Sabtu, 29 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (20)

 

Bab 20

Jalan Pulang yang Tidak Lagi Sama



Pagi itu, Ardashir dipanggil Rustom sebelum latihan dimulai.

Biasanya, pemanggilan sebelum latihan berarti dua kemungkinan.

Pertama, ada tugas penting.
Kedua, ada hukuman yang akan disampaikan dengan wajah sangat datar.

Vardan, yang sedang mengikat tali sepatunya, langsung menatap Ardashir dengan iba.

“Semoga roh kakimu kuat.”

Ardashir mengernyit.

“Mengapa kakiku?”

“Kalau Rustom memanggil pagi-pagi, biasanya seseorang akan berlari jauh, membawa beban, atau menyesali kelahirannya.”

Ardashir tersenyum kecil.

“Doakan saja bukan yang ketiga.”

“Aku selalu mendoakan yang terbaik,” kata Vardan. “Tapi pengalaman mengajarkan kita untuk takut kepada orang yang terlalu jarang tersenyum.”

Dari kejauhan, suara Rustom terdengar.

“Ardashir!”

Vardan langsung menepuk bahu Ardashir.

“Pergilah. Kalau kau tidak kembali, aku akan mewarisi bagian rotimu.”

“Terima kasih atas kesetiaanmu.”

“Aku setia kepada persediaan makanan.”

Ardashir tertawa pelan, lalu berjalan menuju Rustom.


Rustom berdiri di dekat gerbang barak bersama Farrokh.

Di tangan Farrokh ada gulungan peta dan beberapa lempengan catatan kecil. Wajah orang tua itu tampak kesal, seolah pagi telah datang terlalu cepat tanpa meminta izinnya.

“Pagi seharusnya tidak dimulai sebelum tulang tua menyetujuinya,” gerutu Farrokh.

Rustom tidak menanggapi.

Ia menyerahkan gulungan kecil kepada Ardashir.

“Kau ikut rombongan pemeriksa jalan ke selatan.”

Ardashir terdiam.

Selatan.

Kata itu langsung membuka pintu besar di dalam dadanya.

“Ke selatan, Tuan?”

“Ya.”

“Seberapa jauh?”

Farrokh membuka peta dengan gerakan lambat.

“Jalur pemeriksaan melewati tiga pos air, dua pos kurir, satu jembatan batu, dan beberapa desa kecil. Salah satu desa berada tidak jauh dari tempat asalmu.”

Ardashir merasa napasnya berubah.

Rustom memperhatikan wajahnya.

“Jangan tampak seperti anak kecil yang baru melihat madu.”

Ardashir segera menunduk.

“Maaf, Tuan.”

“Ini tugas, bukan liburan.”

“Ya, Tuan.”

Farrokh menunjuk beberapa tanda di peta.

“Kerajaan menerima laporan bahwa sebagian jalan selatan rusak setelah banjir kecil di kaki bukit. Ada juga laporan saluran air di satu desa mulai tersumbat lumpur. Rombongan kecil akan memeriksa kondisi jalan, pos, dan pembagian air. Kau ikut karena kau memahami kuda, mengenal daerah selatan, dan tidak terlalu bodoh membaca peta.”

Ardashir menatap Farrokh.

“Terima kasih… sepertinya.”

Farrokh mengangguk.

“Anggap saja itu pujian. Pada usiaku, pujian jarang keluar dalam bentuk yang cantik.”

Rustom berkata,

“Kau akan berangkat besok pagi.”

“Siapa saja yang ikut?”

“Dua prajurit senior, seorang juru catat, seorang ahli saluran air, dan—”

Sebelum Rustom selesai, terdengar suara dari belakang.

“Dan sahabatnya yang sangat berguna?”

Rustom menutup mata sebentar, seperti sedang berdoa agar kesabarannya diperpanjang.

Vardan berdiri beberapa langkah di belakang, berpura-pura datang tanpa sengaja.

“Aku kebetulan lewat,” katanya.

“Di depan gerbang komandan?” tanya Rustom.

“Jalan hidup memang misterius, Tuan.”

Farrokh terkekeh.

Rustom menatap Vardan.

“Kau ingin ikut?”

Vardan langsung berdiri tegak.

“Jika kerajaan membutuhkan pengorbananku, aku siap.”

“Bagus. Kau ikut.”

Wajah Vardan berubah.

“Aku ikut?”

“Ya.”

“Benarkah?”

“Kau ingin aku berubah pikiran?”

“Tidak, Tuan. Aku hanya terharu. Jarang sekali ancaman terasa seperti hadiah.”

Rustom menatapnya tajam.

“Kau akan membawa catatan persediaan.”

Vardan menoleh kepada Ardashir dengan wajah sedih.

“Aku tahu pasti ada durinya.”

Farrokh menyerahkan satu kantong berisi lempengan catatan kepada Vardan.

“Hati-hati. Itu lebih berharga daripada isi kepalamu.”

Vardan menerima kantong itu dengan hormat.

“Berarti sangat berharga, Tuan Farrokh.”

Farrokh mengamatinya sejenak.

“Anak ini punya keyakinan diri yang tidak didukung bukti.”

Ardashir tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak mendengar kata selatan, ia bisa bernapas lebih ringan.

Ia akan pulang.

Bukan sepenuhnya pulang.

Bukan sebagai anak desa yang kembali dari bermain di padang.

Ia akan kembali sebagai calon prajurit kerajaan, membawa tugas, catatan, dan tanggung jawab.

Namun tetap saja, jalan itu menuju rumah.

Menuju ayahnya.

Menuju pohon delima.

Menuju Roxana.


Sore hari sebelum keberangkatan, Ardashir pergi ke taman timur.

Ia tidak tahu apakah Artazara akan berada di sana.

Sebagian dirinya berharap bertemu.

Sebagian lain takut pertemuan itu membuat hatinya kembali berat.

Namun ketika ia melewati saluran air kecil, Artazara memang sedang berdiri di dekat kolam, membaca gulungan catatan. Pelayan perempuannya menunggu agak jauh.

Artazara mengangkat wajah.

“Kau akan pergi ke selatan.”

Ardashir berhenti.

“Kau sudah tahu?”

“Farrokh lebih suka mengeluh daripada berjalan. Kalau ia datang ke rumah ayahku sambil membawa peta, pasti ada sesuatu.”

Ardashir tersenyum kecil.

“Aku berangkat besok.”

Artazara menggulung catatannya perlahan.

“Ke dekat desamu?”

“Ya.”

“Ke dekat Roxana?”

Ardashir diam sebentar.

“Ya.”

Artazara mengangguk.

Tidak ada kejutan di wajahnya.

Namun Ardashir melihat sesuatu yang bergerak halus di matanya. Bukan cemburu yang buruk. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang sedang merapikan luka sebelum orang lain melihatnya berantakan.

“Aku senang,” katanya.

Ardashir menatapnya.

“Engkau selalu mengatakan itu, bahkan ketika aku tahu itu tidak mudah.”

Artazara tersenyum tipis.

“Karena tidak semua kalimat harus lahir dari bagian hati yang paling sakit.”

Mereka berdiri di tepi air.

Saluran kecil di samping mereka mengalir pelan, membawa cahaya sore yang pecah menjadi garis-garis keemasan.

Artazara berkata,

“Perjalanan ke selatan akan melewati beberapa pos air. Ada bagian jalan yang menurun tajam setelah batu penanda ketujuh. Jika hujan kemarin meninggalkan lumpur, kereta catatan bisa tergelincir.”

Ardashir mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

“Farrokh memberitahumu?”

“Aku membaca catatannya.”

“Tentu saja.”

Artazara tersenyum.

“Jangan mengejek. Kadang membaca catatan lebih berguna daripada terlihat gagah di atas kuda.”

“Aku tidak mengejek. Aku justru merasa lebih aman karena kau tahu lebih banyak daripada rombongan kami.”

“Kau membawa ahli saluran air?”

“Ya.”

“Bagus. Di desa-desa selatan, saluran kecil sering terlihat sederhana, tetapi jika satu bagian tersumbat, orang bisa bertengkar sepanjang musim.”

Ardashir teringat ayah Roxana, tetua desa, dan mangkuk kecil pengukur giliran air.

“Di desaku, mereka membagi air dengan mangkuk tanah liat berlubang kecil. Ketika tenggelam, giliran selesai.”

Artazara tampak tertarik.

“Jam air sederhana.”

“Jam air?”

“Ya. Air bisa mengukur waktu. Di istana, ada alat yang lebih rapi untuk menghitung giliran penjagaan atau pembagian tertentu. Tetapi prinsipnya sama. Air masuk perlahan, lalu memberi tanda.”

Ardashir tersenyum.

“Jadi desa kecilku ternyata tidak terlalu jauh dari ilmu istana.”

“Ilmu besar sering lahir dari kebutuhan kecil,” kata Artazara. “Orang yang butuh air akan belajar adil, atau saling menghancurkan.”

Kalimat itu membuat mereka sama-sama diam.

Lalu Artazara memandang Ardashir lebih lembut.

“Ketika kau sampai di sana, jangan hanya melihat Roxana sebagai kenangan.”

Ardashir mengernyit sedikit.

“Maksudmu?”

“Lihatlah dia sebagai manusia yang hidup saat kau pergi.”

Artazara menatap air.

“Kadang orang yang pulang membawa bayangan lama. Ia berharap rumah tetap sama, pohon tetap sama, orang yang dicintai tetap sama. Tetapi yang menunggu juga mengalami hari-hari panjang. Ia juga berubah. Ia juga belajar. Ia juga mungkin terluka.”

Ardashir menerima kata-kata itu dengan hati berat.

“Aku takut menemukan semuanya berubah.”

“Pulang memang begitu,” kata Artazara. “Kita mengira pulang berarti kembali ke tempat yang sama. Padahal kadang pulang berarti bertemu kenyataan bahwa waktu tidak menunggu kita.”

Ardashir memandangnya lama.

“Kau selalu tahu cara mengatakan hal yang membuatku tidak bisa bersembunyi.”

“Karena aku pun sedang belajar tidak bersembunyi.”

Angin sore menggerakkan ujung kain kepala Artazara.

Ia mengambil sesuatu dari lipatan jubahnya.

Sebuah pita kecil berwarna biru gelap.

“Simpan ini.”

Ardashir tidak langsung menerimanya.

Artazara memahami keraguannya.

“Bukan sebagai tanda cinta,” katanya pelan. “Jangan takut. Aku tidak akan memberi beban yang tidak pantas kau bawa.”

Ia menyerahkan pita itu dengan tenang.

“Anggap saja sebagai tanda persahabatan. Atau pengingat bahwa ada seseorang di kota yang berharap kau pulang dari selatan dengan hati yang lebih jelas.”

Ardashir menerima pita itu dengan hormat.

“Terima kasih.”

“Jangan ucapkan dengan wajah seolah aku baru menyerahkan kerajaan.”

“Maaf.”

Artazara tersenyum kecil.

“Dan Ardashir…”

“Ya?”

“Jika kau bertemu Roxana, jangan berbicara seperti prajurit yang sedang membuat laporan.”

Ardashir hampir tertawa.

“Aku tampak seperti itu?”

“Kadang. Kau bisa mengatakan hal paling lembut dengan wajah seperti sedang menghitung jumlah gandum.”

Ardashir tersenyum lebih lepas.

“Aku akan berusaha.”

“Bagus. Perempuan tidak ingin dicintai seperti daftar perbekalan.”

Kali ini Ardashir benar-benar tertawa pelan.

Tawa itu membuat suasana lebih ringan.

Namun setelah tawa itu menghilang, keduanya kembali memahami bahwa perpisahan kecil sedang terjadi.

Artazara mundur satu langkah.

“Pergilah dengan selamat.”

“Aku akan kembali.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Artazara menatapnya.

Ardashir segera menyadari beratnya kata itu.

Artazara tersenyum, tetapi kali ini lebih tenang.

“Kembalilah kepada tugasmu. Tentang hati, biarlah Tuhan yang mengajarimu jalannya.”

Lalu ia pergi.

Ardashir berdiri sendiri di tepi air, memegang pita biru kecil itu.

Ia tahu, benda itu bukan ikatan.

Bukan rayuan.

Bukan tuntutan.

Justru karena itu, ia terasa lebih berat.

Karena datang dari hati yang menjaga kehormatan bahkan saat terluka.


Malam sebelum keberangkatan, Ardashir menyiapkan barangnya.

Tidak banyak.

Jubah perjalanan.
Pisau kecil.
Kantung air.
Catatan tugas.
Benang merah dari pasar.
Kain Roxana.
Pita biru Artazara.

Ia memandang tiga benda terakhir itu lama.

Vardan muncul di belakangnya sambil membawa kantong catatan yang tampak terlalu besar untuk kebahagiaannya.

“Aku membawa catatan kerajaan. Kau membawa kenangan kerajaan dan desa. Kita sama-sama terbebani.”

Ardashir menoleh.

“Kau melihat?”

“Aku punya mata.”

“Dan mulut yang sulit berhenti.”

“Itu juga anugerah.”

Vardan duduk di sampingnya.

Ia melihat kain merah, benang merah, dan pita biru.

“Roxana dan Artazara?”

Ardashir mengangguk.

Vardan tidak tertawa.

Tidak menggoda.

Ia hanya berkata,

“Kau harus berhati-hati agar benda-benda kecil itu tidak menjadi perang besar di dalam kantongmu.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kau baru mulai tahu.”

Ardashir memandangnya.

Vardan menghela napas.

“Dengarkan orang yang sering salah tapi kadang benar ini. Jangan mencoba membuat semua orang bahagia dengan cara menunda kebenaran. Itu seperti menaruh susu di bawah matahari dan berharap tetap segar.”

Ardashir tersenyum kecil.

“Perumpamaanmu selalu memakai makanan.”

“Karena makanan jujur. Kalau basi, ia tidak berpura-pura harum.”

Ardashir tertawa pelan.

Vardan melanjutkan dengan lebih serius,

“Ketika kau bertemu Roxana, bicaralah sebagai Ardashir. Bukan calon prajurit. Bukan murid Rustom. Bukan orang yang dikagumi Artazara. Bicaralah sebagai anak desa yang pernah menggenggam tangannya di bawah pohon delima.”

Ardashir menunduk.

“Dan kalau hatiku masih bingung?”

“Jujurlah bahwa kau bingung. Tapi jangan gunakan kebingungan sebagai kabut untuk membuat orang lain tersesat.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Vardan menepuk bahunya.

“Sudah. Tidurlah. Besok kita berangkat. Aku butuh tenaga untuk mengeluh sepanjang perjalanan.”

“Setidaknya kau punya tujuan.”

“Tujuanku mulia: menjaga semangat rombongan dengan keluhan yang teratur.”


Pagi berikutnya, rombongan berangkat sebelum matahari sepenuhnya naik.

Gerbang selatan kota dibuka.

Dua prajurit senior berada di depan. Di belakang mereka juru catat membawa kotak kayu berisi lempengan catatan. Seorang ahli saluran air bernama Dastan menunggang keledai abu-abu dengan alat ukur sederhana di samping pelananya. Ardashir dan Vardan berada di tengah rombongan.

Vardan menatap keledai Dastan.

“Aku iri.”

Dastan, lelaki kurus berwajah tenang, menoleh.

“Kepada keledaiku?”

“Ya. Ia berjalan pelan, tidak peduli kehormatan, dan semua orang memakluminya.”

Dastan mengelus leher keledainya.

“Namanya Barzin. Ia lebih cerdas daripada banyak orang yang pernah kukenal.”

Vardan mengangguk serius.

“Aku merasa tersaingi.”

Ardashir tertawa.

Perjalanan dimulai dengan ringan.

Namun semakin jauh mereka meninggalkan kota, hati Ardashir semakin sunyi.

Jalan kerajaan membentang di depan mereka.

Di beberapa bagian, batu-batu besar disusun rapi. Di sisi jalan berdiri penanda jarak. Beberapa penanda sudah aus, tetapi lambang kerajaan masih terlihat.

Dastan menjelaskan sambil berjalan,

“Penanda jarak itu penting. Kurir menghitung waktu, pengawal menghitung persediaan, dan juru catat menghitung keterlambatan.”

Vardan mengangkat tangan.

“Apakah ada penanda jarak untuk mengetahui kapan seseorang mulai lapar?”

Dastan menjawab tenang,

“Untukmu, mungkin setiap sepuluh langkah.”

Vardan menatap Ardashir.

“Aku suka orang ini. Ia menghina dengan lembut.”

Ardashir tersenyum.

Rombongan berhenti di pos pertama menjelang siang.

Di sana ada sumur, kandang kecil, tempat berteduh, dan gudang batu sederhana. Penjaga pos mencatat kedatangan mereka di atas papan tanah liat basah, lalu menekan segel kecil sebagai tanda.

Ardashir memperhatikan proses itu.

Ia kembali teringat rumah arsip kota.

Segala sesuatu dicatat.

Bahkan perjalanan kecil ini.

Seolah Persia berkata kepada dirinya sendiri: jangan lupa.


Pada hari kedua, mereka tiba di jembatan batu yang dilaporkan rusak.

Air sungai di bawahnya tidak besar, tetapi cukup kuat mengikis bagian tepi. Beberapa batu penyangga bergeser. Dastan turun dari keledainya, memeriksa aliran air, lalu meletakkan tongkat ukur di beberapa titik.

“Kalau dibiarkan sampai musim hujan berikutnya, bagian ini bisa runtuh,” katanya.

Juru catat segera mencatat.

Vardan membungkuk melihat air.

“Menurutku juga rusak.”

Ardashir menoleh.

“Kau paham jembatan?”

“Tidak. Tapi kalau orang pintar berkata rusak, aku setuju agar tampak cerdas.”

Dastan tersenyum tipis.

“Strategi yang sering berhasil di istana.”

Semua tertawa kecil.

Ardashir membantu mengangkat beberapa batu kecil untuk membuat tanda sementara. Ia menyadari bahwa membangun kerajaan bukan hanya membuat sesuatu yang megah, tetapi juga memperbaiki bagian kecil sebelum hancur.

Jembatan.

Saluran air.

Hubungan manusia.

Semuanya bisa rusak perlahan jika retakan kecil diabaikan terlalu lama.

Ia memikirkan Roxana.

Ia berharap surat keduanya sampai sebelum dirinya tiba, agar pertemuan nanti tidak berdiri di atas kesunyian yang terlalu panjang.


Pada sore hari ketiga, bentuk tanah mulai terasa akrab.

Bukit rendah di kejauhan.
Padang yang lebih terbuka.
Aroma rumput kering.
Angin yang membawa debu halus dari ladang.

Ardashir mengenali semuanya.

Tubuhnya seperti mengingat lebih cepat daripada pikirannya.

Vardan memperhatikan wajahnya.

“Kita dekat?”

Ardashir mengangguk.

“Ya.”

“Seberapa dekat?”

“Jika melewati bukit itu, kita bisa melihat lembah desaku.”

Vardan menjadi lebih tenang.

“Kau siap?”

Ardashir tidak menjawab langsung.

Siap.

Kata itu terlalu sederhana untuk hati yang berbulan-bulan belajar rindu, takut, cinta, dan tanggung jawab.

“Aku tidak tahu,” jawabnya akhirnya.

Vardan mengangguk.

“Itu jawaban yang lebih jujur daripada ‘ya’.”


Di desa, hari itu berjalan seperti biasa bagi semua orang, kecuali Roxana.

Surat kedua Ardashir telah sampai sehari sebelumnya.

Pedagang minyak yang membawanya tiba ketika matahari hampir tenggelam. Kali ini Roxana tidak membuka surat di depan siapa pun. Ia membawanya ke bawah pohon delima, duduk di tempat biasa, lalu membaca perlahan.

Ia membaca kalimat itu berkali-kali:

Aku mencintaimu.

Tiga kata itu tidak panjang.

Tetapi bagi Roxana, seperti hujan yang akhirnya turun setelah langit terlalu lama menggantung awan.

Ia menangis lama.

Bukan tangis putus asa.

Bukan tangis marah.

Melainkan tangis seorang perempuan yang akhirnya mendengar dengan jelas apa yang selama ini hanya ia tebak dari ingatan.

Namun surat itu juga tidak memberi janji mudah.

Ardashir jujur.

Ia belum bisa pulang.

Ia belum tahu kapan akan kembali.

Ia tidak ingin mengikat Roxana dengan kata-kata yang tidak bisa ia tepati.

Roxana menghormati itu.

Tetapi kejujuran juga membawa beban baru.

Sebab kini ia tahu Ardashir mencintainya.

Dan pada saat yang sama, keluarga Mehrdad telah datang dengan niat baik.

Malam itu Roxana berbicara kepada ayah dan ibunya.

“Aku ingin waktu,” katanya.

Ayahnya mengangguk.

“Kau akan mendapatkannya.”

Ibunya menggenggam tangannya.

“Dan hatimu?”

Roxana menjawab pelan,

“Hatiku sudah menjawab. Hanya hidup yang belum memberi jalan.”

Ayahnya menatapnya lama.

“Kalau begitu, kita tidak akan tergesa-gesa menerima pembicaraan apa pun.”

Roxana menunduk, menahan air mata.

“Terima kasih, Ayah.”

Ayahnya berkata dengan suara rendah,

“Anak perempuan bukan gandum yang bisa dipindahkan dari satu lumbung ke lumbung lain. Kau manusia. Hatimu harus didengar.”

Kalimat itu membuat Roxana menangis lagi.

Di luar rumah, pohon delima bergerak pelan diterpa angin.

Seolah ikut menyimpan keputusan itu.


Menjelang sore hari ketiga, Roxana pergi ke saluran air bersama ayahnya.

Mereka memeriksa sekat kecil yang tersumbat lumpur.

“Kalau dibiarkan, air akan meluap ke sisi ini,” kata ayahnya.

Roxana mengangkat ujung pakaiannya sedikit agar tidak terkena lumpur.

“Jadi harus dibersihkan sebelum malam?”

“Ya.”

Mereka bekerja bersama beberapa warga.

Tetua desa mengeluh bahwa pinggangnya sudah terlalu tua untuk membungkuk, tetapi tetap mengatur pekerjaan dari pinggir saluran.

“Yang muda bekerja, yang tua memberi nasihat,” katanya.

Salah satu pemuda desa menyahut, “Tetua, sejak tadi nasihatmu lebih banyak daripada lumpurnya.”

Tetua itu mendengus.

“Karena lumpur tidak bisa bicara, maka aku mewakilinya.”

Beberapa orang tertawa.

Roxana ikut tersenyum.

Humor desa selalu sederhana, tetapi membuat pekerjaan berat terasa lebih ringan.

Saat itulah seorang anak kecil berlari dari arah bukit.

“Ada rombongan kerajaan!”

Semua orang berhenti.

Ayah Roxana menoleh ke arah jalan.

“Dari utara?”

“Ya! Ada kuda, ada prajurit, ada orang membawa catatan!”

Roxana merasakan dadanya bergetar.

Utara.

Rombongan kerajaan.

Kuda.

Ia tidak berani berharap.

Tetapi harapan kadang tumbuh bahkan sebelum diizinkan.

Ia berdiri di tepi saluran air, tangannya masih basah oleh lumpur.

Dari kejauhan, di atas jalan tanah yang menurun dari bukit, beberapa penunggang mulai terlihat.

Satu kuda hitam berjalan di tengah rombongan.

Roxana tidak bergerak.

Dunia di sekitarnya menjadi sangat pelan.

Suara air mengecil.
Suara orang-orang menjauh.
Angin terasa berhenti di antara daun.

Kuda hitam itu semakin dekat.

Dan di atasnya, seorang pemuda duduk dengan tubuh lebih tegap daripada yang ia ingat.

Wajahnya lebih dewasa.
Kulitnya lebih gelap oleh matahari.
Bahunya lebih kuat.
Matanya tetap sama.

Ardashir.

Roxana memegang ujung selendangnya.

Surat kedua masih tersimpan di balik pakaiannya, dekat dada.

Ardashir melihatnya dari kejauhan.

Di tepi saluran air.

Dengan tangan yang masih terkena lumpur.

Dengan wajah yang terkejut, bahagia, takut, dan tidak percaya sekaligus.

Kuda Ardashir melambat.

Vardan, yang berada di belakangnya, berbisik cukup pelan namun masih terdengar,

“Kalau kau jatuh dari kuda karena terlalu banyak memandang, aku akan pura-pura tidak mengenalmu.”

Ardashir tidak menjawab.

Ia turun dari kuda sebelum rombongan benar-benar berhenti.

Rustom tidak ada di sana untuk meneriakinya.

Namun ia tetap menahan diri.

Ia tidak berlari.

Roxana juga tidak berlari.

Mereka berjalan mendekat perlahan, seperti dua orang yang takut gerakan terlalu cepat akan membuat mimpi itu pecah.

Jarak di antara mereka menyempit.

Beberapa warga desa mulai berbisik, tetapi ayah Roxana mengangkat tangan kecil, memberi tanda agar semua orang menjaga kesopanan.

Ardashir berhenti beberapa langkah di depan Roxana.

Ia menunduk.

Bukan seperti prajurit kepada bangsawan.

Bukan seperti orang asing kepada gadis desa.

Tetapi seperti seseorang yang pulang kepada hal yang selama ini ia jaga dalam doa.

“Roxana,” katanya pelan.

Roxana menatapnya.

Suaranya hampir tidak keluar.

“Ardashir.”

Hanya dua nama.

Tetapi di antara dua nama itu, ada berbulan-bulan rindu, surat yang terlambat, air mata yang disembunyikan, dan doa yang berjalan lebih jauh daripada kuda.

Ardashir melihat tangan Roxana yang berlumpur.

Tanpa berpikir terlalu lama, ia tersenyum kecil.

“Kau sedang bekerja.”

Roxana tertawa pelan, meski matanya basah.

“Dan kau datang seperti pejabat kerajaan.”

Ardashir menoleh ke jubah perjalanannya yang berdebu.

“Pejabat kerajaan biasanya lebih bersih.”

“Benar. Kau lebih mirip orang yang kalah berkelahi dengan jalan.”

Dari belakang, Vardan langsung berkata kepada Dastan,

“Aku suka gadis ini. Ia berbicara benar.”

Ardashir menahan tawa.

Roxana mendengar itu dan tersenyum malu.

Ketegangan yang hampir membuat napas mereka patah sedikit mencair.

Namun setelah tawa kecil itu, mata mereka kembali bertemu.

Ardashir berkata pelan,

“Suratku sampai?”

Roxana mengangguk.

“Sampai.”

“Aku takut terlambat.”

Roxana menatapnya lama.

“Mungkin terlambat. Tapi tidak terlalu terlambat.”

Kalimat itu membuat dada Ardashir sesak.

Ia ingin mengatakan banyak hal.

Tentang kota.
Tentang Artazara.
Tentang tugas.
Tentang rasa takut.
Tentang bagaimana ia hampir tersesat oleh diamnya sendiri.

Tetapi tidak di tepi saluran air.

Tidak di depan banyak orang.

Tidak ketika rombongan masih membawa tugas kerajaan.

Maka ia hanya berkata,

“Aku perlu memeriksa saluran air ini bersama rombongan. Setelah itu… bolehkah aku berbicara denganmu di bawah pohon delima?”

Roxana menatap ke arah pohon yang berdiri tidak jauh dari rumahnya.

Pohon itu kini berbuah kecil.

Belum matang sepenuhnya.

Namun sudah merah pada beberapa sisi.

Seperti cinta yang telah lama tumbuh.

“Boleh,” jawabnya pelan.

Ardashir mengangguk.

Lalu ia mundur satu langkah, menjaga kesopanan.

Namun sebelum ia berbalik, Roxana berkata,

“Ardashir.”

Ia menoleh.

Roxana tersenyum, kali ini lebih jelas.

“Selamat pulang.”

Dua kata itu menghantam hati Ardashir lebih kuat daripada semua latihan Rustom.

Selamat pulang.

Ia telah melewati jalan kerajaan, pos kurir, menara api, pasar kota, arsip, peta, gudang, dan godaan dunia besar.

Namun ternyata pulang bukan ketika kaki tiba di tanah lama.

Pulang adalah ketika seseorang yang kau rindukan masih mengenal namamu dengan cara yang membuat dunia terasa cukup.

Ardashir menunduk pelan.

“Terima kasih.”

Di belakangnya, Vardan mengusap mata pura-pura.

Dastan bertanya, “Kau menangis?”

“Tidak,” jawab Vardan cepat. “Debu desa ini sangat emosional.”

Dastan mengangguk serius.

“Debu memang bisa masuk ke mata.”

“Bukan itu maksudku.”

“Aku tahu.”

Keduanya diam sejenak.

Lalu sama-sama tersenyum.


Sore itu, rombongan kerajaan mulai memeriksa saluran air desa.

Dastan memuji sistem pembagian air dengan mangkuk berlubang kecil.

“Sederhana, tetapi cerdas,” katanya kepada tetua desa.

Tetua langsung mengangkat dagu.

“Tentu. Kami mungkin tidak punya istana, tetapi kami punya pinggang yang sakit karena berpikir.”

Vardan berbisik kepada Ardashir,

“Aku merasa menemukan guruku.”

Ardashir tersenyum.

Namun pikirannya terus kembali kepada satu tempat.

Pohon delima.

Ketika matahari mulai turun, tugas pemeriksaan hari itu selesai sementara. Rombongan akan bermalam di desa sebelum melanjutkan pemeriksaan esok pagi.

Ardashir meminta izin kepada prajurit senior untuk menemui keluarganya dan berbicara dengan Roxana di tempat terbuka dekat pohon.

Izin diberikan.

Dengan syarat tetap menjaga waktu dan kesopanan.

Ardashir berjalan menuju pohon delima.

Langit mulai jingga.

Di bawah pohon itu, Roxana sudah menunggu.

Seperti dulu.

Tetapi tidak lagi sama.

Ia bukan gadis kecil yang hanya tahu menunggu.

Dan Ardashir bukan lagi anak peternak kuda yang belum mengenal dunia besar.

Mereka berdiri berhadapan di bawah cabang-cabang delima.

Di antara buah-buah muda, angin sore bergerak pelan.

Ardashir menarik napas.

Ia tahu percakapan yang akan datang tidak mudah.

Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak ingin lari ke dalam diam.

Roxana menatapnya dengan lembut.

“Banyak yang harus kau ceritakan.”

Ardashir mengangguk.

“Ya.”

“Dan banyak yang harus kudengar?”

“Ya.”

Roxana tersenyum kecil.

“Kalau begitu duduklah. Jangan seperti prajurit yang sedang menunggu perintah.”

Ardashir tertawa pelan.

“Artazara mengatakan hal yang hampir sama.”

Nama itu keluar tanpa ia rencanakan.

Roxana menangkapnya.

Matanya berubah sedikit.

Tidak marah.

Tidak menuduh.

Hanya tenang, tetapi lebih dalam.

“Artazara?” tanyanya.

Ardashir diam sesaat.

Lalu ia duduk di bawah pohon delima.

Ia tahu, jalan pulang tidak selesai ketika ia tiba.

Jalan pulang baru benar-benar dimulai ketika ia berani berkata jujur.

Maka di bawah langit senja, di tempat janji masa kecil pernah tumbuh, Ardashir mulai menceritakan dunia yang telah mengubahnya.

Tentang kota.

Tentang latihan.

Tentang air yang berjalan di bawah tanah.

Tentang peta yang membuat jarak berbicara.

Tentang menara api.

Tentang surat yang terlalu lama ia tahan.

Tentang Artazara.

Dan Roxana mendengarkan.

Bukan sebagai gadis yang lemah.

Bukan sebagai perempuan yang hanya ingin dipilih.

Tetapi sebagai seseorang yang juga memiliki hati, kehormatan, dan hak untuk mengetahui kebenaran.

Di atas mereka, buah delima muda bergoyang pelan.

Malam belum turun.

Jawaban belum ditemukan.

Tetapi setidaknya, setelah sekian lama, cinta mereka tidak lagi berbicara melalui angin.

Ia duduk di antara mereka.

Jujur.

Gentar.

Dan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar