Air, Api, dan Rumah yang Dijaga
Bab 8
Malam Sebelum Pembunuhan
Ada malam-malam yang terasa lebih berat daripada malam lainnya.
Malam ketika seseorang mengetahui bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Namun tidak tahu di mana.
Tidak tahu kapan.
Dan tidak tahu kepada siapa ia harus mempercayakan rahasia itu.
Malam itu adalah salah satunya.
Ardashir belum tidur.
Di atas meja kayu kecil terletak dua surat.
Surat dari Artazara.
Dan surat misterius yang diterimanya dari pemuda tak dikenal.
Keduanya menunjuk nama yang sama.
Mithren.
Di luar rumah, air saluran kecil mengalir pelan.
Biasanya suara itu menenangkan.
Namun malam itu terdengar seperti hitungan waktu.
Seolah setiap tetes air sedang menghitung mundur menuju sesuatu.
Roxana datang membawa secangkir teh hangat.
Ia meletakkannya di depan Ardashir.
"Kau belum tidur."
"Bahkan pikiranku belum duduk."
Roxana tersenyum tipis.
"Itu terdengar seperti kalimat Farrokh."
"Itu pertanda buruk."
Mereka duduk bersama.
Diam.
Karena terkadang suami istri tidak membutuhkan kata-kata.
Cukup kehadiran.
Akhirnya Roxana bertanya.
"Apa yang paling mengganggumu?"
Ardashir memandang dua surat itu.
"Kalau pesan ini benar..."
ia mengetuk surat misterius.
"...berarti seseorang akan dibunuh."
"Dan kalau salah?"
"Maka seseorang sedang memainkan kita."
Roxana mengangguk.
Keduanya sama-sama buruk.
Di sudut ruangan, Dastan sedang memeriksa salah satu peta pengairan tua.
Tiba-tiba ia mengangkat kepala.
"Aku baru menyadari sesuatu."
Semua menoleh.
Dastan membentangkan peta.
Peta itu jauh lebih tua daripada peta modern kerajaan.
Sebagian tintanya mulai pudar.
Namun garis-garis qanat masih terlihat jelas.
"Lihat ini."
katanya.
Ia menunjuk jalur utama air wilayah selatan.
Ardashir mendekat.
Roxana ikut mendekat.
Bahram yang baru masuk dari luar juga ikut melihat.
Dastan mengambil arang kecil.
Lalu mulai menggambar lingkaran.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Semua titik yang bermasalah berada pada posisi tertentu.
Bukan sembarang posisi.
"Tidak mungkin..."
gumam Roxana.
Karena pola itu membentuk sesuatu.
Sebuah jalur.
Bukan jalur perdagangan.
Bukan jalur militer.
Melainkan jalur pengendalian air utama Persia Selatan.
Dastan mengangguk pelan.
"Ini bukan pencurian."
katanya.
"Ini penguasaan."
Ruangan mendadak sunyi.
Dastan melanjutkan.
"Jika seseorang berhasil mengendalikan semua titik ini..."
Ia menunjuk lingkaran terakhir.
"...ia bisa menentukan desa mana yang makmur."
"Desa mana yang kekurangan air."
"Lumbung mana yang panennya turun."
"Pedagang mana yang untung."
Bahram bersiul pelan.
"Itu bukan kejahatan kecil."
"Tidak."
jawab Dastan.
"Itu hampir seperti mengambil alih sebuah kerajaan tanpa mengangkat pasukan."
Ardashir merasakan bulu kuduknya berdiri.
Karena kini teka-teki mulai berubah bentuk.
Ini bukan sekadar korupsi.
Ini bukan sekadar perdagangan.
Ini adalah perebutan kekuasaan melalui teknologi.
Dan teknologi yang digunakan bukan pedang.
Melainkan air.
Kota Persia
Pada saat yang sama...
di kota Persia...
Artazara sedang berada di tempat yang tidak seharusnya ia datangi sendirian.
Arsip Teknik Kerajaan.
Bangunan itu tua.
Sangat tua.
Bahkan lebih tua daripada sebagian istana.
Di sinilah seluruh rancangan besar Persia disimpan.
Qanat.
Jembatan.
Lumbung.
Bendungan.
Menara api.
Jalan kerajaan.
Semuanya.
Farrokh membawakan lentera.
Vardan membawa makanan.
Karena tentu saja ia membawa makanan.
"Kita mencari apa sebenarnya?"
tanya Vardan.
Artazara menjawab singkat.
"Daftar lima puluh alat."
Ruangan menjadi hening.
Mereka mulai membuka rak-rak tua.
Lembaran papirus.
Tablet tanah liat.
Catatan insinyur.
Laporan distribusi.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Sampai akhirnya Farrokh menemukan sesuatu.
"Di sini."
Artazara segera mendekat.
Sebuah daftar.
Tertulis:
Proyek Pengukuran Kehilangan Air Kerajaan
Jumlah alat dibuat: 50
Jumlah alat aktif: 50
Jumlah alat hilang: 0
"Mustahil."
gumam Farrokh.
"Kenapa?"
tanya Vardan.
Farrokh menunjuk alat yang digambar di daftar.
Persis seperti yang ditemukan Ardashir.
"Karena satu sudah berada di desa."
Keheningan turun.
Artazara membaca ulang.
Kemudian sekali lagi.
Jumlah hilang: 0.
Namun kenyataannya minimal satu hilang.
Artinya...
seseorang mengubah catatan resmi kerajaan.
Dan untuk melakukan itu...
orang tersebut harus memiliki akses tingkat tinggi.
Vardan akhirnya berhenti makan.
Itu tanda situasi benar-benar buruk.
Persepolis
Jauh di Persepolis...
seorang pria tua sedang berlari.
Bukan berlari karena olahraga.
Melainkan karena takut.
Namanya Mithren.
Kepala Administrasi Pengairan Selatan.
Orang yang kini menjadi pusat semua penyelidikan.
Ia memasuki rumahnya dengan napas terengah.
Istrinya terkejut.
"Ada apa?"
Mithren menutup pintu.
Menguncinya.
Kemudian memeriksa jendela.
"Ayah?"
tanya putranya.
Mithren berlutut.
Memegang bahu anaknya.
"Kalian harus pergi."
Ruangan mendadak sunyi.
"Apa?"
tanya istrinya.
"Pergilah ke rumah saudaramu."
"Ada apa sebenarnya?"
Mithren memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
ia tampak sangat tua.
"Aku membuat kesalahan."
Istrinya membeku.
"Bukan karena aku mencuri."
lanjut Mithren.
"Bukan karena aku berkhianat."
"Lalu?"
Mithren menatap ke arah jendela.
"Aku mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya kuketahui."
Di luar rumah...
dua bayangan sedang mengawasi.
Desa
Keesokan pagi.
Seseorang datang ke desa.
Seorang kurir kerajaan.
Kudanya kelelahan.
Tubuhnya penuh debu.
Ardashir langsung mengenal lambang pada jubahnya.
Kurir khusus.
Bukan kurir biasa.
Kurir yang digunakan ketika pesan tidak boleh terlambat.
Kurir itu turun dari kudanya.
Hampir jatuh.
Lalu menyerahkan tabung pesan.
Untuk Ardashir.
Di dalamnya hanya terdapat satu kalimat.
Tulisan tangan Artazara.
"Mithren menghilang tadi malam."
Ardashir membacanya dua kali.
Tiga kali.
Lalu memandang Dastan.
Roxana.
Bahram.
Tidak ada yang berbicara.
Karena semua orang memahami apa artinya.
Jika Mithren hilang...
maka permainan telah memasuki babak baru.
Dan biasanya...
orang yang menghilang hanya memiliki dua kemungkinan.
Sedang melarikan diri.
Atau sedang diburu.
Namun tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa kemungkinan ketiga jauh lebih berbahaya.
Karena pada saat yang sama...
di sebuah tempat tersembunyi di luar Persepolis...
Mithren masih hidup.
Dan untuk pertama kalinya...
ia siap berbicara.
Tentang nama-nama.
Tentang uang.
Tentang air.
Tentang lima puluh alat.
Dan tentang seseorang...
yang bahkan lebih berkuasa daripada Nabarz.
Akhir Bab 8
"Kadang orang yang tampak sebagai tersangka utama hanyalah penjaga pintu.
Dan bahaya yang sesungguhnya baru terlihat ketika pintu itu terbuka."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar