Minggu, 05 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (28)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 28



Jejak Simurgh

Pegunungan Persia terbentang tanpa akhir.

Hari demi hari Ardashir dan rombongannya bergerak ke timur laut mengikuti petunjuk yang tersembunyi di balik Kunci Matahari.

Mereka tidak lagi mengikuti jalan kerajaan.

Tidak mengikuti jalur dagang.

Tidak pula mengikuti peta resmi.

Mereka mengikuti legenda.

Dan bagi seorang insinyur seperti Dastan, itu adalah hal yang sangat tidak nyaman.

"Aku lebih menyukai jembatan."

gerutunya.

"Kenapa?"

tanya Shirin.

"Karena jembatan biasanya benar-benar ada."

Mithren tertawa kecil.

"Sedangkan sekarang?"

"Kita sedang mengejar seekor burung yang mungkin hanya ada dalam dongeng."

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Mehrabad, mereka semua tertawa.


Simurgh dan Ilmu Pengetahuan

Malam itu mereka berkemah di dekat mata air pegunungan.

Sambil makan roti gandum dan kurma kering, Shirin membuka salah satu salinan arsip.

"Aku menemukan sesuatu."

Semua mendekat.

"Banyak orang mengira Simurgh hanyalah makhluk legenda."

"Lalu?"

tanya Ardashir.

"Dalam catatan para astronom lama, Simurgh sering digunakan sebagai simbol."

"Simbol apa?"

Shirin membaca perlahan.


Simurgh adalah lambang pengetahuan yang terbang melampaui batas kerajaan.


Dastan langsung mengangguk.

"Itu masuk akal."

"Kenapa?"

"Karena pengetahuan tidak mengenal perbatasan."

Ia menunjuk langit.

"Bintang yang sama terlihat dari desa kecil maupun dari istana."


Teknologi Penunjuk Arah

Keesokan harinya mereka menghadapi masalah.

Pegunungan bercabang menjadi tiga jalur.

Semuanya tampak sama.

Tidak ada penanda.

Tidak ada petunjuk.

Namun Dastan tidak panik.

Ia mengeluarkan cakram Kunci Matahari.

Lalu mengarahkan bagian tengahnya ke matahari.

Ardashir memperhatikan dengan penasaran.

"Apa yang kau lakukan?"

Dastan tersenyum.

"Arshan tidak hanya membuat peta."

"Lalu?"

"Dia membuat alat navigasi."

Lingkaran kecil di dalam cakram mulai menghasilkan bayangan.

Ketika bayangan sejajar dengan simbol tertentu...

jarum kecil tersembunyi bergerak.

Klik.

Ke arah jalur paling sempit.

Shirin terkejut.

"Ini seperti kompas."

"Lebih tepatnya..."

kata Dastan.

"...komputer mekanik."

Mithren menggeleng kagum.

"Kadang aku lupa bahwa para insinyur bisa menjadi penyihir tanpa sihir."


Persepolis Bergerak

Jauh di ibu kota.

Artazara akhirnya mengambil keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia meninggalkan Persepolis.

Farrokh menatap rombongan kecil mereka.

"Hanya dua belas pengawal?"

Artazara mengangguk.

"Semakin besar rombongan, semakin mudah diamati."

"Ayahmu tidak akan senang."

Artazara tersenyum tipis.

"Jika kita gagal, beliau akan jauh lebih tidak senang."

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia meninggalkan keamanan istana demi mengejar sebuah rahasia.


Orontes

Di tempat lain...

Orontes juga bergerak.

Namun berbeda dengan Ardashir.

Berbeda dengan Artazara.

Ia tidak mencari.

Ia sudah tahu tujuan akhirnya.

Di atas meja kayu tua terbentang peta yang sangat mirip dengan milik Ardashir.

Ia memandang titik di tengah.

Kemudian berbisik:


"Sudah waktunya."


Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun bergerak dari balik bayangan...

Orontes akan turun tangan sendiri.


Menara Simurgh

Menjelang senja hari ketiga.

Ardashir dan rombongannya menemukan sesuatu.

Sebuah menara batu.

Berdiri sendirian di atas tebing.

Tinggi.

Sepi.

Dan hampir runtuh.

Namun ketika mereka mendekat, simbol yang terpahat di dinding membuat mereka berhenti.

Burung Simurgh.

Persis seperti pada Kunci Matahari.

Mithren langsung memeriksa sekitar.

Tidak ada jejak manusia.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada perangkap.

Yang ada hanya keheningan.


Pesan dari Masa Lalu

Di dalam menara mereka menemukan ruang kecil.

Kosong.

Hanya terdapat meja batu dan sebuah tabung perunggu.

Dastan membukanya dengan hati-hati.

Di dalamnya terdapat selembar logam tipis.

Tulisan Arshan.

Pendek.

Sangat pendek.


Jika engkau sampai di sini,

berarti engkau telah memahami bahwa pengetahuan bukanlah kekuasaan.

Pengetahuan adalah tanggung jawab.


Ardashir membaca lagi.

Kemudian melanjutkan bagian berikutnya.


Kota yang kau cari tidak tersembunyi karena takut pada musuh.

Kota itu tersembunyi karena takut pada keserakahan manusia.


Keheningan memenuhi ruangan.

Karena mereka mulai memahami alasan sebenarnya.

Arshan tidak menyembunyikan kota itu untuk dirinya sendiri.

Ia menyembunyikannya untuk melindunginya.


Rahasia Teknologi Persia

Di balik tulisan itu terdapat gambar.

Bukan peta.

Bukan simbol.

Melainkan rancangan.

Sebuah sistem yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Saluran air bertingkat.

Kincir.

Reservoir.

Dan roda-roda penggerak.

Dastan membeku.

"Ini..."

Shirin menatapnya.

"Apa?"

"Kalau rancangan ini benar..."

Ia menelan ludah.

"Persia bisa menyimpan air untuk bertahun-tahun."

Keheningan turun.

Karena mereka mulai memahami mengapa begitu banyak orang memburu warisan Arshan.

Bukan hanya karena politik.

Bukan hanya karena pengaruh.

Tetapi karena ilmu pengetahuan itu sendiri.


Lembah Simurgh

Saat matahari hampir tenggelam, mereka naik ke puncak menara.

Dari sana terlihat sesuatu.

Sangat jauh.

Di balik lapisan pegunungan.

Di balik kabut.

Di balik jurang.

Tampak sebuah lembah besar.

Tersembunyi.

Tidak terlihat dari jalur mana pun.

Dan di tengah lembah itu...

terpantul cahaya keemasan matahari sore.

Seolah seluruh tempat itu menyala.

Ardashir memegang Kunci Matahari.

Cakram itu mulai hangat.

Kemudian simbol Simurgh di permukaannya bersinar samar.

Dastan menatap ke kejauhan.

Lalu berbisik:


"Kita menemukannya."


Namun sebelum sempat merasakan kemenangan...

Mithren yang sedang mengamati lereng gunung tiba-tiba berdiri.

Wajahnya berubah.

"Ada penunggang."

"Banyak?"

tanya Ardashir.

Mithren mengangguk.

"Terlalu banyak."

Di balik mereka...

jauh di jalur yang baru mereka lewati...

terlihat puluhan titik hitam bergerak cepat.

Panji-panji burung api berkibar di antara debu pegunungan.

Orontes.

Elang Timur.

Dan mungkin seluruh kekuatan Persaudaraan Matahari.

Mereka semua menuju tempat yang sama.


Akhir Bab 28

"Ketika sebuah rahasia cukup berharga, musuh dan sahabat akan berlari menuju tempat yang sama.

Yang membedakan mereka hanyalah alasan mengapa mereka datang."


Catatan :

Simurgh (atau Simorgh) adalah makhluk mitologi berwujud burung raksasa yang sangat dihormati dalam kebudayaan Persia kuno (Iran). Di dunia Barat, makhluk ini sering kali disamakan dengan burung Phoenix. Namun, Simurgh memiliki karakteristik, wujud, dan kedalaman filosofis yang jauh lebih kompleks dan unik. 
Simurgh melambangkan kebijaksanaan, penyembuhan, kesuburan, dan perlindungan ilahi.
Berikut adalah fakta menarik untuk mengenal apa itu Simurgh:
1. Wujud Fisik yang Unik
Meskipun disebut burung, dalam seni miniatur Persia kuno, Simurgh sering kali digambarkan sebagai makhluk hibrida. Ia biasanya digambarkan berjenis kelamin perempuan, memiliki kepala merak atau naga/anjing, cakar singa, dan sayap lebar yang sangat indah. Ukurannya sangat masif, bahkan diceritakan mampu membawa seekor gajah atau paus dengan mudah. 
2. Burung Abadi Pemegang Segala Ilmu
Dalam legenda, Simurgh digambarkan hidup di puncak Gunung Qaf yang mistis. Ia diceritakan hidup begitu lama hingga sempat menyaksikan kehancuran dunia sebanyak tiga kali. Karena masa hidupnya yang luar biasa ini, Simurgh dipercaya memiliki dan menguasai seluruh pengetahuan dari segala zaman dan bahasa. Mirip seperti Phoenix, setiap 1.700 tahun sekali ia akan membakar dirinya untuk kemudian terlahir kembali menjadi muda. 
3. Simbol Penyembuhan dan Kedokteran
Simurgh tinggal di atas Gaokerena (Pohon Kehidupan) yang memuat semua benih obat di dunia. Ketika ia terbang, kepakan sayapnya yang kuat akan menyebarkan benih-benih penyembuh tersebut ke seluruh bumi melalui angin dan hujan. Oleh karena itu, Simurgh sempat dijadikan sebagai simbol kedokteran dan dunia medis tradisional di Iran
4. Kisah Terkenal: Musyawarah Burung (The Conference of the Birds
Salah satu kisah filsafat Sufi paling terkenal karya penyair Fariduddin Attar menceritakan ribuan burung yang melakukan perjalanan spiritual yang sangat berat untuk mencari raja mereka, yaitu Simurgh. 

Di akhir perjalanan, hanya ada 30 burung (Si Morgh dalam bahasa Persia) yang berhasil bertahan hidup mencapai puncak gunung. Alih-alih bertemu dengan seekor raja burung raksasa, mereka justru hanya dihadapkan pada sebuah cermin besar. Saat bercermin, mereka menyadari bahwa Simurgh itu adalah gabungan dari diri mereka sendiri yang telah bersatu. Kisah ini menjadi metafora bahwa kedekatan dengan Sang Pencipta atau kebenaran sejati sebenarnya ada di dalam kesatuan diri manusia 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar