Rabu, 12 November 2025

Satu Cinta Seribu Tombak (27)

 

Bab 27

Perpisahan Tiga Hati



Jalan kerajaan di waktu fajar tampak seperti pita panjang yang ditarik di antara bukit dan langit.

Rombongan cepat itu memacu kuda tanpa banyak bicara. Kapten Soren berada di depan, tubuhnya tegak, matanya terus membaca jalan. Dua prajurit senior menjaga sisi kiri dan kanan. Pembawa tanda membawa kain merah dan putih di punggungnya. Ardashir berada di tengah, memegang peta kecil pemberian Artazara dan dua tabung pesan dari ruang komando.

Vardan menunggang di sampingnya.

Tidak seperti biasanya, ia tidak terlalu banyak bicara.

Itu justru membuat Ardashir merasa aneh.

“Kau baik-baik saja?” tanya Ardashir.

Vardan menoleh.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku sedang mencoba menjadi prajurit serius.”

“Dan?”

“Sangat melelahkan.”

Ardashir hampir tertawa.

Vardan menarik napas panjang.

“Bagaimana mungkin orang-orang serius bisa hidup seperti ini setiap hari? Wajah tegang, punggung lurus, mulut tertutup. Aku baru setengah hari dan sudah merasa kehilangan separuh jiwaku.”

“Separuh yang mana?”

“Separuh yang paling tampan.”

Ardashir tertawa kecil.

Kapten Soren menoleh dari depan.

“Suara kalian masih terlalu ringan untuk orang yang membawa pesan perang.”

Vardan langsung tegak.

“Maaf, Kapten. Saya sedang menjaga moral pasukan.”

“Jaga moralmu sendiri dulu.”

“Sedang saya usahakan, Kapten.”

Soren kembali menghadap depan.

Namun Ardashir melihat sudut mulut kapten itu bergerak sedikit.

Sangat sedikit.

Mungkin hampir senyum.

Mungkin hanya kelelahan.

Tetapi cukup membuat Vardan berbisik, “Aku hampir membuat kapten tersenyum. Ini prestasi militer.”

Ardashir menggeleng pelan.

Di tengah bahaya yang mendekat, keberadaan Vardan terasa seperti lentera kecil di lorong gelap.

Tidak cukup untuk menghapus ketakutan.

Tetapi cukup untuk membuat manusia tidak sepenuhnya ditelan olehnya.


Menjelang siang, mereka tiba di pos pertama.

Pos itu berdiri di tepi jalan batu, dikelilingi dinding rendah. Ada sumur, kandang kecil, tempat berteduh, dan menara pengawas yang tidak terlalu tinggi. Penjaga pos segera keluar ketika melihat rombongan datang.

Kapten Soren turun dari kuda.

“Air. Kuda cadangan. Laporan terakhir.”

Penjaga pos langsung bergerak.

Tidak ada basa-basi.

Di masa damai, pos semacam itu tampak sederhana. Hanya tempat singgah bagi kurir, pedagang, dan prajurit yang lewat.

Namun dalam keadaan genting, Ardashir melihat fungsi sebenarnya.

Pos itu adalah nadi kecil dalam tubuh besar Persia.

Di sana air disimpan.
Kuda diganti.
Pesan diteruskan.
Kabar dibandingkan.
Keputusan dibuat lebih cepat daripada jika semua orang harus kembali ke kota.

Seorang penjaga menyerahkan lempengan catatan kepada Kapten Soren.

“Menara barat menyala dua kali semalam. Kurir dari pos kedua mengatakan ada rombongan warga bergerak ke selatan. Mereka takut jalur utama diserang.”

Soren menatap peta.

“Berapa jauh pos kedua?”

“Setengah hari jika kuda segar.”

Soren memandang Ardashir.

“Kau mengenal jalur kecil dari sini?”

Ardashir membuka peta Artazara.

“Jalur utama lebih cepat untuk rombongan. Tapi ada jalur kecil di balik bukit yang bisa membawa satu atau dua penunggang mendahului rombongan menuju desa-desa selatan.”

“Bisa dipakai sekarang?”

“Jika tanah tidak longsor.”

Vardan menatap bukit.

“Aku menyukai jawaban yang dimulai dengan ‘jika’. Biasanya hidup setelah itu menjadi menarik dengan cara yang buruk.”

Kapten Soren berpikir sebentar.

“Kita bagi pesan. Rombongan utama tetap menuju pos kedua. Ardashir, kau dan Vardan ambil jalur kecil. Bawa peringatan awal ke desa-desa yang dekat jalur selatan. Setelah itu bergabung di pos air ketiga.”

Dada Ardashir menegang.

Jalur kecil itu melewati dekat desanya.

Dekat rumah.

Dekat Roxana.

Soren menatapnya tajam.

“Kau sanggup?”

Ardashir tahu pertanyaan itu bukan tentang kemampuan berkuda.

Itu tentang hatinya.

Ia menunduk.

“Sanggup, Kapten.”

“Jangan berubah menjadi anak desa yang lupa perintah.”

“Ya, Kapten.”

Vardan mengangkat tangan perlahan.

“Kapten, apakah saya boleh bertanya?”

“Cepat.”

“Ketika Anda mengatakan ‘Ardashir dan Vardan ambil jalur kecil’, apakah ada kemungkinan nama Vardan yang lain?”

Soren menatapnya datar.

“Tidak.”

“Baik. Saya hanya memastikan nasib buruk tidak salah alamat.”

Soren menunjuk jalan.

“Berangkat sepuluh hitungan lagi.”

Vardan menoleh kepada Ardashir.

“Sepuluh hitungan sangat pendek untuk menyesali hidup.”

“Naik kudamu.”

“Aku sedang menyesali sambil naik.”


Mereka berpisah dari rombongan utama di belakang pos pertama.

Jalur kecil itu menanjak di antara batu dan semak rendah. Tidak selebar jalan kerajaan, tetapi cukup jelas bagi orang yang pernah melewatinya. Ardashir memimpin di depan. Vardan mengikuti di belakang sambil menjaga kantong pesan agar tidak terguncang terlalu keras.

Setelah melewati punggung bukit, pemandangan terbuka.

Dataran selatan tampak jauh di bawah sana.

Ladang-ladang kecil.
Garis saluran air.
Kebun delima.
Atap rumah tanah liat.

Ardashir menahan napas.

Dari kejauhan, ia tidak bisa melihat pohon delima Roxana secara jelas.

Tetapi ia tahu arahnya.

Tubuhnya hampir ingin memacu kuda langsung ke sana.

Namun ia menahan diri.

Tugas lebih dahulu.

Jangan biarkan hatimu membuat keputusanmu sempit.

Suara Jenderal Artaban kembali terdengar di kepalanya.

Vardan mendekat.

“Itu desamu?”

“Di balik lembah itu.”

“Roxana di sana?”

“Ya.”

Vardan diam sebentar.

Lalu berkata, “Kalau kau ingin aku mengatakan sesuatu yang lucu, aku tidak punya.”

Ardashir menoleh.

Vardan tampak sungguh-sungguh.

“Aku hanya ingin mengatakan: kita pastikan mereka mendapat pesan.”

Ardashir mengangguk.

“Ya.”

Mereka memacu kuda menuruni jalur kecil.

Debu naik di belakang mereka.


Desa pertama yang mereka datangi bukan desa Ardashir.

Desa itu lebih kecil, berada di dekat sebuah lumbung dan sumur batu tua. Ketika mereka tiba, warga sedang berkumpul karena sudah melihat asap jauh dari arah barat.

Tetua desa keluar dengan wajah cemas.

Ardashir turun dari kuda dan menyerahkan tabung pesan kecil yang berisi perintah peringatan.

“Dari kota Persia. Jalur barat tidak aman. Siapkan air, gandum ringan, dan hewan. Jika tanda api kedua muncul dari bukit utara, warga harus bergerak ke jalur selatan yang lebih aman.”

Tetua itu menerima pesan dengan tangan gemetar.

“Kapan bahaya datang?”

“Belum pasti. Karena itu kalian harus siap sebelum pasti.”

Kalimat itu membuat warga saling berpandangan.

Vardan menurunkan dua kantong air kecil dari pelana.

“Isi ulang semua bejana. Jangan tunggu panik. Panik itu seperti kambing masuk dapur—semua orang teriak, tapi tidak ada yang tahu siapa harus memegang apa.”

Beberapa warga tertawa tegang.

Tetua menatap Vardan.

“Kau prajurit atau penggembala kambing?”

Vardan menunduk.

“Hari ini saya apa pun yang membuat orang bergerak lebih cepat.”

Tetua mengangguk.

“Kalau begitu kau berguna.”

Vardan menoleh kepada Ardashir dengan wajah bangga.

“Kau dengar? Aku akhirnya diakui oleh tetua yang bukan dari desamu.”

Ardashir tersenyum.

Mereka tidak bisa tinggal lama.

Setelah memastikan warga memahami tanda dan jalur aman, mereka kembali menunggang kuda.

Tujuan berikutnya: desa Ardashir.


Sementara itu, di kota Persia, Artazara berdiri di ruang arsip barat bersama Farrokh.

Di atas meja ada beberapa catatan menara api, waktu nyala, dan laporan kurir. Ia memeriksa setiap catatan dengan teliti, mencocokkan waktu tanda api dari menara barat dengan perkiraan gerak rombongan cepat.

Farrokh memperhatikannya dari kursi.

“Kau sudah membaca catatan itu tiga kali.”

Artazara tidak mengangkat wajah.

“Empat kali.”

“Kalau catatan berubah setelah dibaca empat kali, berarti penulisnya penyihir.”

Artazara menahan senyum.

“Aku hanya memastikan.”

“Tidak. Kau sedang mencari kepastian dari sesuatu yang tidak bisa diberikannya.”

Artazara berhenti menulis.

Farrokh mengetuk meja dengan jarinya.

“Catatan hanya mengatakan kapan api menyala, kapan pesan dikirim, dan siapa yang berangkat. Ia tidak bisa mengatakan apakah seseorang yang kau cemaskan akan selamat.”

Artazara menunduk.

“Aku tahu.”

“Mengetahui tidak selalu membuat orang berhenti.”

“Benar.”

Farrokh menghela napas.

“Kau mencintai pemuda itu?”

Artazara memandangnya.

Farrokh mengangkat bahu.

“Aku tua, bukan buta.”

Artazara diam cukup lama.

“Aku pernah berharap ia bisa mencintaiku.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku berharap ia hidup.”

Farrokh mengangguk pelan.

“Itu perkembangan yang menyakitkan, tapi baik.”

Artazara tersenyum sedih.

“Aku tidak tahu apakah itu membuatku kuat atau hanya kalah dengan cara rapi.”

“Kadang keduanya sama,” jawab Farrokh. “Orang kuat bukan yang tidak kalah. Orang kuat adalah yang kalah tanpa menjadi hina.”

Artazara menatap orang tua itu.

“Farrokh, sejak kapan nasihatmu menjadi lembut?”

“Jangan sebarkan. Reputasiku bisa rusak.”

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Artazara tertawa pelan.

Namun tawa itu segera hilang ketika seorang kurir masuk.

“Laporan dari pos pertama. Rombongan cepat dibagi. Ardashir dan Vardan mengambil jalur kecil ke desa-desa selatan.”

Artazara memejamkan mata sebentar.

Jalur kecil.

Berarti ia mungkin akan melewati dekat Roxana.

Mungkin melihatnya.

Mungkin tidak.

Mungkin harus memilih antara tugas dan rindu dalam keadaan yang tidak memberi waktu panjang.

Artazara membuka mata.

“Catat waktu keberangkatan mereka dari pos pertama,” katanya.

Kurir menunduk.

“Ya, Putri.”

Setelah kurir pergi, Farrokh berkata pelan,

“Kau masih bisa berdoa.”

Artazara memandang peta.

“Sudah.”

“Berdoa lagi. Tuhan tidak keberatan menerima pesan berulang.”

Artazara tersenyum kecil.

Lalu ia menunduk dalam diam.

Bukan sebagai putri jenderal.

Bukan sebagai pembaca peta.

Sebagai perempuan yang sedang belajar merelakan, tetapi tetap mencemaskan.


Di desa selatan, Roxana akhirnya menerima surat Ardashir yang dikirim sebelum keberangkatan.

Surat itu tiba bukan melalui pedagang biasa, melainkan melalui seorang anak muda dari desa tetangga yang diminta meneruskan kabar.

Ia berlari ke rumah Roxana dengan napas tersengal.

“Untuk Roxana. Dari kota.”

Roxana menerima tabung kecil itu dengan tangan gemetar.

Ia membukanya di bawah pohon delima.

Ketika membaca kalimat pertama, wajahnya berubah.

Menara api menyala malam ini.

Jantungnya seperti berhenti sebentar.

Ia membaca sampai akhir.

Tentang bahaya dari barat.
Tentang Ardashir yang berangkat sebelum fajar.
Tentang tugas membawa pesan.
Tentang ketakutan.
Tentang doa.

Ia membaca syair terakhir dengan mata basah.

Bila api menyala di menara,
jangan hanya melihat bahaya.

Lihatlah juga orang-orang
yang memilih berlari menuju gelap
agar rumah-rumah kecil tetap punya pagi.

Jika namaku terlambat pulang,
semoga doamu lebih dulu menemukanku.

Roxana menutup surat itu ke dadanya.

Untuk sesaat ia tidak bisa berdiri.

Ibunya datang dari rumah.

“Roxana?”

Roxana mengangkat wajah.

“Ardashir menuju selatan.”

Ibunya terdiam.

“Bahaya?”

“Mungkin.”

Beberapa saat kemudian, ayah Roxana dan tetua desa dipanggil. Bahram juga datang setelah mendengar kabar. Mehrdad tiba dari lumbung dengan wajah serius, membawa dua pekerja.

Roxana menyerahkan surat itu kepada ayahnya.

Ayahnya membaca cepat, lalu menatap tetua.

“Kita harus siapkan air dan gandum ringan.”

Tetua mengetukkan tongkat.

“Panggil semua keluarga. Anak-anak muda siapkan keledai dan kereta kecil. Perempuan isi kantong air. Orang tua kumpulkan anak-anak di dekat lumbung.”

Mehrdad langsung berkata,

“Lumbung keluarga kami bisa dibuka untuk persediaan darurat.”

Ayahnya, yang baru tiba di belakangnya, mengangguk.

“Buka seperlunya. Catat nanti. Nyawa lebih penting daripada hitungan hari ini.”

Roxana menatap Mehrdad.

“Terima kasih.”

Mehrdad hanya mengangguk.

“Ini desa kita juga.”

Tidak ada ruang untuk kecanggungan.

Bahaya membuat semua hati yang rumit harus bergerak bersama.

Bahram berkata kepada beberapa pemuda,

“Siapkan kuda. Jika rombongan dari kota datang, mereka butuh air dan tempat mengganti pelana.”

Salah satu pemuda bertanya,

“Apakah perang akan sampai ke sini?”

Bahram menatap jalan utara.

“Orang bijak bersiap sebelum yakin. Orang bodoh menunggu sampai debu masuk ke rumah.”

Tetua desa mengangguk puas.

“Kalimat bagus. Hampir seperti punyaku.”

Bahram menoleh.

“Aku belajar dari orang tua yang terlalu banyak bicara.”

Tetua menyipitkan mata.

“Kalau keadaan tidak genting, aku akan tersinggung.”

Vardan akan menyukai kalian berdua, pikir Roxana tanpa sengaja.

Dan di tengah ketakutan itu, ia hampir tersenyum.


Menjelang sore, Ardashir dan Vardan akhirnya melihat desa dari kejauhan.

Asap dapur naik tipis.

Orang-orang bergerak cepat di sekitar lumbung dan sumur.

Tidak panik.

Tetapi jelas bersiap.

Ardashir merasa lega sekaligus semakin tegang.

“Mereka sudah menerima kabar,” kata Vardan.

“Ya.”

“Mungkin suratmu sampai.”

Ardashir tidak menjawab.

Ia memacu kuda sedikit lebih cepat.

Ketika mereka memasuki desa, beberapa anak kecil berteriak, “Ardashir datang!”

Orang-orang menoleh.

Bahram berdiri di dekat kandang dengan dua kuda siap. Matanya menatap Ardashir dengan lega yang ia sembunyikan sebaik mungkin.

Tetua desa mengangkat tongkat.

“Akhirnya anak kota kembali membawa debu!”

Vardan turun dari kuda sambil memegang pinggangnya.

“Tetua, saya juga membawa ketakutan, lapar, dan tanggung jawab kecil.”

Tetua menatapnya.

“Letakkan lapar di dapur. Ketakutan simpan di kantong. Tanggung jawab bawa ke sini.”

Vardan menunduk hormat.

“Perintah paling jelas hari ini.”

Ardashir turun dari kuda.

Matanya langsung mencari Roxana.

Ia menemukannya di dekat sumur, sedang membantu mengisi kantong air. Selendangnya diikat lebih rapi agar tidak mengganggu gerak. Tangannya basah. Wajahnya tegang. Namun matanya, ketika melihat Ardashir, berubah.

Bukan lega sepenuhnya.

Bukan bahagia sepenuhnya.

Melainkan campuran dari semua hal yang tidak sempat diberi nama.

Ardashir ingin mendekat.

Namun Kapten Soren tidak ada di sana. Ia sendiri yang membawa pesan dan tanggung jawab.

Ia menahan langkah.

Pertama tugas.

Ia berjalan menuju tetua dan ayah Roxana.

“Pesan dari kota,” katanya.

Ia menyerahkan tabung kulit.

Tetua membukanya bersama ayah Roxana dan Bahram.

“Jika tanda api kedua terlihat dari bukit utara,” kata Ardashir, “warga harus bergerak ke jalur selatan bawah. Jangan membawa barang berat. Air, makanan ringan, anak-anak, orang tua. Lumbung ditutup. Hewan dilepas hanya jika tidak bisa dibawa.”

Mehrdad mendekat.

“Lumbung siap. Kereta kecil ada tiga. Keledai lima.”

Ardashir menatapnya.

“Bagus.”

“Posisi penjagaan?”

Ardashir menunjuk bukit kecil di utara desa.

“Dua orang di sana. Jangan menyalakan api besar kecuali ada tanda. Gunakan kain putih jika jalur aman, kain merah jika melihat pasukan asing.”

Tetua menoleh kepada pemuda desa.

“Dengar? Jangan gunakan kain merah untuk mengeringkan baju. Hari ini warnanya punya pekerjaan.”

Beberapa orang tertawa tegang.

Humor kecil itu membantu.

Ardashir melihat semua orang bergerak.

Desa kecil itu, yang dulu hanya ia kenal sebagai rumah, kini menjadi bagian dari jaringan pertahanan: sumur, lumbung, jalur evakuasi, bukit pengawas, kuda cadangan, dan warga yang tahu peran masing-masing.

Teknologi besar Persia bertemu kebijaksanaan desa.

Dan di tengahnya, manusia harus bergerak cepat.


Baru setelah semua perintah awal disampaikan, Ardashir berjalan ke arah Roxana.

Mereka berdiri di dekat sumur.

Tidak ada waktu untuk percakapan panjang.

Tidak ada pohon delima yang tenang.

Tidak ada senja lembut.

Hanya desa yang bersiap menghadapi bahaya.

Roxana memegang kantong air.

“Kau datang.”

“Aku harus membawa pesan.”

“Aku tahu.”

“Aku ingin menemuimu, tapi—”

“Tugas dulu,” potong Roxana lembut.

Ardashir terdiam.

Roxana tersenyum tipis.

“Kau pikir aku tidak belajar apa pun dari surat-suratmu?”

Mata Ardashir terasa panas.

“Aku takut.”

“Aku juga.”

“Aku mungkin harus segera pergi ke pos air ketiga.”

“Kapan?”

“Sebentar lagi. Setelah memastikan desa siap.”

Roxana menunduk.

Jadi ia datang hanya untuk pergi lagi.

Namun kali ini, kepergian itu bukan karena jarak hidup, melainkan karena bahaya.

Ia mengangkat wajah.

“Kalau begitu jangan habiskan waktumu meminta maaf.”

Ardashir menatapnya.

Roxana melanjutkan,

“Gunakan untuk mendengarkan ini: aku menerima suratmu. Aku berdoa. Aku takut. Tapi aku bangga karena kau datang membawa pesan untuk semua orang, bukan hanya untukku.”

Ardashir hampir tidak mampu menjawab.

Roxana mengambil kantong air yang baru diisi, lalu menyerahkannya kepada Ardashir.

“Bawa ini.”

Ardashir menerimanya.

“Ini dari sumur desa.”

“Aku tahu.”

“Kalau kau haus di jalan, minumlah. Kalau kau takut, ingatlah bahwa air ini melewati tangan orang-orang yang ingin kau pulang.”

Ardashir menggenggam kantong itu.

Tidak ada benda yang lebih berharga baginya saat itu.

“Aku akan kembali.”

Roxana menatapnya tajam, tetapi lembut.

“Jangan berjanji dengan tergesa.”

Ardashir menarik napas.

“Baik. Aku akan berjuang untuk kembali.”

Roxana mengangguk.

“Itu lebih benar.”

Beberapa langkah dari mereka, Vardan pura-pura sibuk mengikat pelana, tetapi matanya jelas basah.

Tetua melihatnya.

“Debu lagi?”

Vardan mengusap mata cepat.

“Desa ini punya debu yang sangat menyerang perasaan.”

Tetua mendengus.

“Aku mulai menyukaimu, anak kota.”

“Terima kasih, Tetua. Dalam keadaan lain, saya akan meminta surat pengakuan resmi.”


Bahram mendekati Ardashir.

Ayah dan anak itu berdiri berhadapan.

Tidak ada pelukan panjang.

Tidak ada tangis.

Namun mata Bahram menyimpan banyak hal yang tidak dikatakannya.

“Kudamu kuat,” kata Bahram.

“Ya.”

“Jangan paksa dia berlari jika napasnya mulai pecah.”

“Aku tahu.”

“Dan jangan paksa dirimu menjadi pahlawan jika yang dibutuhkan hanya pembawa pesan yang hidup.”

Ardashir mengangguk.

“Ayah juga jaga diri.”

Bahram tersenyum tipis.

“Aku sudah tua. Orang tua sulit dibunuh karena terlalu banyak nasihat yang belum selesai.”

Ardashir tertawa pendek.

Lalu Bahram memeluknya.

Lebih cepat dari yang diinginkan Ardashir.

Lebih lama dari kebiasaan Bahram.

“Pulanglah kalau bisa,” bisik Bahram.

“Aku akan berjuang.”

“Bagus. Itu jawaban yang jujur.”


Mehrdad datang membawa dua kantong gandum kering dan tali tambahan.

“Untuk pos air,” katanya.

Ardashir menerimanya.

“Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih. Kalau pos air jatuh, desa ini ikut terancam.”

Mereka saling menatap.

Ada Roxana di antara mereka, meski ia tidak berdiri di tengah.

Mehrdad berkata pelan,

“Jaga dirimu.”

Ardashir mengangguk.

“Jaga desa.”

“Akan kulakukan.”

Tidak ada permusuhan.

Tidak ada persaingan yang murah.

Hanya dua laki-laki yang memahami bahwa dalam bahaya, cinta harus memberi ruang kepada tanggung jawab.


Tidak lama kemudian, dari bukit utara, seorang pemuda pengawas berteriak.

“Asap di barat!”

Semua orang menoleh.

Jauh di balik bukit, garis asap tipis naik ke langit.

Bukan asap dapur.

Terlalu gelap.

Terlalu lurus.

Vardan mendekat ke Ardashir.

“Kita harus pergi.”

Ardashir mengangguk.

Ia menatap Roxana sekali lagi.

Roxana tidak menangis.

Ia berdiri tegak.

Tetapi tangannya menggenggam ujung selendang dengan kuat.

“Pergilah,” katanya.

Ardashir menaiki kudanya.

Vardan juga naik, meski dengan wajah yang jelas tidak menikmati proses heroik itu.

Tetua desa mengangkat tongkat.

“Pergi cepat! Tapi jangan mati bodoh!”

Vardan menunjuk tetua.

“Saya akan membawa nasihat itu ke medan tugas!”

Bahram berdiri di dekat kandang.

Mehrdad di dekat lumbung.

Roxana di dekat sumur.

Seluruh desa seperti menahan napas.

Ardashir memacu kudanya.

Kuda hitam itu bergerak cepat meninggalkan halaman desa.

Vardan mengikuti di belakang.

Mereka menuju pos air ketiga.

Menuju asap.

Menuju bahaya.

Roxana berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.

Ia tidak mengejar.

Ia tahu, kali ini mencintai berarti membiarkan Ardashir pergi bukan karena ia meninggalkannya, tetapi karena banyak orang membutuhkannya.

Namun ketika rombongan kecil itu menghilang di tikungan jalan, air mata Roxana jatuh juga.

Ibunya mendekat dan memeluk bahunya.

Roxana berbisik,

“Dia datang hanya sebentar.”

Ibunya menjawab lembut,

“Tapi kali ini ia datang dengan jelas.”

Roxana mengangguk sambil menangis.

Di tangannya, ia menggenggam surat Ardashir.

Di kejauhan, debu jalan masih melayang.


Menjelang senja, Ardashir dan Vardan mencapai punggung bukit terakhir sebelum pos air ketiga.

Dari sana mereka melihat asap lebih jelas.

Ada gerakan di dekat jalur barat.

Terlalu jauh untuk dikenali.

Tetapi cukup dekat untuk membuat darah mereka dingin.

Vardan menelan ludah.

“Ardashir.”

“Ya?”

“Aku menemukan akal sehatku.”

“Bagus.”

“Ia mengatakan kita sedang menuju tempat yang sangat buruk.”

Ardashir menatap pos air di kejauhan.

“Mungkin.”

“Apakah kita tetap pergi?”

“Kita harus.”

Vardan menghela napas.

“Aku takut.”

“Aku juga.”

“Bagus. Kita masih waras.”

Ardashir tersenyum kecil.

Mereka memacu kuda menuruni bukit.

Di belakang mereka, desa bersiap.

Di kota, Artazara menunggu kabar.

Di antara keduanya, jalan kerajaan menahan napas.

Dan tiga hati yang saling terhubung oleh cinta, hormat, dan doa mulai memahami bahwa perpisahan paling berat bukan selalu yang diucapkan di bawah bulan.

Kadang perpisahan paling berat terjadi di tengah debu,

ketika seseorang yang kau cintai harus pergi,

dan kau tahu menahannya berarti mengkhianati tugas yang membuatnya menjadi manusia yang kau hormati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar