Selasa, 28 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (3)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga



Bab 3

Artazara dan Peta Baru Persia

Malam telah larut.

Namun lampu minyak di ruang arsip kerajaan masih menyala.

Di luar, kota Persia mulai tenang. Para pedagang telah menutup kios mereka. Penjaga malam mulai berpatroli di sepanjang jalan batu. Air qanat tetap mengalir di bawah tanah, membawa kehidupan kepada kota yang tertidur.

Tetapi di ruang arsip, seseorang masih bekerja.

Artazara.

Di hadapannya terbentang sebuah peta besar wilayah Persia bagian selatan.

Bukan peta perang.

Bukan peta benteng.

Melainkan peta kehidupan.

Peta yang menunjukkan desa-desa, lumbung, jalur perdagangan, sumber air, pos kurir, dan saluran qanat.

Peta yang bagi sebagian orang tampak membosankan.

Namun bagi Artazara, peta adalah cerita.

Dan malam itu cerita yang ia baca terasa tidak wajar.


"Masih belum pulang?"

Suara Farrokh terdengar dari belakang.

Artazara mengangkat kepala.

Farrokh membawa dua cangkir kecil teh hangat.

Itu peristiwa langka.

Sangat langka.

Bahkan mungkin lebih langka daripada hujan di gurun.

"Kau membuat teh?" tanya Artazara.

Farrokh menyerahkan salah satu cangkir.

"Jangan sebarkan berita ini."

"Aku akan mencatatnya di arsip."

"Itu ancaman."

Artazara tersenyum.

Mereka duduk di depan peta.

Lalu Farrokh menunjuk beberapa titik merah.

"Masih yang itu?"

Artazara mengangguk.

"Semakin banyak."

"Berapa sekarang?"

"Tiga belas desa."

Farrokh menghela napas.

"Itu bukan kebetulan lagi."

Memang bukan.

Semua desa yang mengalami ketidaksesuaian air dan gandum membentuk pola tertentu.

Pola yang tidak terlihat jika hanya melihat satu laporan.

Tetapi terlihat jelas jika semuanya digambar di atas peta.


"Perhatikan ini."

Artazara memindahkan batu penanda kecil.

"Sumber air."

Farrokh mengangguk.

"Lumbung."

Farrokh mengangguk lagi.

"Dan jalur perdagangan baru."

Kini Farrokh mulai menyipitkan mata.

Karena ia melihat sesuatu.

Semua titik masalah berada dekat jalur perdagangan yang berkembang pesat dalam dua tahun terakhir.

Sebuah jalur yang menghubungkan wilayah selatan dengan kota-kota besar Persia.

Jalur yang membawa:

gandum.

anggur.

wol.

kurma.

dan logam.

Salah satu jalur dagang paling menguntungkan di kerajaan.

Artazara berkata pelan,

"Kalau seseorang ingin mengendalikan perdagangan..."

Farrokh melanjutkan,

"...ia harus mengendalikan pasokan."

"Dan untuk mengendalikan pasokan..."

"...ia harus mengendalikan air."

Keduanya terdiam.

Untuk pertama kalinya, mereka mulai melihat bentuk sebenarnya dari persoalan ini.


Di Persia, air bukan sekadar kebutuhan.

Air adalah teknologi.

Air adalah ekonomi.

Air adalah kekuasaan.

Qanat yang membentang ratusan kilometer di bawah tanah memungkinkan desa-desa hidup di wilayah yang seharusnya kering.

Sistem pembagian air yang adil memungkinkan ribuan keluarga bercocok tanam.

Tanpa air...

tidak ada panen.

Tanpa panen...

tidak ada perdagangan.

Tanpa perdagangan...

tidak ada kemakmuran.

Artinya...

orang yang mengendalikan air sedang memegang sebagian jantung kerajaan.


Pintu ruang arsip tiba-tiba terbuka.

Vardan masuk.

Membawa sekeranjang kurma.

Dan seperti biasa...

tanpa diundang.

"Aku menemukan sesuatu."

Farrokh memejamkan mata.

"Aku mulai takut setiap kali kau mengucapkan kalimat itu."

Vardan duduk.

"Ini serius."

"Itu lebih menakutkan."

Vardan mengabaikannya.

Lalu mengeluarkan gulungan kecil.

"Aku berbicara dengan beberapa kurir."

Artazara langsung tertarik.

Kurir sering mengetahui sesuatu yang tidak tercatat.

Mereka mendengar percakapan.

Mereka melihat perjalanan.

Mereka memperhatikan hal-hal kecil.

Vardan membuka catatan.

"Beberapa pedagang besar mulai membeli gandum jauh di bawah harga pasar."

Artazara mengangkat kepala.

"Kapan?"

"Dua tahun terakhir."

Farrokh diam.

Vardan melanjutkan.

"Dan anehnya..."

"Apa?"

"Mereka selalu membeli di wilayah yang kemudian mengalami masalah air."

Ruangan menjadi sunyi.

Sangat sunyi.


Artazara berdiri.

Lalu berjalan ke peta.

Tangannya bergerak cepat.

Menambahkan tanda baru.

Satu.

Dua.

Lima.

Sepuluh.

Ketika selesai, wajahnya berubah.

Farrokh ikut berdiri.

Dan bahkan Vardan berhenti makan.

Di depan mereka kini muncul pola yang sangat jelas.

Terlalu jelas.

Seolah seseorang sedang menggambar jalan secara perlahan.

"Ini bukan pencurian air," bisik Artazara.

Farrokh mengangguk.

"Bukan."

"Ini bukan kesalahan pencatatan."

"Bukan."

Artazara menatap kedua sahabatnya.

Lalu berkata perlahan,

"Ini operasi yang direncanakan."


Jauh di selatan...

Ardashir belum mengetahui semua itu.

Ia hanya tahu satu hal.

Seseorang telah mengubah saluran air.

Dan malam itu ia memutuskan untuk kembali ke lokasi.

Sendirian.

Roxana sebenarnya tidak setuju.

"Sebaiknya besok saja."

"Aku hanya ingin melihat."

"Dalam gelap?"

"Aku lebih mudah melihat orang yang tidak ingin dilihat."

Roxana menghela napas.

"Kalimat itu terdengar pintar."

"Memang."

"Itu sebabnya aku curiga."

Ardashir tertawa kecil.

Lalu mencium kening istrinya sebelum berangkat.

Sebuah kebiasaan baru yang masih membuat Roxana tersipu.

Meski mereka sudah menikah.


Bulan hampir penuh.

Cahaya keperakannya menerangi ladang.

Angin malam bergerak pelan.

Ardashir berjalan mengikuti saluran air menuju lokasi yang mereka temukan beberapa hari sebelumnya.

Ia tidak membawa banyak perlengkapan.

Hanya:

pisau pendek.

tongkat.

dan lampu kecil yang tertutup kain.

Ia bergerak hati-hati.

Seperti saat patroli.

Seperti saat menjaga pos air.

Hanya saja kali ini musuhnya tidak jelas.


Ia tiba di lokasi.

Semuanya tampak normal.

Air mengalir.

Rumput bergerak.

Jangkrik bernyanyi.

Namun sesuatu membuatnya berhenti.

Bekas kaki.

Baru.

Sangat baru.

Ardashir berjongkok.

Menyentuh tanah.

Belum lama.

Mungkin beberapa jam.

Ia mengikuti jejak itu.

Perlahan.

Sampai akhirnya jejak mengarah ke balik semak-semak.

Di sana...

ia menemukan sesuatu.

Bukan emas.

Bukan senjata.

Melainkan alat ukur.

Sebuah alat ukur air.

Terbuat dari kayu dan logam.

Presisi.

Mahal.

Dan bukan milik petani biasa.

Ardashir memandang benda itu lama.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Karena ia mengenali kualitas pembuatannya.

Alat seperti itu biasanya digunakan oleh:

insinyur kerajaan.

pengawas irigasi.

atau pedagang besar.

Bukan pencuri desa.


Tiba-tiba...

terdengar suara ranting patah.

Krek.

Ardashir berbalik.

Cepat.

Seseorang ada di sana.

Di balik bayangan pohon.

Tidak jauh.

Sangat dekat.

Bayangan itu menyadari dirinya terlihat.

Lalu berlari.

Cepat.

Ardashir langsung mengejar.

Melewati semak.

Melompati parit.

Menyusuri ladang.

Sosok itu mengenal medan.

Ia bergerak cepat.

Terlalu cepat untuk orang biasa.

Ardashir hampir berhasil mendekat.

Namun tepat sebelum menangkapnya...

sosok itu melempar sesuatu.

Segenggam pasir.

Ardashir menutup mata.

Sesaat saja.

Dan ketika matanya terbuka kembali...

orang itu sudah hilang.

Lenyap dalam kegelapan malam.


Ardashir berdiri terengah-engah.

Kesal.

Tetapi juga semakin yakin.

Ini bukan pekerjaan petani.

Bukan pekerjaan pencuri biasa.

Seseorang sedang menjalankan sesuatu yang besar.

Dan orang itu memiliki pengetahuan.

Peralatan.

Dan bantuan.


Ketika kembali ke rumah menjelang tengah malam, Roxana masih terjaga.

Menunggu.

Seperti dulu.

Namun kali ini bukan sebagai gadis yang menunggu kekasih.

Melainkan sebagai istri yang menunggu suaminya pulang.

"Aku tahu kau akan kembali malam."

kata Roxana.

"Aku juga."

"Dan?"

Ardashir meletakkan alat ukur air di atas meja.

Roxana membelalakkan mata.

"Apa itu?"

"Masalah."

"Itu bukan nama benda."

"Tapi mungkin nama yang tepat."

Roxana duduk.

Mereka menatap alat itu bersama.

Lalu Ardashir menceritakan semuanya.

Jejak kaki.

Alat ukur.

Sosok misterius.

Pengejaran.

Pelarian.

Ketika cerita selesai...

Roxana diam cukup lama.

Lalu berkata pelan,

"Kalau orang itu menggunakan alat seperti ini..."

"Ya."

"Berarti ia memahami sistem air."

"Ya."

"Dan kalau ia memahami sistem air..."

Roxana memandang suaminya.

"Berarti ia mungkin bagian dari orang-orang yang seharusnya menjaga sistem itu."

Ardashir terdiam.

Karena itulah kesimpulan yang juga mulai muncul dalam pikirannya.

Dan kesimpulan itu jauh lebih mengkhawatirkan daripada pencuri biasa.


Di kota Persia...

pada malam yang sama...

Artazara baru saja selesai menggambar garis terakhir pada peta.

Sebuah garis yang menghubungkan semua desa bermasalah.

Ia menatap hasilnya lama.

Farrokh ikut melihat.

Vardan ikut melihat.

Lalu perlahan wajah mereka berubah.

Karena garis-garis itu membentuk arah yang sama.

Menuju satu wilayah.

Satu pusat perdagangan.

Satu nama.

Yang sangat berpengaruh di kerajaan.

Artazara membaca nama itu perlahan.

Dan untuk pertama kalinya...

ia merasa bahwa penyelidikan ini mungkin akan menyentuh orang-orang yang jauh lebih berbahaya daripada yang mereka bayangkan.


Akhir Bab 3

"Ada musuh yang datang dengan pedang di tangan. Ada pula musuh yang datang membawa catatan, ukuran, dan angka. Yang kedua sering kali lebih sulit dikenali."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar