Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 12
Jalur Air Menuju Pos Batu Merah
Malam masih gelap ketika mereka kembali turun ke dalam qanat.
Di depan berjalan Dastan membawa lampu kecil.
Di belakangnya Shirin memegang peti berisi dokumen.
Ardashir membawa lempengan perunggu bertanda elang emas milik Lord Arvash.
Sedangkan Mithren berjalan paling belakang.
Langkahnya mulai berat.
Panah yang mengenai bahunya tidak mematikan.
Namun kehilangan darah perlahan mulai menguras tenaganya.
Lorong bawah tanah itu semakin sempit.
Air mengalir setinggi betis.
Dinding batu terasa dingin.
Sesekali terdengar gema air jatuh dari lubang inspeksi yang berada puluhan hasta di atas kepala mereka.
Teknologi qanat Persia memang luar biasa.
Bahkan setelah puluhan tahun tidak digunakan, sebagian besar jalurnya masih bekerja.
Air tetap mengalir.
Udara tetap bergerak.
Dan manusia masih dapat berjalan di dalamnya.
"Siapa yang membangun semua ini?"
tanya Ardashir.
Dastan tersenyum tipis.
"Ribuan orang."
"Lalu?"
"Dan tidak satu pun dari mereka dikenal sejarah."
Ardashir terdiam.
"Raja dikenang."
lanjut Dastan.
"Jenderal dikenang."
"Pedagang besar dikenang."
Ia menyentuh dinding batu.
"Tetapi orang-orang yang menggali ini..."
"...merekalah yang membuat semuanya mungkin."
Untuk beberapa saat hanya suara air yang terdengar.
Desa
Sementara itu...
jauh di selatan...
Roxana mulai menghadapi peperangannya sendiri.
Balai desa penuh.
Tetua.
Mehrdad.
Petani.
Pedagang.
Pemilik kebun.
Semuanya berkumpul.
Di atas meja terdapat potongan kayu yang ditemukan Roxana di dalam saluran air.
Potongan kecil.
Namun cukup untuk mengurangi aliran ke beberapa ladang.
"Ini bukti."
kata Roxana.
Salah seorang warga berdiri.
"Mungkin hanya anak-anak."
"Tidak."
jawab Roxana tenang.
"Kayu ini dipotong dengan alat pertukangan yang baik."
Ia membalik kayu itu.
Menunjukkan simbol kecil.
Unta.
Dan matahari.
Lambang Karavan Nabarz.
Ruangan langsung riuh.
Sebagian marah.
Sebagian tidak percaya.
Karena Armin telah berhasil membuat banyak orang menyukainya.
"Ini bisa dipalsukan!"
teriak seseorang.
"Benar."
jawab Roxana.
"Itulah sebabnya aku tidak meminta kalian percaya kepadaku."
Semua terdiam.
"Lalu?"
Roxana menunjuk saluran.
"Kita periksa bersama."
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada teriakan.
Hanya fakta.
Dan perlahan-lahan...
cara itu mulai mengubah keadaan.
Mehrdad memperhatikan dari jauh.
Kemudian tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang dulu hanya dimiliki Artazara.
Kemampuan membuat orang berpikir sebelum bertengkar.
Kota Persia
Di kota...
Artazara juga sedang menghadapi masalah.
Pesan untuk ayahnya telah dikirim.
Namun kini ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Jika Lord Arvash memang berada di balik semua ini...
Maka sebagian pegawai kerajaan mungkin bekerja untuknya.
Termasuk kurir.
Termasuk pengawas.
Termasuk pejabat.
Mungkin bahkan orang-orang di sekitar istana.
Farrokh sedang memeriksa daftar pengiriman.
Tiba-tiba ia berhenti.
"Aneh."
"Apa?"
tanya Artazara.
Farrokh menunjuk catatan.
"Empat pesan hilang."
Artazara membeku.
"Hilang?"
"Tidak pernah sampai."
"Ke mana?"
Farrokh mengangkat bahu.
"Itulah masalahnya."
Untuk pertama kalinya mereka menyadari...
Jaringan lawan tidak hanya mengendalikan air.
Mereka mungkin juga mengendalikan informasi.
Jalur Bawah Tanah
Sementara itu...
perjalanan Ardashir semakin sulit.
Mereka tiba di ruang percabangan besar.
Tiga lorong.
Lima saluran.
Dan sebuah alat mekanis tua yang masih bekerja.
Dastan langsung mendekat.
Matanya berbinar seperti anak kecil.
"Indah."
Shirin tertawa kecil.
"Apa yang indah?"
"Ini."
Ia menunjuk roda-roda kecil.
Katup.
Pelampung.
Dan penunjuk aliran.
Sistem itu memungkinkan penjaga mengalihkan air ke jalur berbeda hanya dengan mengubah posisi beberapa pemberat batu.
Tidak membutuhkan pasukan.
Tidak membutuhkan puluhan pekerja.
Hanya pemahaman.
"Itulah kekuatan teknologi."
kata Dastan.
"Teknologi yang baik membuat pekerjaan berat menjadi sederhana."
"Dan teknologi yang buruk?"
tanya Ardashir.
Dastan tersenyum.
"Membuat masalah sederhana menjadi mahal."
Bahkan Mithren yang terluka ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak pengepungan.
Ancaman Baru
Namun tawa itu tidak berlangsung lama.
Karena mereka menemukan sesuatu.
Jejak kaki.
Baru.
Sangat baru.
Di lumpur lorong.
Dastan berlutut.
Ardashir ikut melihat.
"Berapa orang?"
"Empat."
jawab Dastan.
"Mungkin lima."
"Pasukan Arvash?"
Dastan menggeleng.
"Itu yang aneh."
"Kenapa?"
"Jejak ini berasal dari depan."
Keheningan turun.
Karena itu berarti seseorang berada di depan mereka.
Bukan mengejar dari belakang.
Menunggu dari depan.
Istana
Pada saat yang sama...
Jenderal Artaban menerima pesan putrinya.
Ia membacanya dua kali.
Kemudian tiga kali.
Wajahnya berubah.
Tidak karena marah.
Tetapi karena khawatir.
Sangat khawatir.
Ia mengenal Lord Arvash.
Terlalu mengenalnya.
Arvash bukan orang yang gegabah.
Jika ia bergerak terbuka...
berarti ia yakin dapat mengendalikan keadaan.
Artaban memanggil ajudannya.
"Siapkan dua puluh orang."
Ajudan terkejut.
"Hanya dua puluh?"
Artaban mengangguk.
"Kalau aku membawa dua ratus, semua orang akan tahu."
"Lalu?"
"Kalau aku membawa dua puluh..."
Ia berdiri.
"...aku masih bisa bergerak diam-diam."
Qanat Tua
Kembali ke bawah tanah.
Lorong mulai menanjak.
Udara berubah.
Lebih segar.
Lebih dingin.
Dastan tersenyum.
"Kita dekat."
"Dengan Pos Batu Merah?"
"Ya."
Untuk pertama kalinya harapan muncul.
Namun tepat saat itu...
Mereka melihat cahaya.
Di depan.
Bukan cahaya bulan.
Bukan cahaya fajar.
Melainkan cahaya lampu minyak.
Seseorang sedang menunggu.
Ardashir segera menarik pisau.
Shirin memegang peti lebih erat.
Mithren berusaha berdiri tegak.
Dastan memicingkan mata.
Bayangan itu perlahan bergerak mendekat.
Semakin dekat.
Semakin jelas.
Seorang lelaki tua.
Janggut putih.
Tongkat kayu.
Jubah pengawas air.
Dan simbol kerajaan di dadanya.
Mithren langsung membeku.
Wajahnya berubah pucat.
"Mustahil..."
Ardashir menoleh.
"Kau mengenalnya?"
Mithren menelan ludah.
Kemudian berkata dengan suara hampir berbisik:
"Dia seharusnya sudah mati lima belas tahun lalu."
Lampu minyak bergoyang pelan.
Bayangan lelaki tua itu memanjang di dinding qanat.
Dan untuk pertama kalinya...
Ardashir merasa bahwa misteri ini ternyata jauh lebih tua daripada yang mereka bayangkan.
Jauh lebih tua daripada Nabarz.
Jauh lebih tua daripada Arvash.
Mungkin...
bahkan lebih tua daripada Mithren sendiri.
Akhir Bab 12
"Sebagian konspirasi dibangun oleh keserakahan.
Sebagian lagi dibangun oleh kesabaran.
Yang paling berbahaya adalah konspirasi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar