Bab 13
Surat yang Tak Kunjung Dikirim
Pagi itu, Ardashir mendapat tugas yang berbeda.
Bukan latihan tombak.
Bukan memanah dari atas kuda.
Bukan pula membersihkan kandang sampai tangannya berbau jerami sepanjang hari.
Rustom memanggilnya setelah latihan pagi selesai.
“Ardashir.”
Ia segera mendekat dan menunduk hormat.
“Ya, Tuan.”
Rustom berdiri di depan gudang senjata. Wajahnya seperti biasa: keras, datar, dan sulit ditebak. Di tangannya ada sebuah tabung kecil dari kulit yang ujungnya disegel dengan lilin merah.
“Kau bawa ini ke pos kurir timur,” kata Rustom.
Ardashir menerima tabung itu dengan hati-hati.
“Apakah ini pesan militer?”
“Kalau bukan, aku tidak akan memanggilmu,” jawab Rustom kering.
Ardashir menunduk lagi.
“Baik, Tuan.”
Rustom menatapnya tajam.
“Jangan dibuka. Jangan hilang. Jangan terlambat.”
“Aku mengerti.”
“Belum,” kata Rustom. “Kau baru akan mengerti setelah tahu betapa mahalnya sebuah pesan.”
Ardashir memandang tabung kecil di tangannya.
Benda itu ringan.
Namun tiba-tiba terasa berat.
Pos kurir timur berada di luar kompleks pelatihan, di dekat jalan besar yang mengarah ke kota-kota jauh dalam wilayah Persia.
Ardashir menunggang kuda hitamnya melewati gerbang kota.
Di hadapannya terbentang jalan lebar yang dipadatkan dengan batu dan tanah keras. Di beberapa bagian, batu-batu penanda jarak berdiri tegak di sisi jalan. Di atasnya terpahat lambang kerajaan.
Itulah Jalan Kerajaan.
Jalan yang selama ini hanya ia dengar dari para prajurit senior.
Jalan yang membuat pesan dari satu kota bisa tiba ke kota lain lebih cepat daripada kabar yang dibawa pedagang biasa.
Di desa Ardashir, kabar berjalan bersama kaki manusia.
Kadang datang bersama pedagang gandum.
Kadang terbawa penggembala.
Kadang terlambat berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.
Tetapi di sini, kabar seolah memiliki kuda sendiri.
Di sepanjang jalan itu berdiri pos-pos pergantian kurir. Para penunggang datang dengan wajah lelah, menyerahkan tabung pesan, lalu penunggang lain segera berangkat dengan kuda segar.
Tidak banyak bicara.
Tidak banyak upacara.
Hanya gerakan cepat, disiplin, dan kepercayaan.
Ardashir berhenti di salah satu pos.
Seorang kurir berwajah cokelat terbakar matahari menerima tabung dari tangannya.
“Dari barak timur?” tanya kurir itu.
“Ya.”
Kurir itu memeriksa segel lilin.
Masih utuh.
Ia mengangguk.
“Bagus.”
Kemudian ia menyerahkan tabung itu kepada penunggang berikutnya. Penunggang itu segera menaiki kuda cokelat tinggi yang sudah disiapkan.
Dalam beberapa detik, ia sudah melesat ke arah jalan panjang di depan.
Debu terangkat di belakangnya.
Ardashir menatapnya sampai sosok itu mengecil.
“Secepat itu?” gumamnya.
Kurir tua di sampingnya tersenyum.
“Pesan kerajaan tidak boleh berjalan seperti orang malas.”
“Berapa jauh ia akan pergi?”
“Mungkin ke kota berikutnya. Mungkin lebih jauh. Tergantung isi pesan.”
“Dan setiap pos mengganti kuda?”
“Kadang mengganti kuda. Kadang mengganti penunggang. Kadang keduanya.”
Kurir tua itu menatap jalan yang memanjang ke arah pegunungan.
“Persia luas, anak muda. Jika raja menunggu semua kabar datang perlahan, kerajaan sudah berubah sebelum perintah tiba.”
Ardashir terdiam.
Ia mulai memahami ucapan Rustom.
Betapa mahalnya sebuah pesan.
Satu kalimat bisa menggerakkan pasukan.
Satu perintah bisa menyelamatkan kota.
Satu berita bisa mengubah hidup seseorang.
Lalu tiba-tiba, pikirannya pergi jauh.
Ke Roxana.
Ke desa kecil.
Ke pohon delima.
Ke tangan dingin yang pernah ia genggam pada malam sebelum keberangkatannya.
Ia sudah berbulan-bulan pergi.
Dan belum satu pun surat ia kirim.
Bukan karena ia lupa.
Justru karena ia terlalu ingat.
Dalam perjalanan kembali ke kota, Ardashir memperlambat laju kudanya.
Jalan Kerajaan terbentang di bawah cahaya matahari. Para kurir melintas dari dua arah. Setiap orang membawa urusan penting. Setiap kuda membawa beban yang tidak terlihat.
Ardashir bertanya dalam hati:
Jika pesan kerajaan bisa menembus jarak sejauh itu, mengapa rinduku tidak pernah sampai?
Ia tersenyum pahit.
Karena rindu bukan tabung kulit yang bisa disegel lilin.
Rindu tidak punya stempel kerajaan.
Rindu tidak selalu berhak memakai jalan tercepat.
Sore itu, ketika ia kembali ke barak, Vardan melihat wajahnya dan langsung bertanya,
“Kau seperti orang yang baru melihat masa depan, tapi tidak yakin menyukainya.”
Ardashir turun dari kuda.
“Aku melihat jalan yang bisa membawa pesan lebih cepat dari burung.”
Vardan mengangkat alis.
“Lalu?”
“Aku berpikir menulis surat.”
Vardan tersenyum lebar.
“Akhirnya! Kepada gadis desa itu?”
Ardashir tidak menjawab.
Itu sudah cukup bagi Vardan.
“Kenapa tidak dari dulu?”
Ardashir mengusap leher kudanya pelan.
“Karena aku tidak tahu harus menulis apa.”
Vardan tertawa kecil.
“Orang yang tidak tahu harus menulis apa biasanya justru punya terlalu banyak isi hati.”
Malam itu, setelah semua orang tertidur, Ardashir duduk di dekat lentera kecil.
Di hadapannya ada selembar kertas kasar.
Di sampingnya terletak kain merah pemberian Roxana, terlipat rapi. Jahitan pohon delima di atas kain itu tampak menyala lembut terkena cahaya lampu.
Ardashir mengambil pena.
Lama ia hanya memandang kertas kosong.
Lalu perlahan ia mulai menulis.
Roxana,
Aku melihat air berjalan di bawah tanah.
Aku melihat jalan panjang yang membuat pesan bergerak lebih cepat daripada angin desa kita.
Aku melihat kota yang begitu besar sampai manusia mudah lupa bahwa ia pernah berasal dari tempat kecil.
Ia berhenti.
Matanya memandang keluar jendela.
Bulan tergantung di atas kota Persia.
Ia melanjutkan.
Aku ingin bercerita banyak kepadamu.
Tentang taman istana.
Tentang kuda-kuda perang.
Tentang seorang pelatih bernama Rustom yang lebih sering berteriak daripada bernapas.
Tentang sahabatku, Vardan, yang yakin bahwa semua masalah hidup bisa diselesaikan dengan roti hangat.
Tanpa sadar Ardashir tersenyum kecil.
Lalu senyum itu perlahan hilang.
Ia menulis lagi.
Tetapi yang paling ingin kukatakan justru sederhana.
Aku masih ingat jalan pulang.
Tangannya berhenti.
Kalimat itu membuat dadanya sesak.
Ia menunduk lama.
Kemudian, seperti sedang bicara kepada malam, ia menulis beberapa baris syair:
Aku berjalan di jalan para raja,
tetapi hatiku tetap mencari jalan kecil menuju rumah.Aku melihat kota yang menyimpan seribu cahaya,
tetapi satu lentera di desamu
masih lebih terang dalam ingatanku.Jika rindu adalah kuda,
tentu ia sudah tiba lebih dahulu dariku.
Ardashir meletakkan pena.
Surat itu belum selesai.
Namun justru karena belum selesai, terasa lebih jujur.
Ia membacanya sekali lagi.
Lalu melipatnya perlahan.
Untuk sesaat, ia hampir benar-benar berniat mengirimkannya.
Besok pagi ia bisa pergi ke pos kurir.
Ia bisa menitipkan surat pada pedagang.
Ia bisa mencari cara.
Tetapi kemudian wajah Roxana muncul di pikirannya.
Bukan wajah yang menuntut.
Bukan wajah yang menangis.
Melainkan wajah yang tenang di bawah pohon delima.
“Aku akan menunggu,” begitu katanya malam itu.
Ardashir menggenggam surat itu.
Ia tahu Roxana menunggu.
Tetapi ia juga tahu, surat yang datang tanpa kepastian kadang bukan menghibur, melainkan memperpanjang luka.
Apa yang bisa ia janjikan sekarang?
Ia belum tahu kapan pulang.
Ia belum tahu akan menjadi apa.
Ia bahkan belum tahu apakah dunia baru ini akan mengubah dirinya atau tidak.
Maka malam itu, Ardashir tidak mengirim suratnya.
Ia menyimpannya di dalam kantong kulit kecil, bersama kain merah Roxana.
Bukan karena cintanya berkurang.
Justru karena ia terlalu menghormati cinta itu untuk memberinya janji yang belum mampu ia tepati.
Keesokan paginya, Ardashir kembali melewati halaman istana bagian timur.
Artazara berdiri di dekat gerbang taman, berbicara dengan seorang pelayan tua. Ketika melihat Ardashir, ia memberi isyarat kecil agar pelayan itu pergi lebih dulu.
“Perjalananmu kemarin lancar?” tanya Artazara.
“Lancar.”
“Kau melihat pos kurir?”
Ardashir mengangguk.
“Aku baru mengerti mengapa kerajaan sebesar ini bisa tetap mendengar dirinya sendiri.”
Artazara tersenyum tipis.
“Itu kalimat yang bagus.”
“Aku hanya mengatakan yang kupikirkan.”
“Justru itu yang membuatnya bagus.”
Mereka berjalan perlahan di sisi taman. Tidak terlalu dekat. Tetap dalam batas sopan yang dijaga oleh keduanya.
Artazara memandang aliran air di parit kecil.
“Kau tampak berbeda hari ini.”
“Berbeda bagaimana?”
“Seperti orang yang menyimpan sesuatu.”
Ardashir terdiam sejenak.
Lalu menjawab jujur,
“Aku menulis surat.”
Artazara menoleh.
“Kepada rumah?”
“Kepada seseorang di rumah.”
Tidak ada kata Roxana.
Namun Artazara mengerti.
Ia menatap air yang mengalir di samping mereka.
Ada sesuatu yang halus bergerak di wajahnya. Bukan marah. Bukan kecewa. Lebih seperti seseorang yang menerima kenyataan sebelum ia benar-benar siap menerimanya.
“Apakah sudah kau kirim?”
“Belum.”
“Mengapa?”
Ardashir menarik napas pelan.
“Karena aku belum tahu apa yang bisa kujanjikan.”
Artazara diam.
Jawaban itu terlalu jujur untuk diabaikan.
Banyak lelaki di istana berjanji dengan mudah, seolah kata-kata tidak memiliki harga.
Tetapi Ardashir justru takut berjanji karena ia menghormati akibatnya.
Dan itu membuat Artazara semakin mengaguminya.
Sekaligus semakin sadar bahwa kekaguman itu berbahaya.
Ia tersenyum kecil, walau matanya tidak sepenuhnya tersenyum.
“Kadang manusia tidak membutuhkan janji besar,” katanya.
“Kadang mereka hanya perlu tahu bahwa mereka tidak dilupakan.”
Ardashir menatapnya.
Kalimat itu terasa masuk ke tempat paling sunyi dalam dirinya.
“Menurutmu aku harus mengirimnya?”
Artazara memandang jauh ke arah gerbang kota.
“Aku tidak berhak menjawab itu.”
Lalu ia menoleh kembali kepada Ardashir.
“Tapi aku tahu satu hal. Pesan yang tidak dikirim tetap menjadi beban bagi orang yang menulisnya.”
Setelah berkata begitu, Artazara melangkah pergi.
Tidak tergesa.
Tidak dramatis.
Tetapi Ardashir merasa seolah ia baru saja ditinggalkan dengan nasihat yang lebih tajam daripada pedang.
Hari itu latihan terasa lebih panjang.
Tombak terasa lebih berat.
Debu terasa lebih kering.
Beberapa kali Rustom meneriakinya karena gerakannya terlambat setengah detik.
“Pikiranmu tertinggal di mana, Ardashir?” bentak Rustom.
Ardashir mengatur napas.
“Maaf, Tuan.”
Rustom mendekat.
“Prajurit yang tubuhnya di medan latihan tapi pikirannya di tempat lain akan mati lebih cepat dari yang bodoh.”
Ardashir menunduk.
“Aku mengerti.”
“Belum,” kata Rustom. “Tapi kau akan mengerti.”
Ucapan itu terasa keras.
Namun Ardashir tahu, di balik kerasnya Rustom ada kebenaran yang tidak bisa ia tolak.
Ia harus belajar membagi diri:
antara cinta dan tugas,
antara rindu dan disiplin,
antara pulang dan menjadi seseorang yang layak pulang.
Jauh di desa, Roxana sedang duduk di bawah pohon delima.
Musim telah berubah sedikit demi sedikit. Beberapa buah kecil mulai tumbuh dari bekas bunga yang dulu merah menyala.
Di pangkuannya ada kain tenun baru.
Ibunya datang membawa semangkuk susu hangat.
“Masih belum ada kabar?” tanya ibunya pelan.
Roxana menggeleng.
Namun ia tersenyum.
“Belum.”
Ibunya duduk di sampingnya.
“Kau tidak marah?”
Roxana memandang jalan kecil yang mengarah ke bukit.
“Kadang aku sedih.”
“Itu wajar.”
“Tapi aku tidak ingin rinduku berubah menjadi tuntutan.”
Ibunya menatapnya dengan lembut.
Roxana melanjutkan,
“Jika ia benar-benar berjuang untuk masa depannya, biarlah ia berjuang dengan hati yang lapang. Aku tidak ingin menjadi suara yang membuat langkahnya berat.”
Ibunya mengusap bahunya.
“Kau mencintainya dengan cara yang tidak mudah.”
Roxana tersenyum tipis.
“Mungkin cinta memang tidak selalu mudah, Ibu.”
Ia menatap pohon delima.
Lalu berbisik sangat pelan, seolah berbicara kepada angin:
Jika kau lupa, semoga Tuhan mengingatkanmu.
Jika kau lelah, semoga jalan memberimu tempat berteduh.
Jika kau berubah, semoga yang berubah hanya langkahmu,
bukan hatimu.
Angin sore bergerak di antara daun-daun delima.
Tidak ada surat hari itu.
Tidak ada kabar.
Tetapi Roxana tetap duduk di sana.
Bukan sebagai perempuan yang lemah.
Melainkan sebagai seseorang yang menjaga cinta tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Malamnya, Ardashir kembali membuka surat yang belum dikirim.
Ia membaca baris terakhirnya:
Aku masih ingat jalan pulang.
Lama ia memandang kalimat itu.
Lalu ia mengambil pena dan menambahkan satu kalimat di bawahnya.
Dan suatu hari, jika Tuhan mengizinkan, aku akan berjalan di atasnya kembali.
Ia melipat surat itu lagi.
Belum dikirim.
Belum selesai.
Tetapi tidak lagi kosong.
Di luar barak, angin malam bergerak melewati kota Persia.
Jauh di luar sana, jalan kerajaan membentang ke berbagai arah.
Ada jalan menuju perang.
Ada jalan menuju kehormatan.
Ada jalan menuju istana.
Ada jalan menuju nama besar.
Namun di antara semua jalan itu, Ardashir tahu:
ada satu jalan yang selalu ia perjuangkan dalam diam.
Jalan pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar