Senin, 29 September 2025

Satu Cinta Seribu Tombak III (1)


Delima, Bintang, dan Jalan Pulang

Bab 1

Setelah Cahaya Dibuka

Beberapa kemenangan tidak membuat hidup menjadi lebih ringan.

Sebagian kemenangan justru membuka pintu menuju tanggung jawab yang lebih besar.

Setelah Kota Matahari ditemukan dan warisan Arshan dibuka sebagai amanah, banyak orang di Persia mengira masa gelap telah selesai.

Mereka keliru.

Kegelapan memang mundur.

Tetapi bayangannya masih tertinggal di banyak tempat.

Di ruang arsip.

Di gudang pangan.

Di saluran air.

Di meja para pejabat.

Dan kadang…

di dalam hati manusia yang belum sepenuhnya selesai dengan masa lalunya.


Musim gugur datang perlahan ke Persepolis.

Angin dari pegunungan membawa dingin yang lembut. Daun-daun di taman istana mulai berubah warna. Air mengalir melalui kanal-kanal batu yang membelah taman, memantulkan cahaya matahari sore seperti pita-pita emas.

Di bawah pohon delima tua di salah satu halaman istana, Ardashir duduk bersama Roxana.

Bukan sebagai pahlawan.

Bukan sebagai pembawa Kunci Matahari.

Bukan sebagai lelaki yang namanya mulai disebut-sebut dalam rapat kerajaan.

Melainkan sebagai suami yang sedang berusaha memahami wajah istrinya.

Roxana sedang membaca gulungan kecil.

Gulungan itu berisi rancangan pembentukan Majelis Air dan Ilmu di beberapa wilayah pertama.

Bahasanya kaku.

Penuh istilah.

Penuh pasal.

Penuh catatan.

Roxana membaca cukup lama.

Lalu menghela napas.

“Ini ditulis oleh Farrokh?”

Ardashir tersenyum.

“Bagaimana kau tahu?”

“Karena setiap kalimatnya seperti memegang tongkat dan menyuruh pembaca duduk tegak.”

Ardashir tertawa pelan.

“Farrokh akan tersinggung kalau mendengarnya.”

“Tidak. Ia akan mencatatnya, lalu menggunakannya sebagai alasan memperbaiki kalimat orang lain.”

Ardashir tertawa lebih jelas.

Tawa itu membuat bahu Roxana sedikit turun.

Sejak tiba di Persepolis, ia jarang benar-benar santai.

Semua orang memandang mereka dengan cara yang berbeda.

Sebagian kagum.

Sebagian penasaran.

Sebagian berharap.

Sebagian curiga.

Roxana yang dulu hanya dikenal sebagai perempuan desa kini diminta berbicara tentang catatan air, pembagian irigasi, dan hak warga memahami aliran yang menghidupi ladang mereka.

Itu kehormatan.

Tetapi kehormatan kadang datang bersama kelelahan yang tidak terlihat.


Ardashir mengambil gulungan dari tangan Roxana.

“Kalau terlalu berat, kita bisa pulang lebih cepat.”

Roxana menatapnya.

“Ke rumah?”

“Ke pohon delima kita. Ke kambing yang mengira dirinya bangsawan. Ke saluran kecil yang tidak pernah meminta rapat.”

Roxana tersenyum.

“Kau merindukan kambing itu?”

“Aku merindukan hidup yang musuh terbesarnya hanya kambing pencuri roti.”

Roxana tertawa kecil.

Namun tawanya cepat mereda.

“Kita tidak bisa pulang sekarang.”

“Aku tahu.”

“Majelis ini baru mulai.”

“Aku tahu.”

“Dan orang-orang yang dulu menguasai catatan air tidak akan menyerah hanya karena kita menulis aturan baru.”

Ardashir mengangguk.

Itulah yang membuatnya mencintai Roxana lebih dalam.

Ia tidak mabuk oleh kemenangan.

Tidak silau oleh pujian.

Ia selalu melihat pekerjaan yang masih tersisa.


Di halaman seberang, seorang pelayan lewat membawa kendi air. Di belakangnya, dua anak penulis muda berjalan sambil membawa papan tanah liat. Mereka sedang belajar mencatat debit saluran taman menggunakan tanda-tanda sederhana.

Sebelum Kota Matahari dibuka, catatan seperti itu hanya dikerjakan oleh pegawai tertentu.

Kini anak-anak mulai diajari mengukurnya.

Bukan untuk menjadikan semua orang ahli.

Tetapi agar tidak ada orang yang terlalu mudah dibohongi.

Roxana memandang mereka lama.

“Dulu aku mengira ilmu itu seperti menara.”

“Menara?”

“Jauh. Tinggi. Hanya bisa dinaiki orang tertentu.”

“Lalu sekarang?”

Roxana menunjuk anak-anak itu.

“Sekarang aku mulai percaya ilmu seharusnya seperti saluran air. Ia boleh datang dari tempat tinggi, tetapi harus mengalir sampai ke rumah-rumah kecil.”

Ardashir terdiam.

Lalu berkata pelan, “Itu harus masuk dalam pidatomu besok.”

“Aku tidak mau berpidato.”

“Sayang sekali. Persia membutuhkanmu.”

Roxana menoleh tajam.

“Jangan memulai.”

“Apa?”

“Jangan memakai kata Persia untuk membuatku melakukan sesuatu.”

Ardashir mengangkat kedua tangan.

“Aku menyerah.”

“Kau terlalu cepat menyerah.”

“Karena aku menikahi perempuan yang bisa mengalahkan utusan Persaudaraan Matahari tanpa mengangkat pedang.”

Roxana menahan senyum.

“Pujian tidak membebaskanmu dari tugas membersihkan catatan Farrokh.”

Ardashir memandang gulungan di tangannya.

“Kalau begitu aku memilih perang.”


Dari kejauhan, Artazara melihat mereka.

Ia berdiri di tangga batu yang menghadap taman, membawa beberapa gulungan rapat yang baru selesai dibaca.

Angin sore menggerakkan ujung kerudungnya.

Ia tidak bermaksud mengintip.

Ia hanya berhenti.

Sebentar.

Namun kadang “sebentar” cukup untuk membuka pintu lama di dalam hati.

Ia melihat cara Roxana menundukkan kepala ketika tersenyum.

Ia melihat cara Ardashir memandang istrinya tanpa perlu mengatakan apa pun.

Ia melihat tangan mereka yang saling berdekatan di atas batu taman.

Tidak ada yang berlebihan.

Tidak ada kemesraan yang dipamerkan.

Justru karena itulah terasa nyata.

Artazara menarik napas perlahan.

Ada bagian dari dirinya yang ikut bahagia melihat mereka.

Sungguh bahagia.

Roxana adalah perempuan yang baik.

Ardashir adalah lelaki yang menjaga kehormatannya.

Tidak ada alasan untuk luka.

Tetapi hati manusia tidak selalu tunduk kepada alasan.

Di dalam dirinya, ada suara kecil yang berbisik:

Seandainya dulu…

Artazara segera memejamkan mata.

Tidak.

Ia tidak boleh berjalan terlalu jauh ke dalam kalimat itu.

Kalimat “seandainya” adalah lorong yang tidak memiliki ujung.

Ia sudah memilih jalan terhormat.

Ardashir sudah memilih rumahnya.

Roxana tidak pernah menyakitinya.

Maka tidak adil jika ia menjadikan kebaikan mereka sebagai sumber kesedihannya.

Namun menahan diri tidak selalu berarti sembuh.

Kadang itu hanya berarti seseorang cukup kuat untuk tidak merusak apa yang ia cintai.


“Putri Artazara?”

Suara itu membuatnya menoleh.

Seorang lelaki muda berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Usianya mungkin sedikit di atas tiga puluh tahun. Pakaiannya sederhana untuk ukuran istana, tetapi rapi. Di tangannya terdapat alat kecil berbentuk busur setengah lingkaran dari perunggu, dengan benang halus dan pemberat kecil.

Artazara mengenalnya samar.

Salah satu orang dari Kota Matahari.

Seorang ahli pengamatan langit dan musim yang dibawa Dastan untuk membantu menyusun kalender air.

“Navid,” kata Artazara.

Lelaki itu membungkuk.

“Aku tidak menyangka Putri mengingat namaku.”

“Aku membaca daftar penugasan.”

Navid tersenyum.

“Ah. Jadi bukan karena aku mengesankan.”

“Daftar penugasan lebih jujur daripada kesan pertama.”

Navid tertawa pelan.

“Kalimat yang sebaiknya tidak kusampaikan kepada ibuku. Ia masih percaya kesan pertama menentukan jodoh.”

Artazara menatapnya.

Humor itu tidak kasar.

Tidak dibuat-buat.

Tenang saja.

Seperti seseorang yang tidak sedang berusaha memenangkan perhatian siapa pun.

“Ada keperluan?” tanya Artazara.

Navid mengangkat alat kecil di tangannya.

“Aku diminta Dastan memeriksa bayangan sore di taman barat. Katanya saluran air istana tidak lagi sejajar dengan catatan musim yang lama.”

“Dastan mengatakan itu?”

“Dengan kata-kata yang lebih panjang dan lebih menghina para pembangun taman.”

Artazara hampir tersenyum.

“Berarti benar dari Dastan.”

Navid melihat ke arah taman.

Ia juga melihat Ardashir dan Roxana di bawah pohon delima.

Namun ia tidak menatap lama.

Ia segera menunduk sedikit, seolah memahami bahwa ada pemandangan yang tidak boleh dijadikan bahan rasa ingin tahu.

Artazara menyadari itu.

Dan untuk alasan yang tidak ia pahami, ia merasa sedikit lega.

Navid berkata, “Putri sedang menuju ruang rapat?”

“Ya.”

“Kalau begitu aku tidak mengganggu.”

Ia melangkah pergi.

Namun setelah beberapa langkah, ia berhenti.

“Putri.”

Artazara menoleh.

Navid tampak ragu sejenak.

Lalu berkata, “Tidak semua bintang yang terlihat dekat di langit benar-benar berdekatan.”

Artazara diam.

Navid melanjutkan, “Sebagian hanya tampak sejajar dari tempat kita berdiri.”

Kalimat itu jatuh terlalu tepat ke tempat yang tidak ingin disentuh Artazara.

Ia menatap Navid lebih tajam.

“Maksudmu?”

Navid mengangkat alat perunggunya.

“Itu catatan astronomi. Maaf jika terdengar seperti nasihat.”

Artazara tidak menjawab.

Navid membungkuk lagi.

Lalu pergi menuruni tangga.

Artazara memandang punggungnya sampai ia hilang di balik kolom istana.

Ia tidak tahu apakah lelaki itu sekadar bicara tentang bintang.

Atau tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang lebih dalam.


Sore itu, rapat Majelis Air dan Ilmu berlangsung di ruang arsip barat.

Ruangan itu besar, namun tidak semegah balairung utama.

Di dindingnya tergantung peta-peta wilayah.

Di meja panjang terdapat tablet tanah liat, gulungan papirus, segel wilayah, dan papan hitung.

Dastan duduk dengan wajah tidak sabar.

Farrokh duduk dengan wajah yang selalu membuat orang merasa telah melakukan kesalahan sebelum berbicara.

Mithren hadir sebagai saksi dan penasihat, meskipun statusnya masih dalam pengawasan kerajaan.

Shirin membawa catatan penyalinan arsip Kota Matahari.

Artazara memimpin rapat.

Ardashir duduk di sisi kanan.

Roxana di sisi kiri, sedikit lebih belakang, meski beberapa orang kini mulai meminta pendapatnya secara langsung.

Di depan mereka berdiri beberapa pejabat wilayah.

Salah satunya bernama Vahumana.

Ia memakai jubah mahal dan cincin besar di jari telunjuknya.

Sejak awal rapat, ia tampak tidak senang.

“Prinsip keterbukaan catatan ini baik,” katanya akhirnya, “tetapi penerapannya tidak sederhana.”

Farrokh menatapnya.

“Hal yang benar jarang menjadi sederhana bagi orang yang terbiasa diuntungkan oleh kerumitan.”

Ruangan langsung hening.

Vahumana tersenyum kaku.

“Aku tidak menolak, Tuan Farrokh. Aku hanya berhati-hati.”

“Berhati-hati terhadap apa?”

“Terhadap salah tafsir rakyat.”

Roxana menatapnya.

Kalimat itu terdengar akrab.

Terlalu akrab.

Orontes pernah mengatakan hal serupa.

Rakyat belum siap.

Rakyat bisa salah paham.

Rakyat harus dilindungi dari kebenaran.

Artazara tampak menyadari hal yang sama.

Ia berkata tenang, “Maka tugas pejabat adalah menjelaskan, bukan menyembunyikan.”

Vahumana membungkuk sedikit.

“Tentu. Tetapi pengelolaan air membutuhkan keahlian. Tidak semua petani memahami debit, kemiringan saluran, atau pembagian musim.”

Dastan mendengus.

“Tidak semua pejabat juga memahami itu.”

Beberapa orang menahan senyum.

Vahumana menegang.

Dastan melanjutkan, “Petani mungkin tidak memakai istilahmu. Tetapi mereka tahu kapan air berkurang. Mereka tahu kapan ladang haus. Mereka tahu kapan saluran sengaja ditahan. Jangan meremehkan orang yang hidupnya bergantung pada hal yang kau catat dari meja.”

Roxana menunduk sedikit.

Kalimat itu perlu diingat.


Vahumana mengubah arah.

“Baik. Katakanlah catatan dibuka. Siapa yang menjamin catatan desa tidak dipalsukan?”

Shirin menjawab, “Sistem tiga salinan.”

“Salinan kerajaan, wilayah, dan desa?”

“Ya.”

“Bagaimana jika ketiganya berbeda?”

Farrokh menjawab, “Maka kita akhirnya menemukan kebohongan. Bukankah itu tujuan audit?”

Vardan yang duduk di ujung ruangan berbisik kepada penjaga di sebelahnya, “Aku tidak tahu apa itu audit, tapi terdengar seperti cara Farrokh membuat orang sulit tidur.”

Farrokh menoleh tanpa mengangkat kepala.

“Aku mendengarnya.”

Vardan langsung duduk tegak.

“Aku sedang memuji.”

“Jangan.”

Rapat yang tegang itu sedikit mencair.

Namun hanya sebentar.

Karena Vahumana belum selesai.

Ia mengeluarkan gulungan kecil.

“Ada juga persoalan keamanan. Kota Matahari menyimpan teknologi yang sangat berharga. Jika semua pengetahuan dibuka terlalu luas, musuh luar bisa memanfaatkannya.”

Argumen itu tidak bodoh.

Dan karena tidak bodoh, ia berbahaya.

Artazara tidak langsung menjawab.

Dastan juga diam.

Bahkan Farrokh tidak menyela.

Mereka semua tahu: ilmu memang bisa disalahgunakan.

Kota Matahari memang bukan mainan.

Teknologi reservoir, kalender air, sinyal cahaya, dan distribusi pangan dapat menyelamatkan kerajaan.

Tetapi di tangan orang serakah, semuanya juga bisa menjadi alat kendali.

Roxana akhirnya berbicara.

Suaranya tidak keras.

Namun cukup membuat semua orang menoleh.

“Apakah Tuan Vahumana pernah melihat papan giliran air di desa?”

Vahumana tampak sedikit terkejut.

“Pernah.”

“Apakah semua warga perlu mengetahui cara menggali qanat?”

“Tentu tidak.”

“Apakah mereka perlu mengetahui kapan air datang ke ladang mereka?”

“Itu wajar.”

“Apakah mereka perlu tahu siapa yang mengubah giliran air?”

Vahumana terdiam.

Roxana melanjutkan, “Maka bedakan antara ilmu yang berbahaya jika dibuka tanpa pendidikan, dan informasi yang sengaja disembunyikan agar orang kecil tidak dapat bertanya.”

Ruang rapat sunyi.

Ardashir menatap Roxana dengan bangga.

Artazara juga.

Namun di dada Artazara, rasa bangga itu bercampur dengan sesuatu yang lebih halus.

Ia mencintai kejernihan Roxana.

Dan mungkin justru karena itulah ia merasa semakin tidak berhak menyimpan rasa yang bisa mengganggu rumah perempuan itu.


Rapat berakhir menjelang malam.

Tidak semua sepakat.

Tetapi keputusan awal diambil:

Majelis Air dan Ilmu akan diuji di tujuh wilayah.

Setiap wilayah harus membuka catatan pembagian air secara bertahap.

Setiap desa akan memiliki satu pencatat lokal.

Setiap perubahan saluran harus disertai tanda, tanggal, dan saksi.

Dan Kota Matahari tidak akan diserahkan kepada satu lembaga tertutup.

Ia akan dijaga oleh dewan campuran.

Kerajaan.

Insinyur.

Pencatat.

Dan wakil masyarakat.

Vahumana menerima keputusan itu dengan wajah datar.

Terlalu datar.

Farrokh memperhatikannya.

Lalu menulis sesuatu di sudut catatan.

Vardan mengintip.

“Apa yang kau tulis?”

“Nama orang yang terlalu cepat tersenyum setelah kalah.”

Vardan mengangguk pelan.

“Itu daftar yang berguna.”


Malam turun di Persepolis.

Di menara-menara istana, lampu dinyalakan.

Air taman tetap mengalir.

Namun udara terasa berubah.

Seperti sebelum hujan.

Artazara berjalan sendiri menuju balkon timur.

Di sana, langit terbuka luas.

Bintang-bintang mulai muncul.

Ia memegang gulungan keputusan rapat.

Tetapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.

Ia memikirkan Roxana.

Ia memikirkan Ardashir.

Ia memikirkan kalimat Navid.

Tidak semua bintang yang terlihat dekat di langit benar-benar berdekatan.

Sebagian hanya tampak sejajar dari tempat kita berdiri.

Artazara menatap langit lama sekali.

Lalu berbisik kepada dirinya sendiri.

“Kalau begitu, di mana rumah bagi bintang yang selama ini hanya tampak dekat?”

Tidak ada jawaban.

Hanya angin.

Hanya malam.

Hanya cahaya jauh yang belum memberi arah.


Di taman bawah, Ardashir dan Roxana berjalan pulang ke paviliun kecil tempat mereka menginap.

Roxana tampak lelah.

Ardashir memperlambat langkahnya.

“Kau hebat hari ini.”

Roxana tersenyum samar.

“Kau mengatakan itu karena kau suamiku.”

“Aku mengatakan itu karena aku masih punya telinga.”

“Dan hati?”

“Lebih dari cukup untuk membenarkan telinga.”

Roxana tertawa pelan.

Namun beberapa langkah kemudian, ia berhenti.

“Aku melihat Artazara tadi sore.”

Ardashir ikut berhenti.

“Di mana?”

“Di tangga taman.”

Ardashir diam.

Roxana menatapnya.

Tidak ada tuduhan di matanya.

Hanya kejujuran.

“Dia masih menyimpan sesuatu, bukan?”

Ardashir menunduk pelan.

“Entahlah.”

“Jangan menjawab seperti laki-laki yang pura-pura tidak tahu.”

Ardashir menghela napas.

“Aku tidak ingin menyakitimu.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak ingin menyakitinya.”

“Aku tahu.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

Roxana memandang air yang mengalir di kanal kecil di samping mereka.

“Jangan memberinya harapan yang tidak akan kau penuhi.”

Ardashir terdiam.

Roxana melanjutkan, “Dan jangan membuatnya merasa berdosa karena pernah mencintaimu.”

Kalimat itu lebih lembut daripada teguran.

Tetapi lebih tajam daripada pedang.

Ardashir menatap istrinya.

“Bagaimana kau bisa sekuat itu?”

Roxana tersenyum sedih.

“Aku tidak selalu kuat. Aku hanya tidak ingin cinta kita berdiri di atas luka orang lain.”

Ardashir menggenggam tangannya.

“Cintaku pulang kepadamu.”

“Aku tahu.”

“Selalu.”

Roxana menatapnya.

“Kata selalu harus dijaga setiap hari.”

Ardashir mengangguk.

“Kalau begitu izinkan aku menjaganya.”

Roxana menggenggam balik tangannya.

Mereka berjalan lagi.

Pelan.

Di bawah langit Persia yang luas.


Sementara itu, jauh di ruang arsip barat, seseorang membuka kembali gulungan rapat yang baru disimpan.

Tangan itu bukan tangan Artazara.

Bukan tangan Farrokh.

Bukan tangan Shirin.

Sebuah pisau kecil membuka segel sementara.

Sebuah catatan disalin.

Cepat.

Rapi.

Terlatih.

Di bagian akhir catatan tertulis satu kalimat:

Pembukaan catatan air dimulai dari tujuh wilayah.
Jika dibiarkan, jaringan lama akan mati.
Tindakan harus dimulai sebelum bulan baru.

Orang itu meniup tinta hingga kering.

Lalu menggulung catatan kecil itu dan menyembunyikannya di dalam tabung bambu tipis.

Beberapa saat kemudian, tabung itu dibawa keluar melalui lorong pelayan.

Malam Persepolis tetap tenang.

Terlalu tenang.

Karena bahaya yang paling halus memang tidak selalu datang dengan terompet.

Kadang ia datang dalam bentuk salinan kecil yang keluar dari ruang arsip tanpa izin.


Di balkon timur, Artazara masih menatap bintang.

Ia belum tahu bahwa rapat hari itu telah bocor.

Ia belum tahu bahwa jaringan lama belum mati.

Ia belum tahu bahwa jalan baru yang akan ia tempuh bukan hanya akan menguji kecerdasannya.

Tetapi juga hatinya.

Di taman bawah, Ardashir dan Roxana berjalan bergandengan menuju rumah sementara mereka.

Di ruang lain, Navid mencatat bayangan bintang dan aliran air, tanpa tahu bahwa namanya kelak akan memasuki kisah Artazara dengan cara yang sangat perlahan.

Dan di balik dinding istana, seseorang mengirim pesan kepada sisa-sisa Persaudaraan Matahari.

Maka Buku Ketiga dimulai bukan dengan perang.

Bukan dengan teriakan.

Bukan dengan darah.

Melainkan dengan tiga hal yang jauh lebih sulit dijaga:

rumah,

ilmu,

dan hati manusia.


Akhir Bab 1

“Membuka pintu ilmu adalah satu keberanian.
Tetapi menjaga hati manusia agar tidak tersesat di dekat cahaya,
adalah keberanian yang lain.”

➡️ Bab 2: Rapat yang Bocor
Keputusan Majelis Air dan Ilmu mulai menyebar, tetapi tidak semuanya sampai kepada orang yang benar. Artazara menyelidiki kebocoran arsip bersama Farrokh, sementara Ardashir dan Roxana berusaha menjaga keseimbangan antara tugas negara dan rumah tangga. Di sisi lain, Navid mulai menemukan kejanggalan dalam bayangan menara istana—tanda bahwa seseorang menggunakan teknologi sinyal lama untuk mengirim pesan rahasia.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar