Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 16
Gunung Arsip Rahasia
Pagi belum sepenuhnya datang ketika mereka meninggalkan Pos Batu Merah.
Kabut tipis menggantung di antara tebing-tebing pegunungan timur.
Udara lebih dingin daripada wilayah selatan.
Dan jalan yang mereka tempuh jauh lebih berbahaya.
Ardashir menunggang kuda di depan.
Di belakangnya Dastan dan Mithren.
Shirin membawa sebagian arsip yang telah mereka salin sepanjang malam.
Mereka tidak membawa seluruh dokumen.
Terlalu berisiko.
Jika tertangkap, semua bukti bisa hilang sekaligus.
Karena itu mereka menerapkan prinsip lama para pencatat Persia.
Satu kebenaran disimpan dalam beberapa tempat.
Sebagian dokumen tetap berada di Pos Batu Merah.
Sebagian dibawa mereka.
Sebagian telah dikirim melalui kurir rahasia menuju Persepolis.
Jika satu jalur gagal...
jalur lain masih hidup.
"Guru."
kata Ardashir.
"Hm?"
"Menurutmu apa yang akan kita temukan di sana?"
Dastan tersenyum tipis.
"Dalam hidupku, setiap kali aku pergi mencari jawaban..."
"Lalu?"
"Aku menemukan pertanyaan yang lebih besar."
Shirin tertawa kecil.
"Itu bukan jawaban yang menenangkan."
"Itu jawaban yang jujur."
Di Persepolis
Pada saat yang sama...
Artazara sedang memandangi peta besar Persia.
Farrokh duduk di sampingnya.
Tumpukan catatan memenuhi meja.
Jalur perdagangan.
Laporan gudang.
Data distribusi air.
Laporan panen.
Catatan pajak.
Semuanya mulai membentuk pola.
Dan pola itu mengarah ke pegunungan timur.
Tempat yang sama dengan tujuan Ardashir.
Farrokh mengusap dahinya.
"Aku tidak menyukainya."
"Apa?"
"Orang-orang yang menyembunyikan sesuatu biasanya memilih tempat yang jauh."
Artazara mengangguk.
"Dan?"
"Tempat ini terlalu jauh."
Ia menunjuk peta.
"Tidak ada kota besar."
"Tidak ada pasar utama."
"Tidak ada alasan ekonomi."
"Lalu?"
"Itu berarti mereka menyembunyikan sesuatu yang lebih penting daripada uang."
Keheningan turun.
Karena mereka berdua memahami implikasinya.
Jika bukan uang...
maka kemungkinan besar adalah kekuasaan.
Desa
Sementara itu...
Roxana menghadapi ujian yang berbeda.
Gudang yang terbakar mulai diperbaiki.
Warga kembali bekerja.
Namun luka sosial belum hilang.
Armin masih berada di desa.
Meski pengaruhnya berkurang.
Ia tetap berbahaya.
Karena kini ia mulai menyebarkan kabar-kabar samar.
"Bagaimana kalau Ardashir tidak kembali?"
"Bagaimana kalau jalur perdagangan benar-benar ditutup?"
"Bagaimana kalau kerajaan tidak peduli pada desa ini?"
Bukan kebohongan.
Bukan pula kebenaran.
Melainkan ketakutan.
Dan Roxana tahu...
ketakutan adalah senjata yang sulit dilawan.
Malam itu ia mengumpulkan para warga.
Bukan untuk berpidato.
Bukan untuk berdebat.
Melainkan untuk makan bersama.
Sederhana.
Roti.
Kurma.
Sup gandum.
Dan percakapan.
Karena Roxana memahami sesuatu yang sering dilupakan para pemimpin.
Manusia yang saling mengenal lebih sulit dipecah-belah.
Perjalanan ke Pegunungan
Hari ketiga perjalanan.
Mereka mulai memasuki wilayah yang hampir tidak pernah dikunjungi pedagang.
Jalur semakin sempit.
Tebing semakin curam.
Namun sesuatu menarik perhatian Dastan.
Di sisi bukit terdapat menara batu kecil.
Tinggi.
Sederhana.
Namun tersusun sangat rapi.
"Apa itu?"
tanya Shirin.
Dastan tersenyum.
"Teknologi komunikasi."
Ardashir mengangkat alis.
"Menara?"
"Bukan menaranya."
Dastan menunjuk puncak.
Di sana terdapat cermin logam besar.
Menghadap ke lembah.
Lalu ke menara lain di kejauhan.
Kemudian ke menara berikutnya.
Dan seterusnya.
Mithren langsung memahami.
"Sinyal cahaya."
Dastan mengangguk.
"Pada siang hari menggunakan pantulan matahari."
"Pada malam hari?"
"Api."
Shirin tertegun.
"Jadi pesan bisa dikirim tanpa kurir?"
"Pesan pendek."
jawab Dastan.
"Tetapi sangat cepat."
Ardashir memandang deretan menara itu.
Teknologi Persia kembali membuatnya kagum.
Kerajaan sebesar itu tidak hanya dibangun dengan pasukan.
Tetapi juga dengan pengetahuan.
Temuan Tak Terduga
Menjelang senja mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi.
Dan di sana...
mereka menemukan sesuatu.
Bukan benteng.
Bukan kota.
Melainkan observatorium.
Bangunan batu berbentuk lingkaran.
Dengan alat-alat pengamatan langit.
Dastan membeku.
"Ini..."
Ia mendekat.
Menyentuh salah satu instrumen.
"Ini milik para astronom kerajaan."
Shirin terkejut.
"Apa hubungan astronom dengan pengairan?"
Dastan tersenyum.
"Lebih banyak daripada yang dibayangkan orang."
Ia menunjuk langit.
"Untuk mengatur air..."
"Kita harus memahami musim."
"Untuk memahami musim..."
"Kita harus memahami bintang."
Mithren mengangguk.
"Itulah sebabnya para astronom dan insinyur sering bekerja bersama."
Untuk beberapa saat mereka menjelajahi bangunan itu.
Dan di sana mereka menemukan petunjuk baru.
Sebuah simbol.
Burung api yang melingkari matahari.
Simbol Persaudaraan Matahari.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Di bawah simbol itu tertulis kalimat:
Pengetahuan untuk kemakmuran, bukan untuk kekuasaan.
Ardashir mengerutkan dahi.
"Itu tidak terdengar seperti organisasi yang kita kejar."
"Benar."
jawab Shirin.
"Itu terdengar seperti organisasi yang pernah baik."
Keheningan turun.
Karena mereka mulai melihat gambaran yang lebih besar.
Mungkin Persaudaraan Matahari tidak lahir sebagai organisasi jahat.
Mungkin seperti banyak hal lain dalam sejarah...
ia berubah.
Sementara Itu...
Jauh di Persepolis...
Lord Arvash akhirnya menerima laporan terbaru.
Ia berdiri di balkon rumahnya.
Memandang taman yang diterangi cahaya senja.
Seorang pengawal menyerahkan surat.
Arvash membacanya.
Wajahnya tetap tenang.
Terlalu tenang.
"Pos Batu Merah?"
"Ya, Tuan."
"Dan mereka lolos?"
"Ya, Tuan."
Keheningan panjang.
Pengawal itu mulai berkeringat.
Karena semakin tenang Arvash...
semakin berbahaya biasanya keputusan yang akan diambilnya.
Akhirnya Arvash berkata:
"Siapkan Elang Timur."
Pengawal membeku.
"Elang Timur, Tuan?"
Arvash mengangguk.
"Itu sudah lama tidak digunakan."
"Karena belum diperlukan."
Pengawal tidak bertanya lagi.
Namun wajahnya berubah.
Karena ia tahu apa arti perintah itu.
Untuk pertama kalinya...
Arvash tidak lagi mengirim pengintai.
Ia mengirim pemburu terbaiknya.
Menjelang Malam
Di observatorium tua itu...
Ardashir berdiri memandang langit.
Bintang-bintang mulai muncul.
Angin pegunungan berembus lembut.
Ia teringat Roxana.
Rumah.
Pohon delima.
Desa kecil yang jauh di selatan.
Shirin mendekat.
"Kau merindukan rumah."
Ardashir tersenyum.
"Ya."
"Itu pertanda baik."
"Kenapa?"
"Orang yang masih memiliki rumah untuk dirindukan biasanya belum kehilangan arah."
Mereka terdiam.
Sampai Dastan memanggil dari dalam bangunan.
"Ardashir!"
"Ada apa?"
"Kemari."
Ardashir masuk.
Di atas meja batu terdapat peta langit.
Dan di tengah peta itu...
terdapat tanda yang sama seperti yang ada di arsip Persaudaraan Matahari.
Namun kali ini di sampingnya terdapat koordinat.
Bukan koordinat kota.
Bukan jalur perdagangan.
Melainkan lokasi.
Sebuah lembah tersembunyi.
Di balik pegunungan timur.
Tempat yang tidak ada dalam peta resmi Persia.
Dastan menatapnya.
Mithren juga.
Shirin perlahan menelan ludah.
Karena mereka akhirnya menemukan tujuan sebenarnya.
Lokasi pusat arsip rahasia.
Jantung Persaudaraan Matahari.
Dan mungkin...
tempat di mana sejarah Persia selama puluhan tahun ditulis ulang secara diam-diam.
Akhir Bab 16
"Ketika seseorang mengendalikan informasi, ia dapat mempengaruhi masa kini.
Tetapi ketika seseorang mengendalikan arsip, ia dapat mengubah masa lalu."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar