Sabtu, 01 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (30 tamat)

 

Bab 30

Di Bawah Pohon Delima



Ardashir berdiri beberapa langkah dari pohon delima.

Angin sore bergerak pelan di antara daun-daunnya. Buah-buah delima yang dulu masih kecil kini telah merah dan berat, menggantung seperti hati yang akhirnya matang setelah lama dijaga oleh waktu.

Di hadapannya, Roxana berdiri dengan mata basah.

Tidak jauh dari sana, ayah Roxana berdiri di ambang pintu. Ibunya berada di sampingnya. Bahram muncul dari arah kandang, tangannya masih memegang tali kekang kuda. Beberapa warga desa melihat dari kejauhan, tetapi tidak mendekat. Mereka tahu, ada percakapan yang harus diberi ruang.

Ardashir menarik napas panjang.

Ia sudah melewati jalan kerajaan.
Ia sudah melihat kota.
Ia sudah belajar membaca peta.
Ia sudah melihat air berjalan di bawah tanah.
Ia sudah menyaksikan api berbicara dari menara ke menara.
Ia sudah menjaga sumur di pos air ketiga.
Ia sudah menulis surat yang hampir terlambat.
Ia sudah kembali dari perang kecil yang mengubah hatinya.

Namun saat berdiri di depan rumah Roxana, ia merasa lebih gentar daripada ketika menghadapi musuh bersenjata.

Karena kali ini yang harus ia bawa bukan tombak.

Melainkan kejelasan.

Ia melangkah mendekati ayah Roxana.

Lalu menunduk hormat.

“Tuan,” katanya pelan, “aku datang bukan sebagai prajurit kerajaan. Bukan sebagai pembawa pesan. Bukan sebagai anak Bahram yang dulu sering berlari di ladang ini.”

Ayah Roxana menatapnya dengan tenang.

“Lalu sebagai siapa kau datang, Ardashir?”

Ardashir mengangkat wajah.

“Sebagai laki-laki yang mencintai putrimu, dan ingin meminta izin untuk menjaganya dengan cara yang terhormat.”

Hening turun.

Roxana menahan napas.

Ibunya menggenggam ujung selendang.

Bahram menunduk sedikit, menyembunyikan sesuatu di wajahnya.

Ayah Roxana tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, menatap Ardashir dari kepala sampai kaki. Matanya berhenti sebentar pada balutan luka di lengan Ardashir.

“Kau terluka.”

“Ya.”

“Perang?”

“Menjaga pos air.”

“Dan sekarang kau datang meminta anakku?”

“Ya.”

Ayah Roxana mengangguk pelan.

“Cinta dan luka sering membuat laki-laki bicara lebih berani daripada biasanya.”

Ardashir menerima kalimat itu dengan diam.

Ayah Roxana melanjutkan,

“Aku tidak akan menyerahkan Roxana hanya kepada laki-laki yang pulang karena rindu. Rindu itu indah, tetapi rumah tangga tidak bisa hidup hanya dari rindu.”

“Aku tahu.”

“Tidak cukup tahu. Kau harus sanggup.”

Ardashir menatapnya.

“Aku belum memiliki banyak harta. Aku belum menjadi orang besar. Aku masih dalam tugas dan pelatihan. Tapi aku ingin membangun hidup yang jelas. Aku akan menyelesaikan tugasku di kota. Aku akan kembali dengan izin ayahku, dengan niat yang terang, dan dengan kesiapan yang tidak hanya berupa kata-kata.”

Ayah Roxana menatapnya lebih dalam.

“Lalu selama itu, apa yang kau minta dari Roxana?”

Ardashir menoleh kepada Roxana sebentar.

Lalu kembali menatap ayahnya.

“Aku tidak meminta ia berhenti hidup. Aku tidak meminta ia menunggu dalam gelap. Aku hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak menjadikan cintanya sebagai tempat menitipkan kebingunganku.”

Roxana menunduk.

Air matanya jatuh, tetapi bibirnya tersenyum.

Ayah Roxana diam cukup lama.

Lalu ia berkata,

“Kalimatmu baik.”

Ardashir tidak langsung lega.

Ayah Roxana melanjutkan,

“Tapi aku lebih percaya pada perjalananmu daripada kalimatmu. Kau pergi sebagai anak muda yang belum jelas. Kau kembali sebagai laki-laki yang setidaknya mulai mengerti bahwa mencintai berarti bertanggung jawab.”

Ia menoleh kepada Roxana.

“Anakku.”

Roxana melangkah mendekat.

“Ya, Ayah.”

“Ini hidupmu. Aku bisa menilai laki-laki di depan kita. Tetapi hatimu, engkau yang menjalaninya.”

Roxana menatap ayahnya dengan mata basah.

Lalu ia menatap Ardashir.

Ada begitu banyak hal di antara mereka.

Masa kecil.
Perpisahan.
Surat.
Diam.
Artazara.
Mehrdad.
Perang.
Ketakutan.
Dan kepulangan.

Roxana berkata pelan,

“Aku tidak ingin dicintai hanya sebagai kenangan.”

Ardashir mengangguk.

“Aku tahu.”

“Aku tidak ingin menjadi pohon yang kau kunjungi hanya ketika lelah dari dunia.”

“Aku tahu.”

“Aku ingin, jika suatu hari kita berjalan bersama, kau tidak membuatku kecil hanya karena dunia tempatmu berdiri semakin besar.”

Ardashir menatapnya.

“Aku tidak ingin kau kecil. Justru aku ingin belajar pulang kepadamu tanpa memintamu berhenti tumbuh.”

Roxana menahan tangis.

“Aku masih mencintaimu.”

Kalimat itu pelan.

Namun cukup untuk membuat dunia Ardashir berhenti sejenak.

Roxana melanjutkan,

“Tapi aku ingin cinta ini dijaga dengan terang. Surat. Kejujuran. Izin keluarga. Waktu yang jelas. Bukan janji yang menggantung.”

Ardashir menunduk.

“Aku berjanji akan menjaga itu.”

Roxana tersenyum tipis.

“Jangan terlalu cepat berjanji.”

Ardashir hampir tertawa.

Kalimat itu sudah menjadi milik Roxana.

Maka ia memperbaiki ucapannya.

“Aku akan berjuang menjaga itu.”

Roxana mengangguk.

“Itu lebih benar.”

Ayah Roxana memandang mereka berdua.

Lalu ia berkata,

“Kalau begitu, aku menerima niat baikmu. Bukan sebagai akhir, tetapi sebagai awal. Kau boleh datang kembali dengan keluargamu setelah tugasmu jelas.”

Bahram, yang sejak tadi diam, akhirnya melangkah maju.

“Aku akan datang bersamanya.”

Ayah Roxana menoleh.

“Sebagai ayah?”

“Sebagai ayah yang sudah terlalu lama pura-pura tidak tahu anaknya mencintai anakmu.”

Untuk pertama kalinya sore itu, ibu Roxana tertawa kecil.

Roxana menunduk malu.

Ardashir menatap ayahnya.

Bahram meliriknya.

“Apa? Kau pikir aku tidak melihat semua kebodohanmu sejak kecil?”

Ardashir tersenyum.

“Tidak semua, Ayah.”

“Lebih dari cukup.”

Suasana yang tadi tegang perlahan mencair.

Di kejauhan, tetua desa yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat pagar berseru,

“Kalau urusan hati sudah selesai, jangan lupa saluran air besok tetap harus dibersihkan!”

Vardan, yang datang dengan berjalan pelan sambil masih memegang pinggangnya yang terluka, langsung menyahut,

“Tetua! Bahkan dalam babak cinta pun kau tetap memikirkan lumpur!”

Tetua menatapnya.

“Karena cinta yang besar tetap butuh air untuk minum, anak kota.”

Vardan berhenti, lalu menoleh kepada Ardashir.

“Dia benar lagi. Aku mulai curiga tetua ini Farrokh versi desa.”

Semua orang tertawa.

Bahkan Bahram.

Bahkan ayah Roxana.

Dan tawa itu membuat sore terasa lebih manusiawi.


Menjelang malam, desa mengadakan makan sederhana.

Bukan pesta besar.

Hanya rasa syukur.

Roti hangat dibagi. Sup gandum dimasak. Kurma dan buah delima pertama yang matang diletakkan di tengah tikar. Anak-anak berlari membawa kendi kecil. Para lelaki berbicara tentang pos air, jalur bawah, dan lumbung yang berhasil diselamatkan. Para perempuan menenangkan anak-anak yang masih takut dengan cerita asap dan pengungsian.

Vardan duduk dekat tetua desa.

Itu kesalahan.

Atau keberuntungan.

Tidak ada yang tahu.

Tetua menatapnya sambil mengunyah roti.

“Kau yang membawa pesan sampai terluka itu?”

Vardan duduk lebih tegak.

“Ya, Tetua. Dengan keberanian yang cukup dan ketakutan yang sangat banyak.”

Tetua mengangguk.

“Bagus. Orang yang takut tapi tetap bergerak lebih berguna daripada orang yang berani tapi tidak berpikir.”

Vardan tampak tersentuh.

“Tetua, aku akan mengingat kalimat itu.”

“Tapi jangan ulangi terlalu sering. Nanti jadi membosankan.”

Vardan menutup mulutnya.

Bahram berkata pelan kepada Ardashir,

“Temanmu itu akan sembuh.”

“Lukanya?”

“Mulutnya.”

Ardashir tertawa.

Roxana duduk tidak jauh bersama ibunya. Sesekali matanya bertemu dengan Ardashir. Tidak lama. Tidak berlebihan. Tetapi cukup untuk membuat semua surat yang pernah mereka tulis terasa hidup kembali.

Di sudut lain, Mehrdad hadir.

Ia datang bukan sebagai pelamar.

Bukan sebagai pesaing.

Melainkan sebagai warga desa yang ikut menjaga lumbung dan membantu evakuasi. Ia berbicara dengan ayahnya, lalu membantu membagikan roti kepada para penjaga yang baru kembali.

Roxana melihatnya.

Ia berdiri dan mendekat.

“Mehrdad.”

Mehrdad menoleh.

“Roxana.”

Beberapa saat mereka diam.

Lalu Roxana berkata,

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk menjaga desa. Untuk menjaga sikapmu. Untuk tidak membuatku merasa bersalah karena hatiku memilih jalan lain.”

Mehrdad tersenyum kecil.

“Aku tidak bisa berkata bahwa semuanya mudah.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku juga tidak ingin dikenang sebagai orang yang memaksa pintu yang tidak dibuka.”

Roxana menunduk.

“Kau orang baik.”

Mehrdad tertawa pelan, tetapi ada sedih di matanya.

“Kalimat itu sering diberikan kepada laki-laki yang tidak dipilih.”

Roxana terdiam.

Mehrdad mengangkat tangan kecil.

“Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka.”

“Tidak. Kau benar.”

Mehrdad memandang langit yang mulai gelap.

“Aku akan baik-baik saja. Mungkin tidak cepat, tapi aku akan baik-baik saja.”

“Aku mendoakanmu.”

“Terima kasih.”

Ia menatap Ardashir dari kejauhan.

“Dia berubah.”

“Ya.”

“Semoga cukup.”

Roxana tersenyum.

“Aku juga berharap begitu.”

Mehrdad mengangguk.

Lalu berkata dengan lembut,

“Kalau suatu hari ia membuatmu menangis karena kebodohannya, beri tahu aku.”

Roxana terkejut.

Mehrdad tersenyum tipis.

“Aku tidak akan merebutmu. Tapi aku bisa menegurnya sebagai sesama laki-laki desa.”

Roxana akhirnya tertawa.

“Baik.”

Di kejauhan, Ardashir melihat percakapan itu.

Ia tidak cemburu.

Ia justru merasa hormat.

Karena ia tahu, cinta yang terhormat tidak hanya terlihat dari cara seseorang memperoleh.

Tetapi juga dari cara seseorang melepaskan.


Beberapa hari kemudian, Ardashir kembali ke kota.

Kali ini, perpisahan dengan Roxana tidak penuh kabut seperti dulu.

Mereka berdiri di bawah pohon delima.

Buah pertama yang benar-benar matang telah dipetik oleh ayah Roxana. Buah itu dibelah di atas meja batu kecil. Biji-bijinya merah menyala, seperti butir-butir janji yang telah melewati musim panjang.

Roxana menyerahkan sepotong kain kecil kepada Ardashir.

Di kain itu tersulam jalan kecil berwarna merah, dibuat dari benang yang ia berikan. Di ujung jalan itu ada pohon delima.

“Untukmu,” katanya.

Ardashir menerimanya dengan hati-hati.

“Jalan pulang?”

Roxana mengangguk.

“Bukan agar kau selalu kembali kepadaku dengan tubuhmu. Tapi agar ke mana pun kau berjalan, hatimu tahu arah.”

Ardashir menatap sulaman itu lama.

“Aku akan menyimpannya.”

“Jangan hanya menyimpan. Ingat maknanya.”

“Aku akan berusaha.”

Roxana tersenyum.

“Bagus. Sekarang kau lebih hati-hati dengan janji.”

Ardashir tertawa kecil.

Kemudian ia berkata,

“Aku akan kembali dengan ayahku setelah tugasku selesai.”

“Aku akan menunggu kabar, bukan dalam gelap.”

“Dan aku akan menulis.”

“Jangan terlalu puitis setiap saat.”

Ardashir mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Karena kadang perempuan hanya ingin membaca: aku sehat, aku makan, aku tidak melakukan kebodohan.”

Dari belakang, Vardan yang mendengar itu langsung berseru,

“Aku mendukung bagian makan!”

Tetua desa menimpali,

“Kau selalu mendukung bagian makan!”

Vardan menunduk hormat.

“Setiap orang harus setia kepada prinsipnya.”

Roxana tertawa.

Ardashir tertawa.

Dan perpisahan itu, meski tetap sedih, tidak lagi terasa seperti jurang.

Ia terasa seperti jembatan.


Ketika Ardashir tiba kembali di kota Persia, Artazara sedang berada di ruang arsip.

Ia sudah mendengar kabar bahwa Ardashir hidup, jalur selatan aman, dan desa-desa kembali. Namun ia belum bertemu dengannya sejak sebelum perintah perang.

Ardashir datang ke ruang arsip bersama Farrokh untuk menyerahkan laporan akhir pos air ketiga.

Artazara berdiri di depan rak catatan.

Ketika melihat Ardashir, ia diam sejenak.

Lalu tersenyum.

Tenang.

Tidak seperti dulu.

Ada luka yang belum sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi berdarah.

“Kau kembali,” katanya.

“Ya.”

“Dengan lengan masih utuh.”

“Sebagian besar.”

Farrokh yang duduk di meja berkata,

“Jangan bercanda tentang laporan medis. Nanti juru catat bingung.”

Vardan yang datang di belakang Ardashir langsung menyahut,

“Kalau begitu tulis saja: Ardashir hidup, lengannya tidak terlalu bodoh.”

Farrokh menatapnya.

“Kau juga hidup?”

Vardan membungkuk.

“Dengan penuh kejutan, Tuan.”

“Sayang sekali arsip harus mencatatnya.”

Artazara tertawa pelan.

Tawa itu ringan.

Tidak sepenuhnya bebas, tetapi tidak lagi pecah.

Setelah laporan diserahkan, Farrokh pura-pura mencari sesuatu di rak lain. Vardan pura-pura membantu, meski jelas tidak tahu apa yang dicari. Mereka memberi ruang tanpa mengatakannya.

Ardashir dan Artazara berdiri di dekat jendela.

“Aku mendengar kau pergi ke desa,” kata Artazara.

“Ya.”

“Dan berbicara kepada keluarganya?”

“Ya.”

Artazara mengangguk.

“Bagus.”

Ardashir menatapnya.

“Artazara…”

Ia mengangkat tangan kecil.

“Tidak perlu meminta maaf.”

“Aku ingin berterima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena kau membantuku menjadi lebih jujur. Kepada Roxana. Kepada diriku. Bahkan kepada tugas.”

Artazara memandang halaman istana.

“Aku juga belajar sesuatu darimu.”

“Apa?”

“Bahwa aku tidak ingin hidup hanya sebagai putri seseorang. Aku ingin pikiranku berguna.”

“Pikiranmu sudah berguna.”

“Belum cukup. Tapi akan.”

Ada ketegasan baru dalam suaranya.

Ardashir tersenyum.

“Aku percaya itu.”

Artazara menatapnya.

“Kali ini kalimatmu boleh indah.”

Mereka tertawa kecil.

Lalu Artazara berkata,

“Ayahku akan membentuk kelompok pencatatan dan perencanaan wilayah. Aku akan membantu Farrokh menyusun sistem catatan pos air dan lumbung desa agar lebih mudah dipahami warga. Tidak resmi sebagai jabatan besar. Tapi awal.”

Ardashir merasa gembira sungguh-sungguh.

“Itu hal besar.”

“Hal kecil yang dipikirkan serius,” kata Artazara.

Ardashir teringat ucapan Rustom tentang teknologi.

Mereka saling memandang.

Tidak ada lagi ketegangan seperti dulu.

Ada bekas perasaan.

Ada sejarah kecil.

Tetapi juga ada penerimaan.

Artazara berkata,

“Cintaku kepadamu tidak menjadi takdir. Tapi ia tidak sia-sia. Ia membawaku mengenal diriku.”

Ardashir menunduk hormat.

“Engkau akan menjadi lebih besar daripada ruangan yang selama ini membatasimu.”

Artazara tersenyum.

“Dan kau, Ardashir, jangan menjadi besar dengan cara lupa menjadi baik.”

“Aku akan berusaha.”

“Bagus. Roxana pasti mengajarimu menjawab begitu.”

Ardashir tertawa.

“Ya.”

Artazara mengulurkan tangan.

Bukan sebagai kekasih.

Bukan sebagai perempuan yang menuntut.

Sebagai sahabat yang telah melewati badai batin dengan kepala tegak.

Ardashir menerima uluran itu dengan hormat.

Tidak lama.

Tidak berlebihan.

Tetapi cukup.

Farrokh dari jauh bergumam,

“Akhirnya. Hubungan manusia selesai tanpa membuat arsip tambah kacau.”

Vardan menyahut,

“Tuan Farrokh, apakah arsip punya bagian khusus untuk patah hati yang terhormat?”

Farrokh menjawab,

“Kalau ada, namamu akan kutulis di bagian terlalu banyak bicara.”

Artazara tertawa.

Ardashir juga.

Dan untuk pertama kalinya, nama Roxana dan Artazara tidak lagi berdiri sebagai dua arah yang merobek hati Ardashir.

Satu adalah rumah yang ia pilih.

Satu adalah cahaya yang membuatnya memahami kehormatan.

Keduanya baik.

Keduanya tetap terhormat.

Dan hidup, akhirnya, memberi tempat yang berbeda bagi keduanya.


Bulan-bulan berikutnya berjalan dengan kerja yang tidak sedikit.

Ancaman di jalur barat berhasil diredam. Pos air ketiga diperbaiki lebih kuat. Sumur diberi pelindung batu baru. Spara, pasak, dan tanda sinyal disimpan lebih teratur di setiap pos kecil. Menara api diperiksa ulang. Catatan jarak antar-pos diperbarui.

Atas usul Farrokh, Dastan, Artazara, dan Ardashir, kerajaan mulai membuat catatan sederhana untuk desa-desa: ukuran gandum yang disepakati, tanda giliran air, jalur evakuasi, dan daftar pos yang bisa dituju saat bahaya.

Tidak semua pejabat menyukai gagasan itu.

Beberapa merasa desa tidak perlu tahu terlalu banyak.

Namun Jenderal Artaban berkata dalam sebuah rapat,

“Kerajaan yang takut rakyatnya memahami catatan sendiri adalah kerajaan yang tidak percaya pada keadilannya sendiri.”

Farrokh hampir tersenyum hari itu.

Hampir.

Vardan mengaku melihatnya, tetapi tidak ada saksi lain.

Di desa, Roxana membantu tetua mencatat pembagian air dengan cara yang lebih rapi. Ia mengajarkan beberapa anak perempuan membaca tanda sederhana pada papan catatan. Ibunya berkata, “Kau sekarang seperti juru catat desa.”

Roxana menjawab, “Bukan. Aku hanya tidak ingin orang bertengkar karena lupa giliran air.”

Tetua berkata, “Itu awal semua pemerintahan yang baik.”

Bahram tetap merawat kuda-kudanya. Namun setiap kali ada surat dari kota, ia pura-pura tidak ingin tahu, lalu duduk paling dekat saat surat dibacakan.

Mehrdad mundur dari pembicaraan lamaran dengan cara yang terhormat. Beberapa waktu kemudian, ia mulai membantu ayahnya mengelola lumbung dengan sistem catatan yang lebih adil. Ia tidak menghilang dari desa. Ia tetap menjadi bagian dari kehidupan di sana.

Orang baik tidak selalu mendapatkan cinta yang ia harapkan.

Tetapi ia tetap bisa menjadi berkah bagi banyak orang.


Pada akhir musim berikutnya, Ardashir kembali ke desa bersama Bahram.

Bukan sebagai pelarian dari tugas.

Bukan sebagai pemuda yang sekadar rindu.

Ia datang dengan pakaian sederhana namun rapi, membawa ayahnya, membawa niat yang jelas, dan membawa izin dari komandannya untuk masa jeda setelah tugas panjang.

Jenderal Artaban memberinya pesan singkat sebelum berangkat:

“Bangun rumahmu sebaik kau menjaga pos air. Keduanya runtuh jika fondasinya diabaikan.”

Farrokh menitipkan komentar:

“Jangan membuat pernikahan yang menghasilkan terlalu banyak dokumen.”

Vardan bersikeras ikut.

“Aku saksi sejarah,” katanya.

Rustom hanya berkata,

“Jangan terlambat kembali.”

Namun ketika Ardashir menunduk, Rustom menambahkan pelan,

“Dan jangan gagal menjadi laki-laki baik.”

Itu restu dalam bahasa Rustom.


Hari ketika Ardashir datang melamar Roxana tidak dibuat megah.

Tidak ada emas berlebihan.

Tidak ada rombongan besar.

Hanya keluarga, tetua desa, beberapa tetangga dekat, Vardan yang berusaha terlihat khidmat, dan pohon delima yang menjadi saksi seperti sejak awal.

Ayah Roxana menerima Ardashir di ruang depan.

Bahram duduk di samping anaknya.

Roxana berada di belakang tirai tipis bersama ibunya, mendengar dengan jantung berdebar.

Ardashir berbicara tidak terlalu panjang.

Ia tidak berusaha terdengar seperti penyair.

Ia hanya berkata,

“Aku mencintai Roxana. Aku ingin menikahinya dengan izin keluarga. Aku belum menjadi orang paling kaya, tetapi aku memiliki pekerjaan, kehormatan, dan niat untuk membangun hidup yang baik. Aku ingin menjaganya bukan dengan mengurung langkahnya, tetapi dengan berjalan bersamanya.”

Ayah Roxana mendengarkan.

Lalu ia bertanya,

“Jika suatu hari tugas memanggilmu lagi?”

“Aku akan pergi jika harus pergi. Tetapi aku tidak akan meninggalkan ia dalam gelap. Aku akan berbicara. Aku akan menulis. Aku akan membuat keputusan bersama sejauh yang bisa dilakukan seorang suami yang baik.”

Ayah Roxana mengangguk.

“Jika ia ingin tetap membantu catatan air desa?”

Ardashir tersenyum.

“Aku akan bangga.”

Di balik tirai, Roxana menunduk, menahan air mata.

Ayah Roxana memandang Bahram.

“Anakmu berubah.”

Bahram menjawab,

“Belum sempurna.”

“Tidak ada yang meminta sempurna.”

“Bagus. Karena kami tidak membawanya.”

Vardan di belakang hampir tertawa, tetapi segera menutup mulutnya.

Tetua desa menatapnya tajam.

“Kalau kau tertawa sebelum waktunya, aku jadikan kau pencatat giliran kambing.”

Vardan langsung duduk lebih tegak.

“Aku sangat khidmat, Tetua.”

Akhirnya ayah Roxana berkata,

“Aku menerima niat baik ini.”

Di balik tirai, Roxana menangis.

Ibunya memeluknya.

Di ruang depan, Ardashir menunduk dalam-dalam.

Bahram menepuk bahunya sekali.

Singkat.

Kuat.

Seperti dulu.

Namun kali ini, Ardashir mengerti betapa besar arti tepukan itu.


Beberapa pekan kemudian, akad dan perayaan kecil dilangsungkan di desa.

Sederhana.

Tetapi penuh cahaya.

Pohon delima dihias dengan kain merah dan putih. Saluran air dibersihkan sehari sebelumnya, karena tetua bersikeras bahwa “pernikahan yang baik tidak boleh dimulai di dekat lumpur yang malas.”

Vardan ditugaskan membagikan roti.

Itu keputusan keliru.

Setelah beberapa waktu, jumlah roti berkurang lebih cepat daripada jumlah tamu.

Ketika ditanya, Vardan menjawab,

“Aku hanya memastikan kualitasnya.”

Tetua berkata,

“Kalau kau memastikan semua roti, tamu akan makan udara.”

Vardan menyerahkan keranjang dengan wajah bersalah.

Roxana tertawa.

Ardashir tertawa.

Bahkan Rustom, yang datang bersama rombongan kecil dari kota, tampak seperti hampir tersenyum.

Hampir.

Artazara tidak datang.

Namun ia mengirim hadiah.

Sebuah kotak kecil berisi peta sederhana wilayah selatan, digambar indah dengan tinta biru dan merah. Di bagian bawahnya tertulis:

Untuk Ardashir dan Roxana.

Semoga rumah kalian menjadi tempat di mana jalan pulang selalu dikenali.

Di dalam kotak itu juga ada catatan kecil untuk Roxana:

Suatu hari, jika takdir mengizinkan, aku ingin belajar darimu tentang pohon delima dan cara desa membagi air dengan adil.

Dari seseorang yang menghormatimu,

Artazara.

Roxana membaca catatan itu lama.

Lalu ia berkata kepada Ardashir,

“Dia perempuan yang sangat kuat.”

“Ya.”

“Dan baik.”

“Ya.”

Roxana melipat catatan itu dengan hati-hati.

“Kalau suatu hari ia datang, kita sambut dengan baik.”

Ardashir menatapnya.

“Aku akan sangat menghargai itu.”

Roxana tersenyum.

“Aku tidak ingin cinta kita dibangun di atas ketakutan kepada kebaikan orang lain.”

Ardashir menggenggam tangannya.

Tidak lama.

Tidak berlebihan.

Tetapi cukup untuk mengatakan bahwa ia mengerti.


Menjelang senja, setelah semua tamu makan dan doa-doa dipanjatkan, Ardashir dan Roxana berjalan ke bawah pohon delima.

Tempat itu kini tidak lagi menjadi tempat menunggu.

Ia menjadi tempat mengingat.

Buah delima yang matang dibelah oleh ibu Roxana. Biji-bijinya merah dan bening. Tetua desa berkata, “Delima itu seperti hidup. Dari luar tampak satu, di dalamnya banyak isi. Kalau tidak sabar membukanya, bajumu kotor semua.”

Vardan mengangguk serius.

“Ini nasihat pernikahan terbaik hari ini.”

Rustom menatapnya.

“Jangan jadikan itu pidato.”

“Baik, Tuan.”

Ardashir dan Roxana duduk sejenak di bawah pohon.

Seperti dulu.

Tetapi tidak seperti dulu.

Dulu mereka duduk sebagai anak-anak yang belum tahu dunia.

Kini mereka duduk sebagai dua manusia yang telah mengenal jarak, rindu, godaan, perang, luka, dan kejujuran.

Roxana memandang buah delima di atas mereka.

“Dulu aku menunggumu di sini.”

“Aku tahu.”

“Lalu aku belajar bahwa menunggu bukan berarti berhenti hidup.”

“Aku juga belajar bahwa pulang bukan berarti dunia selesai.”

“Sekarang?”

Ardashir menatapnya.

“Sekarang aku ingin membangun jalan pulang bersamamu.”

Roxana tersenyum.

“Jangan terlalu puitis.”

“Aku sehat. Aku makan. Aku tidak melakukan kebodohan.”

Roxana tertawa.

“Itu lebih baik.”

Ardashir ikut tertawa.

Lalu ia berkata lebih pelan,

“Aku mencintaimu.”

Roxana menatapnya.

“Aku tahu.”

“Aku akan tetap mengatakannya.”

“Boleh. Asal kau juga tetap membuktikannya.”

“Aku akan berusaha.”

Roxana mengangguk puas.

“Itu jawaban yang benar.”

Angin sore menggerakkan daun-daun delima.

Di kejauhan, saluran air mengalir pelan.

Mangkuk tanah liat berlubang kecil tenggelam perlahan di bejana, menandai giliran air salah satu keluarga telah selesai.

Jalan kerajaan masih membentang jauh di luar desa.

Menara api masih berdiri di bukit.

Qanat masih mengalir di bawah kota.

Arsip masih mencatat nama-nama.

Peta masih dibuka di ruang istana.

Peradaban besar Persia terus bergerak dengan air, jalan, api, kuda, catatan, dan manusia-manusia yang menjaganya.

Namun di bawah pohon delima itu, Ardashir akhirnya memahami bahwa semua kebesaran dunia akan kehilangan makna jika seseorang tidak tahu untuk siapa ia pulang.

Ia menatap Roxana.

Roxana menatapnya.

Tidak ada lagi surat yang hampir terlambat di antara mereka.

Tidak ada lagi nama yang disembunyikan.

Tidak ada lagi janji yang kabur.

Hanya dua manusia yang telah memilih dengan terang.

Di atas mereka, buah delima bergoyang pelan.

Merah.

Matang.

Dan di antara angin senja, seolah terdengar suara semua perjalanan yang pernah mereka lalui berbisik lembut:

bahwa cinta yang baik bukan cinta yang tidak diuji,

melainkan cinta yang tetap menjaga kehormatan

setelah melewati ujian.


Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar