Senin, 10 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (28)

 

Bab 28

Pertempuran di Jalan Kerajaan



Dari punggung bukit terakhir sebelum pos air ketiga, Ardashir melihat perang untuk pertama kalinya bukan sebagai cerita para prajurit tua.

Bukan sebagai latihan Rustom di lapangan.
Bukan sebagai garis merah di atas peta.
Bukan sebagai tanda api di menara.

Tetapi sebagai debu.

Debu yang bergerak di kejauhan.

Debu itu naik dari jalur barat, tipis pada awalnya, lalu semakin tebal. Di bawahnya tampak bayangan kuda, manusia, dan kilatan logam yang sesekali menangkap cahaya senja.

Pos air ketiga berdiri di bawah bukit, kecil dan rentan.

Hanya dinding batu rendah.
Sebuah sumur dangkal.
Kandang kuda kecil.
Gudang persediaan.
Dan menara pengawas yang tingginya tidak seberapa.

Namun pos kecil itu penting.

Jika pos itu jatuh, jalur selatan akan lumpuh.
Jika sumurnya dirusak, rombongan perbekalan tidak bisa lewat.
Jika pesan berhenti di sana, desa-desa kecil akan mendengar bahaya terlalu lambat.

Ardashir menggenggam tali kendali lebih erat.

Di sampingnya, Vardan menatap debu itu dengan wajah yang tidak lagi berusaha lucu.

“Ardashir,” katanya pelan.

“Ya?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kita turun.”

“Katakan.”

“Kalau aku mati hari ini, jangan biarkan orang menulis bahwa aku gugur dengan gagah.”

Ardashir menoleh.

Vardan menelan ludah.

“Tulis saja: ia sangat takut, tapi tetap turun.”

Ardashir menatap sahabatnya lama.

Lalu berkata,

“Itu lebih gagah daripada pura-pura tidak takut.”

Vardan menarik napas.

“Baik. Kalau begitu mari kita tampak gagah dengan wajah pucat.”

Mereka memacu kuda menuruni bukit.


Penjaga pos air ketiga sudah bersiap ketika Ardashir dan Vardan tiba.

Jumlah mereka sedikit.

Delapan prajurit penjaga.
Tiga kurir yang tertahan karena jalur barat tidak aman.
Dua pekerja sumur.
Dan seorang kepala pos bernama Yazdan, pria bertubuh pendek namun bermata tajam.

“Dari kota?” tanya Yazdan.

Ardashir turun dari kuda dan menyerahkan tabung pesan.

“Dari Jenderal Artaban. Rombongan utama Kapten Soren menuju kemari lewat jalan utama. Kami mengambil jalur kecil untuk memberi peringatan desa.”

Yazdan membuka pesan, membacanya cepat, lalu wajahnya mengeras.

“Musuh lebih cepat dari perkiraan.”

Ardashir menunjuk debu di kejauhan.

“Mereka mungkin ingin mengambil air.”

“Kalau mereka hanya ingin lewat, kita masih punya pilihan,” kata Yazdan. “Tapi kalau mereka ingin sumur, kita harus menahan mereka sampai Soren tiba.”

Vardan memandang dinding batu rendah pos itu.

“Menahan mereka dengan ini?”

Yazdan menatapnya.

“Dengan ini, dengan otak, dan dengan harapan mereka lebih bodoh dari kita.”

Vardan mengangguk pelan.

“Aku menyukai rencana yang memasukkan kebodohan musuh.”

Ardashir membuka peta kecil Artazara.

“Berapa banyak panah?”

Salah satu penjaga menjawab,

“Enam ikat besar. Sekitar tiga ratus anak panah.”

“Busur?”

“Lima busur komposit, tiga busur biasa.”

Busur komposit Persia dibuat dari gabungan kayu, tanduk, dan urat hewan yang direkatkan kuat. Bentuknya pendek, melengkung tajam, tetapi daya lontarnya besar. Cocok digunakan prajurit berkuda, karena lebih mudah dibawa dan tetap kuat saat ditembakkan dari pelana.

Ardashir pernah berlatih memakainya.

Namun latihan dan perang tidak pernah sama.

“Perisai?”

“Empat spara besar, beberapa perisai kulit kecil.”

Spara adalah perisai besar dari anyaman kuat yang dilapis kulit. Biasanya dipakai untuk membentuk dinding pelindung bagi pemanah. Di medan terbuka, perisai semacam itu bisa menjadi batas tipis antara hidup dan mati.

Yazdan menunjuk gudang.

“Ada tombak pendek, tali, dua gulungan kain minyak, dan beberapa pasak besi.”

Ardashir memandang sekitar.

Pikirannya bergerak cepat.

Ia bukan komandan.
Ia belum pernah memimpin pertempuran.
Tetapi semua pelajaran tiba-tiba kembali.

Rustom: jangan menjadi pahlawan bodoh.
Farrokh: pesan yang terlambat bisa membunuh lebih banyak daripada pedang.
Dastan: air adalah nadi jalur.
Artazara: peta tidak menggambar air mata.
Bahram: jangan paksa kuda berlari jika napasnya pecah.
Roxana: jaga hati.

Dan kali ini, menjaga hati berarti menjaga sumur.

“Kita tidak bisa bertempur di depan pos,” kata Ardashir.

Yazdan memandangnya.

“Kenapa?”

“Mereka berkuda. Jika kita membuka ruang, mereka bisa memutari pos dan langsung menuju sumur. Kita harus membuat mereka melambat.”

Ardashir menunjuk lereng sempit di sisi barat.

“Di sana. Jalan menyempit sebelum turun ke pos. Kita pasang pasak dan tali rendah di tempat yang tidak langsung terlihat. Bukan untuk membunuh kuda, tapi untuk memecah laju mereka.”

Yazdan mengangguk.

“Pemanah?”

“Di balik spara, dekat dinding rendah. Jangan habiskan panah di awal. Bidik kuda depan dan orang yang membawa api.”

Vardan mengangkat tangan kecil.

“Maaf, apa maksud ‘orang yang membawa api’?”

Yazdan menjawab,

“Jika mereka ingin merusak gudang atau sumur, mereka akan membawa obor atau kain minyak.”

Vardan menatap gudang.

“Aku semakin tidak menyukai penjelasan yang jelas.”

Ardashir menoleh kepadanya.

“Vardan, kau bawa pesan cadangan.”

“Ya.”

“Jika pos hampir jatuh, kau naik kuda tercepat dan tembus ke rombongan Soren.”

Vardan terdiam.

“Aku pergi meninggalkanmu?”

“Kau membawa pesan. Itu tugasmu.”

Vardan menatap Ardashir.

“Jangan berbicara seolah kau sudah menjadi patung pahlawan.”

“Aku tidak.”

“Bagus. Karena kalau kau mati, aku akan marah. Dan aku tidak ingin marah sambil dikejar musuh.”

Yazdan memotong,

“Cukup. Kita bekerja.”


Mereka bergerak cepat.

Para penjaga memasang spara di dekat dinding rendah, membentuk perlindungan bagi pemanah. Anak panah diletakkan dalam beberapa wadah agar mudah diambil. Tombak pendek disusun di dekat pintu pos.

Dua pekerja sumur menutup bagian atas sumur dengan papan kayu tebal, lalu membasahinya agar tidak mudah terbakar.

Vardan membantu memasang kantong air di dekat pemanah.

Ia menggerutu sambil bekerja.

“Dulu aku mengira perang itu soal keberanian. Ternyata perang juga soal memindahkan kantong air ke tempat yang tidak merepotkan orang.”

Yazdan menyahut,

“Itu sebabnya orang cerewet pun bisa berguna.”

Vardan menatapnya.

“Apakah hari ini semua orang tua dan kepala pos sepakat menyerang harga diriku?”

“Kalau harga dirimu terlalu besar, ia menghalangi jalan.”

Ardashir hampir tertawa, tetapi ia sedang menancapkan pasak di tanah bersama dua penjaga.

Mereka memasang tali rendah di titik jalan yang menurun. Tali itu tidak tampak dari kejauhan karena tertutup debu dan bayangan batu. Beberapa pasak tajam ditanam miring di sisi jalan agar kuda musuh dipaksa melambat atau berbelok.

Ini bukan perang besar dengan ribuan pasukan.

Ini perang kecil.

Tetapi perang kecil tetap bisa membunuh.

Dan bagi desa-desa di belakang pos itu, perang kecil ini sangat besar.


Matahari turun lebih rendah ketika kelompok bersenjata itu akhirnya terlihat jelas.

Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang.

Sebagian berkuda, sebagian berjalan cepat di belakang. Mereka bukan pasukan kerajaan yang rapi. Pakaian mereka campur aduk. Ada yang memakai pelindung kulit, ada yang memakai sisik logam tidak lengkap, ada yang membawa tombak panjang, busur pendek, dan kapak kecil.

Mereka bukan gerombolan bodoh.

Mereka bergerak cukup teratur.

Di depan, tiga penunggang membawa perisai bundar dan tombak. Di belakang mereka, beberapa pemanah berkuda menyiapkan busur. Dua orang membawa kain minyak dan obor yang belum dinyalakan.

Ardashir melihat itu.

“Pembawa api di kanan,” katanya.

Yazdan memberi isyarat kepada pemanah.

“Jangan tembak dulu.”

Jarak semakin dekat.

Derap kuda terdengar seperti detak jantung besar di tanah.

Ardashir berlutut di balik spara, busur komposit di tangannya.

Tangannya sedikit berkeringat.

Ia tidak malu mengaku dalam hati: ia takut.

Takut mati.
Takut gagal.
Takut pesan tidak sampai.
Takut pos jatuh.
Takut desa di belakangnya terbakar oleh kelambatan mereka.

Ia mengingat wajah Roxana di dekat sumur.

Kau datang hanya sebentar.

Ia mengingat Artazara di lorong istana.

Peta tidak menggambar air mata.

Ia mengingat Bahram.

Jangan menjadi pahlawan jika yang dibutuhkan hanya pembawa pesan yang hidup.

Musuh semakin dekat.

Yazdan mengangkat tangan.

Tunggu.

Tunggu.

Tunggu.

Kuda pertama memasuki jalur sempit.

Lalu yang kedua.

Lalu yang ketiga.

Ketika penunggang depan melewati tali rendah, kaki kudanya tersangkut. Hewan itu tidak jatuh sepenuhnya, tetapi tersentak keras dan berbelok. Penunggang di belakangnya menabrak sisi batu. Formasi mereka pecah.

“Sekarang!” teriak Yazdan.

Anak panah melesat.

Busur komposit mengeluarkan suara pendek dan tajam.

Panah pertama Ardashir mengenai perisai seorang penunggang. Panah itu menancap, tidak menjatuhkannya, tetapi cukup membuatnya mengangkat lengan dan kehilangan kendali.

Pemanah lain mengenai kuda di barisan depan. Hewan itu meringkik dan berputar, membuat penunggang di belakangnya kacau.

Yazdan berteriak,

“Pembawa api!”

Ardashir menarik napas, membidik.

Ia melihat lelaki di kanan mencoba menyalakan kain minyak.

Ardashir melepaskan panah.

Panah itu mengenai lengan lelaki itu. Obornya jatuh ke tanah sebelum menyala sempurna.

Vardan, yang berada di balik tumpukan kantong air, berteriak tanpa sadar,

“Itu! Itu bagus! Maksudku—jangan mati!”

Yazdan menatapnya sekilas.

“Kalau mau menyemangati, lakukan dengan lebih berguna!”

“Baik!” Vardan mengambil kantong air dan menyerahkannya kepada pemanah yang kehabisan minum. “Ini semangat dalam bentuk air!”


Musuh tidak mundur.

Mereka menyadari pos itu dijaga sedikit orang.

Seorang pemimpin mereka berteriak dalam bahasa kasar yang tidak sepenuhnya Ardashir pahami. Beberapa orang turun dari kuda, mengangkat perisai, dan maju dengan tombak.

Pemanah berkuda di belakang mulai membalas.

Anak panah menghantam spara.

Tak.
Tak.
Tak.

Suara itu membuat tubuh Ardashir menegang.

Satu panah melewati celah dan mengenai bahu seorang penjaga. Ia jatuh terduduk sambil mengerang.

Vardan langsung merangkak mendekat, menariknya ke belakang perlindungan.

“Aku tidak pandai mengobati,” kata Vardan cepat, “tapi aku sangat pandai panik sambil membantu.”

Penjaga itu meringis.

“Cabut panahnya?”

“Tidak! Aku pernah dengar jangan dicabut sembarangan. Atau mungkin itu untuk duri ikan. Aku tidak yakin.”

Yazdan berteriak,

“Tekan lukanya!”

“Ya! Itu terdengar lebih masuk akal!”

Vardan menekan kain pada luka penjaga itu, wajahnya pucat tetapi tangannya bekerja.

Ardashir melihat sahabatnya sejenak.

Vardan takut.

Tetapi ia tetap bergerak.

Seperti yang ia minta ditulis jika ia mati: sangat takut, tapi tetap turun.


Serangan kedua datang lebih keras.

Musuh membawa perisai dan mencoba mendekati dinding rendah pos. Jika mereka berhasil mencapai pintu, pertahanan kecil itu bisa runtuh.

Ardashir melihat sisi kiri mulai lemah.

Ia mengambil tombak pendek dan berlari ke sana bersama dua penjaga.

Salah satu musuh melompat melewati batu rendah. Ardashir menangkis dengan gagang tombak, lalu mendorongnya kembali. Gerakannya tidak seindah latihan. Tidak rapi. Tidak gagah.

Perang ternyata kacau.

Orang tergelincir.
Debu masuk ke mata.
Tangan salah menggenggam.
Napas patah sebelum pikiran selesai berdoa.

Namun latihan Rustom menyelamatkannya.

Kaki Ardashir bergerak seperti yang diajarkan. Ia tidak mengejar ketika musuh mundur. Ia tidak membuka celah. Ia tidak berteriak sia-sia.

“Jaga pintu!” seru Yazdan.

Ardashir dan para penjaga membentuk garis pendek dengan tombak mengarah keluar.

Di belakang mereka, pemanah terus menembak dari balik spara.

Salah satu musuh mencoba melempar obor ke arah gudang. Vardan melihatnya.

Tanpa berpikir panjang, ia mengambil kantong air dan melemparkannya.

Lemparannya buruk.

Kantong itu tidak mengenai obor.

Tetapi mengenai wajah lelaki yang membawa obor.

Lelaki itu terhuyung. Obornya jatuh.

Vardan terdiam.

Lalu berteriak,

“Aku bermaksud begitu!”

Yazdan dari jauh membentak,

“Lakukan lagi kalau bisa!”

“Aku tidak yakin bisa mengulang keajaiban!”

Ardashir tertawa pendek di tengah napas terputus.

Tawa kecil itu membuat rasa takutnya tidak hilang, tetapi retak sedikit.


Matahari hampir tenggelam ketika situasi memburuk.

Musuh menyadari bahwa mereka tidak perlu merebut seluruh pos. Mereka hanya perlu merusak sumur.

Tiga orang bergerak memutar lewat sisi kanan, memanfaatkan batu besar dan bayangan gudang. Ardashir melihat mereka terlambat.

“Sumur!” teriaknya.

Ia berlari.

Yazdan ikut berbalik.

Namun seorang pemanah musuh menembakkan panah dari jarak dekat. Yazdan tersentak dan jatuh, panah menancap di pahanya.

Ardashir ingin menolongnya, tetapi Yazdan berteriak,

“Sumur!”

Ardashir terus berlari.

Tiga musuh sudah hampir mencapai papan penutup sumur. Salah satu membawa kapak. Jika papan dihancurkan dan kotoran atau minyak dilemparkan ke dalam sumur, pos itu bisa tidak berguna berhari-hari.

Ardashir melempar tombaknya.

Tombak itu mengenai bahu orang pertama dan menjatuhkannya.

Orang kedua menyerang dengan kapak.

Ardashir menghindar, tetapi kapak itu menyayat lengan kirinya. Rasa panas meledak di kulitnya.

Ia tidak sempat memikirkan sakit.

Ia menabrakkan bahunya ke tubuh musuh, membuat keduanya jatuh di dekat sumur.

Orang ketiga mengangkat kantong minyak.

Sebuah panah melesat dari belakang.

Mengenai kantong itu.

Minyak tumpah ke tanah.

Ardashir menoleh.

Vardan berdiri jauh di belakang, memegang busur dengan wajah terkejut seperti tidak percaya ia sendiri yang menembak.

“Aku—aku berhasil?”

“Ya!” teriak Ardashir.

Vardan menatap busur itu.

“Rustom harus tahu ini!”

“Fokus!”

“Benar!”

Musuh kedua bangkit dan menyerang lagi.

Ardashir menangkis dengan pisau pendek. Tangannya sakit. Lengannya berdarah. Ia hampir kehilangan keseimbangan.

Lalu tiba-tiba dari sisi lain, terdengar derap kuda.

Keras.

Cepat.

Teratur.

Kapten Soren.

Rombongan utama datang.

Teriakan prajurit Persia menggema dari arah jalan utama. Pemanah berkuda kerajaan melepaskan panah dari atas pelana dengan busur komposit. Dua prajurit membawa perisai besar maju ke depan, menciptakan tekanan balik. Kuda-kuda mereka bergerak dalam formasi yang selama ini dilatih Rustom: berpencar, menekan, lalu menyatu kembali.

Musuh yang sudah lelah dan kacau mendadak kehilangan keberanian.

Sebagian mencoba melawan.

Sebagian lari.

Kapten Soren tidak mengejar terlalu jauh.

“Jangan pecah formasi!” teriaknya. “Amankan pos dan sumur!”

Itu keputusan yang benar.

Tujuan mereka bukan memburu kemuliaan.

Tujuan mereka menjaga jalur.

Ardashir terduduk di dekat sumur, napasnya berat.

Vardan berlari menghampirinya.

“Kau terluka!”

“Hanya lengan.”

“Darahmu tidak tampak setuju dengan kata ‘hanya’.”

Ardashir melihat luka itu.

Sayatan cukup panjang, tetapi tidak terlalu dalam.

Ia mulai merasakan sakitnya sekarang.

Vardan segera membalutnya dengan kain.

Tangannya gemetar.

“Kau bisa?”

“Tidak,” jawab Vardan. “Tapi aku akan melakukannya sambil terlihat percaya diri.”

Ardashir tersenyum lemah.

“Kau menembak kantong minyak.”

“Aku tahu.”

“Itu menyelamatkan sumur.”

Vardan menelan napas.

“Jangan katakan terlalu indah. Nanti aku menangis, dan aku sudah kehabisan alasan debu.”


Setelah pertempuran mereda, pos air ketiga tampak seperti tempat yang baru saja diguncang badai.

Spara penuh anak panah.
Tanah dipenuhi jejak kuda.
Beberapa kantong air robek.
Dinding rendah rusak di satu sisi.
Yazdan terluka di paha, tetapi masih hidup dan masih memarahi orang yang mencoba membantunya terlalu lambat.

Dua penjaga gugur.

Satu kurir tidak selamat.

Nama mereka dicatat oleh juru tulis Kapten Soren dengan tangan yang lebih pelan dari biasanya.

Ardashir melihatnya.

Tiga nama.

Di peta, mereka mungkin hanya bagian dari pos air ketiga.

Tetapi di dunia nyata, mereka manusia.

Mungkin ada ibu yang menunggu.
Mungkin ada istri.
Mungkin ada anak.
Mungkin ada sahabat yang nanti menyimpan benda kecil milik mereka.

Peta tidak menggambar air mata.

Artazara benar.

Kapten Soren mendekati Ardashir.

“Kau menahan pos cukup lama.”

“Kami hanya berusaha, Kapten.”

Soren memandang sumur yang masih utuh.

“Sumur selamat. Pesan sampai. Itu bukan ‘hanya’.”

Ardashir menunduk.

“Saya hampir gagal.”

“Hampir gagal dan gagal adalah dua hal berbeda. Ingat itu. Tapi jangan jadikan hampir berhasil sebagai alasan untuk sombong.”

Ucapan itu terdengar seperti Rustom.

Mungkin semua komandan baik memang berbicara dengan cara yang membuat pujian terasa seperti peringatan.

Soren lalu menatap Vardan.

“Kau yang menembak kantong minyak?”

Vardan berdiri lebih tegak.

“Ya, Kapten. Dengan ketakutan yang sangat terarah.”

Soren menatapnya beberapa detik.

“Bagus.”

Vardan membeku.

Kapten Soren berjalan pergi.

Vardan menatap Ardashir dengan mata membesar.

“Dia bilang bagus.”

“Aku dengar.”

“Seorang kapten bilang bagus.”

“Ya.”

“Aku harus duduk.”

“Kau sudah berdiri?”

“Aku tidak yakin.”

Ardashir tertawa, lalu meringis karena lukanya.

Vardan segera menunjuknya.

“Jangan tertawa. Aku belum selesai menjadi pahlawan medis.”


Malam turun di pos air ketiga.

Api kecil dinyalakan, tetapi dijaga rendah agar tidak menjadi sasaran dari jauh. Para penjaga memperbaiki dinding sementara. Kuda-kuda diberi minum. Sumur diperiksa ulang. Kapten Soren mengirim dua kurir kembali ke kota membawa laporan.

Ardashir meminta izin menulis pesan pendek.

Soren mengangguk.

“Singkat. Kurir berangkat sebelum bulan naik.”

Ardashir duduk di dekat dinding rendah.

Lengannya berdenyut sakit. Vardan duduk di sampingnya sambil memegang semangkuk sup tipis yang entah dari mana ia dapatkan.

“Menulis kepada Roxana?” tanya Vardan.

“Ya.”

“Tulis bahwa kau hidup.”

“Aku akan tulis.”

“Jangan terlalu puitis dulu. Dalam keadaan seperti ini, kalimat ‘aku hidup’ lebih romantis daripada dua belas baris syair.”

Ardashir menatapnya.

“Kau benar.”

Vardan mengangguk puas.

“Aku akan mencatat hari ini. Aku menembak kantong minyak dan memberi nasihat sastra.”

Ardashir tersenyum.

Lalu ia menulis.

Roxana,

Aku hidup.

Pos air ketiga diserang, tetapi sumur selamat. Jalur belum jatuh. Beberapa orang baik gugur hari ini. Aku terluka di lengan, tetapi tidak berat.

Aku ingin menulis panjang, tetapi kurir segera berangkat. Maka cukup kutulis ini: air dari sumur desamu kubawa sampai pertempuran. Aku meminumnya sebelum serangan kedua. Entah mengapa, rasanya seperti rumah memberiku keberanian.

Aku akan tetap menjalankan tugas. Doakan yang gugur. Doakan yang terluka. Dan doakan kami tidak menjadi sombong hanya karena hari ini masih diberi hidup.

Ia berhenti sejenak, lalu menulis satu syair pendek:

Jika aku pulang nanti,
jangan hanya tanyakan apakah aku menang.

Tanyakan juga
apakah aku masih mengingat wajah-wajah
yang membuat kemenangan
tidak boleh dirayakan dengan hati yang lupa.

Ia melipat surat itu.

Lalu menulis pesan pendek untuk Bahram.

Ayah, aku hidup. Kudaku juga. Lukaku tidak berat. Sumur pos air ketiga selamat. Jika kabar lain datang terlambat, percaya bahwa aku masih berusaha berpikir jernih.

Ia hampir berhenti, lalu menambahkan:

Vardan berhasil menembak kantong minyak. Tolong bersiaplah pura-pura kagum jika ia menceritakannya seratus kali.

Ardashir tersenyum sendiri.

Surat-surat itu diserahkan kepada kurir.

Ketika kurir pergi, Ardashir memandang langit.

Bintang-bintang muncul pelan.

Malam setelah perang ternyata tidak sunyi.

Ada suara orang merintih.
Ada kuda mengembuskan napas.
Ada kayu patah.
Ada prajurit berbisik menyebut nama yang gugur.
Ada juru tulis menekan segel pada laporan.

Perang tidak selesai ketika musuh mundur.

Perang tinggal di tubuh yang terluka, di catatan nama, di sumur yang hampir rusak, dan di hati orang yang baru memahami bahwa bertahan hidup bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada yang jatuh.


Di kota Persia, ketika laporan dari pos air ketiga tiba menjelang subuh, Artazara berada di ruang arsip.

Ia belum benar-benar tidur.

Farrokh juga belum tidur, meskipun ia telah mengeluh tentang tidur sejak tengah malam.

Kurir menyerahkan laporan.

Artazara membaca cepat.

Pos air ketiga diserang.
Sumur selamat.
Rombongan Soren tiba tepat waktu.
Korban: tiga gugur, beberapa terluka.
Ardashir: luka ringan di lengan. Hidup.
Vardan: hidup. Berperan dalam mencegah pembakaran sumur.

Artazara berhenti pada kata itu.

Hidup.

Ia menutup mata.

Farrokh memperhatikannya.

“Kadang satu kata cukup menjadi seluruh doa yang dijawab.”

Artazara mengangguk pelan.

“Hidup,” bisiknya.

Lalu ia membaca bagian korban.

Tiga nama.

Ia menyalinnya perlahan ke catatan utama.

Tidak boleh ada nama yang hilang.

Jika peta tidak menggambar air mata, maka arsip setidaknya harus menjaga nama.


Di desa, surat Ardashir belum tiba.

Roxana berdiri di dekat sumur pada pagi yang gelisah.

Ia tidak tahu pos air ketiga sudah diserang.

Tetapi entah mengapa, sejak malam sebelumnya ia sulit tidur.

Bahram datang membawa kuda ke dekat sumur.

“Belum ada kabar,” katanya.

Roxana mengangguk.

“Apakah itu baik atau buruk?”

Bahram memandang utara.

“Kadang belum ada kabar berarti orang masih sibuk hidup.”

Roxana menatapnya.

Kalimat itu aneh.

Tetapi menguatkan.

Mehrdad muncul dari arah lumbung.

“Kami sudah menyiapkan dua kereta jika harus bergerak.”

Tetua desa datang di belakangnya.

“Dan aku sudah menyiapkan teriakan untuk orang-orang yang bergerak lambat.”

Bahram meliriknya.

“Itu senjata andalanmu.”

“Tajam sejak muda.”

Roxana hampir tersenyum.

Di tengah ketakutan, desa tetap bernapas.

Karena manusia memang begitu.

Bahkan ketika perang mendekat, roti tetap harus dipanggang, air tetap harus diambil, anak-anak tetap harus ditenangkan, dan orang tua tetap akan mengeluh tentang pinggangnya.

Roxana memegang benang merah di kantong kecilnya.

Lalu berdoa lagi.

Bukan doa yang panjang.

Hanya satu kalimat.

“Ya Tuhan, jaga ia tetap hidup dan tetap baik.”


Di pos air ketiga, Ardashir akhirnya tidur menjelang pagi.

Tidak lama.

Tidak nyenyak.

Namun cukup untuk membuat tubuhnya berhenti gemetar.

Ketika ia terbangun, matahari baru naik. Lukanya sudah dibalut lebih rapi. Vardan tidur duduk di dekat dinding, memeluk busur seperti anak kecil memeluk selimut.

Ardashir berdiri perlahan.

Sumur masih ada.

Air masih bisa diambil.

Jalur masih terbuka.

Hari belum aman.

Tetapi pagi datang.

Dan pagi, setelah malam perang pertama, terasa seperti hadiah yang tidak boleh diterima dengan sombong.

Kapten Soren berdiri di dekat peta kecil.

“Kita bergerak setelah makan. Musuh mundur ke barat, tapi belum hancur. Tugas kita berikutnya: amankan jalur sampai rombongan perbekalan tiba.”

Ardashir mengangguk.

“Ya, Kapten.”

Vardan terbangun tiba-tiba.

“Aku tidak tidur. Aku mengawasi dari balik kelopak mata.”

Soren menatapnya.

“Bagus. Awasi sambil makan. Kau akan ikut patroli.”

Vardan menghela napas.

“Menjadi pahlawan ternyata tidak memberi libur.”

Ardashir tersenyum.

“Tidak.”

“Kalau begitu aku ingin menjadi legenda kecil saja. Yang pekerjaannya duduk dan dikenang.”

Soren berjalan pergi sambil berkata,

“Legenda kecil pun harus membawa air.”

Vardan menatap Ardashir.

“Semua orang hari ini terlalu praktis.”

Ardashir tertawa pelan.

Lalu ia memandang jalan kerajaan yang membentang di depan pos.

Di atas jalan itu, kemarin musuh datang.

Hari ini perbekalan harus lewat.

Besok mungkin pasukan lebih besar bergerak.

Di sepanjang jalan itulah nasib desa-desa kecil, kota besar, dan orang-orang yang mereka cintai saling terhubung.

Ardashir menyentuh balutan di lengannya.

Ia bukan lagi pemuda yang hanya belajar perang dari latihan.

Ia telah melihat sendiri bahwa teknologi perang bukan hanya alat untuk mengalahkan musuh.

Busur komposit, spara, sinyal api, pos air, peta, pasak, tali, segel, dan catatan—semuanya hanya berguna jika dipakai untuk menjaga kehidupan.

Tanpa itu, semua kecanggihan hanya menjadi cara lebih cepat untuk menghancurkan.

Ia memandang matahari yang naik perlahan.

Lalu berbisik kepada dirinya sendiri,

“Aku harus tetap mengingat untuk apa semua ini dijaga.”

Jauh di selatan, Roxana menunggu kabar.

Di kota, Artazara menjaga nama-nama.

Di desa, Bahram menyiapkan kuda.

Di sampingnya, Vardan mengeluh sambil mengunyah roti.

Dan di depan mereka, jalan kerajaan masih panjang.

Pertempuran pertama telah lewat.

Tetapi perang belum selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar