Selasa, 14 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (17)

 


Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 17

Lembah yang Tidak Ada di Peta



Pagi itu mereka meninggalkan observatorium tua sebelum matahari terbit.

Tidak ada yang ingin terlalu lama berada di tempat yang sudah ditemukan oleh Persaudaraan Matahari.

Apalagi setelah mengetahui bahwa Lord Arvash telah mengirim pemburu terbaiknya.

Elang Timur.

Nama itu saja sudah cukup membuat Mithren diam lebih lama dari biasanya.

"Siapa mereka sebenarnya?"

tanya Ardashir saat rombongan mulai menyusuri jalur pegunungan.

Mithren menatap lereng di kejauhan.

"Mereka bukan tentara."

"Lalu?"

"Justru itu masalahnya."

Dastan mengangguk pelan.

"Tentara mengejar musuh."

"Dan Elang Timur?"

Mithren menjawab.

"Mereka mengejar jejak."

Keheningan turun.

Karena orang yang mengejar jejak sering lebih berbahaya daripada orang yang mengejar manusia.


Jalan yang Menghilang

Peta yang mereka temukan di observatorium menunjukkan sesuatu yang aneh.

Jalur menuju pusat arsip tidak digambar sebagai jalan.

Melainkan sebagai rangkaian titik.

Titik-titik itu mengikuti:

  • mata air,
  • batu penanda,
  • pohon tertentu,
  • dan posisi matahari.

Shirin memandang peta itu berkali-kali.

"Ini bukan peta biasa."

"Tidak."

jawab Dastan.

"Ini peta untuk orang yang memahami alam."

Teknologi navigasi Persia ternyata jauh lebih maju daripada yang dibayangkan Ardashir.

Sebelum adanya alat-alat modern, para insinyur dan penjelajah menggunakan kombinasi:

  • bayangan matahari,
  • arah angin,
  • posisi bintang,
  • dan tanda geologi.

Dengan cara itu mereka mampu menavigasi wilayah yang bahkan tidak memiliki jalan.


Sesuatu yang Aneh

Menjelang siang mereka menemukan batu pertama.

Batu hitam besar.

Tampak alami.

Namun ketika Dastan membersihkan lumut di permukaannya...

muncul ukiran kecil.

Burung api.

Simbol Persaudaraan Matahari.

Ardashir menyentuh ukiran itu.

"Penanda jalan?"

"Lebih dari itu."

jawab Shirin.

Ia menunjuk garis-garis kecil di sekeliling simbol.

"Itu kode."

Mithren mendekat.

Dan wajahnya berubah.

"Aku mengenali ini."

"Apa artinya?"

Mithren menghela napas.

"Ini sistem enkripsi lama."

Dastan tersenyum kagum.

"Para insinyur ternyata tidak hanya menyembunyikan air."

"Mereka juga menyembunyikan informasi."

Shirin mulai menerjemahkan simbol.

Beberapa menit kemudian ia berhasil membacanya.


Jalan benar berada di bawah jalan yang terlihat.


Ardashir mengerutkan dahi.

"Itu terdengar seperti teka-teki."

"Itu memang teka-teki."

jawab Dastan.


Di Desa

Sementara itu...

Roxana mulai memenangkan hati warga.

Bukan dengan pidato.

Bukan dengan ancaman.

Melainkan dengan pekerjaan.

Ia membantu memperbaiki saluran.

Mengatur pembagian air.

Mengorganisasi gudang.

Dan yang paling penting...

mendengarkan.

Semakin lama warga berbicara satu sama lain...

semakin sulit Armin memecah mereka.

Namun Armin juga bukan orang yang mudah menyerah.

Suatu malam ia menerima pesan baru.

Sangat singkat.

Elang Timur bergerak.

Bersiap meninggalkan desa.

Untuk pertama kalinya...

Armin tampak takut.


Persepolis

Di kota...

Artazara menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Bukan dalam arsip.

Bukan dalam laporan.

Melainkan di perpustakaan kerajaan.

Sebuah buku astronomi tua.

Ketika membandingkan peta bintang dengan koordinat yang ditemukan Farrokh...

mereka memperoleh hasil yang sama.

Sebuah lokasi.

Lokasi yang tidak tercantum dalam peta resmi kerajaan.

Farrokh memandang hasil perhitungan itu.

"Kalau aku tidak melihatnya sendiri..."

"Aku juga tidak percaya."

jawab Artazara.

Untuk pertama kalinya dua penyelidikan yang terpisah ratusan kilometer...

menghasilkan koordinat yang sama.


Jalan yang Tersembunyi

Menjelang sore.

Ardashir dan rombongan menemukan arti dari teka-teki batu hitam.

Di bawah tebing sempit terdapat aliran air kecil.

Hampir tidak terlihat.

Namun ketika mereka mengikutinya...

air itu masuk ke celah batu.

Dan celah batu itu ternyata lorong.

Lorong alami.

Tersembunyi.

Dari kejauhan tampak seperti dinding pegunungan biasa.

Tetapi sebenarnya adalah pintu masuk.

Dastan tersenyum.

"Brilian."

"Apa?"

"Para insinyur menyembunyikan jalan dengan memanfaatkan alam."

Tidak ada gerbang.

Tidak ada menara.

Tidak ada penjaga.

Karena yang tidak terlihat jauh lebih aman daripada yang dijaga.

Lembah yang Tidak Ada

Mereka melewati lorong sempit selama hampir satu jam.

Kemudian tiba-tiba...

pegunungan terbuka.

Dan semua orang berhenti.

Di depan mereka terbentang sebuah lembah besar.

Hijau.

Subur.

Dikelilingi tebing tinggi.

Tidak terlihat dari luar.

Seolah dunia tersendiri.

Di tengah lembah berdiri bangunan-bangunan batu.

Saluran air.

Kebun.

Kolam.

Menara pengamatan.

Perpustakaan.

Dan jaringan kanal yang luar biasa rumit.

Ardashir terdiam.

Shirin kehilangan kata-kata.

Bahkan Dastan tampak terharu.

"Ini..."

Ia hampir berbisik.

"...mahakarya."

Jantung Persaudaraan

Kini mereka memahami sesuatu.

Persaudaraan Matahari tidak dibangun oleh pedagang.

Tidak dibangun oleh bangsawan.

Awalnya dibangun oleh para ilmuwan.

Para insinyur.

Para astronom.

Orang-orang yang ingin menyatukan pengetahuan tentang:

  • air,
  • pertanian,
  • perdagangan,
  • dan langit.

Tempat ini dulunya pusat ilmu pengetahuan.

Sebuah lembah penelitian.

Sebuah akademi tersembunyi.

Namun sesuatu telah berubah.

Dan perubahan itu melahirkan jaringan yang kini mereka kejar.

Bahaya Datang Lebih Cepat

Mereka belum sempat turun ke lembah.

Belum sempat memeriksa bangunan.

Belum sempat membuka satu pun arsip.

Ketika Mithren tiba-tiba menegang.

"Ada seseorang."

Semua langsung diam.

Ardashir melihat ke arah yang ditunjuk.

Di punggung bukit seberang.

Sangat jauh.

Namun cukup jelas.

Empat penunggang kuda.

Diam.

Mengawasi.

Tidak bergerak.

Tidak mendekat.

Hanya mengamati.

Mithren memucat.

"Itu mereka."

"Elang Timur?"

Mithren mengangguk.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai...

Ardashir merasakan ancaman yang nyata.

Karena pasukan biasa mengejar dengan suara.

Dengan debu.

Dengan teriakan.

Tetapi para pemburu sejati...

sudah menemukanmu jauh sebelum kau menyadari keberadaan mereka.


Akhir Bab 17

"Benteng yang paling sulit ditemukan bukan yang tersembunyi di balik tembok.

Melainkan yang tersembunyi di balik ketidaktahuan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar