Bab 11
Syair di Bawah Lentera
Hari-hari di kompleks pelatihan mulai terasa seperti putaran roda yang tidak pernah berhenti.
Latihan.
Makan.
Tidur singkat.
Lalu latihan lagi.
Tubuh Ardashir semakin kuat. Gerakannya di atas kuda mulai menarik perhatian banyak pelatih. Bahkan beberapa prajurit senior mulai menyebut namanya ketika berbicara tentang peserta baru yang menjanjikan.
Namun semakin namanya dikenal…
semakin ia merasa ada bagian dirinya yang perlahan menjauh dari sesuatu yang sangat penting.
Dan ia belum tahu bagaimana cara menjelaskan perasaan itu.
Sore itu latihan selesai lebih awal.
Rustom tampaknya sedang dalam suasana hati yang cukup baik untuk ukuran dirinya.
“Kalian libur sampai malam,” katanya singkat.
“Tapi besok pagi jangan bergerak seperti kambing tua.”
Beberapa pemuda langsung bersorak kecil.
Vardan menepuk bahu Ardashir.
“Ayo ke pasar malam.”
“Aku lelah.”
“Itulah alasan kita harus pergi.”
Ardashir akhirnya ikut.
Pasar malam kota Persia ternyata berbeda dari apa pun yang pernah ia bayangkan.
Lentera minyak tergantung di sepanjang jalan batu. Cahaya kuning keemasan membuat malam terasa hangat dan hidup.
Orang-orang memenuhi jalan:
- pedagang rempah
- penjual kain
- pembuat keramik
- musisi jalanan
- penari keliling
Aroma daging panggang bercampur kayu manis memenuhi udara.
Vardan tampak seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia.
Sementara Ardashir lebih banyak memperhatikan orang-orang.
Kota ini begitu besar.
Begitu penuh kehidupan.
Namun anehnya… semakin ramai tempat itu, semakin ia merasakan kesunyian kecil di dalam dirinya.
Ketika mereka melewati sebuah sudut pasar, suara alat musik petik terdengar pelan.
Seorang lelaki tua duduk di bawah lentera kecil.
Janggutnya panjang memutih. Di tangannya ada alat musik sederhana menyerupai kecapi Persia.
Beberapa orang duduk melingkar mendengarkan.
Penyair keliling.
Vardan hendak berjalan terus.
Namun Ardashir berhenti.
Entah kenapa.
Penyair tua itu mulai melantunkan syair dengan suara rendah dan tenang:
Aku pergi mencari dunia yang lebih luas,
berharap hati menjadi lebih besar.Tetapi setiap malam,
langkahku justru kembali
kepada satu nama
yang kutinggalkan di belakang.
Suara pasar terasa menjauh.
Ardashir berdiri diam.
Syair itu terasa terlalu dekat dengan isi hatinya sendiri.
Penyair tua melanjutkan:
Ada manusia yang dikirim takdir
untuk menaklukkan kota-kota besar.Namun ada pula
satu tatapan sederhana
yang diam-diam
lebih sulit ditinggalkan
daripada seluruh dunia.
Ardashir menunduk pelan.
Tanpa sadar jemarinya menyentuh kain merah kecil di balik jubahnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke kota…
ia benar-benar merindukan Roxana sampai terasa sakit.
Di tempat lain dalam kota, Artazara sedang berdiri di balkon rumah ayahnya.
Dari kejauhan ia bisa melihat cahaya pasar malam seperti bintang-bintang kecil di bumi.
Pelayan perempuan di belakangnya berkata pelan,
“Nona tampak sering melamun akhir-akhir ini.”
Artazara tersenyum tipis.
“Apakah semua perempuan menjadi seperti itu ketika terlalu banyak berpikir?”
Pelayan itu tertawa kecil.
“Biasanya bukan karena berpikir.”
Artazara tidak menjawab.
Namun tanpa sadar pikirannya kembali pada seorang pemuda desa yang berbicara jujur tentang rumah dengan cara yang belum pernah ia dengar dari siapa pun.
Kebanyakan lelaki di sekitar istana selalu berbicara tentang:
- ambisi
- kekuasaan
- kemenangan
Tetapi Ardashir berbeda.
Ia berbicara tentang rumah seolah itu sesuatu yang suci.
Dan anehnya…
Artazara mulai ingin mengetahui seperti apa tempat yang begitu dirindukan pemuda itu.
Malam semakin larut ketika Ardashir dan Vardan berjalan pulang menuju barak.
Vardan membawa kantong kacang panggang sambil terus berbicara tentang makanan dan perempuan cantik yang mereka lihat di pasar.
Namun Ardashir lebih banyak diam.
Syair penyair tua itu masih terngiang di kepalanya.
Sesampainya di barak, ia duduk dekat jendela kecil seperti biasa.
Langit malam Persia membentang tenang.
Perlahan ia mengeluarkan kain merah itu.
Lalu untuk pertama kalinya…
Ardashir berbisik sangat pelan kepada malam:
“Aku harap kau masih menungguku, Roxana.”
Dan jauh di desa kecil yang diterangi cahaya bulan…
Roxana memang masih menunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar