Bab 25
Malam Pengakuan Kedua
Pagi itu kota Persia bangun dengan wajah yang tidak biasa.
Gerbang-gerbang dijaga lebih ketat. Para prajurit yang biasanya bercanda sambil mengikat tali pelana kini bergerak lebih cepat dan lebih sedikit bicara. Di halaman barak, kuda-kuda diberi makan lebih awal. Di gudang perbekalan, karung gandum, kantong garam, tali, anak panah, dan minyak lampu mulai dihitung ulang.
Tidak ada yang mengatakan perang telah datang.
Tetapi semua orang tahu: sesuatu sedang bergerak dari jauh.
Di kota besar, kabar tidak selalu masuk melalui teriakan. Kadang ia datang melalui wajah para komandan yang lebih tegang, melalui peta yang dibuka lebih sering, melalui kurir yang turun dari kuda dengan napas terputus, dan melalui juru catat yang tiba-tiba diminta bekerja sampai lewat tengah malam.
Ardashir merasakan perubahan itu sebelum ia benar-benar memahaminya.
Ia sedang membersihkan pelana kuda hitamnya ketika Vardan datang dengan membawa dua potong roti.
Satu di mulut.
Satu di tangan.
“Ini pertanda buruk,” kata Vardan sambil menyerahkan roti yang masih bersih kepada Ardashir.
“Roti?”
“Bukan. Aku diberi roti tambahan tanpa memintanya.”
Ardashir mengambil roti itu.
“Bukankah itu pertanda baik?”
“Dalam keadaan biasa, iya. Tapi di barak, kalau makanan tiba-tiba lebih banyak, biasanya sebentar lagi kita akan disuruh melakukan sesuatu yang membuat kita menyesal pernah punya kaki.”
Ardashir tersenyum kecil.
“Kau selalu melihat masa depan dari dapur.”
“Dapur lebih jujur daripada ruang politik.”
Sebelum Ardashir menjawab, suara Rustom terdengar dari tengah halaman.
“Semua peserta berkuda berkumpul!”
Vardan menelan roti terlalu cepat dan hampir tersedak.
“Nah. Kakiku sudah mulai menulis surat perpisahan.”
Ardashir menepuk punggungnya.
“Telan dulu sebelum menjadi pahlawan karena roti.”
“Kalau aku mati karena roti, tolong katakan aku gugur dalam tugas.”
“Tidak akan.”
“Kejam.”
Mereka segera berlari ke halaman.
Rustom berdiri bersama dua prajurit senior. Wajahnya lebih keras daripada biasa. Itu membuat para pemuda otomatis lebih tegak.
“Mulai hari ini,” katanya, “latihan kalian berubah.”
Tidak ada yang berani bertanya.
Rustom melanjutkan,
“Kalian tidak lagi hanya berlatih untuk menjadi kuat. Kalian akan dilatih sebagai satuan pengawal dan penghubung. Beberapa dari kalian akan membantu pengiriman pesan, pengamanan jalur, dan pemeriksaan pos perbekalan.”
Ardashir menatap Rustom.
Jalur.
Pesan.
Perbekalan.
Itu berarti wilayah selatan, jalan kerajaan, dan desa-desa kecil tidak lagi hanya menjadi bahan laporan.
Mereka bisa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Rustom berjalan perlahan di depan barisan.
“Kerajaan menerima kabar bahwa kelompok bersenjata mulai mengganggu jalur barat dan sebagian selatan. Belum perang besar. Tapi cukup untuk membuat orang bodoh mati jika merasa keadaan masih biasa.”
Vardan berbisik sangat pelan, “Aku akan berusaha tidak bodoh hari ini.”
Rustom langsung menoleh.
“Vardan.”
Vardan berdiri tegak.
“Ya, Tuan.”
“Kalau kau ingin hidup panjang, mulailah dengan tidak berbisik ketika aku sedang berbicara.”
“Baik, Tuan.”
“Dan kalau kau memang ingin mati, pilih cara yang lebih berguna daripada mulutmu sendiri.”
“Baik, Tuan. Saya akan mempertimbangkan kematian yang lebih terhormat.”
Beberapa pemuda menahan tawa dengan susah payah.
Rustom menatap mereka.
“Siapa yang tertawa akan kuangkat menjadi pengawal khusus Vardan. Tugasnya memastikan dia tidak berpikir terlalu keras.”
Seketika semua wajah kembali serius.
Vardan menunduk kepada Ardashir.
“Lihat. Bahkan pikiranku butuh pengawal.”
Ardashir hampir tertawa, tetapi berhasil menahannya.
Hari itu latihan berlangsung lebih berat.
Mereka tidak hanya memacu kuda dan melempar tombak.
Mereka belajar bergerak dalam kelompok kecil, membawa pesan palsu dari satu titik ke titik lain, menjaga formasi ketika salah satu kuda terlambat, dan membuat tanda darurat dengan kain berwarna.
Dastan datang mengajarkan cara membaca kondisi air di pos perjalanan.
Farrokh datang membawa catatan jalur dan membuat semua pemuda merasa bahwa tulisan kecil bisa lebih menakutkan daripada anak panah.
“Jika kalian salah membaca titik ini,” kata Farrokh sambil menunjuk peta, “kalian akan tiba di tempat yang tidak punya air.”
Vardan mengangkat tangan.
“Apakah membawa doa cukup?”
Farrokh menatapnya.
“Doa itu penting. Tapi jika kau sengaja tidak membawa air karena malas membaca peta, doamu mungkin akan disambut dengan teguran.”
Vardan menurunkan tangan.
“Aku akan membawa air.”
“Keputusan cerdas pertamamu hari ini.”
“Masih pagi, Tuan. Kesempatan saya banyak.”
Farrokh memandang Rustom.
“Anak ini melelahkan.”
Rustom mengangguk.
“Sejak hari pertama.”
Namun di balik humor itu, Ardashir merasakan kegelisahan yang nyata.
Persia sedang bersiap.
Bukan hanya dengan pedang.
Tetapi dengan peta, air, makanan, kuda, catatan, dan pesan.
Ia mulai melihat semua pelajaran sebelumnya menyatu.
Qanat yang menghidupkan kota.
Gudang yang menjaga pasukan.
Jalan kerajaan yang menghubungkan wilayah.
Kurir yang membawa keputusan.
Menara api yang memberi tanda bahaya.
Jam air yang mengatur giliran dan disiplin.
Arsip yang menjaga tanggung jawab.
Semua itu bukan pengetahuan terpisah.
Semua itu adalah cara sebuah peradaban bertahan.
Dan kini Ardashir bukan lagi hanya pengamat.
Ia mulai menjadi bagian kecil dari mesin besar itu.
Sore hari, setelah latihan selesai, Ardashir dipanggil ke ruang peta istana.
Di sana sudah ada Jenderal Artaban, Farrokh, Dastan, beberapa pejabat militer, dan Artazara.
Peta besar wilayah barat dan selatan terbuka di atas meja.
Batu-batu kecil berwarna diletakkan di beberapa titik.
Merah untuk daerah rawan.
Hitam untuk pos militer.
Biru untuk sumber air.
Putih untuk desa dan lumbung.
Ardashir berdiri di dekat pintu, menunggu dipanggil.
Artaban menunjuk satu jalur.
“Jika gangguan bergerak ke selatan, jalur perbekalan ini harus aman.”
Dastan menambahkan,
“Pos air ketiga tidak cukup besar untuk rombongan besar. Jika pasukan bergerak melalui jalur itu, perlu tambahan kantong air atau perbaikan sumur sementara.”
Farrokh menatap catatannya.
“Dan jika semua orang baru memikirkan itu setelah berangkat, maka kita bisa menulis laporan kematian dengan tinta yang sangat rapi.”
Tidak ada yang tertawa.
Karena kali ini ucapan Farrokh terlalu dekat dengan kenyataan.
Artaban melihat Ardashir.
“Masuk.”
Ardashir mendekat.
“Ya, Tuan.”
“Kau mengenal jalur kecil di selatan. Jika harus mengirim pesan dari pos barat menuju desa-desa kecil tanpa melewati jalan utama, jalur mana yang paling mungkin dipakai?”
Ardashir memandang peta.
Ia melihat garis besar jalan kerajaan.
Lalu ia melihat jalur-jalur kecil yang lebih samar.
Ia mengingat tanah.
Bukan hanya gambar.
Ia mengingat bukit rendah, saluran air, lumbung kecil, dan tempat para pedagang sering berteduh.
Ia menunjuk satu jalur.
“Ini bisa dipakai kurir ringan, Tuan. Tapi hanya jika musim kering. Kalau hujan, bagian dekat lembah menjadi licin.”
Dastan mengangguk.
“Benar.”
Ardashir menunjuk titik lain.
“Di sini ada sumur kecil. Tidak cukup untuk rombongan besar, tetapi cukup untuk dua atau tiga penunggang.”
Farrokh menatapnya.
“Kau yakin?”
“Saya pernah berhenti di sana saat kecil bersama ayah.”
“Catat,” kata Artaban.
Juru tulis segera menulis.
Artazara memandang Ardashir dari sisi meja.
Ada rasa bangga di matanya.
Namun ia segera menunduk ke peta, seolah tidak ingin tatapan itu terlalu lama tinggal.
Ardashir melihatnya.
Dan ia mengerti.
Bahkan rasa bangga pun harus dijaga jika hati sedang belajar batas.
Rapat berlangsung sampai malam.
Satu per satu pejabat keluar dari ruang peta.
Farrokh mengeluh bahwa lututnya telah mengirim permohonan resmi untuk pensiun. Dastan membawa gulungan catatan tentang pos air. Jenderal Artaban dipanggil ke ruang komando lain.
Tinggallah Ardashir dan Artazara di ruangan itu, bersama seorang pelayan tua yang merapikan lampu di sudut jauh.
Mereka tidak benar-benar sendiri.
Tetapi cukup sunyi untuk membuat percakapan menjadi berat.
Artazara menggulung sebagian peta.
“Kau membaca jalur dengan baik.”
“Aku hanya mengingat tanah masa kecilku.”
“Tidak semua orang bisa menghargai ingatan seperti itu.”
Ardashir membantu menahan ujung peta agar tidak terlipat.
“Kau tampak lelah.”
Artazara tersenyum kecil.
“Pertanyaan sederhana yang berbahaya. Kau masih mengulanginya.”
“Karena jawabannya penting.”
Ia menatap Ardashir.
Malam itu wajahnya memang tampak lebih letih. Tetapi bukan letih karena kurang tidur saja. Ada letih yang datang dari menahan sesuatu terlalu lama.
“Ayahku menerima kabar dari barat,” katanya. “Situasi mungkin memburuk.”
“Aku mendengarnya.”
“Jika memburuk, kau mungkin akan dikirim.”
“Sebagai penghubung?”
“Mungkin. Atau pengawal jalur. Atau pembawa pesan.”
Ardashir mengangguk.
Ia sudah menduga.
Artazara meletakkan gulungan peta di meja.
“Apakah kau takut?”
Ardashir menjawab jujur,
“Ya.”
Artazara memandangnya.
Banyak pemuda di istana akan menjawab tidak.
Banyak orang ingin terdengar berani ketika perempuan mendengarkan.
Tetapi Ardashir tidak.
Itulah yang membuatnya berbeda sejak awal.
“Aku juga takut,” kata Artazara pelan.
“Kau?”
“Aku takut kepada perang. Bukan karena aku tidak memahami strategi. Justru karena aku memahaminya.”
Ia memandang peta yang penuh tanda merah.
“Di peta, pasukan hanya batu kecil. Jalur hanya garis. Desa hanya titik. Tetapi di dunia nyata, setiap titik punya rumah. Setiap garis dilewati kaki. Setiap batu kecil mewakili manusia yang punya ibu, ayah, sahabat, atau seseorang yang menunggu.”
Ardashir terdiam.
Ia teringat Roxana.
Bahram.
Vardan.
Bahkan Mehrdad.
Artazara melanjutkan,
“Kadang orang yang terlalu sering melihat peta lupa bahwa peta tidak pernah menggambar air mata.”
Kalimat itu membuat ruangan menjadi sangat sunyi.
Ardashir berkata pelan,
“Itulah sebabnya engkau harus tetap berada di ruang peta.”
Artazara menoleh.
“Mengapa?”
“Karena engkau mengingat bahwa titik-titik itu adalah manusia.”
Mata Artazara sedikit berkaca-kaca.
Ia segera memalingkan wajah ke arah lampu.
“Jangan berkata terlalu baik malam ini.”
“Maaf.”
“Tidak. Jangan minta maaf juga.”
Ardashir diam.
Artazara tersenyum lemah.
“Kau lihat? Bahkan diam pun sekarang sulit.”
Mereka sama-sama tersenyum, tetapi senyum itu hanya bertahan sebentar.
Lalu Artazara berkata,
“Aku harus mengatakan sesuatu sebelum keadaan menjadi lebih buruk.”
Ardashir merasakan dadanya menegang.
“Apakah tentang lamaran itu?”
“Sebagian.”
Ia menarik napas pelan.
“Keluarga dari barat yang disebut ayahku akan datang ke istana dalam beberapa hari. Secara politik, hubungan itu baik. Secara keluarga, mereka terhormat. Ayahku tidak memaksa. Tetapi aku tahu, orang-orang akan mulai melihatku seperti bagian dari perjanjian.”
Ardashir menatapnya.
“Apa yang kau inginkan?”
Pertanyaan itu membuat Artazara diam lama.
“Aku ingin hidup yang tidak hanya ditentukan oleh garis keturunan dan meja perundingan,” katanya akhirnya. “Aku ingin berguna. Aku ingin membaca peta bukan hanya sebagai putri jenderal yang kebetulan diizinkan mendengar, tetapi sebagai seseorang yang pikirannya dipercaya.”
Ia tersenyum pahit.
“Dan di bagian hati yang lebih lemah, aku pernah ingin dicintai oleh orang yang melihat pikiranku sebelum gelarku.”
Ardashir tidak bergerak.
Ia tahu kalimat itu menyentuh dirinya.
Artazara menatapnya.
“Kau melihatku seperti itu, Ardashir. Dan karena itu, aku berterima kasih. Tapi aku juga tahu, hatimu telah memilih arah.”
“Aku mencintai Roxana.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak ingin menyakitimu.”
“Aku juga tahu.”
Artazara menunduk.
“Tetapi malam ini aku ingin mengucapkan pengakuan kedua.”
Ardashir mendengarkan.
Dulu di menara api, Artazara mengaku bahwa ia menyukai Ardashir.
Malam ini, ia tampak hendak mengucapkan sesuatu yang lebih berat.
“Aku masih menyukaimu,” katanya pelan.
Kalimat itu keluar tenang.
Tidak gemetar.
Tidak menuntut.
“Tapi aku tidak akan menunggu engkau berubah arah.”
Ardashir menatapnya dengan sedih.
Artazara melanjutkan,
“Aku tidak akan menjadikan diriku bayangan di antara kau dan Roxana. Aku tidak akan memakai tugas, ruang peta, atau kebaikan ayahku sebagai alasan untuk terus berdiri terlalu dekat dengan hatimu.”
Ia menarik napas.
“Aku akan menjaga jarak yang lebih jelas.”
Ardashir merasa kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia miliki.
Mungkin itulah beratnya hubungan yang terhormat: ia bisa berakhir tanpa pernah salah, namun tetap meninggalkan ruang kosong.
“Artazara…”
“Dengarkan sampai selesai,” katanya lembut.
Ardashir diam.
Artazara menatapnya lurus.
“Jika perang datang, kau mungkin akan pergi. Jika kau pergi, mungkin kau akan menulis kepada Roxana. Mungkin ia akan berdoa untukmu. Dan aku…”
Ia berhenti sebentar.
“Aku juga akan berdoa untukmu. Tapi aku akan berdoa dari tempat yang benar.”
Ardashir merasa matanya panas.
“Tempat yang benar?”
“Bukan sebagai perempuan yang berharap kau kembali untuknya. Melainkan sebagai sahabat yang ingin kau tetap hidup, tetap jujur, dan tetap menjadi manusia yang tidak kehilangan dirinya di medan perang.”
Ruangan itu terasa sangat luas.
Terlalu luas untuk dua hati yang sedang berusaha tetap baik.
Ardashir menunduk.
“Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.”
“Jangan balas.”
“Artazara—”
“Jangan,” katanya, kali ini dengan suara lebih tegas, tetapi tetap lembut. “Jangan jadikan kebaikan sebagai utang perasaan. Itu hanya akan membuat kita kembali rumit.”
Ardashir terdiam.
Artazara tersenyum kecil.
“Cukup hormati batas yang kupilih.”
“Aku akan menghormatinya.”
“Dan cintai Roxana dengan jelas. Jangan setengah-setengah. Perempuan yang menunggu dalam terang tetap bisa terluka jika laki-lakinya berjalan dalam bayangan.”
Ardashir mengangguk pelan.
“Aku akan menulis kepadanya malam ini.”
“Bagus.”
Mereka berdiri lama tanpa bicara.
Pelayan tua di sudut ruangan pura-pura sibuk merapikan lampu yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi. Barangkali ia memahami bahwa ada percakapan yang tidak boleh diganggu bahkan oleh suara langkah.
Artazara kemudian mengambil gulungan peta terakhir.
“Mulai besok, aku akan bekerja lebih banyak dengan Farrokh di ruang arsip barat. Kau tetap membantu laporan selatan bersama Dastan.”
Ardashir memahami maknanya.
Jarak yang lebih jelas.
“Apakah ini keputusanmu?”
“Ya.”
“Apakah ini membuatmu lebih ringan?”
Artazara memandang peta di tangannya.
“Belum. Tapi mungkin luka yang bersih akan lebih mudah sembuh daripada luka yang terus disentuh.”
Ardashir tidak mampu menjawab.
Artazara melangkah menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti sebentar.
“Ardashir.”
“Ya?”
“Jangan lupa. Peta tidak menggambar air mata.”
Ia menoleh sedikit.
“Tapi manusia yang baik harus tetap mengingatnya.”
Setelah itu ia pergi.
Langkahnya tenang.
Punggungnya tegak.
Tetapi Ardashir tahu, ketegakan itu tidak berarti ia tidak terluka.
Kadang justru orang yang paling rapi membawa luka adalah orang yang paling kuat menahan diri agar tidak membuat orang lain ikut berdarah.
Ketika Ardashir kembali ke barak, malam sudah larut.
Vardan belum tidur.
Ia duduk di depan pintu barak, memandang langit sambil mengunyah sesuatu.
“Kau dari ruang peta?”
“Ya.”
“Wajahmu seperti orang yang baru membaca laporan pajak hatinya sendiri.”
Ardashir duduk di sampingnya.
“Artazara akan menjaga jarak.”
Vardan berhenti mengunyah.
“Dia yang mengatakan?”
“Ya.”
“Karena Roxana?”
“Karena kehormatan. Karena dirinya. Karena semua.”
Vardan mengangguk pelan.
“Perempuan itu kuat.”
“Ya.”
“Dan kau sedih.”
Ardashir tidak menjawab.
Vardan menatap langit.
“Sedih bukan selalu tanda cinta yang salah. Kadang itu tanda kau menghormati seseorang yang pergi dengan cara baik.”
Ardashir menunduk.
“Aku merasa seperti telah melukai orang yang tidak pernah menyakitiku.”
“Bisa jadi. Tapi hidup memang seperti itu. Kita bisa berhati-hati, tetap saja ada yang terluka. Yang penting jangan menambah luka dengan kebohongan.”
Ardashir mengangguk.
Vardan menyerahkan potongan roti kecil.
“Makan.”
“Aku tidak lapar.”
“Itu bukan pertanyaan. Ini obat.”
Ardashir menatap roti itu.
“Obat?”
“Ya. Obat Vardan. Menyembuhkan separuh kesedihan dan menunda separuh lainnya sampai besok.”
Ardashir mengambil roti itu dan tertawa kecil.
Tawa yang lelah.
Tapi tetap tawa.
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Kalau nanti aku mati di medan perang, pastikan orang tahu aku pernah menyelamatkanmu dengan roti.”
“Aku akan menulisnya di arsip.”
“Bagus. Farrokh akan bangga.”
“Farrokh akan mengoreksi tata bahasanya.”
“Lebih baik begitu. Aku ingin warisanku rapi.”
Mereka tertawa pelan bersama.
Namun setelah itu, keduanya diam cukup lama.
Di kejauhan, menara api terlihat gelap.
Belum menyala.
Belum ada tanda bahaya besar.
Tetapi semua orang tahu, kayu telah disiapkan.
Minyak telah disusun.
Dan penjaga telah diminta membuka mata lebih lama.
Malam itu Ardashir menulis surat kepada Roxana.
Ia tidak menyembunyikan apa yang terjadi.
Roxana,
Malam ini Artazara mengatakan bahwa ia akan menjaga jarak yang lebih jelas.
Ia mengatakan itu bukan karena marah. Bukan karena aku bersikap buruk kepadanya. Tetapi karena ia ingin menjaga kehormatannya, dan aku harus menghormati keputusan itu.
Aku menulis ini kepadamu karena aku tidak ingin ada bagian hidupku di kota yang kau ketahui dari kabar orang lain.
Ia perempuan baik. Dan justru karena itu, aku harus semakin berhati-hati.
Engkau pernah berkata: jika aku mencintaimu, aku harus menjagamu dengan kejujuran; jika aku menghormatinya, aku harus menjaganya dengan batas.
Malam ini aku lebih memahami kalimatmu.
Ardashir berhenti menulis.
Lalu ia memandang lampu kecil di depannya.
Api lentera itu bergoyang sedikit, tetapi tidak padam.
Ia melanjutkan.
Kabar dari barat dan sebagian jalur selatan mulai tidak tenang. Kami mungkin akan mendapat tugas lebih berat. Jika suatu hari kabarku terlambat, jangan langsung mengira aku lupa. Tetapi jangan pula hidupmu kau gantungkan pada ketidakpastian tanpa akhir.
Aku sedang berusaha menyelesaikan pelatihan dan tugasku dengan benar. Aku ingin datang kepada keluargamu bukan hanya membawa cinta, tetapi membawa kejelasan.
Di akhir surat, ia menulis:
Jika perang memanggil sebelum aku sempat pulang,
aku akan membawa namamu bukan sebagai beban,
melainkan sebagai arah.Jika jalan menjadi gelap,
aku akan mengingat pohon delima
dan tangan yang pernah mengajariku
bahwa cinta tanpa kehormatan
hanyalah api yang membakar rumah sendiri.
Ia melipat surat itu.
Tidak ada rasa lega penuh.
Tetapi ada ketenangan kecil.
Sebab ia telah memilih jujur lagi.
Jauh di desa, Roxana belum menerima surat itu.
Malam itu ia duduk bersama ibunya, menyulam benang merah pemberian Ardashir pada kain kecil.
Bentuknya belum jelas.
Awalnya ia ingin membuat pohon delima.
Tetapi tangannya justru membuat garis seperti jalan.
Ibunya memperhatikan.
“Kau menyulam jalan?”
Roxana tersenyum kecil.
“Mungkin.”
“Menuju mana?”
Roxana melihat kain itu.
“Belum tahu.”
Ibunya duduk di sampingnya.
“Kau sedang gelisah.”
“Ya.”
“Karena Ardashir?”
“Karena semuanya.”
Ibunya mengangguk.
Roxana melanjutkan,
“Aku mencintainya. Tapi sekarang aku mulai mengerti bahwa mencintai seseorang yang sedang dipanggil dunia besar itu tidak mudah.”
“Tidak.”
“Kadang aku takut, Ibu. Bukan hanya takut dia berubah. Tapi takut aku berubah.”
Ibunya memandangnya lembut.
“Itu ketakutan yang dewasa.”
“Aku ingin tetap baik. Kepada Ardashir. Kepada Mehrdad. Kepada diriku sendiri.”
“Kalau begitu teruslah jujur.”
“Tapi jujur membuat orang terluka.”
Ibunya tersenyum sedih.
“Bohong juga. Bedanya, luka karena kejujuran bisa dibersihkan. Luka karena kebohongan sering bernanah dalam diam.”
Roxana menunduk.
Ia kembali menyulam.
Benang merah itu bergerak pelan di antara jari-jarinya.
Jalan kecil di kain itu mulai terbentuk.
Belum selesai.
Seperti hidupnya.
Pada saat yang sama, di rumah keluarga Mehrdad, pemuda itu duduk bersama ayahnya.
Ayahnya telah mendengar bahwa Roxana belum memberi jawaban.
Ia tidak marah.
Tetapi wajahnya menunjukkan bahwa ia ingin kepastian.
“Berapa lama kau ingin menunggu?” tanya ayahnya.
Mehrdad memandang lampu minyak di meja.
“Aku tidak tahu.”
“Kau tahu hatinya masih kepada Ardashir.”
“Aku tahu.”
“Lalu mengapa kau tetap menunggu?”
Mehrdad tersenyum lemah.
“Karena hati tidak selalu bergerak sesuai nasihat yang masuk akal.”
Ayahnya menghela napas.
“Anakku, aku tidak ingin kau menjadi bayangan dari kisah orang lain.”
Mehrdad diam.
Kalimat itu tepat.
Dan menyakitkan.
“Aku juga tidak ingin,” katanya pelan.
“Kalau begitu jaga dirimu. Mencintai dengan baik juga berarti tahu kapan harus mundur.”
Mehrdad menatap ayahnya.
“Apakah Ayah menyuruhku berhenti?”
“Aku menyuruhmu berpikir sebagai laki-laki yang punya kehormatan. Jika Roxana memilihmu dengan hati yang lapang, terimalah. Jika hatinya tetap kepada orang lain, jangan berdiri terlalu lama di depan pintu yang tidak dibuka.”
Mehrdad mengangguk.
Dadanya terasa berat.
Tetapi ia tahu ayahnya benar.
“Baik, Ayah.”
Malam itu Mehrdad pergi ke halaman.
Ia memandang arah rumah Roxana dari jauh.
Tidak ada benci.
Tidak ada dendam.
Hanya rasa sedih yang tenang.
Ia berbisik kepada dirinya sendiri,
“Semoga aku tetap baik, apa pun jawabannya.”
Di kota Persia, beberapa hari kemudian, kabar yang lebih besar datang.
Menjelang tengah malam, seorang kurir memasuki gerbang barat dengan kuda yang hampir tumbang.
Tidak lama setelah itu, menara api pertama menyala.
Cahaya merah terlihat dari atas dinding kota.
Lalu menara berikutnya menjawab dari kejauhan.
Api berbicara.
Bukan dalam kata.
Tetapi semua orang mengerti.
Bahaya telah bergerak.
Di barak, terompet dibunyikan.
Para pemuda terbangun.
Vardan hampir jatuh dari tikarnya.
“Apa? Siapa? Apakah Rustom akhirnya menyatakan perang kepada tidur?”
Ardashir sudah berdiri, mengambil jubah dan sabuknya.
“Menara api menyala.”
Wajah Vardan berubah.
Humornya menghilang sejenak.
“Oh.”
Di luar, suara langkah prajurit memenuhi halaman.
Rustom berdiri di tengah, diterangi obor.
“Bersiap!” teriaknya.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak perlu.
Ardashir keluar dari barak dan melihat ke arah barat.
Di kejauhan, api di menara menyala seperti mata yang terbuka dalam gelap.
Ia teringat ucapan Artazara.
Peta tidak menggambar air mata.
Tetapi malam itu, sebelum perang benar-benar datang, Ardashir mulai memahami:
setiap api yang menyala di menara mungkin berarti seseorang di tempat jauh sedang ketakutan.
Sebuah desa mungkin menutup pintu.
Seorang ibu mungkin memeluk anaknya.
Seorang petani mungkin meninggalkan ladang.
Seorang prajurit mungkin tidak sempat menulis surat terakhir.
Ardashir menggenggam sabuknya lebih erat.
Vardan berdiri di sebelahnya.
“Kau takut?” tanya Vardan pelan.
“Ya.”
“Aku juga.”
Mereka saling memandang.
Lalu Vardan memaksakan senyum kecil.
“Bagus. Kita masih waras.”
Rustom berteriak lagi.
“Ardashir! Vardan! Kalian ke kandang! Siapkan kuda penghubung!”
“Ya, Tuan!” jawab mereka serempak.
Ardashir berlari ke kandang.
Kuda hitamnya mengangkat kepala, gelisah mendengar keributan.
Ia mengusap leher kuda itu.
“Tenang,” bisiknya.
Namun ia tahu, yang perlu ditenangkan bukan hanya kuda.
Di dalam dadanya, ada banyak nama yang bergerak.
Roxana.
Artazara.
Bahram.
Vardan.
Mehrdad.
Desa.
Kota.
Persia.
Malam pengakuan telah lewat.
Malam pilihan sedang mendekat.
Dan di atas kota, menara api terus menyala.
Memberi tahu semua orang bahwa setelah sekian lama hati manusia diuji oleh cinta,
kini mereka akan diuji oleh bahaya yang lebih besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar