Sabtu, 04 Oktober 2025

Satu Cinta Seribu Tombak II (29)

 

Air, Api, dan Rumah yang Dijaga

Bab 29



Kota Matahari yang Hilang

Matahari baru saja terbit ketika Ardashir dan rombongannya mulai menuruni lereng menuju lembah Simurgh.

Untuk pertama kalinya...

tujuan yang selama ini hanya berupa petunjuk, legenda, dan harapan kini berada di depan mata.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Bahkan Dastan.

Bahkan Mithren.

Karena apa yang mereka lihat jauh melampaui dugaan mereka.

Di tengah lembah berdiri sebuah kota.

Bukan kota besar seperti Persepolis.

Bukan pula benteng militer.

Melainkan sesuatu yang berbeda.

Sebuah kota yang dibangun untuk pengetahuan.


Kota Para Pembelajar

Jalan-jalan batu tersusun rapi.

Saluran air mengalir di bawah trotoar.

Pepohonan buah tumbuh di sepanjang jalur utama.

Kolam-kolam penampung tersebar di berbagai titik.

Bangunan-bangunan berbentuk lingkaran berdiri mengelilingi pusat kota.

Tidak ada istana.

Tidak ada balairung raja.

Tidak ada markas tentara.

Shirin memperhatikan dengan kagum.

"Ini bukan kota kekuasaan."

Dastan mengangguk.

"Ini kota pelayanan."


Teknologi Persia yang Hilang

Semakin mereka menjelajah, semakin banyak hal luar biasa yang ditemukan.

Reservoir bawah tanah raksasa.

Jaringan pendingin alami menggunakan aliran air pegunungan.

Kincir hidrolik bertingkat.

Lumbung gandum berlapis batu dan ventilasi silang.

Bahkan terdapat sistem pengukuran debit air otomatis menggunakan pelampung dan roda penanda.

Dastan hampir seperti anak kecil yang menemukan dunia impiannya.

"Arshan gila."

Shirin tersenyum.

"Bahasa yang aneh untuk memuji seseorang."

"Aku serius."

Dastan menunjuk salah satu instalasi.

"Teknologi ini bahkan bisa membantu Persia menghadapi kekeringan panjang."

Keheningan turun.

Karena mereka mulai memahami mengapa tempat ini begitu dijaga.

Siapa pun yang menguasai kota ini...

akan menguasai masa depan Persia.


Ujian Terakhir

Di pusat kota berdiri bangunan terbesar.

Bangunan berbentuk lingkaran.

Atapnya terbuka ke langit.

Di tengahnya terdapat meja batu raksasa.

Dan tepat di atas meja itu terdapat cekungan berbentuk matahari.

Dastan langsung memahami.

"Kunci Matahari."

Ardashir mengeluarkan cakram perunggu.

Perlahan meletakkannya pada cekungan tersebut.

Klik.

Suara mekanik bergema.

Seluruh bangunan bergetar.

Debu tua berjatuhan dari langit-langit.

Kemudian...

sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan terjadi.

Dinding-dinding batu mulai bergerak.

Pelan.

Teratur.

Presisi.

Seolah seluruh bangunan adalah mesin raksasa.


Pesan Arshan

Di tengah ruangan muncul silinder batu.

Di atasnya terdapat satu gulungan.

Gulungan terakhir.

Tulisan Arshan.

Tulisan yang tampaknya memang disiapkan untuk orang yang berhasil mencapai tempat ini.

Ardashir membuka perlahan.

Semua mendekat.

Dan ia mulai membaca.


Jika engkau sampai di sini,

berarti engkau telah melewati ujian yang paling penting.

Bukan ujian kecerdasan.

Bukan ujian keberanian.

Tetapi ujian keserakahan.


Keheningan memenuhi ruangan.


Kota ini bukan warisan untuk dimiliki.

Kota ini warisan untuk dijaga.


Mithren memejamkan mata.

Shirin menunduk.

Dastan menghela napas panjang.

Karena mereka mulai memahami inti dari seluruh perjalanan ini.


Kebenaran Tentang Persaudaraan Matahari

Arshan melanjutkan.


Persaudaraan Matahari tidak lahir sebagai kejahatan.

Ia lahir sebagai harapan.

Namun harapan berubah menjadi kesombongan.

Dan kesombongan berubah menjadi keinginan untuk mengendalikan.


Ardashir membaca lebih lanjut.


Karena itu aku menyembunyikan kota ini.

Bukan dari musuh.

Tetapi dari mereka yang percaya bahwa pengetahuan memberi hak untuk memerintah manusia lain.


Tidak ada yang berbicara.

Karena kalimat itu terasa seperti ditujukan kepada setiap generasi.


Semua Tiba Bersamaan

Tiba-tiba suara terompet bergema dari luar kota.

Mithren langsung berdiri.

"Mereka datang."

Di puncak bukit utara terlihat panji-panji hitam.

Elang Timur.

Di sisi timur terlihat rombongan kecil berkuda.

Artazara.

Farrokh.

Dan pengawal kerajaan.

Di sisi barat muncul rombongan lain.

Lebih kecil.

Lebih teratur.

Di depan mereka berkuda seorang lelaki tua berambut putih.

Orontes.

Akhirnya semua tokoh yang selama ini bergerak di jalur masing-masing...

bertemu di tempat yang sama.

Kota Matahari.


Pertemuan yang Ditunggu Puluhan Tahun

Sore itu.

Di pusat kota.

Ardashir berdiri.

Di sampingnya Dastan.

Shirin.

Mithren.

Di hadapan mereka berdiri Artazara dan Farrokh.

Dan beberapa langkah di seberang...

Orontes.

Untuk pertama kalinya.

Tidak ada surat.

Tidak ada utusan.

Tidak ada perantara.

Hanya kebenaran.

Dan orang-orang yang harus memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya.

Orontes memandang Kota Matahari.

Matanya berkaca-kaca.

Bukan karena sedih.

Bukan karena takut.

Melainkan karena kagum.

"Sungguh indah."

katanya pelan.

Kemudian ia memandang Ardashir.

Dan mengucapkan kalimat yang membuat semua orang terdiam.

"Aku tidak datang untuk menghancurkannya."

Keheningan turun.

Karena jika itu benar...

maka pertarungan terakhir Persia mungkin bukan tentang perang.

Melainkan tentang pilihan.


Akhir Bab 29

"Pedang dapat menentukan siapa yang menang dalam satu pertempuran.

Tetapi hanya kebijaksanaan yang dapat menentukan masa depan sebuah kerajaan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar