Bab 19
Dunia yang Menggoda
Pagi setelah pengakuan Artazara, Ardashir bangun lebih awal daripada biasanya.
Bukan karena Rustom berteriak.
Bukan karena terompet latihan.
Bukan pula karena Vardan mendengkur seperti unta sakit.
Ia bangun karena hatinya terlalu ramai.
Di luar barak, langit masih gelap kebiruan. Para prajurit lain masih tidur di atas tikar masing-masing. Beberapa terlihat damai. Beberapa terlihat seperti baru kalah perang melawan selimut.
Vardan tidur telentang dengan satu tangan di dada dan mulut sedikit terbuka.
Ardashir memandangnya sebentar.
Lalu bergumam pelan, “Bagaimana mungkin orang seperti ini bisa memberi nasihat bijaksana?”
Seolah mendengar namanya dipanggil oleh takdir, Vardan membuka satu mata.
“Aku memang sering bijaksana ketika tidur.”
Ardashir terkejut.
“Kau sudah bangun?”
“Belum sepenuhnya. Setengah jiwaku masih di mimpi sedang makan kambing panggang.”
Ardashir tersenyum kecil.
Vardan duduk perlahan, rambutnya berantakan seperti sarang burung yang habis diterpa badai.
“Kau bangun terlalu pagi. Itu pertanda buruk.”
“Pertanda buruk?”
“Ya. Ada tiga alasan pemuda bangun terlalu pagi: lapar, takut kepada Rustom, atau memikirkan perempuan.”
Ardashir diam.
Vardan mengangguk seolah baru menyelesaikan penyelidikan besar.
“Yang ketiga.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Justru itu. Orang lapar langsung mencari roti. Orang takut Rustom langsung merapikan sepatu. Orang yang memikirkan perempuan hanya duduk seperti patung rusak dan menatap dinding.”
Ardashir tidak bisa menahan tawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Vardan mengusap wajahnya.
“Jadi, hari ini kita akan mati dalam latihan atau hanya mati perlahan karena urusan hati?”
“Mungkin keduanya.”
“Bagus. Setidaknya hidup kita konsisten.”
Latihan hari itu tidak terlalu berat.
Atau mungkin Ardashir hanya terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tubuhnya tidak sempat mengeluh.
Rustom mengajarkan formasi gerak cepat untuk pasukan berkuda. Mereka harus memacu kuda dalam kelompok kecil, berpencar, lalu menyatu kembali tanpa saling menabrak.
“Kalian bukan kawanan kambing!” teriak Rustom dari tengah lapangan.
“Kambing saja kadang lebih teratur dari kalian!”
Vardan yang hampir menabrak peserta lain segera memperlambat kudanya.
Rustom menunjuknya.
“Terutama kau, Vardan! Bahkan kambing akan malu berjalan di sebelahmu!”
Vardan membungkuk dari atas kuda.
“Maaf, Tuan. Aku akan meminta maaf kepada kambing-kambing kerajaan.”
Beberapa pemuda tertawa.
Rustom mengambil tombak kayu dan mengangkatnya.
“Siapa yang tertawa, ikut Vardan meminta maaf secara langsung kepada kandang kambing.”
Tawa langsung mati.
Ardashir tersenyum sambil menahan napas.
Humor Vardan kadang menyelamatkan suasana.
Kadang juga hampir membunuh semua orang.
Selesai latihan, Farrokh datang ke lapangan membawa gulungan catatan.
Ia berjalan pelan dengan tongkat, tetapi suaranya tetap tajam.
“Rustom, aku membutuhkan dua pemuda untuk membantu membawa catatan ke rumah arsip kota.”
Rustom menoleh ke arah para peserta.
“Ardashir. Vardan.”
Vardan langsung mengangkat tangan.
“Tuan, aku merasa sangat tersanjung, tetapi punggungku masih trauma oleh jerami kemarin.”
“Bagus,” jawab Rustom. “Catatan lebih ringan daripada jerami.”
“Itu yang dikatakan orang sebelum catatan jatuh menimpa hidupnya.”
“Vardan.”
“Ya, Tuan. Aku segera membawa hidupku ke rumah arsip.”
Farrokh menatap Vardan dengan tertarik.
“Anak ini banyak bicara.”
Rustom menjawab datar, “Itu penyakit yang belum kutemukan obatnya.”
Farrokh mengangguk.
“Jangan disembuhkan seluruhnya. Dalam perjalanan panjang, orang bodoh yang lucu kadang lebih berguna daripada orang pintar yang muram.”
Vardan menatap Farrokh dengan mata berbinar.
“Aku merasa dihargai.”
“Jangan terlalu cepat,” kata Farrokh. “Aku belum memutuskan kau lucu atau hanya lelah didengar.”
Ardashir tertawa.
Hari itu, untuk beberapa saat, dunia terasa lebih ramah.
Rumah arsip kota berada dekat pusat administrasi kerajaan.
Bangunannya panjang dan rendah, dengan dinding tebal untuk menjaga catatan dari panas. Di dalamnya, ratusan gulungan kulit, lempengan tanah liat, papan kayu, dan segel silinder tersimpan rapi di rak-rak besar.
Ada catatan pajak.
Catatan jumlah kuda.
Catatan pengiriman gandum.
Catatan pembangunan jalan.
Catatan pos air.
Catatan keluarga bangsawan.
Catatan kelahiran, kematian, hutang, dan perjanjian dagang.
Vardan berdiri di pintu masuk dengan wajah ngeri.
“Tempat ini menakutkan.”
Ardashir memandangnya heran.
“Ini hanya arsip.”
“Justru itu. Di medan perang, musuh terlihat. Di tempat ini, musuh bersembunyi dalam tulisan kecil.”
Farrokh mengangguk setuju.
“Untuk pertama kalinya hari ini, kau benar.”
Vardan menoleh bangga kepada Ardashir.
“Kau dengar? Aku benar di hadapan arsip kerajaan.”
“Catat,” kata Farrokh kepada penjaga arsip. “Peristiwa langka.”
Penjaga arsip menahan senyum.
Ardashir memandang sekeliling dengan kagum.
Di ruangan itu, ia melihat sisi lain dari teknologi Persia: bukan hanya jalan, air, menara api, dan gudang, tetapi juga ingatan yang disusun.
Kerajaan sebesar itu tidak mungkin berjalan hanya dengan ucapan.
Semuanya dicatat.
Berapa banyak gandum yang keluar dari lumbung.
Berapa banyak kuda yang dipindahkan ke pos utara.
Berapa banyak batu yang dibutuhkan untuk memperbaiki jalan.
Siapa yang menerima perintah.
Siapa yang gagal memenuhi janji.
Farrokh mengambil sebuah segel silinder kecil dari meja.
“Lihat ini.”
Ardashir mendekat.
Benda itu kecil, sebesar ruas jari. Di permukaannya terukir gambar halus.
“Ini segel,” kata Farrokh. “Digulingkan di atas tanah liat basah untuk menandai dokumen. Setiap pejabat memiliki tanda. Dengan segel, orang tahu siapa yang bertanggung jawab.”
Vardan mengangkat alis.
“Jadi kalau ada kesalahan, orang tidak bisa pura-pura tidak tahu?”
Farrokh tersenyum.
“Tepat.”
Vardan mundur setengah langkah.
“Aku semakin tidak menyukai tempat ini.”
Ardashir mengambil segel itu dengan hati-hati.
“Jadi tanda kecil bisa menjaga kepercayaan?”
“Bukan menjaga sepenuhnya,” kata Farrokh. “Tetapi membantu manusia mengingat bahwa ucapan harus memiliki pemilik.”
Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.
Ucapan harus memiliki pemilik.
Ia teringat surat untuk Roxana.
Teringat pengakuan Artazara.
Teringat bahwa kata-kata yang keluar dari hati harus dipertanggungjawabkan.
Mungkin itulah sebabnya manusia menciptakan segel.
Karena bahkan kerajaan pun tahu, tanpa tanggung jawab, kata-kata bisa menjadi angin.
Ketika mereka keluar dari rumah arsip, hari sudah menjelang sore.
Farrokh mengizinkan mereka melewati pasar sebelum kembali ke barak, asal tidak terlambat.
“Dan jangan membeli sesuatu yang membuat Rustom bertanya,” katanya.
Vardan langsung tampak tersinggung.
“Aku tidak pernah membeli sesuatu yang mencurigakan.”
Farrokh menatapnya.
“Wajahmu saja sudah cukup mencurigakan.”
Ardashir tertawa pelan.
Mereka berjalan menyusuri pasar.
Sore itu pasar sangat ramai. Pedagang dari berbagai wilayah datang membawa barang-barang yang belum pernah dilihat Ardashir di desanya.
Ada kain dari daerah jauh yang halus seperti air.
Ada mangkuk perak berukir.
Ada rempah beraroma tajam.
Ada kaca kecil yang dapat memantulkan wajah.
Ada perhiasan, sandal kulit, pedang hias, dan kendi biru dengan lukisan burung.
Vardan berhenti di depan penjual makanan.
“Ardashir, lihat.”
“Apa?”
“Ini tanda bahwa Tuhan masih menyayangi manusia.”
Di depannya ada roti panas berisi daging berbumbu.
Ardashir menggeleng.
“Setiap kali kau melihat makanan, wajahmu berubah seperti penyair melihat bulan.”
“Karena bulan tidak bisa dimakan.”
Vardan membeli dua roti dan memberikan satu kepada Ardashir.
“Ambil. Orang yang banyak memikirkan cinta butuh makan. Kalau tidak, ia akan menulis syair buruk.”
Ardashir menerima roti itu.
“Menurutmu semua syair buruk lahir dari lapar?”
“Sebagian. Sisanya lahir dari orang yang terlalu percaya dirinya tampan.”
Ardashir tertawa.
Untuk beberapa saat mereka makan sambil berjalan.
Lalu Ardashir berhenti di depan sebuah kios kecil.
Di sana dijual berbagai benda sederhana: benang warna-warni, jarum, gelang kayu, kotak kecil, kain lipat, dan pisau kecil berukir.
Matanya tertuju pada sebuah gulungan benang merah tua.
Warnanya mengingatkannya pada kain Roxana.
Vardan melihatnya.
“Untuk Roxana?”
Ardashir mengangguk pelan.
“Mungkin untuk balasan nanti. Atau untuk kusimpan.”
Vardan menunjuk gelang kecil dari tembaga.
“Kalau kau ingin hadiah, itu bagus.”
Ardashir menggeleng.
“Belum saatnya.”
“Kenapa?”
“Karena hadiah bisa membawa makna lebih besar daripada yang mampu kujelaskan.”
Vardan menatapnya lama.
“Kau sungguh membuat hidup menjadi sulit.”
“Aku mencoba berhati-hati.”
“Ada beda tipis antara berhati-hati dan membuat hatimu berjalan seperti keledai tua.”
Ardashir tersenyum.
Namun ia tetap hanya membeli benang merah.
Sederhana.
Tidak terlalu berat maknanya.
Tetapi cukup untuk mengingatkan dirinya pada janji.
Saat mereka hendak kembali ke barak, kerumunan kecil terlihat di tengah pasar.
Seorang penyair muda berdiri di atas kotak kayu, membacakan syair cinta dengan suara sangat dramatis.
Wajahnya serius.
Tangannya bergerak ke langit.
“Wahai bulan yang mencuri mataku!” katanya lantang. “Wahai bintang yang membakar dadaku!”
Vardan berhenti.
“Aku harus mendengar ini. Mungkin dadanya bisa kita pakai untuk menyalakan api.”
Ardashir menahan tawa.
Penyair itu melanjutkan,
“Jika kau menolakku, aku akan mati di depan pintumu!”
Seorang ibu-ibu penjual bawang dari samping kerumunan berteriak,
“Jangan mati di situ! Menghalangi pembeli!”
Kerumunan tertawa.
Penyair muda itu tampak tersinggung, tetapi tetap melanjutkan dengan lebih keras.
“Cintaku lebih dalam dari sumur!”
Penjual bawang menyahut lagi,
“Kalau begitu ambil air sendiri!”
Vardan hampir tersedak roti.
Ardashir tertawa sampai harus menunduk.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tertawa tanpa beban.
Tawa itu terasa seperti air dingin.
Mungkin benar, pikirnya. Cinta tidak harus selalu dibicarakan dengan wajah muram. Kadang cinta juga perlu ditertawakan sedikit agar manusia tidak merasa dirinya terlalu tragis.
Namun dunia yang menggoda tidak hanya datang dalam bentuk tawa.
Menjelang mereka keluar dari pasar, Ardashir melihat sesuatu yang membuat langkahnya melambat.
Di depan sebuah rumah besar, beberapa pemuda bangsawan sedang berdiri bersama kuda-kuda indah. Pakaian mereka halus. Pedang mereka berhiaskan ukiran. Mereka berbicara lantang tentang pesta malam di kediaman seorang pejabat tinggi.
Salah satu dari mereka mengenali Ardashir.
“Kau pemuda dari barak timur itu, bukan?”
Ardashir menoleh.
“Ya.”
“Yang sering dipanggil Rustom?”
“Kadang.”
Pemuda itu tersenyum.
“Kau Ardashir. Aku pernah melihatmu di latihan berkuda. Lumayan untuk anak desa.”
Vardan menegang sedikit, tetapi Ardashir tetap tenang.
“Terima kasih.”
“Datanglah malam ini,” kata pemuda itu. “Ada jamuan. Musik, makanan, anggur, penari, dan orang-orang penting. Kau perlu belajar hidup di kota kalau ingin naik lebih tinggi.”
Vardan berbisik pelan, “Aku mendukung bagian makanan.”
Ardashir tidak menjawab.
Pemuda bangsawan itu melanjutkan,
“Di istana, keberanian saja tidak cukup. Kau harus dikenal. Kau harus terlihat. Kau harus dekat dengan orang yang tepat.”
Kalimat itu terdengar masuk akal.
Dan justru karena masuk akal, ia terasa berbahaya.
Ardashir tahu dirinya sedang naik perlahan. Rustom memperhatikannya. Farrokh mengajarinya. Artazara menghormatinya. Beberapa orang mulai mengenal namanya.
Dunia besar sedang membuka pintu.
Pintu itu terang.
Pintu itu menjanjikan masa depan.
Namun di dalam hati Ardashir ada suara kecil yang bertanya:
Apakah semua pintu harus dimasuki hanya karena terbuka?
Ia teringat Bahram.
Jangan terlalu percaya pada orang yang terlalu cepat memuji.
Ia teringat Roxana.
Aku tidak lupa.
Ia teringat Artazara.
Jangan menawarkan hatimu kepada siapa pun sebelum kau tahu bagian mana dari hatimu yang masih terikat janji.
Ardashir menunduk sopan.
“Terima kasih atas undangannya. Tetapi aku harus kembali ke barak.”
Pemuda bangsawan itu mengangkat bahu.
“Kesempatan tidak selalu datang dua kali.”
Ardashir menjawab tenang,
“Karena itu manusia harus memilih kesempatan mana yang pantas diambil.”
Wajah pemuda itu berubah sedikit.
Vardan segera menarik lengan Ardashir setelah mereka menjauh.
“Kau baru saja menolak jamuan bangsawan dengan kalimat yang bisa ditulis di dinding kuil.”
“Aku hanya menjawab.”
“Ya, dan aku hampir kehilangan kesempatan makan gratis.”
“Kau lebih sedih karena makanannya?”
“Tentu. Kehormatanmu kenyang. Perutku tidak.”
Ardashir tertawa.
Tetapi di dalam hatinya, ia tahu percakapan itu bukan hal kecil.
Dunia yang besar mulai menggodanya.
Bukan selalu dengan dosa yang terang.
Kadang dengan peluang.
Kadang dengan pujian.
Kadang dengan pintu-pintu indah yang membuat manusia lupa mengapa ia berjalan sejak awal.
Malam itu, Ardashir duduk di barak sambil memegang benang merah yang baru dibelinya.
Vardan tidur lebih cepat setelah menghabiskan sisa roti.
Di luar, suara kota terdengar samar. Musik dari kejauhan mungkin berasal dari jamuan yang tadi ia tolak. Ada tawa, tepuk tangan, dan suara alat musik yang melayang bersama angin malam.
Ardashir tidak membenci semua itu.
Ia bukan orang yang menganggap dunia kota buruk.
Kota memberinya ilmu.
Kota memberinya guru.
Kota mempertemukannya dengan orang-orang hebat.
Kota memperlihatkan kepadanya betapa luas hidup manusia.
Namun ia sadar, dunia yang besar tidak hanya memperluas pandangan.
Ia juga bisa memperbesar keinginan.
Dan keinginan yang tidak dijaga dapat membuat manusia merasa semua yang dulu cukup menjadi terlalu kecil.
Ia membuka kantong kecilnya.
Di sana ada kain merah dari Roxana.
Benang merah dari pasar.
Dan catatan kecil yang berisi tanda dari Roxana: Aku tidak lupa.
Ardashir menatap benda-benda itu lama.
Lalu ia berbisik,
“Aku pun tidak.”
Di rumah Artazara, malam berjalan lebih sunyi.
Ia duduk di balkon, memandang cahaya kota.
Dari kejauhan terdengar musik jamuan bangsawan.
Salah seorang pelayan berkata,
“Nona tidak datang ke pesta malam ini?”
Artazara menggeleng.
“Aku tidak ingin.”
“Banyak keluarga penting hadir.”
“Justru itu.”
Pelayan itu tersenyum kecil.
“Kadang Nona terdengar seperti Farrokh.”
Artazara menoleh.
“Apakah itu hinaan?”
“Sedikit.”
Artazara tertawa pelan.
Tawa itu lembut, tetapi segera hilang.
Ia memandang ke arah barak timur.
Malam sebelumnya ia telah mengatakan perasaannya.
Dan hari ini, dunia tetap berjalan seperti biasa.
Matahari tetap terbit.
Latihan tetap berlangsung.
Catatan tetap ditulis.
Orang-orang tetap pergi ke pasar.
Aneh sekali, pikirnya.
Hati seseorang bisa berubah besar dalam satu malam, tetapi dunia tidak merasa perlu berhenti untuk menunggu.
Ia tidak menyesali pengakuannya.
Tetapi ia juga tidak bisa mengingkari rasa sakit kecil yang datang setelahnya.
Mencintai dengan terhormat ternyata bukan berarti bebas dari luka.
Itu hanya berarti luka itu tidak dijadikan alasan untuk merusak.
Artazara mengambil gulungan kecil dan menulis beberapa baris untuk dirinya sendiri:
Aku tidak ingin menjadi api
yang membakar rumah orang lain.Jika aku harus menyala,
biarlah aku menjadi lentera
yang cukup tahu batas minyaknya sendiri.
Ia membaca tulisan itu sekali, lalu menggulungnya kembali.
Di kejauhan, musik pesta semakin pelan.
Artazara menutup mata.
Ia berdoa agar hatinya tetap kuat.
Bukan untuk mendapatkan Ardashir.
Melainkan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Di desa, Roxana juga menghadapi dunia yang menggoda dengan caranya sendiri.
Bukan pesta.
Bukan musik kota.
Bukan pujian bangsawan.
Melainkan kehidupan yang aman.
Mehrdad datang membantu ayahnya memeriksa lumbung desa. Ia bekerja dengan sopan, tidak mencari perhatian, tidak berbicara berlebihan. Ketika salah satu anak kecil menjatuhkan keranjang gandum, ia membantu memungutnya tanpa mengeluh.
Roxana melihat itu dari kejauhan.
Dan ia tidak bisa berkata bahwa Mehrdad buruk.
Justru sebaliknya.
Ia baik.
Terlalu baik untuk diabaikan dengan mudah.
Sore itu, ketika Roxana mengambil air di sumur, Mehrdad berada di sana memperbaiki tali timba yang hampir putus.
“Talinya sudah lama rapuh,” katanya.
Roxana berdiri di sampingnya.
“Terima kasih. Kalau putus saat dipakai, pasti merepotkan.”
“Lebih baik diperbaiki sebelum benar-benar rusak.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi Roxana merasa seolah hidup sedang menyindirnya.
Mehrdad selesai mengikat tali, lalu mundur.
“Silakan.”
Roxana mengambil air.
Beberapa saat mereka diam.
Lalu Mehrdad berkata,
“Aku tidak akan sering datang jika itu membuatmu merasa tertekan.”
Roxana menoleh.
“Aku tidak merasa begitu.”
“Tapi kau sedang menunggu seseorang.”
Roxana menatap air dalam timba.
“Ya.”
Mehrdad mengangguk.
“Aku menghormati itu.”
Tidak ada nada pahit.
Tidak ada desakan.
Roxana merasa semakin sulit.
“Mehrdad, kau tidak perlu—”
“Aku tahu,” potongnya lembut. “Aku tidak perlu menunggu jawaban yang mungkin tidak pernah menjadi milikku.”
Roxana terdiam.
Mehrdad tersenyum kecil.
“Tapi aku juga tidak ingin menyembunyikan niat baik. Ayahku sudah berbicara kepada keluargamu. Setelah itu, semua terserah kepadamu dan keluargamu.”
Ia menunduk sopan.
“Aku hanya berharap, apa pun yang terjadi, kau tidak merasa dipaksa oleh kebaikan orang lain.”
Kalimat itu membuat Roxana menatapnya lama.
Dipaksa oleh kebaikan.
Itulah yang ia rasakan, tetapi belum mampu ia ucapkan.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Mehrdad mengangguk.
Lalu pergi.
Roxana berdiri di dekat sumur dengan kendi di tangannya.
Air di dalamnya tenang.
Tetapi hatinya tidak.
Malam itu, tiga hati berada di tempat berbeda.
Ardashir di barak, menjaga diri dari gemerlap kota.
Artazara di balkon, menjaga nyala hatinya agar tidak membakar kehormatan.
Roxana di bawah pohon delima, menjaga kesetiaan tanpa menutup mata terhadap kehidupan yang mengetuk dengan sopan.
Tidak ada yang jahat.
Tidak ada yang curang.
Tidak ada yang ingin merebut dengan paksa.
Namun justru karena semua berusaha baik, takdir menjadi semakin halus dan sulit dibaca.
Di atas mereka, bulan menggantung tenang.
Seolah mengetahui bahwa manusia sering kali tidak kalah oleh pedang.
Manusia lebih sering diuji oleh hal-hal yang tampak indah:
pujian, kesempatan, rasa aman, perhatian, dan cinta yang datang pada waktu yang tidak mudah.
Malam itu, Ardashir memandang cahaya kota dari jendela barak.
Ia tahu dunia besar sedang memanggilnya.
Namun jauh di dalam hati, ia masih mendengar suara yang lebih kecil.
Suara jalan tanah di desa.
Suara air di pematang.
Suara daun delima digerakkan angin.
Dan suara seorang gadis yang pernah berkata,
“Aku akan menunggu.”
Ardashir menggenggam benang merah itu.
Lalu memejamkan mata.
Dunia boleh menggoda.
Tetapi manusia harus memilih arah.