Bab 9
Langit yang Sama
Hari-hari di kota berjalan keras dan cepat.
Latihan demi latihan membuat tubuh para pemuda berubah. Bahu mereka mulai lebih tegap. Tangan mereka mulai dipenuhi luka dan kapalan. Bahkan cara berjalan mereka perlahan berubah seperti prajurit sungguhan.
Namun ada satu hal yang tidak berubah dalam diri Ardashir.
Setiap malam, sebelum tidur, pikirannya selalu pulang ke desa kecil itu.
Ke pohon delima.
Ke suara langkah Roxana di jalan tanah.
Ke cara gadis itu tersenyum tanpa banyak bicara.
Malam itu angin kota bertiup lebih dingin dari biasanya.
Sebagian penghuni barak sudah tertidur setelah latihan berat sejak pagi. Suara dengkur samar terdengar di beberapa sudut ruangan panjang itu.
Ardashir duduk dekat jendela kecil.
Di tangannya ada kain merah kecil dengan jahitan pohon delima.
Vardan yang belum tidur meliriknya sambil tersenyum miring.
“Kau melihat benda itu lebih sering daripada melihat makanan.”
Ardashir tersenyum kecil.
“Karena benda ini tidak pernah membuatku kecewa.”
Vardan tertawa pelan.
“Gadis desa?”
Ardashir diam beberapa saat.
Lalu mengangguk kecil.
Vardan merebahkan tubuhnya sambil melipat tangan di belakang kepala.
“Aku iri pada orang-orang seperti kalian.”
“Seperti kami?”
“Yang sudah tahu siapa yang mereka rindukan.”
Kalimat itu membuat Ardashir terdiam.
Ia tidak pernah memikirkan cintanya sebagai sesuatu yang istimewa.
Bagi dirinya, Roxana terasa seperti bagian alami dari hidupnya. Seperti langit. Seperti tanah tempat ia tumbuh.
Baru setelah pergi… ia menyadari betapa kosongnya hidup tanpa kehadiran gadis itu.
Di desa yang jauh, malam juga sedang turun perlahan.
Roxana duduk di bawah pohon delima.
Angin malam memainkan ujung selendangnya.
Di pangkuannya ada benang-benang tenun yang belum selesai ia kerjakan.
Namun sejak beberapa menit lalu tangannya tidak bergerak.
Matanya justru memandang langit.
Bintang-bintang bersinar terang.
Sama seperti malam ketika Ardashir pergi.
Ibunya keluar dari rumah membawa selimut tipis.
“Kau akan masuk angin kalau terus di luar.”
Roxana tersenyum kecil ketika selimut itu disampirkan ke bahunya.
“Aku hanya ingin duduk sebentar.”
Ibunya duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka diam.
Lalu ibunya bertanya pelan,
“Kau merindukannya?”
Roxana menunduk kecil.
Namun senyum tipis di wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.
Ibunya mengusap rambut anak gadisnya perlahan.
“Cinta pertama memang sering membuat waktu terasa lambat.”
Roxana tersenyum malu.
“Apakah Ibu dulu juga begitu?”
Ibunya tertawa kecil.
“Ayahmu dulu pergi hanya tiga hari menjual gandum ke kota. Tapi rasanya seperti tiga bulan.”
Roxana akhirnya ikut tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya sejak Ardashir pergi, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Keesokan sorenya di kota, latihan berkuda berlangsung lebih keras dari biasanya.
Rustom tampak sedang dalam suasana buruk.
“Sekali lagi!” teriaknya.
Para peserta kembali memacu kuda sambil mengangkat tombak kayu.
Debu beterbangan memenuhi lapangan.
Ardashir melaju paling depan.
Gerakannya di atas kuda mulai terlihat alami, hampir seperti bagian dari hewan itu sendiri.
Beberapa pengawal kerajaan berdiri di pinggir lapangan memperhatikan latihan.
Dan di antara mereka…
ada gadis berpakaian biru tua itu lagi.
Artazara.
Kali ini ia berdiri lebih lama.
Matanya mengikuti Ardashir saat melintasi lapangan.
Tidak hanya karena kemampuan berkudanya.
Tetapi karena ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu.
Sebagian besar peserta latihan selalu berusaha terlihat hebat ketika diperhatikan bangsawan.
Namun Ardashir tidak.
Ia fokus sepenuhnya pada kudanya, pada latihan, pada gerak tubuhnya sendiri.
Tidak ada kepura-puraan.
Tidak ada usaha mencari perhatian.
Dan justru itu yang membuat Artazara semakin penasaran.
Rustom berjalan mendekat ke arah para pengawal kerajaan.
“Latihan hari ini membosankan?” tanyanya datar.
Artazara tersenyum tipis.
“Tidak.”
Matanya masih ke arah lapangan.
“Justru ada satu yang menarik.”
Rustom mengikuti arah pandangannya.
Ardashir.
Rustom mengangguk kecil.
“Anak desa.”
“Dia menunggang kuda seperti dilahirkan di atas pelana.”
“Karena memang begitu.”
Artazara tidak menjawab lagi.
Namun saat Ardashir melintas sekali lagi di depan lapangan, tanpa sadar matanya mengikuti lebih lama.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
putri seorang jenderal besar Persia mulai ingin mengenal seseorang bukan karena nama keluarganya.
Melainkan karena cara lelaki itu memandang dunia.
Malamnya, Ardashir kembali duduk dekat jendela kecil barak.
Langit Persia membentang luas di atas kota.
Ia menggenggam kain merah itu perlahan.
Dan jauh di desa…
Roxana juga sedang memandang bintang yang sama.
Tanpa mereka sadari—
cinta mulai belajar bertahan melawan jarak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar