Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 27
Kota yang Tidak Pernah Tercatat
Malam di Mehrabad berubah menjadi malam tanpa tidur.
Api unggun menyala di berbagai sudut desa.
Para warga berkumpul.
Bukan karena pesta.
Bukan karena panen.
Melainkan karena ancaman yang semakin nyata.
Elang Timur kini telah memasuki desa.
Belum menyerang.
Belum menangkap siapa pun.
Namun mereka hadir.
Dan kehadiran mereka sudah cukup untuk menciptakan ketakutan.
Pilihan yang Sulit
Di rumah Bahraman, Ardashir memandang peta yang muncul dari Kunci Matahari.
Titik-titik penyimpanan pengetahuan tersebar di seluruh Persia.
Namun perhatian mereka tertuju pada satu titik.
Titik tanpa nama.
Titik yang berada di pusat jaringan.
Titik yang tidak pernah tercatat dalam arsip kerajaan.
Dastan memandangnya lama.
"Semakin kupikirkan..."
"Lalu?"
tanya Shirin.
"Tempat ini bukan sekadar lokasi."
"Kenapa?"
"Karena tidak memiliki nama."
Mithren mengangguk.
"Itu disengaja."
Para insinyur Persia selalu memberi nama pada bendungan.
Pada qanat.
Pada observatorium.
Tetapi tempat ini tidak.
Seolah sengaja dihapus dari sejarah.
Bahraman Mengingat Sesuatu
Tiba-tiba Bahraman yang selama ini diam mengangkat kepala.
Wajahnya tampak ragu.
"Ayahku pernah bercerita."
Semua langsung menoleh.
"Tentang apa?"
"Tentang Kota Matahari."
Keheningan turun.
"Kota Matahari?"
Bahraman mengangguk.
"Ketika aku kecil, aku mengira itu hanya dongeng."
"Seperti apa ceritanya?"
Bahraman mencoba mengingat.
"Katanya ada sebuah kota yang dibangun oleh para pembuat air."
"Dibangun di tempat yang tidak terlihat."
"Dijaga bukan oleh tentara."
"Tetapi oleh rahasia."
Dastan langsung duduk tegak.
Karena kalimat itu terdengar sangat mirip dengan cara berpikir Arshan.
Teknologi yang Hilang
Bahraman melanjutkan.
"Orang-orang tua mengatakan kota itu memiliki hal-hal yang tidak dimiliki kota lain."
"Apa?"
"Perpustakaan yang mengukur bintang."
"Jam air yang menghitung waktu dengan sendirinya."
"Kolam yang menjaga air tetap dingin di musim panas."
"Dan lumbung yang bisa menyimpan gandum bertahun-tahun."
Shirin terdiam.
Karena sebagian teknologi itu memang pernah ditemukan di berbagai tempat.
Namun tidak pernah sekaligus.
Mungkin...
semuanya berasal dari satu pusat.
Di Persepolis
Pada saat yang sama...
Artazara mulai menyadari bahaya yang sesungguhnya.
Farrokh datang dengan laporan baru.
"Orontes menghilang."
"Apa?"
"Tidak ada di rumahnya."
"Tidak ada di istana."
"Tidak ada di kantor penasihat."
Artazara berdiri.
Untuk pertama kalinya...
ia merasa terlambat.
Karena orang yang selama puluhan tahun bergerak diam-diam akhirnya mulai bergerak secara terbuka.
Dan itu berarti waktunya hampir habis.
Roxana Memilih
Di desa selatan...
utusan Persaudaraan Matahari kembali datang.
Kali ini tanpa senyum.
Tanpa basa-basi.
"Apa keputusan kalian?"
Roxana berdiri di depan warga.
Kemudian menjawab tenang.
"Air bukan milik kami."
Utusan itu mengernyit.
"Lalu milik siapa?"
Roxana memandang saluran air yang mengalir di samping mereka.
"Air adalah titipan."
"Bukan barang dagangan."
Warga desa terdiam.
Kemudian satu per satu mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya utusan itu menyadari...
ia telah kalah.
Bukan oleh kekuatan.
Melainkan oleh keyakinan.
Serangan di Malam Hari
Kembali di Mehrabad.
Malam semakin larut.
Tiba-tiba suara peluit terdengar.
Pendek.
Tajam.
Kemudian diikuti suara lain.
Dan suara lain lagi.
Mithren langsung berdiri.
"Itu mereka."
Elang Timur.
Bukan serangan besar.
Bukan pengepungan.
Melainkan infiltrasi.
Para pemburu terbaik mulai memasuki desa.
Diam-diam.
Rumah demi rumah.
Mencari satu benda.
Kunci Matahari.
Pelarian
Tidak ada waktu lagi.
Ardashir mengambil peta.
Shirin membawa salinan arsip.
Dastan menyimpan Kunci Matahari dalam kantong kulit.
Bahraman menunjukkan jalur keluar lama.
Jalur yang hampir terlupakan.
Melewati kebun delima.
Melewati saluran irigasi.
Menuju pegunungan.
Sebelum berangkat, Bahraman berkata pelan:
"Jika kalian menemukan Kota Matahari..."
Ardashir menoleh.
"Tolong?"
Bahraman tersenyum.
"Sampaikan kepada Arshan bahwa Mehrabad masih mengingatnya."
Petunjuk Terakhir
Ketika mereka hampir meninggalkan desa...
Shirin tiba-tiba berhenti.
"Ada sesuatu."
"Apa?"
Ia membalik Kunci Matahari.
Bagian belakang yang selama ini tampak polos ternyata memiliki ukiran sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Dastan mendekat.
Kemudian tersenyum.
"Arshan..."
"Kenapa?"
"Dia meninggalkan satu petunjuk lagi."
Ukiran itu bukan tulisan.
Bukan peta.
Melainkan gambar.
Gambar seekor burung.
Burung yang sedang terbang menuju pegunungan.
Dan di bawahnya hanya ada satu kata.
Simurgh.
Legenda kuno Persia.
Burung kebijaksanaan.
Penjaga rahasia.
Namun di samping simbol itu terdapat sesuatu yang jauh lebih penting.
Koordinat.
Arah.
Dan gambar sebuah lembah tersembunyi yang tidak ada di peta mana pun.
Mithren menatap ukiran itu lama.
Kemudian berbisik:
"Kita tidak sedang mencari kota."
"Lalu?"
"Kita sedang mencari tempat yang sengaja dihapus dari dunia."
Di kejauhan...
terompet Elang Timur kembali terdengar.
Lebih dekat daripada sebelumnya.
Perburuan kini memasuki babak baru.
Bukan lagi mencari Kunci Matahari.
Melainkan menemukan tempat yang dijaga oleh legenda selama puluhan tahun.
Akhir Bab 27
"Ada tempat yang disembunyikan oleh tembok.
Ada tempat yang disembunyikan oleh gunung.
Namun tempat yang paling sulit ditemukan adalah yang disembunyikan oleh cerita, hingga orang menganggapnya hanya dongeng."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar