Rabu, 08 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (22)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 22



Kunci Matahari

Angin malam berembus dingin di lembah rahasia.

Namun yang membuat Ardashir menggigil bukanlah udara pegunungan.

Melainkan kalimat terakhir yang ditulis Arshan.


Gunakan Kunci Matahari.

Hanya itu yang dapat menghentikan mereka.


Masalahnya sederhana.

Tidak seorang pun tahu apa itu Kunci Matahari.

Dan yang lebih buruk...

tidak ada seorang pun tahu di mana mencarinya.


Perlombaan Dimulai

Pagi itu seluruh perpustakaan berubah menjadi pusat pencarian.

Bukan lagi mencari bukti.

Bukan lagi mencari nama.

Mereka mencari petunjuk.

Shirin membuka ratusan katalog.

Dastan memeriksa peta-peta lama.

Mithren meneliti catatan para insinyur generasi pertama.

Ardashir memeriksa setiap dokumen yang berkaitan dengan Arshan.

Waktu berjalan cepat.

Di luar lembah...

Elang Timur semakin mendekat.


Teknologi Pengindeksan Persia

Menjelang siang.

Shirin menemukan sesuatu yang menarik.

Di salah satu ruang arsip terdapat sistem yang tidak biasa.

Rak-rak diberi simbol.

Bukan berdasarkan tahun.

Bukan berdasarkan wilayah.

Melainkan berdasarkan bidang pengetahuan.

Air.

Bintang.

Tanah.

Perdagangan.

Pemerintahan.

Setiap kategori memiliki warna dan simbol tersendiri.

Dastan tersenyum kagum.

"Hebat."

"Apa?"

tanya Ardashir.

"Ini sistem klasifikasi."

"Seperti perpustakaan?"

"Lebih maju."

Dastan menunjuk tanda-tanda pada rak.

"Ini memungkinkan seseorang menemukan informasi tanpa harus membaca seluruh arsip."

Shirin tertawa kecil.

"Jadi para pencatat Persia sudah menemukan mesin pencari versi kuno."

Bahkan Mithren ikut tersenyum.

Untuk beberapa saat mereka lupa bahwa lembah sedang dikepung.


Petunjuk Pertama

Menjelang sore.

Ardashir menemukan catatan kecil yang terselip di dalam buku astronomi.

Tulisan tangan Arshan.

Singkat.

Sangat singkat.


Jika suatu hari Kunci Matahari diperlukan,

carilah tempat yang paling sering kulupakan.


Keheningan turun.

"Itu bukan petunjuk."

kata Mithren.

"Itu teka-teki."

"Arshan memang suka teka-teki."

gumam Dastan.


Sesuatu yang Terlupakan

Mereka mulai memikirkan kehidupan Arshan.

Perpustakaan.

Observatorium.

Qanat.

Istana.

Ladang percobaan.

Semua tempat penting telah mereka kunjungi.

Namun tidak ada yang cocok.

Sampai tiba-tiba Ardashir teringat sesuatu.

Sangat sederhana.

Terlalu sederhana.

"Roxana."

katanya pelan.

Semua menoleh.

"Apa hubungannya?"

tanya Shirin.

Ardashir terdiam sejenak.

"Ladang."

"Ladang?"

Ardashir mengangguk.

"Semua orang selalu berbicara tentang para insinyur."

"Para astronom."

"Para pejabat."

"Tetapi Arshan selalu menulis tentang petani."

Keheningan turun.

Karena semakin dipikirkan...

semakin masuk akal.


Di Desa

Jauh di selatan.

Roxana sedang memeriksa saluran air.

Seperti biasanya.

Tidak ada yang tahu bahwa pada saat yang sama namanya sedang disebut di pegunungan.

Ia memperhatikan sesuatu yang aneh.

Salah satu saluran lama memiliki batu penanda yang berbeda.

Sangat tua.

Lebih tua daripada saluran lainnya.

Di permukaannya terdapat simbol yang mulai aus.

Matahari.

Dan setangkai gandum.

Roxana mengusap batu itu perlahan.

Ada sesuatu yang terasa akrab.

Namun ia belum memahami apa.


Di Persepolis

Sementara itu Artazara menemukan hal yang sama.

Bukan batu.

Melainkan catatan pajak lama.

Catatan yang bahkan tidak lagi digunakan.

Di pojok salah satu halaman terdapat simbol kecil.

Matahari dan gandum.

Simbol yang sama.

Farrokh mengerutkan dahi.

"Aneh."

"Apa?"

"Simbol ini muncul di banyak tempat."

"Di mana saja?"

"Ladang percobaan."

"Gudang pangan."

"Dan sekolah pertanian."

Keheningan turun.


Kebenaran Mulai Terlihat

Kembali di lembah.

Dastan membentangkan peta besar.

Kemudian mulai menandai lokasi yang pernah digunakan Arshan.

Observatorium.

Perpustakaan.

Qanat.

Bendungan.

Lalu ia menambahkan satu kategori baru.

Ladang percobaan.

Dan tiba-tiba pola itu muncul.

Semua lokasi membentuk lingkaran.

Dengan satu titik di tengah.

Titik yang selama ini tidak dianggap penting.

Sebuah desa kecil.

Tidak terkenal.

Tidak strategis.

Tidak kaya.

Ardashir membeku.

Karena nama desa itu terdengar familiar.

Sangat familiar.

Dastan membacanya perlahan.


Mehrabad.


Mithren langsung berdiri.

"Itu tidak mungkin."

"Apa?"

"Itu desa tempat Arshan dilahirkan."

Keheningan memenuhi ruangan.

Mereka saling berpandangan.

Selama ini mereka mencari di tempat-tempat besar.

Padahal mungkin jawabannya berada di tempat paling sederhana.

Tempat yang dianggap tidak penting oleh siapa pun.


Elang Timur Menutup Jalur

Saat matahari tenggelam.

Seorang pengintai kembali ke perpustakaan.

Napasnya terengah.

Wajahnya pucat.

"Mereka datang."

Siapa pun tahu siapa yang dimaksud.

Elang Timur.

Jumlah mereka kini bukan puluhan.

Melainkan ratusan.

Jalur utara tertutup.

Jalur timur tertutup.

Jalur sungai diawasi.

Lembah semakin terisolasi.

Pemimpin Elang Timur tampaknya memahami bahwa mangsanya hampir menemukan sesuatu yang sangat penting.


Keputusan

Malam itu mereka berkumpul kembali.

Ardashir.

Dastan.

Shirin.

Mithren.

Di tengah meja terdapat:

  • salinan arsip,
  • peta,
  • dan petunjuk menuju Mehrabad.

Tidak ada waktu lagi.

Jika mereka tetap tinggal...

mereka mungkin kehilangan kesempatan.

Jika mereka pergi...

mereka harus menembus kepungan.

Akhirnya Mithren berbicara.

"Kita bagi kelompok."

Shirin langsung menggeleng.

"Terlalu berbahaya."

"Justru karena itu."

jawab Mithren.

"Kalau satu kelompok tertangkap, kelompok lain tetap hidup."

Ardashir memandang peta.

Kemudian ke arah selatan.

Ke arah desa-desa.

Ke arah tanah tempat rakyat biasa hidup.

Dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.

Mungkin Kunci Matahari tidak disembunyikan di pusat kekuasaan.

Tidak di istana.

Tidak di perpustakaan.

Tidak di observatorium.

Melainkan di tempat yang selama ini dianggap paling sederhana.

Tempat orang menanam gandum.

Tempat anak-anak bermain.

Tempat kehidupan dimulai.


Akhir Bab 22

"Sering kali manusia menyembunyikan harta paling berharga di tempat yang paling dekat dengan hatinya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar