Rabu, 22 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (10)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 10



Rahasia di Bawah Gerbang Putih

Ardashir menahan napas.

Di sampingnya, Dastan mematikan lentera hingga hanya tersisa cahaya samar dari lampu minyak di ruangan utama.

Mereka bersembunyi di balik pilar batu tua.

Tidak bergerak.

Tidak bersuara.

Bahkan suara tetesan air dari saluran bawah tanah terdengar jauh lebih keras daripada biasanya.

Sosok berjubah itu berdiri di depan peta besar Persia Selatan.

Sendirian.

Atau setidaknya tampak sendirian.

Ia membuka sebuah gulungan.

Lalu mulai mencatat sesuatu.

Tulisannya cepat.

Terlatih.

Bukan tulisan seorang prajurit.

Bukan pula pedagang biasa.

Dastan menyentuh lengan Ardashir.

Pelan.

Sangat pelan.

Kemudian menunjuk.


Di atas meja terdapat sebuah benda.

Ardashir menyipitkan mata.

Sebuah alat ukur air kerajaan.

Yang kedua.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Karena mereka baru menemukan satu alat di desa.

Sekarang ada alat kedua.

Dan itu berarti teori Dastan benar.

Lima puluh alat itu memang digunakan.

Secara diam-diam.

Tiba-tiba suara lain terdengar.

Langkah kaki.

Seseorang memasuki ruangan.

Sosok berjubah pertama berdiri.

Lalu membungkuk hormat.

Ardashir dan Dastan saling berpandangan.

Karena orang kedua itu bukan orang asing.

Mereka mengenal wajahnya.

Dan wajah itu membuat darah Ardashir terasa dingin.

Mithren.

Masih hidup.

Namun tidak sedang disandera.

Tidak sedang melarikan diri.

Tidak sedang bersembunyi.

Ia datang dengan tenang.

Seolah memang dijadwalkan bertemu.

"Apa yang terjadi?"

bisik Ardashir.

Dastan tidak menjawab.

Karena ia juga tidak mengerti.

Bukankah Mithren yang sedang diburu?

Bukankah Mithren yang diperingatkan akan dibunuh?

Lalu kenapa ia berada di sini?

Pertemuan Rahasia

Mithren berjalan menuju meja.

Wajahnya tampak lelah.

Jauh lebih tua dibandingkan yang tergambar dalam laporan resmi.

Ia memandang peta.

Kemudian berkata pelan.

"Berapa desa yang sudah dikuasai?"

Sosok berjubah menjawab.

"Dua puluh tujuh."

Mithren menutup mata.

"Bodoh."

Ardashir mengerutkan dahi.

Itu bukan jawaban yang ia harapkan.

Sosok berjubah tampak terkejut.

"Tuan?"

"Dua puluh tujuh terlalu banyak."

"Tetapi rencana..."

"Justru karena itu."

potong Mithren.

Suasana berubah.

Mithren tampak marah.

Benar-benar marah.

"Bukankah aku sudah memperingatkan?"

"Semakin cepat kalian bergerak, semakin mudah ditemukan."

Kini Ardashir mulai memahami sesuatu.

Mithren memang terlibat.

Tetapi tidak seperti yang mereka bayangkan.

Kebenaran Pertama

Mithren duduk.

Lalu menatap peta besar Persia.

"Sepuluh tahun."

katanya.

Sosok berjubah diam.

"Sepuluh tahun aku mengawasi proyek ini."

"Sepuluh tahun aku melihat mereka membangun jaringan."

"Sepuluh tahun aku mencoba memahami siapa yang sebenarnya berada di belakang semuanya."

Ardashir merasakan napasnya tertahan.

Mithren melanjutkan.

"Awalnya aku mengira ini hanya perdagangan."

"Kemudian aku mengira ini korupsi."

"Dan akhirnya aku sadar..."

Ia menunjuk peta.

"...ini adalah usaha mengambil kendali ekonomi Persia."

Ruangan menjadi sunyi.

Karena itulah yang selama ini mereka curigai.

Namun kini keluar dari mulut orang yang berada di dalam sistem.

Teknologi yang Terlupakan

Mithren membuka sebuah peti kecil.

Di dalamnya terdapat lempengan-lempengan perunggu.

Ardashir belum pernah melihat benda seperti itu.

Dastan justru membeku.

Wajahnya berubah.

"Mustahil..."

bisiknya.

"Apa itu?"

tanya Ardashir.

Dastan menjawab pelan.

"Mesin distribusi."

"Mesin apa?"

Dastan menatap benda itu.

"Teknologi lama."

"Sangat lama."

Ia menarik napas panjang.

"Guru guruku pernah bercerita tentang ini."

Ternyata beberapa generasi sebelumnya, para insinyur Persia mengembangkan sistem pengendalian air mekanis.

Menggunakan:

  • roda gigi perunggu,
  • pelampung air,
  • pemberat batu,
  • katup otomatis.

Sistem itu memungkinkan pembagian air dilakukan secara presisi.

Bahkan ketika tidak ada penjaga.

Teknologi yang luar biasa maju untuk zamannya.

Namun proyek itu dihentikan.

Terlalu mahal.

Terlalu rumit.

Terlalu berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.

Dan sekarang...

teknologi itu muncul kembali.


Nama yang Lebih Besar

Mithren mengambil salah satu lempengan.

Lalu berkata kepada sosok berjubah.

"Apakah dia tahu?"

Sosok itu mengangguk.

"Dia tahu semuanya."

Mithren tersenyum pahit.

"Itulah yang kutakutkan."

Kemudian ia menyebut sebuah nama.

Sebuah nama yang membuat Dastan hampir terjatuh.

Sebuah nama yang bahkan Ardashir pernah dengar sejak kecil.

Nama seorang bangsawan besar.

Penasihat kerajaan.

Orang yang dekat dengan istana.

Orang yang terkenal bijaksana.

Orang yang dihormati seluruh Persia.

Lord Arvash.

Ardashir membeku.

Tidak mungkin.

Nama itu terlalu besar.

Terlalu dihormati.

Terlalu bersih.

Persis seperti Mithren sebelumnya.

Bahaya Datang

Tiba-tiba...

suara logam berbenturan terdengar dari luar bangunan.

Mithren langsung berdiri.

Sosok berjubah juga.

"Kita terlambat."

kata Mithren.

"Apa?"

"Mereka menemukan tempat ini."

Jantung Ardashir berdetak cepat.

Karena dari kejauhan mulai terdengar suara kuda.

Banyak kuda.

Sangat banyak.

Dastan mengintip melalui celah batu.

Wajahnya langsung pucat.

"Ada pasukan."

"Pasukan siapa?"

Dastan tidak menjawab.

Karena ia melihat sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.

Bendera yang dibawa pasukan itu.

Bukan bendera kerajaan.

Bukan pula bendera karavan.

Melainkan lambang pribadi seorang bangsawan.

Lambang seekor elang emas.

Lambang Lord Arvash.


Pilihan

Mithren mencabut pedang pendeknya.

Namun ia tampak tidak seperti orang yang hendak bertarung.

Ia tampak seperti orang yang sudah lama menunggu hari ini.

Kemudian ia berkata kepada sosok berjubah.

"Bawa semua catatan."

"Lalu Tuan?"

Mithren tersenyum tipis.

"Seseorang harus menahan mereka."

Untuk sesaat Ardashir melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan pejabat.

Bukan administrator.

Bukan tersangka.

Melainkan seorang lelaki yang selama bertahun-tahun memikul rahasia sendirian.

Di luar...

suara kuda semakin dekat.

Pintu utama mulai digedor.

Debu berjatuhan dari langit-langit.

Dan untuk pertama kalinya sejak petualangan ini dimulai...

Ardashir sadar bahwa ia bukan lagi penyelidik.

Ia sudah berada di tengah konspirasi.

Dan konspirasi itu baru saja menyadari kehadirannya.


Akhir Bab 10

"Ada rahasia yang disembunyikan karena malu.

Ada rahasia yang disembunyikan karena takut.

Dan ada rahasia yang disembunyikan karena jika terungkap, sebuah kerajaan bisa berubah selamanya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar