Bab 15
Peta, Catatan, dan Hati yang Dijaga
Sejak hari pelajaran tentang gudang perbekalan itu, Ardashir mulai melihat kota Persia dengan mata yang berbeda.
Sebelumnya, ia mengira kekuatan kerajaan ada pada tembok tinggi, prajurit berkuda, pedang, tombak, dan panji-panji yang berkibar di atas gerbang.
Tetapi kini ia mulai paham.
Ada kekuatan lain yang tidak selalu terlihat.
Kekuatan itu berada di tangan para pencatat yang duduk membungkuk di depan lempengan tanah liat.
Di tangan pekerja yang menghitung karung gandum.
Di tangan penjaga kandang yang memastikan kuda tidak kehausan.
Di tangan kurir yang menempuh jalan panjang tanpa bertanya isi pesan.
Dan di tangan orang-orang yang memahami peta sebelum pasukan bergerak.
Persia, pikir Ardashir, bukan hanya kerajaan yang kuat.
Persia adalah kerajaan yang mengingat.
Ia mengingat jalan.
Ia mengingat jumlah kuda.
Ia mengingat persediaan air.
Ia mengingat utang pajak.
Ia mengingat jarak antar kota.
Ia mengingat siapa yang harus berangkat, siapa yang harus menunggu, dan siapa yang harus kembali membawa kabar.
Dan entah mengapa, pemikiran itu membuat Ardashir teringat pada Roxana.
Sebab bukankah cinta juga demikian?
Ia bertahan bukan hanya karena perasaan yang besar, tetapi karena ingatan-ingatan kecil yang dijaga.
Senyum di bawah pohon delima.
Kain merah dengan jahitan sederhana.
Tangan dingin yang tidak dilepaskan pada malam perpisahan.
Janji yang tidak diteriakkan, tetapi disimpan dalam hati.
Pagi itu, setelah latihan berkuda, Rustom memanggil Ardashir.
“Kau ikut aku.”
Ardashir menunduk.
“Ke mana, Tuan?”
“Tempat yang mungkin lebih menakutkan daripada medan perang.”
Vardan yang sedang membersihkan debu dari wajahnya langsung berbisik, “Dapur?”
Rustom menoleh.
“Vardan.”
Pemuda itu langsung berdiri tegak.
“Ya, Tuan.”
“Kau masih punya hubungan buruk dengan mulutmu.”
“Maaf, Tuan.”
“Nanti kau bantu penjaga kandang menghitung persediaan jerami.”
Wajah Vardan jatuh.
“Baik, Tuan.”
Ardashir menahan senyum, lalu mengikuti Rustom keluar dari lapangan.
Mereka berjalan melewati lorong batu di belakang kompleks pelatihan, melewati taman kecil, lalu memasuki bangunan besar yang tidak terlalu mencolok dibandingkan aula istana.
Tidak ada ukiran emas berlebihan.
Tidak ada musik.
Tidak ada aroma bunga.
Tetapi begitu pintu kayu dibuka, Ardashir melihat sesuatu yang membuatnya berhenti sejenak.
Ruangan itu penuh dengan gulungan kulit, papan kayu, lempengan tanah liat, tali ukur, batu pemberat, dan peta yang digantung pada dinding.
Beberapa orang duduk bekerja dalam diam. Ada yang menyalin catatan. Ada yang menggambar garis pada peta. Ada yang menghitung dengan batu-batu kecil di atas papan.
“Ini ruang catatan militer,” kata Rustom.
Ardashir melangkah perlahan.
Ia merasa seperti masuk ke tempat yang menyimpan pikiran kerajaan.
Rustom menunjuk seorang lelaki tua berjubah abu-abu.
“Namanya Farrokh. Ia bukan prajurit, tetapi lebih banyak menyelamatkan nyawa prajurit daripada banyak orang yang membawa pedang.”
Lelaki tua itu mengangkat wajah.
Matanya kecil, tetapi tajam.
“Rustom selalu memperkenalkan orang dengan cara yang membuatku terdengar lebih penting dari kenyataan.”
“Kau memang penting,” jawab Rustom datar. “Hanya saja wajahmu tidak membantu.”
Farrokh tertawa pelan.
Ardashir langsung menyukai orang tua itu.
Farrokh memandang Ardashir dari kepala sampai kaki.
“Ini anak peternak kuda itu?”
“Ya.”
“Yang menghitung cadangan air lebih banyak untuk kuda?”
“Ya.”
Farrokh tersenyum.
“Bagus. Orang yang memahami kuda biasanya lebih mudah memahami kerajaan.”
Ardashir terkejut.
“Mengapa begitu?”
Farrokh mengambil satu papan kecil dan meletakkannya di meja.
“Karena kuda tidak bergerak hanya karena diperintah. Ia bergerak karena dipahami. Begitu pula kerajaan.”
Ia membuka sebuah peta besar.
Di sana tergambar jalan-jalan, sungai, bukit, dan tanda-tanda kecil yang sulit dipahami.
“Lihat ini.”
Ardashir mendekat.
Farrokh menunjuk satu garis.
“Ini jalur pasukan jika melewati dataran.”
Lalu ia menunjuk garis lain.
“Ini jalur jika melewati kaki gunung.”
“Mana yang lebih baik?” tanya Ardashir.
Farrokh tersenyum.
“Pertanyaan yang salah.”
Ardashir diam.
Farrokh melanjutkan,
“Tidak ada jalan yang selalu lebih baik. Jalan yang baik tergantung musim, jumlah pasukan, kondisi kuda, persediaan air, dan tujuan perjalanan.”
Rustom berdiri di belakang mereka dengan tangan terlipat.
Farrokh mengambil batu kecil, lalu meletakkannya di satu titik peta.
“Jika pasukan bergerak saat musim panas, sumber air menjadi lebih penting daripada jarak. Jika membawa banyak kereta, jalan datar lebih penting daripada jalan pendek. Jika musuh mengawasi bukit, jalur sempit bisa menjadi perangkap.”
Ardashir mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Setiap kalimat terasa membuka pintu baru dalam pikirannya.
“Jadi peta bukan hanya gambar,” katanya pelan.
Farrokh menatapnya dengan puas.
“Peta adalah cara manusia mengajak jarak berbicara.”
Kalimat itu menempel kuat di hati Ardashir.
Peta adalah cara manusia mengajak jarak berbicara.
Ia tiba-tiba memikirkan desa.
Memikirkan betapa jauhnya Roxana.
Seandainya hati punya peta, mungkin ia akan tahu bagian mana dari dirinya yang masih berada di bawah pohon delima.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka.
Artazara masuk dengan membawa gulungan kulit di tangannya.
Ia berhenti ketika melihat Ardashir.
Ada kejutan kecil di matanya, tetapi ia segera menutupinya dengan senyum tenang.
“Aku tidak tahu kau ada di sini.”
Ardashir menunduk hormat.
“Putri.”
Farrokh melambaikan tangan malas.
“Jangan terlalu formal di ruang ini. Di sini yang paling tinggi bukan gelar, tetapi ketelitian.”
Artazara tersenyum.
“Farrokh selalu mengatakan itu, terutama jika ada bangsawan yang salah membaca peta.”
Farrokh menunjuk kursi di seberang meja.
“Duduk. Buka catatanmu.”
Artazara duduk.
Ardashir sedikit mundur, merasa tempat itu bukan untuknya.
Namun Farrokh segera berkata,
“Kau tetap di situ, anak kuda. Hari ini kau akan belajar bahwa tinta kadang lebih berbahaya daripada tombak.”
Rustom menepuk bahu Ardashir.
“Dengar baik-baik.”
Artazara membuka gulungan kulitnya.
Di atasnya ada daftar jarak, jumlah kuda, waktu tempuh, dan catatan pos kurir. Tulisan itu rapi. Sangat rapi.
Ardashir terkejut ketika menyadari bahwa itu tulisan Artazara sendiri.
“Kau yang menulis semua itu?” tanyanya tanpa sadar.
Artazara menatapnya.
“Apakah itu mengejutkan?”
Ardashir merasa wajahnya menghangat.
“Bukan begitu. Aku hanya… tulisanmu sangat teratur.”
Farrokh terkekeh.
“Pujian paling canggung yang pernah kudengar.”
Artazara menahan senyum.
“Terima kasih, Ardashir. Aku akan menganggap itu pujian.”
Rustom mendengus pelan.
“Lanjutkan.”
Artazara menunjuk catatan di depannya.
“Jika satu kurir menempuh jarak terlalu jauh tanpa mengganti kuda, kecepatannya menurun. Jika terlalu sering mengganti kuda, jumlah hewan yang dibutuhkan meningkat. Maka pos harus diletakkan pada jarak yang cukup tepat.”
Farrokh mengangguk.
“Dan bagaimana menentukan jarak yang tepat?”
Artazara menjawab,
“Dilihat dari medan, ketersediaan air, dan kemampuan kuda. Pos di daerah datar bisa lebih jauh. Pos di daerah berat harus lebih dekat.”
Ardashir mendengarkan dalam diam.
Ia kagum.
Bukan kagum seperti pemuda yang terpikat kecantikan.
Tetapi kagum seperti seseorang yang melihat cahaya pikiran orang lain.
Artazara berbicara dengan tenang. Tidak ingin pamer. Tidak ingin terlihat lebih pintar dari siapa pun. Ia hanya menjelaskan sesuatu yang ia pahami.
Dan justru itu yang membuatnya tampak indah.
Rustom melirik Ardashir.
“Kau mengerti?”
“Sedikit, Tuan.”
“Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Farrokh mengambil dua batu kecil dan meletakkannya pada peta.
“Sekarang kau. Jika membawa pesan penting dari kota ini ke benteng utara, mana jalur yang kau pilih?”
Ardashir memandang peta.
Ia tidak langsung menjawab.
Dulu mungkin ia akan memilih garis yang paling pendek.
Tetapi sekarang ia mulai berpikir.
Ia melihat tanda gunung.
Melihat sungai.
Melihat titik pos kuda.
Melihat catatan kecil tentang sumur.
Akhirnya ia menunjuk jalur yang sedikit lebih panjang tetapi melewati dua pos air.
“Ini,” katanya.
Farrokh mengangkat alis.
“Mengapa?”
“Karena pesan penting harus tiba, bukan hanya berangkat. Jalur pendek melewati daerah berbatu dan hanya punya satu sumber air. Jika kuda terluka atau kurir terlambat, tidak ada banyak pilihan. Jalur ini lebih panjang, tapi lebih aman.”
Farrokh memandang Rustom.
“Anak ini bisa berpikir.”
Rustom menjawab datar,
“Kadang.”
Artazara menunduk sedikit, menyembunyikan senyum.
Ardashir melihatnya.
Dan entah mengapa senyum kecil itu terasa lebih hangat daripada pujian Farrokh.
Setelah pelajaran selesai, Rustom berbicara dengan Farrokh di sudut ruangan.
Ardashir berdiri di dekat meja peta, masih memperhatikan garis-garis yang terbentang di atas kulit itu.
Artazara mendekat.
“Kau belajar cepat.”
“Aku hanya mencoba tidak terlihat bodoh.”
“Keinginan itu biasanya awal yang baik.”
Ardashir tersenyum kecil.
Beberapa saat mereka memandang peta bersama.
Di antara mereka tidak ada sentuhan.
Tidak ada kata-kata yang melampaui batas.
Namun ada kedekatan yang tumbuh dari percakapan dan saling menghormati.
Artazara menunjuk satu titik kecil di selatan.
“Desamu kira-kira di wilayah ini?”
Ardashir menatap peta itu.
“Ya. Mungkin sedikit lebih ke timur.”
Artazara mengambil batu kecil dan meletakkannya di sana.
“Berarti rumahmu di sini.”
Ardashir memandang batu kecil itu lama.
Aneh.
Satu kehidupan yang begitu besar dalam ingatannya ternyata hanya menjadi satu titik kecil di atas peta kerajaan.
Namun titik itu adalah tempat ayahnya berada.
Tempat Roxana menunggu.
Tempat pohon delima berdiri.
Tempat ia pernah menjadi anak kecil yang belum mengenal beratnya pilihan.
Artazara memperhatikan wajahnya.
“Kau rindu.”
Itu bukan pertanyaan.
Ardashir mengangguk pelan.
“Ya.”
“Rindu seperti apa?”
Ardashir terdiam beberapa saat.
“Seperti mendengar suara air dari jauh, tetapi belum bisa meminumnya.”
Artazara tidak segera menjawab.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh.
Akhirnya ia berkata lirih,
“Rindu yang seperti itu bisa membuat orang kuat. Tapi juga bisa membuatnya lelah.”
“Aku tahu.”
“Dan suratmu?”
Ardashir menatap titik kecil di peta.
“Aku hampir mengirimkannya pagi ini.”
“Hampir?”
“Aku membawanya. Tapi belum menyerahkannya.”
Artazara menarik napas pelan.
“Kenapa?”
“Karena aku takut.”
“Takut surat itu tidak sampai?”
“Takut surat itu sampai.”
Artazara menoleh kepadanya.
Ardashir melanjutkan,
“Jika surat itu sampai, ia akan tahu aku masih mengingatnya. Tapi ia juga akan tahu aku belum bisa pulang. Aku takut memberinya harapan yang tidak lengkap.”
Artazara diam lama.
Lalu berkata,
“Ardashir, harapan yang tidak lengkap kadang masih lebih baik daripada kesunyian yang terlalu rapi.”
Kalimat itu membuat Ardashir menatapnya.
Ada kelembutan di wajah Artazara.
Namun tidak ada kepentingan diri di sana.
Ia sedang membela hati perempuan lain.
Perempuan yang bahkan belum pernah ia temui.
Dan karena itulah, Ardashir semakin menghormatinya.
“Kau baik,” kata Ardashir pelan.
Artazara tersenyum, tetapi matanya sedikit sedih.
“Jangan terlalu yakin. Orang baik pun bisa memiliki keinginan yang sulit diatur.”
Ardashir memahami maksudnya.
Udara di antara mereka berubah hening.
Tidak canggung.
Tetapi jujur.
Artazara menatap peta, bukan Ardashir.
“Aku tidak ingin menjadi alasan seseorang lupa jalan pulang,” katanya.
Dada Ardashir terasa berat.
“Kau tidak melakukan kesalahan apa pun.”
“Belum,” jawab Artazara pelan. “Dan aku ingin tetap begitu.”
Mereka sama-sama diam.
Di luar ruangan, suara kota terdengar samar. Kuda. Kereta. Orang-orang yang bergerak dengan urusan masing-masing.
Di dalam ruangan itu, dua manusia berdiri di depan peta kerajaan besar, tetapi yang mereka jaga justru batas kecil di dalam hati.
Menjelang sore, Ardashir kembali ke barak dengan pikiran yang penuh.
Vardan sedang duduk di depan pintu sambil memegang jerami di rambutnya.
“Jangan tanya,” katanya sebelum Ardashir sempat bicara.
“Aku belum bertanya.”
“Bagus. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana aku kalah oleh tumpukan jerami.”
Ardashir tertawa kecil.
Vardan memperhatikan wajahnya.
“Kau dari ruang catatan?”
“Ya.”
“Belajar apa?”
“Bahwa peta bisa membuat jarak berbicara.”
Vardan menatapnya datar.
“Kau terlalu lama bersama orang-orang pintar. Kalimatmu mulai tidak sehat.”
Ardashir duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka diam.
Lalu Vardan berkata lebih pelan,
“Kau masih memikirkan surat itu?”
Ardashir mengangguk.
“Kirimlah.”
Ardashir menoleh.
Jawaban Vardan kali ini tidak bercanda.
“Kenapa kau berkata begitu?”
“Karena aku punya ibu yang menunggu kabar dari kakakku selama dua tahun,” kata Vardan. “Ia selalu bilang tidak apa-apa. Ia selalu bilang ia kuat. Tetapi setiap ada pedagang datang dari utara, matanya berubah.”
Vardan menatap tanah.
“Kabar tidak harus membawa kepastian. Kadang kabar hanya mengatakan: aku masih hidup, dan aku belum lupa.”
Ardashir diam.
Kata-kata Vardan, yang biasanya ringan dan penuh humor, malam itu terasa sangat dewasa.
“Apakah kakakmu kembali?” tanya Ardashir pelan.
Vardan tersenyum tipis.
“Tidak.”
Ardashir menunduk.
“Maaf.”
Vardan mengangkat bahu.
“Tapi surat terakhirnya sampai. Ibuku menyimpannya sampai sekarang. Kadang ia menangis membacanya. Tapi aku tahu, tanpa surat itu, ia akan menangis lebih sunyi.”
Ardashir merasa sesuatu bergerak dalam dadanya.
Vardan menepuk bahunya.
“Kau terlalu takut melukai orang dengan kata-kata. Tapi mungkin seseorang di sana sedang terluka karena tidak mendengar apa pun.”
Malam itu, Ardashir tidak menjawab.
Namun kata-kata Vardan tinggal bersamanya lebih lama daripada suara latihan.
Ketika semua orang tidur, Ardashir duduk di dekat lentera.
Ia membuka surat untuk Roxana.
Membaca dari awal.
Membaca tentang air bawah tanah.
Tentang jalan kerajaan.
Tentang Rustom.
Tentang Vardan.
Tentang gudang perbekalan.
Tentang hal-hal kecil yang membesarkannya.
Lalu ia menulis tambahan terakhir.
Roxana,
Aku belum tahu kapan aku pulang.
Aku tidak ingin membohongimu dengan janji yang terlalu mudah.
Tetapi aku ingin kau tahu satu hal yang benar: di antara semua jalan yang kulihat di kota ini, jalan menuju rumah tetap yang paling sering kupikirkan.
Jika menunggu terasa berat, jangan benci hatimu karena lelah.
Aku pun sedang belajar menjadi kuat tanpa menjadi jauh.
Tangannya berhenti.
Lalu ia menulis syair pendek di bagian bawah surat:
Di atas peta, rumah hanyalah satu titik kecil.
Tetapi di dalam hati,
ia menjadi arah bagi semua perjalanan.Jika kelak langkahku tersesat oleh dunia,
semoga namamu
menjadi bintang yang mengembalikanku.
Ardashir membaca syair itu lama.
Kemudian ia melipat surat tersebut.
Kali ini tidak ia sembunyikan.
Ia memasukkannya ke dalam tabung kecil dari kulit yang ia beli diam-diam dari pasar.
Pagi nanti, ia akan mencari orang yang bisa menitipkannya ke selatan.
Bukan melalui jalur rahasia kerajaan.
Bukan dengan menyalahgunakan kehormatan militer.
Tetapi melalui pedagang yang biasa menuju desa-desa selatan.
Lebih lambat.
Lebih sederhana.
Namun lebih pantas.
Jauh di desa, malam itu Roxana bermimpi.
Ia melihat jalan panjang membentang dari kota asing menuju pohon delima.
Di atas jalan itu, seekor kuda hitam berlari.
Tetapi ketika kuda itu mendekat, yang datang bukan Ardashir.
Melainkan selembar surat yang terikat pada angin.
Roxana terbangun sebelum fajar.
Dadanya berdebar.
Ia duduk di tepi tikar, memandang cahaya tipis yang mulai masuk dari celah dinding.
Entah mengapa, pagi itu ia merasa ingin menyapu halaman lebih awal.
Ibunya yang melihatnya dari dapur bertanya,
“Kau bangun terlalu pagi.”
Roxana tersenyum kecil.
“Aku bermimpi.”
“Mimpi baik?”
Roxana memandang ke arah pohon delima di luar rumah.
“Aku belum tahu.”
Ibunya tidak bertanya lagi.
Ada jenis mimpi yang hanya bisa dijawab oleh waktu.
Pagi itu, di kota Persia, Ardashir berdiri di dekat gerbang pasar.
Di hadapannya seorang pedagang kain dari selatan sedang mengikat barang-barangnya di atas keledai.
“Kau yakin desa ini ada di jalurku?” tanya pedagang itu.
Ardashir menyebut nama desa dan bukit di dekatnya.
Pedagang itu mengangguk.
“Aku pernah lewat sana. Tidak selalu masuk desa, tapi cukup dekat.”
Ardashir menyerahkan tabung kecil itu.
“Berikan kepada keluarga pembuat kain di dekat pohon delima besar. Nama gadis itu Roxana.”
Pedagang itu menerima tabung tersebut.
“Surat cinta?”
Ardashir terdiam.
Pedagang itu tertawa.
“Tidak perlu malu. Surat pajak tidak pernah membuat wajah orang seperti itu.”
Ardashir akhirnya tersenyum kecil.
“Pastikan sampai.”
“Akan kuusahakan.”
“Bukan kuusahakan,” kata Ardashir, lebih tegas dari yang ia rencanakan. “Tolong pastikan.”
Pedagang itu menatapnya sebentar, lalu mengangguk lebih serius.
“Baik. Akan kupastikan.”
Ketika pedagang itu pergi, Ardashir berdiri lama di gerbang pasar.
Ia melihat tabung kecil itu menjauh perlahan bersama rombongan dagang.
Tidak secepat kurir kerajaan.
Tidak semegah pesan raja.
Tetapi bagi Ardashir, tidak ada pesan yang lebih penting pagi itu.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan desa, rindunya benar-benar berangkat.
Di atas kota Persia, matahari naik perlahan.
Jalan-jalan mulai ramai.
Kuda-kuda mulai bergerak.
Catatan-catatan mulai ditulis.
Peta-peta kembali dibuka.
Dan di antara segala kesibukan kerajaan besar itu, satu surat kecil berjalan ke selatan.
Membawa rindu yang akhirnya berani bersuara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar