Sabtu, 22 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (23)

 

Bab 23

Undangan dari Istana

Perjalanan kembali ke kota terasa lebih panjang daripada perjalanan menuju desa.

Bukan karena jalan berubah.

Bukan karena kuda-kuda lebih lelah.

Bukan pula karena Vardan mengeluh lebih sering dari biasanya, meskipun itu juga benar.

Perjalanan itu terasa panjang karena hati Ardashir kini membawa lebih banyak hal daripada ketika ia berangkat.

Saat meninggalkan kota, ia membawa tugas.

Saat kembali, ia membawa wajah Roxana yang berdiri di bawah pohon delima.
Ia membawa suara ayahnya yang berkata bahwa orang yang punya dua dunia harus memiliki satu hati yang jelas.
Ia membawa hormat kepada Mehrdad, pemuda baik yang tidak mudah dibenci.
Ia membawa benang merah yang kini berada di tangan Roxana.
Dan ia membawa kesadaran bahwa pulang tidak menyelesaikan segala sesuatu.

Pulang justru membuat semuanya menjadi lebih nyata.

Vardan menunggang di sampingnya sambil memegang kantong catatan kerajaan yang sejak awal tampak seperti beban hidup.

“Ardashir,” katanya setelah cukup lama diam.

“Ya?”

“Aku sudah memutuskan.”

“Tentang apa?”

“Kalau suatu hari aku menikah, aku tidak akan jatuh cinta kepada perempuan dari desa yang punya pohon delima.”

Ardashir menoleh.

“Mengapa?”

“Terlalu berat. Banyak simbol. Banyak makna. Banyak percakapan di bawah pohon. Aku lebih suka perempuan yang rumahnya dekat penjual roti.”

Dastan, yang menunggang keledai di depan mereka, menoleh sedikit.

“Cinta tidak memilih berdasarkan lokasi penjual roti.”

Vardan menghela napas.

“Itulah masalah cinta. Kurang memperhatikan kebutuhan dasar manusia.”

Ardashir tertawa pelan.

Dastan menggeleng.

“Kalau kau membuat laporan perjalanan seperti caramu berbicara, Farrokh akan sakit kepala.”

“Farrokh sudah sakit kepala sebelum mengenalku,” jawab Vardan. “Aku hanya memberi alasan yang jelas.”

Rombongan kecil itu tertawa.

Humor Vardan membuat jalan terasa lebih ringan.

Namun setiap kali tawa mereda, pikiran Ardashir kembali kepada desa.

Ia membayangkan Roxana membaca surat berikutnya.
Ia membayangkan ayahnya duduk di depan kandang.
Ia membayangkan Mehrdad membantu di lumbung tanpa banyak bicara.

Lalu ia membayangkan Artazara di kota.

Pita biru pemberiannya tersimpan rapi di kantong kecil Ardashir, terpisah dari kain Roxana. Benda itu bukan tanda cinta. Artazara sudah mengatakan itu. Tetapi tetap saja, setiap benda yang diberikan oleh hati yang tulus memiliki beratnya sendiri.

Ardashir tahu, ketika ia tiba di kota, ia harus bertemu Artazara lagi.

Dan kali ini, ia harus membawa dirinya dengan lebih jelas.


Mereka tiba di gerbang selatan kota pada sore hari.

Kota Persia menyambut mereka dengan suara yang hampir membuat telinga Ardashir perlu menyesuaikan diri kembali.

Roda kereta berderak di jalan batu.
Pedagang berteriak menawarkan barang.
Prajurit penjaga memberi aba-aba.
Anak-anak berlari di antara lorong.
Bau rempah, minyak, logam, roti, dan keringat bercampur menjadi satu.

Setelah beberapa hari di desa, semua itu terasa terlalu banyak.

Vardan menarik napas dalam-dalam.

“Ah, kota.”

“Kau rindu?” tanya Ardashir.

“Aku rindu makanan kota. Kotanya hanya tempat makanan itu tinggal.”

Dastan berkata datar, “Cara berpikirmu sangat terarah.”

“Terima kasih. Aku orang yang tahu tujuan hidup.”

“Tujuan hidupmu berada di piring.”

“Setidaknya jelas.”

Mereka membawa laporan pemeriksaan ke kompleks militer terlebih dahulu.

Rustom sudah menunggu di halaman.

Seperti biasa, wajahnya tampak seolah ia tidak pernah merindukan siapa pun, bahkan murid-muridnya sendiri.

“Lambat,” katanya ketika mereka turun dari kuda.

Vardan membuka mulut.

Rustom langsung menatapnya.

“Jangan.”

Vardan menutup mulut lagi.

Farrokh muncul dari belakang Rustom, membawa tongkat dan wajah yang lebih masam daripada sebelum mereka berangkat.

“Kalian membawa catatan utuh?”

Dastan menyerahkan kotak kayu.

“Utuh.”

Farrokh melirik Vardan.

“Bahkan setelah berada dekat anak itu?”

Vardan menunduk hormat.

“Aku menjaga catatan seperti menjaga kehormatanku.”

Farrokh memandangnya lama.

“Itu justru membuatku khawatir.”

Ardashir menahan tawa.

Rustom menerima laporan singkat dari prajurit senior, lalu menatap Ardashir.

“Kau melihat desamu?”

“Ya, Tuan.”

“Dan kau kembali.”

“Ya, Tuan.”

“Bagus. Banyak orang lebih mudah pergi daripada kembali. Tapi lebih banyak lagi yang mudah pulang dan sulit berangkat lagi.”

Ardashir menunduk.

“Aku mengerti.”

Rustom menatapnya tajam.

“Belum. Tapi mungkin kau mulai.”


Malam itu Ardashir tidur lebih cepat.

Tubuhnya lelah oleh perjalanan, tetapi hatinya tidak sepenuhnya tenang.

Ia memikirkan Roxana.

Ia memikirkan percakapan mereka di bawah pohon delima.

Ia memikirkan kalimat terakhir sebelum ia berangkat:

Jaga hatimu.

Kalimat itu sederhana.

Namun di kota, menjaga hati ternyata lebih sulit daripada menjaga kuda agar tidak lepas.

Kuda yang gelisah bisa ditenangkan dengan tangan yang lembut, makanan, dan suara yang stabil.

Hati manusia tidak selalu semudah itu.


Keesokan paginya, Ardashir dipanggil ke ruang catatan militer.

Ia mengira Farrokh ingin mendengar laporan lengkap tentang saluran air desa.

Ternyata di ruangan itu bukan hanya Farrokh dan Rustom yang menunggu.

Seorang pria tinggi berdiri di dekat meja peta besar.

Usianya mungkin telah melewati lima puluh, tetapi tubuhnya masih tegap. Rambut dan janggutnya mulai memutih di beberapa bagian. Matanya tenang, namun memberi kesan bahwa ia terbiasa membuat orang lain segera berdiri lebih lurus tanpa perlu diperintah.

Di bahunya terdapat lambang militer tinggi.

Ardashir langsung tahu siapa dia.

Jenderal Artaban.

Ayah Artazara.

Ardashir menunduk hormat.

“Tuan Jenderal.”

Artaban memperhatikannya beberapa saat.

“Jadi ini Ardashir.”

Suaranya tidak keras.

Tetapi ruangan terasa mendengarkan.

“Ya, Tuan,” jawab Rustom.

Artaban berjalan mendekat.

“Aku mendengar laporan tentangmu.”

Ardashir tetap menunduk.

“Semoga bukan laporan buruk, Tuan.”

Farrokh terkekeh kecil.

Rustom meliriknya.

Artaban tersenyum tipis.

“Tidak buruk. Kau memahami kuda, membaca peta lebih baik dari banyak pemuda seusiamu, dan menurut laporan Dastan, kau bisa berbicara dengan tetua desa tanpa membuat mereka tersinggung.”

Farrokh bergumam, “Kemampuan terakhir itu lebih langka daripada yang pertama.”

Artaban melirik Farrokh.

“Kau juga tidak terlalu pandai melakukannya.”

“Aku sudah tua. Orang harus memaafkanku.”

“Orang sudah lama menyerah kepadamu.”

Vardan tidak ada di ruangan itu, tetapi Ardashir merasa seandainya ia ada, ia akan langsung menjadikan Farrokh sebagai pahlawan hidupnya.

Artaban kembali menatap Ardashir.

“Aku membaca laporan dari selatan. Kau membantu pemeriksaan saluran air?”

“Sedikit, Tuan. Dastan yang memahami teknisnya.”

“Kerendahan hati baik. Tapi jangan sembunyikan kemampuan dengan cara yang membuat laporan menjadi tidak akurat.”

Ardashir diam.

Ia mulai memahami bahwa Jenderal Artaban bukan orang yang mudah diberi jawaban aman.

Artaban menunjuk peta.

“Dekat desamu, ada jalur kecil yang menghubungkan lumbung desa dengan jalan utama kerajaan. Di laporan, kau menyebut jalur itu lebih sering dipakai pedagang kecil daripada rombongan resmi.”

“Benar, Tuan.”

“Mengapa penting?”

Ardashir menatap peta.

Ia mengambil waktu sebentar sebelum menjawab.

“Karena jika jalan utama terganggu, jalur kecil itu bisa menjadi jalur cadangan. Tidak untuk pasukan besar, tetapi cukup untuk kurir, pasokan ringan, atau evakuasi warga jika terjadi bahaya.”

Artaban tidak langsung bereaksi.

Rustom berdiri diam.

Farrokh mengangkat alis sedikit.

Artaban berkata,

“Kau melihat desa sebagai bagian dari sistem kerajaan.”

Ardashir menjawab pelan,

“Dulu saya hanya melihat desa sebagai rumah. Setelah belajar di kota, saya mulai mengerti bahwa rumah-rumah kecil juga bagian dari kekuatan kerajaan.”

Artaban menatapnya lebih lama.

“Kalimat itu penting.”

Ardashir menunduk.

“Saya hanya mengatakan yang saya pahami, Tuan.”

“Justru itu.”

Artaban berbalik ke arah Rustom.

“Dia ikut jamuan kecil di istana malam ini.”

Ardashir hampir mengangkat wajah terlalu cepat.

“Jamuan, Tuan?”

“Bukan pesta,” kata Artaban. “Jamuan kerja. Beberapa pejabat militer, ahli jalan, pengelola lumbung, dan pencatat wilayah selatan akan hadir. Kau akan mendengarkan. Jika ditanya, jawab. Jika tidak ditanya, diam.”

Farrokh menatap Ardashir.

“Itu nasihat yang baik untuk hampir semua orang. Terutama Vardan.”

Rustom mengangguk.

“Aku setuju.”

Artaban melanjutkan,

“Aku ingin orang-orang istana mendengar suara dari seseorang yang pernah hidup di desa, bukan hanya membaca angka tentang desa.”

Ardashir merasa dadanya berat.

Ini bukan kehormatan kecil.

Diundang ke istana berarti dilihat.

Dan dilihat berarti dinilai.

“Baik, Tuan.”

Artaban menatapnya lagi.

“Datang dengan pakaian bersih.”

Rustom menambahkan datar,

“Dan jangan tampak seperti baru berkelahi dengan kandang.”

Farrokh berkata,

“Kalau perlu, suruh Vardan jauh-jauh darinya sebelum berangkat.”

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka sedikit.

Vardan muncul dengan wajah polos.

“Aku merasa namaku disebut.”

Rustom menutup mata.

Farrokh menunjuknya dengan tongkat.

“Ini dia alasan mengapa pintu harus diberi penjaga.”

Artaban menatap Vardan.

“Siapa ini?”

Vardan langsung berdiri tegak.

“Vardan, Tuan. Sahabat Ardashir. Pembawa catatan. Pengangkat jerami. Korban rutin kebijaksanaan Rustom.”

Ruangan hening sejenak.

Lalu Artaban tertawa pendek.

Tidak keras, tetapi cukup membuat semua orang terkejut.

Rustom tampak tidak senang karena dunia memberi Vardan hadiah berupa tawa seorang jenderal.

“Dia tidak ikut jamuan,” kata Rustom cepat.

Vardan menunduk dengan sangat dramatis.

“Kerajaan kehilangan kesempatan besar.”

Farrokh bergumam,

“Kesempatan untuk apa, belum jelas.”


Kabar tentang undangan itu menyebar di barak lebih cepat daripada kurir kerajaan.

Sore harinya, beberapa pemuda menggoda Ardashir.

“Jangan lupa kami kalau kau sudah duduk dengan pejabat istana.”

“Kalau diberi makanan enak, bawa pulang sisanya.”

“Kalau bertemu bangsawan cantik, jangan terlihat seperti kambing kehilangan induk.”

Vardan langsung berdiri membela.

“Tenang. Untuk urusan terlihat bingung di depan perempuan, Ardashir sudah banyak berlatih.”

Ardashir melempar kain kecil ke arahnya.

Vardan menangkapnya.

“Lihat? Gerakanku seperti prajurit istana.”

“Lebih seperti pencuri pakaian,” kata salah satu pemuda.

Tawa memenuhi barak.

Namun ketika suasana mereda, Vardan mendekati Ardashir yang sedang membersihkan sepatu.

“Kau gugup?”

“Ya.”

“Bagus. Orang yang tidak gugup di istana biasanya terlalu bodoh atau terlalu sombong.”

Ardashir menatapnya.

“Kau akan gugup?”

“Aku? Tidak.”

“Karena kau terlalu bodoh atau sombong?”

“Karena aku tidak diundang.”

Ardashir tertawa.

Vardan duduk di sebelahnya.

“Dengarkan. Malam ini kau akan melihat dunia yang lebih menggoda dari pasar. Pakaian bagus, makanan bagus, orang bicara hal besar, dan mungkin beberapa orang akan memujimu.”

“Aku tahu.”

“Jangan terlalu percaya pujian.”

“Ayahku pernah mengatakan itu.”

“Bagus. Ayahmu pintar. Mungkin dia harus melatih kita menggantikan Rustom. Paling tidak wajahnya lebih manusiawi.”

“Rustom bisa mendengarmu dari jarak jauh.”

Vardan langsung melirik pintu.

“Kalau begitu aku menarik kembali bagian wajah.”

Ardashir tersenyum.

Vardan menjadi lebih serius.

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Artazara mungkin ada di sana.”

Ardashir diam.

Vardan menatapnya.

“Kau sudah tahu?”

“Aku menduga.”

“Jaga dirimu. Bukan karena dia buruk. Justru karena dia baik.”

Ardashir mengangguk.

“Aku tahu.”

Vardan menepuk bahunya.

“Kalau bingung, bayangkan Rustom berdiri di belakangmu memegang tombak.”

“Itu membantu?”

“Sangat. Tidak ada godaan yang bertahan lama jika dibayangi Rustom.”


Malam itu, Ardashir memasuki kompleks istana untuk pertama kalinya sebagai undangan resmi.

Sebelumnya ia pernah masuk ke taman bagian timur karena tugas kuda atau pemeriksaan. Tetapi kali ini berbeda. Ia melewati gerbang dalam, mengikuti prajurit penjaga yang membawanya ke aula pertemuan kecil.

Lampu minyak menyala di sepanjang dinding. Tiang-tiang tinggi dihiasi ukiran singa, bunga, dan burung bersayap. Lantai batu memantulkan cahaya keemasan. Di bagian tengah, meja panjang rendah disiapkan dengan makanan, kendi air, roti, buah, dan beberapa hidangan daging.

Namun yang paling menarik perhatian Ardashir bukan makanannya.

Melainkan dinding ruangan.

Di sana tergantung peta besar wilayah selatan. Beberapa bagian diberi tanda merah dan hitam. Ada jalur sungai, pos air, jalan utama, jalur pedagang kecil, lumbung, dan desa-desa.

Desanya ada di salah satu titik kecil.

Ardashir memandang titik itu sebentar.

Kecil.

Sangat kecil.

Tetapi baginya, seluruh ruangan terasa berputar mengelilingi titik itu.

“Ardashir.”

Suara itu membuatnya menoleh.

Artazara berdiri tidak jauh dari meja peta.

Ia mengenakan pakaian biru tua dengan bordir perak halus. Tidak berlebihan, tetapi anggun. Rambutnya tertutup kain tipis yang jatuh lembut di bahunya. Wajahnya tenang.

Namun matanya menatap Ardashir dengan cara yang hanya bisa dipahami oleh orang yang pernah berbicara jujur di dekat menara api.

“Putri,” kata Ardashir sambil menunduk.

Artazara tersenyum kecil.

“Di ruangan ini, Farrokh akan marah kalau kau terlalu formal.”

“Farrokh marah pada banyak hal.”

“Benar. Tapi kali ini mungkin ada alasannya.”

Mereka tersenyum.

Ada kehangatan.

Ada jarak.

Keduanya terasa sadar.

Artazara menatapnya lebih teliti.

“Kau kembali dengan selamat.”

“Ya.”

“Desamu?”

“Baik. Saluran airnya sudah diperbaiki sebagian.”

“Dan Roxana?”

Pertanyaan itu datang pelan.

Ardashir menjawab sama pelannya.

“Ia baik.”

Artazara mengangguk.

“Aku senang.”

Ardashir tidak langsung berkata apa-apa.

Lalu ia berkata,

“Aku berbicara jujur kepadanya.”

Artazara menatapnya.

“Tentang aku?”

“Ya.”

Ada hening kecil di antara mereka.

Bukan hening yang rusak.

Melainkan hening yang lahir dari saling menghormati.

“Apa katanya?” tanya Artazara.

“Dia tidak membencimu.”

Artazara menunduk sedikit.

“Dia bahkan belum mengenalku.”

“Dia berkata, jika engkau orang baik, aku harus menghormatimu. Tidak menjauh dengan kasar hanya untuk membuktikan sesuatu kepadanya. Tapi juga tidak memberi harapan yang tidak seharusnya.”

Artazara diam cukup lama.

Ketika ia tersenyum, senyum itu tampak seperti cahaya kecil yang berusaha tetap menyala di tengah angin.

“Roxana adalah perempuan yang kuat.”

“Ya.”

“Dan baik.”

“Ya.”

Artazara memandang peta.

“Sekarang aku semakin sulit membencinya.”

Ardashir menoleh cepat.

Artazara tersenyum tipis.

“Aku bercanda. Sedikit.”

Ardashir hampir tertawa, tetapi melihat ada kesedihan halus di balik canda itu.

“Aku tidak ingin membuatmu terluka.”

“Ardashir,” kata Artazara lembut. “Luka tidak selalu berarti seseorang bersalah.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Artazara melanjutkan,

“Kita sudah memilih untuk tetap terhormat. Itu tidak menghapus rasa sakit. Tapi setidaknya rasa sakit itu tidak lahir dari kebohongan.”

Sebelum Ardashir sempat menjawab, Jenderal Artaban masuk ke ruangan.

Semua orang segera berdiri lebih tegak.


Jamuan itu dimulai bukan dengan makan, tetapi dengan pembicaraan.

Beberapa pejabat militer membicarakan laporan dari wilayah selatan. Ada jalan yang mulai rusak. Ada pos air yang perlu diperluas. Ada lumbung kecil yang harus dicatat ulang. Ada kemungkinan jalur pedagang menjadi jalur cadangan bila pasukan perlu bergerak cepat.

Seorang pengelola lumbung berkata,

“Desa-desa kecil sering tidak tepat melaporkan hasil panen. Kita harus memperketat pencatatan.”

Ardashir mendengarkan.

Ia tahu yang dimaksud mungkin benar dalam beberapa kasus.

Namun ia juga tahu, tidak semua ketidaktepatan lahir dari kecurangan.

Kadang lahir dari ketidakmampuan menulis.
Kadang dari alat ukur yang berbeda.
Kadang dari hasil panen yang berubah karena air terlambat.
Kadang dari rasa takut bahwa angka yang terlalu jujur akan berubah menjadi beban pajak.

Artaban menoleh kepadanya.

“Ardashir.”

Semua mata berpaling.

Ardashir menegakkan tubuh.

“Ya, Tuan.”

“Kau baru kembali dari salah satu desa selatan. Bagaimana menurutmu?”

Ruangan menjadi hening.

Ardashir sadar bahwa inilah alasan ia diundang.

Ia bisa menjawab aman.

Atau menjawab jujur.

Ia memilih yang kedua.

“Menurut saya, Tuan, pencatatan memang harus diperbaiki. Tetapi jika hanya diperketat tanpa membantu desa memahami cara mencatat, hasilnya bisa membuat warga takut.”

Beberapa pejabat saling berpandangan.

Pengelola lumbung mengangkat alis.

“Maksudmu?”

Ardashir melanjutkan dengan hati-hati,

“Banyak warga desa tidak bermaksud menipu. Mereka mencatat dengan ingatan, takaran keluarga, atau kesepakatan lisan. Jika kerajaan membawa ukuran resmi, maka kerajaan juga perlu membawa penjelasan. Kalau tidak, orang hanya melihat catatan sebagai alat menghukum, bukan alat menjaga keadilan.”

Farrokh yang duduk di ujung meja tersenyum samar.

Artaban tidak tersenyum, tetapi matanya memperhatikan.

Ardashir menambahkan,

“Di desa saya, giliran air diukur dengan mangkuk tanah liat berlubang. Sederhana, tetapi semua orang percaya karena melihat prosesnya. Mungkin pencatatan kerajaan juga harus dibuat lebih dapat dipahami. Agar warga merasa angka bukan musuh.”

Ruangan hening.

Kemudian Dastan, yang juga hadir, mengangguk.

“Pendapat itu masuk akal. Teknologi tidak hanya harus tepat, tetapi juga diterima oleh orang yang menggunakannya.”

Farrokh menepuk meja pelan.

“Kalimat bagus. Akhirnya ada yang membuatku tidak menyesal datang malam ini.”

Pengelola lumbung tampak hendak membantah, tetapi Artaban mengangkat tangan kecil.

“Catat gagasan itu,” kata sang jenderal kepada juru tulis.

Juru tulis segera menulis.

Ardashir merasa dadanya bergetar.

Bukan karena bangga.

Tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasa suara desa dibawa masuk ke ruangan istana.

Dan tidak diabaikan.

Artazara menatapnya dari seberang meja.

Tidak tersenyum lebar.

Hanya tatapan tenang yang seolah berkata: teruslah menjadi dirimu.


Setelah pembicaraan selesai, jamuan makan dimulai.

Ardashir duduk tidak jauh dari Farrokh dan Dastan. Vardan akan sangat iri jika tahu makanan malam itu: roti lembut, daging berbumbu, buah delima, kurma, keju, dan sup hangat dengan rempah.

Farrokh melihat cara Ardashir memandang makanan.

“Jangan terlalu terharu. Itu hanya sup.”

“Maaf, Tuan.”

“Tidak perlu minta maaf kepada sup. Ia tidak punya harga diri.”

Dastan tersenyum kecil.

Ardashir makan dengan sopan, tetapi pikirannya masih berada pada pembicaraan tadi.

Artaban kemudian memanggilnya ke sisi peta setelah makan selesai.

Beberapa pejabat mulai bubar. Farrokh masih duduk karena menurutnya berdiri terlalu cepat adalah kebiasaan anak muda yang sombong terhadap lutut.

Artaban berdiri bersama Artazara di dekat peta selatan.

“Ardashir,” kata sang jenderal.

“Ya, Tuan.”

“Aku menyukai cara berpikirmu malam ini.”

“Terima kasih, Tuan.”

“Jangan terlalu cepat berterima kasih. Pujian sering menjadi awal pekerjaan baru.”

Ardashir terdiam.

Artazara menunduk sedikit, menyembunyikan senyum.

Artaban menunjuk wilayah selatan.

“Aku ingin kau membantu Farrokh dan Dastan menyusun laporan tentang desa-desa kecil. Bukan hanya jalan dan air, tetapi juga bagaimana membuat catatan resmi lebih mudah dipahami warga.”

Ardashir terkejut.

“Saya, Tuan?”

“Ya.”

“Saya masih peserta latihan.”

“Justru karena itu. Kau belum terlalu lama menjadi orang kota sehingga masih ingat cara berpikir desa.”

Kalimat itu membuat Ardashir diam.

Artaban melanjutkan,

“Kerajaan membutuhkan orang yang bisa berdiri di dua tempat. Memahami perintah istana, tetapi juga memahami napas rakyat kecil.”

Farrokh dari kejauhan berkata,

“Dan kalau bisa, orang itu tidak terlalu banyak bicara seperti Vardan.”

Artaban mengabaikannya.

“Ini bukan tugas resmi besar. Tetapi jika kau melakukannya dengan baik, kau akan lebih sering dilibatkan dalam perencanaan wilayah selatan.”

Ardashir tahu arti kalimat itu.

Kesempatan.

Pintu.

Dunia besar kembali terbuka di hadapannya.

Ia teringat ucapan pemuda bangsawan di pasar: Kau harus dikenal. Kau harus terlihat. Kau harus dekat dengan orang yang tepat.

Tetapi malam ini berbeda.

Ini bukan undangan pesta kosong.

Ini pekerjaan yang bermakna.

Sesuatu yang bisa membantu desa-desa seperti rumahnya.

Namun tetap saja, ia tahu harga dari kesempatan itu.

Ia akan semakin terikat dengan kota.

Semakin dekat dengan Artaban.

Semakin sering bertemu Artazara.

Dan mungkin semakin jauh dari kesederhanaan hidup yang dulu ia kenal.

Artaban menatapnya.

“Kau ragu?”

Ardashir menjawab jujur,

“Saya merasa terhormat, Tuan. Tapi saya juga sadar tugas ini besar bagi saya.”

“Bagus. Orang yang tidak sadar berat tugas biasanya memecahkan sesuatu sebelum mulai bekerja.”

Artaban meletakkan tangan di bahu Ardashir.

“Kau tidak perlu menjadi bangsawan untuk berguna bagi Persia. Kau hanya perlu menjaga kejernihan pikiran dan kehormatan hati.”

Ardashir menunduk.

“Saya akan berusaha.”

“Jangan hanya berusaha,” kata Artaban. “Belajar.”


Malam semakin larut ketika Ardashir keluar dari aula istana.

Udara terasa sejuk.

Halaman istana diterangi lentera. Air mengalir di saluran kecil taman, tenang seperti tidak pernah lelah mengingatkan manusia bahwa segala sesuatu bergerak pelan tapi pasti.

Artazara berjalan di sampingnya sampai gerbang taman.

Tidak terlalu dekat.

Tetap dalam batas.

Namun cukup dekat untuk berbicara tanpa didengar banyak orang.

“Ayahku mempercayaimu,” kata Artazara.

“Itu membuatku takut.”

“Bagus.”

“Kau juga?”

“Aku takut kepada ayahku setiap hari, meskipun ia ayahku.”

Ardashir tertawa pelan.

Artazara tersenyum.

Lalu ia berkata lebih serius,

“Tugas itu akan mengubah posisimu.”

“Aku tahu.”

“Kau akan lebih sering berada di ruang peta.”

“Aku juga tahu.”

“Dan kita mungkin akan lebih sering bertemu.”

Ardashir menatap air di saluran.

“Ya.”

Artazara berhenti berjalan.

“Maka kita harus lebih jelas daripada sebelumnya.”

Ardashir ikut berhenti.

“Aku setuju.”

Artazara memandangnya.

“Aku tidak ingin kebaikan ayahku kepadamu menjadi jalan bagi hatiku untuk berharap lebih dari yang seharusnya.”

“Artazara…”

“Aku tahu,” katanya lembut. “Aku hanya menegaskan kepada diriku sendiri, dan kepadamu.”

Ardashir mengangguk.

“Aku mencintai Roxana.”

“Aku tahu.”

“Tetapi aku juga menghormatimu.”

“Dan aku menghormatimu,” jawab Artazara. “Karena itu, kita harus menjaga kehormatan lebih kuat daripada menjaga perasaan.”

Kalimat itu membuat malam terasa sangat jernih.

Ardashir berkata,

“Roxana mengatakan hal yang mirip.”

Artazara tersenyum kecil.

“Mungkin suatu hari aku ingin bertemu dengannya.”

Ardashir terkejut.

“Benarkah?”

“Tidak sekarang. Mungkin tidak pernah. Tapi jika Tuhan mengizinkan, aku ingin melihat perempuan yang membuat seorang pemuda desa tetap ingat jalan pulang meski berdiri di tengah istana.”

Ardashir terdiam.

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat hatinya hangat sekaligus sedih.

“Dia akan menghormatimu,” kata Ardashir.

“Semoga. Aku tidak ingin dikenang sebagai bayangan yang mengganggu.”

“Kau bukan bayangan.”

Artazara menatapnya.

“Jangan beri kalimat yang terlalu indah.”

Ardashir langsung diam.

Artazara tersenyum tipis.

“Bagus. Kau belajar.”

Keduanya tertawa pelan.

Namun tawa itu tidak menghapus rasa berat.

Ia hanya membuat rasa berat itu lebih manusiawi.


Ketika Ardashir kembali ke barak, Vardan sudah menunggu dengan wajah sangat serius.

Terlalu serius.

Itu berarti ia sedang bersiap mengatakan sesuatu yang tidak serius.

“Bagaimana makanan istana?” tanya Vardan.

“Baik.”

“Baik?” Vardan tampak terluka. “Aku menunggu sepanjang malam untuk laporan kuliner, dan kau menjawab ‘baik’?”

Ardashir melepas jubahnya.

“Ada roti, sup, daging, kurma, delima…”

Vardan mengangkat tangan ke dada.

“Berhenti. Aku belum siap secara emosional.”

“Keju juga.”

“Pengkhianatan.”

Ardashir tertawa.

Vardan duduk di tikarnya.

“Selain makanan, apa yang terjadi?”

Ardashir menceritakan tentang pembicaraan desa, catatan resmi, dan tawaran membantu Farrokh serta Dastan menyusun laporan wilayah selatan.

Vardan mendengarkan.

Kali ini tanpa bercanda.

Setelah Ardashir selesai, Vardan mengangguk pelan.

“Ini besar.”

“Ya.”

“Dan rumit.”

“Ya.”

“Karena Artazara?”

“Juga karena itu.”

“Dan karena Roxana?”

“Ya.”

“Dan karena kau mulai menjadi orang penting?”

Ardashir menggeleng.

“Aku belum menjadi siapa-siapa.”

“Semua orang penting awalnya mengatakan begitu sampai orang lain mulai menyuruh mereka duduk di meja besar.”

Ardashir diam.

Vardan melanjutkan,

“Dengarkan. Kesempatan ini baik. Kalau kau bisa membantu desa-desa kecil, ambil. Jangan menolak sesuatu yang baik hanya karena takut kepada hatimu sendiri.”

“Tapi?”

“Tapi jangan juga memakai kebaikan tugas sebagai alasan untuk menikmati kedekatan yang kau tahu berbahaya.”

Ardashir menatap sahabatnya.

“Sejak kapan kau menjadi sangat bijaksana?”

Vardan merebahkan tubuhnya.

“Sejak aku tidak diundang makan daging istana. Penderitaan membuat manusia dalam.”

Ardashir tertawa.

Vardan menutup mata.

“Tulis surat untuk Roxana. Ceritakan bahwa kau mendapat tugas baru. Jangan biarkan dia mendengar dari kabar orang lain bahwa kau makin dekat dengan istana.”

Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.

Benar.

Sangat benar.

Malam itu juga, sebelum tidur, Ardashir menyalakan lentera kecil.

Ia mengambil kertas.

Lalu mulai menulis.

Roxana,

Aku sudah tiba kembali di kota.

Hari ini aku diundang ke istana untuk mendengar pembicaraan tentang desa-desa selatan. Namamu tidak disebut di sana, tetapi aku memikirkanmu ketika mereka membicarakan air, catatan, dan lumbung.

Aku menyampaikan bahwa desa tidak boleh hanya diperintah dengan angka yang tidak dipahami. Catatan harus menjadi alat keadilan, bukan ketakutan.

Jenderal Artaban memintaku membantu menyusun laporan tentang wilayah selatan.

Tangannya berhenti.

Ia tahu bagian berikutnya penting.

Maka ia menulis dengan hati-hati.

Itu berarti aku mungkin akan lebih sering berada di ruang peta dan bertemu orang-orang istana, termasuk Artazara.

Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu gelisah, tetapi karena aku berjanji tidak akan membiarkanmu menunggu dalam gelap.

Ia tetap menjaga kehormatannya. Aku pun akan menjaga batasku.

Aku ingin kau tahu setiap jalan baru yang terbuka di hadapanku, agar tidak ada jarak yang tumbuh dari diam.

Ardashir membaca ulang kalimat itu.

Lalu ia menambahkan:

Hari ini aku belajar bahwa kerajaan yang kuat adalah kerajaan yang mau mendengar desa kecil.

Dan aku belajar bahwa cinta yang kuat adalah cinta yang berani mendengar kebenaran, meski kebenaran itu membuat hati bergetar.

Ia menutup surat itu dengan syair pendek:

Jika aku berdiri di aula istana,
jangan kira aku lupa tanah di depan rumahmu.

Jika namaku mulai disebut orang,
doakan aku tetap mengenali suara yang memanggilku
sebelum dunia mengenalku.

Sebab aku tidak ingin menjadi besar
bila kebesaran itu membuatku kehilangan arah pulang.

Ardashir melipat surat itu.

Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sedang menulis karena takut kehilangan.

Ia menulis karena ingin menjaga.

Dan menjaga, ia mulai mengerti, adalah pekerjaan cinta yang paling sunyi sekaligus paling penting.


Di luar barak, kota Persia masih menyala dengan lentera-lentera malam.

Istana berdiri megah di kejauhan.

Di balik dindingnya, peta wilayah selatan terbuka.

Di salah satu titik kecil di peta itu, ada desa Roxana.

Dan di dalam hati Ardashir, dua dunia kembali memanggil.

Namun malam itu, ia tidak lagi merasa harus menjawab dengan panik.

Ia hanya perlu berjalan dengan jujur.

Langkah demi langkah.

Surat demi surat.

Keputusan demi keputusan.

Sebab takdir besar tidak selalu dimulai oleh pertempuran.

Kadang ia dimulai oleh undangan ke sebuah ruangan,

sebuah peta yang dibuka,

dan seorang pemuda desa yang berani mengatakan kepada istana:

bahwa angka tidak boleh membuat manusia kehilangan wajahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar