Bab 24
Di Antara Nama dan Janji
Surat Ardashir sampai di desa enam hari setelah ia ditulis.
Tidak secepat pesan kerajaan.
Tidak secepat nyala api dari menara ke menara.
Tidak secepat kuda-kuda kurir yang berganti di setiap pos.
Tetapi surat itu sampai.
Dan bagi Roxana, itu sudah cukup untuk membuat pagi terasa berbeda.
Ia menerimanya dari seorang pedagang garam yang singgah di dekat sumur. Pedagang itu tidak banyak bicara. Ia hanya menyebut nama Ardashir, menyerahkan tabung kecil dari kulit, lalu meminta air untuk keledainya.
Roxana membawa surat itu ke bawah pohon delima.
Seperti biasa.
Kini buah-buah delima mulai lebih merah. Belum matang sepenuhnya, tetapi warnanya sudah tidak lagi malu-malu. Seolah pohon itu pun sedang belajar menjadi dewasa.
Roxana membuka surat itu perlahan.
Ia membaca tentang istana.
Tentang ruang peta.
Tentang Jenderal Artaban.
Tentang tugas baru Ardashir bersama Farrokh dan Dastan.
Tentang gagasan bahwa catatan kerajaan seharusnya menjadi alat keadilan, bukan alat ketakutan.
Ia tersenyum ketika membaca bagian itu.
“Masih Ardashir,” gumamnya pelan.
Anak peternak kuda itu kini berbicara di aula istana, tetapi pikirannya masih kembali kepada desa, air, lumbung, dan wajah orang-orang kecil.
Namun senyumnya perlahan melemah ketika ia membaca kalimat berikutnya.
Itu berarti aku mungkin akan lebih sering berada di ruang peta dan bertemu orang-orang istana, termasuk Artazara.
Roxana berhenti.
Angin bergerak pelan di antara daun delima.
Ia tidak marah.
Ia sudah meminta Ardashir jujur.
Dan kini Ardashir jujur.
Tetapi rupanya, menerima kejujuran tidak selalu mudah hanya karena kita memintanya.
Roxana membaca ulang bagian itu.
Ia tetap menjaga kehormatannya. Aku pun akan menjaga batasku.
Roxana menutup mata.
Ada rasa perih kecil yang sulit ia namai.
Bukan karena ia tidak percaya kepada Ardashir.
Bukan karena ia membenci Artazara.
Bukan pula karena ia ingin Ardashir menolak tugas baik yang bisa membantu banyak desa.
Justru karena semua itu baik, hatinya menjadi lebih rumit.
Tugas itu baik.
Artazara baik.
Kejujuran Ardashir baik.
Tetapi kebaikan yang datang bersama jarak kadang tetap terasa seperti pisau kecil.
Ia melanjutkan membaca syair di akhir surat.
Jika aku berdiri di aula istana,
jangan kira aku lupa tanah di depan rumahmu.Jika namaku mulai disebut orang,
doakan aku tetap mengenali suara yang memanggilku
sebelum dunia mengenalku.Sebab aku tidak ingin menjadi besar
bila kebesaran itu membuatku kehilangan arah pulang.
Roxana menunduk.
Air matanya jatuh satu titik di ujung kertas.
Ia segera menghapusnya dengan hati-hati.
“Jangan rusak suratnya,” bisiknya kepada dirinya sendiri.
Lalu ia tertawa kecil.
Menertawakan dirinya yang berbicara kepada kertas seperti kepada manusia.
Namun bukankah surat memang begitu?
Ia hanya kertas bagi orang lain.
Tetapi bagi yang menunggu, surat adalah suara.
Siang itu, keluarga Mehrdad datang kembali.
Bukan untuk memaksa.
Tidak ada kata lamaran yang keras.
Tidak ada keputusan yang dibawa seperti palu.
Ayah Mehrdad datang bersama istrinya, membawa buah kering, minyak, dan selembar kain halus sebagai tanda hormat. Mereka duduk di ruang depan rumah Roxana bersama ayah dan ibunya.
Roxana berada di ruang belakang, membantu ibunya menyiapkan minuman.
Ia bisa mendengar sebagian percakapan.
“Anak kami menghormati Roxana,” kata ayah Mehrdad. “Kami tahu ada hal yang harus dipertimbangkan. Kami tidak ingin tergesa-gesa. Tetapi kami juga tidak ingin niat baik dibiarkan tanpa kejelasan terlalu lama.”
Ayah Roxana menjawab dengan tenang,
“Kami menghargai niat baik itu.”
Ibu Mehrdad berkata lembut,
“Kami bukan keluarga yang ingin mengambil anak orang dengan tekanan. Kami hanya berharap jika Roxana berkenan, ia akan hidup dalam rumah yang menghormatinya.”
Roxana menunduk.
Kalimat itu terdengar baik.
Dan kebaikan itu membuatnya semakin sulit bernapas.
Ibunya masuk ke ruang belakang dan melihat wajahnya.
“Kau baik-baik saja?”
Roxana mengangguk, tetapi ibunya tahu anggukan itu hanya setengah benar.
“Duduklah sebentar,” kata ibunya.
“Ibu, mereka baik sekali.”
“Iya.”
“Mehrdad juga baik.”
“Iya.”
“Lalu mengapa aku merasa seperti orang yang hendak menyakiti orang baik?”
Ibunya meletakkan tangan di bahunya.
“Karena kau memiliki hati yang tidak ingin sembarangan melukai.”
Roxana menatap ibunya.
“Tetapi kalau aku menolak, mereka terluka. Kalau aku menerima, aku melukai diriku. Kalau aku menunggu Ardashir, aku membuat mereka menunggu. Kalau aku tidak menunggu, aku mengkhianati hatiku sendiri.”
Ibunya menghela napas pelan.
“Anakku, kadang hidup tidak memberi pilihan antara melukai dan tidak melukai. Kadang hidup hanya memberi pilihan: luka mana yang lahir dari kejujuran, dan luka mana yang lahir dari kebohongan.”
Roxana diam.
Kalimat itu terlalu benar untuk dijawab cepat.
Dari ruang depan, suara ayahnya terdengar.
“Kami akan mendengar Roxana. Tidak ada keputusan tanpa dirinya.”
Roxana menutup mata.
Ia bersyukur.
Di rumah kecil itu, ia tidak diperlakukan seperti benda yang dipindahkan dari satu keluarga ke keluarga lain.
Namun hak untuk memilih ternyata juga membawa beban.
Sebab ketika suara kita didengar, kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik keputusan orang lain.
Di kota Persia, Ardashir mulai menjalani tugas barunya.
Setiap pagi setelah latihan, ia datang ke ruang catatan militer. Farrokh sudah menunggu dengan wajah seperti orang yang kecewa karena dunia belum menjadi lebih teratur.
Di atas meja, peta wilayah selatan terbuka lebar.
Di sampingnya ada lempengan tanah liat, gulungan kulit, segel silinder, tali ukur, batu pemberat, dan beberapa contoh takaran gandum dari berbagai wilayah.
Farrokh menunjuk benda-benda itu.
“Ini masalah kerajaan besar,” katanya.
Ardashir memandang takaran-takaran itu.
Ada mangkuk kayu.
Ada wadah tanah liat.
Ada ukuran logam.
Ada kantong kecil yang biasa dipakai pedagang.
“Semua untuk mengukur gandum?” tanya Ardashir.
“Ya. Dan semuanya merasa paling benar.”
Dastan yang duduk tidak jauh menambahkan,
“Jika satu desa memakai takaran kecil dan desa lain memakai takaran besar, catatan pajak menjadi kacau. Orang bisa merasa dizalimi meski petugas merasa sudah benar.”
Farrokh mengambil satu batu pemberat.
“Karena itu kerajaan memakai ukuran resmi. Berat, panjang, jumlah, dan takaran harus dipahami dengan cara yang sama. Tanpa ukuran yang disepakati, keadilan sering berubah menjadi perdebatan.”
Ardashir mengangguk pelan.
Ia teringat desa.
Mangkuk air berlubang kecil itu dipercaya karena semua orang melihatnya bersama.
“Kalau begitu,” kata Ardashir hati-hati, “ukuran resmi tidak cukup hanya diberikan. Orang harus melihat dan memahaminya. Kalau tidak, mereka akan mengira kerajaan membawa alat untuk mengambil lebih banyak.”
Farrokh memandangnya.
“Bagus. Tuliskan itu.”
Ardashir mengambil pena.
Farrokh menatapnya lebih lama.
“Jangan hanya menulis seperti prajurit yang takut salah. Tulis seperti orang yang pernah melihat wajah petani ketika hasil panennya dihitung.”
Ardashir menunduk.
Lalu ia menulis.
Di seberang meja, Artazara duduk membantu menyusun daftar pos air dan lumbung wilayah selatan. Ia tidak selalu berbicara kepada Ardashir. Kadang mereka hanya berada dalam satu ruangan, bekerja pada catatan masing-masing.
Namun justru itu yang sulit.
Karena kedekatan tidak selalu lahir dari percakapan panjang.
Kadang kedekatan lahir dari kebiasaan berbagi sunyi.
Ardashir menyadari itu.
Dan karena menyadari, ia lebih berhati-hati.
Jika Artazara bertanya, ia menjawab.
Jika perlu berdiskusi, ia berdiskusi.
Jika tidak perlu, ia tidak mencari alasan untuk memperpanjang percakapan.
Artazara pun melakukan hal yang sama.
Mereka sama-sama menjaga batas seperti dua penjaga menjaga gerbang kota: tidak dengan permusuhan, tetapi dengan kesadaran bahwa sesuatu yang berharga ada di baliknya.
Suatu sore, Vardan datang ke ruang catatan membawa gulungan yang diminta Farrokh.
Ia berhenti di pintu dan melihat suasana ruangan.
Farrokh sedang mengoreksi catatan.
Dastan menghitung kemiringan saluran.
Artazara membaca peta.
Ardashir menulis laporan.
Vardan menatap mereka semua dengan wajah prihatin.
“Tempat ini sangat sunyi. Apakah semua orang di sini sudah menyerah kepada kebahagiaan?”
Farrokh tanpa mengangkat wajah berkata,
“Kami sedang bekerja.”
“Itu yang kumaksud.”
Artazara menahan senyum.
Ardashir menoleh.
“Kau membawa gulungan?”
Vardan mengangkatnya.
“Ya. Aku membawanya dengan selamat melewati tiga lorong, dua penjaga, dan satu godaan untuk mampir ke dapur.”
Farrokh mengulurkan tangan.
“Berikan sebelum kecerdasanmu habis di jalan.”
Vardan menyerahkan gulungan itu dengan dramatis.
“Semoga gulungan ini membawa kerajaan menuju masa depan yang lebih cerah.”
Farrokh membuka gulungan.
“Ini daftar sandal prajurit.”
Vardan diam sebentar.
“Setiap masa depan butuh alas kaki.”
Dastan tertawa pelan.
Bahkan Artazara tersenyum jelas kali ini.
Ardashir menunduk, berusaha tidak tertawa terlalu keras.
Farrokh menghela napas.
“Anak ini seperti nyamuk. Mengganggu, tetapi membuat ruangan terasa hidup.”
Vardan membungkuk.
“Aku menerima pujian itu.”
“Itu bukan pujian.”
“Terlambat. Sudah kuterima.”
Ruangan tertawa kecil.
Dan untuk sesaat, segala sesuatu yang berat terasa lebih ringan.
Namun malam itu, beban kembali datang.
Ardashir menerima surat dari Roxana.
Tidak panjang.
Tulisan Roxana rapi dan tenang, tetapi di beberapa bagian tampak ada tekanan lebih kuat pada pena, seolah tangannya menahan perasaan yang tidak ingin tumpah.
Ardashir,
Suratmu sampai.
Aku senang kau kembali ke kota dengan selamat. Aku juga senang karena suaramu didengar di istana. Jika benar catatan kerajaan kelak bisa membantu desa-desa kecil agar lebih adil, maka aku ingin kau menjalani tugas itu dengan sungguh-sungguh.
Jangan menolak kebaikan hanya karena takut jauh dariku.
Ardashir berhenti membaca.
Kalimat itu terasa seperti Roxana sedang menyentuh wajahnya dari jauh.
Ia melanjutkan.
Tapi aku juga ingin jujur.
Keluarga Mehrdad datang lagi. Mereka baik. Mereka tidak memaksa. Ayah dan ibuku mendengarkanku. Aku belum memberi jawaban.
Aku menulis ini karena kau memintaku tidak membuatmu menunggu dalam gelap, maka aku pun tidak ingin membiarkanmu dalam gelap.
Ardashir memejamkan mata.
Rasa sakit itu datang, tetapi tidak membawa marah.
Justru ia merasa hormat.
Roxana sedang melakukan hal yang sama dengannya: memilih jujur meski tidak mudah.
Ia membaca bagian akhir surat.
Aku masih mencintaimu.
Tetapi aku juga sedang belajar bahwa cinta tidak boleh membuatku berhenti menjadi manusia yang hidup.
Aku akan menunggu kabarmu. Namun jangan jadikan penantianku sebagai tempat kau meletakkan kebingungan terlalu lama.
Di bawahnya ada syair pendek:
Janji bukan tali untuk mengikat langkah,
melainkan cahaya agar dua orang tidak saling kehilangan arah.Jika cahayamu redup, katakan.
Jika cahayaku lelah, aku pun akan berkata.Sebab aku tidak ingin cinta kita hidup
dari pura-pura kuat.
Ardashir meletakkan surat itu di meja kecil.
Lama ia tidak bergerak.
Vardan yang tidur di dekatnya membuka satu mata.
“Surat dari Roxana?”
Ardashir mengangguk.
“Kabar buruk?”
“Bukan. Kabar jujur.”
Vardan duduk.
“Kadang itu lebih berat.”
“Ya.”
Ardashir menyerahkan surat itu, tetapi hanya bagian yang boleh dibaca. Vardan membaca beberapa baris, lalu mengangguk pelan.
“Gadis ini berbahaya.”
Ardashir menatapnya.
“Berbahaya?”
“Ya. Dia bijaksana. Perempuan cantik yang bijaksana membuat laki-laki tidak punya tempat bersembunyi.”
Ardashir tertawa lemah.
Vardan mengembalikan surat itu.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Menulis balasan.”
“Bagus.”
“Aku harus mengatakan apa?”
Vardan menguap.
“Katakan yang benar.”
“Itu nasihatmu?”
“Nasihat terbaik sering tidak panjang. Orang membuatnya panjang agar bisa terlihat pintar.”
Ardashir tersenyum.
Vardan kembali berbaring.
“Dan jangan pakai terlalu banyak syair. Kalau semuanya jadi syair, nanti dia curiga kau menghindari isi pembicaraan.”
Ardashir memandangnya.
“Kali ini kau benar sekali.”
“Aku tahu. Menakutkan, bukan?”
Di rumah Artazara, tekanan lain mulai tumbuh.
Jenderal Artaban memanggil putrinya ke ruang keluarga setelah makan malam.
Tidak ada peta di meja.
Tidak ada gulungan catatan.
Itu membuat Artazara segera tahu: pembicaraan ini bukan tentang strategi.
Ayahnya duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tenang, tetapi matanya lebih lembut dari biasanya.
“Artazara.”
“Ya, Ayah.”
“Kau sudah cukup dewasa.”
Artazara hampir tersenyum.
“Kalimat itu biasanya menjadi pintu menuju pembicaraan yang berat.”
Artaban menatapnya.
“Kau memang putriku.”
Artazara duduk lebih tegak.
Artaban melanjutkan,
“Ada beberapa keluarga yang mulai bertanya tentangmu.”
Artazara diam.
Ia sudah menduga hari itu akan datang.
“Termasuk keluarga bangsawan dari barat,” kata Artaban. “Putra mereka memiliki kedudukan baik, pasukan sendiri, dan hubungan kuat dengan istana.”
“Apakah Ayah sudah memberi jawaban?”
“Belum.”
Artazara menatap ayahnya.
“Terima kasih.”
“Aku seorang jenderal,” kata Artaban. “Aku biasa mengatur pasukan. Tapi aku tidak ingin mengatur hidup anakku seperti mengatur gerakan kuda.”
Mata Artazara melembut.
Namun Artaban melanjutkan,
“Tetapi aku juga ayahmu. Aku harus memikirkan masa depanmu.”
“Aku mengerti.”
“Apakah ada seseorang di hatimu?”
Pertanyaan itu datang tenang.
Tetapi bagi Artazara, terasa seperti pintu yang tiba-tiba terbuka.
Ia menunduk sebentar.
Lalu memilih jujur.
“Ada.”
Artaban tidak tampak terkejut.
“Ardashir?”
Artazara mengangkat wajah.
“Ayah tahu?”
“Aku jenderal, bukan batu.”
Artazara tersenyum sedih.
“Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang mempermalukan Ayah.”
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak pernah meminta Ardashir meninggalkan siapa pun.”
“Aku tahu.”
Artazara menarik napas.
“Ia mencintai gadis dari desanya.”
“Roxana.”
Artazara terdiam.
“Kau tahu namanya juga.”
“Aku membaca laporan lebih baik dari kebanyakan orang.”
Artazara hampir tertawa, tetapi dadanya terlalu berat.
Artaban memandang putrinya dengan lembut.
“Apakah Ardashir memberi harapan kepadamu?”
“Tidak.”
“Apakah ia bersikap tidak pantas?”
“Tidak. Ia justru berusaha sangat hati-hati.”
“Dan kau?”
Artazara menunduk.
“Aku mengatakan perasaanku kepadanya. Tapi aku juga mengatakan bahwa aku akan menjaga kehormatanku.”
Artaban diam cukup lama.
Lalu ia berkata,
“Itu berat.”
“Ya.”
“Lebih berat daripada menolak pemuda yang buruk.”
Artazara tersenyum pahit.
“Karena ia tidak buruk.”
“Ya.”
Artaban berdiri dan berjalan ke dekat jendela.
“Kau tahu mengapa aku tertarik kepada Ardashir sebagai calon pemimpin muda?”
“Karena ia berpikir baik.”
“Benar. Dan karena ia tidak terlalu cepat tergoda oleh istana. Orang seperti itu jarang.”
Artazara mendengarkan.
“Tetapi justru karena itu, ia bisa menjadi ujian bagi hatimu. Sesuatu yang baik bisa menjadi tidak baik jika kita mengambilnya dari tempat yang bukan milik kita.”
Mata Artazara berkaca-kaca.
“Aku tahu, Ayah.”
Artaban mendekat.
“Kalau suatu hari ia datang kepadaku meminta sesuatu yang pantas, aku akan mendengar. Tetapi selama hatinya masih terikat janji kepada perempuan lain, aku tidak akan menjadikan ambisiku terhadap kemampuannya sebagai alasan untuk melukai siapa pun.”
Artazara memandang ayahnya dengan rasa syukur yang hampir membuatnya menangis.
“Terima kasih.”
Artaban meletakkan tangan di kepala putrinya sebentar.
“Kau boleh bersedih. Tetapi jangan biarkan kesedihanmu membuatmu lebih rendah dari dirimu sendiri.”
Air mata Artazara akhirnya jatuh.
Ia tidak menangis keras.
Hanya satu, dua titik air mata yang selama ini terlalu lama dijaga.
“Aku berusaha, Ayah.”
“Aku tahu.”
Keesokan harinya, Ardashir dan Artazara bertemu di ruang catatan.
Mereka bekerja seperti biasa.
Farrokh mengeluh seperti biasa.
Dastan menghitung seperti biasa.
Vardan datang sebentar untuk mengganggu seperti biasa.
Namun Ardashir melihat mata Artazara sedikit lebih lelah.
Ketika pekerjaan selesai dan orang-orang mulai keluar, Ardashir berkata pelan,
“Kau baik-baik saja?”
Artazara menutup gulungan catatannya.
“Pertanyaan itu sederhana, tapi berbahaya.”
“Aku bisa tidak bertanya jika kau ingin.”
“Tidak. Terima kasih sudah bertanya.”
Mereka berdiri dekat rak peta, tetap menjaga jarak.
“Ayahku mulai membicarakan masa depanku,” kata Artazara.
Ardashir mengerti.
Dadanya terasa berat.
“Lamaran?”
“Belum. Tapi arah pembicaraannya ke sana.”
“Apakah engkau…”
Ia berhenti.
Artazara menatapnya.
“Apakah aku akan menerima?”
Ardashir menunduk.
“Aku tidak berhak bertanya.”
“Benar,” jawab Artazara lembut. “Tapi kau boleh peduli.”
Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.
Artazara melanjutkan,
“Aku belum memberi jawaban apa pun. Ayahku tidak memaksa.”
“Dia orang terhormat.”
“Ya. Tapi hidup tetap berjalan, Ardashir. Bahkan ketika hati belum selesai merapikan dirinya.”
Ardashir merasa seperti mendengar gema dari desa.
Roxana juga menghadapi hal serupa.
Dua perempuan baik.
Dua keluarga baik.
Dua tekanan yang datang dengan sopan.
Dan dirinya berdiri di tengah, bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai seseorang yang harus semakin jelas.
“Aku menyesal jika keberadaanku membuatmu sulit,” katanya.
Artazara menggeleng.
“Jangan meminta maaf untuk sesuatu yang tidak kau curangi.”
“Tapi kau terluka.”
“Aku terluka karena hatiku sendiri memilih arah yang berat. Itu bukan sepenuhnya salahmu.”
Ardashir menatapnya dengan sedih.
Artazara tersenyum kecil.
“Jangan menatapku seperti itu. Aku sedang berusaha kuat. Wajahmu membuat pekerjaanku lebih sulit.”
Ardashir hampir tertawa, tetapi tertahan.
“Maaf.”
“Kau terlalu sering minta maaf.”
“Aku tidak tahu harus berkata apa.”
“Kadang diam cukup. Tapi jangan diam yang bersembunyi.”
Ardashir mengangguk.
Artazara mengambil gulungan catatan.
“Satu hal lagi.”
“Ya?”
“Jika kau mencintai Roxana, jangan lambat hanya karena kau takut melukai orang lain. Kelambatanmu bisa melukai lebih banyak orang.”
Ardashir merasakan kalimat itu seperti segel panas pada tanah liat.
Meninggalkan tanda.
“Aku tahu.”
“Belum,” kata Artazara lembut, meniru Rustom. “Tapi mungkin kau mulai.”
Kali ini Ardashir tertawa kecil.
Artazara juga tersenyum.
Senyum yang indah.
Senyum yang sakit.
Senyum yang tahu batasnya sendiri.
Malam itu, Ardashir menulis dua surat.
Surat pertama untuk Roxana.
Roxana,
Suratmu sampai.
Aku membacanya pelan-pelan, karena setiap kalimatmu terasa seperti seseorang yang menyalakan lampu di ruangan yang hampir kugelapkan dengan ketakutanku sendiri.
Aku tahu keluarga Mehrdad datang lagi. Aku tahu mereka baik. Aku tidak akan membenci kebaikan mereka.
Aku juga tidak akan memintamu berhenti hidup hanya karena aku sedang membangun jalan pulang.
Aku mencintaimu. Dan karena itu, aku ingin menjadi lebih jelas.
Aku akan menyelesaikan masa pelatihanku dan tugas laporan wilayah selatan sebaik mungkin. Setelah itu, aku akan meminta izin kepada ayahku dan datang kepada keluargamu dengan cara yang pantas.
Tangannya berhenti.
Ini bukan kalimat ringan.
Ini bukan sekadar syair.
Ini arah.
Ia melanjutkan.
Aku belum meminta kau menjawab sekarang. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak lagi ingin menaruhmu di antara harapan dan kabut.
Aku akan berusaha datang bukan hanya sebagai pemuda yang mencintaimu, tetapi sebagai laki-laki yang berani bertanggung jawab atas cintanya.
Di akhir surat ia menulis:
Jika janji harus berjalan jauh,
biarlah ia memakai kaki kejujuran.Jika cinta harus menunggu,
biarlah ia menunggu di tempat yang terang.Aku tidak ingin memilikimu dengan tergesa,
tetapi aku juga tidak ingin kehilanganmu
karena terlalu lama takut melangkah.
Surat kedua bukan untuk dikirim.
Ia menulisnya untuk dirinya sendiri.
Di atas kertas kecil itu, ia menulis:
Jangan jadikan Artazara tempat berlindung ketika rindu kepada Roxana terasa berat.
Jangan jadikan Roxana alasan untuk memperlakukan Artazara dengan dingin.
Jangan jadikan tugas sebagai kabut.
Jangan jadikan kehormatan sebagai kata indah tanpa tindakan.
Ia melipat catatan itu dan menyimpannya.
Bukan sebagai syair.
Sebagai peringatan.
Di desa, Roxana malam itu duduk bersama ayahnya di depan rumah.
Ayahnya memperbaiki tali keranjang.
Roxana memegang surat Ardashir yang terakhir.
“Ayah,” katanya pelan.
“Ya?”
“Jika Ardashir datang suatu hari nanti dengan niat baik…”
Ayahnya tidak mengangkat wajah.
“Maka ia akan kuterima sebagai tamu.”
“Lalu?”
“Lalu ia harus berbicara seperti laki-laki yang tahu apa yang ia minta.”
Roxana menunduk.
“Dan jika ia belum siap?”
“Aku tidak akan menyerahkan anakku kepada laki-laki yang hanya membawa rindu.”
Roxana memandang ayahnya.
Kalimat itu tegas.
Tetapi ia tahu, ketegasan itu adalah bentuk kasih.
Ayahnya melanjutkan,
“Rindu itu indah. Tapi rumah tangga tidak dibangun hanya dari rindu. Harus ada tanggung jawab, nafkah, akhlak, kejelasan, dan kemampuan menjaga hati.”
Roxana tersenyum kecil.
“Ayah terdengar seperti tetua desa.”
“Aku lebih tampan.”
Roxana tertawa pelan.
Ayahnya akhirnya tersenyum.
Lalu ia berkata lebih lembut,
“Aku tidak menolak Ardashir. Aku mengenalnya sejak kecil. Tapi aku harus memastikan ia pulang bukan hanya karena cinta, melainkan karena siap menjaga cinta itu.”
Roxana mengangguk.
“Aku mengerti.”
Di kejauhan, pohon delima berdiri dalam gelap.
Buah-buahnya mulai berat di dahan.
Seperti keputusan yang belum jatuh, tetapi semakin matang.
Di kota, Artazara malam itu berdiri di balkon.
Ia tidak menangis lagi.
Matanya masih lelah, tetapi wajahnya lebih tenang.
Di tangannya ada gulungan kecil berisi syair yang ia tulis sendiri.
Nama seseorang bisa tinggal di hati,
meski ia tidak menjadi takdir.Tidak semua cinta harus dimiliki
untuk membuktikan bahwa ia pernah benar.Ada cinta yang tugasnya
hanya mengajari manusia
menjadi lebih jujur kepada dirinya.
Ia menggulung kertas itu.
Lalu menyimpannya di kotak kecil.
Bukan untuk dilupakan.
Tetapi agar tidak lagi dibiarkan berserakan di seluruh ruang hatinya.
Malam itu, tiga orang di tiga tempat berbeda sedang belajar hal yang sama.
Roxana belajar bahwa menunggu harus tetap memiliki harga diri.
Artazara belajar bahwa mencintai tidak boleh membuatnya kehilangan kehormatan.
Ardashir belajar bahwa kejelasan adalah bentuk kasih yang paling dewasa.
Dan di atas mereka, bulan menggantung tenang.
Seolah mengetahui bahwa babak berikutnya akan lebih berat.
Karena setelah nama-nama disebut dan janji mulai diperjelas,
hidup biasanya datang membawa ujian yang lebih besar daripada urusan hati.
Tugas.
Keluarga.
Kehormatan.
Dan perang yang mulai bergerak dari kejauhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar