Bab 26
Perintah Perang
Menara api menyala sepanjang malam.
Dari dinding barat kota, nyala merah itu tampak seperti mata raksasa yang tidak berkedip. Api di menara pertama dijawab oleh api di menara kedua. Lalu yang ketiga. Lalu yang lebih jauh lagi, sampai tanda bahaya itu bergerak dari bukit ke bukit, menembus gelap, lebih cepat daripada derap kuda mana pun.
Kota Persia tidak tidur malam itu.
Di barak, para prajurit berlari membawa pelana, tombak, busur, kantong air, gulungan tali, dan tabung-tabung pesan. Di gudang perbekalan, juru catat membacakan daftar persediaan dengan suara cepat. Karung gandum dihitung. Anak panah diikat per seratus. Minyak lampu dipindahkan ke gerobak. Garam, kain pembalut luka, kulit kering, dan perkakas besi disusun dalam peti-peti kecil.
Ardashir kini benar-benar melihat apa yang dulu hanya diajarkan Rustom sebagai pelajaran.
Perang bukan hanya pedang.
Perang adalah roti yang harus sampai sebelum lapar.
Air yang harus tersedia sebelum haus.
Kuda yang harus diganti sebelum tumbang.
Pesan yang harus tiba sebelum keputusan terlambat.
Catatan yang harus benar sebelum rombongan salah arah.
Di kandang, kuda hitam Ardashir gelisah. Hewan itu mengibaskan ekornya dan menghentakkan kaki, seolah ikut memahami bahwa malam tidak biasa.
Ardashir memasangkan pelana dengan tangan cepat, tetapi tetap hati-hati.
“Tenang,” bisiknya.
Vardan muncul di sebelahnya membawa dua kantong air dan wajah yang terlihat tidak yakin apakah ia masih hidup atau hanya mimpi buruk.
“Aku punya kabar baik,” katanya.
Ardashir mengencangkan tali pelana.
“Apa?”
“Aku belum mati.”
“Itu memang baik.”
“Tapi aku punya kabar buruk.”
“Apa?”
“Aku mungkin akan segera berubah pikiran.”
Ardashir hampir tertawa, tetapi suasana terlalu tegang untuk tawa yang lepas.
Rustom masuk ke kandang dengan langkah besar.
“Ardashir! Vardan!”
Keduanya langsung berdiri tegak.
“Ya, Tuan!”
“Siapkan tiga kuda penghubung. Satu untukmu, Ardashir. Satu untuk Vardan. Satu untuk prajurit pembawa pesan dari barat.”
Vardan menelan ludah.
“Apakah kuda ketiga boleh menggantikan saya, Tuan?”
Rustom menatapnya.
“Kalau kuda itu bisa bicara lebih sedikit darimu, aku akan mempertimbangkan.”
“Baik, Tuan. Saya tetap bertugas.”
“Bagus. Karena kuda itu lebih berharga.”
Ardashir menunduk agar senyumnya tidak terlihat.
Rustom kemudian menatap Ardashir lebih serius.
“Kau diminta ke ruang komando.”
“Sekarang, Tuan?”
“Sekarang.”
Ardashir menyerahkan tali kendali kepada Vardan.
Vardan menerima dengan wajah dramatis.
“Pergilah. Kalau kau tidak kembali, aku akan mengatakan kepada semua orang bahwa kau menitipkan jatah rotimu untukku.”
“Aku tidak menitipkan apa pun.”
“Aku tahu. Tapi orang mati sulit membantah.”
Rustom berdeham.
Vardan langsung menunduk.
“Saya diam, Tuan.”
“Keajaiban kecil di malam perang,” gumam Rustom.
Ruang komando istana terang oleh banyak lampu minyak.
Di atas meja besar terbuka peta wilayah barat dan selatan. Batu-batu kecil dipindahkan oleh tangan-tangan cepat. Juru tulis mencatat setiap perintah di atas lempengan tanah liat basah, lalu menekan segel pejabat pada sudutnya. Beberapa tabung pesan disegel dengan lilin merah. Prajurit keluar masuk membawa kabar.
Jenderal Artaban berdiri di ujung meja.
Wajahnya tenang, tetapi ketenangan itu bukan ketenangan orang yang tidak takut. Itu ketenangan orang yang sudah lama belajar menaruh takut di tempat yang tidak mengganggu keputusan.
Farrokh duduk di sisi meja dengan beberapa gulungan catatan.
Dastan berdiri di dekat peta sumber air.
Artazara ada di sana.
Ia mengenakan jubah gelap sederhana. Rambutnya tertutup kain biru tua. Di depannya terbuka catatan pos air dan jarak antar-menara api. Wajahnya pucat oleh kurang tidur, tetapi matanya tajam.
Ketika Ardashir masuk, Artazara hanya menatap sekilas.
Tidak ada senyum.
Bukan karena dingin.
Melainkan karena ruangan itu sedang memegang nasib banyak orang.
Ardashir menunduk.
“Tuan Jenderal.”
Artaban menunjuk peta.
“Kabar dari barat sudah dipastikan. Sekelompok pasukan pemberontak dan perampok bersenjata menyerang dua pos kecil di jalur dagang. Mereka belum besar, tetapi cukup teratur. Jika dibiarkan, mereka bisa memotong jalur selatan.”
Ardashir memperhatikan peta.
Jalur selatan.
Jalan yang mengarah ke desa-desa kecil.
Ke lumbung.
Ke saluran air.
Ke rumah.
“Apakah mereka bergerak ke selatan, Tuan?” tanya Ardashir.
“Belum pasti,” jawab Artaban. “Tapi mereka mencari air dan persediaan. Itu berarti pos air, lumbung, dan desa yang dekat jalur kecil menjadi rawan.”
Dastan menunjuk titik biru di peta.
“Pos air ketiga paling lemah. Sumurnya dangkal. Jika mereka sampai di sana dan merusaknya, jalur ini sulit dipakai.”
Farrokh menambahkan,
“Dan jika jalur ini sulit dipakai, pesan dari kota ke desa-desa selatan akan melambat. Saat pesan melambat, ketakutan bergerak lebih cepat daripada perintah.”
Artaban menatap Ardashir.
“Kau mengenal wilayah selatan. Kau akan ikut satuan kecil menuju pos air ketiga. Tugasmu bukan mencari kemuliaan. Tugasmu memastikan pesan sampai ke desa-desa, memeriksa jalur kecil, dan membantu evakuasi jika perlu.”
Ardashir merasakan darahnya mengalir lebih cepat.
“Ke desa-desa selatan, Tuan?”
“Ya.”
“Termasuk desa saya?”
“Jika jalur bahaya mengarah ke sana, ya.”
Ruang itu terasa mengecil.
Roxana.
Bahram.
Mehrdad.
Tetua desa.
Mangkuk air.
Pohon delima.
Semua tiba-tiba bukan lagi kenangan, melainkan kemungkinan bahaya.
Artaban membaca perubahan wajahnya.
“Karena itu aku memilihmu. Bukan agar kau panik karena rumahmu dekat. Tetapi karena kau tahu tanah itu bukan sekadar titik di peta.”
Ardashir menunduk.
“Saya mengerti, Tuan.”
Artaban menatapnya tajam.
“Belum cukup. Dengarkan ini baik-baik. Jika kau dikirim ke sana, kau bukan anak desa yang pulang menyelamatkan orang-orang yang kau cintai. Kau adalah petugas kerajaan yang harus menjaga seluruh jalur dan semua warga. Jangan biarkan hatimu membuat keputusanmu sempit.”
Kalimat itu berat.
Tetapi benar.
Ardashir menegakkan tubuh.
“Ya, Tuan.”
Artazara menggeser satu batu kecil di peta.
“Jika rombongan berangkat sebelum fajar, mereka bisa mencapai pos kedua sebelum malam. Tetapi kalau membawa gerobak penuh, mereka akan terlalu lambat.”
Artaban menoleh.
“Usulmu?”
“Bagi rombongan menjadi dua. Rombongan cepat membawa pesan, kantong air, dan peralatan ringan. Rombongan kedua membawa perbekalan lebih besar. Ardashir sebaiknya ikut rombongan cepat.”
Dastan mengangguk.
“Benar. Untuk saluran dan sumur, peralatan besar bisa menyusul. Yang mendesak adalah kabar dan pengamanan awal.”
Farrokh menatap catatannya.
“Rombongan cepat butuh kuda cadangan di pos pertama. Kita punya dua, mungkin tiga kalau penjaga pos tidak berbohong dalam laporan terakhir.”
Artaban memberi perintah kepada juru tulis.
“Catat. Rombongan cepat berangkat sebelum fajar. Dipimpin oleh Kapten Soren. Ardashir ikut sebagai penunjuk jalur selatan dan penghubung warga. Vardan ikut sebagai pembawa catatan dan pesan sekunder.”
Di tempat lain, seandainya Vardan mendengar namanya disebut, mungkin ia akan langsung mencari alasan untuk menjadi tempayan.
Ardashir menunduk.
“Baik, Tuan.”
Artaban menatapnya lebih lama.
“Kau akan membawa dua pesan. Satu untuk pos air ketiga. Satu untuk tetua desa di jalur selatan jika bahaya mendekat.”
Farrokh menyerahkan dua tabung kulit.
“Jangan hilang. Jangan basah. Jangan terbakar. Jangan dijadikan bantal.”
Ardashir menerima tabung itu.
“Ya, Tuan Farrokh.”
Farrokh mengerutkan dahi.
“Dan jangan mati. Orang mati sering membuat dokumen susulan.”
Ardashir hampir tersenyum.
“Saya akan berusaha tidak merepotkan arsip.”
“Bagus. Akhirnya anak muda punya tujuan hidup yang masuk akal.”
Setelah perintah selesai, orang-orang kembali bergerak.
Peta digulung sebagian. Tabung pesan disegel. Prajurit dipanggil. Kuda disiapkan. Ruang komando kembali dipenuhi suara langkah dan goresan pena.
Ardashir hendak keluar ketika Artaban memanggilnya pelan.
“Ardashir.”
Ia berhenti.
“Ya, Tuan.”
Artaban berjalan mendekat.
Kali ini suaranya lebih rendah.
“Aku tahu di selatan ada orang-orang yang kau cintai.”
Ardashir diam.
“Tapi ingat: keberanian bukan berarti berlari paling cepat ke tempat yang paling kau takut kehilangan. Keberanian adalah tetap bisa berpikir ketika rasa takut menyebut nama orang-orang yang kau sayangi.”
Ardashir menatap jenderal itu.
“Saya akan mengingatnya.”
Artaban mengangguk.
“Pergilah.”
Ardashir menunduk dan berbalik.
Di dekat pintu, Artazara berdiri.
Ia tampaknya menunggu, tetapi tidak ingin membuatnya tampak seperti menunggu.
“Ardashir,” katanya pelan.
Ia berhenti.
Mereka berdiri di lorong samping ruang komando. Tidak jauh dari mereka, prajurit masih lalu-lalang. Tidak ada ruang untuk percakapan panjang, dan mungkin itu lebih baik.
“Kau berangkat sebelum fajar,” kata Artazara.
“Ya.”
“Aku akan mengirim daftar pos air dan jalur cadangan ke Kapten Soren. Pastikan ia membacanya.”
“Aku akan pastikan.”
Artazara mengangguk.
Untuk sesaat, kata-kata habis.
Lalu ia berkata,
“Roxana ada di wilayah itu.”
“Ya.”
“Ayahmu juga.”
“Ya.”
“Jaga mereka. Tapi juga jaga semua orang yang tidak kau kenal.”
Ardashir menatapnya.
“Itu juga pesan ayahmu.”
“Karena kali ini ayahku benar.”
Ardashir tersenyum kecil.
Artazara juga.
Namun senyum itu segera pudar.
Ia mengambil sesuatu dari balik gulungan catatannya: selembar kecil peta yang dilipat rapi.
“Ini salinan jalur cadangan dari pos kedua ke desa-desa kecil. Bukan dokumen resmi. Hanya catatan pribadiku. Jika jalur utama tertutup, ini bisa membantumu.”
Ardashir menerimanya.
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih terlalu lama. Kau harus menyiapkan kuda.”
“Artazara…”
Ia menatapnya.
“Aku akan menjaga batas yang kau pilih.”
“Aku tahu.”
“Dan aku akan kembali sebagai orang yang tetap jujur.”
Artazara menunduk sedikit.
“Jangan berjanji kembali kepadaku.”
Ardashir terdiam.
Artazara mengangkat wajah lagi. Matanya lembut, tetapi tegas.
“Berjanjilah pada tugasmu. Pada ayahmu. Pada Roxana. Pada dirimu. Kepadaku cukup… tetap hidup dengan terhormat.”
Dada Ardashir terasa sesak.
“Baik.”
Artazara mengambil napas pelan.
“Semoga Tuhan menjaga jalanmu.”
“Dan menjagamu di sini.”
Ia hampir ingin mengatakan lebih banyak, tetapi ia tahu tidak semua perasaan perlu diberi kalimat.
Maka ia hanya menunduk hormat.
Bukan kepada putri jenderal.
Kepada seorang manusia yang telah menjaga kehormatannya dengan susah payah.
Lalu ia pergi.
Artazara tetap berdiri di lorong beberapa saat setelah Ardashir menghilang di tikungan.
Di tangannya, gulungan catatan terasa lebih berat.
Ia berbisik sangat pelan,
“Pulanglah kepada arahmu.”
Tidak ada yang mendengar.
Mungkin memang tidak perlu.
Ketika Ardashir kembali ke kandang, Vardan sudah berdiri di samping tiga kuda dengan wajah muram.
“Aku punya kabar buruk,” katanya.
“Aku sudah tahu. Kau ikut rombongan cepat.”
Vardan menatapnya.
“Bagaimana kau tahu?”
“Namamu disebut di ruang komando.”
“Nama baikku?”
“Namamu.”
“Cukup adil.”
Vardan menunjuk salah satu kuda.
“Aku sudah menyiapkan kudaku. Aku menatapnya dengan penuh kasih. Dia menatapku seolah tahu aku akan merepotkannya.”
“Dia kuda cerdas.”
“Semua orang hari ini menyerangku.”
Ardashir memeriksa kantong air dan tabung pesan.
Vardan melihat tabung kulit di sabuknya.
“Itu pesan penting?”
“Ya.”
“Untuk siapa?”
“Pos air ketiga dan tetua desa di jalur selatan jika bahaya mendekat.”
Vardan menjadi serius.
“Desamu termasuk?”
“Mungkin.”
Raut wajah Vardan berubah.
Ia tidak bercanda.
“Roxana?”
“Di sana.”
“Ayahmu?”
“Di sana.”
Vardan menarik napas panjang.
“Baik. Kalau begitu kita pastikan pesan sampai.”
Ardashir menatap sahabatnya.
“Kau tidak takut?”
“Aku sangat takut.”
“Lalu?”
“Takut bukan alasan untuk tidak pergi. Takut hanya alasan untuk memastikan aku buang air sebelum berangkat.”
Ardashir tertawa tiba-tiba.
Di tengah malam yang kacau, tawa itu terasa aneh, tetapi perlu.
Vardan tersenyum.
“Nah. Kau masih bisa tertawa. Berarti belum sepenuhnya menjadi tokoh tragis.”
“Terima kasih sudah mencegahku.”
“Itu tugasku. Pembawa catatan sekunder dan pencegah tragedi berlebihan.”
Sebelum fajar, Ardashir menulis dua surat pendek.
Yang pertama untuk Bahram.
Ayah,
Jika pesan ini sampai lebih dulu dariku, ketahuilah bahwa jalur selatan mungkin tidak aman. Jangan panik. Bantu tetua desa menjaga warga, air, dan lumbung. Jika harus mengungsi sementara, lakukan tanpa menunggu harga diri berbicara lebih keras daripada keselamatan.
Aku sedang menuju selatan bersama rombongan kerajaan.
Doakan aku tetap bisa berpikir jernih.
Anakmu, Ardashir.
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan:
Dan tolong rawat kuda-kuda jika aku terlambat pulang. Aku tahu Ayah akan berkata aku terlalu percaya diri karena mengira kuda-kuda menungguku. Tapi tetap saja, aku menulisnya.
Ia tersenyum kecil.
Surat kedua untuk Roxana.
Tangannya lebih lambat ketika menulis nama itu.
Roxana,
Menara api menyala malam ini.
Ada bahaya bergerak dari barat dan mungkin mengarah ke jalur selatan. Aku berangkat sebelum fajar sebagai bagian dari rombongan penghubung. Tugasku membawa pesan, memeriksa jalur, dan membantu desa-desa bersiap.
Aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai sebelum aku tiba, atau setelah semuanya berubah menjadi kabar yang lebih besar.
Aku ingin mengatakan bahwa aku takut. Takut untuk diriku, takut untuk ayahku, takut untuk desamu, takut untukmu.
Tapi aku juga ingat ucapanmu: jaga hati.
Malam ini aku belajar bahwa menjaga hati bukan berarti menyembunyikannya dari bahaya. Kadang menjaga hati berarti membawa cinta sebagai keberanian, bukan sebagai kepanikan.
Ia berhenti.
Lentera kecil di sampingnya bergoyang.
Vardan di ujung ruangan sedang mencoba memasukkan terlalu banyak roti ke kantongnya.
Ardashir melanjutkan:
Jika aku sampai di desa, aku akan menemuimu jika keadaan mengizinkan. Jika tidak, percayalah bahwa aku sedang melakukan apa yang harus kulakukan.
Jangan menungguku dengan ketakutan yang membuatmu lupa hidup. Tetapi doakan aku, sebab doa orang yang dicintai mungkin lebih cepat dari kuda mana pun.
Di akhir surat ia menulis:
Bila api menyala di menara,
jangan hanya melihat bahaya.Lihatlah juga orang-orang
yang memilih berlari menuju gelap
agar rumah-rumah kecil tetap punya pagi.Jika namaku terlambat pulang,
semoga doamu lebih dulu menemukanku.
Ia melipat surat itu.
Ia menitipkannya kepada juru tulis yang akan mengirim kabar ke selatan bersama rombongan perbekalan kedua.
Tidak ada jaminan surat itu tiba cepat.
Tetapi setidaknya, ia tidak lagi membiarkan Roxana berada dalam gelap.
Fajar belum sepenuhnya muncul ketika rombongan cepat berkumpul di gerbang barat daya.
Kapten Soren, pria berwajah keras dengan janggut pendek, memimpin tujuh penunggang. Dua prajurit senior membawa busur. Seorang pembawa tanda membawa kain merah dan putih untuk sinyal darurat. Ardashir membawa peta kecil dan tabung pesan. Vardan membawa catatan cadangan, kantong air, dan roti yang jumlahnya mencurigakan.
Kapten Soren menatap Vardan.
“Kantongmu terlalu penuh.”
Vardan menunduk hormat.
“Semangat saya besar, Kapten.”
“Itu roti.”
“Semangat saya berbentuk roti, Kapten.”
Soren menatapnya beberapa detik, lalu berkata kepada Ardashir,
“Dia selalu begini?”
“Lebih buruk jika lapar, Kapten.”
Soren menghela napas.
“Baik. Bawa dia tetap hidup. Mungkin dia berguna untuk mengganggu musuh.”
Vardan tampak bangga.
“Akhirnya bakatku diakui secara militer.”
Rustom datang beberapa saat sebelum gerbang dibuka.
Ia berjalan ke arah Ardashir dan Vardan.
“Kalian berdua.”
Mereka berdiri tegak.
“Ya, Tuan.”
Rustom menatap Ardashir.
“Ingat perintah. Pesan harus sampai. Jalur harus dibaca. Jangan berubah menjadi pahlawan bodoh.”
“Ya, Tuan.”
Ia menatap Vardan.
“Dan kau.”
“Ya, Tuan.”
“Kalau mulutmu membuat rombongan terancam, aku akan menghukummu bahkan jika aku harus menunggu perang selesai.”
Vardan menelan ludah.
“Motivasi yang sangat kuat, Tuan.”
Rustom lalu diam sebentar.
Aneh.
Seolah ada kata lain yang hendak keluar tetapi tidak terbiasa menemukan jalan.
Akhirnya ia berkata,
“Jangan mati sia-sia.”
Bagi Rustom, itu mungkin setara dengan doa penuh air mata.
Ardashir dan Vardan menunduk.
“Kami akan berusaha, Tuan.”
Rustom mundur.
Gerbang mulai dibuka.
Kayu besar bergeser. Rantai berbunyi. Udara fajar masuk dengan dingin.
Dari kejauhan, menara api masih menyala samar, kalah oleh cahaya pagi yang mulai tumbuh.
Ardashir menatap jalan di depan.
Jalan itu dulu membawanya dari desa ke kota.
Lalu dari kota kembali ke desa.
Kini jalan yang sama membawanya menuju bahaya.
Ia menggenggam tali kendali.
Dalam kantongnya ada peta kecil dari Artazara.
Di hatinya ada nama Roxana.
Di ingatannya ada suara Bahram.
Di sampingnya ada Vardan yang mencoba tampak berani sambil memegang kantong roti.
Kapten Soren mengangkat tangan.
“Berangkat!”
Kuda-kuda mulai bergerak.
Perlahan, lalu semakin cepat.
Gerbang kota tertinggal di belakang.
Jalan kerajaan terbentang di depan mereka, panjang dan dingin di bawah fajar.
Tidak ada musik.
Tidak ada sorak-sorai.
Hanya derap kuda, napas manusia, dan tugas yang kini benar-benar dimulai.
Di kota, Artazara berdiri di salah satu balkon tinggi istana.
Ia melihat rombongan kecil itu keluar dari gerbang.
Dari jarak itu, Ardashir hanya tampak seperti satu sosok di antara beberapa penunggang.
Satu titik kecil di jalan besar.
Seperti di peta.
Namun Artazara tahu, peta tidak menggambar air mata.
Ia menggenggam pagar batu.
“Pergilah,” bisiknya. “Dan jangan hilang.”
Di belakangnya, Jenderal Artaban berdiri tanpa ia sadari.
“Aku memilihnya karena ia mampu,” kata ayahnya pelan.
Artazara tidak menoleh.
“Aku tahu.”
“Bukan karena hatimu.”
“Aku tahu, Ayah.”
Artaban diam sebentar.
Lalu berkata,
“Namun aku juga tahu bahwa kemampuan seseorang tidak menghapus rasa takut orang yang peduli kepadanya.”
Mata Artazara berkaca-kaca, tetapi ia tetap memandang jalan.
“Apakah dia akan baik-baik saja?”
Artaban tidak memberi jawaban palsu.
“Perang tidak pernah menjanjikan itu.”
Artazara menutup mata.
Artaban meletakkan tangan di bahunya.
“Tapi dia tidak pergi tanpa bekal. Dia punya ilmu, kuda yang baik, sahabat yang setia, dan hati yang masih berusaha jujur. Itu lebih banyak daripada yang dimiliki banyak prajurit.”
Artazara mengangguk pelan.
Di kejauhan, rombongan itu makin kecil.
Lalu menghilang di balik debu fajar.
Jauh di desa selatan, Roxana belum tahu bahwa Ardashir sedang menuju ke arahnya.
Pagi itu ia bangun lebih awal.
Entah kenapa hatinya gelisah.
Ia keluar rumah dan berjalan ke bawah pohon delima.
Buah-buahnya kini semakin berat. Beberapa mulai menunjukkan warna merah tua yang matang.
Angin pagi bergerak pelan.
Dari arah utara, seekor burung terbang rendah melewati ladang.
Roxana memegang benang merah yang ia simpan di kantong kecil.
Ia tidak tahu tentang menara api.
Tidak tahu tentang perintah perang.
Tidak tahu tentang rombongan cepat.
Tetapi hati manusia kadang mendengar sebelum telinga menerima kabar.
Ia memandang jalan di kejauhan.
Lalu berdoa pelan,
“Ya Tuhan, jika ada bahaya di jalan orang yang kucintai, jagalah langkahnya. Jika ia harus datang, datangkan ia dengan selamat. Jika ia harus pergi lebih jauh, jangan biarkan hatinya kehilangan arah.”
Di dekat lumbung, Mehrdad juga berdiri memandang utara.
Beberapa pedagang yang lewat subuh tadi membawa kabar samar tentang menara api di kota.
Belum jelas.
Namun cukup untuk membuatnya memerintahkan pekerja lumbung memeriksa gandum, air, dan tali pengikat pintu.
Ayah Roxana keluar dari rumah dan melihat Roxana di bawah pohon.
Bahram, di rumah lain, sedang memeriksa kuda-kudanya dengan wajah lebih serius dari biasa.
Tetua desa mengetuk tongkatnya di tanah dan berkata kepada anak-anak muda,
“Kalau kabar buruk datang, kita tidak boleh lebih lambat dari orang tua.”
Salah satu pemuda bertanya,
“Memangnya Tetua masih cepat?”
Tetua menatapnya tajam.
“Mulutku cepat. Itu cukup untuk menyuruh kalian bergerak.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Tetapi tawa itu tidak lama.
Di kejauhan, jalan utara tampak kosong.
Namun kekosongan itu terasa seperti menunggu sesuatu.
Sementara itu, di jalan kerajaan, Ardashir dan rombongan cepat memacu kuda menuju pos pertama.
Matahari mulai naik.
Debu terangkat di belakang mereka.
Kapten Soren memberi isyarat agar formasi diperlebar.
Vardan menunggang di sebelah Ardashir dengan wajah tegang.
“Ardashir.”
“Ya?”
“Kalau nanti aku terlalu takut, ingatkan aku bahwa aku pernah mengatakan ingin hidup panjang.”
“Kau memang ingin hidup panjang.”
“Bagus. Aku butuh saksi.”
“Untuk apa?”
“Supaya kalau keberanianku tiba-tiba ingin mengambil keputusan bodoh, kau bisa mewakili akal sehatku.”
Ardashir tersenyum.
“Kau punya akal sehat?”
“Sedikit. Biasanya kusimpan untuk keadaan darurat.”
“Sekarang keadaan darurat.”
“Benar. Aku sedang mencarinya.”
Di tengah ketegangan itu, Ardashir tertawa.
Lalu ia menatap jalan di depan.
Jalan itu menuju pos air.
Menuju desa-desa.
Menuju bahaya.
Dan mungkin menuju pertemuan lain dengan Roxana, bukan di bawah pohon delima yang tenang, melainkan di tengah keadaan yang memaksa semua orang memilih cepat.
Kuda hitamnya berlari stabil.
Angin menghantam wajahnya.
Di langit jauh, sisa asap dari menara api masih terlihat samar.
Perintah perang telah diberikan.
Dan Ardashir tahu, setelah fajar ini, tidak ada satu pun dari mereka yang akan kembali sebagai orang yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar