Minggu, 30 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (19)

 

Bab 19

Dunia yang Menggoda



Pagi setelah pengakuan Artazara, Ardashir bangun lebih awal daripada biasanya.

Bukan karena Rustom berteriak.

Bukan karena terompet latihan.

Bukan pula karena Vardan mendengkur seperti unta sakit.

Ia bangun karena hatinya terlalu ramai.

Di luar barak, langit masih gelap kebiruan. Para prajurit lain masih tidur di atas tikar masing-masing. Beberapa terlihat damai. Beberapa terlihat seperti baru kalah perang melawan selimut.

Vardan tidur telentang dengan satu tangan di dada dan mulut sedikit terbuka.

Ardashir memandangnya sebentar.

Lalu bergumam pelan, “Bagaimana mungkin orang seperti ini bisa memberi nasihat bijaksana?”

Seolah mendengar namanya dipanggil oleh takdir, Vardan membuka satu mata.

“Aku memang sering bijaksana ketika tidur.”

Ardashir terkejut.

“Kau sudah bangun?”

“Belum sepenuhnya. Setengah jiwaku masih di mimpi sedang makan kambing panggang.”

Ardashir tersenyum kecil.

Vardan duduk perlahan, rambutnya berantakan seperti sarang burung yang habis diterpa badai.

“Kau bangun terlalu pagi. Itu pertanda buruk.”

“Pertanda buruk?”

“Ya. Ada tiga alasan pemuda bangun terlalu pagi: lapar, takut kepada Rustom, atau memikirkan perempuan.”

Ardashir diam.

Vardan mengangguk seolah baru menyelesaikan penyelidikan besar.

“Yang ketiga.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Justru itu. Orang lapar langsung mencari roti. Orang takut Rustom langsung merapikan sepatu. Orang yang memikirkan perempuan hanya duduk seperti patung rusak dan menatap dinding.”

Ardashir tidak bisa menahan tawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Vardan mengusap wajahnya.

“Jadi, hari ini kita akan mati dalam latihan atau hanya mati perlahan karena urusan hati?”

“Mungkin keduanya.”

“Bagus. Setidaknya hidup kita konsisten.”


Latihan hari itu tidak terlalu berat.

Atau mungkin Ardashir hanya terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tubuhnya tidak sempat mengeluh.

Rustom mengajarkan formasi gerak cepat untuk pasukan berkuda. Mereka harus memacu kuda dalam kelompok kecil, berpencar, lalu menyatu kembali tanpa saling menabrak.

“Kalian bukan kawanan kambing!” teriak Rustom dari tengah lapangan.
“Kambing saja kadang lebih teratur dari kalian!”

Vardan yang hampir menabrak peserta lain segera memperlambat kudanya.

Rustom menunjuknya.

“Terutama kau, Vardan! Bahkan kambing akan malu berjalan di sebelahmu!”

Vardan membungkuk dari atas kuda.

“Maaf, Tuan. Aku akan meminta maaf kepada kambing-kambing kerajaan.”

Beberapa pemuda tertawa.

Rustom mengambil tombak kayu dan mengangkatnya.

“Siapa yang tertawa, ikut Vardan meminta maaf secara langsung kepada kandang kambing.”

Tawa langsung mati.

Ardashir tersenyum sambil menahan napas.

Humor Vardan kadang menyelamatkan suasana.

Kadang juga hampir membunuh semua orang.


Selesai latihan, Farrokh datang ke lapangan membawa gulungan catatan.

Ia berjalan pelan dengan tongkat, tetapi suaranya tetap tajam.

“Rustom, aku membutuhkan dua pemuda untuk membantu membawa catatan ke rumah arsip kota.”

Rustom menoleh ke arah para peserta.

“Ardashir. Vardan.”

Vardan langsung mengangkat tangan.

“Tuan, aku merasa sangat tersanjung, tetapi punggungku masih trauma oleh jerami kemarin.”

“Bagus,” jawab Rustom. “Catatan lebih ringan daripada jerami.”

“Itu yang dikatakan orang sebelum catatan jatuh menimpa hidupnya.”

“Vardan.”

“Ya, Tuan. Aku segera membawa hidupku ke rumah arsip.”

Farrokh menatap Vardan dengan tertarik.

“Anak ini banyak bicara.”

Rustom menjawab datar, “Itu penyakit yang belum kutemukan obatnya.”

Farrokh mengangguk.

“Jangan disembuhkan seluruhnya. Dalam perjalanan panjang, orang bodoh yang lucu kadang lebih berguna daripada orang pintar yang muram.”

Vardan menatap Farrokh dengan mata berbinar.

“Aku merasa dihargai.”

“Jangan terlalu cepat,” kata Farrokh. “Aku belum memutuskan kau lucu atau hanya lelah didengar.”

Ardashir tertawa.

Hari itu, untuk beberapa saat, dunia terasa lebih ramah.


Rumah arsip kota berada dekat pusat administrasi kerajaan.

Bangunannya panjang dan rendah, dengan dinding tebal untuk menjaga catatan dari panas. Di dalamnya, ratusan gulungan kulit, lempengan tanah liat, papan kayu, dan segel silinder tersimpan rapi di rak-rak besar.

Ada catatan pajak.
Catatan jumlah kuda.
Catatan pengiriman gandum.
Catatan pembangunan jalan.
Catatan pos air.
Catatan keluarga bangsawan.
Catatan kelahiran, kematian, hutang, dan perjanjian dagang.

Vardan berdiri di pintu masuk dengan wajah ngeri.

“Tempat ini menakutkan.”

Ardashir memandangnya heran.

“Ini hanya arsip.”

“Justru itu. Di medan perang, musuh terlihat. Di tempat ini, musuh bersembunyi dalam tulisan kecil.”

Farrokh mengangguk setuju.

“Untuk pertama kalinya hari ini, kau benar.”

Vardan menoleh bangga kepada Ardashir.

“Kau dengar? Aku benar di hadapan arsip kerajaan.”

“Catat,” kata Farrokh kepada penjaga arsip. “Peristiwa langka.”

Penjaga arsip menahan senyum.

Ardashir memandang sekeliling dengan kagum.

Di ruangan itu, ia melihat sisi lain dari teknologi Persia: bukan hanya jalan, air, menara api, dan gudang, tetapi juga ingatan yang disusun.

Kerajaan sebesar itu tidak mungkin berjalan hanya dengan ucapan.

Semuanya dicatat.

Berapa banyak gandum yang keluar dari lumbung.
Berapa banyak kuda yang dipindahkan ke pos utara.
Berapa banyak batu yang dibutuhkan untuk memperbaiki jalan.
Siapa yang menerima perintah.
Siapa yang gagal memenuhi janji.

Farrokh mengambil sebuah segel silinder kecil dari meja.

“Lihat ini.”

Ardashir mendekat.

Benda itu kecil, sebesar ruas jari. Di permukaannya terukir gambar halus.

“Ini segel,” kata Farrokh. “Digulingkan di atas tanah liat basah untuk menandai dokumen. Setiap pejabat memiliki tanda. Dengan segel, orang tahu siapa yang bertanggung jawab.”

Vardan mengangkat alis.

“Jadi kalau ada kesalahan, orang tidak bisa pura-pura tidak tahu?”

Farrokh tersenyum.

“Tepat.”

Vardan mundur setengah langkah.

“Aku semakin tidak menyukai tempat ini.”

Ardashir mengambil segel itu dengan hati-hati.

“Jadi tanda kecil bisa menjaga kepercayaan?”

“Bukan menjaga sepenuhnya,” kata Farrokh. “Tetapi membantu manusia mengingat bahwa ucapan harus memiliki pemilik.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Ucapan harus memiliki pemilik.

Ia teringat surat untuk Roxana.

Teringat pengakuan Artazara.

Teringat bahwa kata-kata yang keluar dari hati harus dipertanggungjawabkan.

Mungkin itulah sebabnya manusia menciptakan segel.

Karena bahkan kerajaan pun tahu, tanpa tanggung jawab, kata-kata bisa menjadi angin.


Ketika mereka keluar dari rumah arsip, hari sudah menjelang sore.

Farrokh mengizinkan mereka melewati pasar sebelum kembali ke barak, asal tidak terlambat.

“Dan jangan membeli sesuatu yang membuat Rustom bertanya,” katanya.

Vardan langsung tampak tersinggung.

“Aku tidak pernah membeli sesuatu yang mencurigakan.”

Farrokh menatapnya.

“Wajahmu saja sudah cukup mencurigakan.”

Ardashir tertawa pelan.

Mereka berjalan menyusuri pasar.

Sore itu pasar sangat ramai. Pedagang dari berbagai wilayah datang membawa barang-barang yang belum pernah dilihat Ardashir di desanya.

Ada kain dari daerah jauh yang halus seperti air.
Ada mangkuk perak berukir.
Ada rempah beraroma tajam.
Ada kaca kecil yang dapat memantulkan wajah.
Ada perhiasan, sandal kulit, pedang hias, dan kendi biru dengan lukisan burung.

Vardan berhenti di depan penjual makanan.

“Ardashir, lihat.”

“Apa?”

“Ini tanda bahwa Tuhan masih menyayangi manusia.”

Di depannya ada roti panas berisi daging berbumbu.

Ardashir menggeleng.

“Setiap kali kau melihat makanan, wajahmu berubah seperti penyair melihat bulan.”

“Karena bulan tidak bisa dimakan.”

Vardan membeli dua roti dan memberikan satu kepada Ardashir.

“Ambil. Orang yang banyak memikirkan cinta butuh makan. Kalau tidak, ia akan menulis syair buruk.”

Ardashir menerima roti itu.

“Menurutmu semua syair buruk lahir dari lapar?”

“Sebagian. Sisanya lahir dari orang yang terlalu percaya dirinya tampan.”

Ardashir tertawa.

Untuk beberapa saat mereka makan sambil berjalan.

Lalu Ardashir berhenti di depan sebuah kios kecil.

Di sana dijual berbagai benda sederhana: benang warna-warni, jarum, gelang kayu, kotak kecil, kain lipat, dan pisau kecil berukir.

Matanya tertuju pada sebuah gulungan benang merah tua.

Warnanya mengingatkannya pada kain Roxana.

Vardan melihatnya.

“Untuk Roxana?”

Ardashir mengangguk pelan.

“Mungkin untuk balasan nanti. Atau untuk kusimpan.”

Vardan menunjuk gelang kecil dari tembaga.

“Kalau kau ingin hadiah, itu bagus.”

Ardashir menggeleng.

“Belum saatnya.”

“Kenapa?”

“Karena hadiah bisa membawa makna lebih besar daripada yang mampu kujelaskan.”

Vardan menatapnya lama.

“Kau sungguh membuat hidup menjadi sulit.”

“Aku mencoba berhati-hati.”

“Ada beda tipis antara berhati-hati dan membuat hatimu berjalan seperti keledai tua.”

Ardashir tersenyum.

Namun ia tetap hanya membeli benang merah.

Sederhana.

Tidak terlalu berat maknanya.

Tetapi cukup untuk mengingatkan dirinya pada janji.


Saat mereka hendak kembali ke barak, kerumunan kecil terlihat di tengah pasar.

Seorang penyair muda berdiri di atas kotak kayu, membacakan syair cinta dengan suara sangat dramatis.

Wajahnya serius.

Tangannya bergerak ke langit.

“Wahai bulan yang mencuri mataku!” katanya lantang. “Wahai bintang yang membakar dadaku!”

Vardan berhenti.

“Aku harus mendengar ini. Mungkin dadanya bisa kita pakai untuk menyalakan api.”

Ardashir menahan tawa.

Penyair itu melanjutkan,

“Jika kau menolakku, aku akan mati di depan pintumu!”

Seorang ibu-ibu penjual bawang dari samping kerumunan berteriak,

“Jangan mati di situ! Menghalangi pembeli!”

Kerumunan tertawa.

Penyair muda itu tampak tersinggung, tetapi tetap melanjutkan dengan lebih keras.

“Cintaku lebih dalam dari sumur!”

Penjual bawang menyahut lagi,

“Kalau begitu ambil air sendiri!”

Vardan hampir tersedak roti.

Ardashir tertawa sampai harus menunduk.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tertawa tanpa beban.

Tawa itu terasa seperti air dingin.

Mungkin benar, pikirnya. Cinta tidak harus selalu dibicarakan dengan wajah muram. Kadang cinta juga perlu ditertawakan sedikit agar manusia tidak merasa dirinya terlalu tragis.


Namun dunia yang menggoda tidak hanya datang dalam bentuk tawa.

Menjelang mereka keluar dari pasar, Ardashir melihat sesuatu yang membuat langkahnya melambat.

Di depan sebuah rumah besar, beberapa pemuda bangsawan sedang berdiri bersama kuda-kuda indah. Pakaian mereka halus. Pedang mereka berhiaskan ukiran. Mereka berbicara lantang tentang pesta malam di kediaman seorang pejabat tinggi.

Salah satu dari mereka mengenali Ardashir.

“Kau pemuda dari barak timur itu, bukan?”

Ardashir menoleh.

“Ya.”

“Yang sering dipanggil Rustom?”

“Kadang.”

Pemuda itu tersenyum.

“Kau Ardashir. Aku pernah melihatmu di latihan berkuda. Lumayan untuk anak desa.”

Vardan menegang sedikit, tetapi Ardashir tetap tenang.

“Terima kasih.”

“Datanglah malam ini,” kata pemuda itu. “Ada jamuan. Musik, makanan, anggur, penari, dan orang-orang penting. Kau perlu belajar hidup di kota kalau ingin naik lebih tinggi.”

Vardan berbisik pelan, “Aku mendukung bagian makanan.”

Ardashir tidak menjawab.

Pemuda bangsawan itu melanjutkan,

“Di istana, keberanian saja tidak cukup. Kau harus dikenal. Kau harus terlihat. Kau harus dekat dengan orang yang tepat.”

Kalimat itu terdengar masuk akal.

Dan justru karena masuk akal, ia terasa berbahaya.

Ardashir tahu dirinya sedang naik perlahan. Rustom memperhatikannya. Farrokh mengajarinya. Artazara menghormatinya. Beberapa orang mulai mengenal namanya.

Dunia besar sedang membuka pintu.

Pintu itu terang.

Pintu itu menjanjikan masa depan.

Namun di dalam hati Ardashir ada suara kecil yang bertanya:

Apakah semua pintu harus dimasuki hanya karena terbuka?

Ia teringat Bahram.

Jangan terlalu percaya pada orang yang terlalu cepat memuji.

Ia teringat Roxana.

Aku tidak lupa.

Ia teringat Artazara.

Jangan menawarkan hatimu kepada siapa pun sebelum kau tahu bagian mana dari hatimu yang masih terikat janji.

Ardashir menunduk sopan.

“Terima kasih atas undangannya. Tetapi aku harus kembali ke barak.”

Pemuda bangsawan itu mengangkat bahu.

“Kesempatan tidak selalu datang dua kali.”

Ardashir menjawab tenang,

“Karena itu manusia harus memilih kesempatan mana yang pantas diambil.”

Wajah pemuda itu berubah sedikit.

Vardan segera menarik lengan Ardashir setelah mereka menjauh.

“Kau baru saja menolak jamuan bangsawan dengan kalimat yang bisa ditulis di dinding kuil.”

“Aku hanya menjawab.”

“Ya, dan aku hampir kehilangan kesempatan makan gratis.”

“Kau lebih sedih karena makanannya?”

“Tentu. Kehormatanmu kenyang. Perutku tidak.”

Ardashir tertawa.

Tetapi di dalam hatinya, ia tahu percakapan itu bukan hal kecil.

Dunia yang besar mulai menggodanya.

Bukan selalu dengan dosa yang terang.

Kadang dengan peluang.

Kadang dengan pujian.

Kadang dengan pintu-pintu indah yang membuat manusia lupa mengapa ia berjalan sejak awal.


Malam itu, Ardashir duduk di barak sambil memegang benang merah yang baru dibelinya.

Vardan tidur lebih cepat setelah menghabiskan sisa roti.

Di luar, suara kota terdengar samar. Musik dari kejauhan mungkin berasal dari jamuan yang tadi ia tolak. Ada tawa, tepuk tangan, dan suara alat musik yang melayang bersama angin malam.

Ardashir tidak membenci semua itu.

Ia bukan orang yang menganggap dunia kota buruk.

Kota memberinya ilmu.
Kota memberinya guru.
Kota mempertemukannya dengan orang-orang hebat.
Kota memperlihatkan kepadanya betapa luas hidup manusia.

Namun ia sadar, dunia yang besar tidak hanya memperluas pandangan.

Ia juga bisa memperbesar keinginan.

Dan keinginan yang tidak dijaga dapat membuat manusia merasa semua yang dulu cukup menjadi terlalu kecil.

Ia membuka kantong kecilnya.

Di sana ada kain merah dari Roxana.
Benang merah dari pasar.
Dan catatan kecil yang berisi tanda dari Roxana: Aku tidak lupa.

Ardashir menatap benda-benda itu lama.

Lalu ia berbisik,

“Aku pun tidak.”


Di rumah Artazara, malam berjalan lebih sunyi.

Ia duduk di balkon, memandang cahaya kota.

Dari kejauhan terdengar musik jamuan bangsawan.

Salah seorang pelayan berkata,

“Nona tidak datang ke pesta malam ini?”

Artazara menggeleng.

“Aku tidak ingin.”

“Banyak keluarga penting hadir.”

“Justru itu.”

Pelayan itu tersenyum kecil.

“Kadang Nona terdengar seperti Farrokh.”

Artazara menoleh.

“Apakah itu hinaan?”

“Sedikit.”

Artazara tertawa pelan.

Tawa itu lembut, tetapi segera hilang.

Ia memandang ke arah barak timur.

Malam sebelumnya ia telah mengatakan perasaannya.

Dan hari ini, dunia tetap berjalan seperti biasa.

Matahari tetap terbit.
Latihan tetap berlangsung.
Catatan tetap ditulis.
Orang-orang tetap pergi ke pasar.

Aneh sekali, pikirnya.

Hati seseorang bisa berubah besar dalam satu malam, tetapi dunia tidak merasa perlu berhenti untuk menunggu.

Ia tidak menyesali pengakuannya.

Tetapi ia juga tidak bisa mengingkari rasa sakit kecil yang datang setelahnya.

Mencintai dengan terhormat ternyata bukan berarti bebas dari luka.

Itu hanya berarti luka itu tidak dijadikan alasan untuk merusak.

Artazara mengambil gulungan kecil dan menulis beberapa baris untuk dirinya sendiri:

Aku tidak ingin menjadi api
yang membakar rumah orang lain.

Jika aku harus menyala,
biarlah aku menjadi lentera
yang cukup tahu batas minyaknya sendiri.

Ia membaca tulisan itu sekali, lalu menggulungnya kembali.

Di kejauhan, musik pesta semakin pelan.

Artazara menutup mata.

Ia berdoa agar hatinya tetap kuat.

Bukan untuk mendapatkan Ardashir.

Melainkan untuk tetap menjadi dirinya sendiri.


Di desa, Roxana juga menghadapi dunia yang menggoda dengan caranya sendiri.

Bukan pesta.

Bukan musik kota.

Bukan pujian bangsawan.

Melainkan kehidupan yang aman.

Mehrdad datang membantu ayahnya memeriksa lumbung desa. Ia bekerja dengan sopan, tidak mencari perhatian, tidak berbicara berlebihan. Ketika salah satu anak kecil menjatuhkan keranjang gandum, ia membantu memungutnya tanpa mengeluh.

Roxana melihat itu dari kejauhan.

Dan ia tidak bisa berkata bahwa Mehrdad buruk.

Justru sebaliknya.

Ia baik.

Terlalu baik untuk diabaikan dengan mudah.

Sore itu, ketika Roxana mengambil air di sumur, Mehrdad berada di sana memperbaiki tali timba yang hampir putus.

“Talinya sudah lama rapuh,” katanya.

Roxana berdiri di sampingnya.

“Terima kasih. Kalau putus saat dipakai, pasti merepotkan.”

“Lebih baik diperbaiki sebelum benar-benar rusak.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi Roxana merasa seolah hidup sedang menyindirnya.

Mehrdad selesai mengikat tali, lalu mundur.

“Silakan.”

Roxana mengambil air.

Beberapa saat mereka diam.

Lalu Mehrdad berkata,

“Aku tidak akan sering datang jika itu membuatmu merasa tertekan.”

Roxana menoleh.

“Aku tidak merasa begitu.”

“Tapi kau sedang menunggu seseorang.”

Roxana menatap air dalam timba.

“Ya.”

Mehrdad mengangguk.

“Aku menghormati itu.”

Tidak ada nada pahit.

Tidak ada desakan.

Roxana merasa semakin sulit.

“Mehrdad, kau tidak perlu—”

“Aku tahu,” potongnya lembut. “Aku tidak perlu menunggu jawaban yang mungkin tidak pernah menjadi milikku.”

Roxana terdiam.

Mehrdad tersenyum kecil.

“Tapi aku juga tidak ingin menyembunyikan niat baik. Ayahku sudah berbicara kepada keluargamu. Setelah itu, semua terserah kepadamu dan keluargamu.”

Ia menunduk sopan.

“Aku hanya berharap, apa pun yang terjadi, kau tidak merasa dipaksa oleh kebaikan orang lain.”

Kalimat itu membuat Roxana menatapnya lama.

Dipaksa oleh kebaikan.

Itulah yang ia rasakan, tetapi belum mampu ia ucapkan.

“Terima kasih,” katanya pelan.

Mehrdad mengangguk.

Lalu pergi.

Roxana berdiri di dekat sumur dengan kendi di tangannya.

Air di dalamnya tenang.

Tetapi hatinya tidak.


Malam itu, tiga hati berada di tempat berbeda.

Ardashir di barak, menjaga diri dari gemerlap kota.

Artazara di balkon, menjaga nyala hatinya agar tidak membakar kehormatan.

Roxana di bawah pohon delima, menjaga kesetiaan tanpa menutup mata terhadap kehidupan yang mengetuk dengan sopan.

Tidak ada yang jahat.

Tidak ada yang curang.

Tidak ada yang ingin merebut dengan paksa.

Namun justru karena semua berusaha baik, takdir menjadi semakin halus dan sulit dibaca.

Di atas mereka, bulan menggantung tenang.

Seolah mengetahui bahwa manusia sering kali tidak kalah oleh pedang.

Manusia lebih sering diuji oleh hal-hal yang tampak indah:

pujian, kesempatan, rasa aman, perhatian, dan cinta yang datang pada waktu yang tidak mudah.

Malam itu, Ardashir memandang cahaya kota dari jendela barak.

Ia tahu dunia besar sedang memanggilnya.

Namun jauh di dalam hati, ia masih mendengar suara yang lebih kecil.

Suara jalan tanah di desa.

Suara air di pematang.

Suara daun delima digerakkan angin.

Dan suara seorang gadis yang pernah berkata,

“Aku akan menunggu.”

Ardashir menggenggam benang merah itu.

Lalu memejamkan mata.

Dunia boleh menggoda.

Tetapi manusia harus memilih arah.

Sabtu, 29 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (20)

 

Bab 20

Jalan Pulang yang Tidak Lagi Sama



Pagi itu, Ardashir dipanggil Rustom sebelum latihan dimulai.

Biasanya, pemanggilan sebelum latihan berarti dua kemungkinan.

Pertama, ada tugas penting.
Kedua, ada hukuman yang akan disampaikan dengan wajah sangat datar.

Vardan, yang sedang mengikat tali sepatunya, langsung menatap Ardashir dengan iba.

“Semoga roh kakimu kuat.”

Ardashir mengernyit.

“Mengapa kakiku?”

“Kalau Rustom memanggil pagi-pagi, biasanya seseorang akan berlari jauh, membawa beban, atau menyesali kelahirannya.”

Ardashir tersenyum kecil.

“Doakan saja bukan yang ketiga.”

“Aku selalu mendoakan yang terbaik,” kata Vardan. “Tapi pengalaman mengajarkan kita untuk takut kepada orang yang terlalu jarang tersenyum.”

Dari kejauhan, suara Rustom terdengar.

“Ardashir!”

Vardan langsung menepuk bahu Ardashir.

“Pergilah. Kalau kau tidak kembali, aku akan mewarisi bagian rotimu.”

“Terima kasih atas kesetiaanmu.”

“Aku setia kepada persediaan makanan.”

Ardashir tertawa pelan, lalu berjalan menuju Rustom.


Rustom berdiri di dekat gerbang barak bersama Farrokh.

Di tangan Farrokh ada gulungan peta dan beberapa lempengan catatan kecil. Wajah orang tua itu tampak kesal, seolah pagi telah datang terlalu cepat tanpa meminta izinnya.

“Pagi seharusnya tidak dimulai sebelum tulang tua menyetujuinya,” gerutu Farrokh.

Rustom tidak menanggapi.

Ia menyerahkan gulungan kecil kepada Ardashir.

“Kau ikut rombongan pemeriksa jalan ke selatan.”

Ardashir terdiam.

Selatan.

Kata itu langsung membuka pintu besar di dalam dadanya.

“Ke selatan, Tuan?”

“Ya.”

“Seberapa jauh?”

Farrokh membuka peta dengan gerakan lambat.

“Jalur pemeriksaan melewati tiga pos air, dua pos kurir, satu jembatan batu, dan beberapa desa kecil. Salah satu desa berada tidak jauh dari tempat asalmu.”

Ardashir merasa napasnya berubah.

Rustom memperhatikan wajahnya.

“Jangan tampak seperti anak kecil yang baru melihat madu.”

Ardashir segera menunduk.

“Maaf, Tuan.”

“Ini tugas, bukan liburan.”

“Ya, Tuan.”

Farrokh menunjuk beberapa tanda di peta.

“Kerajaan menerima laporan bahwa sebagian jalan selatan rusak setelah banjir kecil di kaki bukit. Ada juga laporan saluran air di satu desa mulai tersumbat lumpur. Rombongan kecil akan memeriksa kondisi jalan, pos, dan pembagian air. Kau ikut karena kau memahami kuda, mengenal daerah selatan, dan tidak terlalu bodoh membaca peta.”

Ardashir menatap Farrokh.

“Terima kasih… sepertinya.”

Farrokh mengangguk.

“Anggap saja itu pujian. Pada usiaku, pujian jarang keluar dalam bentuk yang cantik.”

Rustom berkata,

“Kau akan berangkat besok pagi.”

“Siapa saja yang ikut?”

“Dua prajurit senior, seorang juru catat, seorang ahli saluran air, dan—”

Sebelum Rustom selesai, terdengar suara dari belakang.

“Dan sahabatnya yang sangat berguna?”

Rustom menutup mata sebentar, seperti sedang berdoa agar kesabarannya diperpanjang.

Vardan berdiri beberapa langkah di belakang, berpura-pura datang tanpa sengaja.

“Aku kebetulan lewat,” katanya.

“Di depan gerbang komandan?” tanya Rustom.

“Jalan hidup memang misterius, Tuan.”

Farrokh terkekeh.

Rustom menatap Vardan.

“Kau ingin ikut?”

Vardan langsung berdiri tegak.

“Jika kerajaan membutuhkan pengorbananku, aku siap.”

“Bagus. Kau ikut.”

Wajah Vardan berubah.

“Aku ikut?”

“Ya.”

“Benarkah?”

“Kau ingin aku berubah pikiran?”

“Tidak, Tuan. Aku hanya terharu. Jarang sekali ancaman terasa seperti hadiah.”

Rustom menatapnya tajam.

“Kau akan membawa catatan persediaan.”

Vardan menoleh kepada Ardashir dengan wajah sedih.

“Aku tahu pasti ada durinya.”

Farrokh menyerahkan satu kantong berisi lempengan catatan kepada Vardan.

“Hati-hati. Itu lebih berharga daripada isi kepalamu.”

Vardan menerima kantong itu dengan hormat.

“Berarti sangat berharga, Tuan Farrokh.”

Farrokh mengamatinya sejenak.

“Anak ini punya keyakinan diri yang tidak didukung bukti.”

Ardashir tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak mendengar kata selatan, ia bisa bernapas lebih ringan.

Ia akan pulang.

Bukan sepenuhnya pulang.

Bukan sebagai anak desa yang kembali dari bermain di padang.

Ia akan kembali sebagai calon prajurit kerajaan, membawa tugas, catatan, dan tanggung jawab.

Namun tetap saja, jalan itu menuju rumah.

Menuju ayahnya.

Menuju pohon delima.

Menuju Roxana.


Sore hari sebelum keberangkatan, Ardashir pergi ke taman timur.

Ia tidak tahu apakah Artazara akan berada di sana.

Sebagian dirinya berharap bertemu.

Sebagian lain takut pertemuan itu membuat hatinya kembali berat.

Namun ketika ia melewati saluran air kecil, Artazara memang sedang berdiri di dekat kolam, membaca gulungan catatan. Pelayan perempuannya menunggu agak jauh.

Artazara mengangkat wajah.

“Kau akan pergi ke selatan.”

Ardashir berhenti.

“Kau sudah tahu?”

“Farrokh lebih suka mengeluh daripada berjalan. Kalau ia datang ke rumah ayahku sambil membawa peta, pasti ada sesuatu.”

Ardashir tersenyum kecil.

“Aku berangkat besok.”

Artazara menggulung catatannya perlahan.

“Ke dekat desamu?”

“Ya.”

“Ke dekat Roxana?”

Ardashir diam sebentar.

“Ya.”

Artazara mengangguk.

Tidak ada kejutan di wajahnya.

Namun Ardashir melihat sesuatu yang bergerak halus di matanya. Bukan cemburu yang buruk. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang sedang merapikan luka sebelum orang lain melihatnya berantakan.

“Aku senang,” katanya.

Ardashir menatapnya.

“Engkau selalu mengatakan itu, bahkan ketika aku tahu itu tidak mudah.”

Artazara tersenyum tipis.

“Karena tidak semua kalimat harus lahir dari bagian hati yang paling sakit.”

Mereka berdiri di tepi air.

Saluran kecil di samping mereka mengalir pelan, membawa cahaya sore yang pecah menjadi garis-garis keemasan.

Artazara berkata,

“Perjalanan ke selatan akan melewati beberapa pos air. Ada bagian jalan yang menurun tajam setelah batu penanda ketujuh. Jika hujan kemarin meninggalkan lumpur, kereta catatan bisa tergelincir.”

Ardashir mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Farrokh memberitahumu?”

“Aku membaca catatannya.”

“Tentu saja.”

Artazara tersenyum.

“Jangan mengejek. Kadang membaca catatan lebih berguna daripada terlihat gagah di atas kuda.”

“Aku tidak mengejek. Aku justru merasa lebih aman karena kau tahu lebih banyak daripada rombongan kami.”

“Kau membawa ahli saluran air?”

“Ya.”

“Bagus. Di desa-desa selatan, saluran kecil sering terlihat sederhana, tetapi jika satu bagian tersumbat, orang bisa bertengkar sepanjang musim.”

Ardashir teringat ayah Roxana, tetua desa, dan mangkuk kecil pengukur giliran air.

“Di desaku, mereka membagi air dengan mangkuk tanah liat berlubang kecil. Ketika tenggelam, giliran selesai.”

Artazara tampak tertarik.

“Jam air sederhana.”

“Jam air?”

“Ya. Air bisa mengukur waktu. Di istana, ada alat yang lebih rapi untuk menghitung giliran penjagaan atau pembagian tertentu. Tetapi prinsipnya sama. Air masuk perlahan, lalu memberi tanda.”

Ardashir tersenyum.

“Jadi desa kecilku ternyata tidak terlalu jauh dari ilmu istana.”

“Ilmu besar sering lahir dari kebutuhan kecil,” kata Artazara. “Orang yang butuh air akan belajar adil, atau saling menghancurkan.”

Kalimat itu membuat mereka sama-sama diam.

Lalu Artazara memandang Ardashir lebih lembut.

“Ketika kau sampai di sana, jangan hanya melihat Roxana sebagai kenangan.”

Ardashir mengernyit sedikit.

“Maksudmu?”

“Lihatlah dia sebagai manusia yang hidup saat kau pergi.”

Artazara menatap air.

“Kadang orang yang pulang membawa bayangan lama. Ia berharap rumah tetap sama, pohon tetap sama, orang yang dicintai tetap sama. Tetapi yang menunggu juga mengalami hari-hari panjang. Ia juga berubah. Ia juga belajar. Ia juga mungkin terluka.”

Ardashir menerima kata-kata itu dengan hati berat.

“Aku takut menemukan semuanya berubah.”

“Pulang memang begitu,” kata Artazara. “Kita mengira pulang berarti kembali ke tempat yang sama. Padahal kadang pulang berarti bertemu kenyataan bahwa waktu tidak menunggu kita.”

Ardashir memandangnya lama.

“Kau selalu tahu cara mengatakan hal yang membuatku tidak bisa bersembunyi.”

“Karena aku pun sedang belajar tidak bersembunyi.”

Angin sore menggerakkan ujung kain kepala Artazara.

Ia mengambil sesuatu dari lipatan jubahnya.

Sebuah pita kecil berwarna biru gelap.

“Simpan ini.”

Ardashir tidak langsung menerimanya.

Artazara memahami keraguannya.

“Bukan sebagai tanda cinta,” katanya pelan. “Jangan takut. Aku tidak akan memberi beban yang tidak pantas kau bawa.”

Ia menyerahkan pita itu dengan tenang.

“Anggap saja sebagai tanda persahabatan. Atau pengingat bahwa ada seseorang di kota yang berharap kau pulang dari selatan dengan hati yang lebih jelas.”

Ardashir menerima pita itu dengan hormat.

“Terima kasih.”

“Jangan ucapkan dengan wajah seolah aku baru menyerahkan kerajaan.”

“Maaf.”

Artazara tersenyum kecil.

“Dan Ardashir…”

“Ya?”

“Jika kau bertemu Roxana, jangan berbicara seperti prajurit yang sedang membuat laporan.”

Ardashir hampir tertawa.

“Aku tampak seperti itu?”

“Kadang. Kau bisa mengatakan hal paling lembut dengan wajah seperti sedang menghitung jumlah gandum.”

Ardashir tersenyum lebih lepas.

“Aku akan berusaha.”

“Bagus. Perempuan tidak ingin dicintai seperti daftar perbekalan.”

Kali ini Ardashir benar-benar tertawa pelan.

Tawa itu membuat suasana lebih ringan.

Namun setelah tawa itu menghilang, keduanya kembali memahami bahwa perpisahan kecil sedang terjadi.

Artazara mundur satu langkah.

“Pergilah dengan selamat.”

“Aku akan kembali.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Artazara menatapnya.

Ardashir segera menyadari beratnya kata itu.

Artazara tersenyum, tetapi kali ini lebih tenang.

“Kembalilah kepada tugasmu. Tentang hati, biarlah Tuhan yang mengajarimu jalannya.”

Lalu ia pergi.

Ardashir berdiri sendiri di tepi air, memegang pita biru kecil itu.

Ia tahu, benda itu bukan ikatan.

Bukan rayuan.

Bukan tuntutan.

Justru karena itu, ia terasa lebih berat.

Karena datang dari hati yang menjaga kehormatan bahkan saat terluka.


Malam sebelum keberangkatan, Ardashir menyiapkan barangnya.

Tidak banyak.

Jubah perjalanan.
Pisau kecil.
Kantung air.
Catatan tugas.
Benang merah dari pasar.
Kain Roxana.
Pita biru Artazara.

Ia memandang tiga benda terakhir itu lama.

Vardan muncul di belakangnya sambil membawa kantong catatan yang tampak terlalu besar untuk kebahagiaannya.

“Aku membawa catatan kerajaan. Kau membawa kenangan kerajaan dan desa. Kita sama-sama terbebani.”

Ardashir menoleh.

“Kau melihat?”

“Aku punya mata.”

“Dan mulut yang sulit berhenti.”

“Itu juga anugerah.”

Vardan duduk di sampingnya.

Ia melihat kain merah, benang merah, dan pita biru.

“Roxana dan Artazara?”

Ardashir mengangguk.

Vardan tidak tertawa.

Tidak menggoda.

Ia hanya berkata,

“Kau harus berhati-hati agar benda-benda kecil itu tidak menjadi perang besar di dalam kantongmu.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kau baru mulai tahu.”

Ardashir memandangnya.

Vardan menghela napas.

“Dengarkan orang yang sering salah tapi kadang benar ini. Jangan mencoba membuat semua orang bahagia dengan cara menunda kebenaran. Itu seperti menaruh susu di bawah matahari dan berharap tetap segar.”

Ardashir tersenyum kecil.

“Perumpamaanmu selalu memakai makanan.”

“Karena makanan jujur. Kalau basi, ia tidak berpura-pura harum.”

Ardashir tertawa pelan.

Vardan melanjutkan dengan lebih serius,

“Ketika kau bertemu Roxana, bicaralah sebagai Ardashir. Bukan calon prajurit. Bukan murid Rustom. Bukan orang yang dikagumi Artazara. Bicaralah sebagai anak desa yang pernah menggenggam tangannya di bawah pohon delima.”

Ardashir menunduk.

“Dan kalau hatiku masih bingung?”

“Jujurlah bahwa kau bingung. Tapi jangan gunakan kebingungan sebagai kabut untuk membuat orang lain tersesat.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Vardan menepuk bahunya.

“Sudah. Tidurlah. Besok kita berangkat. Aku butuh tenaga untuk mengeluh sepanjang perjalanan.”

“Setidaknya kau punya tujuan.”

“Tujuanku mulia: menjaga semangat rombongan dengan keluhan yang teratur.”


Pagi berikutnya, rombongan berangkat sebelum matahari sepenuhnya naik.

Gerbang selatan kota dibuka.

Dua prajurit senior berada di depan. Di belakang mereka juru catat membawa kotak kayu berisi lempengan catatan. Seorang ahli saluran air bernama Dastan menunggang keledai abu-abu dengan alat ukur sederhana di samping pelananya. Ardashir dan Vardan berada di tengah rombongan.

Vardan menatap keledai Dastan.

“Aku iri.”

Dastan, lelaki kurus berwajah tenang, menoleh.

“Kepada keledaiku?”

“Ya. Ia berjalan pelan, tidak peduli kehormatan, dan semua orang memakluminya.”

Dastan mengelus leher keledainya.

“Namanya Barzin. Ia lebih cerdas daripada banyak orang yang pernah kukenal.”

Vardan mengangguk serius.

“Aku merasa tersaingi.”

Ardashir tertawa.

Perjalanan dimulai dengan ringan.

Namun semakin jauh mereka meninggalkan kota, hati Ardashir semakin sunyi.

Jalan kerajaan membentang di depan mereka.

Di beberapa bagian, batu-batu besar disusun rapi. Di sisi jalan berdiri penanda jarak. Beberapa penanda sudah aus, tetapi lambang kerajaan masih terlihat.

Dastan menjelaskan sambil berjalan,

“Penanda jarak itu penting. Kurir menghitung waktu, pengawal menghitung persediaan, dan juru catat menghitung keterlambatan.”

Vardan mengangkat tangan.

“Apakah ada penanda jarak untuk mengetahui kapan seseorang mulai lapar?”

Dastan menjawab tenang,

“Untukmu, mungkin setiap sepuluh langkah.”

Vardan menatap Ardashir.

“Aku suka orang ini. Ia menghina dengan lembut.”

Ardashir tersenyum.

Rombongan berhenti di pos pertama menjelang siang.

Di sana ada sumur, kandang kecil, tempat berteduh, dan gudang batu sederhana. Penjaga pos mencatat kedatangan mereka di atas papan tanah liat basah, lalu menekan segel kecil sebagai tanda.

Ardashir memperhatikan proses itu.

Ia kembali teringat rumah arsip kota.

Segala sesuatu dicatat.

Bahkan perjalanan kecil ini.

Seolah Persia berkata kepada dirinya sendiri: jangan lupa.


Pada hari kedua, mereka tiba di jembatan batu yang dilaporkan rusak.

Air sungai di bawahnya tidak besar, tetapi cukup kuat mengikis bagian tepi. Beberapa batu penyangga bergeser. Dastan turun dari keledainya, memeriksa aliran air, lalu meletakkan tongkat ukur di beberapa titik.

“Kalau dibiarkan sampai musim hujan berikutnya, bagian ini bisa runtuh,” katanya.

Juru catat segera mencatat.

Vardan membungkuk melihat air.

“Menurutku juga rusak.”

Ardashir menoleh.

“Kau paham jembatan?”

“Tidak. Tapi kalau orang pintar berkata rusak, aku setuju agar tampak cerdas.”

Dastan tersenyum tipis.

“Strategi yang sering berhasil di istana.”

Semua tertawa kecil.

Ardashir membantu mengangkat beberapa batu kecil untuk membuat tanda sementara. Ia menyadari bahwa membangun kerajaan bukan hanya membuat sesuatu yang megah, tetapi juga memperbaiki bagian kecil sebelum hancur.

Jembatan.

Saluran air.

Hubungan manusia.

Semuanya bisa rusak perlahan jika retakan kecil diabaikan terlalu lama.

Ia memikirkan Roxana.

Ia berharap surat keduanya sampai sebelum dirinya tiba, agar pertemuan nanti tidak berdiri di atas kesunyian yang terlalu panjang.


Pada sore hari ketiga, bentuk tanah mulai terasa akrab.

Bukit rendah di kejauhan.
Padang yang lebih terbuka.
Aroma rumput kering.
Angin yang membawa debu halus dari ladang.

Ardashir mengenali semuanya.

Tubuhnya seperti mengingat lebih cepat daripada pikirannya.

Vardan memperhatikan wajahnya.

“Kita dekat?”

Ardashir mengangguk.

“Ya.”

“Seberapa dekat?”

“Jika melewati bukit itu, kita bisa melihat lembah desaku.”

Vardan menjadi lebih tenang.

“Kau siap?”

Ardashir tidak menjawab langsung.

Siap.

Kata itu terlalu sederhana untuk hati yang berbulan-bulan belajar rindu, takut, cinta, dan tanggung jawab.

“Aku tidak tahu,” jawabnya akhirnya.

Vardan mengangguk.

“Itu jawaban yang lebih jujur daripada ‘ya’.”


Di desa, hari itu berjalan seperti biasa bagi semua orang, kecuali Roxana.

Surat kedua Ardashir telah sampai sehari sebelumnya.

Pedagang minyak yang membawanya tiba ketika matahari hampir tenggelam. Kali ini Roxana tidak membuka surat di depan siapa pun. Ia membawanya ke bawah pohon delima, duduk di tempat biasa, lalu membaca perlahan.

Ia membaca kalimat itu berkali-kali:

Aku mencintaimu.

Tiga kata itu tidak panjang.

Tetapi bagi Roxana, seperti hujan yang akhirnya turun setelah langit terlalu lama menggantung awan.

Ia menangis lama.

Bukan tangis putus asa.

Bukan tangis marah.

Melainkan tangis seorang perempuan yang akhirnya mendengar dengan jelas apa yang selama ini hanya ia tebak dari ingatan.

Namun surat itu juga tidak memberi janji mudah.

Ardashir jujur.

Ia belum bisa pulang.

Ia belum tahu kapan akan kembali.

Ia tidak ingin mengikat Roxana dengan kata-kata yang tidak bisa ia tepati.

Roxana menghormati itu.

Tetapi kejujuran juga membawa beban baru.

Sebab kini ia tahu Ardashir mencintainya.

Dan pada saat yang sama, keluarga Mehrdad telah datang dengan niat baik.

Malam itu Roxana berbicara kepada ayah dan ibunya.

“Aku ingin waktu,” katanya.

Ayahnya mengangguk.

“Kau akan mendapatkannya.”

Ibunya menggenggam tangannya.

“Dan hatimu?”

Roxana menjawab pelan,

“Hatiku sudah menjawab. Hanya hidup yang belum memberi jalan.”

Ayahnya menatapnya lama.

“Kalau begitu, kita tidak akan tergesa-gesa menerima pembicaraan apa pun.”

Roxana menunduk, menahan air mata.

“Terima kasih, Ayah.”

Ayahnya berkata dengan suara rendah,

“Anak perempuan bukan gandum yang bisa dipindahkan dari satu lumbung ke lumbung lain. Kau manusia. Hatimu harus didengar.”

Kalimat itu membuat Roxana menangis lagi.

Di luar rumah, pohon delima bergerak pelan diterpa angin.

Seolah ikut menyimpan keputusan itu.


Menjelang sore hari ketiga, Roxana pergi ke saluran air bersama ayahnya.

Mereka memeriksa sekat kecil yang tersumbat lumpur.

“Kalau dibiarkan, air akan meluap ke sisi ini,” kata ayahnya.

Roxana mengangkat ujung pakaiannya sedikit agar tidak terkena lumpur.

“Jadi harus dibersihkan sebelum malam?”

“Ya.”

Mereka bekerja bersama beberapa warga.

Tetua desa mengeluh bahwa pinggangnya sudah terlalu tua untuk membungkuk, tetapi tetap mengatur pekerjaan dari pinggir saluran.

“Yang muda bekerja, yang tua memberi nasihat,” katanya.

Salah satu pemuda desa menyahut, “Tetua, sejak tadi nasihatmu lebih banyak daripada lumpurnya.”

Tetua itu mendengus.

“Karena lumpur tidak bisa bicara, maka aku mewakilinya.”

Beberapa orang tertawa.

Roxana ikut tersenyum.

Humor desa selalu sederhana, tetapi membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan.

Saat itulah seorang anak kecil berlari dari arah bukit.

“Ada rombongan kerajaan!”

Semua orang berhenti.

Ayah Roxana menoleh ke arah jalan.

“Dari utara?”

“Ya! Ada kuda, ada prajurit, ada orang membawa catatan!”

Roxana merasakan dadanya bergetar.

Utara.

Rombongan kerajaan.

Kuda.

Ia tidak berani berharap.

Tetapi harapan kadang tumbuh bahkan sebelum diizinkan.

Ia berdiri di tepi saluran air, tangannya masih basah oleh lumpur.

Dari kejauhan, di atas jalan tanah yang menurun dari bukit, beberapa penunggang mulai terlihat.

Satu kuda hitam berjalan di tengah rombongan.

Roxana tidak bergerak.

Dunia di sekitarnya menjadi sangat pelan.

Suara air mengecil.
Suara orang-orang menjauh.
Angin terasa berhenti di antara daun.

Kuda hitam itu semakin dekat.

Dan di atasnya, seorang pemuda duduk dengan tubuh lebih tegap daripada yang ia ingat.

Wajahnya lebih dewasa.
Kulitnya lebih gelap oleh matahari.
Bahunya lebih kuat.
Matanya tetap sama.

Ardashir.

Roxana memegang ujung selendangnya.

Surat kedua masih tersimpan di balik pakaiannya, dekat dada.

Ardashir melihatnya dari kejauhan.

Di tepi saluran air.

Dengan tangan yang masih terkena lumpur.

Dengan wajah yang terkejut, bahagia, takut, dan tidak percaya sekaligus.

Kuda Ardashir melambat.

Vardan, yang berada di belakangnya, berbisik cukup pelan namun masih terdengar,

“Kalau kau jatuh dari kuda karena terlalu banyak memandang, aku akan pura-pura tidak mengenalmu.”

Ardashir tidak menjawab.

Ia turun dari kuda sebelum rombongan benar-benar berhenti.

Rustom tidak ada di sana untuk meneriakinya.

Namun ia tetap menahan diri.

Ia tidak berlari.

Roxana juga tidak berlari.

Mereka berjalan mendekat perlahan, seperti dua orang yang takut gerakan terlalu cepat akan membuat mimpi itu pecah.

Jarak di antara mereka menyempit.

Beberapa warga desa mulai berbisik, tetapi ayah Roxana mengangkat tangan kecil, memberi tanda agar semua orang menjaga kesopanan.

Ardashir berhenti beberapa langkah di depan Roxana.

Ia menunduk.

Bukan seperti prajurit kepada bangsawan.

Bukan seperti orang asing kepada gadis desa.

Tetapi seperti seseorang yang pulang kepada hal yang selama ini ia jaga dalam doa.

“Roxana,” katanya pelan.

Roxana menatapnya.

Suaranya hampir tidak keluar.

“Ardashir.”

Hanya dua nama.

Tetapi di antara dua nama itu, ada berbulan-bulan rindu, surat yang terlambat, air mata yang disembunyikan, dan doa yang berjalan lebih jauh daripada kuda.

Ardashir melihat tangan Roxana yang berlumpur.

Tanpa berpikir terlalu lama, ia tersenyum kecil.

“Kau sedang bekerja.”

Roxana tertawa pelan, meski matanya basah.

“Dan kau datang seperti pejabat kerajaan.”

Ardashir menoleh ke jubah perjalanannya yang berdebu.

“Pejabat kerajaan biasanya lebih bersih.”

“Benar. Kau lebih mirip orang yang kalah berkelahi dengan jalan.”

Dari belakang, Vardan langsung berkata kepada Dastan,

“Aku suka gadis ini. Ia berbicara benar.”

Ardashir menahan tawa.

Roxana mendengar itu dan tersenyum malu.

Ketegangan yang hampir membuat napas mereka patah sedikit mencair.

Namun setelah tawa kecil itu, mata mereka kembali bertemu.

Ardashir berkata pelan,

“Suratku sampai?”

Roxana mengangguk.

“Sampai.”

“Aku takut terlambat.”

Roxana menatapnya lama.

“Mungkin terlambat. Tapi tidak terlalu terlambat.”

Kalimat itu membuat dada Ardashir sesak.

Ia ingin mengatakan banyak hal.

Tentang kota.
Tentang Artazara.
Tentang tugas.
Tentang rasa takut.
Tentang bagaimana ia hampir tersesat oleh diamnya sendiri.

Tetapi tidak di tepi saluran air.

Tidak di depan banyak orang.

Tidak ketika rombongan masih membawa tugas kerajaan.

Maka ia hanya berkata,

“Aku perlu memeriksa saluran air ini bersama rombongan. Setelah itu… bolehkah aku berbicara denganmu di bawah pohon delima?”

Roxana menatap ke arah pohon yang berdiri tidak jauh dari rumahnya.

Pohon itu kini berbuah kecil.

Belum matang sepenuhnya.

Namun sudah merah pada beberapa sisi.

Seperti cinta yang telah lama tumbuh.

“Boleh,” jawabnya pelan.

Ardashir mengangguk.

Lalu ia mundur satu langkah, menjaga kesopanan.

Namun sebelum ia berbalik, Roxana berkata,

“Ardashir.”

Ia menoleh.

Roxana tersenyum, kali ini lebih jelas.

“Selamat pulang.”

Dua kata itu menghantam hati Ardashir lebih kuat daripada semua latihan Rustom.

Selamat pulang.

Ia telah melewati jalan kerajaan, pos kurir, menara api, pasar kota, arsip, peta, gudang, dan godaan dunia besar.

Namun ternyata pulang bukan ketika kaki tiba di tanah lama.

Pulang adalah ketika seseorang yang kau rindukan masih mengenal namamu dengan cara yang membuat dunia terasa cukup.

Ardashir menunduk pelan.

“Terima kasih.”

Di belakangnya, Vardan mengusap mata pura-pura.

Dastan bertanya, “Kau menangis?”

“Tidak,” jawab Vardan cepat. “Debu desa ini sangat emosional.”

Dastan mengangguk serius.

“Debu memang bisa masuk ke mata.”

“Bukan itu maksudku.”

“Aku tahu.”

Keduanya diam sejenak.

Lalu sama-sama tersenyum.


Sore itu, rombongan kerajaan mulai memeriksa saluran air desa.

Dastan memuji sistem pembagian air dengan mangkuk berlubang kecil.

“Sederhana, tetapi cerdas,” katanya kepada tetua desa.

Tetua langsung mengangkat dagu.

“Tentu. Kami mungkin tidak punya istana, tetapi kami punya pinggang yang sakit karena berpikir.”

Vardan berbisik kepada Ardashir,

“Aku merasa menemukan guruku.”

Ardashir tersenyum.

Namun pikirannya terus kembali kepada satu tempat.

Pohon delima.

Ketika matahari mulai turun, tugas pemeriksaan hari itu selesai sementara. Rombongan akan bermalam di desa sebelum melanjutkan pemeriksaan esok pagi.

Ardashir meminta izin kepada prajurit senior untuk menemui keluarganya dan berbicara dengan Roxana di tempat terbuka dekat pohon.

Izin diberikan.

Dengan syarat tetap menjaga waktu dan kesopanan.

Ardashir berjalan menuju pohon delima.

Langit mulai jingga.

Di bawah pohon itu, Roxana sudah menunggu.

Seperti dulu.

Tetapi tidak lagi sama.

Ia bukan gadis kecil yang hanya tahu menunggu.

Dan Ardashir bukan lagi anak peternak kuda yang belum mengenal dunia besar.

Mereka berdiri berhadapan di bawah cabang-cabang delima.

Di antara buah-buah muda, angin sore bergerak pelan.

Ardashir menarik napas.

Ia tahu percakapan yang akan datang tidak mudah.

Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak ingin lari ke dalam diam.

Roxana menatapnya dengan lembut.

“Banyak yang harus kau ceritakan.”

Ardashir mengangguk.

“Ya.”

“Dan banyak yang harus kudengar?”

“Ya.”

Roxana tersenyum kecil.

“Kalau begitu duduklah. Jangan seperti prajurit yang sedang menunggu perintah.”

Ardashir tertawa pelan.

“Artazara mengatakan hal yang hampir sama.”

Nama itu keluar tanpa ia rencanakan.

Roxana menangkapnya.

Matanya berubah sedikit.

Tidak marah.

Tidak menuduh.

Hanya tenang, tetapi lebih dalam.

“Artazara?” tanyanya.

Ardashir diam sesaat.

Lalu ia duduk di bawah pohon delima.

Ia tahu, jalan pulang tidak selesai ketika ia tiba.

Jalan pulang baru benar-benar dimulai ketika ia berani berkata jujur.

Maka di bawah langit senja, di tempat janji masa kecil pernah tumbuh, Ardashir mulai menceritakan dunia yang telah mengubahnya.

Tentang kota.

Tentang latihan.

Tentang air yang berjalan di bawah tanah.

Tentang peta yang membuat jarak berbicara.

Tentang menara api.

Tentang surat yang terlalu lama ia tahan.

Tentang Artazara.

Dan Roxana mendengarkan.

Bukan sebagai gadis yang lemah.

Bukan sebagai perempuan yang hanya ingin dipilih.

Tetapi sebagai seseorang yang juga memiliki hati, kehormatan, dan hak untuk mengetahui kebenaran.

Di atas mereka, buah delima muda bergoyang pelan.

Malam belum turun.

Jawaban belum ditemukan.

Tetapi setidaknya, setelah sekian lama, cinta mereka tidak lagi berbicara melalui angin.

Ia duduk di antara mereka.

Jujur.

Gentar.

Dan hidup.

Jumat, 28 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (21)

 

Bab 21

Pertemuan yang Berubah



Di bawah pohon delima itu, senja turun perlahan.

Cahaya matahari yang hampir tenggelam menyentuh buah-buah muda di antara daun, membuatnya tampak seperti lentera kecil yang belum sepenuhnya menyala.

Ardashir duduk berhadapan dengan Roxana.

Dulu, di tempat yang sama, mereka sering duduk tanpa memikirkan apa pun selain angin, kuda, dan permainan masa kecil. Dulu diam di antara mereka terasa ringan. Diam itu seperti tanah tempat mereka berpijak: biasa, dekat, dan tidak perlu dijelaskan.

Tetapi sore itu, diam terasa berbeda.

Ada banyak hal yang berdiri di antara mereka.

Kota.
Jarak.
Surat.
Tugas.
Mehrdad.
Artazara.

Dan waktu.

Waktu yang diam-diam telah mengubah dua anak desa menjadi dua manusia dewasa yang harus belajar berbicara dengan lebih jujur.

Roxana memandang Ardashir cukup lama.

“Kau menyebut nama Artazara,” katanya pelan.

Ardashir mengangguk.

“Ya.”

“Siapa dia?”

Pertanyaan itu tidak tajam.

Tidak menuduh.

Tetapi justru karena tenang, Ardashir tahu ia harus menjawab dengan seluruh kejujuran yang ia punya.

“Ia putri Jenderal Artaban,” kata Ardashir. “Aku bertemu dengannya di kota. Awalnya hanya sesekali di taman istana dan ruang latihan.”

Roxana mendengarkan.

Ardashir melanjutkan,

“Ia berbeda dari perempuan istana yang kubayangkan. Ia memahami peta, catatan pasukan, jalur air, pos kurir, dan banyak hal yang bahkan para prajurit muda belum tentu mengerti.”

Roxana menunduk sedikit.

“Dia cerdas.”

“Sangat.”

“Cantik?”

Ardashir terdiam.

Roxana tersenyum tipis, tetapi matanya tidak sepenuhnya tersenyum.

“Kau boleh menjawab jujur.”

Ardashir menarik napas pelan.

“Ya. Ia cantik.”

Ada hening sebentar.

Daun delima bergerak diterpa angin.

Roxana menatap tangannya sendiri.

“Aku senang kau tidak berbohong.”

“Aku tidak ingin berbohong padamu.”

“Apakah ia mencintaimu?”

Pertanyaan itu membuat dada Ardashir terasa berat.

Ia memandang Roxana.

“Ia mengatakan bahwa ia menyukaiku.”

Roxana menutup mata sejenak.

Bukan karena marah.

Melainkan seperti seseorang yang perlu memberi ruang kepada hatinya agar tidak bereaksi terlalu cepat.

“Dan kau?”

“Aku menghormatinya.”

“Itu bukan jawaban yang kutanyakan.”

Ardashir menunduk.

Ia tahu.

Roxana berhak mendapat jawaban yang tidak bersembunyi.

“Aku kagum kepadanya,” katanya pelan. “Aku merasa dekat dengannya karena ia banyak membantuku memahami dunia baru di kota. Tapi…”

Ia berhenti.

Roxana menatapnya.

“Tapi?”

“Tapi ketika aku menulis surat, namamu yang kutulis. Ketika aku melihat peta, desamu yang kucari. Ketika aku belajar tentang jalan, yang kupikirkan adalah jalan pulang.”

Mata Roxana mulai basah, tetapi ia tetap tenang.

“Ardashir, aku bukan batu di tepi jalan. Aku bisa terluka.”

“Aku tahu.”

“Dan aku tidak ingin menjadi perempuan yang hanya diberi kata-kata indah ketika kau pulang, sementara di kota hatimu berjalan ke arah lain.”

“Aku tahu.”

“Kau benar-benar tahu?”

Ardashir terdiam.

Pertanyaan itu lebih berat daripada semua perintah Rustom.

Sebab ia mungkin tahu secara pikiran, tetapi belum tentu sepenuhnya memahami dengan hati.

Roxana menarik napas.

“Aku membaca suratmu berkali-kali. Aku percaya kau mencintaiku. Tapi aku juga harus percaya bahwa kau cukup jujur untuk mengatakan kalau suatu hari cintamu berubah.”

Ardashir mengangkat wajah.

“Cintaku tidak berubah.”

“Sekarang mungkin tidak.”

Kalimat itu membuat Ardashir diam.

Roxana melanjutkan,

“Kota mengubah orang. Dunia besar mengubah orang. Perempuan yang cerdas dan baik juga bisa mengubah cara seseorang melihat hidup.”

Ia tersenyum lemah.

“Aku tidak ingin membenci Artazara. Dari ceritamu, ia bukan perempuan yang buruk.”

“Tidak. Ia sangat menjaga kehormatan.”

“Justru itu yang membuatnya sulit.”

Ardashir menatap Roxana.

Roxana berkata pelan,

“Kalau dia buruk, aku bisa marah kepadanya. Kalau dia licik, aku bisa menyalahkannya. Tapi kalau dia baik, maka aku harus menghadapi kenyataan bahwa hatimu diuji bukan oleh keburukan, melainkan oleh sesuatu yang juga indah.”

Ardashir merasa kata-kata Roxana masuk sangat dalam.

Ia teringat Artazara yang berkata hampir sama tentang Mehrdad.

Takdir sering lebih rumit ketika semua orang berusaha menjadi baik.

Roxana memandang ke arah saluran air yang mengalir tidak jauh dari pohon.

“Di desa, air harus dibagi dengan adil. Kalau satu ladang mengambil terlalu banyak, ladang lain kering. Tapi hati manusia tidak sesederhana saluran air, Ardashir.”

“Aku tidak ingin membagi hatiku.”

“Kalau begitu jagalah sebelum ia terbagi.”

Kalimat itu lembut.

Tetapi tegas.

Ardashir menunduk.

Di hadapannya, Roxana bukan lagi gadis kecil yang hanya menunggu di bawah pohon delima.

Ia telah menjadi perempuan yang mencintai dengan dalam, tetapi tidak ingin kehilangan kehormatannya.

Ardashir merasa malu kepada dirinya sendiri.

Bukan karena ia telah berkhianat.

Ia tidak berkhianat.

Tetapi ia sadar, kadang seseorang bisa terlalu lama berdiri di tepi bahaya sambil berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia belum jatuh.

“Aku akan menjaga itu,” kata Ardashir.

Roxana memandangnya lama.

“Jangan mengatakannya hanya untuk menenangkanku malam ini.”

“Aku mengatakannya karena aku ingin menjadi laki-laki yang pantas kau percaya.”

Roxana tersenyum kecil.

“Kepercayaan tidak dibangun oleh satu malam.”

“Aku tahu.”

“Bagus,” kata Roxana. “Karena aku tidak ingin kau menjadi pandai bicara setelah tinggal di kota.”

Ardashir terkejut sebentar, lalu tertawa pelan.

Itu tawa pertama yang benar-benar ringan di antara mereka malam itu.

“Aku masih sering dimarahi Rustom,” katanya.

“Berarti masih ada harapan.”

Ardashir tertawa lebih lepas.

Roxana ikut tersenyum.

Dan untuk sesaat, di antara semua percakapan berat itu, mereka menemukan kembali sesuatu yang lama: kehangatan yang tidak perlu dibuat-buat.


Beberapa saat kemudian, Ardashir berkata,

“Aku juga mendengar tentang Mehrdad.”

Roxana menunduk.

“Pedagang itu memberitahumu?”

“Ya.”

“Mehrdad orang baik.”

“Aku mendengarnya.”

“Ia tidak memaksa. Keluarganya juga datang dengan sopan.”

Ardashir mengangguk pelan.

“Aku tidak berhak marah.”

Roxana memandangnya.

“Tidak?”

“Aku pergi berbulan-bulan tanpa kabar. Jika ada orang baik yang datang kepada keluargamu dengan niat baik, aku tidak bisa menyalahkannya.”

Roxana tampak lega sekaligus sedih.

“Aku belum memberi jawaban apa pun.”

“Aku tahu.”

“Ayahku juga tidak memaksa.”

“Ayahmu bijaksana.”

Roxana tersenyum.

“Dia hanya tidak suka melihat anaknya diperlakukan seperti karung gandum.”

Ardashir tertawa kecil.

“Aku harus berterima kasih kepadanya.”

“Kau harus takut kepadanya juga.”

Ardashir menatap rumah Roxana dari kejauhan.

“Aku sudah takut.”

“Kau belum bertemu ibuku setelah tahu aku menangis membaca suratmu.”

Wajah Ardashir berubah.

“Apakah itu lebih menakutkan?”

“Jauh.”

Di kejauhan, Vardan yang pura-pura membantu Dastan memeriksa saluran air menoleh ke arah mereka.

Ia tidak mendengar jelas percakapan itu, tetapi melihat wajah Ardashir.

Lalu ia berbisik kepada Dastan,

“Lihat. Itu wajah prajurit yang baru sadar bahwa ibu gadis lebih menakutkan daripada komandan.”

Dastan mengangguk serius.

“Dalam banyak peradaban, itu benar.”

Vardan menatapnya kagum.

“Kau selalu bisa membuat lelucon terdengar seperti hasil penelitian.”


Malam mulai turun.

Roxana dan Ardashir masih duduk di bawah pohon delima.

Mereka tidak menyelesaikan semua persoalan.

Tidak mungkin.

Ada hal-hal yang membutuhkan waktu.

Tetapi mereka sudah melakukan sesuatu yang penting: membuka pintu kebenaran.

Roxana berkata,

“Aku ingin bertanya satu hal lagi.”

“Tanyakan.”

“Ketika kau kembali ke kota nanti, apakah kau akan tetap bertemu Artazara?”

Ardashir menjawab jujur,

“Mungkin. Aku masih bertugas di sana. Ayahnya jenderal. Ia sering berada di ruang peta atau taman istana.”

Roxana mengangguk.

“Kalau begitu jangan berpura-pura menjauh secara kasar hanya untuk membuktikan sesuatu kepadaku.”

Ardashir terkejut.

“Apa maksudmu?”

“Kalau dia orang baik, hormati dia. Jangan menyakitinya dengan sikap dingin yang dibuat-buat. Tapi jangan juga memberi harapan yang tidak seharusnya.”

Ardashir menatap Roxana dengan rasa kagum yang baru.

“Kau bisa mengatakan itu?”

Roxana tersenyum sedih.

“Tidak mudah. Tapi aku tidak ingin cintaku membuatku menjadi perempuan yang kecil.”

Ardashir hampir tidak tahu harus berkata apa.

Roxana melanjutkan,

“Kalau kau mencintaiku, jaga aku dengan kejujuran. Kalau kau menghormatinya, jaga dia dengan batas. Dan kalau kau ingin menjadi laki-laki terhormat, jaga dirimu dari alasan-alasan yang terdengar indah tetapi sebenarnya hanya kelemahan.”

Ardashir mengangguk pelan.

“Aku akan mengingat itu.”

“Jangan hanya mengingat. Lakukan.”

Ia tersenyum kecil.

“Maaf. Aku mulai terdengar seperti Rustom.”

Ardashir tertawa.

“Rustom tidak pernah seindah ini ketika menegur.”

Pipi Roxana sedikit memerah.

“Sepertinya kota memang membuatmu lebih pandai bicara.”

“Apakah itu buruk?”

“Tergantung dipakai untuk apa.”

Mereka saling memandang.

Kali ini diam di antara mereka tidak lagi seberat sebelumnya.

Masih ada luka.

Masih ada takut.

Tetapi juga ada kedewasaan yang mulai tumbuh, seperti buah delima muda yang belum matang tetapi sudah jelas bentuknya.


Ketika malam benar-benar turun, Ardashir meminta izin untuk menemui ayahnya.

Roxana berdiri.

“Ayahmu pasti menunggu.”

Ardashir menatap jalan menuju rumah lamanya.

“Apakah ia marah karena aku tidak langsung datang?”

“Bahram?” Roxana tersenyum. “Dia mungkin pura-pura tidak menunggu, sambil duduk di depan rumah sejak siang.”

Ardashir tertawa pelan.

“Itu sangat mungkin.”

Mereka berjalan bersama sampai dekat jalan kecil.

Tidak bergandengan tangan.

Tidak terlalu dekat.

Tetapi langkah mereka seirama.

Di ujung jalan, sebelum berpisah, Roxana berkata,

“Ardashir.”

Ia menoleh.

“Aku senang kau pulang.”

Ardashir memandangnya.

“Aku juga.”

“Tapi jangan kira semuanya akan kembali seperti dulu.”

“Aku tahu.”

Roxana tersenyum lembut.

“Bagus. Karena kita bukan anak-anak lagi.”

Ardashir mengangguk.

Lalu ia berkata pelan,

“Tapi pohon delima itu masih sama.”

Roxana melihat ke arah pohon.

“Tidak sepenuhnya. Dulu ia berbunga. Sekarang mulai berbuah.”

Ardashir terdiam.

Roxana melanjutkan,

“Mungkin kita juga begitu.”

Setelah itu ia berjalan kembali ke rumahnya.

Ardashir berdiri beberapa saat, memandang punggungnya yang perlahan menjauh.

Ia merasa rindu yang selama ini ia bawa tidak hilang setelah bertemu.

Rindu itu berubah.

Menjadi lebih nyata.

Lebih hangat.

Tetapi juga lebih menuntut tanggung jawab.


Rumah Bahram tidak banyak berubah.

Kandang kuda masih berada di belakang. Tali-tali kekang tergantung di tempat yang sama. Ember tembaga masih diletakkan dekat pintu. Bau jerami, tanah, dan kulit pelana menyambut Ardashir seperti kenangan yang masih hidup.

Di depan rumah, Bahram duduk di bangku kayu.

Seperti yang diduga Roxana.

Pura-pura tidak menunggu.

Ia sedang membersihkan pisau kecil untuk kuku kuda, meski pekerjaan itu tampaknya sudah selesai sejak lama.

Ardashir berhenti beberapa langkah di depannya.

“Ayah.”

Bahram tidak langsung mengangkat wajah.

“Kudamu tampak lebih terawat daripada pemiliknya.”

Ardashir tersenyum.

“Aku juga rindu Ayah.”

Bahram mengangkat wajah.

Matanya menatap Ardashir lama.

Tidak ada kata besar.

Tidak ada pelukan dramatis.

Lalu ia berdiri dan mendekat.

Tangan tuanya menyentuh bahu Ardashir.

“Kau lebih tinggi.”

“Aku sudah tinggi sebelum pergi.”

“Kau lebih kurus.”

“Latihan berat.”

“Kau lebih gelap.”

“Matahari kota tidak sopan.”

Bahram mengangguk.

“Bagus. Kau masih bisa menjawab seperti anakku.”

Lalu tanpa aba-aba, ia memeluk Ardashir.

Pelukan itu singkat.

Tetapi kuat.

Ardashir menutup mata.

Untuk sesaat, semua kebisingan kota, semua latihan, semua kebingungan hati, semua beban menjadi calon prajurit, terasa runtuh di dalam dada.

Ia pulang.

Benar-benar pulang.

Bahram melepas pelukan dan menatapnya.

“Kau sudah makan?”

Ardashir tertawa kecil.

“Belum.”

“Bagus. Aku tidak tahu harus bicara apa dulu, jadi kita makan saja.”

Dari kejauhan, Vardan yang sedang lewat bersama Dastan melihat adegan itu dan berbisik,

“Para ayah memang luar biasa. Hati mereka bisa meledak, tapi yang keluar tetap pertanyaan tentang makan.”

Dastan menjawab,

“Itu teknologi keluarga yang paling tua.”

Vardan mengangguk kagum.

“Aku akan mencatatnya.”


Malam itu, Ardashir makan bersama Bahram di rumah lamanya.

Roti hangat.
Keju kambing.
Kurma.
Susu.
Dan sedikit daging yang disimpan Bahram untuk hari istimewa, meski ia menolak mengakui bahwa hari itu istimewa.

“Kebetulan ada,” katanya.

Ardashir tersenyum.

“Daging tidak pernah kebetulan di rumah ini.”

Bahram tidak menjawab.

Mereka makan cukup lama dalam diam.

Lalu Bahram bertanya,

“Kau sudah bertemu Roxana?”

“Sudah.”

“Bagus.”

Diam lagi.

“Ayah tidak bertanya apa pun?”

Bahram mengunyah pelan.

“Kalau kau ingin bercerita, kau akan bercerita.”

Ardashir menatap ayahnya.

Dulu ia mengira ayahnya diam karena tidak tahu harus berkata apa.

Kini ia mulai memahami: diam Bahram adalah ruang.

Ruang yang diberikan agar orang lain tidak merasa didorong.

“Aku mencintainya,” kata Ardashir pelan.

Bahram mengangguk.

“Aku tahu.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kau marah ketika kambing tetangga hampir memakan kain tenunnya.”

Ardashir terkejut.

“Itu sudah lama sekali.”

“Ya. Kau lebih mudah dibaca daripada kuda muda.”

Ardashir tertawa malu.

Lalu wajahnya kembali serius.

“Ada perempuan lain di kota.”

Bahram meletakkan roti.

Ia tidak tampak terkejut.

“Perempuan baik?”

“Ya.”

“Dia mencintaimu?”

“Dia mengaku menyukaiku.”

“Kau mencintainya?”

Ardashir diam.

Bahram menunggu.

“Aku menghormatinya. Aku kagum kepadanya. Tapi hatiku masih kepada Roxana.”

Bahram mengangguk pelan.

“Kalau begitu jangan bermain-main dengan kata ‘kagum’ sampai ia menyamar menjadi sesuatu yang lain.”

Ardashir menunduk.

“Aku tahu.”

“Belum tentu. Anak muda sering mengira mengetahui bahaya sama dengan sudah selamat dari bahaya.”

Kalimat itu mengingatkannya pada Rustom, Artazara, Roxana, dan Vardan sekaligus.

Sepertinya semua orang baik dalam hidupnya sedang mengatakan hal yang sama dengan bahasa berbeda.

Bahram melanjutkan,

“Perempuan yang baik bukan tempat untuk menguji kebingungan laki-laki.”

Ardashir merasa kalimat itu menusuk, tetapi benar.

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Jangan memberi harapan yang tidak akan kau rawat. Jangan memberi jarak yang kejam hanya agar kau tampak kuat. Dan jangan membuat perempuan saling menanggung akibat dari ketidakjelasanmu.”

Ardashir menatap ayahnya.

“Kalimat Ayah lebih keras daripada Rustom.”

“Rustom melatih tubuhmu. Aku mengenal kepalamu sejak kosong.”

Ardashir tertawa.

Bahram akhirnya tersenyum kecil.

Namun kemudian ia berkata lebih lembut,

“Ardashir, menjadi laki-laki bukan berarti tidak pernah bimbang. Menjadi laki-laki berarti tidak membiarkan kebimbanganmu merusak orang yang mempercayaimu.”

Ardashir menyimpan kalimat itu dalam-dalam.

Malam itu, ia merasa bukan hanya kembali kepada rumah.

Ia kembali kepada akar.


Keesokan paginya, pekerjaan pemeriksaan saluran air dimulai.

Dastan memeriksa aliran utama dengan teliti. Ia menggunakan tali ukur, tongkat bertanda, dan mangkuk kecil untuk melihat kecepatan air.

Tetua desa berdiri di sampingnya dengan tangan di pinggang.

“Menurutmu saluran kami buruk?”

Dastan menjawab tenang,

“Tidak buruk. Hanya terlalu banyak lumpur di belokan.”

Tetua mengangguk.

“Itu karena anak-anak muda sekarang lebih suka bicara cinta daripada membersihkan saluran.”

Vardan, yang sedang membawa keranjang lumpur, langsung menoleh.

“Jangan melihat ke arahku, Tetua. Aku bahkan belum punya kisah cinta yang layak merusak saluran.”

Tetua menatapnya.

“Dengan mulut seperti itu, aku paham mengapa.”

Beberapa orang tertawa.

Vardan memegang dadanya.

“Aku datang jauh dari kota untuk diserang oleh kebijaksanaan desa.”

Ardashir tertawa sambil membantu mengangkat batu.

Roxana juga berada di sana, membawa air untuk para pekerja. Ketika ia memberikan kendi kepada Ardashir, tangan mereka hampir bersentuhan.

Hampir.

Tetapi tidak.

Mereka saling memandang sebentar.

Di antara mereka ada kesadaran baru: kedekatan tidak perlu terburu-buru agar terasa dalam.

Vardan melihat dari jauh dan berbisik kepada Dastan,

“Lihat. Mereka bahkan bisa membuat kendi air tampak seperti puisi.”

Dastan mengangguk.

“Air memang sering menjadi puisi jika orang kehausan.”

“Aku tidak yakin kita membicarakan haus yang sama.”

“Mungkin tidak.”


Menjelang siang, Mehrdad datang ke saluran air.

Ia membawa beberapa pekerja dari lumbung kecil untuk membantu mengangkat batu dan membersihkan belokan saluran.

Ketika Ardashir melihatnya, tubuhnya menegang sedikit.

Roxana menyadari itu.

Mehrdad mendekat dengan sikap tenang.

Ia menunduk sopan kepada ayah Roxana, kepada tetua desa, lalu kepada rombongan kerajaan.

Kemudian matanya bertemu dengan Ardashir.

“Kau Ardashir,” katanya.

“Ya.”

“Aku Mehrdad.”

“Aku tahu.”

Ada hening sesaat.

Bukan permusuhan.

Tetapi dua laki-laki yang sama-sama memahami bahwa mereka berdiri di tempat yang tidak sederhana.

Mehrdad mengulurkan tangan.

“Aku senang akhirnya bertemu denganmu.”

Ardashir menatap tangan itu.

Lalu menerimanya.

Genggaman mereka kuat.

Tidak saling menantang.

Tidak saling merendahkan.

Tetapi juga tidak kosong.

“Aku juga,” kata Ardashir.

Mehrdad melihat saluran air.

“Kami datang membantu. Jika air tidak lancar, lumbung juga rugi.”

Tetua desa menyahut,

“Bagus. Setidaknya ada orang yang datang karena air, bukan karena ingin terlihat gagah.”

Vardan berbisik, “Aku merasa tertuduh meski tidak gagah.”

Mehrdad tersenyum mendengar itu.

Ketegangan sedikit mencair.

Roxana memandang tiga pemuda itu: Ardashir, Mehrdad, dan Vardan.

Entah mengapa ia merasa, hidup kadang tidak hanya menguji cinta dengan air mata, tetapi juga dengan pertemuan sopan yang jauh lebih sulit daripada pertengkaran.

Jika Mehrdad kasar, segalanya akan mudah.

Tetapi ia tidak kasar.

Ia membantu.

Ia menjaga sikap.

Ia menghormati.

Dan itu membuat Roxana semakin sadar: pilihan tidak boleh dibuat hanya karena satu orang buruk dan yang lain baik.

Kadang pilihan harus dibuat di antara dua kebaikan yang berbeda.


Hari itu mereka bekerja bersama sampai matahari condong.

Ardashir dan Mehrdad beberapa kali mengangkat batu yang sama. Mereka berbicara sedikit.

Tentang saluran air.
Tentang jalan yang rusak.
Tentang panen.
Tentang kuda.

Mehrdad ternyata cukup memahami pengelolaan gandum dan lumbung. Ia tahu berapa lama gandum bisa disimpan, bagaimana mencegah kelembapan, dan mengapa catatan panen penting agar pajak tidak memberatkan keluarga kecil.

Ardashir mendengarkan dengan hormat.

Ia tidak ingin menyukai Mehrdad.

Tetapi ia sulit untuk tidak menghormatinya.

Pada satu titik, Mehrdad berkata,

“Roxana banyak membantu tetua mencatat giliran air.”

“Aku tahu ia cerdas,” kata Ardashir.

“Ya. Dan sabar.”

Ardashir menatapnya.

Mehrdad melanjutkan dengan suara tenang,

“Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu tidak nyaman. Tapi karena kau baru pulang, kau perlu tahu: ia menjaga dirinya dengan baik selama kau pergi.”

Ardashir merasa kalimat itu masuk dalam.

“Terima kasih sudah mengatakan itu.”

Mehrdad mengangguk.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku ingin semuanya tetap terang.”

Ardashir memandangnya.

“Aku juga.”

Keduanya kembali mengangkat batu.

Tidak ada persahabatan mendadak.

Tetapi ada rasa hormat yang mulai diletakkan di tempatnya.

Dan kadang, dalam hidup, itu sudah sangat besar.


Sore menjelang ketika saluran air akhirnya dibersihkan.

Air mengalir lebih lancar melewati belokan.

Anak-anak kecil bersorak ketika aliran yang sempat tertahan kembali bergerak.

Tetua desa mengangkat mangkuk tanah liat berlubang kecil.

“Lihat! Air sudah berjalan seperti pemuda yang baru jatuh cinta—terlalu cepat kalau tidak diawasi!”

Semua tertawa.

Vardan langsung menepuk tangan.

“Tetua, izinkan aku belajar kepadamu.”

“Belajar apa?”

“Cara menghina orang sambil terdengar bijaksana.”

Tetua menatapnya dari atas ke bawah.

“Kau tidak perlu belajar. Kau hanya perlu hidup lebih lama agar orang mengira ucapanmu mengandung makna.”

Vardan memandang Ardashir.

“Aku telah menemukan masa depanku.”

Roxana tertawa kecil.

Ardashir melihatnya tertawa.

Dan hatinya terasa hangat.

Tawa Roxana adalah sesuatu yang dulu ia kenal. Namun kini, setelah perjalanan panjang, tawa itu terasa lebih berharga.

Karena ia tahu, tawa itu tetap hidup meski ia pernah membuatnya menunggu.


Malam itu, rombongan kerajaan dijamu sederhana oleh warga desa.

Tidak mewah.

Tetapi hangat.

Roti, susu, kurma, keju, sup gandum, dan sedikit daging dibagi bersama. Para prajurit senior duduk bersama tetua desa. Dastan membicarakan saluran air dengan ayah Roxana. Vardan mencoba memuji masakan ibu-ibu desa sampai akhirnya diminta berhenti bicara dan makan saja.

Ardashir duduk tidak jauh dari Bahram.

Roxana duduk bersama ibunya dan beberapa perempuan.

Mehrdad membantu membagikan makanan ke para tamu.

Artazara tidak ada di sana.

Tetapi Ardashir tetap mengingatnya.

Bukan dengan rasa bersalah yang kacau.

Melainkan dengan kesadaran bahwa di kota ada seseorang yang juga sedang berjuang menjaga hatinya.

Ia berdoa diam-diam agar Tuhan menjaga Artazara.

Sebagaimana ia berdoa agar Tuhan menjaga Roxana dari luka yang tidak perlu.

Bahram memperhatikan Ardashir.

“Kau terlalu banyak berpikir.”

“Aku memang sedang banyak berpikir.”

“Makan dulu. Pikiran yang lapar biasanya menjadi terlalu dramatis.”

Ardashir tersenyum.

“Vardan akan sangat setuju.”

Bahram melirik Vardan yang sedang mengambil sup kedua.

“Temanmu itu tampaknya setuju dengan semua makanan.”

“Benar.”

“Teman baik.”

“Karena makan banyak?”

“Karena orang yang bisa membuatmu tertawa ketika hidup berat adalah bekal perjalanan juga.”

Ardashir memandang ayahnya.

Ia mengangguk pelan.

“Ya. Dia teman baik.”


Setelah jamuan selesai, Ardashir kembali berjalan ke bawah pohon delima.

Roxana sudah ada di sana.

Mereka berdiri berdampingan, tidak langsung bicara.

Di kejauhan, suara warga masih terdengar. Api kecil menyala di dekat halaman. Bintang mulai memenuhi langit.

Roxana berkata,

“Kau bertemu Mehrdad.”

“Ya.”

“Bagaimana menurutmu?”

Ardashir tersenyum tipis.

“Aku berharap bisa mengatakan sesuatu yang buruk agar hatiku lebih mudah.”

Roxana menoleh kepadanya.

“Tapi?”

“Tapi ia baik.”

Roxana menghela napas pelan.

“Ya.”

“Dan ia menghormatimu.”

“Ya.”

Ardashir menatap langit.

“Ini membuatku takut.”

“Apa?”

“Bahwa aku tidak hanya harus membuktikan cintaku kepadamu, tetapi juga harus menjadi cukup dewasa untuk menghormati orang lain yang juga menghormatimu.”

Roxana memandangnya.

“Itu bukan hal buruk.”

“Tidak. Tapi tidak mudah.”

“Hal baik memang sering tidak mudah.”

Mereka diam lagi.

Lalu Ardashir berkata,

“Aku harus kembali ke kota setelah tugas selesai.”

“Aku tahu.”

“Mungkin besok atau lusa.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak ingin pergi lagi tanpa kejelasan.”

Roxana menunduk.

“Apa yang ingin kau katakan?”

Ardashir menarik napas panjang.

“Bahwa aku mencintaimu. Bukan hanya sebagai kenangan masa kecil. Bukan hanya karena janji lama. Aku mencintaimu sekarang—sebagai perempuan yang kutemui hari ini, yang berani bertanya, berani terluka, dan tetap menjaga kehormatannya.”

Mata Roxana berkaca-kaca.

Ardashir melanjutkan,

“Aku belum bisa memintamu menjadi istriku sekarang. Aku belum punya kepastian tugas, belum punya tempat, belum tahu jalan hidupku setelah pelatihan. Tapi aku ingin meminta satu hal dengan hormat.”

“Apa?”

“Beri aku waktu untuk kembali dengan kepastian. Bukan waktu yang kosong. Aku akan menulis. Aku akan jujur. Aku tidak akan membiarkanmu menunggu dalam gelap seperti dulu.”

Roxana memandangnya lama.

“Aku bisa memberimu waktu,” katanya pelan. “Tapi aku tidak bisa memberimu seluruh hidupku hanya berdasarkan janji.”

“Aku mengerti.”

“Kalau suatu hari kau berubah, katakan.”

“Aku akan katakan.”

“Kalau suatu hari aku tidak kuat lagi, aku juga akan mengatakan.”

Ardashir menutup mata sebentar.

Kalimat itu sakit.

Tetapi ia tahu itu adil.

“Baik,” katanya.

Roxana mengulurkan tangan.

Bukan untuk dipeluk.

Bukan untuk menciptakan adegan yang melampaui batas.

Hanya telapak tangan yang terbuka di antara mereka.

Ardashir memandang tangan itu.

Lalu meletakkan tangannya di atasnya.

Seperti malam sebelum ia pergi dulu.

Namun kali ini berbeda.

Dulu genggaman itu milik dua hati muda yang belum tahu beratnya dunia.

Kini genggaman itu milik dua manusia yang telah melihat bahwa cinta harus ditemani kejujuran agar tidak berubah menjadi luka.

Roxana berkata pelan,

“Kita tidak kembali ke masa lalu.”

Ardashir mengangguk.

“Kita mulai dari sini.”

Di atas mereka, daun delima bergerak lembut.

Dan malam itu, di bawah pohon yang sama, janji lama tidak diulang dengan kata-kata yang sama.

Ia diperbarui.

Lebih dewasa.

Lebih hati-hati.

Lebih gentar.

Tetapi juga lebih benar.


Jauh di kota Persia, pada malam yang sama, Artazara berdiri di balkon rumah ayahnya.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di desa selatan.

Ia tidak tahu bahwa Ardashir sedang duduk di bawah pohon delima bersama Roxana.

Tetapi ia merasakan sesuatu di hatinya.

Semacam sunyi yang lebih luas dari biasanya.

Ia memegang peta kecil yang pernah menunjukkan titik desa Ardashir.

Lalu ia menutupnya perlahan.

“Semoga kau menemukan jawabanmu,” bisiknya.

Pelayan perempuannya berdiri di belakang.

“Nona berkata sesuatu?”

Artazara tersenyum kecil.

“Tidak. Aku hanya sedang belajar melepaskan hal-hal yang belum pernah menjadi milikku.”

Pelayan itu tidak menjawab.

Karena ada kalimat yang tidak perlu disentuh lagi setelah diucapkan.

Di langit kota, bulan menggantung tenang.

Di desa, bulan yang sama menyinari pohon delima.

Dan di antara dua tempat itu, takdir terus berjalan.

Tidak tergesa.

Tidak menjelaskan semua.

Tetapi membawa setiap hati menuju ujian berikutnya.