Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 13
Penjaga Qanat yang Hilang
Air mengalir pelan di lorong batu.
Lampu minyak di tangan lelaki tua itu bergoyang lembut, memantulkan cahaya ke dinding qanat yang telah berdiri selama puluhan tahun.
Tidak ada yang berbicara.
Bahkan Dastan.
Yang biasanya selalu memiliki jawaban.
Kini hanya memandang sosok di depan mereka dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Campuran antara terkejut.
Hormat.
Dan sedikit ketakutan.
"Ini tidak mungkin..."
ulang Mithren.
Lelaki tua itu tersenyum tipis.
"Waktu telah membuatku lebih tua."
katanya.
"Tetapi belum cukup tua untuk menjadi hantu."
Ardashir menatapnya.
"Siapa Anda?"
Lelaki tua itu memandang Dastan.
Lama.
Sangat lama.
Kemudian berkata pelan,
"Kau tidak mengenaliku lagi, murid kecil?"
Dastan membeku.
Matanya membesar.
Kemudian perlahan ia berlutut.
Bukan karena takut.
Tetapi karena hormat.
"Guru..."
bisiknya.
"Master Parnak."
Keheningan memenuhi lorong.
Karena bahkan Mithren tampak tidak percaya.
Nama itu dikenal di kalangan pengairan Persia.
Legenda.
Perancang.
Orang yang disebut-sebut ikut mengembangkan generasi awal sistem distribusi qanat kerajaan.
Namun menurut catatan resmi...
Ia telah meninggal lima belas tahun lalu.
Lelaki yang Menghilang
Parnak mengangkat lampunya.
Wajahnya memang tua.
Sangat tua.
Namun matanya masih tajam seperti mata elang.
"Aku tidak mati."
katanya.
"Hanya menghilang."
"Kenapa?"
tanya Ardashir.
Parnak tersenyum pahit.
"Karena aku mulai memahami sesuatu yang tidak ingin dipahami orang lain."
Mithren menatapnya.
"Jaringan itu?"
Parnak mengangguk.
"Bahkan lebih tua daripada yang kalian kira."
Mereka semua terdiam.
Karena selama ini mereka mengira semua bermula dari Arvash.
Atau Nabarz.
Ternyata tidak.
Awal Mula
Parnak membawa mereka ke sebuah ruangan kecil yang tersembunyi di samping lorong utama.
Ruangan itu luar biasa.
Di sana terdapat:
- peta-peta tua,
- roda-roda perunggu,
- model saluran air,
- alat ukur,
- dan catatan teknik.
Seolah sebuah perpustakaan rahasia bagi para insinyur.
Dastan hampir menangis.
"Ini..."
Parnak tertawa.
"Kau masih sama."
"Aku pikir semuanya hilang."
"Karena itulah aku menyembunyikannya."
Teknologi yang Hilang
Di tengah ruangan terdapat sebuah model besar.
Model seluruh sistem pengairan Persia Selatan.
Ardashir memandang kagum.
Saluran.
Qanat.
Bendungan.
Lumbung.
Jalan perdagangan.
Semuanya saling terhubung.
"Persia dibangun oleh air."
kata Parnak.
"Bukan oleh emas."
Ia memutar sebuah roda kecil.
Pada model itu air mengalir melalui saluran miniatur.
Kemudian berhenti.
Lalu beralih ke jalur lain.
Ardashir memperhatikan.
"Ini seperti permainan."
"Ini simulasi."
jawab Parnak.
"Digunakan untuk menguji dampak perubahan aliran sebelum diterapkan di lapangan."
Mithren mengangkat kepala.
"Kalian sudah memiliki ini puluhan tahun lalu?"
Parnak mengangguk.
"Dan itulah masalahnya."
Bahaya Pengetahuan
Parnak berjalan ke arah dinding.
Di sana terdapat peta tua.
Lebih tua dari semua yang pernah mereka lihat.
"Tiga puluh tahun lalu."
katanya.
"Sebagian bangsawan mulai menyadari sesuatu."
"Apa?"
"Mengendalikan air lebih menguntungkan daripada mengendalikan tentara."
Keheningan turun.
Karena kalimat itu terasa sangat benar.
Tentara membutuhkan makanan.
Gaji.
Peralatan.
Namun air...
Jika dikuasai...
Orang-orang akan datang sendiri.
Rahasia Arvash
Parnak menunjuk salah satu titik pada peta.
"Itulah awalnya."
Sebuah wilayah kecil.
Tidak penting.
Tidak terkenal.
Namun menjadi tempat percobaan pertama.
Mengurangi aliran.
Meningkatkan aliran.
Mengubah panen.
Mengendalikan harga.
Mengendalikan pasar.
Mengendalikan manusia.
"Siapa yang memulainya?"
tanya Ardashir.
Parnak terdiam.
Lalu menjawab.
"Bukan Arvash."
Semua membeku.
"Bukan?"
Parnak menggeleng.
"Arvash hanya pewaris."
Mithren menelan ludah.
"Kalau begitu siapa?"
Parnak menatap lampu minyak.
Untuk pertama kalinya wajahnya tampak sedih.
"Sahabatku sendiri."
Di Desa
Pada saat yang sama...
Roxana mulai memperoleh kemenangan kecil.
Pemeriksaan saluran dilakukan bersama.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada teriakan.
Hanya fakta.
Dan fakta berbicara.
Makin banyak penghalang ditemukan.
Makin banyak tanda Karavan Nabarz muncul.
Armin mulai kehilangan pengaruh.
Namun ia belum menyerah.
Karena malam itu...
seorang kurir rahasia tiba di rumah tamunya.
Membawa pesan.
Sangat singkat.
Dar-e-Sefid gagal.
Bukti belum ditemukan.
Bersiap untuk tahap berikutnya.
Armin membaca pesan itu.
Dan untuk pertama kalinya...
ia tampak gugup.
Istana
Di kota Persia...
Artaban akhirnya bergerak.
Dua puluh prajurit terbaik.
Tanpa bendera.
Tanpa seragam resmi.
Tanpa pengumuman.
Mereka bergerak seperti bayangan.
Farrokh menerima kabar itu.
Lalu menghela napas lega.
"Kita akhirnya punya sekutu."
Artazara menggeleng.
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena Arvash belum bergerak."
Dan itu justru yang membuatnya khawatir.
Kebenaran yang Lebih Besar
Kembali ke ruang rahasia bawah tanah.
Parnak membuka sebuah peti tua.
Kayunya hampir lapuk.
Namun isi di dalamnya masih utuh.
Ia mengeluarkan sebuah gulungan.
Sangat tua.
Sangat rapuh.
Kemudian meletakkannya di meja.
Dastan membaca.
Mithren membaca.
Shirin membaca.
Dan wajah mereka berubah.
Karena gulungan itu berisi sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
Daftar nama.
Bukan nama pedagang.
Bukan nama bangsawan.
Melainkan...
nama para insinyur.
Generasi demi generasi.
Tiga puluh tahun.
Empat puluh tahun.
Lima puluh tahun.
Semuanya terhubung.
Dan di bagian paling bawah...
terdapat satu nama yang membuat seluruh ruangan membeku.
Parnak menutup mata.
Lalu berkata pelan,
"Itulah orang yang memulai semuanya."
Ardashir membaca nama itu.
Kemudian perlahan merasakan darahnya menjadi dingin.
Karena nama tersebut bukan orang asing.
Bukan musuh.
Bukan bangsawan.
Melainkan salah satu tokoh yang selama ini dianggap pahlawan dalam sejarah pengairan Persia.
Orang yang patungnya berdiri di beberapa kota.
Orang yang disebut-sebut sebagai pelindung rakyat.
Orang yang bahkan pernah menjadi guru bagi banyak insinyur.
Arshan Sang Pembangun
Dan tiba-tiba...
seluruh sejarah yang mereka yakini...
mulai terlihat berbeda.
Akhir Bab 13
"Tidak semua warisan yang ditinggalkan para leluhur adalah kebajikan.
Sebagian diwariskan dalam bentuk kebohongan yang begitu lama dipercaya, hingga berubah menjadi sejarah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar