sedang diburu.
Mohon bergerak diam-diam. Jangan melalui jalur yang diketahui istana.
Kita mungkin sedang menghadapi pengkhianatan yang memakai air sebagai senjata.
— Artazara
Ia menutup pesan dengan segel.
Lalu menyerahkannya kepada kurir tercepat.
“Bawa ini langsung kepada Jenderal Artaban. Jangan berhenti di kantor mana pun. Jangan bicara kepada siapa pun.”
Kurir itu menunduk.
“Ya, Putri.”
Ketika kurir pergi, Artazara menatap jendela.
Di luar, malam kota Persia tampak tenang.
Namun ia tahu, di balik ketenangan itu, sesuatu sedang bergerak.
Di desa, Roxana juga merasakan kegelisahan.
Ia berdiri di dekat saluran air, memandang aliran yang mulai mengecil lagi.
Armin, utusan Nabarz, masih berbicara manis kepada sebagian warga.
Konflik desa belum selesai.
Namun malam itu, Roxana tidak hanya memikirkan desa.
Ia memikirkan Ardashir.
Tidak ada kabar.
Tidak ada surat.
Tidak ada tanda.
Ibunya mendekat.
“Kau mencemaskan dia.”
“Ya.”
“Berdoalah.”
“Sudah.”
“Berdoa lagi.”
Roxana tersenyum sedih.
“Farrokh pernah mengatakan hal yang sama kepada Artazara.”
Ibunya mengusap bahunya.
“Orang tua kadang sama di tempat berbeda.”
Roxana menatap air.
Air itu mengalir pelan.
Terlalu pelan.
Lalu ia melihat sesuatu.
Sebuah daun kecil berhenti di percabangan saluran.
Bukan karena batu.
Bukan karena lumpur.
Karena ada penghalang kecil yang sengaja dipasang di bawah air.
Roxana berjongkok.
Mengangkat penghalang itu.
Di bawah cahaya bulan, ia melihat tanda kecil di kayunya.
Unta dan matahari.
Karavan Nabarz.
Wajah Roxana mengeras.
Kali ini, Ardashir tidak ada.
Dastan tidak ada.
Tetapi rumah tetap harus dijaga.
Ia berdiri.
Lalu berkata kepada ibunya,
“Panggil Mehrdad. Panggil tetua. Sekarang.”
Ibunya menatapnya.
“Ada apa?”
Roxana menggenggam potongan kayu itu.
“Mereka mulai bergerak di desa.”
Di pos tua penjaga qanat, Ardashir menyadari hal yang sama dari arah lain.
Perang mereka bukan satu tempat.
Bukan hanya Dar-e-Sefid.
Bukan hanya kota.
Bukan hanya desa.
Jaringan itu bergerak seperti air di bawah tanah.
Tenang.
Tersembunyi.
Menyentuh banyak tempat sekaligus.
Ia memandang Dastan, Mithren, dan Shirin.
“Kita harus membagi bukti.”
Mithren mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Kalau satu dari kita tertangkap, semuanya tidak hilang.”
Shirin mengangguk.
“Itu strategi arsip lama. Salinan terpisah.”
Dastan tersenyum.
“Bagus. Sekarang kau berpikir seperti pencatat juga.”
Ardashir hampir tertawa.
“Aku takut Farrokh akan bangga.”
Mereka membagi bukti.
Peti utama bersama Shirin.
Lempengan perunggu bersama Ardashir.
Daftar nama bersama Dastan.
Kesaksian hidup bersama Mithren, jika ia mampu bertahan.
Di luar, angin malam bergerak di antara batu.
Jauh di lembah, obor-obor pasukan Arvash masih tampak mencari.
Namun kini mereka punya sesuatu yang tidak dimiliki para pengejar.
Bukan jumlah.
Bukan senjata.
Bukan kekuasaan.
Mereka punya pengetahuan tentang air.
Dan dalam tanah Persia, kadang pengetahuan tentang air lebih berharga daripada seribu tombak.
Menjelang fajar, Dastan membuka kembali pintu kecil di lantai pos tua.
Di bawahnya terdengar air mengalir.
“Jalur ini akan membawa kita ke timur laut,” katanya. “Jika Tuhan dan para insinyur tua masih menyayangi kita.”
Ardashir menatap lorong gelap.
“Kita masuk lagi?”
Dastan mengangguk.
“Tidak ada jalan aman di atas.”
Mithren mencoba berdiri.
Tubuhnya lemah, tetapi matanya hidup.
“Aku ikut.”
Shirin menopangnya.
Ardashir menggenggam lempengan perunggu dengan segel elang emas.
Bukti pertama yang dapat mengguncang seorang bangsawan besar.
Ia teringat Roxana.
Artazara.
Bahram.
Desa.
Kota.
Air.
Semua terhubung oleh lorong gelap di bawah tanah.
Dastan menyalakan lampu kecil.
“Siap?”
Ardashir menatap gelap itu.
“Tidak.”
Dastan tersenyum.
“Bagus. Orang yang merasa siap masuk qanat tua biasanya mati lebih cepat.”
Shirin hampir tersenyum.
Mithren menghela napas.
Lalu mereka turun.
Satu per satu.
Ke dalam jalur air kuno Persia.
Membawa bukti.
Membawa luka.
Membawa rahasia yang jika sampai ke cahaya, bisa mengubah nasib kerajaan.
Akhir Bab 11
“Teknologi terbaik bukan sekadar alat yang membuat manusia berkuasa.
Teknologi terbaik adalah pengetahuan yang menolong manusia menjaga kehidupan dari tangan orang-orang yang ingin menguasainya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar