Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 9
Penjaga Pintu yang Hilang
Fajar belum sepenuhnya datang ketika Ardashir sudah terjaga.
Ia berdiri di dekat saluran air kecil di samping rumahnya.
Kabut tipis menggantung di atas ladang.
Air mengalir perlahan.
Tenang.
Seolah tidak ada apa-apa yang sedang terjadi.
Namun kini Ardashir memahami sesuatu yang belum pernah ia pahami sebelumnya.
Air yang tampak tenang bisa menyimpan perebutan kekuasaan yang sangat besar.
Di belakangnya terdengar langkah kaki.
Roxana.
Membawa dua cangkir teh hangat.
Seperti biasa.
Dan seperti biasa pula, Ardashir merasa dunia sedikit lebih baik ketika melihatnya.
"Kau memikirkan Mithren."
kata Roxana.
"Bisa terlihat?"
"Aku menikah denganmu."
"Itu jawaban yang tidak adil."
"Itu jawaban yang benar."
Mereka duduk di bawah pohon delima.
Pohon yang kini mulai tumbuh lebih besar.
Beberapa buah muda mulai terlihat.
Hijau.
Masih kecil.
Namun menjanjikan masa depan.
"Apa yang akan kau lakukan?"
tanya Roxana.
Ardashir terdiam cukup lama.
Lalu berkata pelan,
"Aku harus pergi."
Roxana sudah menduganya.
Tetapi tetap saja.
Mendengar langsung selalu berbeda.
"Ke Persepolis?"
Ardashir mengangguk.
"Kalau Mithren masih hidup, dia mungkin satu-satunya orang yang bisa membuka pintu ini."
Roxana menatap ladang.
Diam.
Lalu berkata pelan,
"Kalau kau pergi..."
"Hm?"
"Desa akan tetap membutuhkan seseorang."
Kini Ardashir menatap istrinya.
Dan perlahan mulai mengerti.
"Roxana..."
"Aku tidak ikut."
"Kau yakin?"
"Aku tidak mengatakan aku tidak takut."
Ia tersenyum kecil.
"Tapi seseorang harus menjaga rumah ketika yang lain menjaga jalan."
Untuk sesaat Ardashir tidak berkata apa-apa.
Karena ia menyadari sesuatu.
Di masa lalu ia menganggap dirinya pelindung Roxana.
Kini ia mengerti.
Roxana juga pelindungnya.
Hanya dengan cara yang berbeda.
Kota Persia
Pada saat yang sama...
Artazara tidak tidur semalaman.
Farrokh juga tidak.
Bahkan Vardan hanya tidur setengah malam.
Yang menurutnya sudah merupakan pengorbanan luar biasa bagi negara.
Di depan mereka terbentang daftar perjalanan Mithren selama dua tahun terakhir.
Artazara mulai memberi tanda.
"Perhatikan ini."
Farrokh mendekat.
Mithren mengunjungi:
- Bendungan Timur
- Qanat Agung Selatan
- Gudang Gandum Pars
- Pos Distribusi Air Utama
Tidak ada yang aneh.
Semua sesuai tugasnya.
Namun kemudian Artazara menunjuk sesuatu.
Sebuah perjalanan kecil.
Hanya satu hari.
Tidak tercatat dalam laporan resmi.
Farrokh mengerutkan dahi.
"Ini dari mana?"
"Aku menemukannya di catatan kuda pos."
"Kenapa tidak ada dalam laporan Mithren?"
"Itulah yang ingin kutanyakan."
Lokasi yang dikunjungi Mithren adalah sebuah tempat kecil di luar Persepolis.
Nama tempat itu:
Dar-e-Sefid.
Gerbang Putih.
Sebuah stasiun pengukuran air tua yang sudah tidak digunakan selama puluhan tahun.
Atau setidaknya...
semua orang mengira begitu.
Desa
Sementara itu...
ketegangan di desa semakin terasa.
Armin, utusan Karavan Nabarz, masih berada di sana.
Dan ia bekerja dengan sangat cerdas.
Ia tidak membagikan uang.
Itu terlalu kasar.
Ia membagikan harapan.
Ia berbicara kepada petani tentang panen yang lebih besar.
Ia berbicara kepada pedagang tentang keuntungan.
Ia berbicara kepada orang tua tentang masa depan anak-anak mereka.
Dan yang paling berbahaya...
Ia berbicara dengan sopan.
Orang-orang mulai menyukainya.
Mehrdad memperhatikan semuanya dengan gelisah.
Suatu sore ia menemui Roxana.
"Kita punya masalah."
"Itu bukan berita baru."
"Masalah ini berbeda."
Mehrdad menunjuk balai desa.
"Dua keluarga bertengkar tadi pagi."
"Tentang apa?"
"Tentang tawaran Nabarz."
Roxana terdiam.
Konflik itu akhirnya datang.
Bukan karena air.
Bukan karena gandum.
Tetapi karena manusia mulai memilih kubunya masing-masing.
Perjalanan Dimulai
Dua hari kemudian...
Ardashir berangkat.
Bersama Dastan.
Bahram bersikeras ikut sampai perbatasan wilayah.
"Karena aku ayahmu."
katanya.
"Itu alasan yang buruk."
"Itu alasan yang cukup."
Roxana menyiapkan bekal.
Roti.
Kurma.
Keju.
Dan sebuah kantong kecil berisi biji delima kering.
"Apa ini?"
tanya Ardashir.
"Kalau kau terlalu lama di jalan."
"Lalu?"
"Tanam satu."
Ardashir tersenyum.
"Kenapa?"
"Supaya kau ingat ada rumah yang menunggumu."
Tidak ada syair.
Tidak ada puisi.
Namun justru itulah yang membuat Ardashir hampir tidak mampu menjawab.
Dar-e-Sefid
Empat hari kemudian...
mereka tiba.
Tempat itu jauh lebih aneh daripada yang dibayangkan.
Dar-e-Sefid berdiri di tengah lembah batu.
Di sana terdapat bangunan tua.
Sebagian runtuh.
Sebagian tertutup debu.
Namun sesuatu langsung menarik perhatian Dastan.
Saluran air.
Masih berfungsi.
"Mustahil."
gumamnya.
Ardashir menoleh.
"Apa?"
"Tempat ini seharusnya mati puluhan tahun lalu."
Mereka mendekat.
Dan semakin dekat mereka berjalan...
semakin jelas terlihat bahwa seseorang merawat tempat itu.
Batu-batu dibersihkan.
Pintu diperbaiki.
Mekanisme air masih bekerja.
Teknologi Persia yang sangat tua.
Namun masih hidup.
Dastan memandang sebuah roda air besar yang berada di bawah tanah.
Matanya membesar.
"Aku mengenal rancangan ini."
"Siapa pembuatnya?"
Dastan terdiam.
Lalu menjawab perlahan.
"Guru guruku."
Kini Ardashir ikut terdiam.
Karena itu berarti teknologi yang mereka lihat berasal dari generasi sebelumnya.
Salah satu sistem pengendalian air paling maju yang pernah dibuat Persia.
Dan seseorang...
menggunakannya kembali.
Temuan
Di ruang bawah tanah Dar-e-Sefid...
mereka menemukan sesuatu.
Bukan emas.
Bukan senjata.
Melainkan peta.
Sangat banyak peta.
Peta saluran air.
Peta qanat.
Peta distribusi gandum.
Peta perdagangan.
Dan di tengah semuanya...
terdapat satu peta raksasa.
Peta seluruh wilayah selatan Persia.
Dastan memandangnya lama.
Ardashir juga.
Lalu perlahan mereka menyadari sesuatu.
Semua titik yang bermasalah.
Semua desa.
Semua gudang.
Semua jalur perdagangan.
Sudah ditandai.
Bertahun-tahun sebelumnya.
Bukan beberapa bulan.
Bukan dua tahun.
Bertahun-tahun.
"Dastan..."
bisik Ardashir.
"Ya?"
"Ini bukan rencana baru."
Dastan mengangguk pelan.
Wajahnya pucat.
"Benar."
Ia menunjuk salah satu tanda di peta.
Tinta itu sudah tua.
Sangat tua.
"Ini sudah dirancang sejak lama."
Untuk pertama kalinya...
Ardashir merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada korupsi.
Karena korupsi bisa lahir dari keserakahan sesaat.
Tetapi ini...
Ini adalah kesabaran.
Kesabaran seseorang yang merancang sesuatu selama bertahun-tahun.
Dan orang seperti itu biasanya sangat berbahaya.
Tiba-tiba terdengar suara.
Bukan langkah.
Bukan pintu.
Melainkan suara seseorang berbicara.
Dari ruang lain.
Dastan langsung memadamkan lampu.
Ardashir menarik pisau.
Mereka berdua menahan napas.
Karena mereka tidak lagi sendirian di Dar-e-Sefid.
Dan seseorang...
baru saja datang.
Akhir Bab 9
"Orang berbahaya bukan yang mampu menunggu satu hari.
Orang berbahaya adalah yang mampu menunggu puluhan tahun."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar