Jumat, 28 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (21)

 

Bab 21

Pertemuan yang Berubah



Di bawah pohon delima itu, senja turun perlahan.

Cahaya matahari yang hampir tenggelam menyentuh buah-buah muda di antara daun, membuatnya tampak seperti lentera kecil yang belum sepenuhnya menyala.

Ardashir duduk berhadapan dengan Roxana.

Dulu, di tempat yang sama, mereka sering duduk tanpa memikirkan apa pun selain angin, kuda, dan permainan masa kecil. Dulu diam di antara mereka terasa ringan. Diam itu seperti tanah tempat mereka berpijak: biasa, dekat, dan tidak perlu dijelaskan.

Tetapi sore itu, diam terasa berbeda.

Ada banyak hal yang berdiri di antara mereka.

Kota.
Jarak.
Surat.
Tugas.
Mehrdad.
Artazara.

Dan waktu.

Waktu yang diam-diam telah mengubah dua anak desa menjadi dua manusia dewasa yang harus belajar berbicara dengan lebih jujur.

Roxana memandang Ardashir cukup lama.

“Kau menyebut nama Artazara,” katanya pelan.

Ardashir mengangguk.

“Ya.”

“Siapa dia?”

Pertanyaan itu tidak tajam.

Tidak menuduh.

Tetapi justru karena tenang, Ardashir tahu ia harus menjawab dengan seluruh kejujuran yang ia punya.

“Ia putri Jenderal Artaban,” kata Ardashir. “Aku bertemu dengannya di kota. Awalnya hanya sesekali di taman istana dan ruang latihan.”

Roxana mendengarkan.

Ardashir melanjutkan,

“Ia berbeda dari perempuan istana yang kubayangkan. Ia memahami peta, catatan pasukan, jalur air, pos kurir, dan banyak hal yang bahkan para prajurit muda belum tentu mengerti.”

Roxana menunduk sedikit.

“Dia cerdas.”

“Sangat.”

“Cantik?”

Ardashir terdiam.

Roxana tersenyum tipis, tetapi matanya tidak sepenuhnya tersenyum.

“Kau boleh menjawab jujur.”

Ardashir menarik napas pelan.

“Ya. Ia cantik.”

Ada hening sebentar.

Daun delima bergerak diterpa angin.

Roxana menatap tangannya sendiri.

“Aku senang kau tidak berbohong.”

“Aku tidak ingin berbohong padamu.”

“Apakah ia mencintaimu?”

Pertanyaan itu membuat dada Ardashir terasa berat.

Ia memandang Roxana.

“Ia mengatakan bahwa ia menyukaiku.”

Roxana menutup mata sejenak.

Bukan karena marah.

Melainkan seperti seseorang yang perlu memberi ruang kepada hatinya agar tidak bereaksi terlalu cepat.

“Dan kau?”

“Aku menghormatinya.”

“Itu bukan jawaban yang kutanyakan.”

Ardashir menunduk.

Ia tahu.

Roxana berhak mendapat jawaban yang tidak bersembunyi.

“Aku kagum kepadanya,” katanya pelan. “Aku merasa dekat dengannya karena ia banyak membantuku memahami dunia baru di kota. Tapi…”

Ia berhenti.

Roxana menatapnya.

“Tapi?”

“Tapi ketika aku menulis surat, namamu yang kutulis. Ketika aku melihat peta, desamu yang kucari. Ketika aku belajar tentang jalan, yang kupikirkan adalah jalan pulang.”

Mata Roxana mulai basah, tetapi ia tetap tenang.

“Ardashir, aku bukan batu di tepi jalan. Aku bisa terluka.”

“Aku tahu.”

“Dan aku tidak ingin menjadi perempuan yang hanya diberi kata-kata indah ketika kau pulang, sementara di kota hatimu berjalan ke arah lain.”

“Aku tahu.”

“Kau benar-benar tahu?”

Ardashir terdiam.

Pertanyaan itu lebih berat daripada semua perintah Rustom.

Sebab ia mungkin tahu secara pikiran, tetapi belum tentu sepenuhnya memahami dengan hati.

Roxana menarik napas.

“Aku membaca suratmu berkali-kali. Aku percaya kau mencintaiku. Tapi aku juga harus percaya bahwa kau cukup jujur untuk mengatakan kalau suatu hari cintamu berubah.”

Ardashir mengangkat wajah.

“Cintaku tidak berubah.”

“Sekarang mungkin tidak.”

Kalimat itu membuat Ardashir diam.

Roxana melanjutkan,

“Kota mengubah orang. Dunia besar mengubah orang. Perempuan yang cerdas dan baik juga bisa mengubah cara seseorang melihat hidup.”

Ia tersenyum lemah.

“Aku tidak ingin membenci Artazara. Dari ceritamu, ia bukan perempuan yang buruk.”

“Tidak. Ia sangat menjaga kehormatan.”

“Justru itu yang membuatnya sulit.”

Ardashir menatap Roxana.

Roxana berkata pelan,

“Kalau dia buruk, aku bisa marah kepadanya. Kalau dia licik, aku bisa menyalahkannya. Tapi kalau dia baik, maka aku harus menghadapi kenyataan bahwa hatimu diuji bukan oleh keburukan, melainkan oleh sesuatu yang juga indah.”

Ardashir merasa kata-kata Roxana masuk sangat dalam.

Ia teringat Artazara yang berkata hampir sama tentang Mehrdad.

Takdir sering lebih rumit ketika semua orang berusaha menjadi baik.

Roxana memandang ke arah saluran air yang mengalir tidak jauh dari pohon.

“Di desa, air harus dibagi dengan adil. Kalau satu ladang mengambil terlalu banyak, ladang lain kering. Tapi hati manusia tidak sesederhana saluran air, Ardashir.”

“Aku tidak ingin membagi hatiku.”

“Kalau begitu jagalah sebelum ia terbagi.”

Kalimat itu lembut.

Tetapi tegas.

Ardashir menunduk.

Di hadapannya, Roxana bukan lagi gadis kecil yang hanya menunggu di bawah pohon delima.

Ia telah menjadi perempuan yang mencintai dengan dalam, tetapi tidak ingin kehilangan kehormatannya.

Ardashir merasa malu kepada dirinya sendiri.

Bukan karena ia telah berkhianat.

Ia tidak berkhianat.

Tetapi ia sadar, kadang seseorang bisa terlalu lama berdiri di tepi bahaya sambil berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia belum jatuh.

“Aku akan menjaga itu,” kata Ardashir.

Roxana memandangnya lama.

“Jangan mengatakannya hanya untuk menenangkanku malam ini.”

“Aku mengatakannya karena aku ingin menjadi laki-laki yang pantas kau percaya.”

Roxana tersenyum kecil.

“Kepercayaan tidak dibangun oleh satu malam.”

“Aku tahu.”

“Bagus,” kata Roxana. “Karena aku tidak ingin kau menjadi pandai bicara setelah tinggal di kota.”

Ardashir terkejut sebentar, lalu tertawa pelan.

Itu tawa pertama yang benar-benar ringan di antara mereka malam itu.

“Aku masih sering dimarahi Rustom,” katanya.

“Berarti masih ada harapan.”

Ardashir tertawa lebih lepas.

Roxana ikut tersenyum.

Dan untuk sesaat, di antara semua percakapan berat itu, mereka menemukan kembali sesuatu yang lama: kehangatan yang tidak perlu dibuat-buat.


Beberapa saat kemudian, Ardashir berkata,

“Aku juga mendengar tentang Mehrdad.”

Roxana menunduk.

“Pedagang itu memberitahumu?”

“Ya.”

“Mehrdad orang baik.”

“Aku mendengarnya.”

“Ia tidak memaksa. Keluarganya juga datang dengan sopan.”

Ardashir mengangguk pelan.

“Aku tidak berhak marah.”

Roxana memandangnya.

“Tidak?”

“Aku pergi berbulan-bulan tanpa kabar. Jika ada orang baik yang datang kepada keluargamu dengan niat baik, aku tidak bisa menyalahkannya.”

Roxana tampak lega sekaligus sedih.

“Aku belum memberi jawaban apa pun.”

“Aku tahu.”

“Ayahku juga tidak memaksa.”

“Ayahmu bijaksana.”

Roxana tersenyum.

“Dia hanya tidak suka melihat anaknya diperlakukan seperti karung gandum.”

Ardashir tertawa kecil.

“Aku harus berterima kasih kepadanya.”

“Kau harus takut kepadanya juga.”

Ardashir menatap rumah Roxana dari kejauhan.

“Aku sudah takut.”

“Kau belum bertemu ibuku setelah tahu aku menangis membaca suratmu.”

Wajah Ardashir berubah.

“Apakah itu lebih menakutkan?”

“Jauh.”

Di kejauhan, Vardan yang pura-pura membantu Dastan memeriksa saluran air menoleh ke arah mereka.

Ia tidak mendengar jelas percakapan itu, tetapi melihat wajah Ardashir.

Lalu ia berbisik kepada Dastan,

“Lihat. Itu wajah prajurit yang baru sadar bahwa ibu gadis lebih menakutkan daripada komandan.”

Dastan mengangguk serius.

“Dalam banyak peradaban, itu benar.”

Vardan menatapnya kagum.

“Kau selalu bisa membuat lelucon terdengar seperti hasil penelitian.”


Malam mulai turun.

Roxana dan Ardashir masih duduk di bawah pohon delima.

Mereka tidak menyelesaikan semua persoalan.

Tidak mungkin.

Ada hal-hal yang membutuhkan waktu.

Tetapi mereka sudah melakukan sesuatu yang penting: membuka pintu kebenaran.

Roxana berkata,

“Aku ingin bertanya satu hal lagi.”

“Tanyakan.”

“Ketika kau kembali ke kota nanti, apakah kau akan tetap bertemu Artazara?”

Ardashir menjawab jujur,

“Mungkin. Aku masih bertugas di sana. Ayahnya jenderal. Ia sering berada di ruang peta atau taman istana.”

Roxana mengangguk.

“Kalau begitu jangan berpura-pura menjauh secara kasar hanya untuk membuktikan sesuatu kepadaku.”

Ardashir terkejut.

“Apa maksudmu?”

“Kalau dia orang baik, hormati dia. Jangan menyakitinya dengan sikap dingin yang dibuat-buat. Tapi jangan juga memberi harapan yang tidak seharusnya.”

Ardashir menatap Roxana dengan rasa kagum yang baru.

“Kau bisa mengatakan itu?”

Roxana tersenyum sedih.

“Tidak mudah. Tapi aku tidak ingin cintaku membuatku menjadi perempuan yang kecil.”

Ardashir hampir tidak tahu harus berkata apa.

Roxana melanjutkan,

“Kalau kau mencintaiku, jaga aku dengan kejujuran. Kalau kau menghormatinya, jaga dia dengan batas. Dan kalau kau ingin menjadi laki-laki terhormat, jaga dirimu dari alasan-alasan yang terdengar indah tetapi sebenarnya hanya kelemahan.”

Ardashir mengangguk pelan.

“Aku akan mengingat itu.”

“Jangan hanya mengingat. Lakukan.”

Ia tersenyum kecil.

“Maaf. Aku mulai terdengar seperti Rustom.”

Ardashir tertawa.

“Rustom tidak pernah seindah ini ketika menegur.”

Pipi Roxana sedikit memerah.

“Sepertinya kota memang membuatmu lebih pandai bicara.”

“Apakah itu buruk?”

“Tergantung dipakai untuk apa.”

Mereka saling memandang.

Kali ini diam di antara mereka tidak lagi seberat sebelumnya.

Masih ada luka.

Masih ada takut.

Tetapi juga ada kedewasaan yang mulai tumbuh, seperti buah delima muda yang belum matang tetapi sudah jelas bentuknya.


Ketika malam benar-benar turun, Ardashir meminta izin untuk menemui ayahnya.

Roxana berdiri.

“Ayahmu pasti menunggu.”

Ardashir menatap jalan menuju rumah lamanya.

“Apakah ia marah karena aku tidak langsung datang?”

“Bahram?” Roxana tersenyum. “Dia mungkin pura-pura tidak menunggu, sambil duduk di depan rumah sejak siang.”

Ardashir tertawa pelan.

“Itu sangat mungkin.”

Mereka berjalan bersama sampai dekat jalan kecil.

Tidak bergandengan tangan.

Tidak terlalu dekat.

Tetapi langkah mereka seirama.

Di ujung jalan, sebelum berpisah, Roxana berkata,

“Ardashir.”

Ia menoleh.

“Aku senang kau pulang.”

Ardashir memandangnya.

“Aku juga.”

“Tapi jangan kira semuanya akan kembali seperti dulu.”

“Aku tahu.”

Roxana tersenyum lembut.

“Bagus. Karena kita bukan anak-anak lagi.”

Ardashir mengangguk.

Lalu ia berkata pelan,

“Tapi pohon delima itu masih sama.”

Roxana melihat ke arah pohon.

“Tidak sepenuhnya. Dulu ia berbunga. Sekarang mulai berbuah.”

Ardashir terdiam.

Roxana melanjutkan,

“Mungkin kita juga begitu.”

Setelah itu ia berjalan kembali ke rumahnya.

Ardashir berdiri beberapa saat, memandang punggungnya yang perlahan menjauh.

Ia merasa rindu yang selama ini ia bawa tidak hilang setelah bertemu.

Rindu itu berubah.

Menjadi lebih nyata.

Lebih hangat.

Tetapi juga lebih menuntut tanggung jawab.


Rumah Bahram tidak banyak berubah.

Kandang kuda masih berada di belakang. Tali-tali kekang tergantung di tempat yang sama. Ember tembaga masih diletakkan dekat pintu. Bau jerami, tanah, dan kulit pelana menyambut Ardashir seperti kenangan yang masih hidup.

Di depan rumah, Bahram duduk di bangku kayu.

Seperti yang diduga Roxana.

Pura-pura tidak menunggu.

Ia sedang membersihkan pisau kecil untuk kuku kuda, meski pekerjaan itu tampaknya sudah selesai sejak lama.

Ardashir berhenti beberapa langkah di depannya.

“Ayah.”

Bahram tidak langsung mengangkat wajah.

“Kudamu tampak lebih terawat daripada pemiliknya.”

Ardashir tersenyum.

“Aku juga rindu Ayah.”

Bahram mengangkat wajah.

Matanya menatap Ardashir lama.

Tidak ada kata besar.

Tidak ada pelukan dramatis.

Lalu ia berdiri dan mendekat.

Tangan tuanya menyentuh bahu Ardashir.

“Kau lebih tinggi.”

“Aku sudah tinggi sebelum pergi.”

“Kau lebih kurus.”

“Latihan berat.”

“Kau lebih gelap.”

“Matahari kota tidak sopan.”

Bahram mengangguk.

“Bagus. Kau masih bisa menjawab seperti anakku.”

Lalu tanpa aba-aba, ia memeluk Ardashir.

Pelukan itu singkat.

Tetapi kuat.

Ardashir menutup mata.

Untuk sesaat, semua kebisingan kota, semua latihan, semua kebingungan hati, semua beban menjadi calon prajurit, terasa runtuh di dalam dada.

Ia pulang.

Benar-benar pulang.

Bahram melepas pelukan dan menatapnya.

“Kau sudah makan?”

Ardashir tertawa kecil.

“Belum.”

“Bagus. Aku tidak tahu harus bicara apa dulu, jadi kita makan saja.”

Dari kejauhan, Vardan yang sedang lewat bersama Dastan melihat adegan itu dan berbisik,

“Para ayah memang luar biasa. Hati mereka bisa meledak, tapi yang keluar tetap pertanyaan tentang makan.”

Dastan menjawab,

“Itu teknologi keluarga yang paling tua.”

Vardan mengangguk kagum.

“Aku akan mencatatnya.”


Malam itu, Ardashir makan bersama Bahram di rumah lamanya.

Roti hangat.
Keju kambing.
Kurma.
Susu.
Dan sedikit daging yang disimpan Bahram untuk hari istimewa, meski ia menolak mengakui bahwa hari itu istimewa.

“Kebetulan ada,” katanya.

Ardashir tersenyum.

“Daging tidak pernah kebetulan di rumah ini.”

Bahram tidak menjawab.

Mereka makan cukup lama dalam diam.

Lalu Bahram bertanya,

“Kau sudah bertemu Roxana?”

“Sudah.”

“Bagus.”

Diam lagi.

“Ayah tidak bertanya apa pun?”

Bahram mengunyah pelan.

“Kalau kau ingin bercerita, kau akan bercerita.”

Ardashir menatap ayahnya.

Dulu ia mengira ayahnya diam karena tidak tahu harus berkata apa.

Kini ia mulai memahami: diam Bahram adalah ruang.

Ruang yang diberikan agar orang lain tidak merasa didorong.

“Aku mencintainya,” kata Ardashir pelan.

Bahram mengangguk.

“Aku tahu.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kau marah ketika kambing tetangga hampir memakan kain tenunnya.”

Ardashir terkejut.

“Itu sudah lama sekali.”

“Ya. Kau lebih mudah dibaca daripada kuda muda.”

Ardashir tertawa malu.

Lalu wajahnya kembali serius.

“Ada perempuan lain di kota.”

Bahram meletakkan roti.

Ia tidak tampak terkejut.

“Perempuan baik?”

“Ya.”

“Dia mencintaimu?”

“Dia mengaku menyukaiku.”

“Kau mencintainya?”

Ardashir diam.

Bahram menunggu.

“Aku menghormatinya. Aku kagum kepadanya. Tapi hatiku masih kepada Roxana.”

Bahram mengangguk pelan.

“Kalau begitu jangan bermain-main dengan kata ‘kagum’ sampai ia menyamar menjadi sesuatu yang lain.”

Ardashir menunduk.

“Aku tahu.”

“Belum tentu. Anak muda sering mengira mengetahui bahaya sama dengan sudah selamat dari bahaya.”

Kalimat itu mengingatkannya pada Rustom, Artazara, Roxana, dan Vardan sekaligus.

Sepertinya semua orang baik dalam hidupnya sedang mengatakan hal yang sama dengan bahasa berbeda.

Bahram melanjutkan,

“Perempuan yang baik bukan tempat untuk menguji kebingungan laki-laki.”

Ardashir merasa kalimat itu menusuk, tetapi benar.

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Jangan memberi harapan yang tidak akan kau rawat. Jangan memberi jarak yang kejam hanya agar kau tampak kuat. Dan jangan membuat perempuan saling menanggung akibat dari ketidakjelasanmu.”

Ardashir menatap ayahnya.

“Kalimat Ayah lebih keras daripada Rustom.”

“Rustom melatih tubuhmu. Aku mengenal kepalamu sejak kosong.”

Ardashir tertawa.

Bahram akhirnya tersenyum kecil.

Namun kemudian ia berkata lebih lembut,

“Ardashir, menjadi laki-laki bukan berarti tidak pernah bimbang. Menjadi laki-laki berarti tidak membiarkan kebimbanganmu merusak orang yang mempercayaimu.”

Ardashir menyimpan kalimat itu dalam-dalam.

Malam itu, ia merasa bukan hanya kembali kepada rumah.

Ia kembali kepada akar.


Keesokan paginya, pekerjaan pemeriksaan saluran air dimulai.

Dastan memeriksa aliran utama dengan teliti. Ia menggunakan tali ukur, tongkat bertanda, dan mangkuk kecil untuk melihat kecepatan air.

Tetua desa berdiri di sampingnya dengan tangan di pinggang.

“Menurutmu saluran kami buruk?”

Dastan menjawab tenang,

“Tidak buruk. Hanya terlalu banyak lumpur di belokan.”

Tetua mengangguk.

“Itu karena anak-anak muda sekarang lebih suka bicara cinta daripada membersihkan saluran.”

Vardan, yang sedang membawa keranjang lumpur, langsung menoleh.

“Jangan melihat ke arahku, Tetua. Aku bahkan belum punya kisah cinta yang layak merusak saluran.”

Tetua menatapnya.

“Dengan mulut seperti itu, aku paham mengapa.”

Beberapa orang tertawa.

Vardan memegang dadanya.

“Aku datang jauh dari kota untuk diserang oleh kebijaksanaan desa.”

Ardashir tertawa sambil membantu mengangkat batu.

Roxana juga berada di sana, membawa air untuk para pekerja. Ketika ia memberikan kendi kepada Ardashir, tangan mereka hampir bersentuhan.

Hampir.

Tetapi tidak.

Mereka saling memandang sebentar.

Di antara mereka ada kesadaran baru: kedekatan tidak perlu terburu-buru agar terasa dalam.

Vardan melihat dari jauh dan berbisik kepada Dastan,

“Lihat. Mereka bahkan bisa membuat kendi air tampak seperti puisi.”

Dastan mengangguk.

“Air memang sering menjadi puisi jika orang kehausan.”

“Aku tidak yakin kita membicarakan haus yang sama.”

“Mungkin tidak.”


Menjelang siang, Mehrdad datang ke saluran air.

Ia membawa beberapa pekerja dari lumbung kecil untuk membantu mengangkat batu dan membersihkan belokan saluran.

Ketika Ardashir melihatnya, tubuhnya menegang sedikit.

Roxana menyadari itu.

Mehrdad mendekat dengan sikap tenang.

Ia menunduk sopan kepada ayah Roxana, kepada tetua desa, lalu kepada rombongan kerajaan.

Kemudian matanya bertemu dengan Ardashir.

“Kau Ardashir,” katanya.

“Ya.”

“Aku Mehrdad.”

“Aku tahu.”

Ada hening sesaat.

Bukan permusuhan.

Tetapi dua laki-laki yang sama-sama memahami bahwa mereka berdiri di tempat yang tidak sederhana.

Mehrdad mengulurkan tangan.

“Aku senang akhirnya bertemu denganmu.”

Ardashir menatap tangan itu.

Lalu menerimanya.

Genggaman mereka kuat.

Tidak saling menantang.

Tidak saling merendahkan.

Tetapi juga tidak kosong.

“Aku juga,” kata Ardashir.

Mehrdad melihat saluran air.

“Kami datang membantu. Jika air tidak lancar, lumbung juga rugi.”

Tetua desa menyahut,

“Bagus. Setidaknya ada orang yang datang karena air, bukan karena ingin terlihat gagah.”

Vardan berbisik, “Aku merasa tertuduh meski tidak gagah.”

Mehrdad tersenyum mendengar itu.

Ketegangan sedikit mencair.

Roxana memandang tiga pemuda itu: Ardashir, Mehrdad, dan Vardan.

Entah mengapa ia merasa, hidup kadang tidak hanya menguji cinta dengan air mata, tetapi juga dengan pertemuan sopan yang jauh lebih sulit daripada pertengkaran.

Jika Mehrdad kasar, segalanya akan mudah.

Tetapi ia tidak kasar.

Ia membantu.

Ia menjaga sikap.

Ia menghormati.

Dan itu membuat Roxana semakin sadar: pilihan tidak boleh dibuat hanya karena satu orang buruk dan yang lain baik.

Kadang pilihan harus dibuat di antara dua kebaikan yang berbeda.


Hari itu mereka bekerja bersama sampai matahari condong.

Ardashir dan Mehrdad beberapa kali mengangkat batu yang sama. Mereka berbicara sedikit.

Tentang saluran air.
Tentang jalan yang rusak.
Tentang panen.
Tentang kuda.

Mehrdad ternyata cukup memahami pengelolaan gandum dan lumbung. Ia tahu berapa lama gandum bisa disimpan, bagaimana mencegah kelembapan, dan mengapa catatan panen penting agar pajak tidak memberatkan keluarga kecil.

Ardashir mendengarkan dengan hormat.

Ia tidak ingin menyukai Mehrdad.

Tetapi ia sulit untuk tidak menghormatinya.

Pada satu titik, Mehrdad berkata,

“Roxana banyak membantu tetua mencatat giliran air.”

“Aku tahu ia cerdas,” kata Ardashir.

“Ya. Dan sabar.”

Ardashir menatapnya.

Mehrdad melanjutkan dengan suara tenang,

“Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu tidak nyaman. Tapi karena kau baru pulang, kau perlu tahu: ia menjaga dirinya dengan baik selama kau pergi.”

Ardashir merasa kalimat itu masuk dalam.

“Terima kasih sudah mengatakan itu.”

Mehrdad mengangguk.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku ingin semuanya tetap terang.”

Ardashir memandangnya.

“Aku juga.”

Keduanya kembali mengangkat batu.

Tidak ada persahabatan mendadak.

Tetapi ada rasa hormat yang mulai diletakkan di tempatnya.

Dan kadang, dalam hidup, itu sudah sangat besar.


Sore menjelang ketika saluran air akhirnya dibersihkan.

Air mengalir lebih lancar melewati belokan.

Anak-anak kecil bersorak ketika aliran yang sempat tertahan kembali bergerak.

Tetua desa mengangkat mangkuk tanah liat berlubang kecil.

“Lihat! Air sudah berjalan seperti pemuda yang baru jatuh cinta—terlalu cepat kalau tidak diawasi!”

Semua tertawa.

Vardan langsung menepuk tangan.

“Tetua, izinkan aku belajar kepadamu.”

“Belajar apa?”

“Cara menghina orang sambil terdengar bijaksana.”

Tetua menatapnya dari atas ke bawah.

“Kau tidak perlu belajar. Kau hanya perlu hidup lebih lama agar orang mengira ucapanmu mengandung makna.”

Vardan memandang Ardashir.

“Aku telah menemukan masa depanku.”

Roxana tertawa kecil.

Ardashir melihatnya tertawa.

Dan hatinya terasa hangat.

Tawa Roxana adalah sesuatu yang dulu ia kenal. Namun kini, setelah perjalanan panjang, tawa itu terasa lebih berharga.

Karena ia tahu, tawa itu tetap hidup meski ia pernah membuatnya menunggu.


Malam itu, rombongan kerajaan dijamu sederhana oleh warga desa.

Tidak mewah.

Tetapi hangat.

Roti, susu, kurma, keju, sup gandum, dan sedikit daging dibagi bersama. Para prajurit senior duduk bersama tetua desa. Dastan membicarakan saluran air dengan ayah Roxana. Vardan mencoba memuji masakan ibu-ibu desa sampai akhirnya diminta berhenti bicara dan makan saja.

Ardashir duduk tidak jauh dari Bahram.

Roxana duduk bersama ibunya dan beberapa perempuan.

Mehrdad membantu membagikan makanan ke para tamu.

Artazara tidak ada di sana.

Tetapi Ardashir tetap mengingatnya.

Bukan dengan rasa bersalah yang kacau.

Melainkan dengan kesadaran bahwa di kota ada seseorang yang juga sedang berjuang menjaga hatinya.

Ia berdoa diam-diam agar Tuhan menjaga Artazara.

Sebagaimana ia berdoa agar Tuhan menjaga Roxana dari luka yang tidak perlu.

Bahram memperhatikan Ardashir.

“Kau terlalu banyak berpikir.”

“Aku memang sedang banyak berpikir.”

“Makan dulu. Pikiran yang lapar biasanya menjadi terlalu dramatis.”

Ardashir tersenyum.

“Vardan akan sangat setuju.”

Bahram melirik Vardan yang sedang mengambil sup kedua.

“Temanmu itu tampaknya setuju dengan semua makanan.”

“Benar.”

“Teman baik.”

“Karena makan banyak?”

“Karena orang yang bisa membuatmu tertawa ketika hidup berat adalah bekal perjalanan juga.”

Ardashir memandang ayahnya.

Ia mengangguk pelan.

“Ya. Dia teman baik.”


Setelah jamuan selesai, Ardashir kembali berjalan ke bawah pohon delima.

Roxana sudah ada di sana.

Mereka berdiri berdampingan, tidak langsung bicara.

Di kejauhan, suara warga masih terdengar. Api kecil menyala di dekat halaman. Bintang mulai memenuhi langit.

Roxana berkata,

“Kau bertemu Mehrdad.”

“Ya.”

“Bagaimana menurutmu?”

Ardashir tersenyum tipis.

“Aku berharap bisa mengatakan sesuatu yang buruk agar hatiku lebih mudah.”

Roxana menoleh kepadanya.

“Tapi?”

“Tapi ia baik.”

Roxana menghela napas pelan.

“Ya.”

“Dan ia menghormatimu.”

“Ya.”

Ardashir menatap langit.

“Ini membuatku takut.”

“Apa?”

“Bahwa aku tidak hanya harus membuktikan cintaku kepadamu, tetapi juga harus menjadi cukup dewasa untuk menghormati orang lain yang juga menghormatimu.”

Roxana memandangnya.

“Itu bukan hal buruk.”

“Tidak. Tapi tidak mudah.”

“Hal baik memang sering tidak mudah.”

Mereka diam lagi.

Lalu Ardashir berkata,

“Aku harus kembali ke kota setelah tugas selesai.”

“Aku tahu.”

“Mungkin besok atau lusa.”

“Aku tahu.”

“Aku tidak ingin pergi lagi tanpa kejelasan.”

Roxana menunduk.

“Apa yang ingin kau katakan?”

Ardashir menarik napas panjang.

“Bahwa aku mencintaimu. Bukan hanya sebagai kenangan masa kecil. Bukan hanya karena janji lama. Aku mencintaimu sekarang—sebagai perempuan yang kutemui hari ini, yang berani bertanya, berani terluka, dan tetap menjaga kehormatannya.”

Mata Roxana berkaca-kaca.

Ardashir melanjutkan,

“Aku belum bisa memintamu menjadi istriku sekarang. Aku belum punya kepastian tugas, belum punya tempat, belum tahu jalan hidupku setelah pelatihan. Tapi aku ingin meminta satu hal dengan hormat.”

“Apa?”

“Beri aku waktu untuk kembali dengan kepastian. Bukan waktu yang kosong. Aku akan menulis. Aku akan jujur. Aku tidak akan membiarkanmu menunggu dalam gelap seperti dulu.”

Roxana memandangnya lama.

“Aku bisa memberimu waktu,” katanya pelan. “Tapi aku tidak bisa memberimu seluruh hidupku hanya berdasarkan janji.”

“Aku mengerti.”

“Kalau suatu hari kau berubah, katakan.”

“Aku akan katakan.”

“Kalau suatu hari aku tidak kuat lagi, aku juga akan mengatakan.”

Ardashir menutup mata sebentar.

Kalimat itu sakit.

Tetapi ia tahu itu adil.

“Baik,” katanya.

Roxana mengulurkan tangan.

Bukan untuk dipeluk.

Bukan untuk menciptakan adegan yang melampaui batas.

Hanya telapak tangan yang terbuka di antara mereka.

Ardashir memandang tangan itu.

Lalu meletakkan tangannya di atasnya.

Seperti malam sebelum ia pergi dulu.

Namun kali ini berbeda.

Dulu genggaman itu milik dua hati muda yang belum tahu beratnya dunia.

Kini genggaman itu milik dua manusia yang telah melihat bahwa cinta harus ditemani kejujuran agar tidak berubah menjadi luka.

Roxana berkata pelan,

“Kita tidak kembali ke masa lalu.”

Ardashir mengangguk.

“Kita mulai dari sini.”

Di atas mereka, daun delima bergerak lembut.

Dan malam itu, di bawah pohon yang sama, janji lama tidak diulang dengan kata-kata yang sama.

Ia diperbarui.

Lebih dewasa.

Lebih hati-hati.

Lebih gentar.

Tetapi juga lebih benar.


Jauh di kota Persia, pada malam yang sama, Artazara berdiri di balkon rumah ayahnya.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di desa selatan.

Ia tidak tahu bahwa Ardashir sedang duduk di bawah pohon delima bersama Roxana.

Tetapi ia merasakan sesuatu di hatinya.

Semacam sunyi yang lebih luas dari biasanya.

Ia memegang peta kecil yang pernah menunjukkan titik desa Ardashir.

Lalu ia menutupnya perlahan.

“Semoga kau menemukan jawabanmu,” bisiknya.

Pelayan perempuannya berdiri di belakang.

“Nona berkata sesuatu?”

Artazara tersenyum kecil.

“Tidak. Aku hanya sedang belajar melepaskan hal-hal yang belum pernah menjadi milikku.”

Pelayan itu tidak menjawab.

Karena ada kalimat yang tidak perlu disentuh lagi setelah diucapkan.

Di langit kota, bulan menggantung tenang.

Di desa, bulan yang sama menyinari pohon delima.

Dan di antara dua tempat itu, takdir terus berjalan.

Tidak tergesa.

Tidak menjelaskan semua.

Tetapi membawa setiap hati menuju ujian berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar