Senin, 29 September 2025

Satu Cinta Seribu Tombak III (2)

 

Delima, Bintang, dan Jalan Pulang

Bab 2

Rapat yang Bocor

Pagi di Persepolis selalu datang dengan cara yang megah.

Matahari naik perlahan dari balik pegunungan, menyentuh puncak-puncak istana, lalu turun ke halaman batu, kolom-kolom tinggi, taman, dan saluran air yang mengalir jernih di antara pepohonan delima.

Namun pagi itu, kemegahan Persepolis terasa seperti kain indah yang menutupi luka.

Karena sebelum lonceng pertama istana berbunyi, Farrokh sudah mengetuk pintu ruang kerja Artazara.

Tidak pelan.

Tidak sopan.

Dan tentu saja tidak sabar.

Artazara yang baru saja membuka gulungan catatan menatap pintu.

“Masuk.”

Farrokh masuk dengan wajah lebih gelap dari biasanya.

Itu bukan pertanda baik.

Karena wajah Farrokh pada hari biasa pun sudah cukup membuat penulis muda merasa ingin meminta maaf atas kesalahan yang belum mereka lakukan.

“Ada apa?” tanya Artazara.

Farrokh meletakkan selembar papirus kecil di atas meja.

“Rapat kemarin bocor.”

Artazara diam.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup lama untuk membuat udara pagi terasa lebih dingin.

“Dari mana kau tahu?”

Farrokh menunjuk papirus itu.

“Seorang penjaga menemukan potongan pembungkus tabung pesan di gerbang pelayan timur.”

Artazara mengambilnya.

Papirus itu kecil.

Hampir tidak berarti.

Namun di salah satu sisinya terdapat bekas tinta yang belum sepenuhnya kering.

Hanya beberapa kata yang tersisa:

tujuh wilayah…
catatan air…
sebelum bulan baru…

Artazara membaca perlahan.

Lalu menutup mata.

“Jadi seseorang menyalin keputusan rapat.”

“Ya.”

“Dan mengirimkannya keluar.”

“Ya.”

“Kapan?”

“Tidak lebih dari satu jam setelah rapat berakhir.”

Artazara membuka mata.

“Itu berarti pelakunya berada di dalam ruang arsip.”

Farrokh mengangguk.

“Bukan hanya di dalam istana.”

Ia menatap pintu.

“Di dalam lingkaran kita.”


Kabar itu sampai kepada Ardashir ketika ia sedang membantu Dastan memeriksa papan ukur di taman barat.

Dastan berdiri di dekat saluran air, memegang tongkat kecil untuk mengukur kedalaman aliran.

Di sampingnya, Navid sedang mencatat bayangan matahari pada batu penanda.

Ardashir memperhatikan mereka bekerja dengan rasa kagum yang masih belum hilang.

Baginya, peperangan dahulu tampak lebih mudah dimengerti.

Ada lawan.

Ada arah serangan.

Ada senjata.

Ada keputusan cepat.

Tetapi pekerjaan para insinyur dan pengamat langit berbeda.

Mereka berperang melawan kesalahan kecil.

Kemiringan yang kurang tepat.

Bayangan yang bergeser.

Catatan yang tidak cocok.

Air yang mengalir sedikit lebih lambat dari seharusnya.

Dan sering kali, dari kesalahan kecil itulah bencana besar bermula.

“Ini aneh,” kata Navid.

Dastan menoleh.

“Aneh yang baik atau aneh yang membuatku harus memarahi seseorang?”

Navid menunjuk bayangan pada batu.

“Bayangan menara sinyal tidak jatuh sesuai catatan lama.”

Dastan mendekat.

Ia memicingkan mata.

Lalu menggerutu.

“Catatan lama salah.”

Navid menggeleng.

“Bukan.”

Dastan menatapnya.

Navid menunjuk puncak menara kecil di sisi taman.

“Cerminnya yang digeser.”

Ardashir langsung menoleh ke arah menara.

“Digeser?”

Navid mengangguk.

“Sedikit saja. Mungkin tidak terlihat oleh penjaga biasa. Tetapi cukup untuk mengirim pantulan cahaya ke arah yang berbeda saat matahari sore.”

Dastan terdiam.

Lalu wajahnya berubah.

Tidak marah.

Lebih buruk.

Tertarik.

“Sejak kapan?”

Navid melihat catatan.

“Kalau catatan perawatan benar, perubahan terjadi setelah bulan lalu.”

Ardashir bertanya, “Apa gunanya menggeser cermin kecil seperti itu?”

Navid menatapnya.

“Untuk mengirim sinyal tanpa diketahui orang yang tidak mengamati bayangan.”

Dastan menancapkan tongkat kecilnya ke tanah.

“Kita punya dua masalah sekarang.”

“Dua?” tanya Ardashir.

Dari arah taman, Farrokh datang tergesa bersama Artazara.

Farrokh menjawab sebelum Dastan sempat bicara.

“Rapat bocor.”

Dastan memandang menara.

“Dan menara istana bicara kepada seseorang.”


Mereka berkumpul di ruang arsip kecil dekat taman barat.

Tidak di ruang rapat utama.

Terlalu banyak telinga di sana.

Artazara, Farrokh, Ardashir, Dastan, Navid, dan Shirin duduk mengelilingi meja rendah.

Roxana datang beberapa saat kemudian, membawa papan catatan air yang diminta Artazara.

Vardan juga ikut masuk.

Tidak ada yang mengundangnya.

Namun entah bagaimana ia selalu muncul ketika ada rahasia.

Farrokh menatapnya.

“Kenapa kau di sini?”

Vardan menjawab serius, “Karena wajah kalian semua tampak seperti orang yang belum sarapan.”

“Keluar.”

“Aku membawa roti.”

Farrokh diam.

Roxana hampir tersenyum.

Dastan mengangkat tangan.

“Untuk kepentingan kestabilan kerajaan, biarkan roti itu tinggal.”

Maka Vardan tinggal.

Bersama rotinya.


Artazara membuka percakapan.

“Kita menghadapi dua kejadian yang mungkin terhubung. Pertama, keputusan rapat Majelis Air dan Ilmu sudah disalin dan dikirim keluar. Kedua, Navid menemukan cermin menara sinyal taman barat telah digeser.”

Navid meletakkan gambar sederhana di atas meja.

“Menara ini awalnya mengarah ke utara, sesuai fungsi lama untuk komunikasi antarmenara istana.”

Ia menarik garis.

“Namun sekarang, pada waktu matahari sore, pantulannya mengarah ke gerbang pelayan timur.”

Farrokh menunjuk potongan papirus.

“Tempat pembungkus pesan ditemukan.”

Keheningan turun.

Ardashir memahami perlahan.

“Jadi pelaku tidak hanya membawa pesan keluar. Ia mungkin juga memberi tanda kepada orang di luar bahwa pesan sudah siap.”

Navid mengangguk.

“Satu pantulan cahaya pendek bisa berarti banyak hal jika penerimanya sudah tahu kodenya.”

Shirin menatap gambar itu.

“Teknologi sinyal lama.”

Dastan mendengus.

“Dulu dibuat agar kerajaan bisa mengirim peringatan banjir, kebakaran, atau serangan.”

Farrokh menambahkan datar, “Dan sekarang dipakai untuk mencuri rapat.”

Vardan menggigit roti.

“Itulah nasib banyak alat baik. Bergantung pada tangan yang memegangnya.”

Semua menoleh kepadanya.

Vardan berhenti mengunyah.

“Apa? Kali ini aku tidak salah.”

Farrokh berkata pelan, “Itu yang membuatku khawatir.”


Roxana memperhatikan gambar menara cukup lama.

Lalu bertanya, “Siapa yang punya akses ke menara itu?”

Farrokh menjawab, “Penjaga taman, petugas perawatan, pencatat sinyal, dan beberapa pelayan istana.”

“Berapa orang?”

“Sekitar tiga puluh.”

Roxana menggeleng.

“Terlalu banyak.”

Artazara memandangnya.

“Apa maksudmu?”

“Kalau kita memeriksa tiga puluh orang sekaligus, pelaku akan tahu bahwa kita tahu.”

Farrokh mengangguk pelan.

“Benar.”

Roxana melanjutkan, “Maka jangan periksa orangnya dulu. Periksa kebiasaannya.”

Navid menatap Roxana dengan hormat baru.

“Kebiasaan?”

“Siapa yang berada di dekat menara saat matahari sore. Siapa yang sering melewati gerbang pelayan timur. Siapa yang cukup pintar untuk memakai cahaya, tetapi cukup percaya diri untuk mengira orang lain tidak akan memperhatikan.”

Dastan tersenyum.

“Kau akan membuat Farrokh kehilangan pekerjaan.”

Farrokh menjawab tanpa ekspresi, “Tidak. Aku akan merekrutnya.”

Roxana tampak seperti ingin menolak, tetapi Ardashir mendahului.

“Jangan.”

Farrokh menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena aku masih ingin punya istri yang bisa pulang sebelum malam.”

Roxana menoleh.

“Aku bisa menjawab sendiri.”

“Maaf.”

Farrokh mencatat sesuatu.

Ardashir curiga itu bukan catatan resmi.


Artazara memperhatikan percakapan kecil itu.

Ada kelembutan di antara Ardashir dan Roxana.

Bukan kelembutan yang dibuat untuk dilihat orang.

Melainkan kelembutan yang tumbuh dari kebiasaan saling mengenal.

Cara Ardashir khawatir.

Cara Roxana menolak dilindungi terlalu berlebihan.

Cara mereka saling mengoreksi tanpa melukai.

Artazara menunduk sejenak.

Di dalam dadanya, rasa lama itu bergerak lagi.

Halus.

Tidak liar.

Tetapi cukup membuatnya sadar bahwa ia belum sepenuhnya bebas.

Lalu suara Navid terdengar.

“Putri Artazara?”

Ia mengangkat kepala.

Navid menunjuk gambar menara.

“Maaf. Aku bertanya apakah Putri ingin melihat arah pantulan itu langsung sore nanti.”

Artazara mengangguk.

“Tentu.”

Navid tidak bertanya mengapa ia sempat melamun.

Tidak menunjukkan bahwa ia memperhatikan.

Tidak membuatnya malu.

Dan untuk alasan kecil yang tak dapat dijelaskan, Artazara menghargai itu.


Sore itu mereka menyusun rencana.

Bukan menangkap pelaku.

Belum.

Mereka ingin memastikan jalur pesan.

Navid akan mengamati pantulan cermin dari taman barat.

Dastan akan memeriksa mekanisme menara.

Farrokh akan menempatkan dua pencatat muda di dekat gerbang pelayan timur dengan alasan menghitung keluar-masuk barang dapur.

Shirin akan memeriksa daftar tabung pesan dan segel lilin.

Artazara akan berada di balkon timur untuk mengamati pergerakan istana.

Ardashir akan berjaga di jalur antara taman dan gerbang.

Roxana meminta ikut.

Ardashir menatapnya.

Roxana menatap balik.

“Jangan mulai,” katanya.

“Aku belum bicara.”

“Wajahmu sudah bicara.”

Farrokh menulis lagi.

Ardashir memandangnya.

“Apa yang kau catat?”

“Bukti bahwa wajah kadang lebih cepat dari lidah.”

Vardan berbisik, “Itu akan menjadi judul buku yang buruk tapi berguna.”

Dastan menghela napas.

“Kita sedang menyelidiki pengkhianatan, bukan menyusun kumpulan peribahasa.”


Menjelang matahari turun, Persepolis tampak tenang.

Terlalu tenang.

Para pelayan membawa kendi air.

Penjaga berdiri di posnya.

Burung-burung pulang ke pepohonan.

Dari kejauhan, relief-relief istana berubah keemasan diterpa cahaya senja.

Navid berdiri di taman barat dengan alat pengukur bayangan.

Artazara berada di balkon atas, melihat ke arah taman dan gerbang pelayan.

Roxana berdiri di dekat kolam kecil bersama dua perempuan pelayan, berpura-pura membahas catatan air taman.

Ardashir berada di jalur batu di antara pohon-pohon cemara.

Farrokh, entah bagaimana, tampak berada di mana-mana meskipun tubuhnya hanya satu.

Matahari perlahan turun.

Cahaya menyentuh puncak menara.

Navid mengangkat tangan.

Dastan yang berada di bawah menara melihat ke atas.

Cermin kecil itu menangkap sinar.

Satu kilatan.

Pendek.

Hampir tidak terlihat.

Lalu jeda.

Kilatan kedua.

Lebih pendek.

Navid mencatat.

Di balkon, Artazara melihat sesuatu bergerak di dekat gerbang pelayan timur.

Seorang anak pembawa air berhenti.

Terlalu lama.

Ia tidak menatap menara.

Tetapi tangannya menyentuh ikat pinggangnya, seolah memastikan sesuatu.

Lalu ia berjalan menuju lorong luar.

Artazara memberi isyarat kecil kepada Ardashir.

Ardashir mulai bergerak.

Pelan.

Tidak berlari.

Di sisi lain, Roxana juga melihat anak itu.

Namun ia melihat hal yang tidak dilihat Ardashir.

Anak itu takut.

Bukan seperti pelaku.

Melainkan seperti seseorang yang dipaksa.

Roxana segera meninggalkan kolam dan mengikuti dari jalur samping.


Anak pembawa air itu hampir mencapai gerbang ketika Ardashir muncul di depannya.

Ia membeku.

Bejana air di tangannya bergetar.

“Aku tidak mencuri,” katanya cepat.

Ardashir menatapnya.

“Aku belum bertanya.”

Anak itu makin pucat.

Dari belakang, Roxana mendekat.

Suaranya lembut.

“Siapa namamu?”

Anak itu menoleh.

“Samak.”

“Samak, apa yang kau bawa?”

“Air.”

“Selain air?”

Anak itu menunduk.

Tangannya gemetar.

Ardashir melihat tabung kecil di balik ikat pinggangnya.

Ia hendak mengambilnya, tetapi Roxana mengangkat tangan pelan.

“Samak,” katanya lagi, “apakah seseorang menyuruhmu?”

Mata anak itu berkaca-kaca.

“Aku tidak tahu isinya.”

“Aku percaya.”

“Aku hanya diminta membawanya ke gerbang.”

“Oleh siapa?”

Samak menggeleng kuat.

“Aku tidak tahu namanya.”

Ardashir berkata, “Wajahnya?”

“Aku tidak melihat jelas.”

Roxana berlutut agar sejajar dengan anak itu.

“Kenapa kau mau?”

Samak menelan ludah.

“Ibuku bekerja di dapur wilayah. Mereka bilang kalau aku tidak membawa tabung itu, ibuku akan dituduh mencuri tepung.”

Roxana memejamkan mata sebentar.

Jaringan lama masih memakai cara lama.

Bukan hanya membeli orang.

Tetapi menekan orang kecil yang tidak punya perlindungan.

Ardashir mengambil tabung itu dengan hati-hati.

“Tidak ada yang akan menyakiti ibumu.”

Samak menatapnya, ingin percaya tetapi takut.

Roxana berkata, “Aku yang akan bicara dengan kepala dapur.”

Anak itu mulai menangis tanpa suara.


Tabung itu dibawa ke ruang arsip kecil.

Shirin membuka segelnya.

Di dalamnya terdapat pesan pendek.

Keputusan tujuh wilayah telah disahkan.
Pengamatan terhadap perempuan desa harus dilanjutkan.
Pencatat bintang mencurigai menara.
Pindahkan jalur sebelum bulan baru.

Ruang itu menjadi sunyi.

Ardashir menatap kalimat kedua.

Pengamatan terhadap perempuan desa.

Roxana.

Roxana membaca kalimat itu tanpa mengubah wajah.

Tetapi Ardashir merasakan darahnya menghangat.

“Mereka mengawasi Roxana.”

Farrokh berkata dingin, “Mereka mengawasi semua orang yang mereka anggap berbahaya.”

Roxana menatap pesan itu.

“Aku berbahaya karena aku bertanya?”

Dastan menjawab, “Pertanyaan jujur sering lebih berbahaya daripada pedang palsu.”

Navid menunjuk kalimat ketiga.

“Pencatat bintang.”

Artazara menatapnya.

“Maksudnya kau.”

Navid mengangguk pelan.

“Jadi mereka tahu aku memeriksa menara.”

Shirin menutup tabung.

“Kita bukan hanya menemukan jalur pesan.”

Farrokh melanjutkan, “Kita ditemukan balik.”


Malam itu, keamanan istana diperketat diam-diam.

Namun Artazara melarang penangkapan besar-besaran.

“Jika kita bergerak kasar, mereka akan menghilang.”

Farrokh setuju.

“Kita butuh akar, bukan hanya ranting.”

Samak dan ibunya diamankan tanpa membuat kegaduhan.

Anak itu diberi tempat tidur di dekat dapur dalam, dijaga oleh orang yang dipercaya Roxana.

Untuk pertama kalinya sejak sore, Roxana tampak benar-benar lelah.

Ardashir mendekatinya di lorong taman.

“Aku tidak suka ini.”

“Aku juga.”

“Mereka mengawasimu.”

“Ya.”

“Aku ingin mengirimmu pulang.”

Roxana menatapnya.

“Ke mana? Ke desa yang juga mereka incar? Ke rumah yang mungkin sudah mereka ketahui? Atau ke tempat yang membuatmu merasa lebih tenang tetapi tidak benar-benar membuatku aman?”

Ardashir terdiam.

Roxana melembutkan suara.

“Aku tahu kau khawatir.”

“Sangat.”

“Aku juga takut.”

Kalimat itu membuat Ardashir menatapnya lebih dalam.

Roxana jarang mengatakannya.

“Aku takut,” ulangnya. “Tetapi aku tidak ingin rasa takut membuatku mundur dari sesuatu yang benar.”

Ardashir menggenggam tangannya.

“Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.”

Roxana tersenyum sedih.

“Kalau begitu jangan jadikan aku seseorang yang kehilangan dirinya agar kau merasa aman.”

Kalimat itu menusuk.

Bukan karena kasar.

Tetapi karena benar.

Ardashir menunduk.

“Maaf.”

Roxana meremas tangannya.

“Kita belajar, bukan?”

“Setiap hari.”

“Bagus. Karena pernikahan tampaknya lebih sulit daripada membuka Kota Matahari.”

Ardashir tertawa pelan.

“Jauh lebih sulit.”


Di balkon atas, Artazara melihat mereka dari kejauhan.

Lagi.

Namun kali ini ia tidak berhenti karena luka.

Ia berhenti karena belajar.

Roxana bukan hanya istri Ardashir.

Ia adalah perempuan yang berdiri di sampingnya tanpa menghilangkan dirinya sendiri.

Artazara tiba-tiba memahami sesuatu yang menyakitkan sekaligus membebaskan.

Mungkin selama ini ia tidak hanya mencintai Ardashir.

Mungkin ia juga mencintai bayangan hidup yang pernah ia kira akan dimiliki bersama Ardashir.

Rumah.

Percakapan.

Kepercayaan.

Seseorang yang melihatnya bukan sebagai putri jenderal atau pemimpin arsip, tetapi sebagai manusia.

Di belakangnya terdengar langkah.

Navid.

Ia berhenti cukup jauh, tidak mendekat tanpa izin.

“Putri?”

Artazara tidak menoleh.

“Apakah semua bintang selalu tahu tempatnya?”

Navid diam sejenak.

“Tidak.”

Artazara menoleh.

“Aku kira seorang astronom akan menjawab lebih pasti.”

Navid tersenyum.

“Bintang tidak bergerak untuk membuat kita mudah menggambar peta. Kita yang belajar membaca perubahan mereka.”

Artazara memandang langit.

“Dan jika seseorang salah membaca bintang terlalu lama?”

“Langit tidak menghukum. Ia tetap memberi kesempatan untuk membaca lagi malam berikutnya.”

Artazara tidak menjawab.

Namun untuk pertama kalinya, kalimat Navid tidak terasa seperti nasihat.

Lebih seperti ruang.

Ruang untuk tidak buru-buru sembuh.

Ruang untuk membaca ulang dirinya sendiri.


Di ujung lain istana, seorang lelaki berjubah petugas dapur berjalan cepat melewati lorong gelap.

Ia tidak tahu bahwa jalur pesannya telah gagal.

Ia tidak tahu bahwa Samak telah diamankan.

Ia tidak tahu bahwa Navid kini memperhatikan menara.

Namun ia tahu satu hal: pesan berikutnya harus dikirim sebelum bulan baru.

Di sebuah ruang kecil yang tersembunyi di balik gudang rempah, ia membuka kotak kayu.

Di dalamnya terdapat beberapa tabung pesan.

Satu segel lama.

Dan simbol kecil burung api yang hampir terhapus.

Sisa Persaudaraan Matahari belum mati.

Mereka hanya kehilangan pusatnya.

Dan kini, seperti ular yang terluka, mereka menjadi lebih sulit ditebak.

Lelaki itu mengambil satu tabung kosong.

Lalu menulis:

Jalur taman barat terbongkar.
Perempuan desa dilindungi.
Pencatat bintang harus disingkirkan.
Putri Artazara mulai terlalu dekat pada arah sebenarnya.

Ia meniup tinta.

Menggulung pesan.

Lalu mematikan lampu.

Malam kembali gelap.


Akhir Bab 2

“Rahasia tidak selalu bocor karena pintu dibuka.
Kadang ia keluar melalui celah kecil
yang selama ini dianggap terlalu remeh untuk dijaga.”

➡️ Bab 3: Bayangan di Menara Barat
Navid menemukan bahwa menara sinyal istana telah digunakan lebih dari sekali untuk mengirim pesan rahasia. Artazara mulai menyelidiki jaringan pelayan, pencatat, dan penjaga yang mungkin terlibat. Sementara itu, Roxana menyadari bahwa ancaman terhadap dirinya bukan hanya karena ia istri Ardashir, melainkan karena gagasannya tentang catatan air mulai ditakuti banyak pihak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar