Bab 29
Surat yang Hampir Terlambat
Pagi setelah pertempuran di pos air ketiga tidak membawa ketenangan.
Ia hanya membawa cahaya.
Dan cahaya, kadang, justru memperlihatkan lebih jelas apa yang semalam disembunyikan gelap.
Dinding rendah pos itu rusak di beberapa bagian. Tanah di dekat sumur dipenuhi jejak kaki, bekas darah, anak panah patah, dan kantong air yang robek. Spara besar yang semalam menjadi pelindung kini tampak berlubang oleh puluhan anak panah.
Tiga orang gugur.
Nama mereka telah dicatat.
Namun Ardashir tahu, dicatat tidak sama dengan selesai.
Nama di lempengan tanah liat mungkin bisa disimpan di arsip kerajaan. Tetapi rindu orang-orang yang menunggu mereka tidak bisa ditutup dengan segel.
Vardan duduk di dekat gudang kecil, memegang busur yang semalam ia gunakan menembak kantong minyak.
Wajahnya masih pucat.
Tidak ada lelucon sejak matahari naik.
Ardashir duduk di sampingnya, lengan kirinya terbalut kain.
“Kau baik-baik saja?” tanya Ardashir.
Vardan menatap busur di tangannya.
“Aku menembak seseorang semalam.”
“Kau menembak kantong minyak.”
“Tapi sebelumnya aku juga menembak ke arah mereka.”
Ardashir diam.
Vardan menelan napas.
“Di latihan, sasaran hanya jerami. Kalau aku meleset, Rustom berteriak. Kalau aku kena, Rustom tetap berteriak. Semuanya sederhana.”
Ia memandang tanah di depan kakinya.
“Tapi semalam… tidak sederhana.”
Ardashir mengangguk pelan.
“Tidak.”
Vardan mencoba tersenyum, tetapi gagal.
“Aku kira setelah pertempuran, aku akan merasa seperti pahlawan.”
“Dan sekarang?”
“Aku hanya merasa ingin pulang, tidur, dan tidak mendengar suara panah menghantam perisai lagi.”
Ardashir menatap sahabatnya dengan lembut.
“Mungkin itu tanda kau masih manusia.”
Vardan menarik napas panjang.
“Kalau begitu manusia sangat melelahkan.”
Ardashir hampir tersenyum.
“Ya.”
Dari arah sumur, Kapten Soren memanggil mereka.
“Ardashir. Vardan. Ke sini.”
Keduanya berdiri.
Soren membentangkan peta kecil di atas peti kayu. Yazdan duduk di sampingnya dengan paha terbalut. Wajah kepala pos itu pucat, tetapi matanya masih keras seperti batu.
“Musuh mundur ke barat,” kata Soren. “Tapi pengintai melihat sebagian dari mereka bergerak memutar ke selatan.”
Ardashir menegang.
“Ke arah desa?”
“Belum pasti. Tapi jika mereka mencari persediaan, desa-desa kecil menjadi sasaran mudah.”
Yazdan menunjuk jalur di peta.
“Jalan utama terlalu terbuka. Mereka mungkin memakai lembah sempit ini.”
Ardashir mengenali lembah itu.
Ia pernah melewatinya bersama Bahram saat masih kecil.
“Lembah Serigala,” katanya pelan.
Vardan menatapnya.
“Namanya tidak menenangkan.”
“Di sana ada jalur yang bisa memotong langsung ke belakang desa-desa kecil,” kata Ardashir. “Tapi jalurnya sempit. Kalau membawa banyak kuda, mereka akan lambat.”
Soren menatapnya.
“Bisakah pesan kita mendahului mereka?”
“Bisa, kalau lewat bukit timur.”
“Berbahaya?”
“Ya.”
Vardan mengangkat tangan lemah.
“Aku mulai rindu jawaban yang tidak berakhir buruk.”
Soren menunjuk dua tabung pesan.
“Satu pesan ke rombongan perbekalan agar mempercepat gerak. Satu pesan ke desa-desa selatan agar bersiap pindah ke jalur bawah jika asap terlihat dari Lembah Serigala.”
Ia menatap Ardashir.
“Kau terluka. Kau tidak ikut sebagai kurir utama.”
Ardashir hendak membantah, tetapi Soren mengangkat tangan.
“Jangan menjadi pahlawan bodoh.”
Kalimat itu terlalu mirip Rustom.
Ardashir menutup mulut.
Soren menatap Vardan.
“Vardan.”
Wajah Vardan berubah.
“Ya, Kapten.”
“Kau bawa pesan ke desa selatan.”
Vardan terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung bercanda.
Lalu ia mengangguk.
“Baik, Kapten.”
Ardashir menoleh cepat.
“Dia sendirian?”
“Tidak,” kata Soren. “Dia akan ditemani dua prajurit ringan sampai punggung bukit. Setelah itu, jalur turun terlalu sempit untuk tiga kuda. Vardan yang paling sedikit terluka dan kudanya paling segar.”
Vardan menatap Ardashir.
Keduanya diam beberapa detik.
Ardashir berkata pelan,
“Kau sanggup?”
Vardan menelan napas.
“Aku tidak tahu.”
Soren menatapnya.
“Jawaban jujur. Tapi tugas tetap harus jalan.”
Vardan mengangguk.
“Kalau begitu aku sanggup secukupnya.”
Yazdan mendengus.
“Itu lebih baik daripada orang yang terlalu yakin.”
Soren menyerahkan tabung pesan kepadanya.
“Pesan ini harus sampai.”
Vardan menerima tabung itu dengan kedua tangan.
Lalu ia menatap Ardashir.
“Kalau aku terlambat, marahi aku nanti.”
Ardashir menggenggam bahunya.
“Jangan terlambat.”
Vardan tersenyum lemah.
“Itu juga bentuk marah yang hemat kata.”
Sebelum Vardan berangkat, Ardashir mengambil selembar kertas kecil.
Lengannya sakit ketika ia menulis, tetapi ia memaksa tangannya tetap stabil.
“Untuk Roxana?” tanya Vardan.
Ardashir mengangguk.
“Kalau kau sampai di desa, berikan ini. Tapi hanya jika keadaan memungkinkan. Pesan kerajaan lebih dulu.”
Vardan menatapnya.
“Kali ini kau tidak perlu mengingatkanku.”
Ardashir melipat surat itu dan menyerahkannya.
Vardan menyimpannya di kantong bagian dalam, bukan bersama roti.
Itu membuat Ardashir merasa sedikit lega.
“Apa isinya?” tanya Vardan.
“Singkat.”
“Bagus. Orang yang sedang takut tidak kuat membaca syair terlalu panjang.”
Ardashir tersenyum kecil.
“Isinya hanya ini: aku masih hidup, tapi mungkin belum bisa pulang.”
Vardan mengangguk.
“Kalimat paling menyakitkan biasanya memang pendek.”
Lalu ia menaiki kudanya.
Sebelum bergerak, ia menoleh sekali lagi.
“Ardashir.”
“Ya?”
“Kalau aku berhasil sampai, kau harus mengakui bahwa aku lebih dari sekadar orang yang banyak makan.”
Ardashir tersenyum.
“Aku sudah tahu itu.”
“Bagus. Tapi ulangi nanti di depan Rustom.”
“Akan kupikirkan.”
“Itu bukan janji yang kuat.”
“Berangkatlah.”
Vardan menarik napas.
Lalu memacu kudanya bersama dua prajurit ringan ke arah bukit timur.
Ardashir berdiri memandangnya sampai debu menelan mereka.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Vardan, ia merasa sangat ingin mendengar sahabatnya mengeluh lagi.
Hari itu berjalan lambat di pos air ketiga.
Kapten Soren memperkuat pertahanan sementara. Papan penutup sumur diganti. Dinding rendah ditata ulang. Pemanah ditempatkan di dua sisi. Kuda-kuda yang kelelahan diberi air sedikit demi sedikit, tidak boleh terlalu banyak sekaligus.
Ardashir ingin ikut patroli, tetapi Soren melarang.
“Kau menulis, membaca peta, dan menjawab jika ditanya. Lenganmu cukup bekerja semalam.”
Ardashir tidak suka diam.
Diam membuat pikirannya berlari lebih cepat daripada kuda.
Ke desa.
Ke Roxana.
Ke Bahram.
Ke Vardan yang kini membawa pesan melalui bukit sempit.
Ia duduk di dekat sumur, memandang air di dalamnya.
Air itu gelap.
Tenang.
Seolah semalam tidak ada orang hampir mati untuk menjaganya.
Dastan pernah berkata bahwa air adalah nadi jalur.
Kini Ardashir mengerti lebih dalam.
Air bukan hanya kebutuhan.
Air adalah alasan orang bertahan.
Untuk air, pos diserang.
Untuk air, pesan dikirim.
Untuk air, desa bersiap.
Untuk air, teknologi Persia membangun qanat, saluran, sumur, jam air, dan pos perjalanan.
Dan untuk menjaga air itu tetap sampai kepada manusia, beberapa orang harus berdarah.
Ardashir menunduk.
Ia mengingat wajah tiga orang yang gugur semalam.
Ia belum tahu kisah mereka.
Tetapi ia tahu satu hal: jangan biarkan mereka menjadi angka.
Di kota Persia, kabar dari pos air ketiga sampai menjelang siang.
Bukan kabar baru.
Hanya laporan lanjutan: musuh bergerak memutar ke selatan. Kurir dikirim melalui bukit timur. Status jalur belum pasti.
Artazara membaca laporan itu di ruang arsip barat.
Farrokh duduk di dekatnya, menyusun nama-nama prajurit yang gugur dan terluka. Di depannya ada lempengan tanah liat basah yang belum disegel.
“Status Ardashir?” tanya Artazara, berusaha membuat suaranya terdengar biasa.
Farrokh membaca laporan.
“Masih di pos air ketiga. Luka ringan. Vardan dikirim membawa pesan ke desa selatan.”
Artazara menatap peta.
“Jalur bukit timur sempit.”
“Ya.”
“Jika mereka dihadang?”
“Maka pesan terlambat.”
Artazara menutup mata sebentar.
Farrokh memperhatikan.
“Kau memikirkan Ardashir atau Vardan?”
“Keduanya.”
“Bagus. Itu membuatmu lebih adil.”
Artazara tersenyum pahit.
“Apakah adil selalu terasa sesakit ini?”
“Sering.”
Ia mengambil pena dan menyalin laporan.
Lalu berhenti pada nama Vardan.
Pemuda itu sering membuat ruang catatan terasa hidup dengan kalimat-kalimat aneh. Kini namanya berada dalam laporan pengiriman pesan berbahaya.
Artazara berkata pelan,
“Semoga dia sampai.”
Farrokh mengangguk.
“Pemuda itu terlalu berisik untuk hilang begitu saja.”
Artazara hampir tertawa.
Namun tawanya tertahan oleh cemas.
Di desa, hari itu dimulai dengan kesiapan yang makin serius.
Roxana bersama para perempuan mengisi kantong air. Ibunya menyiapkan roti kering. Anak-anak dikumpulkan di dekat lumbung. Bahram memeriksa kuda-kuda. Mehrdad membuka sebagian lumbung keluarganya untuk dibagi sebagai persediaan darurat.
Tetua desa berdiri di tengah halaman sambil mengetuk tongkatnya.
“Dengar semua! Kalau tanda asap dari utara terlihat dua kali, kita bergerak ke jalur bawah. Jangan ada yang membawa peti besar, kasur, atau alat tenun sebesar rumah!”
Seorang perempuan menyahut,
“Kalau membawa kambing?”
Tetua menjawab,
“Kalau kambingnya lebih pintar dari pemiliknya, bawa kambingnya!”
Beberapa orang tertawa meski tegang.
Roxana mengikat kantong air dan menatap jalan utara.
Belum ada kabar sejak surat Ardashir.
Belum ada penunggang.
Belum ada tanda.
Namun hatinya gelisah seperti burung yang terperangkap di ruangan sempit.
Mehrdad datang membawa gulungan tali.
“Kau belum makan,” katanya.
Roxana menoleh.
“Aku tidak lapar.”
“Itu bukan berarti tubuhmu tidak butuh.”
Kalimat itu mengingatkannya pada Vardan, meskipun Mehrdad mengatakannya dengan jauh lebih tenang.
Mehrdad menyerahkan sepotong roti.
“Aku tidak memintamu tenang. Hanya makan sedikit.”
Roxana menerima.
“Terima kasih.”
Mereka berdiri beberapa saat tanpa bicara.
Lalu Mehrdad berkata,
“Ardashir akan berusaha sampai.”
Roxana menatapnya.
Ucapan itu pasti tidak mudah bagi Mehrdad.
Namun ia mengatakannya.
“Ya,” jawab Roxana pelan. “Dia akan berusaha.”
Mehrdad mengangguk.
“Dan kalau pesan datang lebih dulu, kita akan bergerak sesuai pesan. Jangan menunggu sampai bahaya terlihat jelas.”
Roxana memandang lumbung, sumur, anak-anak, orang tua, dan warga yang bekerja dengan cemas.
“Desa ini tampak berbeda hari ini.”
“Bahaya membuat orang terlihat seperti dirinya yang paling jujur,” kata Mehrdad.
Roxana menoleh.
“Itu kalimat yang bagus.”
Mehrdad tersenyum kecil.
“Sesekali aku juga bisa.”
Roxana ikut tersenyum.
Lalu suara seorang anak dari arah bukit memecah udara.
“Penunggang!”
Semua orang menoleh.
Di kejauhan, dari jalur bukit timur, terlihat seekor kuda turun dengan cepat.
Terlalu cepat.
Tidak stabil.
Penunggangnya tampak miring di atas pelana.
Bahram langsung mengambil tali kekang dan berlari ke jalan.
“Itu bukan Ardashir,” kata Roxana pelan.
Matanya menyipit.
Lalu ia mengenali jubahnya.
“Vardan.”
Vardan hampir jatuh sebelum mencapai sumur.
Bahram dan Mehrdad menangkapnya dari dua sisi. Kudanya berbusa dan gemetar.
Darah terlihat di sisi tubuh Vardan.
Roxana berlari mendekat.
“Vardan!”
Vardan membuka mata setengah.
“Aku sampai?”
“Kau sampai,” kata Bahram.
Vardan tersenyum lemah.
“Bagus. Aku sangat berharap begitu. Kalau ini masih jalan, aku akan kecewa.”
Tetua desa mendekat.
“Anak kota, kau berdarah.”
Vardan menoleh pelan.
“Tetua… pengamatanmu tajam seperti biasa.”
Roxana segera melihat luka di sisi pinggangnya. Bukan luka terlalu dalam, tetapi cukup banyak darah. Mungkin panah menyerempet atau tombak pendek mengenai saat ia melewati hadangan.
“Bawa dia ke dalam,” kata Roxana.
Vardan mengangkat tangan lemah.
“Pesan dulu.”
Ia meraba kantongnya dan mengeluarkan tabung kulit.
“Dari Kapten Soren. Untuk tetua desa.”
Tetua menerimanya.
“Bagus. Kau melakukan tugasmu.”
Vardan tersenyum kecil.
“Tolong katakan itu lagi nanti ketika aku tidak hampir pingsan.”
Lalu ia meraba kantong bagian dalam dan mengeluarkan kertas kecil lain.
“Ini… dari Ardashir.”
Roxana menerimanya dengan tangan gemetar.
Tetapi ia tidak membukanya dulu.
Ia membantu ibunya dan Bahram membawa Vardan ke rumah terdekat.
“Baca pesannya!” seru Vardan lemah. “Pesan kerajaan, bukan surat cinta. Urutan penting. Aku belajar itu dengan susah payah.”
Bahkan dalam keadaan terluka, ia masih bisa membuat orang hampir tertawa.
Tetua membuka pesan resmi.
Wajahnya berubah serius.
“Musuh mungkin bergerak melalui Lembah Serigala. Jika asap terlihat dari bukit utara, desa harus bergerak ke jalur bawah. Jangan menunggu.”
Bahram segera berkata,
“Siapkan kereta sekarang. Jangan menunggu asap.”
Mehrdad mengangguk.
“Aku akan kumpulkan orang di lumbung.”
Tetua mengangkat tongkat.
“Semua bergerak! Jangan panik! Panik hanya boleh dilakukan setelah semua barang penting siap!”
Orang-orang mulai bergerak cepat.
Roxana menatap surat kecil dari Ardashir di tangannya.
Ia ingin membukanya.
Tetapi Vardan mengerang pelan di dalam rumah.
Ia memilih menunda.
Ada manusia hidup di depan matanya.
Surat bisa menunggu beberapa menit.
Di dalam rumah, ibu Roxana membersihkan luka Vardan. Bahram memegang bahunya agar ia tidak bergerak. Roxana menyiapkan air bersih dan kain.
Vardan menggigit kain kecil agar tidak berteriak terlalu keras.
Namun ketika obat disentuhkan, ia tetap mengerang.
“Ini lebih buruk daripada latihan Rustom,” katanya lemah.
Bahram menjawab,
“Berarti kau akan hidup. Orang yang masih bisa mengeluh biasanya belum selesai.”
Vardan membuka satu mata.
“Bahram, kau benar-benar ayah Ardashir. Cara kalian menghibur sama-sama keras.”
Roxana menahan senyum sambil menekan kain bersih.
“Jangan terlalu banyak bicara. Darahmu keluar.”
“Mulutku tidak terluka.”
“Sayang sekali,” gumam Bahram.
Vardan menatapnya dengan lemah.
“Aku mendengarnya.”
“Bagus. Berarti telingamu juga masih hidup.”
Akhirnya Vardan tertawa kecil, lalu meringis kesakitan.
Roxana selesai membalut lukanya.
“Lukanya tidak terlalu dalam, tapi kau harus istirahat.”
Vardan menatapnya.
“Apakah aku berhasil?”
Roxana mengangguk.
“Kau berhasil.”
“Pesan sampai?”
“Sampai.”
“Surat Ardashir?”
Roxana menggenggam kertas kecil itu.
“Belum kubaca.”
Vardan tampak tersentuh.
“Kau menolongku dulu?”
“Tentu.”
Vardan menatap langit-langit rumah.
“Kalau Ardashir tahu, dia akan semakin mencintaimu.”
Roxana terdiam.
Bahram berdeham.
“Kurangi bicara.”
Vardan menutup mata.
“Baik. Aku akan pingsan sedikit dengan sopan.”
Dan ia benar-benar tertidur beberapa saat kemudian.
Baru setelah Vardan stabil, Roxana keluar ke bawah pohon delima.
Desa sedang bergerak.
Orang-orang menyiapkan kereta. Anak-anak dikumpulkan. Kantong air ditumpuk. Mehrdad memberi arahan di lumbung. Tetua berjalan cepat dengan tongkatnya, menyuruh orang-orang yang kebingungan agar berhenti berputar seperti ayam kehilangan halaman.
Roxana duduk di bawah pohon.
Tangannya membuka surat kecil itu.
Tulisan Ardashir lebih kasar dari biasanya.
Mungkin ditulis dengan lengan terluka.
Roxana,
Aku masih hidup.
Vardan membawa pesan ke desa. Jika surat ini sampai, berarti ia berhasil melewati bukit timur. Tolong jangan biarkan dia mengatakan keberhasilannya terlalu sering kepada semua orang, meski sebenarnya ia berhak bangga.
Roxana tertawa pelan di tengah air mata.
Ia melanjutkan.
Pos air ketiga diserang. Sumur selamat. Beberapa orang gugur. Aku terluka di lengan, tetapi tidak berat.
Musuh mungkin bergerak ke selatan. Jika desa harus pergi sementara, pergilah. Jangan menunggu rumah demi rumah tetap tampak utuh. Rumah bisa dibangun lagi. Manusia tidak.
Tangannya bergetar.
Ia membaca bagian terakhir.
Aku ingin datang sendiri membawa kabar ini. Tapi tugas menahanku di pos. Ini mungkin surat yang hampir terlambat. Semoga tidak.
Jika aku tidak bisa kembali secepat yang kujanjikan, ingatlah: aku tidak sedang menjauh. Aku sedang menjaga jalan agar suatu hari aku punya tempat untuk pulang.
Di bawahnya ada syair pendek:
Jika surat ini tiba sebelum aku,
anggaplah ia napasku yang berlari lebih dahulu.Jika aku terlambat,
jangan biarkan takut membangun rumah di dadamu.Aku sedang belajar
bahwa cinta kadang bukan berjalan menuju kekasih,
tetapi berdiri di antara bahaya
dan rumah tempat kekasih berdoa.
Roxana menutup surat itu ke dadanya.
Air matanya jatuh lebih deras.
Surat itu memang hampir terlambat.
Jika Vardan tidak sampai, desa mungkin akan menunggu terlalu lama.
Jika desa menunggu terlalu lama, semua bisa berubah.
Ia berdiri.
Tidak ada waktu untuk menangis lama.
Cinta, hari itu, tidak meminta ia duduk menatap jalan.
Cinta meminta ia membantu orang-orang bergerak.
Roxana menyimpan surat itu di balik pakaiannya, lalu berlari ke arah lumbung.
Menjelang sore, asap terlihat dari bukit utara.
Bukan besar.
Tetapi cukup.
Dua garis asap tipis, seperti tanda yang disepakati.
Tetua desa mengangkat tongkat.
“Bergerak!”
Tidak ada teriakan histeris.
Tidak ada kekacauan besar.
Karena pesan sampai tepat waktu.
Kereta kecil mulai berjalan. Anak-anak dinaikkan lebih dulu. Orang tua dibantu. Kantong air dibagi. Sebagian pria membawa alat ringan. Bahram memimpin kuda-kuda. Mehrdad mengatur lumbung terakhir, memastikan pintu ditutup dan persediaan yang tersisa diamankan.
Roxana membantu ibunya membawa anak-anak.
Vardan, meski terluka, memaksa duduk di salah satu kereta.
“Aku masih bisa memberi semangat,” katanya.
Tetua menatapnya.
“Kalau semangatmu terlalu banyak bicara, aku akan menyuruhmu tidur lagi.”
Vardan menutup mulut dengan tangan.
“Semangatku patuh.”
Di tengah keberangkatan itu, Roxana menoleh ke arah rumahnya.
Ke pohon delima.
Ke sumur.
Ke halaman tempat ia tumbuh.
Meninggalkan rumah ternyata seperti mencabut sebagian akar, meski hanya sementara.
Ibunya menggenggam tangannya.
“Rumah menunggu orang yang hidup,” katanya.
Roxana mengangguk.
Mereka bergerak menuju jalur bawah.
Di kejauhan, langit barat mulai memerah.
Bukan hanya oleh senja.
Tetapi oleh tanda bahaya.
Di pos air ketiga, Ardashir melihat asap dari bukit selatan.
Dua garis.
Tanda bahwa desa sudah bergerak.
Ia menutup mata.
“Pesan sampai,” katanya pelan.
Kapten Soren berdiri di sampingnya.
“Ya.”
“Vardan berhasil.”
“Sepertinya begitu.”
Ardashir menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, beban di dadanya sedikit turun.
Namun belum sepenuhnya.
“Kapten,” katanya.
“Ya?”
“Jika desa sudah bergerak, musuh mungkin menemukan lumbung kosong.”
“Benar.”
“Mereka bisa membakar sebagai tanda marah.”
“Bisa.”
Ardashir memandang jalur selatan.
“Desa saya…”
Soren menatapnya.
“Kita tidak bisa menjaga semua rumah.”
“Saya tahu.”
“Tapi kita bisa menjaga orang-orangnya.”
Ardashir diam.
Kalimat itu sama seperti surat yang ia tulis kepada Roxana.
Rumah bisa dibangun lagi. Manusia tidak.
Mudah menulisnya.
Sulit menerimanya.
Soren berkata,
“Rombongan perbekalan akan tiba malam ini. Setelah itu kita bergerak menutup lembah. Jika berhasil, mereka tidak akan sampai ke jalur bawah.”
Ardashir mengangguk.
“Apa tugas saya?”
“Kau membaca jalur. Dan kali ini, jangan biarkan luka membuatmu lambat berpikir.”
“Saya akan berusaha.”
“Bagus. Karena lenganmu yang terluka, bukan kepalamu.”
Itu juga terdengar seperti Rustom.
Ardashir hampir tersenyum.
Malam itu, pertempuran kedua tidak sebesar yang ditakutkan.
Musuh yang bergerak ke Lembah Serigala menemukan bahwa desa-desa telah kosong lebih cepat dari perkiraan. Lumbung utama terkunci dan sebagian persediaan sudah dipindahkan. Jalur bawah dijaga dari kejauhan. Kapten Soren menutup jalan sempit dengan pasukan kecil, menggunakan batu, pasak, dan pemanah di posisi tinggi.
Tidak ada kemenangan megah.
Tidak ada duel indah.
Tidak ada sorak panjang.
Yang ada adalah strategi menahan, memecah, dan membuat musuh kehilangan alasan untuk maju.
Teknologi perang yang bekerja malam itu bukan hanya senjata.
Melainkan pengetahuan tentang medan.
Pesan yang sampai tepat waktu.
Tanda asap yang dipahami warga.
Jalur evakuasi yang sudah disiapkan.
Persediaan yang dipindahkan sebelum musuh datang.
Dan keputusan untuk tidak mempertahankan bangunan lebih daripada nyawa.
Menjelang tengah malam, kelompok bersenjata itu mundur ke barat.
Beberapa tertangkap.
Sebagian melarikan diri.
Jalur selatan selamat.
Untuk sementara.
Keesokan paginya, kabar kemenangan kecil itu dikirim ke kota dan jalur bawah.
Namun seperti semua kabar di masa genting, ia bergerak tidak sempurna.
Satu kurir ke kota terjatuh karena kudanya terpeleset di batu basah. Pesan rusak sebagian.
Yang sampai lebih dulu ke istana hanya laporan pendek:
Pos air selamat. Lembah ditutup. Beberapa terluka. Status Ardashir belum tercatat jelas setelah patroli malam.
Kalimat terakhir itu membuat Artazara berdiri lama tanpa bergerak.
“Belum tercatat jelas,” gumamnya.
Farrokh mengambil laporan itu dan mengerutkan dahi.
“Ini laporan buruk.”
“Buruk karena isinya?”
“Buruk karena tidak lengkap.”
Artazara menatapnya.
“Apakah itu berarti…”
“Tidak berarti apa-apa sampai laporan lengkap datang,” potong Farrokh. “Jangan biarkan kekosongan berpura-pura menjadi kebenaran.”
Namun Artazara tahu, hati manusia sering melakukan itu.
Ia mengisi kekosongan dengan ketakutan.
Ia berdiri di depan peta, menatap pos air ketiga.
Satu titik kecil.
Terlalu kecil untuk menampung kecemasan sebesar itu.
Di jalur bawah, kabar yang sampai ke Roxana juga tidak lengkap.
Seorang pengintai datang dari utara dengan napas terengah.
“Lembah ditutup. Musuh mundur.”
Orang-orang bersyukur.
Namun ketika Roxana bertanya tentang Ardashir, pengintai itu ragu.
“Aku tidak melihatnya. Ada kabar beberapa prajurit terluka setelah patroli malam.”
Dunia Roxana seperti berhenti.
Vardan yang duduk di kereta dengan wajah pucat langsung berkata,
“Tidak melihat bukan berarti tidak hidup.”
Roxana menatapnya.
Vardan berusaha duduk lebih tegak.
“Aku ahli dalam urusan hampir tidak terlihat berguna tapi tetap hidup. Percayalah, kabar tidak lengkap adalah musuh yang suka memakai pakaian kabar buruk.”
Tetua desa mengangguk.
“Benar. Jangan menangisi bayangan sebelum melihat batu yang melemparkannya.”
Vardan menatap tetua.
“Itu kalimat bagus. Aku ingin meminjamnya jika masih hidup lama.”
Tetua menjawab,
“Bayar dengan tidak mati.”
Vardan mengangkat tangan.
“Akan kuusahakan.”
Roxana mencoba bernapas.
Namun hatinya sudah terlanjur jatuh ke tempat yang gelap.
Malam itu ia tidak tidur.
Ia duduk di dekat kereta, memegang surat Ardashir yang hampir terlambat itu.
Kini ia takut surat itu menjadi surat terakhir.
Menjelang fajar, suara kuda terdengar dari utara.
Semua orang di jalur bawah terbangun.
Bahram berdiri pertama.
Mehrdad mengambil tombak pendek.
Tetua mengangkat tongkatnya, meski semua orang tahu tongkat itu lebih banyak dipakai untuk menunjuk orang malas daripada melawan musuh.
Seekor kuda datang dengan pelan.
Di atasnya bukan Ardashir.
Melainkan seorang kurir muda dari rombongan Soren.
Ia membawa dua pesan.
Satu untuk tetua.
Satu untuk Roxana.
Roxana menerima pesan itu dengan tangan dingin.
Ia hampir tidak berani membuka.
Vardan, dari kereta, berkata pelan,
“Buka. Ketakutan lebih suka pintu tertutup.”
Roxana membuka surat itu.
Tulisan Ardashir.
Lebih rapi daripada surat sebelumnya, meski masih tampak lelah.
Roxana,
Jika surat ini sampai, berarti kabar sebelumnya mungkin lebih cepat daripada penjelasan.
Aku hidup.
Roxana menutup mulutnya.
Tangisnya pecah tanpa suara.
Ia membaca lagi.
Aku hidup.
Dua kata itu menjadi seluruh dunia.
Ia melanjutkan.
Patroli malam membuatku terpisah sebentar dari rombongan. Kudaku tergelincir di jalur batu, tetapi aku berhasil kembali ke pos sebelum fajar. Lukaku tidak bertambah berat.
Lembah Serigala berhasil ditutup. Desa-desa selatan selamat karena kalian bergerak tepat waktu.
Vardan sampai kepadamu, bukan? Kalau ya, tolong katakan kepadanya bahwa ia kini resmi lebih dari sekadar orang yang banyak makan. Tapi jangan terlalu sering, nanti ia sulit diajak hidup sederhana.
Roxana tertawa sambil menangis.
Vardan dari kereta langsung bertanya,
“Apakah ada namaku?”
Roxana mengangguk, air mata masih mengalir.
“Dia bilang kau resmi lebih dari sekadar orang yang banyak makan.”
Vardan memejamkan mata dengan khidmat.
“Akhirnya. Pengakuan sejarah.”
Tetua mendengus.
“Jangan besar kepala. Kepalamu masih harus muat di kereta.”
Roxana membaca bagian terakhir.
Aku belum bisa kembali ke desa hari ini. Tugas pembersihan jalur belum selesai. Tetapi jika Tuhan mengizinkan, setelah jalur aman, aku akan datang.
Bukan sebagai orang yang membawa kabar perang.
Bukan sebagai prajurit yang singgah sebentar.
Melainkan sebagai laki-laki yang ingin berbicara kepada keluargamu dengan cara yang pantas.
Di bawahnya tertulis syair pendek:
Surat pertama hampir terlambat
menyelamatkan orang-orang yang kita cintai.Semoga surat ini tidak terlambat
menyelamatkan hatimu dari takut.Aku hidup.
Dan selama Tuhan masih memberiku napas,
aku ingin pulang
bukan hanya ke desa,
tetapi kepada kejelasan.
Roxana menunduk.
Air matanya jatuh ke tanah.
Ia tidak peduli kali ini.
Surat itu tidak boleh rusak, tetapi hatinya harus bernapas.
Ibunya memeluknya.
Bahram memandang ke arah utara dan menutup matanya sejenak.
Mehrdad berdiri diam, lalu menunduk pelan.
Tidak ada benci di wajahnya.
Hanya penerimaan yang mulai tumbuh dengan sakit yang dijaga.
Vardan mengusap matanya.
“Debu fajar,” katanya sebelum ada yang bertanya.
Tetua menatapnya.
“Tidak ada debu.”
“Kalau begitu ini debu batin.”
Tetua menggeleng.
“Anak ini makin parah setelah terluka.”
Di kota Persia, laporan lengkap akhirnya tiba menjelang siang.
Artazara membacanya dengan tangan yang hampir tidak terlihat gemetar.
Ardashir hidup. Luka ringan. Terpisah sementara saat patroli. Kembali ke pos sebelum fajar. Jalur selatan aman sementara.
Ia membaca kalimat itu dua kali.
Tiga kali.
Lalu meletakkan laporan di atas meja.
Farrokh berkata,
“Nah. Kekosongan ternyata berbohong.”
Artazara tersenyum.
Matanya basah.
“Dia hidup.”
“Ya.”
“Vardan juga?”
“Menurut laporan, hidup dan terluka ringan. Juga disebut berhasil membawa pesan.”
Farrokh mengerutkan dahi.
“Dia tidak akan membiarkan kita melupakan itu.”
Artazara tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya sejak menara api menyala, tawanya tidak langsung patah.
Ia kemudian mengambil lempengan catatan dan menyalin laporan lengkap.
Nama yang gugur.
Nama yang terluka.
Pos yang selamat.
Sumur yang tetap bersih.
Desa yang berhasil bergerak.
Ardashir yang hidup.
Vardan yang membawa pesan.
Ia menulis semuanya.
Pelan.
Teliti.
Karena sejarah tidak boleh hanya mengingat raja dan jenderal.
Sejarah juga harus mengingat orang-orang yang membawa pesan hampir terlambat, orang yang menjaga sumur, orang yang membuka lumbung, perempuan yang mengisi kantong air, dan desa kecil yang selamat karena mendengar kabar tepat waktu.
Beberapa hari kemudian, bahaya mulai mereda.
Kelompok bersenjata itu tercerai-berai setelah jalur air mereka tertutup dan rombongan perbekalan kerajaan tiba. Pasukan utama dari kota mengamankan wilayah barat. Menara api tidak lagi menyala setiap malam.
Desa-desa yang mengungsi mulai kembali.
Roxana pulang bersama keluarganya.
Rumah mereka masih berdiri.
Pohon delima masih ada.
Beberapa daun gugur karena angin dan debu, tetapi buah-buahnya tetap menggantung.
Merah.
Lebih matang daripada sebelumnya.
Roxana berdiri di bawah pohon itu dengan surat Ardashir di tangannya.
Surat yang hampir terlambat.
Lalu surat yang menyelamatkan hatinya dari takut.
Ia menyentuh batang pohon delima.
“Dia hidup,” bisiknya.
Ibunya berdiri di ambang rumah, tersenyum lembut.
Bahram kembali ke kandang, memeriksa kuda seolah tidak ada yang pernah membuatnya cemas, meski semua orang tahu ia nyaris tidak tidur selama beberapa malam.
Mehrdad datang sore itu untuk membantu memastikan lumbung desa aman.
Ia bertemu Roxana di dekat sumur.
“Syukurlah rumahmu baik-baik saja,” katanya.
“Syukurlah kita semua kembali.”
Mehrdad mengangguk.
Ada hening yang dewasa di antara mereka.
Lalu Mehrdad berkata,
“Aku mendengar Ardashir hidup.”
Roxana menatapnya.
“Ya.”
“Dan ia akan datang?”
“Jika jalur aman.”
Mehrdad menunduk.
“Kalau begitu, mungkin waktuku untuk mundur dengan baik sudah tiba.”
Roxana merasa dadanya perih.
“Mehrdad…”
Ia tersenyum kecil.
“Jangan meminta maaf. Kau tidak bersalah karena mencintai orang lain sebelum aku datang.”
“Aku tidak ingin menyakitimu.”
“Aku tahu.”
Mehrdad memandang sumur.
“Aku sempat berharap kebaikan bisa membuat hati seseorang berubah. Tapi sekarang aku mengerti, kebaikan tidak boleh dipakai untuk menawar cinta.”
Roxana menatapnya dengan mata basah.
“Kau orang baik.”
“Itu belum cukup untuk menjadi orang yang kau cintai.”
Kalimat itu lembut.
Namun sakit.
Roxana tidak bisa menyangkalnya.
Mehrdad melanjutkan,
“Aku akan bicara kepada ayahku. Kami tidak akan meneruskan pembicaraan.”
“Terima kasih karena menjaga kehormatanku.”
“Terima kasih karena jujur, meski belum pernah mengucapkan jawaban secara keras.”
Ia tersenyum sedikit.
“Kadang diam yang jelas lebih mudah diterima daripada kata-kata yang dipaksa.”
Roxana menunduk.
“Semoga Tuhan memberimu kebahagiaan yang lebih lapang.”
Mehrdad mengangguk.
“Semoga.”
Lalu ia pergi.
Tidak dengan amarah.
Tidak dengan kemenangan.
Tidak dengan kekalahan yang buruk.
Ia pergi sebagai orang baik yang memilih tidak berdiri terlalu lama di depan pintu yang tidak dibuka.
Roxana menangis setelah ia pergi.
Bukan karena ragu.
Tetapi karena tetap menyakitkan ketika kebaikan harus dilepaskan.
Di kota, Artazara menerima kabar bahwa jalur selatan aman dan Ardashir akan kembali ke desa sebelum pulang ke kota.
Ia membaca kabar itu di ruang arsip.
Farrokh menatapnya dari balik gulungan catatan.
“Dia akan ke desa.”
“Ya.”
“Kau baik-baik saja?”
Artazara tersenyum kecil.
“Kau semakin sering bertanya seperti manusia lembut.”
Farrokh mengerutkan dahi.
“Aku akan berhenti kalau itu mengganggu reputasiku.”
Artazara memandang peta selatan.
“Aku baik-baik saja. Tidak sepenuhnya. Tapi cukup.”
“Cukup sering kali yang paling realistis.”
Ia mengangguk.
“Aku pernah ingin ia melihatku sebagai rumah. Tapi sekarang aku mengerti, ada orang yang memang datang dalam hidup kita bukan untuk tinggal, melainkan untuk menunjukkan bagian diri kita yang belum kita kenal.”
Farrokh diam.
Artazara melanjutkan,
“Ardashir membuatku tahu bahwa aku ingin dihargai karena pikiranku. Bukan hanya karena aku putri jenderal. Itu tidak hilang meski ia memilih Roxana.”
Farrokh tersenyum tipis.
“Itu kemenangan yang tidak dirayakan dengan pesta.”
“Tapi tetap kemenangan?”
“Ya.”
Artazara menutup peta.
“Kalau begitu aku akan menjaganya.”
Tiga hari kemudian, Ardashir akhirnya mendapat izin menuju desa sebelum kembali ke kota.
Lukanya mulai mengering.
Kudanya sudah cukup pulih.
Vardan tidak ikut karena masih harus beristirahat di pos, meski ia protes keras bahwa legenda seharusnya boleh menghadiri bagian romantis cerita.
Kapten Soren hanya menjawab, “Legenda yang berdarah tetap di tempat.”
Maka Ardashir berangkat dengan dua pengawal sampai persimpangan, lalu melanjutkan sendiri menuju desa.
Jalan itu kini terasa berbeda dari semua perjalanan sebelumnya.
Pertama kali ia meninggalkan desa sebagai anak muda yang belum tahu dunia.
Kedua kali ia pulang sebagai calon prajurit yang masih bingung oleh dua hati.
Ketiga kali ia datang membawa pesan perang.
Kini ia datang membawa kejelasan.
Di kejauhan, desa mulai tampak.
Atap rumah tanah liat.
Kandang kuda Bahram.
Sumur.
Lumbung.
Dan pohon delima.
Ardashir memperlambat kudanya.
Di bawah pohon itu, seseorang berdiri.
Roxana.
Ia tidak berlari.
Ardashir juga tidak.
Mereka sudah melewati terlalu banyak hal untuk menyambut pertemuan dengan tergesa.
Ia turun dari kuda beberapa langkah dari pohon.
Roxana memandang balutan di lengannya.
“Lukamu?”
“Mulai sembuh.”
“Vardan?”
“Hidup. Dan sangat siap menceritakan kepahlawanannya kepada siapa pun yang tidak cukup cepat pergi.”
Roxana tertawa kecil.
Tawa itu membuat seluruh perjalanan terasa sampai.
Ardashir berdiri di depannya.
“Aku terlambat.”
Roxana menggeleng pelan.
“Suratmu hampir terlambat.”
Ia menatapnya.
“Tapi kau tidak.”
Mata Ardashir basah.
Dari rumah, ayah Roxana berdiri di ambang pintu. Bahram muncul dari arah kandang. Ibunya Roxana berdiri di belakang, menatap dengan lembut.
Ardashir menyadari sesuatu.
Ini bukan lagi percakapan sembunyi di bawah pohon.
Ini awal dari sesuatu yang harus dilakukan dengan terang.
Ia menatap Roxana.
“Bolehkah aku berbicara dengan ayahmu?”
Roxana menahan napas.
Lalu tersenyum.
“Boleh.”
Ardashir mengangguk.
Di atas mereka, buah delima merah bergoyang pelan.
Babak panjang hampir sampai pada tempatnya.
Belum selesai.
Tetapi untuk pertama kalinya, semua jalan tampak mengarah ke satu titik:
bukan lagi perang, bukan lagi surat, bukan lagi kabar yang terlambat,
melainkan kejelasan di bawah pohon delima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar