Jumat, 24 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (7)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 7



Nama yang Tidak Seharusnya Muncul

Malam turun lebih cepat dari biasanya.

Atau mungkin...

hanya terasa lebih cepat bagi mereka yang sedang memikul kekhawatiran.

Di rumah kecil dekat saluran air, lampu minyak menyala redup.

Roxana sedang menyalin catatan pembagian air.

Ardashir duduk di dekat jendela.

Di tangannya masih tergenggam segel tanah liat yang ditemukan di bawah pohon delima.

Segel dengan lambang Karavan Nabarz.

Segel yang membawa pesan:

Berhentilah sebelum terlambat.

Semakin lama ia memandangnya...

semakin ia merasa bahwa pesan itu bukan ancaman.

Melainkan peringatan.

Seolah seseorang di dalam jaringan itu masih memiliki hati nurani.

"Apa yang kau pikirkan?"

tanya Roxana.

Ardashir mengangkat kepala.

"Kalau mereka benar-benar ingin menakutiku..."

"Ya?"

"Mereka bisa mengirim orang bersenjata."

"Lalu?"

"Mereka memilih mengirim pesan."

Roxana berhenti menulis.

"Itu berarti?"

"Mungkin ada seseorang yang tidak sepenuhnya setuju dengan apa yang sedang terjadi."

Dastan yang duduk di sudut ruangan mengangguk perlahan.

"Itu pengamatan yang baik."

"Guru juga berpikir begitu?"

"Ya."

Ia memandang api lampu minyak.

"Dalam semua proyek besar yang pernah kulihat..."

Dastan berhenti.

"...selalu ada orang yang mulai takut ketika kebohongan tumbuh terlalu besar."

Keheningan memenuhi ruangan.

Karena semua orang memahami satu hal.

Jika benar ada seseorang di dalam jaringan itu yang mulai ragu...

orang itu bisa menjadi sekutu.

Atau korban berikutnya.

Sementara itu...

jauh di kota Persia.

Situasi berkembang jauh lebih cepat.

Artazara berlari hampir tanpa menyadarinya.

Itu bukan kebiasaannya.

Biasanya ia berjalan tenang.

Terukur.

Namun malam itu berbeda.

Di tangannya terdapat laporan baru.

Laporan yang baru saja tiba dari kantor pengairan wilayah selatan.

Farrokh sedang membaca ketika Artazara masuk.

Tanpa salam.

Tanpa basa-basi.

Ia meletakkan laporan itu di atas meja.

"Kita punya nama."

katanya.

Farrokh membaca.

Semakin lama wajahnya semakin serius.

Bahkan Vardan yang sedang makan kurma berhenti mengunyah.

Peristiwa langka.

Sangat langka.

"Ini tidak mungkin."

gumam Vardan.

Nama yang tertulis di laporan itu adalah:

Mithren.

Ruangan mendadak sunyi.

Karena Mithren bukan orang biasa.

Ia adalah Kepala Administrasi Pengairan Wilayah Selatan.

Orang yang bertanggung jawab atas:

  • saluran utama,
  • qanat wilayah,
  • distribusi air,
  • pembangunan irigasi,
  • dan audit pengairan.

Jika Persia adalah tubuh...

Mithren memegang sebagian urat nadinya.

Artazara duduk perlahan.

"Aku memeriksa ulang tiga kali."

Farrokh mengangguk.

"Aku juga akan melakukannya."

Mereka mulai membaca satu per satu.

Tanda tangan.

Cap wilayah.

Catatan pembangunan.

Pembelian batu.

Perbaikan saluran.

Distribusi alat ukur.

Dan semakin banyak mereka membaca...

semakin sering nama Mithren muncul.

Namun bukan itu yang paling mengganggu.

Yang paling mengganggu adalah reputasinya.

Mithren dikenal sebagai pejabat yang bersih.

Disiplin.

Rajin.

Tidak pernah terlibat skandal.

Tidak pernah hidup mewah.

Tidak pernah terlihat mencurigakan.

"Kalau dia bersalah..."

gumam Artazara.

"...maka dia sangat pintar."

Farrokh menatap lampu minyak.

Lalu berkata pelan.

"Atau seseorang sedang menyiapkan dirinya sebagai kambing hitam."

Vardan menelan kurma.

"Kenapa semua kemungkinan kalian selalu buruk?"

Tak ada yang menjawab.

Karena pertanyaan itu terlalu masuk akal.

Malam itu mereka mengirim kurir tercepat ke selatan.

Pesan untuk Ardashir.

Pesan yang harus sampai secepat mungkin.

Namun...

seseorang ternyata lebih cepat.

Keesokan harinya.

Desa sedang ramai.

Perdebatan tentang tawaran Karavan Nabarz semakin panas.

Di balai desa.

Dua kelompok mulai terbentuk.

Kelompok pertama berkata:

"Kita harus menerima."

Kelompok kedua berkata:

"Kita harus hati-hati."

Dan seperti semua perdebatan...

semakin lama semakin sedikit orang yang mendengarkan.

Tetua desa memukul tongkatnya.

"Kalian mulai terdengar seperti bebek yang berebut kolam."

Tidak ada yang memperhatikan.

Akhirnya tetua memukul lagi.

Lebih keras.

"Diam!"

Kini semua diam.

Tetua menarik napas panjang.

"Lihat."

katanya.

"Kita belum menerima."

"Kita juga belum menolak."

"Lalu kenapa kalian bertengkar seolah-olah sudah kehilangan akal?"

Beberapa warga menunduk.

Namun masalahnya tidak sesederhana itu.

Karena sebagian warga memang mulai tergoda.

Saluran baru.

Lumbung baru.

Pasar baru.

Itu bukan janji kecil.

Dan justru di situlah bahayanya.

Sore hari.

Ardashir berjalan menyusuri saluran utara.

Sendirian.

Ia ingin berpikir.

Air mengalir tenang.

Burung-burung hinggap di tepi saluran.

Ladang bergoyang diterpa angin.

Semuanya tampak damai.

Namun ketika sampai di dekat tikungan kecil...

ia melihat sesuatu.

Seekor kuda.

Tanpa penunggang.

Kuda itu berdiri diam.

Seolah menunggu.

Ardashir mendekat perlahan.

Kemudian ia melihat seseorang.

Seorang pemuda.

Mungkin dua puluh tahun.

Pakaiannya sederhana.

Namun kualitas kainnya menunjukkan ia bukan petani.

Pemuda itu tampak gugup.

Sangat gugup.

"Aku mencari Ardashir."

katanya.

"Aku Ardashir."

Pemuda itu menelan ludah.

Lalu menyerahkan gulungan kecil.

"Tolong baca sendiri."

Ardashir menerima.

Membuka.

Membaca.

Dan jantungnya langsung berdetak lebih cepat.

Tulisan itu singkat.

Sangat singkat.


Mereka akan membunuh Mithren.

Jangan percaya apa yang akan terjadi berikutnya.

Semua sedang dipersiapkan.

— Seorang teman


Ardashir mengangkat kepala.

Pemuda itu sudah mundur beberapa langkah.

"Siapa kau?"

"Aku tidak bisa memberitahumu."

"Siapa yang mengirim ini?"

"Aku juga tidak bisa memberitahumu."

"Kenapa aku harus percaya?"

Pemuda itu tersenyum pahit.

"Karena aku mempertaruhkan hidupku hanya untuk mengantarkan itu."

Lalu ia menaiki kudanya.

Dan pergi.

Begitu saja.

Ardashir berdiri lama.

Memandang gulungan kecil itu.

Angin sore bergerak pelan.

Untuk pertama kalinya...

ia merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada korupsi.

Jika pesan itu benar...

berarti seseorang sedang bersiap menghilangkan seorang pejabat.

Bukan untuk membungkamnya.

Melainkan agar semua kesalahan dapat ditimpakan kepadanya.

Malam itu.

Kurir dari kota akhirnya tiba.

Pesan dari Artazara.

Pesan itu dibaca bersama oleh Roxana, Dastan, Bahram, dan Ardashir.

Isinya hanya satu nama.

Mithren.

Tidak ada penjelasan panjang.

Tidak ada rincian.

Karena Artazara tahu.

Nama itu saja sudah cukup.

Ardashir perlahan meletakkan surat itu.

Lalu mengeluarkan pesan misterius yang diterimanya siang tadi.

Dastan membacanya.

Bahram membacanya.

Roxana membacanya.

Keheningan jatuh.

Karena kini dua sumber berbeda...

mengarah pada orang yang sama.

Dan untuk pertama kalinya mereka menyadari:

Mithren mungkin bukan dalang.

Mithren mungkin target.

Di luar rumah...

angin malam bertiup lebih kencang.

Jauh di Persepolis...

di sebuah rumah besar yang dikelilingi taman dan kolam air...

Nabarz sedang menerima tamu.

Seorang pria berjubah hitam.

Wajahnya tidak terlihat.

"Tahap berikutnya sudah siap."

kata pria itu.

Nabarz memandang kolam.

Permukaan air memantulkan cahaya bulan.

"Bagus."

"Dan Mithren?"

Untuk pertama kalinya senyum Nabarz menghilang.

"Lelaki itu terlalu banyak tahu."

Pria berjubah hitam mengangguk.

"Kalau begitu waktunya sudah dekat."

Nabarz menatap langit malam.

Dan berkata pelan:

"Besok, semua orang akan mulai melihat musuh yang salah."


Akhir Bab 7

"Dalam permainan besar, orang paling berbahaya bukan pelaku kejahatan.

Melainkan orang yang mengatur siapa yang akan disalahkan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar