Rabu, 26 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (22)

 

Bab 22

Dua Dunia yang Sama-sama Memanggil


Pagi di desa selalu memiliki suara yang berbeda dari pagi di kota.

Di kota Persia, pagi datang bersama derap kuda, teriakan penjaga gerbang, suara roda kereta, dan para juru catat yang sudah duduk di depan lempengan tanah liat sebelum matahari benar-benar tinggi.

Tetapi di desa, pagi datang lebih pelan.

Ia datang melalui kokok ayam, bunyi timba menyentuh dinding sumur, langkah perempuan membawa kendi, suara kambing yang meminta makan, dan angin yang bergerak di antara batang gandum.

Ardashir berdiri di depan rumah ayahnya, memandang semua itu.

Dulu, semua pemandangan ini terasa biasa.

Kini, setelah melihat kota kerajaan, taman istana, pos kurir, menara api, rumah arsip, dan gudang perbekalan, desa itu tampak lebih kecil.

Namun anehnya, bukan berarti kurang berarti.

Justru sebaliknya.

Desa itu terasa seperti inti dari sesuatu yang lebih besar.

Di kota, ia belajar bahwa Persia dibangun oleh jalan, air, catatan, kuda, gudang, dan pesan yang bergerak cepat.

Di desa, ia melihat mengapa semua itu penting.

Karena di ujung setiap jalan kerajaan, ada rumah-rumah kecil seperti ini.
Di balik setiap catatan gandum, ada tangan petani yang menanam.
Di balik setiap saluran air, ada keluarga yang berharap ladangnya tidak kering.
Di balik setiap keputusan istana, ada orang-orang sederhana yang hidupnya ikut berubah.

Ardashir menarik napas pelan.

Ia baru memahami sesuatu:

kerajaan besar tidak boleh membuat seseorang lupa kepada desa kecil.

Sebab desa-desa kecil itulah alasan kerajaan harus dijaga.


Hari itu rombongan kerajaan melanjutkan pemeriksaan.

Dastan, ahli saluran air itu, berjalan di sepanjang parit utama bersama tetua desa, ayah Roxana, dan beberapa warga. Di tangannya ada tongkat ukur panjang dengan tanda-tanda kecil. Sesekali ia menancapkan tongkat itu ke dasar saluran, mengukur kedalaman lumpur dan kemiringan air.

Vardan mengikutinya sambil membawa papan catatan.

Wajahnya tampak serius, tetapi terlalu serius untuk dipercaya.

Dastan menoleh.

“Kau mencatat?”

Vardan mengangguk mantap.

“Tentu.”

“Apa yang kau catat?”

Vardan melihat papan di tangannya.

“Air mengalir. Lumpur mengganggu. Tetua banyak bicara.”

Tetua desa langsung menoleh.

“Anak kota, kalau catatanmu dibaca raja, pastikan juga kau tulis bahwa tetua desa menyelamatkan kalian dari kebodohan.”

Vardan segera menambahkan sesuatu.

“Baik. Tetua menyelamatkan kerajaan dari kebodohan.”

Dastan memejamkan mata sebentar.

“Itu bukan format catatan resmi.”

Vardan mengangkat bahu.

“Tapi isinya kuat.”

Ardashir tertawa sambil membantu menggeser batu kecil dari tepi saluran.

Roxana yang membawa kendi air untuk para pekerja juga tersenyum.

Humor sederhana itu membuat pagi terasa lebih ringan.

Namun di balik tawa kecil itu, Ardashir tahu waktu mereka tidak banyak.

Rombongan kerajaan akan selesai memeriksa desa hari itu.

Besok pagi, mereka harus kembali ke kota.

Dan kata kembali kini terasa seperti dua arah yang saling menarik.

Kembali ke kota berarti kembali kepada tugas.
Kembali kepada Rustom.
Kembali kepada Farrokh.
Kembali kepada Artazara.
Kembali kepada dunia besar yang sedang membuka jalan untuk masa depannya.

Tetapi meninggalkan desa berarti meninggalkan Roxana lagi.

Dan kali ini, setelah melihat wajahnya, mendengar suaranya, dan berbicara jujur di bawah pohon delima, perpisahan terasa lebih sulit daripada yang pertama.

Karena dulu ia pergi membawa janji yang masih muda.

Sekarang ia akan pergi membawa cinta yang sudah mengerti rasa sakit.


Menjelang siang, Dastan menemukan penyebab utama masalah air.

Di belokan dekat batu besar, dasar saluran turun terlalu tajam. Air mengikis sisi kanan, membawa lumpur dan membuat aliran tidak merata. Jika dibiarkan, bagian itu bisa melebar dan merusak pembagian air ke ladang bawah.

Dastan berjongkok, menggambar bentuk saluran di tanah.

“Bukan hanya dibersihkan,” katanya. “Belokan ini harus diperkuat. Batu ditata ulang. Dasarnya dibuat lebih landai. Kalau tidak, tiap musim hujan masalahnya kembali.”

Tetua desa mengusap janggutnya.

“Berapa banyak batu?”

“Tidak terlalu banyak. Tapi harus rapi.”

Vardan memandang tumpukan batu di dekat saluran.

“Rapi itu kata yang selalu membuat pekerjaan menjadi lebih lama.”

Dastan menatapnya.

“Kalau kau ingin cepat, lempar semua batu ke air.”

“Apakah itu berhasil?”

“Berhasil membuatku memukulmu dengan tongkat ukur.”

Vardan mengangguk pelan.

“Aku pilih rapi.”

Ardashir tertawa.

Namun setelah itu ia membantu Dastan dan warga menata batu. Mehrdad juga datang bersama beberapa pekerja lumbung. Ia membawa tali, kayu penahan, dan beberapa alat sederhana.

Ardashir memperhatikannya bekerja.

Mehrdad tidak mencoba mengambil perhatian Roxana.

Tidak mencoba menunjukkan bahwa ia lebih penting.

Ia bekerja seperti orang yang memang datang untuk membantu.

Ketika salah satu batu besar sulit digeser, Ardashir dan Mehrdad mengangkatnya bersama.

“Ke kiri sedikit,” kata Mehrdad.

Ardashir mengangguk.

“Sekarang turunkan pelan.”

Batu itu jatuh tepat di tempat yang diinginkan Dastan.

Dastan memeriksa aliran air.

“Bagus.”

Tetua desa mendengus.

“Untung ada orang desa. Kalau hanya orang kota, batu itu mungkin akan diberi pidato dulu.”

Vardan mengangkat tangan.

“Aku tersinggung mewakili kota, tapi setuju.”

Semua tertawa.

Ardashir dan Mehrdad saling memandang sekilas.

Lalu keduanya tersenyum kecil.

Tidak akrab.

Belum.

Tetapi tidak bermusuhan.

Itu sudah cukup.


Saat matahari mulai tinggi, pekerjaan dihentikan sementara.

Orang-orang berteduh di bawah pohon besar dekat saluran. Perempuan desa membagikan roti, susu, dan buah. Roxana membawa kendi air. Ia memberikan minum kepada tetua, Dastan, Vardan, para pekerja, lalu akhirnya kepada Ardashir.

“Terima kasih,” kata Ardashir pelan.

Roxana mengangguk.

Tangan mereka tidak bersentuhan.

Namun di antara mereka ada sesuatu yang bergerak, lebih halus daripada sentuhan.

Vardan, yang duduk tidak jauh, melihat itu dan berbisik kepada Dastan,

“Kalau dua orang bisa berbicara hanya dengan kendi air, aku merasa bahasa manusia terlalu banyak.”

Dastan menjawab sambil makan roti,

“Air memang lebih tua dari bahasa.”

Vardan menatapnya.

“Aku tidak tahu apakah itu bijak atau hanya karena kau sering bicara tentang air.”

“Keduanya mungkin.”

Vardan mengangguk hormat.

“Aku suka gaya hidupmu.”


Setelah makan, Dastan mengajak Ardashir melihat alat pembagi waktu air milik desa.

Mangkuk tanah liat berlubang kecil itu diletakkan di permukaan bejana berisi air. Perlahan air masuk dari lubang halus di dasar mangkuk. Ketika mangkuk tenggelam, giliran satu keluarga selesai.

Dastan memeriksanya dengan kagum.

“Sederhana, tapi tepat untuk kebutuhan desa.”

Tetua desa melipat tangan di dada.

“Kami sudah memakai itu sejak ayah dari ayahku masih muda.”

Dastan mengangguk.

“Prinsipnya sama dengan jam air yang dipakai di beberapa tempat kerajaan. Di sana bentuknya lebih besar dan diberi tanda ukuran. Tetapi dasarnya sama: air mengukur waktu karena ia bergerak dengan sabar.”

Roxana yang berdiri di samping ayahnya mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Jadi alat kecil ini juga bagian dari ilmu besar?”

Dastan menoleh kepadanya.

“Ilmu tidak menjadi kecil hanya karena dipakai di desa.”

Kalimat itu membuat Roxana tersenyum.

Ardashir memandangnya.

Ia tahu Roxana menyukai kalimat itu.

Dan ia pun menyukainya.

Sebab kota sering membuat orang mengira bahwa kecerdasan hanya tinggal di bangunan besar. Padahal desa juga memiliki pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang, dari kebutuhan nyata, dan dari hidup yang dijalani dengan sabar.

Farrokh mungkin akan menyukai alat ini, pikir Ardashir.

Atau ia akan mengeluh karena bentuknya tidak simetris, lalu diam-diam memujinya.


Menjelang sore, semua catatan pemeriksaan selesai.

Juru catat kerajaan menulis laporan di atas lempengan tanah liat basah. Ia mencatat kondisi saluran air, kebutuhan perbaikan batu, perkiraan jumlah pekerja, dan catatan tentang mangkuk pengukur giliran air.

Vardan berdiri di sampingnya.

“Apakah perlu ditulis bahwa tetua desa sangat bangga dengan mangkuknya?”

Juru catat menatapnya datar.

“Tidak.”

“Tetapi itu fakta penting.”

“Bukan fakta administratif.”

Tetua desa yang mendengar itu menyahut,

“Kalau kerajaan tidak mencatat kebanggaan orang tua, jangan heran kalau kerajaan kehilangan kebijaksanaan.”

Juru catat terdiam sejenak.

Vardan langsung menunjuk tetua.

“Nah! Itu harus dicatat.”

Dastan menutup wajah sambil tertawa kecil.

Ardashir merasakan kehangatan yang lama tidak ia rasakan di kota.

Desa ini mungkin kecil.

Tetapi di sini manusia masih bisa tertawa ketika memperbaiki saluran air.

Di kota, segala sesuatu berjalan cepat dan teratur.

Di desa, segala sesuatu berjalan pelan, tetapi memiliki ruang untuk wajah, nama, dan canda.

Dua dunia.

Keduanya baik.

Keduanya memanggil.

Dan Ardashir berdiri di tengahnya.


Malam itu, sebelum rombongan kembali ke kota esok pagi, Bahram mengadakan makan sederhana di halaman rumahnya.

Tidak besar.

Hanya beberapa orang: Ardashir, Vardan, Dastan, Roxana dan orang tuanya, tetua desa, serta beberapa pekerja yang membantu perbaikan saluran.

Mehrdad juga hadir.

Ia datang membawa sekeranjang buah kering dan roti dari keluarganya.

Bahram menerimanya dengan hormat.

“Kau tidak perlu repot.”

Mehrdad tersenyum.

“Ini bukan repot. Ini tanda terima kasih karena saluran air sudah diperbaiki. Lumbung kami juga bergantung pada panen warga.”

Tetua desa mengangguk.

“Anak ini pandai bicara tanpa membuat telinga lelah. Jarang.”

Vardan langsung menatap tetua.

“Apakah itu sindiran kepadaku?”

Tetua mengunyah roti.

“Kalau kau merasa tersindir, berarti hatimu masih hidup.”

Vardan memegang dada.

“Aku akan merindukan desa ini. Serangannya jujur.”

Roxana tertawa kecil.

Ardashir melihat tawa itu.

Lalu ia melihat Mehrdad yang juga tersenyum dengan tenang.

Ada rasa aneh di dada Ardashir.

Bukan benci.

Bukan marah.

Mungkin kesadaran.

Kesadaran bahwa jika ia pergi lagi dan gagal menjaga kejelasan, hidup tidak akan berhenti menunggunya.

Roxana dicintai oleh orang-orang yang baik.

Keluarganya menjaganya.

Desanya menghormatinya.

Dan Mehrdad, meski berada di posisi yang sulit, tidak menjadikan cintanya sebagai tekanan.

Ardashir tahu, ia tidak boleh bermain-main dengan waktu.


Setelah makan, Bahram dan ayah Roxana berbicara di dekat kandang. Dastan berdiskusi dengan tetua tentang kemiringan saluran. Vardan mencoba membantu ibu Roxana membawa piring, tetapi justru hampir menjatuhkan dua mangkuk.

Ibu Roxana mengambil mangkuk itu dari tangannya sambil tersenyum.

“Sudah, Nak. Duduk saja. Bantuanmu membuat kami perlu bantuan baru.”

Vardan menunduk hormat.

“Aku menerima keputusan ini dengan terluka.”

Tetua dari kejauhan berseru,

“Bagus. Setidaknya kali ini kau tidak merusak saluran air!”

Semua tertawa.

Ardashir dan Roxana berjalan pelan menuju pohon delima.

Tidak terlalu jauh dari halaman.

Tetap terlihat.

Tetap sopan.

Namun cukup jauh agar suara mereka menjadi milik mereka berdua.

Di bawah pohon itu, malam terasa lebih lembut.

Buah-buah delima bergoyang pelan diterpa angin.

Roxana berdiri di samping batang pohon.

“Besok kau pergi.”

“Ya.”

“Ke kota.”

“Ya.”

Roxana menatap langit.

“Aku sudah tahu, tapi tetap saja rasanya tidak mudah.”

Ardashir berdiri di sampingnya.

“Aku juga.”

Roxana menoleh.

“Kali ini berbeda dari pertama kali kau pergi.”

“Karena kita sudah tahu bahwa jarak bisa melukai.”

“Dan diam bisa lebih melukai.”

Ardashir mengangguk.

“Aku tidak akan diam seperti dulu.”

Roxana memandangnya dengan serius.

“Jangan berjanji terlalu indah.”

“Aku berjanji akan menulis.”

“Seberapa sering?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi Ardashir tahu jawabannya penting.

“Setiap kali ada rombongan aman ke selatan. Jika tidak bisa sering, aku akan tetap mencari cara yang pantas. Bukan jalur kerajaan untuk urusan pribadi. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menebak-nebak terlalu lama.”

Roxana mengangguk pelan.

“Baik.”

“Aku juga ingin kau menulis jika hatimu berubah. Jika tekanan keluarga berat. Jika Mehrdad…”

Ia berhenti.

Roxana menunggu.

Ardashir melanjutkan,

“Jika Mehrdad menjadi pilihan yang menurutmu lebih membawa kebaikan, katakan kepadaku.”

Wajah Roxana berubah sedih.

“Kau sanggup membaca surat seperti itu?”

Ardashir tersenyum lemah.

“Mungkin tidak. Tapi aku lebih ingin terluka oleh kebenaran daripada ditenangkan oleh kebohongan.”

Roxana menunduk.

“Kalimat itu terlalu kota.”

Ardashir tertawa kecil.

“Mungkin.”

“Tapi benar.”

Mereka diam sebentar.

Lalu Roxana berkata,

“Aku belum memilih Mehrdad.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak ingin membuatnya terluka.”

“Aku tahu.”

“Dia baik.”

“Aku tahu.”

Roxana memandang Ardashir.

“Tapi hatiku masih kepadamu.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Angin malam terasa berhenti sejenak.

Roxana melanjutkan dengan suara lebih pelan,

“Namun aku ingin kau memahami sesuatu. Hatiku kepadamu bukan berarti hidupku berhenti. Aku akan tetap membantu keluargaku. Aku akan tetap belajar mencatat. Aku akan tetap menjaga diriku. Aku tidak ingin menjadi perempuan yang hanya dikenal karena menunggu laki-laki.”

Ardashir menatapnya dengan penuh hormat.

“Dan aku tidak ingin kau menjadi begitu.”

“Bagus.”

“Roxana…”

“Ya?”

“Aku pergi ke kota untuk belajar menjadi prajurit. Tapi di sini, bersamamu, aku belajar menjadi manusia.”

Roxana tersenyum, matanya basah.

“Sekarang kau benar-benar semakin pandai bicara.”

“Apa itu buruk?”

“Tidak. Tapi aku harus berhati-hati agar tidak terlalu mudah percaya hanya karena kalimatmu bagus.”

Ardashir tertawa pelan.

Lalu ia mengeluarkan benang merah yang ia beli di pasar kota.

“Aku membawa ini.”

Roxana melihat gulungan benang kecil itu.

“Benang?”

“Ya. Aku melihatnya di pasar. Warnanya mengingatkanku pada kainmu.”

Ia menyerahkannya.

“Bukan hadiah besar. Bukan janji yang memaksa. Hanya… sesuatu yang kupikir kau mungkin bisa gunakan.”

Roxana menerima benang itu dengan kedua tangan.

Ia menyentuhnya pelan.

“Ini indah.”

“Aku tidak berani membeli gelang.”

Roxana menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena Vardan bilang aku membuat hidup sulit. Tapi kali ini mungkin benar. Aku takut benda yang terlalu besar membawa makna yang belum waktunya.”

Roxana tersenyum lembut.

“Kau benar.”

Ardashir tampak lega.

“Syukurlah.”

“Benang lebih baik.”

“Mengapa?”

Roxana menggulung benang itu di jarinya.

“Karena benang tidak memaksa bentuk. Ia bisa menjadi sulaman, bisa menjadi ikatan, bisa juga disimpan sampai tahu akan dijadikan apa.”

Ardashir memandangnya lama.

“Kau selalu bisa membuat hal kecil terdengar seperti kehidupan.”

“Karena hidup memang sering bersembunyi di hal kecil.”

Kalimat itu mengingatkan Ardashir pada ibunya Roxana.

Mungkin kebijaksanaan memang diwariskan melalui pekerjaan sehari-hari, bukan melalui kitab besar semata.


Sementara itu, tidak jauh dari halaman, Mehrdad berdiri sendiri di dekat pagar rendah.

Ia melihat Ardashir dan Roxana dari jauh.

Tidak mendekat.

Tidak mengintip.

Hanya melihat cukup untuk memahami bahwa ada sesuatu di antara mereka yang tidak mudah dipatahkan.

Ayah Roxana datang berdiri di sampingnya.

“Kau pemuda baik, Mehrdad.”

Mehrdad menunduk.

“Terima kasih.”

“Kebaikan tidak selalu mendapat jawaban yang diinginkan.”

Mehrdad tersenyum tipis.

“Saya mulai belajar itu.”

Ayah Roxana memandang pohon delima.

“Aku tidak akan memaksa anakku. Kepadamu pun aku tidak akan memberi harapan palsu.”

“Saya menghormati itu.”

“Aku tahu.”

Mehrdad menarik napas pelan.

“Saya hanya berharap, apa pun yang terjadi, Roxana tidak terluka terlalu dalam.”

Ayah Roxana menatapnya.

Kalimat itu tulus.

Dan karena tulus, ia terasa lebih berat.

“Kadang orang baik tetap terluka,” kata ayah Roxana.

Mehrdad mengangguk.

“Kalau begitu semoga saya tetap bisa menjadi orang baik setelah terluka.”

Ayah Roxana memandangnya lama.

Lalu menepuk bahunya pelan.

“Itu doa yang dewasa.”


Di kota Persia, pada malam yang sama, Artazara duduk di ruang peta ayahnya.

Jenderal Artaban belum pulang dari pertemuan militer. Ruangan itu sunyi. Peta besar wilayah selatan masih terbuka di meja. Di salah satu titik kecil, Artazara tahu, rombongan Ardashir sedang berada di dekat desa asalnya.

Ia tidak perlu bertanya kepada siapa pun.

Ia sudah menghitung jaraknya.

Jika perjalanan lancar, hari ini mereka tiba.
Jika pemeriksaan singkat, besok atau lusa mereka kembali.
Jika ada kerusakan saluran, mungkin sedikit lebih lama.

Artazara menyentuh titik kecil di peta itu.

Ia membayangkan Ardashir bertemu Roxana.

Membayangkan pohon delima yang sering disebut dalam surat-surat yang tidak pernah ia baca, tetapi seolah ia kenal dari cara Ardashir memandang selatan.

Ada sakit kecil di dadanya.

Namun ia tidak membiarkan sakit itu berubah menjadi doa yang buruk.

Ia mengambil gulungan kecil dan menulis:

Ada cinta yang datang seperti api,
ingin menerangi seluruh ruangan.

Tetapi jika ruangan itu milik orang lain,
api harus belajar menjadi bintang:
jauh, kecil,
namun tetap menjaga cahayanya sendiri.

Ia meletakkan pena.

Lalu menutup peta itu perlahan.

“Semoga kau jujur,” bisiknya.

Entah ia berkata kepada Ardashir, kepada Roxana, atau kepada dirinya sendiri.

Mungkin kepada semuanya.


Keesokan pagi, desa bangun lebih awal.

Rombongan kerajaan bersiap kembali ke kota.

Kuda-kuda diberi air. Catatan dimasukkan ke kotak kayu. Dastan memeriksa ulang alat ukurnya. Vardan tampak berusaha mengikat kantongnya dengan benar, tetapi simpulnya justru semakin membingungkan.

Tetua desa memperhatikannya.

“Kalau kantong itu musuh, kau sudah kalah sebelum perang.”

Vardan menatap simpulnya.

“Aku sedang memakai strategi kota.”

“Apa itu?”

“Membuat masalah terlihat rumit agar orang mengira aku berpikir.”

Tetua tertawa keras.

“Anak ini akan hidup panjang. Orang seperti dia terlalu merepotkan untuk dijemput maut cepat-cepat.”

Vardan membungkuk hormat.

“Itu doa paling aneh yang pernah kuterima.”

Ardashir memeluk ayahnya di depan rumah.

Bahram memegang bahunya.

“Kali ini, pulanglah lebih benar daripada kemarin.”

Ardashir mengangguk.

“Aku akan berusaha.”

“Jangan hanya berusaha. Ingat.”

“Apa?”

“Orang yang punya dua dunia harus punya satu hati yang jelas. Kalau tidak, ia akan hancur ditarik keduanya.”

Ardashir menatap ayahnya.

Kalimat itu menempel kuat.

Satu hati yang jelas.

Ia mengangguk.

“Aku akan mengingatnya.”

Bahram melepasnya.

“Pergilah.”


Roxana berdiri dekat pohon delima.

Tidak di tengah jalan.

Tidak menangis di depan semua orang.

Ia hanya berdiri dengan selendang sederhana, memegang benang merah dari Ardashir yang sudah ia simpan dalam kantong kecil.

Ardashir mendekat sebelum naik kuda.

“Aku pergi.”

“Aku tahu.”

“Aku akan menulis.”

“Aku akan menunggu kabar. Bukan dalam gelap, tapi dengan hidupku sendiri.”

Ardashir tersenyum sedih.

“Itu terdengar seperti Roxana.”

“Dan kau?”

“Aku akan kembali ke kota sebagai Ardashir. Bukan sebagai orang yang lupa pulang.”

Roxana menatapnya.

“Jaga hatimu.”

“Jaga dirimu.”

Mereka tidak berpelukan.

Tidak menggenggam tangan terlalu lama.

Hanya saling menatap dengan semua hal yang belum bisa mereka selesaikan hari itu.

Lalu Roxana berkata,

“Pergilah sebelum Vardan membuat rombongan tertunda karena simpul kantong.”

Dari kejauhan, Vardan berseru,

“Aku mendengar namaku disebut dengan tidak hormat!”

Roxana tersenyum.

Ardashir tertawa.

Dan tawa kecil itu membuat perpisahan terasa sedikit lebih manusiawi.


Rombongan mulai bergerak meninggalkan desa.

Kuda Ardashir berjalan perlahan di awal jalan.

Ia menoleh sekali.

Roxana masih berdiri di dekat pohon delima.

Ayahnya di samping rumah.
Mehrdad di dekat lumbung kecil.
Tetua desa mengangkat tongkatnya.
Anak-anak berlari mengikuti rombongan beberapa langkah sebelum berhenti.

Desa itu mengecil di belakangnya.

Tetapi tidak seperti dulu, Ardashir tidak merasa meninggalkan tanpa arah.

Kini ia membawa sesuatu yang lebih jelas.

Bukan jawaban sempurna.

Belum.

Tetapi kejujuran yang mulai tumbuh.

Vardan menunggang di sebelahnya.

“Bagaimana rasanya pergi lagi?”

Ardashir memandang jalan di depan.

“Lebih berat.”

“Bagus.”

“Bagus?”

“Ya. Kalau tidak berat, berarti kau tidak membawa apa-apa di hatimu.”

Ardashir tersenyum.

“Kadang kau benar-benar bijak.”

“Aku tahu. Aku hanya menyembunyikannya agar tidak diberi tugas tambahan.”

Jalan menanjak perlahan menuju utara.

Di kejauhan, kota Persia menunggu dengan segala kebesarannya.

Di belakang, desa kecil menjaga akar hidupnya.

Dua dunia memanggil Ardashir.

Satu dengan suara tugas.
Satu dengan suara cinta.

Dan di antara keduanya, ia mulai belajar bahwa manusia tidak selalu harus memilih dengan meninggalkan salah satu.

Kadang manusia harus tumbuh cukup kuat untuk membawa keduanya dengan hati yang jernih.

Namun ia juga tahu:

jika hati itu tidak dijaga, dua dunia yang sama-sama indah bisa berubah menjadi dua arah yang merobeknya perlahan.

Maka di atas kuda hitamnya, di jalan kerajaan yang kembali membentang ke utara, Ardashir berdoa dalam diam.

Agar ketika ia tiba di kota, ia tidak kehilangan desa.

Dan ketika kelak ia pulang lagi ke desa, ia tidak lari dari tanggung jawab kota.

Sebab hidupnya kini bukan lagi hanya tentang pulang.

Tetapi tentang menjadi seseorang yang layak ditunggu, layak dipercaya, dan layak kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar