Sabtu, 25 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (6)

 


Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 6



Utusan yang Terlalu Ramah

Keesokan pagi setelah ditemukannya segel bertuliskan:

"Berhentilah sebelum terlambat."

desa tampak sama seperti biasanya.

Matahari terbit.

Air mengalir.

Anak-anak berlari di dekat saluran.

Perempuan-perempuan menjemur gandum.

Petani memeriksa ladang.

Namun bagi Ardashir, Roxana, dan Dastan...

tidak ada lagi yang terasa biasa.

Karena kini mereka tahu satu hal.

Seseorang sedang memperhatikan mereka.


"Aku tidak suka ancaman."

kata Roxana sambil menuangkan teh.

Ardashir tersenyum.

"Aku juga."

"Apalagi ancaman yang ditulis dengan sopan."

"Itu lebih buruk."

Dastan mengangguk.

"Seseorang yang mengancam dengan sopan biasanya terbiasa memberi perintah."

Mereka terdiam.

Karena kalimat itu terasa benar.


Menjelang siang, suara lonceng kecil terdengar dari jalan utama.

Tetua desa keluar dari balai.

Mehrdad menghentikan pekerjaannya.

Beberapa petani berdiri.

Karena dari arah selatan datang rombongan kecil.

Empat penunggang kuda.

Dua kereta.

Dan beberapa pelayan.

Bukan pasukan.

Bukan kurir kerajaan.

Tetapi jelas orang kaya.

Sangat kaya.


Vardan pasti akan langsung menyukai salah satu kereta itu.

Karena ukurannya cukup besar untuk membawa makanan bagi satu desa.


Di bagian depan rombongan berdiri seorang pria berpakaian sangat rapi.

Jubah biru tua.

Ikat pinggang kulit terbaik.

Sandal mahal.

Janggut yang dipangkas sempurna.

Dan senyum yang terlalu sempurna.


"Namaku Armin."

katanya sambil membungkuk sopan.

"Aku datang mewakili Karavan Nabarz."

Keheningan turun.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup untuk membuat Ardashir dan Dastan saling berpandangan.


Musuh ternyata bergerak lebih cepat daripada dugaan mereka.


Armin tersenyum hangat.

"Jangan khawatir."

Ia membuka kedua tangan.

"Kami datang sebagai sahabat."

Tetua desa menjawab datar.

"Biasanya orang yang mengatakan itu sedang menjual sesuatu."

Beberapa warga menahan senyum.


Namun Armin tidak tersinggung.

Justru tertawa.

"Itu sebabnya aku menyukai desa. Orang-orangnya jujur."


Ardashir mulai tidak menyukai pria ini.

Bukan karena kasar.

Justru sebaliknya.

Terlalu halus.

Terlalu tenang.

Terlalu pandai berbicara.


Rombongan kemudian membuka gulungan besar.

Peta.

Rancangan.

Perhitungan.

Gambar teknik.


Kini perhatian seluruh warga tertarik.

Karena apa yang mereka lihat memang mengesankan.


"Kami ingin membantu desa ini."

kata Armin.

"Dengan apa?"

tanya Mehrdad.

"Dengan kemakmuran."

Jawaban itu membuat Vardan pasti akan bertepuk tangan.

Sayangnya Vardan tidak ada di sana.


Armin menunjuk gambar.

"Kami ingin membangun saluran air baru."

Warga mulai berbisik.

Ia menunjuk gambar lain.

"Lumbung baru."

Bisik-bisik makin ramai.

"Ladang perluasan."

Lebih ramai lagi.

"Pasar mingguan."

Kini hampir semua orang tertarik.


Karena tawaran itu memang luar biasa.

Sangat luar biasa.


Armin melanjutkan.

"Karavan Nabarz bersedia membiayai semuanya."


Tetua menyipitkan mata.

"Gratis?"

Armin tersenyum.

"Tidak ada yang benar-benar gratis."

Akhirnya ada jawaban yang jujur.


"Kami hanya meminta hak distribusi hasil panen selama lima tahun."

katanya.

Warga mulai menghitung-hitung dalam pikiran mereka.

Sebagian tampak tergoda.


Dan memang masuk akal.

Saluran baru berarti lebih banyak air.

Lebih banyak air berarti lebih banyak panen.

Lebih banyak panen berarti lebih banyak uang.


Secara teori.


Sore itu balai desa penuh.

Semua orang membicarakan tawaran tersebut.

Ada yang setuju.

Ada yang ragu.

Ada yang sangat antusias.


Mehrdad termasuk yang berhati-hati.

"Tawaran ini terlalu besar."

katanya.

Salah seorang petani menjawab.

"Justru karena besar kita harus menerimanya."

"Tidak selalu."


Petani lain menyela.

"Kita membutuhkan saluran baru."

"Itu benar."

"Lalu apa masalahnya?"

Mehrdad diam sesaat.

Karena masalahnya memang sulit dijelaskan.

Kadang intuisi melihat sesuatu lebih cepat daripada logika.


Di bawah pohon delima, Ardashir, Roxana, Dastan, dan Bahram berkumpul.

Mereka mengamati dari jauh.


"Apa pendapatmu?"

tanya Roxana kepada Dastan.

Insinyur tua itu memandang gambar rancangan yang dibawa Armin.

Lama sekali.

Terlalu lama.


Kemudian ia berkata pelan.

"Rancangannya bagus."

Semua terkejut.


"Bukankah itu buruk?"

tanya Ardashir.

"Justru itu yang membuatku khawatir."

jawab Dastan.


"Maksudmu?"


Dastan menunjuk saluran baru pada gambar.

"Siapa pun yang membuat ini sangat ahli."

Ia menunjuk lagi.

"Kemiringannya tepat."

"Perhitungannya bagus."

"Pembagian airnya masuk akal."


Lalu ia menatap Ardashir.

"Itulah masalahnya."


Semua diam.


Dastan melanjutkan.

"Kalau rancangannya buruk, kita tahu mereka bodoh."

"Kalau rancangannya bagus?"

"Berarti mereka benar-benar memahami sistem air."


Dan sekali lagi mereka kembali pada kesimpulan yang sama.

Orang-orang ini bukan penipu biasa.

Mereka memahami sesuatu yang seharusnya hanya dipahami oleh para ahli.


Malam harinya...

Armin menginap di rumah tamu desa.

Sebelum tidur ia menerima kunjungan salah satu pengawalnya.

"Bagaimana?"

tanya pengawal itu.

Armin menuangkan anggur.

"Mereka mulai terbelah."

"Sesuai rencana?"

"Ya."


Pengawal itu tersenyum.

"Kita akan berhasil?"

Armin memandang api lampu minyak.

"Semua orang memiliki harga."

katanya pelan.

"Beberapa dibeli dengan uang."

"Beberapa dengan ketakutan."

"Beberapa dengan harapan."


Ia menyesap minumannya.

"Tugas kita hanya menemukan yang mana."


Namun di luar rumah tamu...

seseorang mendengar sebagian percakapan itu.


Seseorang yang tidak seharusnya berada di sana.


Seekor kambing.


Kambing yang sama.


Kambing itu berdiri di dekat jendela.

Mengunyah daun.

Sama sekali tidak memahami konspirasi tingkat kerajaan.


Lalu seseorang lain muncul.

Ardashir.


Ia sebenarnya sedang mencari kambing itu.

Karena kambing tersebut kembali mencuri sesuatu dari halaman rumahnya.

Kali ini sepotong roti.


Namun ketika mendekati rumah tamu...

ia mendengar suara-suara.


Tidak jelas.

Tidak lengkap.

Tetapi cukup untuk menangkap satu kalimat.


"Mereka mulai terbelah."


Ardashir berhenti.

Jantungnya berdetak lebih cepat.


Karena ia tahu.

Kalimat itu tidak diucapkan oleh orang yang ingin membantu desa.


Dan saat ia mundur perlahan ke balik bayangan...

ia melihat sesuatu yang membuatnya semakin curiga.


Di atas meja rumah tamu.

Terlihat gulungan peta lain.

Bukan peta desa.


Peta wilayah selatan Persia.


Dengan beberapa desa yang telah diberi tanda merah.


Dan desa mereka...

adalah salah satunya.


Malam itu Ardashir kembali ke rumah.

Roxana masih terjaga.

Seperti biasa.


"Ada sesuatu?"

tanya Roxana.


Ardashir duduk.

Lalu berkata pelan.


"Aku mulai mengerti permainan mereka."


"Apa?"


"Mereka tidak ingin mencuri air."


"Lalu?"


"Mereka ingin membuat desa-desa bergantung pada mereka."


Keheningan turun.

Karena itu jauh lebih berbahaya.


Air bisa dicuri sekali.

Tetapi ketergantungan...

bisa mengikat sebuah desa selama puluhan tahun.


Dan jauh di kota Persia...

Artazara baru saja menerima laporan baru dari wilayah lain.


Ia membaca laporan itu.

Lalu perlahan wajahnya berubah pucat.


Karena nama yang muncul kali ini bukan pedagang.

Bukan pengawas air.

Bukan pemilik karavan.


Melainkan seorang pejabat kerajaan.


Seseorang yang selama ini dipercaya menjaga distribusi air wilayah selatan.


Artazara memandang Farrokh.


"Kita punya masalah yang jauh lebih besar."


Farrokh membaca nama itu.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...

wajahnya benar-benar berubah.


Akhir Bab 6

"Korupsi yang paling berbahaya bukan ketika seseorang mencuri kekayaan negara.

Tetapi ketika ia membuat rakyat perlahan-lahan bergantung kepadanya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar